"walau" poems
Bila memang AKU BUKAN PILIHAN HATI MU
Biar ku pendam CINTA DALAM HATI ku
Sungguh, yang akan ku berikan UNTUKMU SELAMANYA
Pergilah kau SEJAUH MUNGKIN membawa LAGUKU
Ke TEMPAT TERINDAH di SURGAMU
RASA SAYANG ini hanya untukmu
Dan ku akan menunggu DI SINI UNTUKMU
Berharap kau bawa LAGU CINTA yang TERCIPTA UNTUKKU
WAKTU YANG DINANTI akankah datang?
DEMI WAKTU ku kan berubah
Tak akan SEPERTI YANG DULU
Yang hanya berkhayal melihat wajahmu
Di BAYANG SEMU
Sungguh indah kau bagiku
TIADA YANG SEPERTI DIRIMU
Yang ku kagumi sepanjang waktu
Ku rindu SAAT INDAH BERSAMAMU
Walau di mimpiku aku mencintaimu
Namun, APALAH ARTI CINTA tanpa hadirmu
Kumohon IZINKAN AKU
Member CIUMAN PERTAMA KU untukmu
Karna saat indah itu mungkin TAKKAN TERULANG
BERJANJILAH kau tuk selalu menghiasi ku
Karena tak satupun SAHABATKU yang indah seperti mu
Ku ingin terbang MELAYANG
UNTUK TEMUKAN dirimu yang SESUNGGUHNYA
Ku sadari memang BUKAN AKU untukmu
Tapi, aku hanya ingin kau BERIKAN AKU CINTA
Meski sedikit, walau terpaksa
Tak lelah SUARA HATI ku memanggilmu
Yang ingin menjalani CERITA BERSAMAMU
DOA ku panjatkan selalu
Memohon tuk bertemu kamu
Meskipun kamu punya CINTA YANG LAIN
Ku rela melepasmu untuknya
Kau TAK PERLU mengaku bahwa kau cinta aku
Memang, tak pernah kau cinta aku
Yang ku kenang kini adalah
Ku bahagia mengenal LAKI-LAKI seperti kamu
Oct 16, 2011
Oct 16, 2011 at 10:33 AM UTC
3 Maret 1924..
Tak banyak уαηg tahu αρα уαηg telah terjadi ∂ι hari itu | dahsyatnya makar & kemunduran umat telah melupakan peristiwa detik2 hancurnya institusi daulah Khilafah sang pemersatu
Hingga derita mendera bertubi silih berganti menimpa muslim ∂ι segala penjuru | teraniaya,terhina,tercabik,tertindas,tersakiti,terjajah,menangis tersedu
Umat уαηg satu tak lagi menyatu | terpecah tersekat oleh nation state buatan sekutu | bak anak ayam kehilangan induk terancam hidupnya sewaktu-waktu
Begitulah wajah muslim hari ini | ketika tiada lagi institusi уαηg melindungi | problematika terjadi tiada henti
Hari ini | tepat 91 tahun umat Islam hidup tanpa institusi Khilafah | saatnya melawan lupa & bergerak mewujudkannya
Khilafah janji Allah tersampaikan melalui lisan mulia Rasulullah SAW | walau banyak уαηg beranggapan utopis kembali mewujudkannya | yakinlah tiada janji уαηg pernah ingkar kecuali janjiNya
Nabi saw bersabda,
"Akan datang kepada kalian masa kenabian,& atas kehendak Allah masa itu akan datang.Kemudian,Allah akan menghapusnya,jika Ia berkehendak menghapusnya.
Setelah itu,akan datang masa Kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah;& atas kehendak Allah masa itu akan datang.Lalu,Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya.
Setelah itu,akan datang kepada kalian,masa raja menggigit (raja yang dzalim),& atas kehendak Allah masa itu akan datang.Lalu,Allah menghapusnya,jika Ia berkehendak menghapusnya.
Setelah itu,akan datang masa raja dictator (pemaksa);& atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya.
Kemudian,datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, beliau diam".
[HR. Imam Ahmad ]
Saudaraku,
Telah tiba saatnya satukan langkah satukan perjuangan,
Menyongsong kembali janji Allah Sang Penggegam Kehidupan,
Tegaknya kembali Daulah Khilafah ∂ι atas jalan kenabian..
