"tiap" poems
Yang mengutarakan salam pagi ini
Hanya sesayat keheningan
Dari reruntuhan nafas yang tiap isapnya
Riuh dirundung rindu
Perhatikan,
Ini salah satu pertanda
Soal dekadensi kidung
Yang biasanya, tanpa kita sadari
Teralun lemas tiap pagi
Lembut tanpa gemericik
Kidung itu bisa jadi sudah keterlaluan
Bisa jadi ia terlalu sadis pada sepi tiap subuh.
Senandung itu, memang benar,
Sebatas bisikan-bisikan lantang
Yang gemar memuja sepi dengan memporak-porandakannya,
Yang gemar menghantui sunyi agar terlelap sebelum terbit.
Mungkin,
kidung itu terlalu masokis
Bernyanyi sendiri tanpa ada yang
Peduli pada dendangnya yang kelewat mengusik
Dan kelewat menggoda, sehingga semua lebih memilih
Terlelap saja. Bukan berdansa.
Ini salah satu pertanda
Soal dekadensi kidung perih
Yang biasanya teralun malas tiap pagi
Menggerakkan setan-setan kecil
Untuk membutakan mata dan membuat tuli dalam sekejap.
Jangan berdansa.
Tak ada yang peduli, semua masih tertidur.
Dan itu bisa jadi salahmu sendiri.
Tapi tak apa, iblis masih menyayangimu
Dengan sangat manusiawi.
Lagipula, seperti pagi ini,
Kesunyian kembali bersila pada permadaninya
Ditemani kicauan mencibir burung rohani.
Selamat pagi,
Senyap.
Anda yakin tidak ingin bangun
Dan menanggapi kidung yang terus memanggil
Untuk berdansa setengah jiwa?
Subuh hanya datang seterbit sekali.
Tuhan hanya merindu lima kali sehari.
Feb 16, 2016
Feb 16, 2016 at 11:02 AM UTC
*Berderap tegap nyaring bersuara
Saat pertama ku pajang jakun menutup pundak dan dada
**"Universitasku universitas Indonesia. "
"Terangkum dalam frasa 'buku pesta dan cinta'"**
Sayang hanya dalam nyanyian belaka
Isi kisahku hanya buku, tanpa pesta dan cinta
Jangan kurang jangan lebih jua
Pesta dan cinta punya takar unik pas tuk dicoba
Seperti kopi kelebihan kekurangan gula
Ada takaran pas 'tuk tiap lidah yg meminta
Kisah uiku kisah pesta
Pesta merayakan kebahagiaan, kejayaan, atau mungkin lepasnya keperjakaan
Kisah uiku kisah cinta
Cinta teman sebaya, cinta maba alat pelampiasan atau cinta kakak tingkat kece mempesona
Jika kisah uimu belum ada pesta dan cinta
Maka jangan paksa diri menyeret kaki lepas dari skripsi dan tugas yang ada
**Entah malang atau baik nasib akhir kisahnya
Jangan mau lulus jika belum mencoba***
Oct 24, 2016
Oct 24, 2016 at 1:09 PM UTC
Aku berdosa,
Telingaku bunuh diri.
Sudah baru-baru ini
Aku sepenuhnya tuli
Aku tak tahu lagi
Apa kata dedaunan
Pada tanah yang terantuk lemas dibawah
Atau ceracau yang diteriakkan
Bunga keparat
Untuk mayat dingin si kumbang.
Bahkan di restoran tua
Yang setiap sela kayunya berdarah dingin,
Tempat rintihan musik bisumu selalu dialunayunkan
Semuanya hanya tertawa hening
lalu mati begitu saja.
Dan meskipun duduk menghadapmu
Aku masih tak dapat mendengar
Suara mengaji jam setengah mati
Yang kerap menceritakan
Dongeng gelap kita
Dari lampau sampai me—
La lala la la
lala la lala
La la la la la lala
La la la lalala la la
La
—Lampaui
Pemakaman hati yang mati dipancung
Di pekarangan rumah tiap senja gulana
Yah, baru-baru ini aku tuli
Bisu lagi,
Mampunya cuma mengumpat dalam tulis.
Dan dihadapkan denganmu,
Sesekali dalam terkadang
Aku anehnya dapat mendengar
Serintikan isak tangis yang
Sama sekali tidak kita cucurkan
Lalu ini semua salah siapa,
Kalau aku baru tuli
Lalu kamu sudah bisu?
Apa memang ini dosaku?
