"pasang" poems
The State of My Tagalog:
Stuttering.
Guess that's what you can call it.
The insecure prose that curls downward
On my notebook.
It reeks of bit
And piece
And syllable.
Singular
Because language
After language
After language
Enter my mind
And slip it
Just as quickly,
Leaving only
Fragments.
Oh, the frustration
As I ask
For loose change
From
My sister cashier.
I can't even ask for
The right amount
In Tagalog nowadays.
"Singkwenta."
"Bente."
That adds up to 75, I think.
Passing score on my
Report card too.
My self-graded Filipino class.
Don't even know
How I managed
To spell "Ibarra,"
"Tanikala," "himagsikan,"
"Liwayway..."
I'd sing and not spell,
If they never caught
At the bottom of my throat.
-------------------------------------------
Ang Kalagayan ng Aking Tagalog:
Nauutal.
'Yan ang pwede **** sabihin sa ‘kin.
Walang tiwala sa sariling gawa,
Patunong pababa ang mga salita
Sa aking kwaderno.
Ito’y sumisingaw ng piraso
At bahagi
At pantig.
Nag-iisa
Dahil wika
Bawa’t wika
Bawa’t wika
Ay pumapasok sa aking kalooban
At umaalis
Ganun ding kabilis,
Naiiwan ang mga
Kaputol lamang nito.
O, kay inip
Habang ako’y humihingi
Ng barya
Kay Ateng Kahera.
‘Di ko nga kayang
Humingi ng tamang halaga
Sa wikang Pilipino ngayon.
“Singkwenta.”
“Bente.”
Ito ay pitompu’t lima, ata.
Pasang awa rin
Sa aking report kard
Sariling pagmamarka sa Filipino.
‘Di ko nga alam
Kung paano 'kong
Naisusulat ang “Ibarra.”
"Tanikala," "himagsikan,"
"Liwayway…"
Nais kong kantahin at huwag lang sulatin,
Kung ‘di lang man silang sumasabit
Sa ilalim ng aking lalamunan.
Sep 22, 2014
Sep 22, 2014 at 10:31 AM UTC
Para sa ulap na di ko maabot
Para sa pasang di magamot-gamot
Para sa halik na di malilimutan
Para sa akalang hanggang akala nalang
Para sa ibong di makalipad
Para sa pangarap na di ko matupad
Para sa bukas na di ko na masilayan
Para sa ating hanggang ikaw at ako nalang
Para sa bagyong di matapos-tapos
Para sa hawak na nagmumukhang gapos
Para sa panaginip na di ko mabitawan
Para sa sanang hanggang sana nalang
Oct 20, 2015
Oct 20, 2015 at 12:18 PM UTC
***Jika kau tanya siapa aku
Bagaimana harus kujawab?***
*Tiada hari tanpa kukenakan kedok tebal ini
Menebar senyum, canda, berpesta
Aku meraung sambil tertawa
Riasan mata dan bibir dengan berbagai opsi warna
Jangan! Jangan terlalu pucat juga jangan terlalu mencolok
Nanti orang tidak senang
Kau kan harus memuaskan setiap mata
Jangan lupa pasang tameng itu tanggal demi tanggal
Jika tak lalai kalungkan secercah pamor dan aga
Bagaimana jika terlalu pucat?
Ah ya orang tidak suka
Cakap nista kan menghardik
Memekik
Menghamun
Siapa monyet abu kucam menjijikkan didepanku?
Namun jika terlalu mencolok
Jua hinaan berkunjung ada
Biar ku beritahu
Mereka tak suka kau lebih darinya
Aku benci dunia
Aku berantakan
Kecurian
Namaku hilang dimakan cacian
Bagaikan karang tertutup berjebah rumput lautan
Aku mahkota yang hilang
Ah! Omong kosong semua!
Enyah kau kepala cemar
Umbi harus kembali didekat akar
Aku berkenan rujuk atas jasadku
Biar aku melalak tinggal abu
Aku enggan gemang
Aku punya Sembilan nyawa
Jika kau tanya siapa aku
Aku namaku
Jangan berani-berani hina nama itu!
