Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"tertidur" poems
Yang mengutarakan salam pagi ini Hanya sesayat keheningan Dari reruntuhan nafas yang tiap isapnya Riuh dirundung rindu Perhatikan, Ini salah satu pertanda Soal dekadensi kidung Yang biasanya, tanpa kita sadari Teralun lemas tiap pagi Lembut tanpa gemericik Kidung itu bisa jadi sudah keterlaluan Bisa jadi ia terlalu sadis pada sepi tiap subuh. Senandung itu, memang benar, Sebatas bisikan-bisikan lantang Yang gemar memuja sepi dengan memporak-porandakannya, Yang gemar menghantui sunyi agar  terlelap sebelum terbit. Mungkin, kidung itu terlalu masokis Bernyanyi sendiri tanpa ada yang Peduli pada dendangnya yang kelewat mengusik Dan kelewat menggoda, sehingga semua lebih memilih Terlelap saja. Bukan berdansa. Ini salah satu pertanda Soal dekadensi kidung perih Yang biasanya teralun malas tiap pagi Menggerakkan setan-setan kecil Untuk membutakan mata dan membuat tuli dalam sekejap. Jangan berdansa. Tak ada yang peduli, semua masih tertidur. Dan itu bisa jadi salahmu sendiri. Tapi tak apa, iblis masih menyayangimu Dengan sangat manusiawi. Lagipula, seperti pagi ini, Kesunyian kembali bersila pada permadaninya Ditemani kicauan mencibir burung rohani. Selamat pagi, Senyap. Anda yakin tidak ingin bangun Dan menanggapi kidung yang terus memanggil Untuk berdansa setengah jiwa? Subuh hanya datang seterbit sekali. Tuhan hanya merindu lima kali sehari.
0
Feb 16, 2016
Feb 16, 2016 at 11:02 AM UTC
Dekadensi Kidung Tiap Pagi
Palembang, 31 Desember 2011 Ku tak berharap malam ini akan spesial Mengingat kembang api tak mau memperlihatkan sinarnya Terompet pun enggan mengumandangkan suara nyaringnya Apalagi, arang bersumpah takkan membara malam ini Jahat sekali mereka padaku  Aku sudah mengira malam ini akan menjadi bosan Ditinggal sendirian di rumah Dilarang pergi ke rumah teman Ditambah modem tak mau konek Jahat sekali kalian padaku  Baiklah Aku hanya bisa bermimpi saja Mendengar gemuruh kembang api Melihat cahaya indahnya Menghirup wangi jagung bakar Menyantap ayam panggang Dan ketika aku kenyang, aku tertidur Esok pagi Yang ku temui hanya sepi
0
Jan 2, 2012
Jan 2, 2012 at 4:39 AM UTC
Malam Tahun Baru 2012
Palembang, 11 Juni 2012 Debu ini sudah lengket, tak bisa hilang Meski ku usap dengan kain dari ulat sutra Angin sudah terlanjur tertiup Aku tak sempat lagi tuk pakai penutup Petir sedari tadi mengamuk Aku hanya bisa bersembunyi di bawah selimut Banjir belum juga surut Hujan tak pernah berhenti sedetikpun Lampu belum juga padam Padahal lilin dan api telah aku siapkan Aku sudah siap menekan tombol Stop Padahal lagu masih panjang untuk dinyanyikan Aku belum juga tertidur Padahal aku sudah menentukan mimpiku Aku masih terjaga menunggu pagi Meskipun malam belum akan berakhir
0
Jun 11, 2012
Jun 11, 2012 at 10:45 AM UTC
Menyesal
dibalik jendela pesawat terbang, ada bulan purnama bulat dan terangnya sempurna malam ini saya mengarungi awan yang bentuknya jelas karena pantulan cahaya bulan bergumpal, halus, keemasan indah terpantul pada retina mata, menakjubkan lalu saya tertidur dalam mimpi saya berkereta menuju cahaya bulan saya akan sampai disana, dibulan turbolensi membangunkan saya tepat pukul 11.42 malam diluar bayangan samudra masih gelap, tidak terlihat 1 jam lagi saya akan sampai di negeri cina, kata seseorang dengan pengeras suara tidak jadi kebulan? tak apa, berbeloklah dahulu baru ke bulan Diatas awan, 26 Februari 2013
0
Mar 10, 2013
Mar 10, 2013 at 1:34 AM UTC
berbelok dahulu
Palembang, 8 September 2011 Dia adalah.. yang mampu membersihkan fikiranku, membuatku tertidur di malam hari, menemaniku hingga pagi. Dia adalah.. yang berharga dari benda apapun, sangat suci dan terang, sumber hidup yang bermakna. Dia adalah.. penerang jalan selamanya, takkan pernah berubah, terkadang dilupakan. Dia adalah kitab milik Nabi ku Muhammad, yang abadi, indah, warisan paling mulia. Dia adalah Al-Qur'an, hal yang selalu ku baca sebelum tidur, ayat yang selalu bku ulang setiap sholat, nilai yang selalu ku aplikasikan di dalam kehidupan. Aku cinta Al-Qur'an.