Takbir !!
Allahuakbar !
SalamPerjuangan!
#3RDMARCH1924
#melawanLupa
Mar 2, 2015
Mar 2, 2015 at 11:20 PM UTC
Jakarta, 10 Mei 2008
Sungguh ku cinta kamu
Ku sayang kamu sampai ku mati
Selama ini yang ku ucapkan
Bahwa kau tercipta untukku
Adalah salah besar untukku
Walau, aku tetap ingin kamu
Saat kau ucapkan lirik itu
Semakin ku ingin kamu
Milikimu, hingga ku tak bernyawa
Ku ingin kau tahu
Aku di sini sayang kamu
Hanya sayang kamu setulus hati ku
Tapi, ku tak bisa ungkap itu
Kau terlalu indah untuk ku miliki
Hanya Dewi Cinta yang pantas
Karena, dia sangat indah dari ku
Hanya bisa ku ungkapkan sayang ku
Dengan puisi indah ini diiringi lirikmu
Saat ini, yang terbayang hanya wajahmu
Ku ucapkan s’luruh cinta ku
Apakah kamu dengar suara hati ku? Cinta…
by. aridea purp
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 9:14 AM UTC
Kau... membenciku kah?
tidak menyukaiku? atau mungkin kau iri padaku?
Kau begitu munafik!
dulu aku selalu bercerita tentangnya padamu, meskipun aku dan dia sudah tak lagi bersama kau pun tahu aku masih sangat sangat menyukainya. Kau tahu aku mengaguminya berbulan bulan, kau juga tahu untuk mendapatkan hatinya seperti berlari mendapatkan satu bintang kecil. Walau pada akhir nya aku hanya jadi pelampiasan perasaannya, tapi aku masih sangat menyukainya pada waktu itu meski kenyataannya harus seperti itu.
Aku teman mu, dan aku juga tahu kau juga temannya lebih dekat dari sekedar pertemananku denganmu.
tapi apa kau tak bisa mengahargai perasaanku sebagai temanmu?
kau tahu semua isi hatiku tentangnya, tapi mengapa kau sekarang?
memadu kasih dengan dirinya yang sampai detik ini kau tahu aku masih sangat mengaguminya!
kau jahat! kau benar-benar penghianat bertopeng pertemanan!
kau bukan lagi temanku sekarang. Itu terlalu sakit, sangat sakit untuk ku percaya.
kau bahkan hanya mengatakan maaf hanya untuk sekali seumur hidupmu?! itukah dirimu yang sebenarnya? menikamku tanpa ampun.
kalian berdua sama saja, tak ada gunanya aku mempertahankan seorang teman penghianat, dan sorang pengagum yang gila perempuan.
'seorang pencuri kekasih sesungguhnya mencuri seorang penghianat!'
Oct 10, 2013
Oct 10, 2013 at 11:30 PM UTC
Perasaan ini terus bergelung
Bersembunyi di dalam relung.
Seakan mencoba tuk keluar, namun keadaan tak mendukung.
Ia pun lelah akan waktu yang terus berjalan namun berbanding terbalik dengannya
Yang hanya duduk beralaskan rasa percaya
Menatap langit kelabu menunggu turunnya rintikkan hujan pertama.
Walau kerinduannya semakin lama semakin bertambah,
Ia tak pernah bosan untuk membendungnya
Dan menunggu,
Menunggu datangnya hujan.
Karena ia percaya bahwa seberapa besar kerinduannya, seberapa dalam rasa sakitnya, dan seberapa lama ia menanggung deritanya, hujan yang turun akan menyapu bersih luka di relungnya.
Bagaikan obat penawar yang selalu ia temukan saat penyakitnya kembali datang.
Ia tak pernah bosan bercerita kepada langit,
yang dengan setia mendengar celotehannya.
Sambil menunggu turunnya hujan, ia bercerita akan lika liku yang ia alami.
Mendongak menatap langit, dan bercerita.
Sejenak ia dapat mengalihkan perhatiaannya dari hingar bingar sekitar
dan menemukan ketenangannya sendiri.
