Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"putih" poems
*lagi, aku menulis untukmu. tidak pernah bosan jemari ini menari diatas kertas putih merangkai kata hanya untukmu, seseorang yang lebih berharga dari sebutir berlian termahal di duna ini. teruntuk seseorang yang namanya masih belum mampu aku tulis diatas kertas ini, selamat hari minggu. semoga minggu depan lebih baik dari minggu ini. tenang saja, aku sudah meminta kepada Tuhan untuk menukar seluruh kesedihanmu selama seminggu ke depan dengan kebahagiaanku. ah, tenang saja. aku bisa menahan rasa sedih sebanyak apapun itu. apa kabar? bagaimana senjamu kemarin? apakah mengesankan? ah, sangat disayangkan. bagiku, setiap senja datang mengunjungi mengintip dari sela-sela jendela kamar, sinarnya selalu mengingatkanku kepadamu. aneh, bukan? hah, mengapa setiap hal yang aku lihat selalu mengingatkanku padamu? mau sampai kapan kamu tetap bersarang dibenakku? tapi aku berjanji, setelah kamu selesai membaca surat usang ini, aku sudah melupakanmu dan seluruh kenangan indah tentangmu. tujuanku kali ini adalah untuk mengucapkan terima kasih. terima kasih telah mengajariku bagaimana rasanya dijaga dan diperhatikan. bagaimana rasanya jatuh hati. bagaimana rasanya ditinggalkan begitu saja. bagaimana rasanya mengukir rindu diatas batu. aku ingin berterima kasih kepadamu. dan aku berterimakasih kepadamu. karenamu, aku dapat paham bagaimana rasanya mencintai seseorang tanpa timbal balik. aku hendak pergi. maka itu, aku menulis surat ini sebagai tanda perpisahan denganmu. aku akan pergi meninggalkanmu di belakang. aku akan melepasmu pergi, membiarkanmu mencari kebahaigaanmu sendiri. karena aku akan berkelana mencari kebahagiaanku. aku akan mengikuti kemana angin akan membawaku. aku ingin bebas leluasa mencari penggantimu. tidak mungkin selamanya aku akan hidup di dalam bejanamu. sudah cukup banyak air mata yang tertahan karena diam mengagumi dari jauh. hal itu sudah cukup membuat hati tersayat sangat dalam. bahkan dengan kecupan macam apapun tidak akan memperbaikinya. satu hal yang aku minta darimu. berbahagialah dengan siapapun itu perempuan pilihanmu. hargai dia dan perlakukan dia seperti dia adalah perempuan terakhir yang akan kamu lihat. aku tidak akan pernah berhenti mendoakan kebahagiaanmu. dimanapun kamu berada, berbahagialah. selamat tinggal. terima kasih untuk 1.700 hari ini. aku belajar sangat banyak. aku tidak akan melupakanmu seutuhnya. aku akan selalu mengingatmu sebagai senja favoritku.*
0
Mar 13, 2016
Mar 13, 2016 at 9:12 AM UTC
sepucuk senja januari
*lagi, aku menulis untukmu. tidak pernah bosan jemari ini menari diatas kertas putih merangkai kata hanya untukmu, seseorang yang lebih berharga dari sebutir berlian termahal di duna ini. teruntuk seseorang yang namanya masih belum mampu aku tulis diatas kertas ini, selamat hari minggu. semoga minggu depan lebih baik dari minggu ini. tenang saja, aku sudah meminta kepada Tuhan untuk menukar seluruh kesedihanmu selama seminggu ke depan dengan kebahagiaanku. ah, tenang saja. aku bisa menahan rasa sedih sebanyak apapun itu. apa kabar? bagaimana senjamu kemarin? apakah mengesankan? ah, sangat disayangkan. bagiku, setiap senja datang mengunjungi mengintip dari sela-sela jendela kamar, sinarnya selalu mengingatkanku kepadamu. aneh, bukan? hah, mengapa setiap hal yang aku lihat selalu mengingatkanku padamu? mau sampai kapan kamu tetap bersarang dibenakku? tapi aku berjanji, setelah kamu selesai membaca surat usang ini, aku sudah melupakanmu dan seluruh kenangan indah tentangmu. tujuanku kali ini adalah untuk mengucapkan terima kasih. terima kasih telah mengajariku bagaimana rasanya dijaga dan diperhatikan. bagaimana rasanya jatuh hati. bagaimana rasanya ditinggalkan begitu saja. bagaimana rasanya mengukir rindu diatas batu. aku ingin berterima kasih kepadamu. dan aku berterimakasih kepadamu. karenamu, aku dapat paham bagaimana rasanya mencintai seseorang tanpa timbal balik. aku hendak pergi. maka itu, aku menulis surat ini sebagai tanda perpisahan denganmu. aku akan pergi meninggalkanmu di belakang. aku akan melepasmu pergi, membiarkanmu mencari kebahaigaanmu sendiri. karena aku akan berkelana mencari kebahagiaanku. aku akan mengikuti kemana angin akan membawaku. aku ingin bebas leluasa mencari penggantimu. tidak mungkin selamanya aku akan hidup di dalam bejanamu. sudah cukup banyak air mata yang tertahan karena diam mengagumi dari jauh. hal itu sudah cukup membuat hati tersayat sangat dalam. bahkan dengan kecupan macam apapun tidak akan memperbaikinya. satu hal yang aku minta darimu. berbahagialah dengan siapapun itu perempuan pilihanmu. hargai dia dan perlakukan dia seperti dia adalah perempuan terakhir yang akan kamu lihat. aku tidak akan pernah berhenti mendoakan kebahagiaanmu. dimanapun kamu berada, berbahagialah. selamat tinggal. terima kasih untuk 1.700 hari ini. aku belajar sangat banyak. aku tidak akan melupakanmu seutuhnya. aku akan selalu mengingatmu sebagai senja favoritku.*
Continue reading...