Di palangnya tertulis;
Nama: Siapapun yang menangis
Di sela-sela pengakuan dosa
Kematian telinga gila
Dan kelumpuhan bibir hambar
Kita tiba-tiba melongo,
Tuhan tertawa
Sabar lagi bahagia,
Mengisyaratkan untuk
Sudah, ya,
Simpul mati saja senyum satu sama lain.
Aug 30, 2015
Aug 30, 2015 at 8:46 AM UTC
Ku terlelap seperti lalu lintas jakarta, berjalan dan berhenti, dari padat menjadi kosong. Yang tak tahu pergi kemana. Gambar-gambar yang lewat begitu saja seperti cepatnya kereta. Lampu-lampu jalan yang menerangi aspal hitam. penjual-penjual yang menjual minuman di lampu merah. Pengamen yang bermimpi membuat kemacetan menjadi hal musikal. Keringat-keringat dibalik helm dan jaket kulit. Tawa-canda dibaluti pendingin didalam mobil. Bis-bis kota dengan kepenuhan penumpang. Orang-orang yang mengumpat jika kau dengar dengan seksama, umpatan mereka begitu indah, tak ada seorangpun di bagian dunia lain mampu menirunya. para pedestrian yang semakin tergeser eksistensinya karena tak ada lagi ruang bagi mereka. Stasiun-stasiun yang nampak menakjubkan ketika sepi. Spanduk-spanduk keagamaan yang dipasang sembarangan sama layaknya dengan iklan-iklan yang berteriak ke telingamu tiap radius 10 meter. aku terlelap bagaikan lalu lintas jakarta. Aku tak tahu kemana.
Nov 17, 2013
Nov 17, 2013 at 1:55 AM UTC
Aku suka kamu,
Dalam diam, sejak dulu lagi.
Aku terpikat dengan puisi kamu.
Tiap coretan indah kamu buat aku tersenyum.
Sungguh aku teringin bercakap dengan kamu,
Apakan daya rezeki belum nak ada,
Entah bila kita boleh berjumpa lagi.
Surat khabar sahaja yang buat aku rasa aku dekat dengan kamu,
Itu sudah cukup buat aku tersenyum, bahagia.
Maaf,puisi tidak cukup hipster tapi ni saja yang ku mampu tulis untuk kamu sebab kamu suka puisi deep lahanat melayu.
Nov 2, 2015
Nov 2, 2015 at 7:26 AM UTC
sekarang ini, aku itu sedang bermimpi
ada sebuah wajah yang namanya aku amini
ditiap bisikan doa kepada bulan dan matahari
hingga seluruh semesta berhenti bernyanyi
aku bahagia lagi—kan sekarang ini ada kamu
yang mencintai aku tiap hari Minggu
jika benar ini mimpi, jangan bangunkan aku
karena aku butuh lebih banyak waktu
untuk memeluk tubuhmu lebih lama
untuk buatmu jatuh cinta dihari lainnya
dan
untuk membawa kamu ikut jadi nyata
Mar 16, 2016
Mar 16, 2016 at 7:31 AM UTC
Terbangun aku di kamar mimpi,
dulunya kau ada di sisi,
kini sepi,
mata dan minda tempat ku jelajah,
menerokai diri mu tanpa lelah,
kembara kita tiada henti,
kerna, tiap kali kita bersua,
kucupan dan senyuman manis menghiasi pipi,
ku susun aksara ini,
untuk mereka tahu,
bertapa indahnya kau di mata ku
cereka tiada noktah atau koma,
kerna di sini,
kau kekal selamanya.
Bila kau tiada,
Jumantara ku gelita
Malam ku sunyi tanpa suara,
renjana pada roh ku kian lemah.
ku berharap kita bersua lagi,
dengan renjana sama dengan ku,
kau bagaikan sahmura,
menghiasi kamar mimpi,
dengan ukiran kirana di bibir,
kerna
Gian aku kepada sanubari mu,
tiada henti
Jun 16, 2022
Jun 16, 2022 at 3:27 AM UTC
Tujuh lapis langit,
Tiga lapis bumi,
Petualang mengembara,
Jauh dari tanah,
Menjelajah samudera,
Rindu pada darat,
Ku lepaskan pada laguna,
Hujan di libas badai,
Sanubari hati ini
Impikan haruman cindai,
Oh Juwita,
Tiap detik pasti rindu,
Lafas tiada noktah ataupun koma,
Hanya ombak dan bayu berlagu,
Awan berarak syahdu,
Bintang malam menjadi arah,
Ku harap,
Aku tidak sesat ke jalan yang salah.
