"supaya" poems
Jumat, 13 Agustus 2010
Tlah beribu-ribu menit lalu
Aku tak jumpa lagi catatanku
Tak ku tumpahkan lagi pikiranku
Tak ku kotori lagi kertas-kertas ku
Dan aku rindu...
Ingin menulis lagi
Supaya aku bisa baca lagi
Sambil tersenyum memuji
Alangkah indahnya tulisanku
Apa arti semua itu??
Entahlah, 2 tanda tanya untuk itu
Ku tak akan pernah lelah menulis
Aku janji, bila aku sempat-
kan ku tulis beribu-ribu kata
Agar terlukis kisah hidupku
Yang penuh warna-warni kehidupan
Created by. Aridea .P
Oct 19, 2011
Oct 19, 2011 at 11:42 AM UTC
Palembang, Kamis 6 Januari 2011
Aku tak mengerti apa arti dari Cinta Sejati
Yang ku tahu hanya cinta itu membuat kita sakit hati
Tapi, mengapa rasa ini lain, tak seperti yang lalu
Ku cemas bagaimana bila aku jatuh cinta dengan nya?
Jatuh cinta...
Cukup umurkah aku tuk mengenalnya?
Aku takut itu akan berujung penyesalan
Tapi, selama ini aku hanya diam tak ada gairah
Diakah yang akan membuatku bangkit dan berdiri?
Cinta... Cinta... Cinta...
Hanya cintakah yang paling mudah di dunia ini?
Mudah untuk mencintai, mudah tuk menyayangi
Mudah tuk melukai, mudah tuk menyakiti
Dan mudah-mudah lainnya...
Aku heran, mengapa aku harus kenal cinta
Bila ujung-ujungnya ku harus menyesal
Semoga cepat ku dapatkan jodoh ku
Supaya penyesalan, penantian, semuanya!
Tidak berlaku lagi dan ku hidup bebas
Cepat katakanlah cintamu
Mungkin itulah yang ku tunggu
Mungkin? Ya, bisa iya
Bisa juga tidak
I'm waiting all alone here
Nov 4, 2011
Nov 4, 2011 at 1:52 AM UTC
Palembang, 28 Juni 2012
Haruskah ku hapus semua fotomu dari folderku?
Haruskah ku buang semua gambarmu dari kotakku?
Haruskah ku remove kamu dari teman facebookku?
Haruskah ku unfollow kamu dari twitterku?
Haruskah ku kubur dalam-dalam kertas puisi untukmu?
Haruskah ku tutup semua jejaring sosialku?
Haruskah ku berjalan ke seluruh dunia,
menghafal semua nama negara tuk melupakan namamu?
Haruskah ku menyelami seluruh samudera,
mengingat semua rupa makhluk laut
agar bisa melupakan rupa wajahmu?
Haruskah aku menyusuri padang pasir serta pegunungan,
berjalan tanpa arah supaya melupakan jalan rumahmu?
Haruskah aku terjun dari tebing tertinggi,
atau dari jurang terdalam,
supaya kepalaku terbentur dan melupakan semua tentangmu?
Haruskah?
Karena aku sudah tak sanggup lagi di sini
Hidup denganmu, dengan kamu
Jul 6, 2012
Jul 6, 2012 at 9:06 PM UTC
Palembang, Sabtu 2 Oktober 2010
Hari ini terjadi lagi
Kakak ku yang indah bertambah usia
Kini ia berbeda dari 29 tahun kemarin
Yang mana masih muda dan polosnya
Tak bisa ku berikan apa-apa
Kecuali doa yang tak henti ku panjatkan
Supaya kakak ku panjang umur
Sehat selalu dan cepat menikah
Pesanku untuknya, adalah
Teruslah ciptakan lirik indah
Karena ku suka saat kau berkata
Dalam bentuk nada yang indah
Pesanku kan ku sampaikan
Melalui sinyal-sinyal batin kita
Semoga Allah SWT melindunginya
Dan biarkan ia hidup bahagia
Created By. Aridea Purple
To Arlonsy M.
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 12:43 PM UTC
Palembang, 3 November 2011
Aku bersabar . . .
Tetap berusaha dengan penuh harap
Supaya bisa melihat wajah mereka
Mendengar suara mereka
Menyaksikan kekompakan mereka yang sangat aku cinta
Aku tidak menangis . .