10
tidak disadari, langit yang biru berubah menjadi warna oranye dan ungu muda. perpaduannya pun sangat indah, ditemani pula oleh kicauan burung yang sunyi. selang waktu berjalan, hati semakin berat, pena dan kertas, aku bertemu lagi denganmu. langit yang indah tiba tiba berteriak, seperti singa yang mengaung ditengah ladang. apakah mungkin, bahwa kita melihat langit yang sama? perbedaan waktu yang tidak masuk akal, ingin membuatku menguras air di lautan yang biru, yang menghalangi pertemuan kita. gila, bukan? aku berbicara kepada kertas putih, layaknya kertas ini adalah sahabatku, atau kuping yang selalu mendengar. tangisan hati pun terlalu keras, malam ini. langit yang indah, sekarang bersaturasi, menjadi warna abu abu yang gelap, jadi ini, toh. ini, yang dinamakan berbicara kepada kertas, saat air mata milik senja, turun dari langit.
0
Feb 20, 2019
Feb 20, 2019 at 8:15 AM UTC
air mata milik senja
*Aku lari ke hutan, kemudian menyanyiku Aku lari ke pantai, kemudian teriakku Sepi… Sepi dan sendiri aku benci. Aku ingin bingar. Aku mau di pasar. Bosan aku dengan penat, dan enyah saja kau, pekat! Seperti berjelaga jika aku sendiri Pecahkan saja gelasnya biar ramai Biar mengaduh sampai gaduh Ahh.. ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih Kenapa tak goyangkan saja loncengnya? Biar terderah, atau… aku harus lari ke hutan belok ke pantai?*
0
Jun 9, 2013
Jun 9, 2013 at 4:43 AM UTC
Puisi Rangga
Jakarta, 1986 Wanita berambut cokelat muda sebahu itu terlihat sedang asyik mengamati asap rokok yang ia keluarkan sebelum membuang puntung rokok ke tanah dan menginjaknya. Jalanan di Jakarta memang selalu ramai tapi tak satupun mobil-mobil yang sedang berlalu-lalang itu akan berhenti dan menghentikan apa yang akan ia lakukan setelah jam menunjukkan pukul lima pagi. Masih terngiang di kepala apa yang orang-orang katakan tentangnya selama ini.. sampah, pelacur memang tidak pantas hidup enak, ingat ya, kau itu cuma pelacur ia memejamkan mata sambil perlahan menghitung berapa kali ia telah mendengarkan cacian setiap pulang. Jam yang berada di tangan kirinya masih menunjukkan pukul lima kurang lima belas menit, ya lima belas menit yang ia gunakan untuk akhirnya mengingat perkataan Abimanyu. Laki-laki terakhir yang memberikan segalanya, harta, kasih sayang, dan waktu tapi ia tak dapat menikmati itu semua walau sudah mencoba beribu kali aku tidak akan pernah berubah menjadi laki-laki yang sudah menyia-nyiakanmu ,kau tahu bahwa seberapapun mahalnya berlian apabila yang memakainya tidak pantas maka akan terlihat murah?, kau terlihat cantik dengan apapun, aku melakukan semua ini karena aku tak sanggup melihatmu sedih, aku akan terus mencintaimu walau kau tak akan pernah bisa membalas perasaanku yang hanya akan selalu ia balas dengan aku sudah tak percaya cinta atau aku sudah tak punya hati hatinya telah membeku dicabik-cabik sejak dulu, sebelum bertemu Abimanyu. Air mata perlahan mengalir dari mata yang tertutup itu, lima menit lagi batinnya sebelum mengusap air mata yang sudah membasah pipi dan meluruskan gaun putih rancangan desainer terkenal yang diberikan sebagai hadiah untuknya tak dipungkiri gaun itu bernilai lebih dari penghasilannya selama satu bulan namun apalah arti uang disini? Ia kembali melirik jam yang sekarang menunjukkan dua menit sebelum pukul lima, diatas jembatan layang itu masih ramai oleh hiruk-pikuk kendaraan.  Tenanglah tak akan ada yang mampu menyelamatkanmu. Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, tanpa berpikir panjang ia melepas pegangannya dari pagar yang menopang tubuh dan terjun bebas tanpa ada perlawanan terhadap gravitasi. Tak semua bidadari hidup bahagia di surga
