Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"rumah" poems
Palembang, 22 Juni 2011 Api itu hampir merajai waktu Merenggut harta benda tanpa ampun Mangarang tubuh yang sesepuh Duduk pun terdiam di kursi besi butut Kekuatan api bagai Sang Supernova Membumbung tinggi tak ada yang terjaga Meletup-letup bagai haus dan lapar Tinggallah hamparan abu di senja tiba Sebelum fajar menyingsing indah Berisik di tengah jalan sirine mengulang Langkah kaki mondar-mandir yang tentu arah Bergotong royong pun dengan peluh dan baju basah Ku duduk terdiam terpaku Setengah melamun di sebelum senja muncul Ku tersadar pun di tengah padam lampu Dan ku lihat Monalisa tersenyum pada ku Ku duduk bersimpuh di kaki Menunduk dan berharap ini hanya mimpi Dan aku bangkit tuk lihat situasi Ku dengar mayat rapuh bagai tiada arti lagi Tak mampu tumpah air mata Hanya tubuh kaku mati rasa Pikiran yang ingin selalu waspada Mental ini rapuh butuh udara Abu terasa di mana-mana Terinjak, menyatu dengan tanah Menutup mata kini selaalu terjaga Menjaga hari tanpa Supernova 9 Juni penuh cerita Di bawah tangisan dan panikan Wanita memasak dan menjaga anak Pria bahu membahu membangun rumah
0
Oct 28, 2011
Oct 28, 2011 at 1:26 AM UTC
Cerita Semi (9 Juni 2011)
Kau ini siapa? Aku berbicara seakan sangat mengenalmu Menyebut namamu penuh kerinduan, seakan dua sahabat yang sudah lama tak bertemu Aku serius bertanya, Kau ini siapa? Menceritakanmu ke teman-teman ku di sekolah, seakan kau ini seseorang yang ku kenal di dekat rumah Aku sekali lagi bertanya, Kau ini siapa? Tahukah kamu aku mencintaimu tidak sengaja, mengenalmu memandangmu hanya dari kata-kata Kau ini terbuat dari apa? Mencintaimu sungguh menyakitkan Ingin rasanya aku mati saja Terkubur bersama rasa ini Rasa sakit yang entah mengapa, sakit karena mencintaimu terlalu dalam
0
Jun 11, 2012
Jun 11, 2012 at 3:01 AM UTC
Kau Ini Siapa?
Palembang, 21 September 2012 Jika cinta adalah air, maka kamulah dahagaku Jika cinta adalah padi, maka kamulah lapar ku Jika cinta adalah rumah, maka kamulah tujuanku Jika cinta adalah hati, maka kamulah sakitku Jika cinta adalah hidup, maka kamulah matiku Jika cinta adalah waktu, maka kamulah hidupku Jika cinta adalah jiwa, maka kamulah ragaku Jika cinta adalah kekuatan, maka kamulah lemah ku Jika cinta adalah masa tua, maka kamulah sehat ku Jika cinta adalah kesalahan, maka kamulah sempurnaku Jika cinta adalah perpisahan, maka kamulah lahirku Jika cinta adalah kamu, maka itulah kesalahan terbesarku
0
Sep 21, 2012
Sep 21, 2012 at 7:31 AM UTC
Jika Cinta
Aku berdosa, Telingaku bunuh diri. Sudah baru-baru ini Aku sepenuhnya tuli Aku tak tahu lagi   Apa kata dedaunan Pada tanah yang terantuk lemas dibawah Atau ceracau yang diteriakkan Bunga keparat Untuk mayat dingin si kumbang. Bahkan di restoran tua Yang setiap sela kayunya berdarah dingin, Tempat rintihan musik bisumu selalu dialunayunkan Semuanya hanya tertawa hening lalu mati begitu saja. Dan meskipun duduk menghadapmu Aku masih tak dapat mendengar Suara mengaji jam setengah mati Yang kerap menceritakan Dongeng gelap kita Dari lampau sampai me— La lala la la       lala la lala La la la la la lala            La la la lalala la la La —Lampaui Pemakaman hati yang mati dipancung Di pekarangan rumah tiap senja gulana Yah, baru-baru ini aku tuli Bisu lagi, Mampunya cuma mengumpat dalam tulis. Dan dihadapkan denganmu, Sesekali dalam terkadang Aku anehnya dapat mendengar Serintikan isak tangis yang Sama sekali tidak kita cucurkan Lalu ini semua salah siapa, Kalau aku baru tuli Lalu kamu sudah bisu? Apa memang ini dosaku? Di palangnya tertulis; Nama: Siapapun yang menangis Di sela-sela pengakuan dosa Kematian telinga gila Dan kelumpuhan bibir hambar Kita tiba-tiba melongo, Tuhan tertawa Sabar lagi bahagia, Mengisyaratkan untuk Sudah, ya, Simpul mati saja senyum satu sama lain.
