"saku" poems
Ai khuda Mujhe Hawa bna de,
Mujhe unke sanso me bsa de,
Kabhi bhi na ** Saku Dur unse
Aisi meri taqdeer bna De,
Ai khuda Mujhe aansoo bna De,
Mujhe unke aankho me bsa De,
Khushi ke Pal ** ya ** dukh ki ghari
Us Pal unke aankho se Mujhe chhalka de,
Ai khuda Mujhe sitara bna de,
Mujhe us Chand ke paas bitha de,
Jih bhar ke dekh lu Mai us Chand ko
Aisi chandani raat bna de,
Ai khuda Mujhe aaina bna de,
Mujhe unke kamre me bitha de,
Har Pal wo mere samne **
Aisi khubsurat pari unhe bna de,
Ai khuda Mujhe kajal bna de,
Mujhe unke aankho me laga de,
Na lage Unhe kisi ki nazar
Unke sare dukh Mujhe dila de,
Unke sare dukh Mujhe dila de....
Feb 19, 2017
Feb 19, 2017 at 2:58 AM UTC
*Kata demi kata
Kuleburkan menjadi beberapa helai untaian kalimat
Demi melepas seikat rindu
Untuk seseorang berpandangan sayu
Yang telah lama diombang-ambing oleh gelombang kelabu
Seberat langit mendung yang sendu
Berpayung ia lama mencari lentera menuju ujung jalan
Sembari menanti hentinya rintik hujan
Tanah becek berlumpur tempat kakinya lama singgah
Di mana guntur tak ada lelahnya menumpah ruahkan gundah
Kata demi kata
Kuleburkan menjadi beberapa helai untaian kalimat
Demi melekatkan seikat harapan
Untuk seseorang yang tengah dihuyung geramnya badai topan
Yang tak hentinya berharap agar matanya dibutakan mentari pagi
Jiwanya lama berkelana mencari, entah ke mana cahaya itu pergi
Jauh dalam sudut yang gelap ia dibiarkan sendiri*
-------------------------------------------------------------------------------------------
Telah kuleburkan kata demi kata menjadi beberapa helai untaian kalimat
Untuk kompas dalam hidupmu yang telah kehilangan arah
Dibutakan oleh gulungan-gulungan masalah
Juga dalam doa-doa malamku dan setiap sujudku di atas sajadah,
Kubisikkan sebuah pinta agar dirimu selalu dalam pentunjuk-Nya,
Agar kelak dapat kau baca helaian untaian kalimat penyamangatku,
Yang kusampirkan dalam saku jaketmu hari itu,
Dapat merontokkan seluruh perasaan kelabu dalam kalbumu,
Mendepakmu dari sudut gelap di ruang tergelap pikiranmu sendiri.
Jan 28, 2017
Jan 28, 2017 at 7:28 AM UTC
APA KAU TAK DENGAR ??
Sebuah nyanyian gerakan melingking lurus tajam
ke arah penguasa yang menusuk hati rakyat.
Para pemuda dan mahasiswa yang berada
dalam pusaran arus kerusakan
Maka tiada lagi, kita harus melawan !
Disaat buku hanya berada dikantong saku berdebu
Disaat pena tak lagi mengeluarkan goresan tajamnya
Disaat megaphonemu tak lagi bersuara karena usang
Disaat tongsismu membunuh sikap kritis !
Mana raunganmu wahai Pemuda ?
Keluarlah dari barak kos dan sekretariatanmu Mahasiswa !
Apa kau tak dengar ??
Mana raunganmu wahai Pemuda ?
Keluarlah dari barak kos dan sekretariatanmu Mahasiswa !
Apa kau tak dengar ??
Sungguh ibumu tak kan rela melihat dapur rumahnya
yang tak lagi mengepul
Apa kau tak dengar ??
Sungguh bapakmu tak kan rela melihat kau
menderita karena miskin tenaga
Apa kau tak dengar ??
Sungguh jalan raya merindukan berbagai aksi aksimu
disetiap hentakan langkah kakimu
Apa kau tak dengar ??
Sungguh engkau adalah Generasi yang diharapkan
ummat Muhammad !
Wahai Mahasiswa.. Kau pembebas dunia
Wahai Mahasiswa.. Kau penerus negeri
Wahai Mahasiswa.. Dikepalmu Khilafah !
Wahai Mahasiswa.. Dikepalmu Khilafah !
Wahai Mahasiswa.. Dikepalmu Khilafah !
#RinduPergolakan
Mar 18, 2015
Mar 18, 2015 at 12:15 AM UTC
Ye khwahish hamesha rehti hai dil mein ki,
Kaash us ek pal ko main phir ek baar saku,
Kaash us ek pal ko main zindagi se nikal saku,
Kaash us ek pal ko badal saku,
Kaash wo ek pal dobara laut aaye,
Aur jo kuch bigda tha use phir thik kar saku,
Ye to pata hai ki har khwahish ek din puri hoti hai,
Bas itni aarzoo hai ki ye bhi ek din mukkamal ** jaye!