0
Mar 5, 2016
Mar 5, 2016 at 7:57 AM UTC
Bidadari Fajar
Jakarta, 1986 Wanita berambut cokelat muda sebahu itu terlihat sedang asyik mengamati asap rokok yang ia keluarkan sebelum membuang puntung rokok ke tanah dan menginjaknya. Jalanan di Jakarta memang selalu ramai tapi tak satupun mobil-mobil yang sedang berlalu-lalang itu akan berhenti dan menghentikan apa yang akan ia lakukan setelah jam menunjukkan pukul lima pagi. Masih terngiang di kepala apa yang orang-orang katakan tentangnya selama ini.. sampah, pelacur memang tidak pantas hidup enak, ingat ya, kau itu cuma pelacur ia memejamkan mata sambil perlahan menghitung berapa kali ia telah mendengarkan cacian setiap pulang. Jam yang berada di tangan kirinya masih menunjukkan pukul lima kurang lima belas menit, ya lima belas menit yang ia gunakan untuk akhirnya mengingat perkataan Abimanyu. Laki-laki terakhir yang memberikan segalanya, harta, kasih sayang, dan waktu tapi ia tak dapat menikmati itu semua walau sudah mencoba beribu kali aku tidak akan pernah berubah menjadi laki-laki yang sudah menyia-nyiakanmu ,kau tahu bahwa seberapapun mahalnya berlian apabila yang memakainya tidak pantas maka akan terlihat murah?, kau terlihat cantik dengan apapun, aku melakukan semua ini karena aku tak sanggup melihatmu sedih, aku akan terus mencintaimu walau kau tak akan pernah bisa membalas perasaanku yang hanya akan selalu ia balas dengan aku sudah tak percaya cinta atau aku sudah tak punya hati hatinya telah membeku dicabik-cabik sejak dulu, sebelum bertemu Abimanyu. Air mata perlahan mengalir dari mata yang tertutup itu, lima menit lagi batinnya sebelum mengusap air mata yang sudah membasah pipi dan meluruskan gaun putih rancangan desainer terkenal yang diberikan sebagai hadiah untuknya tak dipungkiri gaun itu bernilai lebih dari penghasilannya selama satu bulan namun apalah arti uang disini? Ia kembali melirik jam yang sekarang menunjukkan dua menit sebelum pukul lima, diatas jembatan layang itu masih ramai oleh hiruk-pikuk kendaraan.  Tenanglah tak akan ada yang mampu menyelamatkanmu. Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, tanpa berpikir panjang ia melepas pegangannya dari pagar yang menopang tubuh dan terjun bebas tanpa ada perlawanan terhadap gravitasi. Tak semua bidadari hidup bahagia di surga
Continue reading...
6
Palembang, 19 Juni 2012 Apa yang salah pada diriku? Membuka lembaran lama, mengenangmu Menangis lagi, mengingat kamu Membayangkan wajahmu Mengingat raut senyum indahmu Apa yang salah pada diriku? Mencuri bagian hidupmu Menyimpannya di memoriku Apa yang salah pada diriku? Bergerak pun enggan Berjalan pun aku tak mampu Pikiran ini tak terfokus Karena tergenangi kenangan yang lalu Apa yang salah pada diriku? Menunduk bersandar dagu pada lutut Berdoa, meminta pada-Nya Apa yang salah pada diriku? Berucap pun aku tak sanggup Hanya bisa mendengar lagu, dan aku ingat kamu Untuk berbaring lagi punggungku hampir runtuh Duduk pun tak bisa lagi Apa yang salah pada diriku? Melototi layar putih Hanya ada putih Apa yang salah pada diriku? Mata ini tak mau tertutup, tak bisa tidur Terjaga siang dan malam Aku bernafas seakan tak ada lagi udara Aku melihat seakan tak ada lagi hal yang nyata
0
Jun 18, 2012
Jun 18, 2012 at 3:36 PM UTC
Apa Yang Salah Pada Diriku?
