Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
satu tangan menutup mata satu tangan menutup telinga belikatku bertahan kaku tiap pijakan pelan, terseok belum leluasa ku berlari terpaan gelombang yang sudah-sudah masih meninggalkan goresan dalam daging dibantu merangkak, tapi dipaksa berlari caramu mengenyahkan biru yang masih menyelubungiku takut pada lidah sangkalan beradu bukankah lancang mencipta imaji semu lalu menggantungnya pada tiang-tiang garam berharap keras, tak begitu meleset pada manusia sadar, tak se-Esa namun jika Bapa memberi siapa yang bisa menutupnya? target apa, begitu mendesakkah? soal pembendaharaan rasa apalagi rancangan telah kuserahkan padaNya aku dungu & tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat Bapa. Tetapi aku tetap didekat Bapa; Ia memegang tangan kananku.
0
Mar 14, 2020
Mar 14, 2020 at 7:48 AM UTC
Seperti Hewan
satu tangan menutup mata satu tangan menutup telinga belikatku bertahan kaku tiap pijakan pelan, terseok belum leluasa ku berlari terpaan gelombang yang sudah-sudah masih meninggalkan goresan dalam daging dibantu merangkak, tapi dipaksa berlari caramu mengenyahkan biru yang masih menyelubungiku takut pada lidah sangkalan beradu bukankah lancang mencipta imaji semu lalu menggantungnya pada tiang-tiang garam berharap keras, tak begitu meleset pada manusia sadar, tak se-Esa namun jika Bapa memberi siapa yang bisa menutupnya? target apa, begitu mendesakkah? soal pembendaharaan rasa apalagi rancangan telah kuserahkan padaNya aku dungu & tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat Bapa. Tetapi aku tetap didekat Bapa; Ia memegang tangan kananku.
140320 || 18:48 PM lantai dua kosan, hmm sepertinya banyak poems-ku yang dimotori sama obrolan tentang hidup sm coworker sebelah meja, si ipul, kemarin lg ngobrol ga jelas sambil kerja ttg hubungan masing-masing, dia abis lamaran, sementara gw masih di fase abu-abu belajar adaptasi sm pasangan kesayangan yang nemenin hampir setahun lamanya. As ditanya hubungan mau dibawa kmn, gw blg ikut arus aja toh yg lama kandas padahal udah direncanain, jd buat apa manusia berencana, pasti Tuhan udah atur yg terbaik. "Idup lo, lo yang atur. Ga bisa ngikut arus aja, harus punya target, udah umur brp lo." Berulang-ulang sampe berbusa dia bilang "ada masa depannya ga?" lalu gw bete karena sesulit itu untuk healing & masih sulit untuk berani berencana/berekspektasi apapun tp malah dijejelin pertanyaan yg ngeinduksi anxiety tp di 1 sisi juga bener harus dipikirin. Kewalahan berperang sm pikiran sendiri, pagi tadi buka sermon kata-kata ps. Phillip Mantofa " kalau tidak tahu apa langkah berikutnya, jangan gelisah hatimu, percayalah & berserah pada Allah." Berencana aja, trs serahin semua rencana ke yg punya sorga, God will lead the way. Ada bagian dari Mazmur 73:21-23 dalam puisi ini.
megittaignacia
Written by
Mar 14, 2020
Mar 14, 2020 at 7:48 AM UTC
Request permission to use this poem