0
Aug 30, 2015
Aug 30, 2015 at 8:46 AM UTC
Pengakuan Dosa Penyair Tuli Pada Sebuah Film Bisu
Sebetulnya tidak ada yang terlalu berbeda pada Jogja malam itu, namun memang spesial. Ada kamu di hadapanku, diterangi remangnya lampu kedai kecil tempat kita berdua berteduh dari gerimis dan dinginnya kota Jogja malam itu. Kamu tidak banyak bicara, sibuk dengan sepiring gudeg dan segelas wedang jahe favoritmu. Aku tidak bisa berhenti memandangi parasmu. Meski hanya diterangi lampu remang-remang, dan peluh yang basah akan air hujan, bagiku kamu tetap nomor satu. Sang pemilik kedai pun memutar piringan hitam miliknya, terlantunlah ‘Berdua Saja’. Aku masih ingat betul tatapanmu malam itu seiring dengan alunan lagu. Sederhana, teduh, dan penuh dengan kehangatan. Malam itu, aku sadar bahwa rumah tempatku pulang bukanlah bangunan bata beratap dengan satu pintu dan dua jendela. Malam itu aku sadar, Sepasang mata bola yang teduh dan hangat itulah tempatku pulang. Kamulah tempatku pulang.
0
Oct 22, 2016
Oct 22, 2016 at 12:20 AM UTC
11.00 - Aku, Kamu dan Jogja.
Palembang, 31 Desember 2011 Ku tak berharap malam ini akan spesial Mengingat kembang api tak mau memperlihatkan sinarnya Terompet pun enggan mengumandangkan suara nyaringnya Apalagi, arang bersumpah takkan membara malam ini Jahat sekali mereka padaku  Aku sudah mengira malam ini akan menjadi bosan Ditinggal sendirian di rumah Dilarang pergi ke rumah teman Ditambah modem tak mau konek Jahat sekali kalian padaku  Baiklah Aku hanya bisa bermimpi saja Mendengar gemuruh kembang api Melihat cahaya indahnya Menghirup wangi jagung bakar Menyantap ayam panggang Dan ketika aku kenyang, aku tertidur Esok pagi Yang ku temui hanya sepi
0
Jan 2, 2012
Jan 2, 2012 at 4:39 AM UTC
Malam Tahun Baru 2012
Aku terlalu kecil Sekecil titik di atas kertas kusut Aku hanyalah satu dari ribuan bahkan tak terlihat Terlindung dalam cangkang sempit dan tipis Bersembunyi di balik daun yang mulai berubah warna Rumah pertamaku akhirnya aku terlahir sebagai sesuatu yang aneh Aku si buruk rupa Tubuhku dipenuhi bulu Merangkak lemah menyusuri ranting Menggerogoti daun disekitar membuatnya berlubang melarikan diri dari burung Bergulat dengan semut rangrang Membuat saya jatuh ke tanah Hingga buluku rontok berserakan Hanya cacing yang menyapa Mereka membenci saya sangat Aku bisa terbunuh, tidak semuanya menerimaku sampai aku terjebak dalam dimensi lain Aku si  ulatbulu kesepian yang bersembunyi Bertapa di dalam kantung usang yang kecil Mencoba untuk membunuh waktu Berjuang dalam kegelapan untuk mencapai keindahan Sudah cukup persinggahanku Mengarungi kerasnya penantian panjang yang membelenggu Aku terlahir kembali menjadi berbeda dan mereka menyukaiku kebahagiaan berlimpah tiba terbang tanpa batas dengan kedua sayap yang cantik pergi ketempat yang indah yang kumau
0
Sep 16, 2016
Sep 16, 2016 at 10:23 PM UTC
Metamorfosa