pukul empat sore tadi seorang pria tua penuh keriput diwajahnya pergi melangkahkan kaki rentanya keluar dari pondok jati tempat semalam ia terlelap lengkap dengan pakaian rapih kebesarannya, sepatu boot dan tak lupa topi baret miliknya diambilnya sepeda jengki bercat kusam dengan sedikit bercak karat pada besi besinya yang disandarkan oleh empunya pada pagar kayu depan pondok digiringlah sang sepeda jengki menuju jalan sambil melangkah menuju tempat tujuannya selang beberapa saat, ia tunggangi sepeda jengki itu ia kayuh sambil berpeluh pada dahi sampai ke tubuh berbulir menetes tak ada ragu lirih ia dendangkan lagu yang telah ia hafal selama hidupnya saat ia masih muda yang dapat memacu semangatnya dulu saat akan hendak pergi berperang bersama kawan-kawannya dulu sesampainya ia di Jalan Kusumanegara di depan taman berpagar tembok putih di-remnya sepeda jengki kusam itu tepat di tepi seorang wanita yang sudah terduduk rapi menggelar dagangannya "Saya beli kembangmu, cukup lima ribu saja." itu katanya sang wanita penjual lekas membungkuskan permintaannya dengan senyum dibibir sembari memberikan bungkusan kembang kepada pria bersepeda jengki itu, ia lalu bertanya "Kalau boleh saya tahu, untuk siapa kembang ini Bapak beli?" ujarnya santun hormat sang pria bersepeda jengki terdiam, ia lalu tertawa kecil tawa khas seorang di usia senjanya "Saya mau jenguk kawan seperjuangan saya, hari ini 20 Desember, tepatnya 68 tahun yang lalu, ia berpamitan ingin menuju dunia Qadim milikNya saat kami sedang berjuang untuk Negara" jawabnya Pria bersepeda jengki itu lalu undur diri, dititipkannya sepeda tua miliknya pada sang wanita penjual kembang, ia lalu berjalan kaki memasuki gerbang tembok bercat putih bertuliskan Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Daerah Istimewa Yogyakarta dengan langkah mantap dan juga senyum mengembang di wajah keriputnya " Assalamu'alaikum, Aku njaluk sepuro yo Di Mas, Kepriye kabarmu? Ayo gek tak ceritani kabar Indonesia saiki! "
0
Sep 23, 2016
Sep 23, 2016 at 12:19 PM UTC
Sepenggal Cerita 68 tahun
pukul empat sore tadi seorang pria tua penuh keriput diwajahnya pergi melangkahkan kaki rentanya keluar dari pondok jati tempat semalam ia terlelap lengkap dengan pakaian rapih kebesarannya, sepatu boot dan tak lupa topi baret miliknya diambilnya sepeda jengki bercat kusam dengan sedikit bercak karat pada besi besinya yang disandarkan oleh empunya pada pagar kayu depan pondok digiringlah sang sepeda jengki menuju jalan sambil melangkah menuju tempat tujuannya selang beberapa saat, ia tunggangi sepeda jengki itu ia kayuh sambil berpeluh pada dahi sampai ke tubuh berbulir menetes tak ada ragu lirih ia dendangkan lagu yang telah ia hafal selama hidupnya saat ia masih muda yang dapat memacu semangatnya dulu saat akan hendak pergi berperang bersama kawan-kawannya dulu sesampainya ia di Jalan Kusumanegara di depan taman berpagar tembok putih di-remnya sepeda jengki kusam itu tepat di tepi seorang wanita yang sudah terduduk rapi menggelar dagangannya "Saya beli kembangmu, cukup lima ribu saja." itu katanya sang wanita penjual lekas membungkuskan permintaannya dengan senyum dibibir sembari memberikan bungkusan kembang kepada pria bersepeda jengki itu, ia lalu bertanya "Kalau boleh saya tahu, untuk siapa kembang ini Bapak beli?" ujarnya santun hormat sang pria bersepeda jengki terdiam, ia lalu tertawa kecil tawa khas seorang di usia senjanya "Saya mau jenguk kawan seperjuangan saya, hari ini 20 Desember, tepatnya 68 tahun yang lalu, ia berpamitan ingin menuju dunia Qadim milikNya saat kami sedang berjuang untuk Negara" jawabnya Pria bersepeda jengki itu lalu undur diri, dititipkannya sepeda tua miliknya pada sang wanita penjual kembang, ia lalu berjalan kaki memasuki gerbang tembok bercat putih bertuliskan Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Daerah Istimewa Yogyakarta dengan langkah mantap dan juga senyum mengembang di wajah keriputnya " Assalamu'alaikum, Aku njaluk sepuro yo Di Mas, Kepriye kabarmu? Ayo gek tak ceritani kabar Indonesia saiki! "
Continue reading...
