"sadar" poems
Palembang, Selasa 21 Juni 2011
Aku punya mimpi mulia
Butuh seribu tahun tuk menggapainya
Ku tak serius, hanya mengira
Karena ku selalu tak sempurna tuk jalaninya
Hingga betisku biru
Lututku lecet
Bobot tubuhky berlipat
Sampai pikiran ku sangat terbebani
Hanya dapatkan phobia sesaat
Saat api kulihat di mata tepat
Mulutku kelu ludahku kering dan aku berkeringat
Dan tersadar tak satupun peduli aku di malam pekat
Ingat hanya aku tahu semampunya
Tak buktikan apa-apa yang telah ku buat
Orangpun merendahkan aku bagai tersiksa
Tak bisa ku membela sendiri karna tlah telat
Sadar-sadar di hari nan senja
Bahwa ku makan hanya sisa saja
Ku terima karena ku akui aku memang suka
Berharap perbaikan akan datang mangubah semua
Nama-Nya selalu ku sebut di setiap masa
Meski aku dan Dia tahu bahwa aku masih salah
Namun salahkah aku masih ingin dicinta?
Kepalaku berat bagai hampir tak bernyawa
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 9:28 AM UTC
Palembang, 14 Januari 2014
Apa yang susah?
Menguasai diri sendiri memang susah
Melakukan ini tapi takut, takut salah
Tapi tidak dilakukan akan menyesal, juga salah
Apa yang mudah?
Memerintah orang memang mudahnya
Menyuruh orang melakukan kehendaknya
Entah siapa yang untung dan rugi di antaranya
Apa yang gampang?
Menghakimi orang juga gampang
Tak peduli tampang
Mau presiden, mau pejabat, mau gembel asal hati senang
Apa yang gampil?
Menasehati orang juga gampil
Tinggal ucapkan kalimat kecil
Berlagak bak orang yang terbiasa nan terampil
Apa yang sukar?
Menyadarkan orang itu yang sukar
Meski hati sudah dongkol dan mulai terbakar
Apa daya orang itu tak sadar-sadar
#miris
Jan 14, 2014
Jan 14, 2014 at 11:42 AM UTC
Senja djakarta enam belas januari dua ribu lima belas . di hadapan leptop , aku merangkai kata demi kata untuk menghasilkan sebuah karya yang indah . ku tatapi sekelilingku ... benda mati , sepi, lengang ... andai printer yang disampingku itu berbicara... gunting itu berkata, dan pulpen ini berteriak , akan aku ceritakan sebuah kisah klasik ini di hadapan benda-benda itu . entah apa yang aku rasakan saat ini . abstark sepertinya . aku pernah berangan-angan menikmati teh rosela bersama bapakku didalam dekapan senja hangat mengantarkan mentari itu pulang , dalam dekapan . bapak yang aku rindukan kasih sayangnya melebihi apapun di dunia ini . Maafkan aku mama, aku tidak pernah serindu ini kepada bapakku . tapi percayalah , kedudukanmu dihatiku selalu ku prioritaskan bak malaikat yang selalu menjagaku setiap hari . Mama... bisakah engkau wakilkan rasa ini kepada bapakku , bahwa aku ingin mencium tangannya . kemudian ia tersenyum merasakan hangat cinta anakknya .
rasa apa yg lebih berarti daripada menahan rindu ini , menahan rindu akan sosok bapakku yang genap 8 tahun sudah tidak pernah menyapaku lagi . aku tidak ingin mengingatnya dengan kenangan buruk , tetapi aku akan mencoba menguburnya ,dan ini lah saatnya aku menjadi pribadi yang berubah .
bapak, tahukah engkau pak , aku sudah beranjak dewasa, dr dewasa itu aku menemukan siapa diriku sebenarnya . sadar bahwa aku bukanllah apa-apa tanpamu pak . sadara bahwa aku di dunia ini karena mu dan ibu . maafkan aku yang tidak pernah mendegarkanmu .
Senja ... saksikanlah bahwa aku ingin sekali bapak duduk di pelaminan bersama ibu , dan aku berada tepat di bawah kakiknya . sembah sungkem merestui pernikahanku bersama pria yang dikirimkan ALLAH untukku .