Jul 1, 2023
Jul 1, 2023 at 2:56 AM UTC
Aku cemburu pada embun pagi hari yang selalu ada disana untukmu
Aku cemburu pada sinar matahari yang leluasa mendekapmu tiap kali kau terbangun dari tidurmu
Kadang aku cemburu melihat hal yang membuatmu selalu tersenyum
Angin yang berhembus pun tahu untuk siapa rinduku tertuju
Namun aku tak ingin banyak bicara tentangmu
Aku hanya ingin berada disampingmu
Mar 2, 2016
Mar 2, 2016 at 2:19 AM UTC
Aku kerap melihat segerombolan
Anak kecil
Menengadah takjub
Pada keburukan rupa arakan
Berpuluh awan mendung.
Mereka terus menatap seolah
Tiap gumpalnya adalah punuk di punggung
Malaikat
Yang akan menghujani mereka
Dengan berpuluh hadiah kecil
Kecil
Kecil
Andai aku anak kecil
Bocah
Aku mungkin tahu apa yang
Disembunyikan
Tiap guratan murung awan itu.
Mungkin,
Aku akan dapat melihat hujan
Sebagai sesuatu yang lebih indah
Daripada isak tangis ketiadaan.
Sekarang,
Kita sudah tua
Murung lagi muram.
Akankah kita berlinang,
Dan sirna setelahnya?
Feb 8, 2016
Feb 8, 2016 at 10:06 AM UTC
Bapak, aku ingin pulang
Aku rindu dengan rumah atau ide akan rumah
Tapi kau telah mempunyainya.
Aku rindu disambut harum masakan buah tangan sang Ibu
Tapi kau tak pernah menyicipinya, Ibu tak bisa masak.
Aku rindu berduduk diatas kursi kayu yang terletak di ruang makan
Tapi kau bahkan tak pernah melakukannya. Kau, tak pernah makan.
Aku rindu akan ruang sesak penuh sayang
Akan kentalnya keakraban yang melekat di dinding-dinding bisu;
yang dalam diam mendengar isak tangis setiap manusia yang menjajalkan diri dalam rumah ini
Akan hangatnya cinta kasih yang tergurat diantara bisingnya suara televisi yang kau nyalakan setiap Minggu jam tujuh pagi dan gaduhnya percakapan seorang diri yang terproyeksi dalam tiap benak manusia, lagi-lagi, dirumah ini.
Kau tak akan menemukannya disana
Aku dan Ibumu ini hanyalah tamu
Kau adalah rumahmu
Tapi kau adalah bukan tempat singgah
Badanmu bak ruang luas tak terbatas
Tamu-tamu tak bisa lalu-lalang melalui satu pintu saja
Banyak pintu-pintu lain didalamnya namun tak terbuka
Ribuan pintu tersebut tertutup adanya
Terkunci dengan rapat
Namun kuncinya telah kau telan
Dibalik pintu itu,
Lagi-lagi ribuan misteri
Teka-teki tentang dirimu yang tersimpan dalam boks berbagai macam ukuran
Tersimpan terlalu aman
Jiwamu adalah fondasi
Kebaikanmu harum masakan yang mengundang setiap orang
Keingintahuanmu benda mahal; memikat tamu untuk ingin bertualang ke setiap ruang
Kenekatanmu—sisi Sang Pembangkang yang kusayang—menantang mereka untuk tinggal lebih lama
Empatimu alunan musik yang menyodorkan kenyamanan
Namun parasmu, anakku sayang,
Matras termahal yang membuat mereka ingin menginap
Hati-hati dalam memberi izin
Jaga rumahmu
Bersihkan
Bagiku Istana terbesar di Dunia tak ada nilainya jika disandingkan dengan Rumah yang kau punya.
Mar 24, 2019
Mar 24, 2019 at 1:23 AM UTC
Seorang Part I
Baru-baru ini aku merasakan yang hidup ini tidak lagi bermakna buat aku. Di mana aku rasa kosong setiap kali nak memulakan sesuatu. Bagaikan terputus tali layang-layang yang asyik ditiup angin di langit biru itu. Aku cuba dan terus mencuba untuk memahami setiap apa yang berlaku di sekeliling aku. Akhirnya aku masih di situ dan terbelenggu keseorangan tanpa sesiapa pun sedar aku di mana. Tidak ada tangan yang mahu menolong aku apatah lagi bahu untuk ku sandarkan tiap kali aku mencurahkan air mata. Aku keseorangan.
