Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"sembari" poems
*Kata demi kata Kuleburkan menjadi beberapa helai untaian kalimat Demi melepas seikat rindu Untuk seseorang berpandangan sayu Yang telah lama diombang-ambing oleh gelombang kelabu Seberat langit mendung yang sendu Berpayung ia lama mencari lentera menuju ujung jalan Sembari menanti hentinya rintik hujan Tanah becek berlumpur tempat kakinya lama singgah Di mana guntur tak ada lelahnya menumpah ruahkan gundah Kata demi kata Kuleburkan menjadi beberapa helai untaian kalimat Demi melekatkan seikat harapan Untuk seseorang yang tengah dihuyung geramnya badai topan Yang tak hentinya berharap agar matanya dibutakan mentari pagi Jiwanya lama berkelana mencari, entah ke mana cahaya itu pergi Jauh dalam sudut yang gelap ia dibiarkan sendiri* ------------------------------------------------------------------------------------------- Telah kuleburkan kata demi kata menjadi beberapa helai untaian kalimat Untuk kompas dalam hidupmu yang telah kehilangan arah Dibutakan oleh gulungan-gulungan masalah Juga dalam doa-doa malamku dan setiap sujudku di atas sajadah, Kubisikkan sebuah pinta agar dirimu selalu dalam pentunjuk-Nya, Agar kelak dapat kau baca helaian untaian kalimat penyamangatku, Yang kusampirkan dalam saku jaketmu hari itu, Dapat merontokkan seluruh perasaan kelabu dalam kalbumu, Mendepakmu dari sudut gelap di ruang tergelap pikiranmu sendiri.
0
Jan 28, 2017
Jan 28, 2017 at 7:28 AM UTC
ruang tergelap
pukul empat sore tadi seorang pria tua penuh keriput diwajahnya pergi melangkahkan kaki rentanya keluar dari pondok jati tempat semalam ia terlelap lengkap dengan pakaian rapih kebesarannya, sepatu boot dan tak lupa topi baret miliknya diambilnya sepeda jengki bercat kusam dengan sedikit bercak karat pada besi besinya yang disandarkan oleh empunya pada pagar kayu depan pondok digiringlah sang sepeda jengki menuju jalan sambil melangkah menuju tempat tujuannya selang beberapa saat, ia tunggangi sepeda jengki itu ia kayuh sambil berpeluh pada dahi sampai ke tubuh berbulir menetes tak ada ragu lirih ia dendangkan lagu yang telah ia hafal selama hidupnya saat ia masih muda yang dapat memacu semangatnya dulu saat akan hendak pergi berperang bersama kawan-kawannya dulu sesampainya ia di Jalan Kusumanegara di depan taman berpagar tembok putih di-remnya sepeda jengki kusam itu tepat di tepi seorang wanita yang sudah terduduk rapi menggelar dagangannya "Saya beli kembangmu, cukup lima ribu saja." itu katanya sang wanita penjual lekas membungkuskan permintaannya dengan senyum dibibir sembari memberikan bungkusan kembang kepada pria bersepeda jengki itu, ia lalu bertanya "Kalau boleh saya tahu, untuk siapa kembang ini Bapak beli?" ujarnya santun hormat sang pria bersepeda jengki terdiam, ia lalu tertawa kecil tawa khas seorang di usia senjanya "Saya mau jenguk kawan seperjuangan saya, hari ini 20 Desember, tepatnya 68 tahun yang lalu, ia berpamitan ingin menuju dunia Qadim milikNya saat kami sedang berjuang untuk Negara" jawabnya Pria bersepeda jengki itu lalu undur diri, dititipkannya sepeda tua miliknya pada sang wanita penjual kembang, ia lalu berjalan kaki memasuki gerbang tembok bercat putih bertuliskan Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Daerah Istimewa Yogyakarta dengan langkah mantap dan juga senyum mengembang di wajah keriputnya " Assalamu'alaikum, Aku njaluk sepuro yo Di Mas, Kepriye kabarmu? Ayo gek tak ceritani kabar Indonesia saiki! "