Di suatu tempat, di suatu hari Kini ku beranjak dewasa Dan malam ini aku berfikir Hormonku telah mencapai puncak Aku butuh bercinta Ya... memang gila diriku ini Tapi... aku benar-benar dan sangat ingin Ku butuh pelukan seorang pria Di setiap malamku yang dingin Ku butuh ciuman mesranya Untuk menghangatkan tubuh ini Adakah pangeran yang mau melakukannya untukku? Setiap malam aku kesepian Hanya bermimpi... Bercumbu dengan bayangannya Memeluknya... menciumnya Begitu mesra menyentuh jiwa Gila! Gila! Gila! Memang gila fikiranku ini Tapi tak bisa ku hindari Saat nafsu ini melumuri jiwaku Pikiranku... dan cintaku Begitu jauh...rumah pangeranku Tak sanggup sendiri aku ke sana Sekali lagi... Pelukan... Sentuhan... Kecupan... Dan saat-saat bercintalah yang akan ku tunggu Hingga sang pangeran tiba
0
Jan 20, 2012
Jan 20, 2012 at 8:28 AM UTC
Di Suatu Tempat, Di Suatu Hari
Mereka hanya terduduk di lantai berlumut Halaman belakang rumah tuanya yang berupa puing belaka Bekas-bekas kekalahan Tidak berucap akan siapa yang mati Dan siapa yang berhak hidup Mereka terlambat, tak ada satupun orang hidup di sini Mereka jadi ingin ikut-ikutan mati Yang disayangi sudah tiada Mereka jadi menyesal Pergi jauh tak kunjung balik Mendadak ditatapnya sebuah sumur Tempatnya menimba air dahulu Katanya sudah mengering berpuluh tahun lalu Dan bibirnya bergerak perlahan, teringat; "Riak air yang tinggal di dasar sumur Tidak pernah membenci roh yang berkeliar singup Di atasnya. Hantu-hantu wanita sejak dahulu Kekal bersolek di atas sumur Meskipun telah mengering airnya Dan pantulan mereka fana adanya. Mereka hanya terduduk di lantai berlumut Halaman belakang rumah tuanya yang berupa puing belaka Bekas-bekas kekalahan Tidak berucap akan siapa yang mati Dan siapa yang berhak hidup Mereka terlambat, tak ada satupun orang hidup di sini Mereka jadi ingin ikut-ikutan mati Yang disayangi sudah tiada Mereka jadi menyesal Pergi jauh tak kunjung balik Mendadak ditatapnya sebuah sumur Tempatnya menimba air dahulu Katanya sudah mengering berpuluh tahun lalu Dan bibirnya bergerak perlahan, teringat; "Riak air yang tinggal di dasar sumur Tidak pernah membenci roh yang berkeliar singup Di atasnya. Hantu-hantu wanita sejak dahulu Kekal bercermin di atas sumur Meskipun telah mengering airnya. Konon karena mereka menyukai Kehangatan yang dirasakan Dari dalam rumah senyap kala ada kehidupan Sesederhana bagaimana mereka tak lagi Dapat hidup Lantas mengapa lepas mereka pergi Tak dijaga kekekalannya dari serentetan ledakan pilu dan kepulan asa? Hantu-hantu cuma pembohong Pelindung tak berdaya Mereka menghargai bising dan jerit tangis Itulah alasan mereka Terus tinggal dan bersolek Menunggu sakit dalam sakit Karena air matalah yang sebenarnya menjaga agar dasar sumur tetap terisi Agar mereka dapat bercermin Agar kekal bayang mereka Air mata, menggenang bersama darah Bukan mata air yang merasuk dari qalbunya." Jadi dipanggillah Segenap jiwa gugup gelisah itu Dalam kesunyian dan sesal mereka Hantu-hantu wanita Kembali besolek di atas sumur Mereka melompat, Untuk lebur Dalam ketiadaan. Menyusulmu Mencarimu.