Yaitu bersama langit, saat menunggu hujan.
Rintikan pertama menerpa wajahnya. berhasil mengangkat sudut-sudut bibirnya.
Ia tersenyum.
Yang ditunggu memang tak pernah datang terlambat.
Diikuti dengan rintikan lainnya dan kemudian hujan turun dengan deras.
Inilah kebahagiaannya.
Namun juga kesedihannya.
Saat rintikan hujan yang turun berhasil membuatnya tersenyum sekaligus menangis.
Karena dapat membawa ketenangan dan penghapus luka,
namun juga dapat membawa kerinduan yang turun disetiap rintikannya.
“Jika hujan tidak dapat membuatku seutuhnya bahagia, lantas kemana lagi aku harus mengadu?”
Mar 9, 2016
Mar 9, 2016 at 3:15 AM UTC
Jakarta, 1986
Wanita berambut cokelat muda sebahu itu terlihat sedang asyik mengamati asap rokok yang ia keluarkan sebelum membuang puntung rokok ke tanah dan menginjaknya. Jalanan di Jakarta memang selalu ramai tapi tak satupun mobil-mobil yang sedang berlalu-lalang itu akan berhenti dan menghentikan apa yang akan ia lakukan setelah jam menunjukkan pukul lima pagi. Masih terngiang di kepala apa yang orang-orang katakan tentangnya selama ini.. sampah, pelacur memang tidak pantas hidup enak, ingat ya, kau itu cuma pelacur ia memejamkan mata sambil perlahan menghitung berapa kali ia telah mendengarkan cacian setiap pulang.
Jam yang berada di tangan kirinya masih menunjukkan pukul lima kurang lima belas menit, ya lima belas menit yang ia gunakan untuk akhirnya mengingat perkataan Abimanyu. Laki-laki terakhir yang memberikan segalanya, harta, kasih sayang, dan waktu tapi ia tak dapat menikmati itu semua walau sudah mencoba beribu kali aku tidak akan pernah berubah menjadi laki-laki yang sudah menyia-nyiakanmu ,kau tahu bahwa seberapapun mahalnya berlian apabila yang memakainya tidak pantas maka akan terlihat murah?, kau terlihat cantik dengan apapun, aku melakukan semua ini karena aku tak sanggup melihatmu sedih, aku akan terus mencintaimu walau kau tak akan pernah bisa membalas perasaanku yang hanya akan selalu ia balas dengan aku sudah tak percaya cinta atau aku sudah tak punya hati hatinya telah membeku dicabik-cabik sejak dulu, sebelum bertemu Abimanyu. Air mata perlahan mengalir dari mata yang tertutup itu, lima menit lagi batinnya sebelum mengusap air mata yang sudah membasah pipi dan meluruskan gaun putih rancangan desainer terkenal yang diberikan sebagai hadiah untuknya tak dipungkiri gaun itu bernilai lebih dari penghasilannya selama satu bulan namun apalah arti uang disini?
Ia kembali melirik jam yang sekarang menunjukkan dua menit sebelum pukul lima, diatas jembatan layang itu masih ramai oleh hiruk-pikuk kendaraan. Tenanglah tak akan ada yang mampu menyelamatkanmu.
Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, tanpa berpikir panjang ia melepas pegangannya dari pagar yang menopang tubuh dan terjun bebas tanpa ada perlawanan terhadap gravitasi.
Tak semua bidadari hidup bahagia di surga
Mar 5, 2016
Mar 5, 2016 at 7:57 AM UTC
"Dunia ini terlalu indah untuk dilukis, Sayang,"
Begitu katanya
"Dunia ini juga terlalu luas untuk dipahami, Sayang,"
Begitu pula katanya
Aku tetap tak mengerti
Mengapa masih ada orang yang merasa dunia ini
Terlalu sempit untuk diketahui
Terlalu sulit untuk dijelajahi
Apakah jendela cakrawala mereka saja yang sempit?
Atau nyali mereka saja yang tak bisa berdiri sendiri?
Hanya berani menguntit ditemani mata menyipit?
Barangkali pikiran mereka juga hanya bisa mengintip?