0
Sep 23, 2016
Sep 23, 2016 at 12:19 PM UTC
Sepenggal Cerita 68 tahun
pukul empat sore tadi seorang pria tua penuh keriput diwajahnya pergi melangkahkan kaki rentanya keluar dari pondok jati tempat semalam ia terlelap lengkap dengan pakaian rapih kebesarannya, sepatu boot dan tak lupa topi baret miliknya diambilnya sepeda jengki bercat kusam dengan sedikit bercak karat pada besi besinya yang disandarkan oleh empunya pada pagar kayu depan pondok digiringlah sang sepeda jengki menuju jalan sambil melangkah menuju tempat tujuannya selang beberapa saat, ia tunggangi sepeda jengki itu ia kayuh sambil berpeluh pada dahi sampai ke tubuh berbulir menetes tak ada ragu lirih ia dendangkan lagu yang telah ia hafal selama hidupnya saat ia masih muda yang dapat memacu semangatnya dulu saat akan hendak pergi berperang bersama kawan-kawannya dulu sesampainya ia di Jalan Kusumanegara di depan taman berpagar tembok putih di-remnya sepeda jengki kusam itu tepat di tepi seorang wanita yang sudah terduduk rapi menggelar dagangannya "Saya beli kembangmu, cukup lima ribu saja." itu katanya sang wanita penjual lekas membungkuskan permintaannya dengan senyum dibibir sembari memberikan bungkusan kembang kepada pria bersepeda jengki itu, ia lalu bertanya "Kalau boleh saya tahu, untuk siapa kembang ini Bapak beli?" ujarnya santun hormat sang pria bersepeda jengki terdiam, ia lalu tertawa kecil tawa khas seorang di usia senjanya "Saya mau jenguk kawan seperjuangan saya, hari ini 20 Desember, tepatnya 68 tahun yang lalu, ia berpamitan ingin menuju dunia Qadim milikNya saat kami sedang berjuang untuk Negara" jawabnya Pria bersepeda jengki itu lalu undur diri, dititipkannya sepeda tua miliknya pada sang wanita penjual kembang, ia lalu berjalan kaki memasuki gerbang tembok bercat putih bertuliskan Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Daerah Istimewa Yogyakarta dengan langkah mantap dan juga senyum mengembang di wajah keriputnya " Assalamu'alaikum, Aku njaluk sepuro yo Di Mas, Kepriye kabarmu? Ayo gek tak ceritani kabar Indonesia saiki! "
Continue reading...
35
pengecut itu hidup di sela huruf-huruf yang diukir oleh jari mahirnya sambil bersahut bunyi dengan si gadis di medio sunyinya malam. pengecut itu dalam senyap ia merayap ke pucuk harapan seorang gadis dengan senyuman kecut. sibuk sembari mabuk si gadis membingkai peti mati berbaring harapan si gadis dorman tak tersemai karena buaian sang pengecut perlahan menjadi kata tanpa arti, janji tanpa bukti. teruntuk: sang pengecut yang pucat pelasi kala bertemu namun terlampau berani di balik ruang semu
0
Nov 1, 2018
Nov 1, 2018 at 10:07 PM UTC
di ri ku • di ri mu
katakanlah, aku celaka tersandung ke dalam lumbung asmara.                                     celaka kah aku mengendap-endap di bawah rumah mu? katakanlah, aku terkutuk seorang yang tak diundang tak semestinya duduk di ruang tamu.                                  terkutuk kah aku membubung asa di atas hampa?                  sadarkah aku         sedang menanti sekarat            dan karamnya harap? dan ku akui, aku ini binatang keparat --berharap dua cincin akan enyah jua dimakan karat. sampai jumpa cinta masa muda, aku akan menanti di ujung tua menyesal, sembari menatap harap dan nyata mustahil bersua. maafkan aku menunggu hingga renta, tak lain karena dirimu di relungku, sintas.