Jan 16, 2015
Jan 16, 2015 at 6:09 AM UTC
dari awal memang aku hanya kertas kosong bagimu
tak bisa digambar, tak bisa ditulis
yang terlupakan, yang tertinggal
yang terbuang, tak berharga
meski ku coba tuk tulis sendiri
kau hapus begitu saja,
dan kau buang
nama ku tak pernah kau sebut
mungkin karena kau lupa
mungkin karena kau tak suka
aku Erikaa
kau bisa panggil ku apa saja
sesukamu
tapi jangan,
jangan kau tak menyapaku
ku baca statusmu
diam-diam,
dari akun temanku,
teman baikku
kau benar suka dia?
haha tentu saja!
kau kembali ke kampung halaman,
besoknya kau pergi lagi menjemputnya
oh betapa beruntungnya dia
dicintai malaikat sepertimu
jika kau menikah,
apa ada kau akan mengingatku?
mengingat kekonyolanku?
menertawai kebodohanku?
kini semuanya ku buang,
semua tentangmu
senyummu,
candamu,
tapi ku mohon,
izinkan aku menyimpan foto-foto mu
bukan foto dirimu,
tapi foto mu,
pohon, jalanan, Samudera Atlantik, yang kau foto
No!
Akan ku hapus semua!
Terima kasih tuk selama ini.
Kau tlah berikan 0.5% cinta mu padaku
Terima kasih telah 99.5% membenciku
sehingga aku sadar akan kedudukanku
Terima kasih sudah 100% mencintai dia
aku yakin kau takkan menyakitinya
""Selamat G----- F--------- F--------
Semoga kamu BAHAGIA""
Sep 24, 2012
Sep 24, 2012 at 11:35 AM UTC
Jika aku berdosa Tuhan
Hati tak ingin disalahkan
Karena jiwa yang serakah
Telah terbelah menjadi dua
Ingin hati terbang ke Surga
Apadaya terbelenggu senja
Mentari panasi dunia
Bagai raga ku yang mulai gersang
Tuhan... Tolong...
Teriakan ku memohon
Hujanilah raga ku yang gersang ini
Beri tanda jiwa yang asli
Jiwa keras bagai karang
Terhempas ombak baru mengalah
Jiwa lembut bagai awan
Terhempas angin baru tersadar
Sadar akan 2 jiwa yang terbagi
Begitu berbeda bagai langit dan bumi
Amat berbeda bagai air dan api
Ku sadari, aku manusia yang Munafik
Created by Aridea Purple
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:39 AM UTC
sedikit demi sedikit, aku sudah tidak merasakan kamu di cangkir kopiku setiap pagi.
entah rasanya mengapa sangat sangat habar. seakan kamu sudah benar-benar pergi dari sini.
tidak ada yang membuat jantung ini seakan sudah tidak berada di tempatnya lagi ketika mataku menangkap sosokmu.
aku tahu, nantinya memang kamu akan pergi. mencintai pilihanmu yang lebih sempurna dariku.
aku hanya manusia, mi querido. aku bukan dia yang lebih dari manusia normal. dia spesial untukmu. sedangkan aku tidak.
oh, tidak. aku tidak pernah kemana-kemana. aku tidak pergi. aku tetap disini dan menunggu. hanya sepertinya kamu saja yang tidak pernah sadar jika aku disini.
sudah menerka-nerka. semua ini akan berakhir tidak berbalas. semua ini berakhir sia-sia.
tapi apakah kamu tahu?
semenjak kamu bersama dia, aku sangat menikmati hobiku merangkai aksara tentangmu. walau kadang maknamu sudah terasa hambar.
kamu tahu mengapa? karena tangan ini tidak akan pernah mampu meringkuh wajahmu dan mulut ini akan kaku ketika bertatapan denganmu.
aku membiarkan tangan ini menari-nari diatas papan kata dan merangkai karangan tentangmu.
