Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"pasang" poems
The State of My Tagalog: Stuttering. Guess that's what you can call it. The insecure prose that curls downward On my notebook. It reeks of bit And piece And syllable. Singular Because language After language After language Enter my mind And slip it Just as quickly, Leaving only Fragments. Oh, the frustration As I ask For loose change From My sister cashier. I can't even ask for The right amount In Tagalog nowadays. "Singkwenta." "Bente." That adds up to 75, I think. Passing score on my Report card too. My self-graded Filipino class. Don't even know How I managed To spell "Ibarra," "Tanikala," "himagsikan," "Liwayway..." I'd sing and not spell, If they never caught At the bottom of my throat. ------------------------------------------- Ang Kalagayan ng Aking Tagalog: Nauutal. 'Yan ang pwede **** sabihin sa ‘kin. Walang tiwala sa sariling gawa, Patunong pababa ang mga salita Sa aking kwaderno. Ito’y sumisingaw ng piraso At bahagi At pantig. Nag-iisa Dahil wika Bawa’t wika Bawa’t wika Ay pumapasok sa aking kalooban At umaalis Ganun ding kabilis, Naiiwan ang mga Kaputol lamang nito. O, kay inip Habang ako’y humihingi Ng barya Kay Ateng Kahera. ‘Di ko nga kayang Humingi ng tamang halaga Sa wikang Pilipino ngayon. “Singkwenta.” “Bente.” Ito ay pitompu’t lima, ata. Pasang awa rin Sa aking report kard Sariling pagmamarka sa Filipino. ‘Di ko nga alam Kung paano 'kong Naisusulat ang “Ibarra.” "Tanikala," "himagsikan," "Liwayway…" Nais kong kantahin at huwag lang sulatin, Kung ‘di lang man silang sumasabit Sa ilalim ng aking lalamunan.
0
Sep 22, 2014
Sep 22, 2014 at 10:31 AM UTC
The State of My Tagalog (Dual Language)
The State of My Tagalog: Stuttering. Guess that's what you can call it. The insecure prose that curls downward On my notebook. It reeks of bit And piece And syllable. Singular Because language After language After language Enter my mind And slip it Just as quickly, Leaving only Fragments. Oh, the frustration As I ask For loose change From My sister cashier. I can't even ask for The right amount In Tagalog nowadays. "Singkwenta." "Bente." That adds up to 75, I think. Passing score on my Report card too. My self-graded Filipino class. Don't even know How I managed To spell "Ibarra," "Tanikala," "himagsikan," "Liwayway..." I'd sing and not spell, If they never caught At the bottom of my throat. ------------------------------------------- Ang Kalagayan ng Aking Tagalog: Nauutal. 'Yan ang pwede **** sabihin sa ‘kin. Walang tiwala sa sariling gawa, Patunong pababa ang mga salita Sa aking kwaderno. Ito’y sumisingaw ng piraso At bahagi At pantig. Nag-iisa Dahil wika Bawa’t wika Bawa’t wika Ay pumapasok sa aking kalooban At umaalis Ganun ding kabilis, Naiiwan ang mga Kaputol lamang nito. O, kay inip Habang ako’y humihingi Ng barya Kay Ateng Kahera. ‘Di ko nga kayang Humingi ng tamang halaga Sa wikang Pilipino ngayon. “Singkwenta.” “Bente.” Ito ay pitompu’t lima, ata. Pasang awa rin Sa aking report kard Sariling pagmamarka sa Filipino. ‘Di ko nga alam Kung paano 'kong Naisusulat ang “Ibarra.” "Tanikala," "himagsikan," "Liwayway…" Nais kong kantahin at huwag lang sulatin, Kung ‘di lang man silang sumasabit Sa ilalim ng aking lalamunan.
Continue reading...