"Dunia ini dipenuhi orang aneh, Sayangku,"
Ujarnya kemudian
Secangkir teh diteguknya perlahan
"Dunia ini juga dipenuhi orang berotak kosong, kamu tahu itu,"
Kukatakan dalam hati bahwa aku tahu
Tentu saja kami berdua tahu
Bumi ini dihuni benak-benak yang melayang liar di balik masing-masing bahu
Yang tak bisa diam walau hanya menunggu waktu
Menunggu pikiran gila lainnya merayap masuk ke dalam kepalanya
Membuat secarik kertas dan sebuah pulpen meleleh di tangannya
Melantunkan kalimat-kalimat indah menjadi sebuah sajak
Menyulapnya menjadi sebuah mahakarya yang terus menanjak
Kukatakan sekali lagi dalam hati bahwa aku tahu
Tentu saja kami berdua tahu
Bumi ini juga dihuni benak-benak licik yang tak punya dinding malu
Yang meraup beribu untung tak kenal waktu
Diam-diam aku bertanya juga
Di manakah jiwa-jiwa kotor itu bisa membeli dinding malu?
Mengapa mentalnya tak beda jauh dengan mental para benalu?
Orang-orang aneh itu masih terus menunggu waktu
Orang-orang berotak kosong itu malah berlari meninggalkan waktu
Orang-orang aneh itu terus menciptakan karya
Orang-orang berotak kosong itu malah dibicarakan di berita pagi dan dunia maya
Orang-orang aneh itu terus menumbuhkan bunga di atas nama bangsa
Orang-orang berotak kosong itu malah menumbuhkan duri di bawah nama bangsa
Seperti yang saat ini banyak terjadi,
Seniman dan Koruptor.
Jan 18, 2014
Jan 18, 2014 at 2:37 AM UTC
Palembang, 14 Desember 2013
siapakah aku? yang bercahaya dikala senja tiba
berlari mengepakkan kedua tangan, mencoba menggenggam udara
mengijinkan peluh muncul membasahi seluruh tubuhku
hingga mentari tepat di atas kepala aku berdoa, tuk menjadi cahaya bintang saat malam tiba
siapakah aku? yang terus berlari kencang menapaki kerikil tajam
tak peduli walau menembus hujan melawan badai
ketika mentari sudah malu menampakkan cahayanya
aku berdoa
meminta, jikalau cahaya bintangku redup, mentari senantiasa menggantikan di pagi berikutnya
siapakah aku? yang kehilangan cahaya senja
berjalan menunduk, kecewa
meski mentari bersinar seperti yang ku harapkan
aku masih kan meminta cahayaku dikembalikan
tak ingin membuka mata jika pagi berwajah gelap
siapakah aku? yang tak lagi bersinar di langit malam
tak lagi menjadi bintang
kehilangan sinar senja
tak lagi bebas berlari di bawah mentari
tak lagi bernyawa
siapakah aku?
Dec 14, 2013
Dec 14, 2013 at 8:01 PM UTC
sedikit demi sedikit, aku sudah tidak merasakan kamu di cangkir kopiku setiap pagi.
entah rasanya mengapa sangat sangat habar. seakan kamu sudah benar-benar pergi dari sini.
tidak ada yang membuat jantung ini seakan sudah tidak berada di tempatnya lagi ketika mataku menangkap sosokmu.
aku tahu, nantinya memang kamu akan pergi. mencintai pilihanmu yang lebih sempurna dariku.
aku hanya manusia, mi querido. aku bukan dia yang lebih dari manusia normal. dia spesial untukmu. sedangkan aku tidak.
oh, tidak. aku tidak pernah kemana-kemana. aku tidak pergi. aku tetap disini dan menunggu. hanya sepertinya kamu saja yang tidak pernah sadar jika aku disini.
sudah menerka-nerka. semua ini akan berakhir tidak berbalas. semua ini berakhir sia-sia.
tapi apakah kamu tahu?
semenjak kamu bersama dia, aku sangat menikmati hobiku merangkai aksara tentangmu. walau kadang maknamu sudah terasa hambar.
kamu tahu mengapa? karena tangan ini tidak akan pernah mampu meringkuh wajahmu dan mulut ini akan kaku ketika bertatapan denganmu.
aku membiarkan tangan ini menari-nari diatas papan kata dan merangkai karangan tentangmu.