0
Jun 23, 2016
Jun 23, 2016 at 8:21 AM UTC
Aku Melihat Anak-Anakmu Kembali dari Perang
Mereka hanya terduduk di lantai berlumut Halaman belakang rumah tuanya yang berupa puing belaka Bekas-bekas kekalahan Tidak berucap akan siapa yang mati Dan siapa yang berhak hidup Mereka terlambat, tak ada satupun orang hidup di sini Mereka jadi ingin ikut-ikutan mati Yang disayangi sudah tiada Mereka jadi menyesal Pergi jauh tak kunjung balik Mendadak ditatapnya sebuah sumur Tempatnya menimba air dahulu Katanya sudah mengering berpuluh tahun lalu Dan bibirnya bergerak perlahan, teringat; "Riak air yang tinggal di dasar sumur Tidak pernah membenci roh yang berkeliar singup Di atasnya. Hantu-hantu wanita sejak dahulu Kekal bersolek di atas sumur Meskipun telah mengering airnya Dan pantulan mereka fana adanya. Mereka hanya terduduk di lantai berlumut Halaman belakang rumah tuanya yang berupa puing belaka Bekas-bekas kekalahan Tidak berucap akan siapa yang mati Dan siapa yang berhak hidup Mereka terlambat, tak ada satupun orang hidup di sini Mereka jadi ingin ikut-ikutan mati Yang disayangi sudah tiada Mereka jadi menyesal Pergi jauh tak kunjung balik Mendadak ditatapnya sebuah sumur Tempatnya menimba air dahulu Katanya sudah mengering berpuluh tahun lalu Dan bibirnya bergerak perlahan, teringat; "Riak air yang tinggal di dasar sumur Tidak pernah membenci roh yang berkeliar singup Di atasnya. Hantu-hantu wanita sejak dahulu Kekal bercermin di atas sumur Meskipun telah mengering airnya. Konon karena mereka menyukai Kehangatan yang dirasakan Dari dalam rumah senyap kala ada kehidupan Sesederhana bagaimana mereka tak lagi Dapat hidup Lantas mengapa lepas mereka pergi Tak dijaga kekekalannya dari serentetan ledakan pilu dan kepulan asa? Hantu-hantu cuma pembohong Pelindung tak berdaya Mereka menghargai bising dan jerit tangis Itulah alasan mereka Terus tinggal dan bersolek Menunggu sakit dalam sakit Karena air matalah yang sebenarnya menjaga agar dasar sumur tetap terisi Agar mereka dapat bercermin Agar kekal bayang mereka Air mata, menggenang bersama darah Bukan mata air yang merasuk dari qalbunya." Jadi dipanggillah Segenap jiwa gugup gelisah itu Dalam kesunyian dan sesal mereka Hantu-hantu wanita Kembali besolek di atas sumur Mereka melompat, Untuk lebur Dalam ketiadaan. Menyusulmu Mencarimu.
Continue reading...
67
Maaf Maaf Maaf Kau bukan secarik kertas yang dibuang begitu saja setelah kupakai Kusut, coreng-moreng Bukan, kau adalah kartu pos yang disimpan rapi di lemari jati Meski usiamu tiada muda Kau bukan terik matahari yang dicaci orang ketika ada, diabaikan ketika tiada Bukan, kau adalah suara rintik hujan yang dipuji, dikagumi, didengar Meski kau membasahi baju mereka Kau bukan jam rusak yang digantung terlalu tinggi untuk diganti Berdebu, usang Bukan, kau adalah api yang dicari orang sampai kalang-kabut Meski kau membakar rumah mereka Tapi maaf jika aku membuatmu merasa seperti secarik kertas, terik matahari, dan jam rusak Bukan niat ingin menyakiti Tapi aku memang tak bisa dicintai Maaf.
0
Oct 21, 2013
Oct 21, 2013 at 6:17 AM UTC
Maaf
perjalananmu pasti cukup melelahkan, bahkan menjadi buta pun bisa melihatnya dengan baik. ini, disini, rebahkanlah kekhawatiranmu yang semakin hari menjadi gusar dalam doa-doa yang tabah. akan kuganti dari setiap amin yang kamu titipkan pada malam diam-diam. hati yang kemarin kamu pertaruhkan untuk menemukanku dalam mereka laut yang kesulitan kamu pelajari siapa Tuhannya, yang telah bersusah payah kamu coba taklukkan. tidak apa-apa. tenggelamlah sesekali, mungkin lima, teguk pilunya, dan pelajari dengan bijak. pada akhirnya, jiwamu yang diberi nama manusia akan piawai membawa diri. paling sedikit, penjaga yang tahu kapan dan untuk apa waktunya sepadan dengan raga yang tersedia. aku akan menerima sebutan sialan, menyebalkan! dalam hidup bagai keputusasaan jarum dalam jerami dengan senang hati, malah. setidaknya, kamu adalah pelaut yang cukup handal karena aku, dari jatuh-bangun-tenggelam-terbentur-salah nama dan angkatan telepon yang kesalnya harus diangkat. bahkan, syukurku akan terpenuhi menjadi sebuah tetes melengkapi lautanmu. aku adalah satu tetes yang akan cukup membuatmu rumpang kapan saja, yang akan kamu kejar dengan bodohnya kapan saja. katakan saja terdengar ganjil. siapa peduli. aku tidak akan menjadi mudah karena aku adalah pembalut kulit dan hati terlukamu dan akan selamanya menjadi tugasku. namaku lebih dari sebuah harap. aku tak akan pernah dan ingin menjadi harap, sebab payah adalah nama kedua dari harap. aku adalah, “kamu bisa mempunyai bagian besar dari kue ini.” atau, “tentu saja. aku punya alasan untuk mengemudi dengan hati-hati dan kembali.” namaku sederhana. sederhana dan akan selalu nyaman. setelah hari itu yang penuh prasangka dan tanda tanya dari dunia yang kamu kenal dan tidak. namaku adalah seorang pelindung dan pahlawan yang gigih nafasnya, nama yang ketika rindumu akan lapar dan kehausan menemui pelepasnya. aku adalah kemenangan dan hadiah kemurahan hati. rumah.