Aug 11, 2014
Aug 11, 2014 at 7:09 PM UTC
Palembang, Selasa 29 November 2011
Aku yang selalu menyalahkan diri sendiri atas kesalahan ku
Terus menerus berfikir apa pantas tuk mendapatkan itu
Bila berdoa saja pun aku selalu bolos
Aku yang kata orang tak sadar diri
Selalu dan selalu membela diri
Memang iya, aku melakukannya sendiri
Aku yang sedang-sedang saja
Tak pintar, tak menarik pun tak beruang
Masih mau bersedekah untuk batin ini juga
Aku yang segalanya
Segalanya bohong, malas, bodoh
Hanya bisa menangis ataupun acuh seperti orang hilang
Aku yang masa depannnya suram
Tak berani berucap mau jadi apa
Kalau mengadu pada-Nya saja aku sungkan
Aku yang hidupnya menyedihkan
Duduk memangku harapan
Menunggu keajaiban Tuhan
Nov 29, 2011
Nov 29, 2011 at 7:44 AM UTC
Sebetulnya tidak ada yang terlalu berbeda pada Jogja malam itu, namun memang spesial.
Ada kamu di hadapanku, diterangi remangnya lampu kedai kecil tempat kita berdua berteduh dari gerimis dan dinginnya kota Jogja malam itu.
Kamu tidak banyak bicara, sibuk dengan sepiring gudeg dan segelas wedang jahe favoritmu.
Aku tidak bisa berhenti memandangi parasmu. Meski hanya diterangi lampu remang-remang, dan peluh yang basah akan air hujan, bagiku kamu tetap nomor satu.
Sang pemilik kedai pun memutar piringan hitam miliknya, terlantunlah ‘Berdua Saja’.
Aku masih ingat betul tatapanmu malam itu seiring dengan alunan lagu. Sederhana, teduh, dan penuh dengan kehangatan.
Malam itu, aku sadar bahwa rumah tempatku pulang bukanlah bangunan bata beratap dengan satu pintu dan dua jendela.
Malam itu aku sadar, Sepasang mata bola yang teduh dan hangat itulah tempatku pulang.
Kamulah tempatku pulang.
Oct 22, 2016
Oct 22, 2016 at 12:20 AM UTC
sore itu dingin.
kupandangi tetes-tetes air yang perlahan hinggap di atas permukaan kaca jendela
secangkir teh dalam genggaman, berbalut tabahnya menahan rindu.
kutunggu kabar
namun tak juga kunjung datang
duduk di atas kursi teras, menanti suaramu hadir di ujung pesawat.
teleponku lagi-lagi kau abaikan, seperti tak pernah sekalipun terlintas minat untuk kau angkat.
terlalu sibuk atau apa?
biar kunanti lagi bersama rintik hujan.
semenit
lima menit
sepuluh menit
dua puluh menit
lima puluh menit
kutunggu telepon balasanmu
namun belum juga kau
izinkan aku mendengar suaramu
aku diam
bersama alunan musik yang dimainkan hujan, air mataku turun
biarkan!
aku letih
berpura-pura merasa tidak sakit hati
bersama lantunan rintik hujan, serta guntur yang belum pula lelah bersahutan, pada dunia mereka seolah mengatakan; alam pun bisa menyuarakan air matanya, dan memiliki jeda jujur yang panjang, berhenti berusaha ceria.
kemudian aku sadar;
seperti alam yang sedang menangis, aku benar-benar letih berpura-pura.