Hampir,
tetapi ku hapus air mata dan ku pasang senyum bahagia ku
tersenyum sesekali, tertawa bersama mereka
Aku tidak mengerti bahasa mereka
Tapi aku mengetahui yang mereka bicarakan
Aku tidak pernah bertemu mereka
Tapi aku bisa merasakan mereka sangat dekat
Aku tidak mengenal mereka
Tapi aku sangat mencintai mereka
Dari dulu hingga sekarang rasa ini tak akan berubah
Meskipun aku belum beruntung
Doa membantuku memberitahu-Nya
Bahwa aku sangat merindukan mereka
Sekarang,,,
Aku sedang memandang mereka
Merekam setiap kata, gerak, dan ekspresi mereka
Hal terindah yang pernah aku rasakan
Terima Kasih Tuhan, , ,
Hadiah ku datang
Created by. Aridea P
Nov 3, 2011
Nov 3, 2011 at 11:57 AM UTC
Palembang, Senin 7 November 2011
Bagaikan berharganya air mataku
Hanya terjatuh bagi para berlian hatiku
Yang sangat berarti bagiku
Yang sangat dekat dengan ku
Bagaikan rapuhnya hati ini
Terasa sesak setiap mengingat dia
Serasa ingin mati saja
Tak mau lagi hidup jika ada dia
Doaku tak sering ku panjatkan
Hanya bisikan hati yang sering terngiang
Rasaku sudah cukup tak perlu diberitahu
Toh orang pun tak mau tahu
Selalu minta yang terbaik
Sungguh aku menginginkannya
Agar tak lagi aku menangis sepi
Supaya tak perlu aku berpura-pura
Bagaikan tak terjadi apa-apa
Padahal hati ini penuh luka
Nov 7, 2011
Nov 7, 2011 at 10:30 AM UTC
Palembang, 31 Agustus 2014
Aku ingin segera menjadi dewasa
Supaya aku bisa menikmati hidup lebih leluasa
Minum kopi sambil mengobrol tentang politik dan penguasa
Duduk di café menulis novel dan mengambar sketsa
Aku ingin segera wisuda
Memiliki pekerjaan sendiri yang aku damba
Memiliki apartemen sendiri dengan konsep yang aku suka
Membeli semua buku yang ku anggap menarik dan membuat sendiri ruang baca
Aku ingin segera mengakhiri masa kesendirianku
Ku harap aku bisa memilih sendiri pasanganku
Seseorang yang selalu setia di saat apapun
Seseorang yang bisa ku ajak “gila-gilaan” sepajang waktu
Aku ingin segera mengandung
Memiliki anak-anak yang manis yang akan ku panggil “sayang”
Memanjakan mereka seperti aku dimanjakan bunda
Membahagiakan orangtuaku dengan kehadiran mereka
Aku ingin
Aku ingin mati dikelilingi orang-orang yang ku cinta
Aug 31, 2014
Aug 31, 2014 at 10:04 AM UTC
selak-selak kisah semalam
bukan untuk menoreh lagi luka yang kian menyembuh
cuma mahu mengingatkan—
supaya takkan lupa—
luka-luka itu yang mengajar kau erti sebenar hidup.
Nov 27, 2014
Nov 27, 2014 at 1:17 PM UTC
"Dalam segala manis dan tragisnya perkawinan,
Kami sebagai perempuan, mati berkali-kali
Dan lahir pula kembali—
Tentu juga berkali-kali
Disaat kau menyaksikan puluhan katup bibir yang mengatakan “Sah.”
Disaat itu pula,
Kau seakan disadarkan
Bahwa kau tak lebih dari pisau yang harus terus diasah
Bukan supaya tajam untuk dapat menikam,
Namun supaya siap mencacah manis-pahitnya peristiwa kehidupan menjadi dadu-dadu kecil
Lalu menanyakan untuk menyerapnya kembali
Untuk diri sendiri
Kau,
Mati dan lahir lagi,
Bukan sebagai isteri,
Namun seutuhnya sebagai wanita yang mengayomi
Sampai akhirnya kematian itu berdiri di depan pintu
Untuk menjemputmu lagi
Disaat kau duduk dan melihat pandangan puluhan manusia
Yang seakan-akan mengatakan,
“Berpandailah dengan urusan dapur.”