Aug 11, 2014
Aug 11, 2014 at 7:09 PM UTC
Fadil sungguh memilikinya
Akan bahagia terasa selamanya
Dihiasi lirik lagu yang indah
Itulah momen special sepanjang masa, dengan
Luapan cinta kasih di sekelilingnya
Angkasa, bagai terbang melayang
Nuansa hati hadir tercipta
Ejaan kata terhias di awan-awan
Sungguh indah langit terhias
Pegang tangan erat-erat
Untuk menantang tornado yang datang
Tak terlepas, bahkan jangan sampai
Riang selalu walau terhempas
Agar cinta kan sampai bersama di surga
Oct 16, 2011
Oct 16, 2011 at 10:13 AM UTC
Dulu terlihat manis dan suci
Ucapan manja masih menghiasi
Setelah dini menghampiri
Betapa indah merasaakan cinta sejati
Awal penuh kebahagiaan
Hidung mancung dipadu tawa
Mata indah penuh cahaya
Kerlap-kerlip penuh cahaya
Saat pertama aku melihatnya
Ku jatuh hati padanya
Ingin ku bahagia bersamanya
Selalu indah selamanya
Tapi, dia telah bahagia
Bahkan tak tau aku di sini
Menunggu datangnya cinta
Walau hanya sebercak tinta
Biar tersimpan dalam hati
Hingga kita bertemu nanti
Biar ku rangkai dulu jadi lirik
Oh Tuhan,,, aku punya Cinta Dalam Hati
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:57 AM UTC
Gadis itu pulang dengan kepingan jiwanya
Berusaha untuk menahan segala rasa sakit
Semua ia simpan rapat-rapat walau tersirat dari matanya
Ia menghempaskan badan diatas tempat tidur
Sambil sesekali memijat keningnya, berharap rasa sakit tak akan hinggap kesana.
Lalu ia berusaha tak mengingat-ingat semuanya
Berharap entah bagaimana caranya agar ia mematikan perasaannya
Dalam hati ia bertanya "kapan terakhir kali kau bahagia?"
Tak ada satupun yang bisa menjawab pertanyaan itu
Ia hanya menatap langit-langit kamar sambil tersenyum pahit.
"Yah, begitulah realita hidupmu. Tersiksa karena jatuh berkali-kali untuk orang yang salah"
Otaknya berbicara pada hati yang masih kukuh membela perasaan yang ia punya
Ia tak bisa lagi menampik bahwa kepala dan hatinya setelah ini tak akan pernah ada di kubu yang sama
Karena kelalaian hatinya lah ia berada disini sehingga logika menghukum hati itu, menutup pintunya rapat-rapat dan menenggelamkan kuncinya kedalam samudera pemikirannya.
Suara hujan mengiringi gadis itu
Tak terasa satu demi satu tetes air mata mengalir
Ia hanya bisa memejamkan mata dan berkata
"Aku sudah tak punya hati lagi"
Dec 14, 2015
Dec 14, 2015 at 7:09 AM UTC
Pada hari yang baik di bulan yang baik ini;
Hujan turun lagi membasahi segenap pertanahan;
Di balik bulirnya seorang pujangga termenung;
Menuliskan kembali lirik-lirik tersedih dalam puisinya:
Wahai imaji hujan di masa lalu;
Pernah kulupa namun mengapa belum kurela?
Wahai melodi hujan di masa lalu;
Kembali kau ketuk palung paling dalam;
Kehalusan suara wanita yang pernah ada;
Mengapa tak lenyap bersama kejatuhanmu?
Apakah lagi-lagi aku berdiri pada persimpangan yang sama?
Penuh kabut, memudar namun seyogianya belum sirna;
Tahun demi tahun telah berlalu bersama kejatuhan hujan;
Namun mengapa kesepian tak pernah berlalu?
Walau kesedihan menolak segala kefanaan;
Yang belum berubah menjadi sebuah kejadian;
Yang menolak segala bentuk pengulangan;
Apakah kekosongan merupakan bentuk realita tertunggal
Yang selamanya akan terus berbahasa dalam kebisuannya?