35
Cinta aku walau mati Masih hidup Dalam tulisan ku Dalam setiap bibit kata cinta Melalui dakwat air mata Dan setiap barisan lara Cinta aku walau sudah lama pergi Masih bernafas Dalam bait bait permata Sulaman nafas cinta pertama Di atas sehelai selendang Yang dulu mengikat erat akal dan nyawa Cinta aku tetap hidup dan bernafas Di atas empat penjuru putih batasan terakhir nyawa cinta ini Yang jasad sudah lama hilang Ditelan masa manusia
0
Jun 9, 2018
Jun 9, 2018 at 12:54 PM UTC
Masih (Still)
Sukarkah sekeping  hati seorang wanita itu di fahami? Is it too difficult To understand a woman's heart? Just her piece of heart Hati wanita A woman's heart Kadangkala keras membatu Sometimes too hard Bak kerikil di jalanan Just as hard as the stones in the streets Sekeuat  ketulan ais di Antartika as tough as an iceberg in Antartica.. Hati wanita A woman's heart Kadangkala dingin membeku Sometimes as cold as ice Kadangkala luka  merah berdarah Sometimes as red as it bleeds Kadangkala duka bungkam dan lara Sometimes too sad, almost grieving Kadangkala tenang putih suci bak salju Sometimes too calm, too pure as white as the snow Kadangkalanya selembut bulu pelepah Sometimes as soft the feathers Hati wanita A woman's heart Damai yang dicari Always Searching for a peaceful soul Langit tinggi ingin di gapai Searching in the sky so high Terbang jauh mencecah awan.. Flying up in the blue blue sky Bahagia yang didamba... Every woman seeks happiness Hanya tersemat di dalam hati Yet locking the desires  at heart Tersimpan seribu rahsia wanita misteri....... A woman's heart like an untold tales the safest place where secrets and mysteries are sealed.. Selamanya di hati seorang bernama wanita tightly sealed in a woman's heart forever.....
0
May 7, 2014
May 7, 2014 at 1:35 PM UTC
Hati Wanita/ A Woman's heart
Rasa ini terlalu abu-abu Tidak hitam Juga tidak putih Kau sungguh kelabu Tak tau kapan berlabuh Tak tau kapan luka sembuh Kau hanya kembali ketika butuh Hanya perasaanku yang utuh Tidak dengan dirimu yang rapuh Amarah dan rinduku kini menggebu
0
Jan 29, 2018
Jan 29, 2018 at 9:02 AM UTC
Abu-abu
Kerak dinding merapuh Menyapuh bata, menyangainya Alamat hujan atas gersang Laksana injil bagi pemeluknya ---------------------------------------------- Ngengat dan sesak beraduk Alasan bagi kuda putih yang tak lagi berlari Hari ini ia merangkak Kesakitan atas luka entah dimana Sakit tampak dari air matanya Tetesan berawai dan putus asa
0
May 28, 2016
May 28, 2016 at 12:28 PM UTC
Saksi kepahitan
Kutarik secarik kertas putih Kutumpahkan tinta hitam Kutulis namamu Kuceritakan segalanya Cintaku kepadamu yang terawali layaknya sebuah kepompong Hingga menjadi sebuah kupu-kupu Terbang melintas dunia Berakhir dengan kematian Tetes demi tetes tinta Menyusun kata per kata Membentuk sebuah kalimat yang ramai Mewakilkan mulutku yang membisu Untuk siapa kubuat tulisan ini? Tulisan yang tak lebih melibatkan amarah dan kebencian Namun ditulis dengan sedikit rasa cinta yang masih melekat Putih suci ditimpah hitam penuh dosa Bisik Sang Hati " Lipat dan buang. Sudah cukup sudah. " Jemari bergerak melipat surat itu Berbentuk perahu Perahu kertas. Raga berjalan ke tepi laut Seakan jiwa yang menggerakkan Mulut yang berbisu mengucapkan sebuah doa Tangan melepaskan surat itu Perahu kertas, Bawalah mimpi buruk ini berlayar denganmu Berlabuhlah di neraka Agar dosa dan penyesalan ikut terbakar disana.
0
Nov 18, 2017
Nov 18, 2017 at 4:32 AM UTC
Perahu Kertas.