0
Nov 21, 2011
Nov 21, 2011 at 6:21 AM UTC
Dia adalah Al-Qur'an Ku
Seteguk apapun, semua tak akan berakhir Aku adalah seorang pemabuk yang selalu menguarkan harum arak kemanapun aku pergi. Anggur, dan berbotol-botol ***** telah kutenggak pagi ini. Dan hanya hari ini pula aku ingin bicara, tentang segenggam racun yang kalian semua suntik ke dalam nadi dan pembuluhku. Topeng yang dengan bangga kalian pakai tak ubahnya ketelanjangan hanya mengumbar malu dan aib Tawa yang sesenggukan kalian jeritkan hanyalah tangis jiwa kalian yang memudar memutihkan kejujuran dan kebajikan Oh, beginikah cara kerja dunia berduri dan berbatu, sama saja disetiap lajurnya kemanapun aku pergi, dijejali mulutku dengan dusta dan hanya dusta belaka Menghitamnya jiwaku, seandainya bagai langit malam tak ada chandra di ufuknya Sudah selayaknya aku berkabung atas jiwaku, dimana dia merintih penuh sesal dan tanya. Apakah lalu lalang motor dan diesel itu memusingkan kepala atau hanya sebuah kesibukan belaka. Dan dengan itu pula jiwaku berakhir, terdiam, dalam kematian. Kukubur dia dengan layak, diantara nisan-nisan lain disekitarku, yang diberi nomor, sesuai urutannya. Jiwaku tersungkur di nomor tujuh. Beruntung sekali! Kukubur dia, pelan sekali dengan tertidur. Tak berharap bangun lagi di keesokan pagi. Kutaburi bunga-bunga dan prosa yang harum, dan kusiram dengan sebotol Martini dan bir. Harum. Seharum embun yang kau injak ditepian jalan. Wangi. Sewangi sukmamu yang kuingat telah pergi. Aku adalah pemabuk. Yang selalu menenteng sebotol arak, bermabuk di tepian jalan kehidupan. Mengambil jeda diantara kalimat-kalimat mencela dan busuk, yang tergelincir masuk ke dalam telingaku. Botol-botol inilah sang penawar, berminum pula para nabi terdahulu menyesali umatnya, sedangkan aku? Menyesali kalian.
0
Sep 7, 2016
Sep 7, 2016 at 12:30 PM UTC
Sebotol Penawar
Seteguk apapun, semua tak akan berakhir Aku adalah seorang pemabuk yang selalu menguarkan harum arak kemanapun aku pergi. Anggur, dan berbotol-botol ***** telah kutenggak pagi ini. Dan hanya hari ini pula aku ingin bicara, tentang segenggam racun yang kalian semua suntik ke dalam nadi dan pembuluhku. Topeng yang dengan bangga kalian pakai tak ubahnya ketelanjangan hanya mengumbar malu dan aib Tawa yang sesenggukan kalian jeritkan hanyalah tangis jiwa kalian yang memudar memutihkan kejujuran dan kebajikan Oh, beginikah cara kerja dunia berduri dan berbatu, sama saja disetiap lajurnya kemanapun aku pergi, dijejali mulutku dengan dusta dan hanya dusta belaka Menghitamnya jiwaku, seandainya bagai langit malam tak ada chandra di ufuknya Sudah selayaknya aku berkabung atas jiwaku, dimana dia merintih penuh sesal dan tanya. Apakah lalu lalang motor dan diesel itu memusingkan kepala atau hanya sebuah kesibukan belaka. Dan dengan itu pula jiwaku berakhir, terdiam, dalam kematian. Kukubur dia dengan layak, diantara nisan-nisan lain disekitarku, yang diberi nomor, sesuai urutannya. Jiwaku tersungkur di nomor tujuh. Beruntung sekali! Kukubur dia, pelan sekali dengan tertidur. Tak berharap bangun lagi di keesokan pagi. Kutaburi bunga-bunga dan prosa yang harum, dan kusiram dengan sebotol Martini dan bir. Harum. Seharum embun yang kau injak ditepian jalan. Wangi. Sewangi sukmamu yang kuingat telah pergi. Aku adalah pemabuk. Yang selalu menenteng sebotol arak, bermabuk di tepian jalan kehidupan. Mengambil jeda diantara kalimat-kalimat mencela dan busuk, yang tergelincir masuk ke dalam telingaku. Botol-botol inilah sang penawar, berminum pula para nabi terdahulu menyesali umatnya, sedangkan aku? Menyesali kalian.
Continue reading...