0
Oct 12, 2018
Oct 12, 2018 at 11:16 AM UTC
Cincin karat
Pagi memamah bangkai di halaman. Bangkai yang kami mangsa bersama semalam sembari duduk melingkar dan mengumpat atas ketidakmujuran yang menghantui kami. Ah, tapi ketidakmujuran dan kesendirian itu toh akhirnya diobati oleh makan malam bersama yang getir dan sangit. Kami sendirian bersama. Kami tidak mujur dan sendirian bersama agar dapat menyantap makan malam ini. Makan malam dengan menu bangkai bersaus pedas ditambah rempah, baunya yang pedih menusuk sengaja kami umbar sebagai pertanda bahwa kami telah hadir di kaki gunung yang belum menampakkan kehangatannya. Kaki gunung yang masih menjegal kaki kami. Kaki gunung yang tajam. Tapi malam mewujud dari lingsir menjadi lengser dan mentari dengan cepatnya kembali mencemooh melalui pagi. Lebih cepat dari kami yang sedang memangsa bangkai. Lebih cepat dari kunyahan kami pada tiap otot dan lemak. Sisa-sisa bangkai yang kami mangsa bersama semalam pun tercecer di halaman bersama bulir beras serta bebijian yang terjatuh dari kelopak mata kami, gantikan air mata. Kami harus membuang bangkai itu segera dan tak boleh sampai terlihat memangsa bangkai. Memangsa bangkai bukanlah hal yang patut dibanggakan terlebih lagi di kaki gunung yang beradab. Halaman kami berbau bangkai. Tak masalah jika aroma itu menujam hidung kala malam, karena manusia yang lalai akan menganggapnya sebagai mimpi belaka. Namun jika sampai bau itu tercium kala pagi maka kami lah yang akan kena kutuk. Kami akan menjadi anak-anak terkasih setan kaki gunung. Meski kami memangsa bangkai, kami tak menginginkannya. Kami hanya ingin bahagia dan dapat saling mencintai. Bangkai-bangkai itu tercecer dan kami tak memiliki tanah untuk mengubur bongkahan yang kini dimamah oleh pagi yang acuh. Pagi yang dingin. Pagi yang memanas. Pagi yang bising. Pagi yang dangdut. Pagi yang berdebu. Pagi yang memamah bangkai di halaman. Kami tak memiliki tanah untuk mengubur bangkai yang kami mangsa. Segala tanah telah beralih pada bak lapuk di kamar mandi agar kami dapat mensucikan diri siang nanti. Dan yang tersisa di halaman hanyalah bangkai, bulir beras, serta darah yang mengalir deras dari sungai di belakang kami. Pagi baru di ujung kepala. Belum banyak mata yang dapat menyaksikan nestapa kami. Bangkai-bangkai yang belum selesai kami kunyah, kami harus segera menyingkirkannya. Pagi memamah bangkai di halaman. Kami memamah bangkai di halaman. Serreh, 2017
0
Aug 17, 2017
Aug 17, 2017 at 10:21 AM UTC
Memamah Bangkai di Halaman
Pagi memamah bangkai di halaman. Bangkai yang kami mangsa bersama semalam sembari duduk melingkar dan mengumpat atas ketidakmujuran yang menghantui kami. Ah, tapi ketidakmujuran dan kesendirian itu toh akhirnya diobati oleh makan malam bersama yang getir dan sangit. Kami sendirian bersama. Kami tidak mujur dan sendirian bersama agar dapat menyantap makan malam ini. Makan malam dengan menu bangkai bersaus pedas ditambah rempah, baunya yang pedih menusuk sengaja kami umbar sebagai pertanda bahwa kami telah hadir di kaki gunung yang belum menampakkan kehangatannya. Kaki gunung yang masih menjegal kaki kami. Kaki gunung yang tajam. Tapi malam mewujud dari lingsir menjadi lengser dan mentari dengan cepatnya kembali mencemooh melalui pagi. Lebih cepat dari kami yang sedang memangsa bangkai. Lebih cepat dari kunyahan kami pada tiap otot dan lemak. Sisa-sisa bangkai yang kami mangsa bersama semalam pun tercecer di halaman bersama bulir beras serta bebijian yang terjatuh dari kelopak mata kami, gantikan air mata. Kami harus membuang bangkai itu segera dan tak boleh sampai terlihat memangsa bangkai. Memangsa bangkai bukanlah hal yang patut dibanggakan terlebih lagi di kaki gunung yang beradab. Halaman kami berbau bangkai. Tak masalah jika aroma itu menujam hidung kala malam, karena manusia yang lalai akan menganggapnya sebagai mimpi belaka. Namun jika sampai bau itu tercium kala pagi maka kami lah yang akan kena kutuk. Kami akan menjadi anak-anak terkasih setan kaki gunung. Meski kami memangsa bangkai, kami tak menginginkannya. Kami hanya ingin bahagia dan dapat saling mencintai. Bangkai-bangkai itu tercecer dan kami tak memiliki tanah untuk mengubur bongkahan yang kini dimamah oleh pagi yang acuh. Pagi yang dingin. Pagi yang memanas. Pagi yang bising. Pagi yang dangdut. Pagi yang berdebu. Pagi yang memamah bangkai di halaman. Kami tak memiliki tanah untuk mengubur bangkai yang kami mangsa. Segala tanah telah beralih pada bak lapuk di kamar mandi agar kami dapat mensucikan diri siang nanti. Dan yang tersisa di halaman hanyalah bangkai, bulir beras, serta darah yang mengalir deras dari sungai di belakang kami. Pagi baru di ujung kepala. Belum banyak mata yang dapat menyaksikan nestapa kami. Bangkai-bangkai yang belum selesai kami kunyah, kami harus segera menyingkirkannya. Pagi memamah bangkai di halaman. Kami memamah bangkai di halaman. Serreh, 2017
Continue reading...