Hari berawal dari matahari menari di ufuk timur, tak perlu mengucap “hai” untuk sekedar hadir. Membias dengan apapun miliknya Tatapku kosong dengan sejumlah tanya apakah yang dibuatnya hari ini jadi perbedaan. Semoga kita dijauhkan dengan tanya yang sukar jawabnya. Semoga hangat pagi senantiasa dipihakmu. Selamat pagi hijau, biru, putih, bening dan zat lainnya
0
Jul 16, 2016
Jul 16, 2016 at 3:00 AM UTC
Perempuan yang Mengucap “Hai”
Dalam kerlap kerlip dunia malam Debuman musik keras menggema dalam telinga Menggeliat diantara tubuh para adam Mengumbar buah dada Menebar wewangian erotis Menarik para lebah mendekat Jalang bukan sembarang jalang Mendesah indah hanya bermodalkan tubuh molek Selembar uang sengaja tersangkut dalam lingerine Senyuman diberikan Membuat libidoku tak terbendung lagi Mengoyak pakaian minim yang menghalang akses untuk menjelajah tubuhmu Kau mendesah lagi Melodi indah mengiringku menuju surga dunia Peluh yang menyatu malam itu menjadi saksi Betapa indahnya tubuhmu bak bidadari Kuhantam titik titik nikmat dalam tubuhmu Kau bernyanyi, nyanyian erotis terindah yang pernah kudengar Kutatap wajahmu, rona merah dan peluh menyatu Wajah sempurna Penglihatanku berkabut Sekelebat cahaya putih menyilaukan terlihat Ketika kita bersama menikmati indahnya surga dunia Benih benih janin tak sanggup kubendung lagi Kau pun mendesah lagi Ah, kau memang bukan sembarang jalang
0
Dec 30, 2016
Dec 30, 2016 at 10:38 PM UTC
MALAM
Antara dua jalan buntu Penentuan hati dan minda sekeras batu Ku menerka ini hanya mainan perasaan Persis jiwa-jiwa yang hiba kekosongan Larilah wahai nafsu Carilah serangkap wahyu Cantaslah pucuk cemburu Kerna manusia semakin layu Lenturnya segenggam iman Toksik meracuni setiap teman Doalah waktu masih memberi ruang Mewarnai tiap hitam putih perjalanan Telan segala perit mencari abdi Tiada yang kekal apatah lagi kendiri Senyuman kekal menjadi sedekah amalan Tuhan Maha Pengampun, manusia dahagakan amalan.
0
Apr 22, 2017
Apr 22, 2017 at 7:41 PM UTC
Dua Jalan Buntu
Andaikata aku adalah seekor burung Terbang membentangi praja Menapaki ribuan ruang impian Melekang langit senja nan dekat Tak akan kulakukan Andaikata aku adalah seekor burung Yang tentu ialah Aku rindu dengan potret otentikku Kedua kaki, kedua tangan, akal dan pikiran Andaikata aku adalah manusia Menyandang kedua sayap putih bak malaikat Tanpa lelah, tanpa sakit, tanpa keluh Peran satria menjaga fisik juga hati Angan jauh sebab manusia itu aku Andaikata aku berjaya nanti Ada di puncak emas dengan berlian sebagai udaraku Seraya senyum lagak hormat Akankah aku merindu sosokku yang sederhana kala itu?
0
Jun 4, 2018
Jun 4, 2018 at 12:01 PM UTC
Realitas Bunga Tidur
seluas alam fikiran yang berkelana, aku terbang melintasi dinding-dinding putih, meratapi langit-langit hingga tak berdaya, biar saja sepi, toh aku sudah tidak peduli, toh aku sudah menikmati perlahan keheningan yang mencengkam ini, walaupun tidak bahagia, setidaknya semua tenang untuk sementara.
0
Jan 17, 2019
Jan 17, 2019 at 1:21 AM UTC
Indahnya Sepi
I am but a rainbow splash on a canvas later photographed and printed in black and white Aku hanya warna pelangi kau percik di kanvas lantas menjadi santapan lensamu dan akhirnya kau cetak hitam putih
0
Mar 25, 2014
Mar 25, 2014 at 1:57 PM UTC
B&W (Bilingual)
Putih janggut si Bapak Waktu Menguban menuakan diriku Ditengah kerumunan hantu-hantu Yang mengisik rahasia, Menggoda batu-batu tajam Di hamparan padang rerumputan Berkilau kelabu Sehitam langit malam Lalu semua mati gantung diri Padahal hantu-hantu tak bisa mati.
0
Nov 19, 2016
Nov 19, 2016 at 12:41 PM UTC
Menjadi Tua
I am your mamak kinda girl, roti telur, roti planta, banjir, sambal lebih. I am your HS Cafe kinda girl, nasi putih makan, ayam goreng, kuah campur, sayur, kentang, nescafe ais bungkus. I am your warong kinda girl, nasi goreng kampung, telur goyang. I am your Kelisa manual kinda girl, anything that moves is fine, as long as we get there in one piece is good. But I am also your, "how are you?" kinda girl, where I expect you to tell me stories, share insights, and discuss your day. I am also your, "random question..." kinda girl, where I expect thoughts and opinions, discussions and deep conversations. I am also your, "tahu tak..." kinda girl, where I want to tell you my thoughts and opinions, for us to discuss further in our deeper conversations. Because I am more than just "that kinda girl". I am more than an introduction, or rising action, I am the ****** to your tale and I expect a falling action, which eventually leads to our resolution. I am a simple girl with simple satisfactions, but I only have one motivation, I cannot tolerate mediocrity when it comes to ideas and solutions. I expect love, power, and compassion, because it is with you that I expect my conclusion, which will eventually lead to our next destination, a new exposition.