Marcapada boleh berlimpah belang dan muka dua
Aku jijik serupa dengan dunia*
May 11, 2016
May 11, 2016 at 8:54 AM UTC
Inderalaya, 27 Agustus 2014
Seorang gadis kebingungan di antara kerumunan orang dewasa yang asyik menikmati pesta dansa yang diadakan penguasanya
Matanya biru terang, namun jauh di lubuk hatinya, ia begitu kelam
Seorang yatim yang ditinggalkan ibundanya tuk melayani pria yang bukan pasangannya
Gadis itu terpaku, hanya sendiri di tengah-tengah manusia lain berdansa berpasangan
Namun dia hanya sendirian
Musik telah terlalu lama menyeberangi gendang telinganya
Otot-otot di kepalanya mulai berontak tuk membuat gadis itu pergi meninggalkan tempat ia berada
Namun ia hanya diam, matanya memancar sorot sangat kebingungan
Pikirannya terbang jauh menelusuri kenangan saat ia masih balita dibawa Ayahnya pergi ke taman paling indah di negaranya
Dentuman keras kaki-kaki manusia yang masih berdansa tanpa lelah dan tanpa jeda
Menyadarkan sekali lagi bahwa gadis itu masih sendirian
Kaki gadis itu serasa tak mampu lagi tuk melangkah
Maka ia mulai membuat gerakan tak berarti pada kedua tangannya. ke kanan dan ke kiri, mengitari tubuhnya
Semakin lama gerakan tangannya semakin cepat dan kini gadis itu menari pada akhirnya
Sekali lagi, ia menari sendiri, berputar-putar bagai roda yang diputar pedal sepeda
Kini semakin cepat gadis itu berputar-putar
Semakin cepat
Semakin cepat
Semakin makin cepat
Gadis itu menutup matanya, ia bahkan dapat merasakan detakan jantungnya
Ia memutar makin cepat dan sangat cepat
Sampai akhirnya di antara putaran yang cepat itu, ia berteriak
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH
Ia kemudian terjatuh di pelukan Ayahnya
Sang Ayah yang telah lama pergi meninggalkannya
Sang Ayah kini kembali, namun tiada satupun manusia di sana menyadari kehadirannya
Pesta dansa terhenti dan semua pasang mata tertuju pada pemandangan tak biasa di tengah-tengah mereka
Sang Gadis sedang berdansa dengan Ayahnya
Suasana menjadi hening, hentak kaki manusia yang sedang berdansa kini benar-benar sunyi
Oh kelamnya hidup ini
Aug 27, 2014
Aug 27, 2014 at 12:43 AM UTC
Palembang, 3 November 2011
Aku bersabar . . .
Tetap berusaha dengan penuh harap
Supaya bisa melihat wajah mereka
Mendengar suara mereka
Menyaksikan kekompakan mereka yang sangat aku cinta
Aku tidak menangis . .
Hampir,
tetapi ku hapus air mata dan ku pasang senyum bahagia ku
tersenyum sesekali, tertawa bersama mereka
Aku tidak mengerti bahasa mereka
Tapi aku mengetahui yang mereka bicarakan
Aku tidak pernah bertemu mereka
Tapi aku bisa merasakan mereka sangat dekat
Aku tidak mengenal mereka
Tapi aku sangat mencintai mereka
Dari dulu hingga sekarang rasa ini tak akan berubah
Meskipun aku belum beruntung
Doa membantuku memberitahu-Nya
Bahwa aku sangat merindukan mereka
Sekarang,,,
Aku sedang memandang mereka
Merekam setiap kata, gerak, dan ekspresi mereka
Hal terindah yang pernah aku rasakan
Terima Kasih Tuhan, , ,
Hadiah ku datang
Created by. Aridea P
Nov 3, 2011
Nov 3, 2011 at 11:57 AM UTC
"Cahaya redup itu umpama semesta alam."
birunya naungan langit fajar
ketika tetes embun hadir di atas permukaan daun
pada hari itu kau berujar
"Pernahkah kamu tahu bahwa gelapnya mengisahkan beribu kisah?"
yang ada suaraku bungkam oleh pertanyaanmu
gaungnya terngiang mengisi sudut hampa telingaku
sebuah kubus berisi ruang kosong tak beraksara
ada sorot matamu yang terjebak di dalamnya
"Pernahkah kamu sentuh sisi gelap yang bersembunyi itu?"
pernah
taman kecil berisi bunga warna-warni dalam suaramu yang sepi kusam, kota lama yang redup di tengah peradaban
kuperhatikan rambut ikal panjangmu menjilati tengkukmu
sambil disiuli angin yang bernyanyi pelan, begitu tenang
"Atau yang tidak sengaja kamu sembunyikan?"