Mengapa masih aku mengaku yang tertabah;
Jika musibah tak mampu melenyapkan;
Segala terpaan angin rindu yang pernah berhembus?
Jika segala ketakuan masih menjadi ada dalam tiada;
Mengapa pernah juga kau lepas ikatan kita?
Perlahan kata-kata itu meresap kepada perakaran;
Sebolehjadinya ujung pena tak mampu memahami;
Segala makna yang tersirat dalam rampaian puisinya;
Bila kepergianmu adalah kesenduan dari berkat kehidupan;
Ajarkanlah aku berdamai dengan segala bentuk prasangka;
Yang datang bersama bayanganmu di kala hujan.
Jun 19, 2017
Jun 19, 2017 at 6:45 AM UTC
Jakarta, Kamis 17 Mei 2007
Aku... yang selalu setia menunggu
Walau tiada harapan untukku
Namun... aku berharap semua terwujud
Demi... waktu yang terus bergulir
Adakah Engkau kasihan padaku... Tuhan
Setiap hari... settiap waktu....
Aku... memohon... meminta pada-Mu
Dengan tetesan air mata mengalir
Apakah aku sanggup menunggu harapan
Bila Kau pun tak memperdulikan
Aku akan tetap menunggu di sini
Harapan yang tak kunjung menghampiri
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 9:45 AM UTC
Sebelum nafasku yang terakhir
Ku luar kan kepadamu
Engkaulah yang ku tunggu
Engkaulah bintangku
Dan kamu
Aku masih sayang kepadamu
Biarlah ini satu rahsia buatmu
Adakah ini suatu mimpi
Yang selama ini engkau menyelami
Menyinari
Menghiasi alamku dengan warna cinta pelangi
Engkau ada tetap dihatiku walau ku tiada
Engkau ada tetap dijiwaku walau bisa
Dan ku harap kau maafkanlah segala dosa
Sebelum ku pejamkan mata untuk selama-lamanya
Dan kamu
Aku masih sayang kepadamu
Biarlah ini satu mimpi indah bagiku
Apabila nadiku berhenti
Tamatlah sudah puisiku ini
Tapi ini bukanlah satu erti
Kuharap engkau kan terus bermimpi
Kubina cinta di alam mimpi
Bayanganmu ku kan salji
Selalu berada sentiasa disisi
Selamanya kepadamu
Aku..
Aku berjanji..
©2014 RevoLusi
©2014 Maman Screams
Jan 11, 2014
Jan 11, 2014 at 4:11 AM UTC
Ku duduk di sini
Kaki ku membeku karena dingin
Mata ku kantuk karena larut
Malam ku gelap tanpa sinar bulan
Telinga ku sepi, tiada yang terdengar
Bibir ku rapat, tak ada yang terucap
Badan ku lelah serasa ingin roboh
Ingin ku pejamkan mata tuk sementara
Namun terlelap dalam mimpi
Takkan tersesat walau sendiri
Harap ku akan bermimpi lagi
Mimpi yang paling indah dari kemrin
Agar temani di malam sunyi ini
Hingga aku membuka mata esok hari
by.
Aridea Purple
Oct 19, 2011
Oct 19, 2011 at 12:35 PM UTC
Di malam bulan terpotong jadi tawa, angin membelahku jadi tiga bujursangkar. Satu untuk diriku sendiri, satu untuk bibir kemaraumu, dan yang lain, mungkin, untuk dua anjing lapar yang Tuhan pelihara dalam diriku dan dirimu.
Di situ, di rimbunan gelap yang padat dan waktu yang mengering, ingatan mempertemukan kita walau sebentar. Kau berlari membawa kotak yang di dalamnya mungkin adalah namaku, dan aku berlari di belakangmu menjauhi danau.
Sayap-sayap yang tidur, kepala yang dinaungi tali-temali, dan jejak-jejak bernafas rapat. Bagimu, dunia mungkin masih adalah tabir yang kaku.
Oh.
Burung-burung dalam kepala! Itu kekakuan yang liris membunuhku.
