"terseok" poems
ketika berjalan di atas rumput
waktu seakan melambat
seakan aku melangkah terseok
seakan bumi berusaha menelan kakiku
kubiarkan tubuhku terjatuh
sementara mataku memanah langit
menunggu alam menjamahku
menggerogoti nadiku
tulang sumsumku
nyawaku
biarlah darahku menjadi nutrisi bagi tanah
mungkin dagingku bergizi bagi hewan liar
sementara tubuhku membusuk
bersatu dengan hara
tunas-tunas mungil muncul dari dalam
dan bunga-bungaan bermekaran
di antara tulang rusukku
May 7, 2014
May 7, 2014 at 9:03 AM UTC
satu tangan menutup mata
satu tangan menutup telinga
belikatku bertahan kaku
tiap pijakan pelan, terseok
belum leluasa ku berlari
terpaan gelombang yang sudah-sudah
masih meninggalkan goresan dalam daging
dibantu merangkak, tapi dipaksa berlari
caramu mengenyahkan biru yang masih menyelubungiku
takut
pada lidah sangkalan beradu
bukankah lancang mencipta imaji semu
lalu menggantungnya pada tiang-tiang garam
berharap keras, tak begitu meleset pada manusia
sadar, tak se-Esa
namun jika Bapa memberi
siapa yang bisa menutupnya?
target apa, begitu mendesakkah?
soal pembendaharaan rasa
apalagi rancangan
telah kuserahkan padaNya
aku dungu & tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat Bapa. Tetapi aku tetap didekat Bapa; Ia memegang tangan kananku.
Mar 14, 2020
Mar 14, 2020 at 7:48 AM UTC
setanmu itu,
ia masih menghampiriku
duduk di ujung kuku kakiku
bersabda sepanjang malam
agar aku tidak pernah lupa
pada satu pertanyaannya:
mengapa
aku sampai membakar diri
untuk menjual jiwa
pada nyala sepercik
padahal lamanya
tak akan lebih dari sedetik
kenapa, tanyanya,
aku bersikap tak acuh
padahal hati ingin bertaruh
tetapi malah memilih menjauh
dengan terseok-seok pula lumpuh
kenapa,
balik kutanya,
kenapa
kamu masih di sini?
Dec 28, 2020
Dec 28, 2020 at 3:45 AM UTC