Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"pasangan" poems
Ya Tuhan Berikanlah aku jodoh seperti Ayahku Yang mencintaiku meskipun tahu putrinya banyak kekurangan Yang selalu mendoakan yang terbaik dan tak mengijinkan hati putrinya terluka Ya Tuhan Ijinkan aku memilih pasangan seumur hidupku, yaitu seperti Ayahku Yang tak pernah melukai hatiku dan memanjakanku bagai Putri Ya Tuhan Pertemukanlah aku dengan jodohku yang seperti Ayahku Yang akan melindungiku dari bahaya apapun Yang takkan melukaiku dengan ucapan kasar Ya Tuhan Aku membutuhkannya sekarang
0
Feb 9, 2015
Feb 9, 2015 at 11:13 AM UTC
jodoh seperti Ayah
JOGJA “Jogja sedang berusaha menutupi kesedihan karena penyesalannya, buktinya akhir-akhir ini Jogja ramai sekali” “Untuk apa Jogja bersedih? Bukankah banyak yang mencintainya selama ini? Buktinya Jogja bisa dengan mudahnya tebar keramahan kesana-kemari kemudian mendapatkan banyak hati.” JAKARTA “Jakarta sudah tidak kuat lagi menahan sakit perasaannya hingga ia menangis, buktinya kemarin hujannya turun deras sekali” “Untuk apa Jakarta menangis? Bukankah Jakarta begitu kuat? Buktinya ia tahan mendengar suara bising dari banyak pasangan kekasih yang melempar janji-janji palsu selama ini.” BANDUNG “Bandung bingung menanggapi apa yang terjadi terhadap Jogja dan Jakarta, buktinya ia hanya bisa diam.” “Tidakkah kau tahu bahwa bandung selalu bersuara? Tetapi selama ini suaranya tersamarkan oleh suara hujan. Buktinya suaranya tidak bisa dibuktikan.”
0
Dec 15, 2017
Dec 15, 2017 at 2:11 PM UTC
Percakapan sepasang kekasih
ini ceritanya jejak si bucin 'dasar bucin !' 'mau mauan aja, bucin !' 'jangan bucin kenapasih !' salah menyampaikan sayang ? salah menyuarakan cinta ? salah mengekspresikan kasih ? itu semua salah ? terlebih terhadap pasangan sana sini memandang, bucin kenapa ? berlebihan ? ya. demi botol nestle kemarin mungkin berlebihan tapi tidak juga apakah lebih baik pistol dan pisau daripada bunga dan pita ? iya saya juga bingung bucin dianggap remeh seperti benda yang harus dilepeh ada apa si dengan bucin ? makhluk hidup yang mengekspresikan rasanya kan ? ah tidak tau tapi semenjak aku bertemu dia aku tidak apa disebut bucin karena membuat lengkung di bibirnya salah satu pencapaian sudah ya, pokok pikirannya tidak dapat. sudah pusing. hahaha. salam bucin !
0
Dec 1, 2018
Dec 1, 2018 at 7:01 AM UTC
bucin
Papa sekarang sudah di puncak Turun kebawah bukan tugasnya. Mama hanya bisa terseret Laksanakan tugas seorang pasangan. Apadayaku yang berada di sini.. dalam, dalam, di bawah tanah. berteriak jua tak sampai bisingku tak kuasa menyentuh Semata-mata mengandalkan kacang; puluhan bungkus tuk bahagia Semata-mata mengandalkan air; puluhan gelas tuk air mata Mama mengingatkan tuk bersua Nyatanya bersua itu lemah, dan anak 16 tahun tidak kuat. Gaduh, gaduh, gaduh saja bisanya. Semak pun belukar menjadi-jadi sebuah bentuk proteksi yang nyata. Biarkan durinya berfungsi; bak pedang tuk mereka.