Malang, 3 April 2013
Jun 28, 2013
Jun 28, 2013 at 2:48 AM UTC
Desember bersambut hujan, menderas berlukiskan mendung. Sejuk menusuk tulang, yah hujan desember memang tak main
- main dan tak tanggung - tanggung, serius. Memelukmu dingin bertubi - tubi.
Belajar dari 'hujan desember'
Pengorbanan seperti apa yang akan kau ukir untuk membuka pintu kemenangan dakwah ?
Setergenang jalan setapak kah, dengan guyuran hujan ?
Atau, sesemangat hujan desember kah ? Dengan turunnya susul menyusul melembabkan tanah tahun depan, menyusun rencana agar tanah tak mengering dan gugurlah dedaunan karena cuaca tak menentu ..
Segemuruh deras hujan kah ? Berirama dan memberi isyarat bahwa lagi - lagi akan menggenang walau ada saja suara sumbang "aah, hujan turun lagi, sampai kapan "
Dan entah akan kembali kah ia, dengan desember yang sama atau justru tertelan waktu dan mati ..
Maka, prestasi apa yang telah terukir setahun ini dan rencana - rencana apa yang telah tersusun rapi untuk mendobrak peradaban kelam ini ?
Mengembalikan peradaban gemilang "KHILAFAH ISLAMIYAH" ..
Mengubur Demokrasi Kapitalisme Sekularisme dan tak bergairah lagi untuk bangkit ..
Jangan sampai waktu tak menggenapkan umur .
Jangan sampai terlanjur gigit jari, menyesal.
Dan, jangan pernah bosan untuk tetap menyeru walau terus dihujat . Demi terterapkannya syari'at islam dan hidup sejahtera dalam naungannya ..
Maka, jangan lupa sedekapkan kedua tangan dan berdoalah akan kemenangan islam dipercepat ..
Karena hidup adalah IBADAH, AMANAH, dan MUHASABAH ..
Allahumma Shayyiban Naafi'an ..
Feb 23, 2015
Feb 23, 2015 at 4:51 AM UTC
Membinasakan, demi bertahan
Menindas, mencerca, demi jadi raja hutan (singa kali..)
Ganas dan bengis, mengingkari kawan seperjuangan
Memang, manusia sekarang banyak yang tak lebih dari binatang!
Aku juga ingin jadi binatang
Binatang semut..
Ulat dimakan ayam
Ayam dimakan elang
Elang dimakan harimau
Semut? Semut tak pernah masuk rantai makanan
Karena ia kedahuluan mati terinjak
Walau begitu
Semut menggemukkan tanah
Tanah gembur tempat tumbuh rumput dan pohon subur
Rumput dan pohon subur jadi pusat rantai makanan
Kalian lihat kan peran semut?
Cakap dan mulia urusannya
Saking jadi pahlawan
Semut tak layak dinamai binatang
Mereka tak pas jadi tandingannya
hehe
Makanya aku ingin jadi semut
Aug 4, 2016
Aug 4, 2016 at 1:18 PM UTC
Terkadang raga ini lelah melangkah
Berjalan tanpa tahu pasti kemana
Apakah akan singgah sebentar di sudut itu
Atau mungkin akan berhenti di pelabuhan timur
Malam itu aku tertatih
Menahan perih dan luka
Tanpa ada satupun yang sadar
Dalam hati mengumpat watak manusia yang acuh
Namun aku juga manusia
Aku.. manusia yang tak akan pernah berhenti belajar
Walau harus merajut asa dalam sakit
Ditemani oleh temaram lampu kota aku menari
Hingga raga ini tak sanggup
Dan jiwa ini hilang dibawa angin malam
Apr 4, 2016
Apr 4, 2016 at 10:20 AM UTC
Jakarta, Minggu 15 Mei 2008
Di sini hanya sesal
Ku tak melangkah kepada mu
Yang berdiri di padang rumput
Tersilau cahaya di pagi hari
Meski tak kulihat kamu
Mata hati ku menyusuri
Tak ingin ku kehilangan mu
Walau harus terpisah jauh
Tuhan mendengar doa ku
Saat petunjuknya hadir untukku
Ku hindari tak sengaja
Karena dua pilihan menerkam ku
Apakah jalan ini salah?