0
Jan 18, 2019
Jan 18, 2019 at 8:53 AM UTC
Akan Ku Peluk Apa yang Berantakan Darimu
perjalananmu pasti cukup melelahkan, bahkan menjadi buta pun bisa melihatnya dengan baik. ini, disini, rebahkanlah kekhawatiranmu yang semakin hari menjadi gusar dalam doa-doa yang tabah. akan kuganti dari setiap amin yang kamu titipkan pada malam diam-diam. hati yang kemarin kamu pertaruhkan untuk menemukanku dalam mereka laut yang kesulitan kamu pelajari siapa Tuhannya, yang telah bersusah payah kamu coba taklukkan. tidak apa-apa. tenggelamlah sesekali, mungkin lima, teguk pilunya, dan pelajari dengan bijak. pada akhirnya, jiwamu yang diberi nama manusia akan piawai membawa diri. paling sedikit, penjaga yang tahu kapan dan untuk apa waktunya sepadan dengan raga yang tersedia. aku akan menerima sebutan sialan, menyebalkan! dalam hidup bagai keputusasaan jarum dalam jerami dengan senang hati, malah. setidaknya, kamu adalah pelaut yang cukup handal karena aku, dari jatuh-bangun-tenggelam-terbentur-salah nama dan angkatan telepon yang kesalnya harus diangkat. bahkan, syukurku akan terpenuhi menjadi sebuah tetes melengkapi lautanmu. aku adalah satu tetes yang akan cukup membuatmu rumpang kapan saja, yang akan kamu kejar dengan bodohnya kapan saja. katakan saja terdengar ganjil. siapa peduli. aku tidak akan menjadi mudah karena aku adalah pembalut kulit dan hati terlukamu dan akan selamanya menjadi tugasku. namaku lebih dari sebuah harap. aku tak akan pernah dan ingin menjadi harap, sebab payah adalah nama kedua dari harap. aku adalah, “kamu bisa mempunyai bagian besar dari kue ini.” atau, “tentu saja. aku punya alasan untuk mengemudi dengan hati-hati dan kembali.” namaku sederhana. sederhana dan akan selalu nyaman. setelah hari itu yang penuh prasangka dan tanda tanya dari dunia yang kamu kenal dan tidak. namaku adalah seorang pelindung dan pahlawan yang gigih nafasnya, nama yang ketika rindumu akan lapar dan kehausan menemui pelepasnya. aku adalah kemenangan dan hadiah kemurahan hati. rumah.
Continue reading...
11
Pernahkah kau bertanya, seakan kau benar-benar ingin tahu? Apa itu resah? Mengapa ada salah? Dimanakah tuan rumah? Siapakah pemilik masalah? Kapankah semua musnah? Atau, Kau benar-benar peduli soal logika? Dan berhenti percaya? Soal keajaiban Yang dulu kau harapkan? Kudengar darimu hanya dusta-dusta Tentang mitos orang tua Kau gigih bertapa, atau apalah namanya Cobalah renung dalam dungumu Yang kau sembah dengan ragu Inilah aku, sang atheis Bertuhan tanpa rengek, dan tangis
0
Apr 8, 2016
Apr 8, 2016 at 7:42 PM UTC
Atheis
AKHI, JIKA BENAR ENGKAU MENCINTAI ISTRIMU... Ijinkan dia berdakwah... Berkumpul dengan akhwat seperjuangan.... Relakan kepergiannya ke berbagai majelis ilmu... Sekalipun itu mengurangi waktunya, untukmu... Banyak suami salah prioritas... Istrinya boleh bekerja di luar rumah... Bebas beraktivitas jika hasilnya menunjang ekonomi keluarga... Bahkan didukung untuk kuliah pascasarjana... Tapi, minta ijin 2 jam saja dalam seminggu untuk ngaji, TIDAK BOLEH? Jangan egois, wahai saudaraku.. Suami memang punya "hak veto" dalam rumah tangga... Keputusannya adalah kewajiban istri mentaatinya... Larangannya adalah keharusan istri meninggalkannya... Maka, gunakanlah kewenangan itu dalam PRIORITAS YANG BENAR... Dakwah itu wajib, bagi pria juga wanita... Doronglah istri ikut berjuang di jalan dakwah... Sesekali ambil alih kerjaannya di rumah agar dia bisa leluasa bergerak... Sudah pasti ini mengurangi kebersamaanmu dengannya... Tapi, percayalah ini hanya sementara... Kelak ada masa bebas bercengkerama dengan yang tercinta... Di dalam surga, dan kalian berdua akan terus bergembira... ﺍﺩْﺧُﻠُﻮﺍ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﺃَﻧﺘُﻢْ ﻭَﺃَﺯْﻭَﺍﺟُﻜُﻢْ ﺗُﺤْﺒَﺮُﻭﻥَ "Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan". (QS. Az-Zukhruf, 43: 70) ‪#‎women‬ and sharia
0
Mar 26, 2015
Mar 26, 2015 at 4:48 AM UTC
Ya Akhi
"Ketika hari itu 100 istri jadi pekerja, Maka hari itu pula 100 harga diri suami hilang! Ketika hari itu 1000 istri jadi pekerja, Maka hari itu pula 1000 harga diri suami hilang! Ketika hari itu Sejuta istri jadi pekerja, Maka hari itu pula sejuta harga diri suami hilang!" Astaghfirulloh... Begitulah sistem DEMOKRASI KAPITALISME memporak porandakan tatanan rumah tangga keluarga Muslim. Kesempatan kerja pabrik dll.. Lebih banyak didominasi pekerja perempuan, Dengan alasan, seorang perempuan lebih nrimo Dibanding pekerja laki2 yg yg suka rese&sering; banyak protes.