Mereka dengan bodohnya menutup mata kepada fakta
Bahwa sekarang, kau adalah busur
Yang dengan senantiasa akan mengarahkan kemana anak-anak panahmu melaju
Kau, bertulang rusuk dan adalah tulang rusuk
Bukan tulang rusuk dari lanangmu,
Namun dari rumah segala rumah
Disaat insan keci itu menangis lahir,
Disitulah Tuhan dengan segala kuasa-Nya menyemukakanmu
Dengan kelahiran yang absolut.
Mutlak. Nyata. Tanpa majas atau embel-embel.
Kau, bukan hanya wanita bersusu yang menyusui;
Walau serapanmu terhadap puji-kejinya kehidupan
Akan juga diserap oleh ‘anak panah’ mu
Melalui air susu dan tutur katamu
Disaat kau melahirkan anak manusia,
Tentunya tanpa tanda tanya,
Kau betul-betul
Lahir kembali."
Apr 18, 2019
Apr 18, 2019 at 10:25 PM UTC
Hari ini dia datang lagi
Dengan gaun kuning tanpa lengan
Rambutnya dibelah dua dan dikepang dengan dua warna karet rambut yang berbeda pada tiap-tiap ujungnya
Senyumnya manis sekali
"Dasar anak cantik"
Dia tersenyum semakin lebar sambil menawarkan aku setangkai balon
Sepertinya balon itu baru saja digelembungkan
Aku menggeseknya dengan kuku yang baru saja kupotong
Aku pikir dia akan mengernyit, entah kenapa dia malah tertawa
"Kemana saja kamu selama ini?"
Tertulis sebuah nama restoran yang kukenal pada balon itu
Jelas bukan tempat makan favoritku
Karena aku tak terlalu antusias saat melihat namanya
Sebuah tempat yang sering didatangi anak bini
Dipenuhi oleh emosi-emosi semu
Hanya untuk terlihat intim—setidaknya bukan tempat untuk anak gadis yang terus menatap layar ponselnya tanpa henti
"Darimana kamu tahu aku ada di sini?"
Dia memberikan aku kepingan lakban yang ternyata masih tercecer
Saat itu aku memperapikan koleksi buku harian, ya, dengan upaya untuk tidak melihatnya lagi
Supaya aku tak jatuh kepada rasa ingin membaca ulang semua tulisanku
Sial! Pasti dia mengawasi aku
"Apa tujuanmu kesini?"
Air mata berderai dari kedua matanya yang bulat
Seolah akan mengujarkan sesuatu dari mulutnya, dia hanya diam
Mungkin bukan diam, tapi mengoceh dengan kata-kata yang tak dapat kucerna
Kugenggam telapak tangan nya—sungguh kecil dibanding milikku
Dia masih saja menangis tanpa henti
Untuk segala tenggang rasa yang aku tahan kepada anak-anak, kali ini cukup iba rasanya
"Ayo, lah, aku hanya ingin merokok di sini"
Entahlah, enyahlah
Aku juga harus beranjak pergi dari sini
Lapangan tenis kosong yang dihiasi dedaunan repih
Jan 23, 2021
Jan 23, 2021 at 5:50 AM UTC
Kalimat "iya aku janji"
Hanyalah penenang diri,
supaya kau tak patah hati.
May 14, 2018
May 14, 2018 at 4:44 AM UTC
Saat dunia menuntutmu, yuk duduk sebentar.
Mungkin kamu lelah dengan tuntutan orang tua mu yang bercita-cita supaya kamu mendapatkan nilai tinggi, atau beban tanggung jawab yang memberatkan pundakmu, atau tuntutan duniawi yang selalu membuatmu resah dengan masa depan, atau melihat kanan kiri ke mereka yang sudah berlari kencang di depan.
Mungkin kamu takut, apa yang akan terjadi di masa akan datang? Apa kamu akan lulus tepat waktu? Apa kamu akan mendapat kerjaan? Apa kamu akan mendapat pasangan?
Sudah, kamu sudah berusaha keras.
Yuk, duduk dulu. Sini bersinggah denganku sambil minum kopi hangat dan menikmati malam yang dekat.
Saat mentari tiba, ayok kita mencoba lagi bersama.