May 22, 2016
May 22, 2016 at 7:20 AM UTC
Terkadang raga ini lelah melangkah
Berjalan tanpa tahu pasti kemana
Apakah akan singgah sebentar di sudut itu
Atau mungkin akan berhenti di pelabuhan timur
Malam itu aku tertatih
Menahan perih dan luka
Tanpa ada satupun yang sadar
Dalam hati mengumpat watak manusia yang acuh
Namun aku juga manusia
Aku.. manusia yang tak akan pernah berhenti belajar
Walau harus merajut asa dalam sakit
Ditemani oleh temaram lampu kota aku menari
Hingga raga ini tak sanggup
Dan jiwa ini hilang dibawa angin malam
Apr 4, 2016
Apr 4, 2016 at 10:20 AM UTC
Cinta…
Betapa sayang ku lebih
Kau tak tau berada di sini
Bahwa sayangku tersembunyi
Cinta…
Lama sudah ada di sini
Kau tak dengar jeritan ini
Lirikmu yang selalu mewakili
Kasih…
Lebih indah saat ku bermimpi
Tapi, tidak pernah terjadi
Aku, hanya duduk sendiri
Kasih…
Lamunanku tertuju padamu…
Tak sadar aku inginkan kamu
Dan selamanya aku Cinta kamu Kasih…
by. Aridea Purple
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 9:01 AM UTC
voice over: Atlas
Ketika langit mengubah rupanya menjadi senja sewarna matahari tenggelam, kuajak Venus duduk di kafe tak jauh dari stasiun. Perjalanan hari ini cukup lelah, meskipun pengamatan kami berjalan lancar. Tapi, aku selalu berharap anggota kelompok kami lainnya lebih sering ikut bergerak agar kami tidak selalu pergi berdua. Museum yang kami kunjungi kali ini adalah museum seni, yang kuduga salah satu hal yang amat Venus hargai. Ia penikmat karya seni. Matanya terus memandang takjub karya-karya yang kebanyakan orang tak pahimi apa maknanya, namun Venus menatapnya seolah barang yang dilihatnya ialah nyata. Kau tahu, memandangi seorang perempuan berambut gelombang sepunggung, yang bertinggi badan hanya sehidungmu, rahang tegas, alis yang tebal, memandangi karya-karya seni di hadapannya dengan tatapan antusiasmenya; bukankah ia definisi seni yang sesungguhnya? Yang paling nyata di depan mataku?
Dan, kemudian ia menoleh, tersenyum saat sadar aku memandanginya dari belakang. Ia mengatakan sesuatu, "Atlas, lihat sini! Lukisan yang satu ini benar-benar indah."
Dan, setelah 3 bulan meragukannya, sekarang aku yakin; aku menyukainya, sangat menyukainya, saat kurasakan Venus adalah seni yang lebih indah, terindah.
Jan 28, 2017
Jan 28, 2017 at 6:51 AM UTC
Hai...
Kau mungkin tak akan tahu siapa aku
Dan sejujurnya aku tak akan mengenalmu
Namun kau dan aku memiliki suatu kesamaan
Ia yang kau perjuangkan, yang kau sayangi hingga hatimu sakit
Dulu pernah menjalani hari demi hari bersamaku
Ia juga pernah ku perjuangkan hingga raga ini tak mampu lagi
Ia yang selalu ku sayangi hingga hati ini tak merasa sakitnya
Aku hanya ingin menitipkan sebuah pesan untukmu
Sebuah pesan kecil yang bisa saja kau abaikan jika kau mau
Jangan pernah merasa lelah untuk memperjuangkannya
Jangan berhenti menyayanginya walau mungkin ia menyakitimu secara tak sadar
Karena jika aku masih mampu dan ia masih membuka hatinya
Aku pun tak akan berhenti melakukan kedua hal tersebut
Apa yang bisa ku lakukan sekarang adalah menyisipkan namanya disela doa-doaku agar ia bahagia dengan hidupnya
Dan agar kau tetap terus menjaganya sebagaimana aku akan menjaganya
Jan 3, 2016
Jan 3, 2016 at 8:23 AM UTC
Jakarta, 28 Mei 2009
Suatu malam aku gelisah
Menunggunya tuk hadir di sini
Dia yang sangat ku cinta
Pangeran dari Kerajaan Inggris
Ya Tuhan
Maafkanlah aku
Aku t’lah mencintai orang yang salah
Tolong bangunkan aku
Aku diam seribu bahasa
Aku menangis, “Aku hanya bermimpi!”
Lalu ku lihat seorang pria
Berdiri di depanku
“Ya Tuhan, aku bermimpi lagi”
Dia menyentuh tanganku
Sekali lagi...
“Ya Tuhan, ini nyata!”