Bas ye khwahishen bhi ek din mukkamal ** jaye!
Jun 1, 2020
Jun 1, 2020 at 12:14 AM UTC
Yun is kadar anjaan banaya tumne mujhko k khud ko bhi ma pahchan na saku,
Ek to pahle hi tere pyar me pagal tha dil mera,
Kuj aisa kiya tune k jindagi kisi aur rukh pe mod na saku,
Beeti bston me kuj nahi rakha ye janta agar mai hota,
Na rota teri yaad me na yun kabhi tanha hota,
Kabhi kabhi dil karta hai tere kareeb aaun,
Tujhe nigaah bharkar dekhu,
Teri najar se najar milaun,
Par door gaye ** tum to aise k chah kar bhi kareeb tumhare aa na saku,
Silsila bahut purana hai chahne valo k juda hone ka,
Bas pyar karne ka aur ksbhi mil na pane ka,
Kuj haal mera bhi aisa hai,
K tujhe chahu chahta jaun par tujhe kabhi apna bana na saku.....
I love u S
May 11, 2019
May 11, 2019 at 7:57 AM UTC
"Kese banu me woh jo me hu
Koi esa jis se me bhi mukhtalif ** saku,
Yeh bhi to meri hi khamoshi h
Jo mujhse mujhi tak ka fasla janti h..
Yeh bebasi bhi lazmi h
Jo utni hi haqeeqat h
Jitni is safar me meri talash"
Feb 4, 2024
Feb 4, 2024 at 10:24 PM UTC
Bulan tampak besar dan terang.
Aku memandangnya pada saat tengah malam.
Sambil berdiri di tepi sawah yang sepi.
Dekat rel kereta pinggiran Surabaya.
Kukeluarkan ponselku dari saku celana.
Lalu kupotret bulan yang kupandang.
Setelah itu langsung kuunggah fotonya.
Pada akun Instagramku.
Kulihat ada banyak postingan foto.
Dari akun Instagram orang orang Gaza.
Ternyata mereka juga sedang memandang bulan.
Bulan yang sama dengan yang kupandang.
Maha sedang duduk di atap rumah.
Dia memandang bulan sambil minum kopi.
Tanpa peduli bombardir pesawat jet.
Meledakkan pemukiman di Deir El Balah.
Omar sedang nongkrong dengan temannya.
Dia memandang bulan sambil merokok.
Melepas lelah setelah membantu relawan.
Membagikan makanan di Khan Yunis.
Mariam sedang termenung di depan tenda.
Dia memandang bulan sambil mengenang.
Kehidupannya yang hilang tak tersisa.
Terkubur puing puing rumahnya di Tel El Hawa.
Malak sedang menangis sedih.
Dia memandang bulan sambil mengingat.
Seorang teman akrabnya yang telah tiada.
Tewas terkena tembakan ******
Dr Abraham sedang duduk di balkon.
Dia memandang bulan sambil mengeluh.
Kelelahan mengurusi orang orang terluka.
Memenuhi rumah sakit Al Nasser.
Saleh sedang melihat sekumpulan anak muda.
Mereka gembira menari dabke dan bermain oud.
Di atas puing puing reruntuhan bangunan.
Sementara bulan bersinar terang di belakang.
Begitulah bulan yang besar dan terang.
Menjadi penghias malam orang orang Gaza.
Yang masih terjebak kekacauan panjang.
Tanpa tahu kapan akan berakhir.
October 2024
By Alvian Eleven
Dec 9, 2024
Dec 9, 2024 at 1:21 PM UTC
Sejenak kita tunda laju lalu-lalang kendaraan yang kebingungan di kota kecil yang mulai penuh sesak.
Menghentikan bising suara mesin di kepala.
Memejamkan mata dari keriuhan yang rumit dalam saku.
Menggantung gaun-gaun yang telah lama tak kita baringkan.
Barangkali kita terlalu sibuk melupakan.
Terlalu berusaha menjauh dari diri sendiri.
Mungkin kita ini tak pernah tersesat pada dunia yang menyesatkan siapa saja.
Tersedak tawa oleh lelucon yang mencekik mimpi-mimpi.
Kita terus berlari tanpa tahu arah, kebingungan dan gelisah.
Seperti kereta kuda di taman bermain yang sepi pengunjung.
Kita terus saja berbicara tanpa pernah merasa.
Seperti suara klakson yang meraung-raung di kota yang semakin sibuk.
Kita terlalu berapi-api memperdebatkan apa saja.
Terus berteriak dan terbakar.
Terlalu sering menertawai, tanpa tahu lelucon sesungguhnya.
Tanpa tahu upacara kematian telah dipersiapkan di akhir tawa.
Aug 1, 2020
Aug 1, 2020 at 12:21 AM UTC