0
Mar 26, 2016
Mar 26, 2016 at 2:34 PM UTC
Your mamak kinda girl
Hujan lebat telah turun Berganti matahari yang cerah terbit Sekarang biru Aku sendiri berjalan di tangga pelangi Lalu awan putih menjemputku Aku hanya duduk manis di atasnya Merasakan angin yang berbisik lembut ditelingaku Mengisyaratkan dan mencoba meyakinkanku, untuk jangan takut Sementara burung bernyanyi riang Menemaniku untuk berjalan-jalan Aku baru saja tiba di depan sebuah istana Penuh bunga bunga yang mekar Dan menyambutku Lalu aku ingin tinggal di sana Jika aku bisa..
0
Aug 20, 2017
Aug 20, 2017 at 12:48 PM UTC
Aku dan khayalku
putih warna duplikat hatimu merah merepresentasikan perasaanmu biru unsur yang menyertaimu setiap hari, cerah! kuning, tebaran keceriaan yang kau percik selalu jingga, warnamu yang selalu kurindu kau membuatku sejuk, dengan hijaumu merah muda adalah gambaran kasih yang kau beri akutak sedang memuji pelangi tak juga coba memikatnya aku tak sedang menjual kata tanpa sadar, orang ini sedang mendeskripsikan dirimu kau tak perlu tersipu apalagi coba untuk membalikannya cukup saja dengarkan jika tak senang, bolehlah tutup saja telingamu
0
Aug 21, 2017
Aug 21, 2017 at 12:48 PM UTC
warna
Kala malam sudah semakin gelap Sinar bintang mulai berbinar Kepala terangkat membelalak langit yang kian lungai berkedip kedip Ada malam yang aku rasa masih terang karena lampu taman Gelap masih sembunyi berselisih paham dengan cahaya listrik Ada senja juga yang kadang sulit kutemukan Jujur saja, sangat langka akhir akhir ini Sungguh jarang aku melihat jingganya yang begitu matang bergelora bersama langit Begitu indah Ada juga pagi yang aku bayangkan udara bersih dan putih Namun, kau tahu bukan. Sudah ada asap yang bermunculan berselih juga dengan kabut Aku juga berfikir itu kabut Nyatanya asap sampah pinggir jalan Sunggu pilu.. Jadi, apa yang bisa kamu bayangkan dari pengandaian itu? Tidak semua hal yang katanya begitu akan jadi begitu Tidak semua tanya akan dijawab benar Tidak semua hal yang kau bayangkan sesuai ekspetasi dan bayanganmu Setinggi galaksi bima saktipun kau bermimpi jika memangtuhan tidak mengiyakan Ya.. sudah Apa boleh buat Cari Cari pertanyaan yang lain yang mampu dijawab Yang tak akan membuatmu kecewa Yang bisa kau perlihatkan Yang bisa kau puja (Santunan malam selasa)
0
Aug 20, 2018
Aug 20, 2018 at 12:07 PM UTC
Bagaimana kalau..
Sahabatku selalu bilang, hidup adalah sebuah gedung yang ditempa oleh mimpi. Mimpi adalah pilar terkuat untuk hidup. Struktur gedung sahabatku sangat apik bagai dirancang oleh arsitek terkemuka, setiap sudutnya dikalkulasi dengan baik, interior gedung tertata dalam estetika yang berkelas. Setiap lantai gedung itu, memiliki cerita mimpi yang berbeda. Namun, gedung milik sahabatku tak pernah lepas dari sebuah warna cat yang ia sebut sebagai motivasi. Nama gedung sahabatku adalah Kebahagiaan. Sehari-hari gedung itu dipenuhi tawa dan senyum tiap orang yang berlalu-lalang di dalamnya. Tak jarang gedung itu mendapati kunjungan oleh Mimpi Yang Terkabul yang membikin gedung itu makin meriah dibuatnya. Sahabatku selalu memberiku petuah bagaimana cara merawat gedungku, hidupku, dengan memiliki mimpi yang harus kuraih, meskipun jauhnya di ujung lautan sana, dan tetap harus ku kejar walaupun kemampuanku hanya sebatas merangkak. Ketika ia bicara tentang pilar, ia tak tahu aku tak ingin punya gedung. Kematian berbicara bagai gedung yang direnggut dari eksistensi. Dirubuhkan fisiknya. Dihancurkan. Namun, aku tak ingin punya gedung. Aku tak ingin ada di dalam lanskap kehidupan yang rumit ini. Skenario merawat, menjaga, dan mengasihi sebuah gedung membuatku bingung dan pusing. Gedungku bahkan tak bisa dibilang gedung, hanya empat tembok kumuh yang lebih cocok disebut kandang. Aku tak punya pilar, hanya ada empat onggok tiang bambu yang perlahan dimakan rayap. Lantainya bukan dari marmer, tapi tanah becek yang bau ketika dicium hujan, tidak ada orang tertawa atau tersenyum di dalam gedungku, hanya ada aku dan rasa lapar yang berteriak sampai telingaku lelah. Lantas, ketika aku terbangun dari tidurku yang tak pernah nyenyak dan disambut kegelapan, tanpa gedungku, tanpa ocehan sahabatku yang berkata sembari menutup mata dari kenyataan yang ku alami, aku bernapas lega. Dalam incognito yang ku peroleh, aku merasa tenang. Terombang-ambing di tengah ada dan tiada. Menyatu dengan hitam, bersaru dengan putih. Aku tersenyum dan perlahan berterima kasih kepada Tuhan yang akhirnya memahami bahwa aku tak punya mimpi, selain menjadi tidak ada. Namun, hatiku mencelos ketika Tuhan berbisik dengan lirih, bahwa aku hanya punya batas waktu hingga empat puluh delapan jam sebelum kembali pada kehidupan yang rumit. “Tuhan,” kataku, “untuk apa aku ada, ketika orang-orang sibuk dengan gedung, sementara yang ku punya hanya seonggok bilik?”