27
Mendengarmu berceloteh, Daun telingaku kian mengecil, Menciut sesak dalam lubangnya, Hingga tiada bunyi menggugah pikiran. Memandangmu beserta materimu, Kelopak mataku tak kuasa terbuka, Ku paksa terbelalak, menatap tajam, Sampai pandanganku kosong hampa. Menghadiri kelas mata kuliahmu, Detik jarum jam seakan tertidur tuk berdetak, Ruangan seakan penuh dengan jeritan jiwa, Tinggallah hasrat untuk kembali pulang. Wahai bapak dosenku, Adakah engkau menawarkan air di panasnya hati, Akankah kau menabur harum bunga di otak yang usang, Atau apakah rasa jemu takkan terganti?.
0
Mar 14, 2015
Mar 14, 2015 at 3:10 AM UTC
To : Mr. Dozzen
Aku Tertidur. Sudah lama tertidur. Hampir saja kau bangunkanku atau mungkin sudah kau bangunkan... Entahlah, aku tidak yakin Kamu yang tidak jelas. Membangunkanku, lalu pergi; membuka mataku, lalu pergi; mengusir alam bawah sadarku, lalu pergi; membangunkanku, lalu pergi. Tak sudi aku bangun tanpa teman Tak sudi aku bangun dengan haus begini Makanya, Aku kembali tidur. Biar kuberi tahu, aku tertidur - kembali. Sudah lama tertidur. Dan kali ini, sakit tidurku...
0
Sep 3, 2014
Sep 3, 2014 at 10:40 AM UTC
Tertidur
Setelah kesekian kalinya, Dia berusaha Di sudut nyala lilin kecil Dia dapat kembali menangis Terisak hingga kelelahan Mengeluarkan semuanya Dan jatuh tertidur Wahai puan, Berapa lama topengmu itu kau gunakan? Tak apa jika kau ingin bersedih, Tak apa jika kau ingin marah, Tak apa jika kau merasa dunia ini tak adil Jangan mengunci dirimu, Terdapat langkah kaki yang ingin menemanimu diluar sana Persilahkan lah Untukmu, Tolong jangan memenjarakan diri sendiri
0
Dec 13, 2018
Dec 13, 2018 at 10:10 AM UTC
Kepada Puan Bertopeng
Inderalaya, 30 September 2014 Rasanya ingin saja aku menutup mata ini, tertidur Menuai mimpi yang selalu bahagia ceritanya, terhibur Hati tak ingin terbangun namun mataku berkata lain, terlanjur Semangat hati tuk melanjutkan tidur pun haidr, dan Bangunkan aku saat September berakhir
0
Oct 20, 2014
Oct 20, 2014 at 7:00 AM UTC
Wake Me Up When September Ends
Tak tahu mengapa tiba-tiba Fatima terjatuh. Orang-orang pikir dia tertidur. Mereka mencoba membangunkan, namun sia-sia. Disentuh dengan hati-hati, tak juga berhasil. Fatima dengan sepasang burka berkeliling di dunia ide. Mimpi-mimpi yang awalnya ilusi, kini nyata. Dia menari-nari diatas kesedihannya. Fatima mondar mandir mencari-cari sepasang burkanya. Burkanya yang satu dipasangkan di kepala pak Kucing. Pak Kucing adalah teman yang baik. Artinya dia menemani Fatima dalam ide dan materi. Pak Kucing berkata bahwa Fatima adalah gadis yang cantik. Fatima terharu mendengarnya, tetes-tetes air matanya jatuh membasahi burkanya. Pak Kucing menghibur, dengan membacakan teka-tekinya; "Tiba-tiba, orang-orang merasa sia-sia berhati-hati. Mimpi-mimpi kini menari-nari, mondar-mandir mencari-cari tetes-tetes teka-tekinya"
0
Nov 11, 2017
Nov 11, 2017 at 10:46 AM UTC
Fantasi Fana Fatima
coba lihat pukul berapa ini? coba lihat kemana jarum jam menunjuk? ini sudah larut malam bahkan, sudah menjelang fajar tapi kenapa aku belum tidur? entah apa yang kupikirkan entah apa yang membuatku tetap terjaga oh rembulan, jangan redup dulu tunggulah aku sampai tertidur maukah kau menungguku jika sampai esok pagi aku belum tidur juga?
0
Sep 1, 2017
Sep 1, 2017 at 12:20 PM UTC
Belum Tidur
seperti biasa.. suatu rutinitas yang kupikir tidak akan berubah hari kemarin, sekarang, ataupun esok aku melihat mu duduk di kursi yg sama di samping jendela yang sama lelah, tertidur lalu terbangun lalu bersandar dan menatap langit luar menantikan sebuah perhentian tapi hari ini kamu berbeda aku menangkapmu melirik padaku lalu membuangnya kearah yg lain tersipu malu.. dibalik rambutmu kamu menyembunyikan senyummu aku pun mulai menerka-nerka sesuatu yang kupikir tidak biasa bertanya dalam hati "kamu ini kenapa?" ya. kita memang selalu bersama namun tidak pernah bercengkrama "apakah ini saatnya kita untuk saling mencairkan suasana?"
0
Feb 28, 2020
Feb 28, 2020 at 6:24 PM UTC
Tanpa Judul