0
May 3, 2015
May 3, 2015 at 11:30 PM UTC
Rapat Pawai Akbar
katakanlah, aku celaka tersandung ke dalam lumbung asmara.                                     celaka kah aku mengendap-endap di bawah rumah mu? katakanlah, aku terkutuk seorang yang tak diundang tak semestinya duduk di ruang tamu.                                  terkutuk kah aku membubung asa di atas hampa?                  sadarkah aku         sedang menanti sekarat            dan karamnya harap? dan ku akui, aku ini binatang keparat --berharap dua cincin akan enyah jua dimakan karat. sampai jumpa cinta masa muda, aku akan menanti di ujung tua menyesal, sembari menatap harap dan nyata mustahil bersua. maafkan aku menunggu hingga renta, tak lain karena dirimu di relungku, sintas.
0
Oct 12, 2018
Oct 12, 2018 at 11:16 AM UTC
Cincin karat
sungguhlah rumah adalah tempatku dan aku adalah tempat singgahmu aku tinggal dirumah rumah yang ku ciptakan agar kau bisa terus singgah aku tidak pernah lelah menjadi tempat singgahmu mendengar segala usahamu keluh kesahmu adalah hal yang kusuka saat kamu semak hati aku akan menjadi tempat bernaung membantumu menggapai rasa singgahlah jika sedang risau aku akan bersuka cita menjadi tempat singgahmu pergi lah jika sudah merasa cukup sungguh menunggu adalah hal biasa datang semaumu pergipun begitu aku adalah tempat singgahmu dan aku akan terus menyambutmu dengan meriah
0
Mar 16, 2019
Mar 16, 2019 at 2:11 PM UTC
Tempat Singgah
Darah Biasanya keluar rumah Saat tengah malam Sambil menangis Hanya Untuk bermandikan Seseguk amis Setelah itu, Ia lanjut merajut Duka Atas air maut Yang tak kunjung jatuh Darinya Sama, Suaramu Terdengar kala malam Terisak-isak perih Dan masih berbau darah Tapi setelah kuratapi Sekarang makin legam Lagi-lagi Suaramu dibebani Pagi yang merekah-rekah Dan pada saat selalu saja, Ia akan tergesa membisu basi Menunggu sambutan gulita Keduanya tidak sadar Bahwa Mereka saling Beradu pekat Suaramu tapi Masih percuma Alunannya mengais pedih Langkahnya meringkuk mati Seolah tak tahu Terus tanya Siapakah tuannya Mungkin Ternyata Memang bukan kamu Dan di saat seperti ini Gelap biasanya Keluar terbahak Terbatuk Tertatih meracau rindu Kalau ia lumpuh Dan tak dapat lagi menghentak Suara liar yang kerap Bersenandung pedih Mungkin ini sekedar hantumu Menyanyi Main-main dengan duka malamku
0
Sep 20, 2015
Sep 20, 2015 at 7:19 AM UTC
Sesikat Sakit Gentayangan
Bapak, aku ingin pulang Aku rindu dengan rumah atau ide akan rumah Tapi kau telah mempunyainya. Aku rindu disambut harum masakan buah tangan sang Ibu Tapi kau tak pernah menyicipinya, Ibu tak bisa masak. Aku rindu berduduk diatas kursi kayu yang terletak di ruang makan Tapi kau bahkan tak pernah melakukannya. Kau, tak pernah makan. Aku rindu akan ruang sesak penuh sayang Akan kentalnya keakraban yang melekat di dinding-dinding bisu; yang dalam diam mendengar isak tangis setiap manusia yang menjajalkan diri dalam rumah ini Akan hangatnya cinta kasih yang tergurat diantara bisingnya suara televisi yang kau