Seorang Part II
Aku masih diam di situ kaku. Sejenak aku terdetik untuk mendongak ke langit. Tika itu kelihatan malam pekat dihiasi dengan bintang-bintang berkerlipan penuh gemerlapan dan juga bulan yang terang memukau aku seketika. Waktu itu aku masih ingin menangis lagi kerana aku lupa pada Yang Maha Mendengar Yang Maha Melihat Yang Maha Mengasihi. Aku alpa kerna selama ini aku melupakan Yang Maha Berkuasa. Aku merasakan kerdil waktu itu dan pada saat itu juga aku merasakan aku dibius semangat baru.
Seorang Part III
...........................................................................................
Nov 28, 2014
Nov 28, 2014 at 2:57 PM UTC
malam ini,
si bocah rewel berhenti menyamar
pikirannya terlalu gerah
jiwanya renta, terkekang
tempurung dahi hanya terisi geram
kantong kapuk bersaksi
atas tangis kelelahan tanpa suara
ia sempat doyan bekerja
berpayah-payah memunguti kerikil
satu demi satu
tiap pijakannya bukan tindakan acak
menempa diri demi bilangan
kini yang tersisa
hanya pendar-pendar ambisi & setungku kekosongan menjemukan
Ia berkutat pada teka teki yang tersuguh manis
mencari pembebasan yang sepadan
berharap segera merdeka dari jerat alur yang mengikat keras
berlumuran lamunan
ia berserah, membakar doa
sambil melempar akal
'adakah satu dari seluruh umat manusia yang masih belum paham, kita ini gerombolan wayang bukan dalang!'
Apr 7, 2022
Apr 7, 2022 at 12:07 PM UTC
Pagi memamah bangkai di halaman. Bangkai yang kami mangsa bersama semalam sembari duduk melingkar dan mengumpat atas ketidakmujuran yang menghantui kami. Ah, tapi ketidakmujuran dan kesendirian itu toh akhirnya diobati oleh makan malam bersama yang getir dan sangit. Kami sendirian bersama. Kami tidak mujur dan sendirian bersama agar dapat menyantap makan malam ini. Makan malam dengan menu bangkai bersaus pedas ditambah rempah, baunya yang pedih menusuk sengaja kami umbar sebagai pertanda bahwa kami telah hadir di kaki gunung yang belum menampakkan kehangatannya. Kaki gunung yang masih menjegal kaki kami. Kaki gunung yang tajam. Tapi malam mewujud dari lingsir menjadi lengser dan mentari dengan cepatnya kembali mencemooh melalui pagi. Lebih cepat dari kami yang sedang memangsa bangkai. Lebih cepat dari kunyahan kami pada tiap otot dan lemak. Sisa-sisa bangkai yang kami mangsa bersama semalam pun tercecer di halaman bersama bulir beras serta bebijian yang terjatuh dari kelopak mata kami, gantikan air mata. Kami harus membuang bangkai itu segera dan tak boleh sampai terlihat memangsa bangkai. Memangsa bangkai bukanlah hal yang patut dibanggakan terlebih lagi di kaki gunung yang beradab. Halaman kami berbau bangkai. Tak masalah jika aroma itu menujam hidung kala malam, karena manusia yang lalai akan menganggapnya sebagai mimpi belaka. Namun jika sampai bau itu tercium kala pagi maka kami lah yang akan kena kutuk. Kami akan menjadi anak-anak terkasih setan kaki gunung. Meski kami memangsa bangkai, kami tak menginginkannya. Kami hanya ingin bahagia dan dapat saling mencintai. Bangkai-bangkai itu tercecer dan kami tak memiliki tanah untuk mengubur bongkahan yang kini dimamah oleh pagi yang acuh. Pagi yang dingin. Pagi yang memanas. Pagi yang bising. Pagi yang dangdut. Pagi yang berdebu. Pagi yang memamah bangkai di halaman. Kami tak memiliki tanah untuk mengubur bangkai yang kami mangsa. Segala tanah telah beralih pada bak lapuk di kamar mandi agar kami dapat mensucikan diri siang nanti. Dan yang tersisa di halaman hanyalah bangkai, bulir beras, serta darah yang mengalir deras dari sungai di belakang kami. Pagi baru di ujung kepala. Belum banyak mata yang dapat menyaksikan nestapa kami. Bangkai-bangkai yang belum selesai kami kunyah, kami harus segera menyingkirkannya.