Aku memeluknya
Dan kemudian aku benar-benar sadar
Inilah kenyataannya
Pangeran dari Kerajaan Inggris
Feb 18, 2012
Feb 18, 2012 at 10:52 PM UTC
*tidak semua pesan dapat kusampaikan langsung
termasuk secarik puisi ini
yang berisi sejuta rasa rindu akan hadirmu disamping
walau itu adalah sebuah ilusi
aku menerbangkan surat ini dengan angin
berharap nanti kau menerimanya
dan sadar akan hadirku disini dan rindu yang tidak dapat dibendung lagi*
Aug 4, 2014
Aug 4, 2014 at 6:27 AM UTC
Mencinta layaknya sejati
Saling benci meski tak dari hati
Datang dan pergi tanpa mengucap janji
Sadar tak pernah pergi,
Percaya kan selalu kembali
Muncul tanpa pertanda,
Pergi tanpa kata
Saling temani dalam sepi,
Berbicara tanpa suara
Mengerti dan pahami,
Layaknya sakit milik bersama
Ada saat butuh,
Hilang saat rindu
Satu yang tak pernah jadi milikku,
kamu.
Jan 6, 2014
Jan 6, 2014 at 12:41 AM UTC
Malam itu hujan,
Entah Tuhan ingin membuatku semakin sedih karena suasana yang mendukung,
Atau Tuhan tidak ingin semua mengetahui kalau aku menangis.
Malam itu hujan,
Ketika semua perkataan yang keluar dari mulutmu membuat aku bertanya,
Apakah kamu benar-benar orang yang pernah aku sayang dahulu?
Apakah kamu benar-benar orang yang selama ini aku perjuangkan?
Karena malam itu ketika hujan,
Aku seperti tidak mengenal dirimu.
Malam itu hujan,
Ketika semua perkataan yang keluar dari mulutmu tidak lebih hanya membuat aku merasa sakit,
Apakah benar ini balasan dari semua usahaku untuk membuat kita baik-baik saja?
Apakah benar ini balasan dari semua usahaku untuk membuat kita tidak bertemu kata perpisahan?
Tapi tidak dengan malam itu ketika hujan,
Kamu bersikap seperti orang asing yang tidak aku kenal,
Kamu mendorongku untuk pergi dari kehidupanmu,
Kamu itu siapa?
Aku yakinkan diriku sekali lagi,
Apa kamu benar-benar orang yang selama ini aku sayang?
Malam itu hujan,
Aku tidak bisa berkutik kecuali meneteskan air mata,
Semudah itu untukmu?
Ketika selama ini aku bertahan dengan alasan yang mengharuskan diriku untuk pergi,
Semudah itu untukmu?
Ketika aku harus menahan rindu setiap malam,
Bertanya-tanya apakah dirimu baik saja di sana,
Semudah itu untukmu?
Tapi aku tidak menyalahkan malam itu ketika hujan,
Kepergianmu malam itu membuat aku sadar,
Kenapa aku terlalu takut untuk pergi sebelumnya,
Sedangkan kamu bisa melakukan dengan semudah itu?
Pergilah, aku merelakanmu.
Pergilah, bawa hujan di malam itu sebagai simbol akhir dari segalanya,
Pergilah, jangan pernah kau menoleh ke belakang untuk melihatku,
Aku yakin akan baik-baik saja,
Walau kini aku masih menangis bersama hujan.
Jul 17, 2017
Jul 17, 2017 at 4:38 PM UTC
Darah
Biasanya keluar rumah
Saat tengah malam
Sambil menangis
Hanya
Untuk bermandikan
Seseguk amis
Setelah itu,
Ia lanjut merajut
Duka
Atas air maut
Yang tak kunjung jatuh
Darinya
Sama,
Suaramu
Terdengar kala malam
Terisak-isak perih
Dan masih berbau darah
Tapi setelah kuratapi
Sekarang makin legam
Lagi-lagi
Suaramu dibebani
Pagi yang merekah-rekah
Dan pada saat selalu saja,
Ia akan tergesa membisu basi
Menunggu sambutan gulita
Keduanya tidak sadar
Bahwa
Mereka saling
Beradu pekat
Suaramu tapi
Masih percuma
Alunannya mengais pedih
Langkahnya meringkuk mati
Seolah tak tahu
Terus tanya
Siapakah tuannya
Mungkin
Ternyata
Memang bukan kamu
Dan di saat
seperti ini
Gelap biasanya
Keluar terbahak
Terbatuk
Tertatih meracau rindu
Kalau ia lumpuh
Dan tak dapat lagi menghentak
Suara liar yang kerap
Bersenandung pedih
Mungkin ini sekedar hantumu
Menyanyi
Main-main dengan duka malamku
Sep 20, 2015
Sep 20, 2015 at 7:19 AM UTC
Seolah langit mendengar sebuah sendu
Turun membasahi tiada ragu
Tak sadar air itu turut membaur
Lekas ku usap tanpa ada yang tahu
Nov 18, 2022
Nov 18, 2022 at 5:22 AM UTC
Bagaimana bisa,
Berjalan diselimuti keresahan,
Dibalut dengan beludru kekhawatiran yang cukup tebal,
Bagaimana bisa,
Berjalan dengan kaki beralaskan keserakahan,
Dan kaus kaki kemunafikan sebagai pelindungnya,
Bagaimana bisa,
Melanjutkan hidup
Dengan perjalanan penuh asap kebohongan?