nyalakan setiap Minggu jam tujuh pagi dan gaduhnya percakapan seorang diri yang terproyeksi dalam tiap benak manusia, lagi-lagi, dirumah ini. Kau tak akan menemukannya disana Aku dan Ibumu ini hanyalah tamu Kau adalah rumahmu Tapi kau adalah bukan tempat singgah Badanmu bak ruang luas tak terbatas Tamu-tamu tak bisa lalu-lalang melalui satu pintu saja Banyak pintu-pintu lain didalamnya namun tak terbuka Ribuan pintu tersebut tertutup adanya Terkunci dengan rapat Namun kuncinya telah kau telan   Dibalik pintu itu, Lagi-lagi ribuan misteri Teka-teki tentang dirimu yang tersimpan dalam boks berbagai macam ukuran Tersimpan terlalu aman Jiwamu adalah fondasi Kebaikanmu harum masakan yang mengundang setiap orang Keingintahuanmu benda mahal; memikat tamu untuk ingin bertualang ke setiap ruang Kenekatanmu—sisi Sang Pembangkang yang kusayang—menantang mereka untuk tinggal lebih lama Empatimu alunan musik yang menyodorkan kenyamanan Namun parasmu, anakku sayang, Matras termahal yang membuat mereka ingin menginap Hati-hati dalam memberi izin Jaga rumahmu Bersihkan Bagiku Istana terbesar di Dunia tak ada nilainya jika disandingkan dengan Rumah yang kau punya.
0
Mar 24, 2019
Mar 24, 2019 at 1:23 AM UTC
RUMAH
Bapak, aku ingin pulang Aku rindu dengan rumah atau ide akan rumah Tapi kau telah mempunyainya. Aku rindu disambut harum masakan buah tangan sang Ibu Tapi kau tak pernah menyicipinya, Ibu tak bisa masak. Aku rindu berduduk diatas kursi kayu yang terletak di ruang makan Tapi kau bahkan tak pernah melakukannya. Kau, tak pernah makan. Aku rindu akan ruang sesak penuh sayang Akan kentalnya keakraban yang melekat di dinding-dinding bisu; yang dalam diam mendengar isak tangis setiap manusia yang menjajalkan diri dalam rumah ini Akan hangatnya cinta kasih yang tergurat diantara bisingnya suara televisi yang kau nyalakan setiap Minggu jam tujuh pagi dan gaduhnya percakapan seorang diri yang terproyeksi dalam tiap benak manusia, lagi-lagi, dirumah ini. Kau tak akan menemukannya disana Aku dan Ibumu ini hanyalah tamu Kau adalah rumahmu Tapi kau adalah bukan tempat singgah Badanmu bak ruang luas tak terbatas Tamu-tamu tak bisa lalu-lalang melalui satu pintu saja Banyak pintu-pintu lain didalamnya namun tak terbuka Ribuan pintu tersebut tertutup adanya Terkunci dengan rapat Namun kuncinya telah kau telan   Dibalik pintu itu, Lagi-lagi ribuan misteri Teka-teki tentang dirimu yang tersimpan dalam boks berbagai macam ukuran Tersimpan terlalu aman Jiwamu adalah fondasi Kebaikanmu harum masakan yang mengundang setiap orang Keingintahuanmu benda mahal; memikat tamu untuk ingin bertualang ke setiap ruang Kenekatanmu—sisi Sang Pembangkang yang kusayang—menantang mereka untuk tinggal lebih lama Empatimu alunan musik yang menyodorkan kenyamanan Namun parasmu, anakku sayang, Matras termahal yang membuat mereka ingin menginap Hati-hati dalam memberi izin Jaga rumahmu Bersihkan Bagiku Istana terbesar di Dunia tak ada nilainya jika disandingkan dengan Rumah yang kau punya.
Continue reading...