Pagi memamah bangkai di halaman. Kami memamah bangkai di halaman.
Serreh, 2017
Aug 17, 2017
Aug 17, 2017 at 10:21 AM UTC
Pada tiap bait puisiku
berisikan lantunan merdu
perihal dia dan suka.
Larik-larik sajaknya dirancang manis
menyurat rasa yang tersirat.
Pada tiap bait puisiku
kuingat tatapnya yang hangat dan malu-malu
membuat aku gugup melulu.
Dipuisi ini, kutulis rayu dalam kata
tuk ramu gugupku jadi haru.
Pada Rabu di sorenya
bernada, mendera, bergelora
berbicara perihal harinya yang gembira.
Oct 25, 2022
Oct 25, 2022 at 12:50 PM UTC
katamu, aku hanya butuh percaya.
katamu, aku tak perlu menyita waktuku dengan adanya kamu di tiap detikku.
katamu, aku pun sudah fasih memahami isi kepalamu.
dan, ya, aku memilih untuk percaya.
nyatanya, tidak semudah bak sang matahari yang rela menyembunyikan teriknya sepanjang malam untuk memikat sang bulan.
kamu hanya tidak tahu seberapa dalam lukaku, kemarin.
kamu hanya tidak tahu seberapa besar rasa sakitku, hingga saat ini.
entah bagaimana,
entah karena apa,
terbesit oleh pikirmu untuk melakukan itu.
apa ini karenaku?
atau memang suratan takdir untukku?
bagaimana dengan semua katamu?
bagaimana dengan semua percayaku?
semukah?
Mar 20, 2017
Mar 20, 2017 at 2:12 PM UTC
Palembang, 1 Oktober 2010
Kemerdekaan t'lah diraih
Indonesia bebas dari penjajah
Tiap tahun mari kita rayakan
'Tuk mengingat jasa para Pahlawan
Pahlawan Kemerdekaan
Yang tak kenal balas jasa
Hanya harap akan kejayaan bangsa
17 Agustus yang bersejarah
Di 65 tahun lalu yang menguras darah
Created by. AP
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 12:41 PM UTC
Sesekali
Malam bersaksi
Ialah yang kau pandang
Lewat satu-satunya
Jendela hatimu
Jam dinding
Pada tiap detiknya
Merana
Setelah menghitung
Detak jantungmu
Tembok kerap
Meniup nestapa
Saat kau di pembaringan
Meliuk pada
Hamburan mimpimu
Selamat tidur,
Degup duka.
Aku sebuah gelas
Di ujung kamarmu
Yang terlalu penuh
Minumlah sebelum
Terlelap
Agar aku dapat juga
Bersaksi perihal
Kecup dan detak jantungmu
Mar 19, 2016
Mar 19, 2016 at 3:41 AM UTC
Antara dua jalan buntu
Penentuan hati dan minda sekeras batu
Ku menerka ini hanya mainan perasaan
Persis jiwa-jiwa yang hiba kekosongan
Larilah wahai nafsu
Carilah serangkap wahyu
Cantaslah pucuk cemburu
Kerna manusia semakin layu
Lenturnya segenggam iman
Toksik meracuni setiap teman
Doalah waktu masih memberi ruang
Mewarnai tiap hitam putih perjalanan
Telan segala perit mencari abdi
Tiada yang kekal apatah lagi kendiri
Senyuman kekal menjadi sedekah amalan
Tuhan Maha Pengampun, manusia dahagakan amalan.
Apr 22, 2017
Apr 22, 2017 at 7:41 PM UTC
setiap arah yang kita lalui itu adalah berbeza.
tiap kali takdir akan menemukan kita tanpa sedar.
pada satu saat itu.
bila kita berpaling antara satu sama lain.
kita akan bertentang mata.
setiap langkah yang menuju ke arah cinta itu.
tiap kali takdir akan menemukan kita tanpa sedar.
pada saat itu juga.
kita akan berjalan pada arah yang sama.
dan sekali lagi kita bertemu.
betapa takdir itu tidak bisa disangkal.
dan kita anggap cinta itu seperti jenaka.
kita tidak bisa menafikan hati kita berdua.
bolehkah kita mengisi jawapan bersama?
di tempat kosong iaitu hati kita berdua.
Nov 28, 2014
Nov 28, 2014 at 4:57 PM UTC
Apa kabar, Tuan?