Tentu kau bisa terus berjalan,
Tentu kau bisa terus hidup,
Walau harus memikul
Ketidaknyamanan dalam perjalanan,
Namun,
Siapa peduli?
Peduli dengan ketidaknyamananmu,
Kau bilang?
Mereka bahkan tidak sadar,
Mata mereka,
Buta akan kesengsaraanmu
Kecuali,
Dengan kekalahanmu
Jan 1, 2021
Jan 1, 2021 at 4:22 PM UTC
Lalu ia sadar.
Ia menggenggam erat juwita pujaannya,
menyediakan tempat bersandar
serta kebutuhan pokok.
Semua indah, semua nyenyak.
Ia dan juwita melampaui batas,
menghasilkan surga di atas bumi.
Namun suatu titik membangunkannya.
Alam sadarnya kini berfungsi,
seraya berbisik
'surga di atas bumi itu tidak pernah ada'.
Ia bangun dari tidurnya yang nyenyak.
- - Lalu ia sadar.
Ia beranjak meninggalkan
dalam senyap tak berencana
Ia sadar; ia pergi.
Tanpa ada kata kembali.
Nov 8, 2015
Nov 8, 2015 at 1:03 AM UTC
Ku putar sekali lagi nyanyianmu malam ini,
sebagai penghantar tidur dan penyemangatku esok pagi.
Katamu aku mataharimu,
menebar kehangatan ke sekitarku.
Kau bilang kau tak dapat lupakanku,
juga tak mampu menyatakan ku milikmu.
Tak sadar kah kau yang membohongi diri sendiri,
menyamar sebagai pujangga yang hanya bisa berjanji.
Janji yang kita berdua tahu,
bahwa kata-katamu itu palsu.
Berjanjilah malam ini; bahwa kau takkan ada di sisiku.
Tepati, amali, sebelum waktu ‘kan berlalu.
Feb 26, 2018
Feb 26, 2018 at 10:36 PM UTC
Ku bicara ini.
Kau bicara itu.
Ku lakukan ini.
Kau lakukan itu
Tanpa sepengetahuanku
kamu
berbicara tanpa sepengetahuanku
Berbicara kepada mereka
Sebenarnya apa tujuanmu?
Mempermalukanku?
Tak masuk akal?
Kata-katamu lebih dari aku
Tak bisa bersama?
Kemudian aku pergi?
Ah, kau SALAH!
Baca benar-benar!
Kembalilah ketika kau sadar!
Jun 6, 2012
Jun 6, 2012 at 10:48 AM UTC
Bahkan hembusan angin berbahana
Dua tiga pasang jiwa bercakap
Tertawa pun berteriak
Bila mata terpejam tenangnya
Alam tak lagi bisu
Kau dan aku
Mengunci tatapan dan suara
Kita adalah bisu
Diam dalam kesunyian yang kekal
Debaran jantung berdetak sepi
Jangankan seulas senyum
Mata saja enggan berbicara
Lantas satu di antara kita akan sadar
Diam juga bagian dari percakapan yang tidak berujung.
Jun 1, 2018
Jun 1, 2018 at 12:43 AM UTC