"petang" poems
Matahari mungkin bosan
Bintang mungkin terlalu ramai
Bulan mungkin kurang hingar-bingar
Aku mungkin tidak tahu
Mereka bukan Tuhan, dan aku
Adalah hantu dalam tanah;
Tak tahu apa-apa akan yang lampau
Dan yang akan datang kemudian
Seandainya lebih dahulu aku memahami
Kalau kita saling mencintai senja,
Alangkah baiknya bila di awal
Kita mengurungkan niat suci yang menggelora
Untuk dapat menjadi bulan
(Yang ternyata terus mengejar dalam senyap,
Namun,
Tak sekalipun dapat ia gapai kasih dari petang.)
Alangkah baiknya bila dahulu
Kita terbenam bersama-sama
Dalam genangan nila dan lembayung
Itu jauh lebih indah.
(Terbenam, bukan gugur.)
Tapi, sudahlah,
Matahari mungkin bosan
Bintang mungkin terlalu ramai
Bulan mungkin berserah pada gemerlap
Dan aku tak tahu apapun
Tentang kuasa Tuhan.
Feb 8, 2016
Feb 8, 2016 at 10:15 AM UTC
Tuhanku pernah berbisik kepadaku
*"Berbahagia orang yang sudah mati,
karena tak ada beban untuk mereka.."*
*"Namun ingatlah..
Lebih bahagia orang yang belum ada didunia ini,
karena tak ada yang mereka berikan
atau tinggalkan didunia ini.."*
Aku terhentak dengan bisik itu
Dengung nya masih terasa dikuping hingga petang ini
Aku berfikir memang benar..
Semua yang hidup didunia begitu malang..
Mau atau tak mau
mereka harus memilih//
Jadi dermawan baik hati
atau
Penikam handal penghabis darah teman sendiri
Hai, teman..
Apakah tidak lelah menutup mata?
Berlagak bekerja..
Sengaja menyapu debu dan bangkai kedalam karpet
"Lihat sayang, kotoran itu tetap ada..
Hanya saja memang tak terlihat
Namun bekasnya terrcium jauh kesana"
***Lebih malangnya lagi
Kita masih berharap
Berharap menjadi pemenang
Padahal ikut lomba pun tidak..***
Oct 4, 2016
Oct 4, 2016 at 12:06 PM UTC
*Kuharap renggang antara kita hanya sejauh epsilon, sayangku.
Tak ada sela bahkan tuk menilik pelupuk mata masing-masing.
Dan jika limit epsilon menuju nol
Maka ini tenggat kita, sayangku
Bekukan ponsel pintarmu
Abaikan saja waktu menyiram tanaman petang ini
Lebih-lebih biarkan jemuran dibasahi gerimis
Kita tak punya banyak waktu, sayangku
Mari nikmati
Sedemikian sehingga gairah renjana menemani percakapan masa lalu kita*
May 17, 2016
May 17, 2016 at 9:11 PM UTC
/1/
Merindu berarti meranggas
Bak guguran detik demi detik
Pada tangan pedih di petang hari
Merindu berarti meradang
Saat senandung semu
Dari semua kisahmu
Menorehkan luka
Pada jejak lisanku
Yang tak kunjung bermuara
Karena kita yang bertualang
Hanyalah jiwa dalam deru
Jerit
/2/
Siapa yang tinggal dalam gelap
Jika bukan sekumpul hantu
Dan kepulan sisa ragamu
Yang denyut nadinya
Sangat susah untuk kuraba
Untuk apa membunuh diri
Bila ternyata
Tak pernah hidup
Di cinta hingar bingar
Di pilu tak berpijar
Sumbu tubuhmu
Akankah menyala lagi
Apabila ku dekap dalam ratap?