Lama tak beradu tatap.
Bagaimana kehidupanmu tanpaku?
Sepi,
senang
atau
lebih dari tenang.
Kenang memori kita, Puan bersedih.
Puan tahu diluar kehendaknya untuk memohon kembali kepadamu.
Namun tiap malam Puan meraung sepi, terisak sesak. Puan menyerah namun Puan tak bisa melepaskan.
Puan hanya ingin berbicara barang lima detak,
Puan ingin Tuan tahu,
Tuan masih bertahta di hati Puan.
Oct 5, 2018
Oct 5, 2018 at 11:48 PM UTC
aku mencoba memahami
setiap isyarat yang terbentuk
menerjemahkan tanda- tanda
pada tiap tiap elemen yang ada
menafsirkan tak semudah itu
teoripun wajib diacu
belum, aku harus menyelam lebih dalam
ini belum cukup untukku
aku masih haus akan pengertian
bagaimana ini bisa?
bagaimana itu bisa?
akupun masih terus menggali
untuk ku tuai jawaban
semua punya maksud dibelakangnya
warna, gerak, ujaran, tulisan
bahkan titik dan garis
aku mencari arti dalam arti
mengupas tanda didalam tanda
ini tentang makhluk berbahasa
aku, bahkan tiap insan punya identitas
ada makna yang harus kusampaikan
ada arti yang harus dipahami
aku memang bukan ahli
tapi ku mau pelajari
Aug 21, 2017
Aug 21, 2017 at 11:05 AM UTC
Pasar dan pasir yang bersatu
Dipisahkan oleh janji
Ditiadakan oleh kilau emas
Yang berkilat padanya akal warasmu
Pasir adalah asamu,
Yang kau bagikan pada mereka
Untuk membangun genting bocor
Pastilah tak bisa kami genggam
Rumahmu adalah pasar
Yang saling menjual suara
Cobalah untuk menimbang
Besaran keadilan dan kejahatan
Kami hanyalah ternak
Yang tiap tetes darah kami kau tukar
Dengan sendok dan garpu perak
Dan kau biarkan kami menggelepar?
Harga tiap tetes darah itu
Tak pernah kau bayar
Namun selalu kau tawar.
May 11, 2016
May 11, 2016 at 9:59 PM UTC
Berikut adalah percakapan antara aku dan aku;
Aku bertanya, apa itu self love ?
Mencintai diri sendiri jawabku.
Bagaimana bentuknya ?
Mencintai dan menjaga diri sendiri.
Bagaimana spesifiknya kalau boleh tahu ?
Merawat diri sendiri baik dari tubuh, pikiran, dan hati.
Bisa beri detail lebih jelas mengenai merawat tubuh, pikiran, dan hati ?
Tentu saja.
Dari tubuh,
Jika engkau ingin mempercantik dirimu tetapi benar benar untuk dirimu. Bukan hanya sekedar konsumsi publik semata agar engkau dianggap kualitas super hanya dari fisik. Maka, lakukanlah.
Dari pikiran,
Oke ini level dua. Sulit.
Kau harus pandai mengolah semua pikiran negatifmu. Cobalah ubah menjadi sebaliknya, rasa takut kau ubah sebagai rasa penasaran menghadapi suatu hal, singkirkanlah logis yang terlalu mengedepankan ego sejenak, ajak pikiranmu tenang lalu coba bawa ia ke tempat yang luas.
Dari hati,
Sulit. Karena mungkin sejatinya sifat tiap kamu kamu itu terefleksi dari sini. Tinggal pilih, mau babak belur mencoba lebih baik atau nyaman di tempat kotor ?
Kalau ini caraku.
Cobalah untuk selalu berbuat kebaikan, banyak orang yang akan sering berkata kamu nanti terlalu naif, munafik. Halah, persetan dengan itu semua. Jalani hidupmu sendiri sendiri, senang itu tergantung kita bukan orang lain. Kita yang putuskan mau senang apa tidak.
Coba lihat, karena apa ?
Ego mereka sulit diolah, atau bahkan sudah diracuni oleh ego sendiri ?
Apapun itu, aku turut berduka untuk mereka.
Intinya berbuat baik, tidak hanya kepada makhluk hidup saja.
Alam jangan dilupakan.
Kau itu sama sama ciptaan-Nya, bukankah kalau saling sayang kita akan selalu tenang ?
May 19, 2018
May 19, 2018 at 9:51 PM UTC