0
Jun 23, 2020
Jun 23, 2020 at 10:03 AM UTC
Gedung
Sahabatku selalu bilang, hidup adalah sebuah gedung yang ditempa oleh mimpi. Mimpi adalah pilar terkuat untuk hidup. Struktur gedung sahabatku sangat apik bagai dirancang oleh arsitek terkemuka, setiap sudutnya dikalkulasi dengan baik, interior gedung tertata dalam estetika yang berkelas. Setiap lantai gedung itu, memiliki cerita mimpi yang berbeda. Namun, gedung milik sahabatku tak pernah lepas dari sebuah warna cat yang ia sebut sebagai motivasi. Nama gedung sahabatku adalah Kebahagiaan. Sehari-hari gedung itu dipenuhi tawa dan senyum tiap orang yang berlalu-lalang di dalamnya. Tak jarang gedung itu mendapati kunjungan oleh Mimpi Yang Terkabul yang membikin gedung itu makin meriah dibuatnya. Sahabatku selalu memberiku petuah bagaimana cara merawat gedungku, hidupku, dengan memiliki mimpi yang harus kuraih, meskipun jauhnya di ujung lautan sana, dan tetap harus ku kejar walaupun kemampuanku hanya sebatas merangkak. Ketika ia bicara tentang pilar, ia tak tahu aku tak ingin punya gedung. Kematian berbicara bagai gedung yang direnggut dari eksistensi. Dirubuhkan fisiknya. Dihancurkan. Namun, aku tak ingin punya gedung. Aku tak ingin ada di dalam lanskap kehidupan yang rumit ini. Skenario merawat, menjaga, dan mengasihi sebuah gedung membuatku bingung dan pusing. Gedungku bahkan tak bisa dibilang gedung, hanya empat tembok kumuh yang lebih cocok disebut kandang. Aku tak punya pilar, hanya ada empat onggok tiang bambu yang perlahan dimakan rayap. Lantainya bukan dari marmer, tapi tanah becek yang bau ketika dicium hujan, tidak ada orang tertawa atau tersenyum di dalam gedungku, hanya ada aku dan rasa lapar yang berteriak sampai telingaku lelah. Lantas, ketika aku terbangun dari tidurku yang tak pernah nyenyak dan disambut kegelapan, tanpa gedungku, tanpa ocehan sahabatku yang berkata sembari menutup mata dari kenyataan yang ku alami, aku bernapas lega. Dalam incognito yang ku peroleh, aku merasa tenang. Terombang-ambing di tengah ada dan tiada. Menyatu dengan hitam, bersaru dengan putih. Aku tersenyum dan perlahan berterima kasih kepada Tuhan yang akhirnya memahami bahwa aku tak punya mimpi, selain menjadi tidak ada. Namun, hatiku mencelos ketika Tuhan berbisik dengan lirih, bahwa aku hanya punya batas waktu hingga empat puluh delapan jam sebelum kembali pada kehidupan yang rumit. “Tuhan,” kataku, “untuk apa aku ada, ketika orang-orang sibuk dengan gedung, sementara yang ku punya hanya seonggok bilik?”
Continue reading...
11
#ss1h aku padamu.. :)
0
Jun 30, 2013
Jun 30, 2013 at 12:05 AM UTC
merah putih biru
Pergi lagi ia keluar rumah, mencari spasi di kerumunan manusia. Dipesannya air penghambat kantuk, Dituangkan pada gelas putih bercorak ayam kuno. Ia ceritakan kesenangannya menemukan tempat itu, diajaknya orang lain mengingat masalalu yang pahit untuk mengangkat bahak yang panjang. Penat benar hatinya... Dipaksanya mereka guyon tapi pikirannya kebingungan. Sesekali lamunan anak mudanya dibaca orang lain. Pura-pura ia ikut tertawa lagi; dan ia menyendiri B_A 30 Januari 2019
0
May 14, 2019
May 14, 2019 at 6:07 PM UTC
+20