"puncak" poems
Di suatu tempat, di suatu hari
Kini ku beranjak dewasa
Dan malam ini aku berfikir
Hormonku telah mencapai puncak
Aku butuh bercinta
Ya... memang gila diriku ini
Tapi... aku benar-benar dan sangat ingin
Ku butuh pelukan seorang pria
Di setiap malamku yang dingin
Ku butuh ciuman mesranya
Untuk menghangatkan tubuh ini
Adakah pangeran yang mau melakukannya untukku?
Setiap malam aku kesepian
Hanya bermimpi...
Bercumbu dengan bayangannya
Memeluknya... menciumnya
Begitu mesra menyentuh jiwa
Gila! Gila! Gila!
Memang gila fikiranku ini
Tapi tak bisa ku hindari
Saat nafsu ini melumuri jiwaku
Pikiranku... dan cintaku
Begitu jauh...rumah pangeranku
Tak sanggup sendiri aku ke sana
Sekali lagi...
Pelukan...
Sentuhan...
Kecupan...
Dan saat-saat bercintalah yang akan ku tunggu
Hingga sang pangeran tiba
Jan 20, 2012
Jan 20, 2012 at 8:28 AM UTC
“I am just not afraid of being alone,”
Dia datang dari bumi sebelah sana, jauh ke sini untuk mencari lupa pada dunia. Pada suatu sore menjelang senja, dia menyari bahwa bentuk ganda muncul karena rasa takut pada tunggal semata.
Menjadi sendiri bisa membawa resah, terlebih ketika semua berkata ini sudah waktunya. Harga diri bisa membantah, namun di dalam hati takut memang menjadi jawab untuk sebuah tanya; ketika kondisi belum menyajikan jalan untuk berpasangan, apa yang sebenarnya di khawatirkan?
Bila sendiri berupa satu kalut yang perlu dihindari, adakah untuk meraih tenang memang lewat menjadi dua? Bila bahagia adalah satu titik yang telah dilimitasi, apakah untuk mencapainya harus melalui sebuah jika?
Para pendaki bisa menemukan damai pada puncak walau tanpa kawan, petapa sengaja menyepi demi bertemu tenang, biksu bisa merasa teduh walau tanpa sandingan, mereka yang khusyuk menemukan tentram dalam sujudnya yang panjang. Sendiri, walau secara manusiawi.
"Now, I’m just enough with myself,"
Melihat keberpasangan sebagai sebuah hasrat memang tak akan pernah bertemu lengkap, karena bersua dengan damai hanya lewat kata cukup. Setelah kata cukup dipungut, menjadi sepasang bukanlah lagi sekedar penawar kalut.
"So, isn’t this enough?"
Mar 6, 2015
Mar 6, 2015 at 4:14 AM UTC
Acara dalam rangka memperingati hari lahir (harlah) Ke-65 PW Fatayat NU itu diikuti hampir 38 peserta se-Jatim yang meliputi perwakilan seluruh pimpinan cabang Fatayat NU.
Hasil desain peserta diperagakan model andalan mereka. Tak kalah dengan model profesional, para model Fatayat NU ini juga tampak percaya diri berlenggak-lenggok di atas caltwalk.
Dalam lomba fashion show ini, peserta dari PC Fatayat Bojonegoro meraih juara pertama, sedangkan pemenang kedua diraih oleh peserta dari Nganjuk dan pemenang ketiga dari Fatayat Bangil.
Menurut desainer muslimah yang dinobatkan jadi juri lomba ini, Ana Farhasy, ada beberapa poin dimiliki peserta Bojonegoro sehingga meraih juara.
"Kendati bertemakan busana pesta muslimah, namun desainnya simpel dan elegan. Itu menjadi kelebihan sendiri daripada peserta lain yang banyak menonjolkan aksesoris sehingga tampak berlebihan," katanya.
Selain itu, peserta dari Bojonegoro menampilkan tema gold kayu jati. "Batik yang digunakan asli Bojonegoro," jelas Ana.
Sementara itu, Ketua Fatayat NU Jatim Hikmah Bafaqih mengatakan selain lomba fashion show, kegiatan lain juga digelar dalam rangkaian harlah Fatayat NU itu.
"Ada lomba menulis artikel, lomba menjadi presenter, dan bazar produk unggulan (handycraft) kreasi kader Fatayat di seluruh cabang Fatayat se-Jatim," katanya.
Ia menambahkan, puncak peringatan Harlah Fatayat NU dilaksanakan di kantor PWNU Jatim pada Minggu, 17 Mei 2015. Rencananya, acara puncak dihadiri Menpora Imam Nahrawi, Wagub Jatim Saifullah Yusuf, dan Ketua DPRD Jatim.
"Ketua Umum PP Fatayat NU Hajah Ida Fauziyah tidak bisa hadir karena berbarengan dengan acara prakongres Fatayat di Bandung," katanya.