0
Feb 13, 2015
Feb 13, 2015 at 8:53 AM UTC
Untitled
Disana, Diantara bisingnya kerumunan kota, Aku berdiri sejenak, Mendengar alunan musik mengendus sajak. Beberapa pasangan mata menoleh, Menutur, menyinyir, Mengikuti bayangan dosa lama Yang telah tenggelam, Dilahap oleh manisnya senyum Dan tawa para badut malam. Lepuh, rasanya. Lilin-lilin yang menginduk di kulitku kian meletih Teriak pedih tak kunjung hari Terhambur sudah harapan palsu ini.
0
Jan 19, 2018
Jan 19, 2018 at 10:53 AM UTC
Kecemasan Tak Kunjung Kala
memang aku tak pantas aku bukan yang bisa dimiliki memiliki pasangan jiwa yang bisa yang mampu.. selalu kuingat kamu malam ini yang penuh dengan hati gegana.. aku sekarang percaya kamu adalah bisa.. berbohong bukanlah pilihanku hati ini berteriak seolah berkata ..bahwa memang tidak ada yang layak setelah setahun berlalu sudah kulihat yang ada.. tidak ada dan tidak ada aku tak mengerti mengapa hati ini terus berteriak.. seolah tidak ingin tidak ada kamu disini hati memang membutuhkanmu hati memang tidak bisa menolak ..karena hanya kamu yang mampu berjalan hingga kiamat nanti dan hanya dirimu yang mampu menyakiti jiwa dan ragaku takkan ada yang bisa takkan pernah.
0
Oct 7, 2016
Oct 7, 2016 at 2:27 PM UTC
takkan pernah (wouldn't ever) // [bahasa]
Semarang; Disini aku merindukanmu. Katanya tidak ada penyesalan Nyatanya memang tidak ada harapan Malam semakin menyeramak, Pasangan muda-mudi makin memadat. Bersemara di Semarang katanya. Biarkalah dia pulang, Lalu kembalilah setahun kemudian, Sambil membawa sepercik senyuman sejuta luka.
0
Dec 28, 2018
Dec 28, 2018 at 10:05 AM UTC
Se◾ma◾rang
Oh, Lihatlah! Kamu bersama pasangan barumu! Berjalan diantara kerumunan sambil memegang tanganmu! Menggengam tangan kecilmu dan juga hatimu! Oh, Indahnya! Kamu tersenyum bersama pasangan barumu! Meninggalkan semua yang ada dipikiranmu! Mencubit pipimu jika ia mau! Oh, Astaga! Aku masih mencintaimu! Tapi kita berdua tau bahwa aku tidak akan pernah bisa kembali kepadamu! Buanglah perasaanmu jauh-jauh! Oh, Sungguh! Janganlah kembali kepadaku! Karena kita berdua tau, bahwa aku sudah tidak pantas bersamamu!
0
Dec 19, 2018
Dec 19, 2018 at 9:20 AM UTC
Oh, Lihatlah!
Cinta kembali muncul saat itu Bersamaan dengan senyuman pasangan itu Tatapan mata mereka bertemu saat itu Yang satu pernah mencintai Yang satu pernah dicintai Cinta kembali muncul saat itu Bersamaan dengan semburat oranye diujung barat dunia Digantikan dengan gelapnya malam bersama terangnya bintang.
0
Aug 11, 2018
Aug 11, 2018 at 8:26 AM UTC
Cinta kembali.
Saat dunia menuntutmu, yuk duduk sebentar. Mungkin kamu lelah dengan tuntutan orang tua mu yang bercita-cita supaya kamu mendapatkan nilai tinggi, atau beban tanggung jawab yang memberatkan pundakmu, atau tuntutan duniawi yang selalu membuatmu resah dengan masa depan, atau melihat kanan kiri ke mereka yang sudah berlari kencang di depan. Mungkin kamu takut, apa yang akan terjadi di masa akan datang? Apa kamu akan lulus tepat waktu? Apa kamu akan mendapat kerjaan? Apa kamu akan mendapat pasangan? Sudah, kamu sudah berusaha keras. Yuk, duduk dulu. Sini bersinggah denganku sambil minum kopi hangat dan menikmati malam yang dekat. Saat mentari tiba, ayok kita mencoba lagi bersama.
0
Oct 24, 2018
Oct 24, 2018 at 10:30 AM UTC
Mencoba