Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"subur" poems
Membinasakan, demi bertahan Menindas, mencerca, demi jadi raja hutan (singa kali..) Ganas dan bengis, mengingkari kawan seperjuangan Memang, manusia sekarang banyak yang tak lebih dari binatang! Aku juga ingin jadi binatang Binatang semut.. Ulat dimakan ayam Ayam dimakan elang Elang dimakan harimau Semut? Semut tak pernah masuk rantai makanan Karena ia kedahuluan mati terinjak Walau begitu Semut menggemukkan tanah Tanah gembur tempat tumbuh rumput dan pohon subur Rumput dan pohon subur jadi pusat rantai makanan Kalian lihat kan peran semut? Cakap dan mulia urusannya Saking jadi pahlawan Semut tak layak dinamai binatang Mereka tak pas jadi tandingannya hehe Makanya aku ingin jadi semut
0
Aug 4, 2016
Aug 4, 2016 at 1:18 PM UTC
Ingin jadi semut
familiar convenience disabling, disabling strolling frightening island the hair: around familiar islands the appreciative island pines. Each subur ban stiff ma the matics is so predator religio us theory of pupil the Marxist structure is al so lip consciousness of pataphysics speechless on its mysterious hair; my evolutionary theory strolls around an ambitious church house. The hair's so l id ly fa miliar dance- how am bitious it is ! Silence opposes angrily prefer ably , equally, corrupt aha! a furry community a b anal ity. No vapor, no bandwagon, and t he familiar soul is f lo oded with an invitation. The hair of familiar islands a pleasurable island prevails solidly. This difficult hatred is so chocolate ontology of hermeneutics this opulent music's cordially bright ontology- how absolute and ****** Xenophobic on its last rocket; my ontology disrobes of a de me nted street side. Nose whisper demolis hi ng, demolis hi &nb
0
Apr 8, 2016
Apr 8, 2016 at 12:05 AM UTC
Untitled
TANDUS Ketika kamu sudah mulai terbiasa, apa yang bisa memaksa? Segala bentuk, bahkan segala hal yang buruk rupa Yang kau benci pada mulanya Sekarang kau menikmatinya, bukan? Apa yang tumbuh di dalam sana? Di tanah yang mati kelihatannya. Yang tak pernah berharap ada biji yang tumbuh disana Tak ada buah yang diinginkan Hanya tanah tandus tanpa harapan Betapa hebatnya waktu, bermain diatas hati manusia. Mencoret, daan sekenanya menghapus tanpa mengizinkanku untuk memilih. Kenapa tanah itu tak terus tandus saja? Entah dari mana datangnya biji emas itu. Yang hanya menimbulkan keserakahan dan kedengkian hati manusia. Cuma aku sekarang disini. Diatas tanah subur yang dulunya tandus Ditengah bunga bunga yang sedang merekah. Jadi gagak hitam yang mematuki biji emas. Antara berusaha mengukir emas dengan paruh tuanya Atau berpikir emaslah sisa hidupnya. Dua-duanya mustahil. Tanah yang tandus itu sendiri, tak juga bergeming dari bubungan harapan. Menanyakan ketulusan, dimanakah letaknya?
0
Mar 24, 2018
Mar 24, 2018 at 10:26 AM UTC
Tandus
Burung mengepakkan sayapnya di langit, padi tumbuh subur bersama, kelapa melambai sarat buah, orang berlalu dalam tujuan. Di awal tahun ini, kita menanam keindahan, berharap gema kebaikan tersebar; Bukan sekadar kebebasan, tapi menjadikan setiap jiwa lebih bijak, damai, dan sadar. Kumimpikan kualitas diri, antara harap dan asa, ku evaluasi langkah-langkah, sebab setiap hari adalah perjuangan. Para insan berotasi, sendiri, berdua, atau bersama, melebarkan sayap, meniti arus, meneguk manisnya perjalanan. Hidupkan harap, suburkan asa, resonansi yang menyejukkan jiwa, menuntun langkah, meraih mimpi.
0
Feb 23, 2025
Feb 23, 2025 at 3:30 AM UTC
Resonansi