"Ralat, yang sengaja kamu sembunyikan."
matamu mengerling menerawang memandang langit Juni
apa lagi yang kamu dambakan dari gelap pada pagi secerah ini?
"Cahaya redup umpama semesta alam, gelapnya mengibarkan beribu ilham."
jemarimu cepat berdansa dengan senar begitu cermat
ingat pertama kali dua pasang mata sendu ini berkenalan
dalam gelap dalam redup
lahir melodrama di tengah rintik tangisan langit bulan kedua
"Gelapnya mengibarkan seribu ilham. Gelapnya mendatangkan pelangi di tengah tulisan dalam buku kelabuku."
diremasnya jemariku, lalu tenggelam dalam beribu rasa
bunga-bunga merekah membentangkan senyum sang surya
apa lagi yang kudambakan dari gelap pada pagi secerah ini?
satu pertanyaan kubisikkan untuk langit biru pada bulan Juni
apakah hadirku sudah cukup bagi hari-hari gelapmu?
lalu, jemarimu meremas jemariku lebih keras
seolah tak pernah ingin lepas.
Oct 2, 2017
Oct 2, 2017 at 8:53 AM UTC
jangan amuk datang di sela hening, hujan
resah masih melaut di tengah jalan
jangan angin bisikkan hina, hujan
pijak hawa kenyang makan terpaan
burung tak bisa terbang jadi makanan hewan
atap masjid berhamburan masih kumandang azan
jangan rintik sendiri di atas pasang
cari sampai gersang tak dapat sayang
deras tepi jalan teduh sendiri
linang sampai malam ditinggal mati
Jan 10, 2016
Jan 10, 2016 at 9:53 AM UTC
Di perjalanan yang kau dan aku tempuh
Mencari makna tentang kata kita
Di tengah semarak laskar kuning menggemuruh
Romantika ganjil antara dua pasang mata
Masih banyak petualangan yang menanti
Ekspedisi kupu-kupu atau jelajah taman satwa
Di atas bis ini kau dan aku temukan teman sejati
Layaknya anak kecil, bersama tertawa
Bait-bait ini mungkin tak mengandung arti
Bagi mereka yang tak pernah mengalami
Baik-baik kau simpan rahasia ini dalam hati
Begitupun aku, jauh di selubuk memori
Jul 22, 2014
Jul 22, 2014 at 11:45 AM UTC
Palembang 27 Maret 2017
Untuk diriku sang penikmat kopi
Aku telah bangun saat fajar masih terlelap
Kemudian aku membuka jendela agar embun menatapku
Ku biarkan tamu pagi nan sejuk menyapu rambutku yang pirang
Seketika itu aku teringat tuk menyeruput kopi di gelas favoritku
Segelas Capuccinno hangat di tanganku sekarang
Mulai ku teguk sambil ku pejamkan mata
Ku rasakan manisnya krimer di lidahku
Mengingatkanku pada kamu
Pemanis di dalam hidupku
Aku hendak bekerja seperti biasanya
Kini mentari menantangku untuk menakhlukkannya
Ku pasang perisaiku dengan lengkap
Kemudian ku berpikir tuk mendapatkan segelas Caramel Frappe tuk menyejukkan hari ini
Tak terasa mentari kini telah lelah tuk bersinar
Sehingga membuat dunia kian gelap
Aku seduh Black Coffee tanpa gula
Tak ku hiraukan rasa pahitnya ketika menyentuh lidahku
Lebih pahit mana dengan kenyataan aku hidup tanpa cintamu?