3
ada udara dingin menyeruak kedalam sepi yang tak mau beranjak dan disini, saya coba melawan rindu yang sulit jinak sebab diantara kita terbentang jarak sembari menulis sajak
0
May 14, 2018
May 14, 2018 at 5:13 AM UTC
rindu, satu.
Ditarik, kami diarahkan membaca apapun yang tidak ada penjelasannya. Dikodratkan harus paham isi kepala makhluk yang hanya sesekali berkata iya dan tidak. Kami terpingkal, Puan. Bagaimana tidak?; Kain yang kau gunting sendiri dan pintal dengan rajut sedari subuh sudah cantik--tapi kau merasa kurang, dan kami adalah penyebabnya katamu. Duduk kami melingkar bersama dengan gelas gelas berisi teh melati, Hangat membaur aroma kebingungan kaum kami. Sekali beberapa menit kami terpingkal lagi, berusaha terus membaca setiap halaman kosong dan beberapa titik saja di sudut kiri kanannya. Tidak ada barang satupun buku yang mengerti keinginan puan. Cemasnya puan ingin dilindungi, Lembutnya puan yang ingin dikasihi, Ah, apalagi tangisan yang tiba-tiba terisak di malam sehabis mimpi. Tersenyum kami menahan tawa dan kantuk, sembari melihat-lihat wajah puan yang tertunduk mengharap ditanya mengenai hari ini. Semenit dua menit kami lihat lekat-lekat wajah puan. Kami bisa tidur malam ini, Jawaban kebingungan lelaki bukan tertulis pada buku-buku; tapi dua bola mata yang senantiasa banyak bercerita setiap ia duduk hening tanpa berbicara. Ah, engkau puan~ Buku pelajaran yang tak ada tamatnya. B_A 10 Mei 2019
0
May 10, 2019
May 10, 2019 at 12:23 AM UTC
Ah, engkau puan~
Carilah di antara benci dan cinta Di sela-sela malam menuju pagi Di belakang tirai megah pentas kehidupan Akan kau dapati diriku Kumpulkan semua amarah dan kecewa Ambil jari kelingkingku, tautkan milikmu Sembari ucapkan omong kosong dan ilusi Akan kau dapati diriku Berbaringlah di lantai, pejamkan matamu Sibaklah kemelut seribu bayangan hitam Terbanglah bersama awan lara bersayapkan derita Akan kau dapati mimpiku
0
Mar 19, 2018
Mar 19, 2018 at 12:12 AM UTC
Segenggam Rasa Malam
di rumahku pemandanganku semuanya kamu di teleponku pendengaranku tentang kamu pengerat berlari kamu sendiri pengerat pergi kamu tidak cari setelah kami ini ada lagi setelah kami pergi suaramu meninggi 8 pagi sampai 5 petang posisimu selalu terlentang dibelai-belai penuh kasih sayang bila telat jam makan kau mengerang sembari menonton sinetron di TV sembari menghitung sisa uang jajan kemarin sembari memakan indomie ketika pulang dini hari semuanya, kau jadi saksi
0
Jul 27, 2018
Jul 27, 2018 at 5:56 PM UTC
+bubu
Rumah joglo di tengah sawah. Dengan cahaya remang yang berasal dari pojok ruangan ini. Pemutar piringan hitammu baru selesai kau perbaiki. Ku memilih untuk mendengarkan album Chet Baker Sings dengan vokalnya, seingatku itu milik mendiang kakekmu. Gelas-gelas tinggi sudah kau siapkan, sebotol anggur dari Bordeaux sudah ku buka. Makan malam kita sudah tandas, dua piring penuh berisi daging sapi yang sore tadi ku panggang, hampir matang penuh, bersama hancuran kentang yang sedikit dibubuhi garam dan lada, dengan saus krim jamur. Jasmu sudah kau tanggalkan dan sampirkan di sisi sofa coklat tua itu. Gaun hitamku masih rapih melekat pada tubuhku, namun rambutku, yang hanya sepanjang bahu, sudah ku urai, agar kau bisa menghirup harum bunga sakuranya. Kita menari, pelan, sembari menengguk asam dan manisnya anggur Bordeaux itu. Ku kira Chet Baker telah letih bernyanyi dan bermain trumpet, suaranya perlahan hilang, digantikan oleh suara jangkrik dari luar sana. Aku pun lelah, ku rebahkan tubuhku di sofa coklat itu, menyandarkan kepala di dekat sampiran jasmu, menghirup bau cendana yang hampir hilang. Kau menghampiriku, memelukku erat, menghirup leherku, pipiku, dan mengecup bibirku. Pelan-pelan, satu per satu pakaian kita tanggal, di bawah cahaya temaram, ditemani suara jangkrik, kita melebur, melebur jadi satu. Tanah Ubud, tak pernah gagal membuatku jatuh cinta, sengaja maupun tidak.