36
Lalu lintas jalan padat merayap pengap namun tetap senyap Karena dia menulikan setiap kata-kata di perempatan jalan Pula desah resah mata-mata yang memandang Kunang-kunang kuning itu tiba-tiba melintas tenang Mengambang lembut bagai daun dihanyutkan arus Membius lampu-lampu sein agar berhenti mengedip Malam itu, di perempatan jalan itu cahaya meredup Orang-orang tak tahu menahu, beberapa berandai Indah juga jika dipelihara di pekarangan rumah Satu bangkit lalu berjingkat mendekat Kunang-kunang kuning itu melesat Tiba-tiba semua orang mengejar berlari Ingin agar Kunang-kunang itu dipelihara di rumah Tukang becak, penjaja koran, bos besar perusahaan, mahasiswa, semuanya tak mau mengalah Berlari, menyerobot, menggapai, meraih, mendorong, menginjak, menjambak, mendepak, merusak, menolak. Lelah. Kunang-kunang Kuning menang Tak ada yang berhasil merebutnya Orang-orang pun lesu, menyumpah, dan kembali ke apa yang mereka kerjakan sesaat lalu sambil bergumam "Tak ada Kunang-kunang Kuning di pekarangan rumah" Kemudian semua berubah normal Seperti lalu lintas biasanya Hanya ada aku, yang masih memandang, kemana Kunang-kunang Kuning itu terbang. Aku tahu, bahwa di kota ini, tidak ada rumah yang memiliki pekarangan
0
Nov 18, 2016
Nov 18, 2016 at 1:29 PM UTC
Kunang-kunang Kuning di Remang-remang Jalan
Palembang, Jumat 13 Januari 2012 Aku Menangis Terkadang aku ingin menangis Aku tak tahu mengapa Mungkin karena aku sedang merindukan seseorang Ataukah aku menangis karena bahagia? Ataukah aku menangisi hidupku saja? Yang sangat rumit dan penuh derita? Ataukah aku sedang merindukan keluargaku di rumah? Aku tidak tahu Aku yakin inilah jalanku Aku harus tegar Dan menunggu keajaiban datang
0
May 25, 2012
May 25, 2012 at 2:04 AM UTC
Aku Menangis
Bangunkan aku, aku pemulung yang tak punya rumah Tapi aku masih punya hati tuk merasa Usirlah aku, aku mengotori ruang ini Bagaimanapun, aku masih punya hati Tinggalkan aku, jika tak ada lagi yg mau menungguku di belakang sini Jangan kejar aku, jika ada kesempatan tuk ku berlari Kenanglah aku, seseorang yang berbuat malu Ingatlah aku, sebagai seseorang yang pernah kamu tahu
0
Jun 1, 2013
Jun 1, 2013 at 8:34 AM UTC
ingatlah aku
debu di kaca berbingkai kayu rapuh buat rayap tak berselera makan buatnya tak berselera mengintai wanita sunyi di pekarangan berpagar besi mendung buat ia tak berselera bermain buat ia terdiam di rumah seharian di tingkap pandangnya wanita kecil bermain tawa di tingkap rancangnya pikiran abu akan wanita usia fajar di tingkap ia pandang luapan dahaga pada satu raga sepi di pekarangan berhias rumput pulang ayah datang bawa bidan
0
Jan 10, 2016
Jan 10, 2016 at 9:55 AM UTC
tingkap
Lahir dan besar di desa yang bisa dibilang sangat sejuk Tumbuh dengan aman, nyaman dan bahagia Bermain ke ladang, kebun, sungai, bahkan hampir seperti hutan Selalu aman dan tetap jauh dari bahaya Teman-teman berdatangan ke rumah untuk bermain dan berbagi cerita Berkumpul seperti keluarga besar Lalu aku pergi dari desa dimana aku dilahirkan dan mulai tinggal di tempat yang baru di desa yang baru dengan situasi yang berbeda Aku tumbuh disana dan mengenal berbagai pembaharuan Hari demi hari hingga bertahun-tahun aku menyaksikan berbagai perubahan Dimana banyak perubahan yang sulit dipercaya Hampir segala sesuatu yang aku lihat dan alami sulit dipercaya Hingga timbul perasaan tidak nyaman, gerah, takut, sesak, terancam, tertindas di tempat yang ku sebut rumah Rumah, bukan bangunan yang aku tinggali Tapi disini, di tanah aku berpijak Semua sudah tak lagi sama Hingga muncul dalam otakku Haruskah aku tinggal atau aku tinggalkan? Rumah, Aku merindukanmu
0
Feb 10, 2017
Feb 10, 2017 at 1:46 AM UTC
Rumah
Sore senja Sunyi Rindu akan rumah Ruang hampa Kedua mata menatap jendela Terlihat sepasang burung bersemayam Saling bersenderan Memiliki sesama Cemburu akan kehidupan sepasang burung Naif kah jiwa ini mengelak dari itu? Rindu akan hal yang mustahil Mustahil untuk dirindukan.
0
Nov 10, 2017
Nov 10, 2017 at 7:48 AM UTC
Rindu.