"sial" poems
kursi di bawah pohon kenari
masih dengan setia duduk disana
tidak peduli siapa yang mendudukinya
atau siapa yang lewat di depannya
ia tetap setia menunggu kedatangannya
burung-burung dengan bebas menyuarakan
nada-nada indah berisi pesan
untuk diberikan kepadamu,
tuan tanpa nama
jangan berpura-pura tidak peduli kepada dunia
di lubuk hatimu yang terdalam, sial,
aku sangat yakin kau kesepian
kau membutuhkan seorang teman yang rela
mendengar ocehan mautmu sampai matahari
tenggelam di ufuk barat nantinya
kemarilah, tuan tanpa nama
duduk bersamaku di bawah pohon kenari
dan menikmati indahnya matahari senja
Aug 2, 2014
Aug 2, 2014 at 7:14 PM UTC
*Bila cinta sungguh hadir tanpa disadari
Siapa pemegang kuasa,
maha pemberi cinta,
yang seenaknya beri dan ambil?
Aneh benar bualan ini.
Yang kupercaya cinta hadir dengan ijin sang tuan
Bila ya, tinggalah ia, bertumbuh bahkan berbiak
Berpupukan gombalan manis atau sedikitnya senyuman sipit
Berbuahkan gelak tawa
atau jika sedang sial
mungkin tuaianmu sesal dan air mata
Sungguh malang memang..
Ingat teman,
Kau adalah tuan
Bukan kau mengemis mencarinya,
ia yang bertandang menumpang..
Kau cuma perlu mengenangkan,
menikmati cinta..*
Jul 29, 2016
Jul 29, 2016 at 12:30 PM UTC
Hari ini dia datang lagi
Dengan gaun kuning tanpa lengan
Rambutnya dibelah dua dan dikepang dengan dua warna karet rambut yang berbeda pada tiap-tiap ujungnya
Senyumnya manis sekali
"Dasar anak cantik"
Dia tersenyum semakin lebar sambil menawarkan aku setangkai balon
Sepertinya balon itu baru saja digelembungkan
Aku menggeseknya dengan kuku yang baru saja kupotong
Aku pikir dia akan mengernyit, entah kenapa dia malah tertawa
"Kemana saja kamu selama ini?"
Tertulis sebuah nama restoran yang kukenal pada balon itu
Jelas bukan tempat makan favoritku
Karena aku tak terlalu antusias saat melihat namanya
Sebuah tempat yang sering didatangi anak bini
Dipenuhi oleh emosi-emosi semu
Hanya untuk terlihat intim—setidaknya bukan tempat untuk anak gadis yang terus menatap layar ponselnya tanpa henti
"Darimana kamu tahu aku ada di sini?"
Dia memberikan aku kepingan lakban yang ternyata masih tercecer
Saat itu aku memperapikan koleksi buku harian, ya, dengan upaya untuk tidak melihatnya lagi
Supaya aku tak jatuh kepada rasa ingin membaca ulang semua tulisanku
Sial! Pasti dia mengawasi aku
"Apa tujuanmu kesini?"
Air mata berderai dari kedua matanya yang bulat
Seolah akan mengujarkan sesuatu dari mulutnya, dia hanya diam
Mungkin bukan diam, tapi mengoceh dengan kata-kata yang tak dapat kucerna
Kugenggam telapak tangan nya—sungguh kecil dibanding milikku
Dia masih saja menangis tanpa henti
Untuk segala tenggang rasa yang aku tahan kepada anak-anak, kali ini cukup iba rasanya
"Ayo, lah, aku hanya ingin merokok di sini"
Entahlah, enyahlah
Aku juga harus beranjak pergi dari sini
Lapangan tenis kosong yang dihiasi dedaunan repih
Jan 23, 2021
Jan 23, 2021 at 5:50 AM UTC
Hembusan angin menderu rayu,
Tak henti aku mendengar cerita tentang bagaimana kau sangat mencintai hidupmu,
Bagaimana kau selalu melihat kebaikan dalam segala keburukan.
Bagaimana kau selalu memaafkan dalam segala kecerobohan.
Sial, bagaimana ada orang seperti kamu hadir di dunia?
Tidak pernah mengkhawatirkan tentang kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi,
Tidak seperti aku.
Kembali aku menoleh ke matamu,
Yang katanya bintang pun tidak bisa bersinar se terang itu.
Ku pertajam lagi tatapku,
Meyakinkan diri bahwa bintang pasti menang,
Dia pasti menang atas dirimu.
Sial, aku salah lagi.
Kamu menang atas segalanya.
Termasuk atas diriku.
Sep 24, 2019
Sep 24, 2019 at 3:27 PM UTC
Barai juta juta kali pun buat apa brade?
You all alone, and that I promise.
Alone is going to protect you.
May 11, 2017
May 11, 2017 at 9:55 AM UTC
Platinum capped peak-
the snow's sweet pheromones
linger on my nose-
you toy with my mind
You took me by surprise-
that first bump.
God. Help me.
I keep coming back.
I must form a sial,
for my curiosity of
your virtuosity
ails me.
My mind is on you island
while my body floats out to sea
You've opened up a
hole
new world.
Feb 19, 2020
Feb 19, 2020 at 8:20 PM UTC
sebegitukah?
sebeginikah?
aku bingung, tidak tahu!
ingin rasanya menaburkan banyak kasih sayang di sekujurmu
ingin kamu mengerti
ingin kamu paham
bahwa
kamu itu punya nilai
entah itu di mataku atau yang lain
sial, aku ulangi lagi ya
dengarkan ya
perhatikan ya
kamu itu wajib disayangi tau!
May 9, 2021
May 9, 2021 at 11:28 AM UTC
Seperti biasanya gelisah malam ku kambuh
Datang mengendap-endap lalu tertawa dalam pikiranku, langkah jauh apa lagi yang ku pikirkan, seakan takut akan masa depan, menyendiri menutupi emosi-emosi, bagai bendungan bak meluap, ah jalan konyol apa lagi yang akan ku ambil???, terbenam lah bulan, aku ingin tidur!!!, lampu-lampu dari atas sini ikut menertawakanku!!!, sial.
Ada apa ya disana? negara yang ku impikan, dingin yang akan menusuk tulang-tulangku, bekerja paruh waktu sambil menyelesaikan pendidikanku, ah ternyata perjalananku masih panjang, gelisahku setiap malam.
aku hanya ingin kembali & berdoa dengan tenang.
Jan 15, 2023
Jan 15, 2023 at 3:46 PM UTC