Oct 24, 2018
Oct 24, 2018 at 10:30 AM UTC
Ketika Allah sudah menjadi ilah
Kepala terasa penuh
Dengan dengki dan amarah
Kepada siapa entahlah
Berpacu hati dan kepala
Kedua bersatu menjadi petaka
Bila tidak segera dicegah
Bencanalah yang berkuasa
Hai...sekalian mahluk
Hiduplah rukun dan merunduk
Supaya Tuhan yang dipercaya
Makin sayang kepada kita
Dec 2, 2016
Dec 2, 2016 at 5:26 AM UTC
Bukankah kita terlihat begitu jauh?
sementara jarak sudah melipat dirinya begitu lekat, supaya Kau dan Aku
melupakan bahwa semuanya
pernah terjadi dan sudah selesai.
Apa yang diinginkan kata dari Kita berdua?
sepertinya mereka ingin Kau mengeja namaku yang sama sekali sulit diucapkan lidahmu, katamu lidah itu kelu dan kaku. Kau bohong.
Pernahkah Kau menenggelamkan diri
dalam bayangan yang terpantul dari cermin?
seakan mataku mengambang di sana
dan senyumku persis terpahat di bibirmu.
Jawabannya
Aku tahu dan Kau juga tahu.
Mar 7, 2021
Mar 7, 2021 at 7:23 AM UTC
Andai rembulan berhenti menyinarkan cahaya matahari,
Janganlah engkau lupa akan daku,
Memori memori indah kita berdua,
Walau tak seberapa.
Andai pada masa hadapan,
Engkau jauh dariku,
Mohonlah pada Tuhan
Supaya didekatkan kita berdua
Sekali lagi.
May 29, 2019
May 29, 2019 at 3:20 PM UTC
Pernah, satu hari dari banyak hari lebaran, aku pergi ke Indomaret sendirian. Jarak rumah dengan tempat itu tidak jauh, tapi perjalanan ke sana terasa lamban. Tahu kenapa? Sebab aku pergi dengan sembunyi-sembunyi hihii. Tujuannya hanya satu, untuk berburu es krim corong Wall's Moo.
Kalau dingat-ingat, rasa es krimnya memang tidak sepremium Magnum. Wall's Moo hanya menyuguhkan rasa susu dan itu sudah lebih dari cukup bagi kami kaum anak lugu tahun 2009-2010.
Sesampainya di rumah, aku sama sekali tidak disambut marah oleh orang-orang rumah. Mbak Chandrani menghampiri.
"Habis jajan yaa? Beli apa?"
"Iya, beli Wall's Moo satu."
"Cuma satu ya? Yasudah nda apa-apa, lain kali harus ingat kalau ada angka 3 setelah angka 2 dan angka 1 sebelumnya, ya?"
"Hah? Maksudnya apa, Mbak?"
"Lain kali, kalau kamu merasa ada cukup uang untuk jajan apa aja, cobalah ambil tiga atau nda sama sekali.
Supaya apa? Supaya selalu ada cukup ruang di hati untuk biasa berbagi."
May 10, 2022
May 10, 2022 at 11:18 AM UTC
Akhir-akhir ini kemarau
tak kunjung pulang
aku ingin hujan
aku ingin dia datang
turun deras
mengucuri segala resah, rindu
dan perkara yang tak kunjung hilang
aku ingin hujan
datang membawaku
pergi bersamanya
mengalir melewati segala sudut dan celah dunia
supaya ketika saatnya aku pulang,
resah dan perkaraku telah tertinggal
di tempat-tempat yang mungkin
tak akan pernah kusinggahi lagi.
Aug 28, 2019
Aug 28, 2019 at 4:29 AM UTC
Semoga sang Pencipta cukup asyik dan selow untuk diajak ngopi dan ngobrol lucu perihal mau ini itu-Nya.
Nanti aku bagi rokok kesayanganku supaya lebih syahdu.
Karena menurut pengamatanku hampir 1/7 umat-Nya pusing.
dan 6/7nya sudah hilang akal sehat.
Sep 28, 2020
Sep 28, 2020 at 10:11 AM UTC
Ini malam, sekali lagi
kuteguk obat kantuk
—menulis semalam sekali
bila perlu, bila rindu—
supaya lekas sembuh
kangen kerasku.
Dan kiranya,
sampai jumpa di pejam mata.
Ya?
Ya.
Feb 27, 2023
Feb 27, 2023 at 12:07 PM UTC
"Tuhan wujudkan kegelapan supaya kita boleh nampak bintang."
Apr 20, 2019
Apr 20, 2019 at 8:50 AM UTC