Mar 27, 2017
Mar 27, 2017 at 12:49 AM UTC
Bahkan hembusan angin berbahana
Dua tiga pasang jiwa bercakap
Tertawa pun berteriak
Bila mata terpejam tenangnya
Alam tak lagi bisu
Kau dan aku
Mengunci tatapan dan suara
Kita adalah bisu
Diam dalam kesunyian yang kekal
Debaran jantung berdetak sepi
Jangankan seulas senyum
Mata saja enggan berbicara
Lantas satu di antara kita akan sadar
Diam juga bagian dari percakapan yang tidak berujung.
Jun 1, 2018
Jun 1, 2018 at 12:43 AM UTC
Matalinhaga ang kahapon,
ang nagdaang panahon:
kapeng mainit na pinalalamig, hinihipan
pero di malag-ok, nakakapaso sa lalamunan
Tila alon sa dalampasigan
itinataboy ng pampang
ngunit bumabalik ang mga ala-alang
pilit itinatapon, kinakalimutan.
Mga tagpong akala’y isang dipa lamang
tila ang pagitan
ng lupa at kalangitan
ngunit nang tatawirin na’y
bangin pala ang kailaliman
walang tulay na magdugsong
sa sanlibong katanungan
sa mga gumuhong moog
at nadurog na diyos-diyosan.
Sa sulok ng balintataw
isang paslit ang natanaw
tumatakbo’t humahabol, sumisigaw
tinatawag niyang “Tatay!”
iyong nakalagak, isang bangkay
sa kabaong na ipapasok, ihihimlay
sa nitsong pintado ng puting lantay
- labi ng aking amang hinagilap na suhay
Sa lamay ng patay,
ang kapeng barako ay buhay
bumubukal, walang humpay
maalab ang pakikiramay,
sawsawan ng tinapay
Sa lamay ng patay
nagsisikip man ang dibdib
magkunwari’y kailangan
nagdurugo man ang puso
lakas-loob ang kaanyuan
Habang umaagos ang litanya
sa labì ng punong magdarasal
pumapatak ang ulan ng luha
walang puknat ang “Bakit?”, nag-uusisa
Hindi napapahid ng panyong pinipiga
ang hapdi ng sugat sa naulilang diwa
lalo’t ang bayaning inakala
ay pasang-krus pala ng inang dinakila
Matalinhaga sadya ang kahapong nagdaan,
pelikulang kulay sepya, kumupas na sa kalumaan:
Lumamig na ang inuming sa burol ay itinungga
Tahimik na silang nagtungayaw ng sumbat at sumpa
Sa malayo’y kumakaway ang palaspas ng payapa
Nagpahinga na rin ang ilaw na sa aki’y nagkalinga
Sumisilip sa alapaap ang impit na sinag
Naglalaho na ang mga bituin sa liwanag
ng unti-unting pagsabog ng araw na papasikat
At sa pagbangon, bagong umaga’y may pahayag
Gigisingin akong lubos, tila tunog ng gong
ng bagong-luto **** pagsalubong
Isang lag-ok muli, aasa, susulong
kung saan man hahantong . . .
Nov 16, 2017
Nov 16, 2017 at 9:43 AM UTC
Pilu dibalik rindu kembali menggebu,
Hujan di bumi sama derasnya.
Kukira aku melupakanmu,
Ternyata hati ini kembali keliru.
Hati mana yang tidak berdetak,
Melihat dua pasang mata seindah samudra?
Ucapan membisukan dari bibirmu,
Sayang, rindumu mengusikku.
Kacau, Hati ini.
Sudah berapa kali disakiti?
Malam dan Siang berganti,
Lekaslah kau pergi.
Pilu dibalik rindu kembali menggebu,
Rintik hujan di bumi sama derasnya.
365 hari berlalu,
Sudahkah kau merindu?
Dec 18, 2019
Dec 18, 2019 at 9:57 AM UTC
Disela musik yang teburai,
Terdapat rasa yang menyatu
Sambil bernyanyi terdapat dua pasang mata yang bercahaya
Saling tarik menarik
Menjaga agar tetap satu frekuensi
Sangat lucu melihat ini semua
Bagaimana musik dan nyanyian dapat menutupinya
Padahal, pipi keduanya telah bersemu
Bibir keduanya tak henti melengkung ke atas
Ditambah, sudah saling mengenal
Sungguh kurang apalagi?
Aug 15, 2019
Aug 15, 2019 at 11:47 AM UTC