/3/
Terbitnya kabut
Setelah fajar
Takkan bisa
Gantikan
Kenanganmu dalam redup
Mar 19, 2016
Mar 19, 2016 at 3:43 AM UTC
kita bertemu dikala petang
dua jari saling bersilang
aku minta izin bertualang
kau beri restu penuh sayang
dengan itu ku bertualang
tak peduli akan halang rintang
semua halang aku terjang
dan diujung senja aku menang
wajah penat berganti riang
sang aku menjadi sang petualang
semua halang kan ku kenang
untuk diceritakan kepada sang sayang
sebelum sang senja hilang
kupenuhi janji untuk pulang
dan dikalau aku datang
aku disambut sang mata berlinang
Mar 2, 2019
Mar 2, 2019 at 12:49 AM UTC
di rumahku
pemandanganku
semuanya kamu
di teleponku
pendengaranku
tentang kamu
pengerat berlari
kamu sendiri
pengerat pergi
kamu tidak cari
setelah kami ini
ada lagi
setelah kami pergi
suaramu meninggi
8 pagi sampai 5 petang
posisimu selalu terlentang
dibelai-belai penuh kasih sayang
bila telat jam makan kau mengerang
sembari menonton sinetron di TV
sembari menghitung sisa uang jajan kemarin
sembari memakan indomie
ketika pulang dini hari
semuanya, kau jadi saksi
Jul 27, 2018
Jul 27, 2018 at 5:56 PM UTC
Bersama suara tawa
Terdengung hasrat hati sedikit kata
Dia yang berbaik hati
Dan saya yang bersakit sakit
Merangkak dibawah kebaikannya
Menggumam kala dia tertawa
Gapai senyumnya yang tak kasat hati
Bahkan, rela tenggelam dalam pasir khayalnya
Hm, apakah ini saatnya?
Pengakuan akan hasrat hati sebenarnya?
Mengenai rasa dan karsa
Di akhir petang ini,
Bersama riakan air dan sapaan ombak
Bahkan ditemani oleh anak kepiting lucu
Dan lembayung surya sebagai saksi
Saya, sang khalayak yang tengah berdiri
Memintanya untuk berhenti
Baik dalam melangkah, ataupun berlari
Karena saya akan mencari sisi ujung lembayung surya yang lain
Dan dia tak perlu tahu jika memang tak ingin
Terima kasih
Aug 7, 2019
Aug 7, 2019 at 11:56 AM UTC
Teruntuk jiwa yang begitu hampa,
Cinta dicari untuk mengisi
Mengapa luka yang malah ditorehkan?
Ku menghela dan bertanya lagi
Bagaimana mengisi,
Bila yang indah berujung perih?
Malam berlarut gelap memudar,
Mendalam pikiran yang tak terlelap,
Kembali bertanya tentang rasa,
Apakah sepi itu nyata?
Lembayung langit dikala petang,
Menyendiri bukan cara ku,
Namun sakit yang pernah singgah,
Rasa takut telah tertanam.
Apr 28, 2018
Apr 28, 2018 at 3:14 PM UTC
Segelas susu cokelat panas
Selembar roti tawar
Ritual pagi sebelum berkabar
Embun hingga petang
Lara hingga ria
Tanggal muda hingga tua
Pertanyaan dari Ibu masih sama, bagaimana cuaca hari ini?
Nov 15, 2020
Nov 15, 2020 at 11:38 AM UTC
Mulai mengelilingi lautan pagi ini
Berusaha menjernihkan pikiran
Mencoba mengumpulkan akal sehat
Sembari menemani nelayan berlayar
Membayangkan beberapa hal menarik
Bersamamu
Berlayar bersama
Hingga petang lalu menikmati beberapa lauk pauk disamping lautan
Berulang kali mengurungkan impian
Demi kenyataan
Yang membungkam ekspetasi
Hanya perjalanan waktu yang dapat menjawab semua
Sembari merenungkan cara agar kau dapat disampingku kembali
Jul 2, 2019
Jul 2, 2019 at 6:41 AM UTC
kursi panjang atau sofa panjang?
lebih ke kursi panjang deh, tidak empuk soalnya
tapi masih nyaman
sembari ditemani kamu dan boba
dari pagi sampai petang
masih betah saja berbicara
tetapi kamu teringat kewajiban
sudah lewat ashar, hampir magrib
lalu segera kamu pamit, takut ketinggalan
lalu punggungmu adalah hal yang kulihat terakhir kali
terimakasih, dan maaf ya
dari aku yang melamun dan menimbun banyak pertanyaan
Jul 12, 2020
Jul 12, 2020 at 2:25 PM UTC
Ada banjir di suatu petang,
banjir yang paling kutakuti.
Banjir air sudah biasa,
banjir yang ini luar biasa.
Kenangan di mana-mana.
Banjir basah di mata,
banjir pilu di hati,
banjir rindu di ulu.
Nov 17, 2022
Nov 17, 2022 at 7:46 PM UTC