Mbak Hikmah, sapaan akrabnya, mengemukakan tema yang diambil harlah kali ini adalah "Ikhtiar Fatayat NU menuju Indonesia Berkeadaban".
"Karenanya kita akan terus berusaha untuk melakukan berbagai karya nyata, tentu kita bangun ulang keadaban kita dengan Islam ahlussunnah wal jamaah atau yang kita kenal dengan Islam Nusantara," katanya.Read more here:www.marieaustralia.com/mermaid-trumpet-formal-dresses | www.marieaustralia.com/one-shoulder-formal-dresses
May 17, 2015
May 17, 2015 at 10:37 PM UTC
Papa sekarang sudah di puncak
Turun kebawah bukan tugasnya.
Mama hanya bisa terseret
Laksanakan tugas seorang pasangan.
Apadayaku yang berada di sini..
dalam, dalam, di bawah tanah.
berteriak jua tak sampai
bisingku tak kuasa menyentuh
Semata-mata mengandalkan kacang;
puluhan bungkus tuk bahagia
Semata-mata mengandalkan air;
puluhan gelas tuk air mata
Mama mengingatkan tuk bersua
Nyatanya bersua itu lemah,
dan anak 16 tahun tidak kuat.
Gaduh, gaduh, gaduh saja bisanya.
Semak pun belukar menjadi-jadi
sebuah bentuk proteksi yang nyata.
Biarkan durinya berfungsi;
bak pedang tuk mereka.
Feb 13, 2015
Feb 13, 2015 at 8:53 AM UTC
Andaikata aku adalah seekor burung
Terbang membentangi praja
Menapaki ribuan ruang impian
Melekang langit senja nan dekat
Tak akan kulakukan
Andaikata aku adalah seekor burung
Yang tentu ialah
Aku rindu dengan potret otentikku
Kedua kaki, kedua tangan, akal dan pikiran
Andaikata aku adalah manusia
Menyandang kedua sayap putih bak malaikat
Tanpa lelah, tanpa sakit, tanpa keluh
Peran satria menjaga fisik juga hati
Angan jauh sebab manusia itu aku
Andaikata aku berjaya nanti
Ada di puncak emas dengan berlian sebagai udaraku
Seraya senyum lagak hormat
Akankah aku merindu sosokku yang sederhana kala itu?
Jun 4, 2018
Jun 4, 2018 at 12:01 PM UTC
Matanya yang kalap di kotak
menghampas debur debu dari atap ke puncak dahan. Menutup temaram lampion.
Berusaha menampik getar di dada yang telanjang. Itu-kini
sampai kesekian lintas kelokan. Terlewati.
Enam uang logam terbuai lendir lintah saat kududuki kursi tak ubahnya senjakala & engkau sadar. Berdiam & terus bungkam
menunggu henti nyanyian puan nun sumbang
berkaca daku yang terpasung, itu di abu
letupan yang mencandu hujam asam &
melulu jadi bisu-kita. Di renda setengah tertutup/ semua orang sudah tahu.
Perihal hening yang memang tak pernah membuah harap.
Hilangnya alkisah kemuning pala kambing yang enggan memerah.
Walau bertumpu akan cita dalam almanak musnah-karam
/ tiada henti di jaga oleh wajah-wajah muram;
di garis vertikal
di persegi dua dimensi/ hitam
pun segitiga/ jajar genjang
& semut kita mengerubung oval. Seraya penonton menyilang dua lengan di dada
di lingkar rafia sementara ini semakin terasa di Kursi. Meja. Cangkir. Jendela. Cat. Kuas & Tv. Lentera. Buku. Radio. Senter
/beringin di jiwa.
Jul 6, 2019
Jul 6, 2019 at 3:46 PM UTC
Apa yang ku mahu
Hanya ku yang tahu
Biar ada datang membelenggu
Akan datang angin menyatu
Lari,lari pergi saja diriku
Jauh ke puncak aku tetap berlalu
Aku jiwa lama termangu
Bosan, letih jadi diriku
Kerna ada saja yang rasa tahu
Lebih dari rohku.
16 April 2012
Jun 26, 2018
Jun 26, 2018 at 2:54 AM UTC
antologi itu
adalah
aliran
air deras
dari puncak
gunung
manakala
puisi
adalah
anak-anak
alunan
buih lunak
di kaki
terjunan.
Dec 26, 2018
Dec 26, 2018 at 2:26 AM UTC
merasa seperti tidak layak untuk siapapun
merasa kosong hampir setahun
merasa cuma diri saja yang melewati
titik termuak kah ? tidak tau
titik tercapek kah? tidak tau
mungkin masih di dasrar
mungkin akan ada puncak kalut yang lebih tinggi
atau
mungkin ini sudah hampir berakhir
gaada yang tau,
bahkan diri sekalipun
sempat berharap mencoba
mengembalikan keutuhan
kepada orang lain
tapi, gagal.
mau sampai kapan?
Jul 18, 2021
Jul 18, 2021 at 2:47 PM UTC