0
Jun 5, 2020
Jun 5, 2020 at 1:57 PM UTC
Malam Malam, Ubud
Sahabatku selalu bilang, hidup adalah sebuah gedung yang ditempa oleh mimpi. Mimpi adalah pilar terkuat untuk hidup. Struktur gedung sahabatku sangat apik bagai dirancang oleh arsitek terkemuka, setiap sudutnya dikalkulasi dengan baik, interior gedung tertata dalam estetika yang berkelas. Setiap lantai gedung itu, memiliki cerita mimpi yang berbeda. Namun, gedung milik sahabatku tak pernah lepas dari sebuah warna cat yang ia sebut sebagai motivasi. Nama gedung sahabatku adalah Kebahagiaan. Sehari-hari gedung itu dipenuhi tawa dan senyum tiap orang yang berlalu-lalang di dalamnya. Tak jarang gedung itu mendapati kunjungan oleh Mimpi Yang Terkabul yang membikin gedung itu makin meriah dibuatnya. Sahabatku selalu memberiku petuah bagaimana cara merawat gedungku, hidupku, dengan memiliki mimpi yang harus kuraih, meskipun jauhnya di ujung lautan sana, dan tetap harus ku kejar walaupun kemampuanku hanya sebatas merangkak. Ketika ia bicara tentang pilar, ia tak tahu aku tak ingin punya gedung. Kematian berbicara bagai gedung yang direnggut dari eksistensi. Dirubuhkan fisiknya. Dihancurkan. Namun, aku tak ingin punya gedung. Aku tak ingin ada di dalam lanskap kehidupan yang rumit ini. Skenario merawat, menjaga, dan mengasihi sebuah gedung membuatku bingung dan pusing. Gedungku bahkan tak bisa dibilang gedung, hanya empat tembok kumuh yang lebih cocok disebut kandang. Aku tak punya pilar, hanya ada empat onggok tiang bambu yang perlahan dimakan rayap. Lantainya bukan dari marmer, tapi tanah becek yang bau ketika dicium hujan, tidak ada orang tertawa atau tersenyum di dalam gedungku, hanya ada aku dan rasa lapar yang berteriak sampai telingaku lelah. Lantas, ketika aku terbangun dari tidurku yang tak pernah nyenyak dan disambut kegelapan, tanpa gedungku, tanpa ocehan sahabatku yang berkata sembari menutup mata dari kenyataan yang ku alami, aku bernapas lega. Dalam incognito yang ku peroleh, aku merasa tenang. Terombang-ambing di tengah ada dan tiada. Menyatu dengan hitam, bersaru dengan putih. Aku tersenyum dan perlahan berterima kasih kepada Tuhan yang akhirnya memahami bahwa aku tak punya mimpi, selain menjadi tidak ada. Namun, hatiku mencelos ketika Tuhan berbisik dengan lirih, bahwa aku hanya punya batas waktu hingga empat puluh delapan jam sebelum kembali pada kehidupan yang rumit. “Tuhan,” kataku, “untuk apa aku ada, ketika orang-orang sibuk dengan gedung, sementara yang ku punya hanya seonggok bilik?”