Ku menangis penuh sesal
Tak bisa melihat kamu yang indah
Padahal, hanya satu langkah aku kan sampai
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:43 AM UTC
Malam ku kemarin
Amat indah kan abadi
Terukir selalu di dalam hati
Nama mu walau hanya mimpi
Sungguh bahagia hati ku
Bila ingat akan mimpi itu
Lamunan ku berakhir
Saat mentari muncul di pagi hari
Tak dapat ku sebut nama mu
Di dalam mimpi ku malam itu
Karena gugup hati ku
Tergetar semua nadi ku
Kelak kita bertemu
Bertemu menjadi satu
Akankah kau campur cinta mu
Dengan cinta ku yang menunggu
Created by Aridea Purple
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:37 AM UTC
“I am just not afraid of being alone,”
Dia datang dari bumi sebelah sana, jauh ke sini untuk mencari lupa pada dunia. Pada suatu sore menjelang senja, dia menyari bahwa bentuk ganda muncul karena rasa takut pada tunggal semata.
Menjadi sendiri bisa membawa resah, terlebih ketika semua berkata ini sudah waktunya. Harga diri bisa membantah, namun di dalam hati takut memang menjadi jawab untuk sebuah tanya; ketika kondisi belum menyajikan jalan untuk berpasangan, apa yang sebenarnya di khawatirkan?
Bila sendiri berupa satu kalut yang perlu dihindari, adakah untuk meraih tenang memang lewat menjadi dua? Bila bahagia adalah satu titik yang telah dilimitasi, apakah untuk mencapainya harus melalui sebuah jika?
Para pendaki bisa menemukan damai pada puncak walau tanpa kawan, petapa sengaja menyepi demi bertemu tenang, biksu bisa merasa teduh walau tanpa sandingan, mereka yang khusyuk menemukan tentram dalam sujudnya yang panjang. Sendiri, walau secara manusiawi.
"Now, I’m just enough with myself,"
Melihat keberpasangan sebagai sebuah hasrat memang tak akan pernah bertemu lengkap, karena bersua dengan damai hanya lewat kata cukup. Setelah kata cukup dipungut, menjadi sepasang bukanlah lagi sekedar penawar kalut.
"So, isn’t this enough?"
Mar 6, 2015
Mar 6, 2015 at 4:14 AM UTC
Hai...
Kau mungkin tak akan tahu siapa aku
Dan sejujurnya aku tak akan mengenalmu
Namun kau dan aku memiliki suatu kesamaan
Ia yang kau perjuangkan, yang kau sayangi hingga hatimu sakit
Dulu pernah menjalani hari demi hari bersamaku
Ia juga pernah ku perjuangkan hingga raga ini tak mampu lagi
Ia yang selalu ku sayangi hingga hati ini tak merasa sakitnya
Aku hanya ingin menitipkan sebuah pesan untukmu
Sebuah pesan kecil yang bisa saja kau abaikan jika kau mau
Jangan pernah merasa lelah untuk memperjuangkannya
Jangan berhenti menyayanginya walau mungkin ia menyakitimu secara tak sadar
Karena jika aku masih mampu dan ia masih membuka hatinya
Aku pun tak akan berhenti melakukan kedua hal tersebut
Apa yang bisa ku lakukan sekarang adalah menyisipkan namanya disela doa-doaku agar ia bahagia dengan hidupnya
Dan agar kau tetap terus menjaganya sebagaimana aku akan menjaganya
Jan 3, 2016
Jan 3, 2016 at 8:23 AM UTC
Saat indah bersamamu
Ungkap ku indah amat ku kenang
Kuasa Tuhan yang ku hargai
Rasa cinta yang terus tercipta
Alangkah senang hati ini
Yang terhias momen indah
Aku dan kamu yang indah berdua
Walau kini tak terasa lagi
Ingin ku ulangi tuk terakhir kali
Nuansa indah penghias hari-hari
Alangkah senang hati saat terjadi
Takkan ku lupa seumur hidupku
Akan ku kenang untuk selamanya
Oct 16, 2011
Oct 16, 2011 at 10:24 AM UTC