0
Jun 23, 2020
Jun 23, 2020 at 10:03 AM UTC
Gedung
Sahabatku selalu bilang, hidup adalah sebuah gedung yang ditempa oleh mimpi. Mimpi adalah pilar terkuat untuk hidup. Struktur gedung sahabatku sangat apik bagai dirancang oleh arsitek terkemuka, setiap sudutnya dikalkulasi dengan baik, interior gedung tertata dalam estetika yang berkelas. Setiap lantai gedung itu, memiliki cerita mimpi yang berbeda. Namun, gedung milik sahabatku tak pernah lepas dari sebuah warna cat yang ia sebut sebagai motivasi. Nama gedung sahabatku adalah Kebahagiaan. Sehari-hari gedung itu dipenuhi tawa dan senyum tiap orang yang berlalu-lalang di dalamnya. Tak jarang gedung itu mendapati kunjungan oleh Mimpi Yang Terkabul yang membikin gedung itu makin meriah dibuatnya. Sahabatku selalu memberiku petuah bagaimana cara merawat gedungku, hidupku, dengan memiliki mimpi yang harus kuraih, meskipun jauhnya di ujung lautan sana, dan tetap harus ku kejar walaupun kemampuanku hanya sebatas merangkak. Ketika ia bicara tentang pilar, ia tak tahu aku tak ingin punya gedung. Kematian berbicara bagai gedung yang direnggut dari eksistensi. Dirubuhkan fisiknya. Dihancurkan. Namun, aku tak ingin punya gedung. Aku tak ingin ada di dalam lanskap kehidupan yang rumit ini. Skenario merawat, menjaga, dan mengasihi sebuah gedung membuatku bingung dan pusing. Gedungku bahkan tak bisa dibilang gedung, hanya empat tembok kumuh yang lebih cocok disebut kandang. Aku tak punya pilar, hanya ada empat onggok tiang bambu yang perlahan dimakan rayap. Lantainya bukan dari marmer, tapi tanah becek yang bau ketika dicium hujan, tidak ada orang tertawa atau tersenyum di dalam gedungku, hanya ada aku dan rasa lapar yang berteriak sampai telingaku lelah. Lantas, ketika aku terbangun dari tidurku yang tak pernah nyenyak dan disambut kegelapan, tanpa gedungku, tanpa ocehan sahabatku yang berkata sembari menutup mata dari kenyataan yang ku alami, aku bernapas lega. Dalam incognito yang ku peroleh, aku merasa tenang. Terombang-ambing di tengah ada dan tiada. Menyatu dengan hitam, bersaru dengan putih. Aku tersenyum dan perlahan berterima kasih kepada Tuhan yang akhirnya memahami bahwa aku tak punya mimpi, selain menjadi tidak ada. Namun, hatiku mencelos ketika Tuhan berbisik dengan lirih, bahwa aku hanya punya batas waktu hingga empat puluh delapan jam sebelum kembali pada kehidupan yang rumit. “Tuhan,” kataku, “untuk apa aku ada, ketika orang-orang sibuk dengan gedung, sementara yang ku punya hanya seonggok bilik?”
Continue reading...
11
Mulai mengelilingi lautan pagi ini Berusaha menjernihkan pikiran Mencoba mengumpulkan akal sehat Sembari menemani nelayan berlayar Membayangkan beberapa hal menarik Bersamamu Berlayar bersama Hingga petang lalu menikmati beberapa lauk pauk disamping lautan Berulang kali mengurungkan impian Demi kenyataan Yang membungkam ekspetasi Hanya perjalanan waktu yang dapat menjawab semua Sembari merenungkan cara agar kau dapat disampingku kembali
0
Jul 2, 2019
Jul 2, 2019 at 6:41 AM UTC
Segenap Harapan.
pengecut itu hidup di sela huruf-huruf yang diukir oleh jari mahirnya sambil bersahut bunyi dengan si gadis di media sunyinya malam pengecut itu dalam s e n y a p merayap ke pucuk harapan seorang gadis dengan senyuman kecut sibuk sembari mabuk si gadis membingkai peti mati berbaring harapan si gadis yang dorman tak tersemai karena buaian sang pengecut perlahan menjadi kata tanpa arti, janji tanpa bukti teruntuk: sang pengecut yang pucat pelasi kala bertemu namun terlampau berani di balik ruang semu
0
Sep 2, 2019
Sep 2, 2019 at 9:48 AM UTC
bedah rumah, eps 7
kursi panjang atau sofa panjang? lebih ke kursi panjang deh, tidak empuk soalnya tapi masih nyaman sembari ditemani kamu dan boba dari pagi sampai petang masih betah saja berbicara tetapi kamu teringat kewajiban sudah lewat ashar, hampir magrib lalu segera kamu pamit, takut ketinggalan lalu punggungmu adalah hal yang kulihat terakhir kali terimakasih, dan maaf ya dari aku yang melamun dan menimbun banyak pertanyaan
0
Jul 12, 2020
Jul 12, 2020 at 2:25 PM UTC
bingung