79
Para sa ulap na di ko maabot Para sa pasang di magamot-gamot Para sa halik na di malilimutan Para sa akalang hanggang akala nalang Para sa ibong di makalipad Para sa pangarap na di ko matupad Para sa bukas na di ko na masilayan Para sa ating hanggang ikaw at ako nalang Para sa bagyong di matapos-tapos Para sa hawak na nagmumukhang gapos Para sa panaginip na di ko mabitawan Para sa sanang hanggang sana nalang
0
Oct 20, 2015
Oct 20, 2015 at 12:18 PM UTC
Para Sayo
***Jika kau tanya siapa aku Bagaimana harus kujawab?*** *Tiada hari tanpa kukenakan kedok tebal ini Menebar senyum, canda, berpesta Aku meraung sambil tertawa Riasan mata dan bibir dengan berbagai opsi warna Jangan! Jangan terlalu pucat juga jangan terlalu mencolok Nanti orang tidak senang Kau kan harus memuaskan setiap mata Jangan lupa pasang tameng itu tanggal demi tanggal Jika tak lalai kalungkan secercah pamor dan aga Bagaimana jika terlalu pucat? Ah ya orang  tidak suka Cakap nista kan menghardik Memekik Menghamun Siapa monyet abu kucam menjijikkan didepanku? Namun jika terlalu mencolok Jua hinaan berkunjung ada Biar ku beritahu Mereka tak suka kau lebih darinya Aku benci dunia Aku berantakan Kecurian Namaku hilang dimakan cacian Bagaikan karang tertutup berjebah rumput lautan Aku mahkota yang hilang Ah! Omong kosong semua! Enyah kau kepala cemar Umbi harus kembali didekat akar Aku berkenan rujuk atas jasadku Biar aku melalak tinggal abu Aku enggan gemang Aku punya Sembilan nyawa Jika kau tanya siapa aku Aku namaku Jangan berani-berani hina nama itu! Marcapada boleh berlimpah belang dan muka dua Aku  jijik serupa dengan dunia*
0
May 11, 2016
May 11, 2016 at 8:54 AM UTC
Jika Kau Tanya Siapa Aku
Inderalaya, 27 Agustus 2014 Seorang gadis kebingungan di antara kerumunan orang dewasa yang asyik menikmati pesta dansa yang diadakan penguasanya Matanya biru terang, namun jauh di lubuk hatinya, ia begitu kelam Seorang yatim yang ditinggalkan ibundanya tuk melayani pria yang bukan pasangannya Gadis itu terpaku, hanya sendiri di tengah-tengah manusia lain berdansa berpasangan Namun dia hanya sendirian Musik telah terlalu lama menyeberangi gendang telinganya Otot-otot di kepalanya mulai berontak tuk membuat gadis itu pergi meninggalkan tempat ia berada Namun ia hanya diam, matanya memancar sorot sangat kebingungan Pikirannya terbang jauh menelusuri kenangan saat ia masih balita dibawa Ayahnya pergi ke taman paling indah di negaranya Dentuman keras kaki-kaki manusia yang masih berdansa tanpa lelah dan tanpa jeda Menyadarkan sekali lagi bahwa gadis itu masih sendirian Kaki gadis itu serasa tak mampu lagi tuk melangkah Maka ia mulai membuat gerakan tak berarti pada kedua tangannya. ke kanan dan ke kiri, mengitari tubuhnya Semakin lama gerakan tangannya semakin cepat dan kini gadis itu menari pada akhirnya Sekali lagi, ia menari sendiri, berputar-putar bagai roda yang diputar pedal sepeda Kini semakin cepat gadis itu berputar-putar Semakin cepat Semakin cepat Semakin makin cepat Gadis itu menutup matanya, ia bahkan dapat merasakan detakan jantungnya Ia memutar makin cepat dan sangat cepat Sampai akhirnya di antara putaran yang cepat itu, ia berteriak AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH Ia kemudian terjatuh di pelukan Ayahnya Sang Ayah yang telah lama pergi meninggalkannya Sang Ayah kini kembali, namun tiada satupun manusia di sana menyadari kehadirannya Pesta dansa terhenti dan semua pasang mata tertuju pada pemandangan tak biasa di tengah-tengah mereka Sang Gadis sedang berdansa dengan Ayahnya Suasana menjadi hening, hentak kaki manusia yang sedang berdansa kini benar-benar sunyi Oh kelamnya hidup ini
0
Aug 27, 2014
Aug 27, 2014 at 12:43 AM UTC
Berdansa Lagu Sedih
Inderalaya, 27 Agustus 2014 Seorang gadis kebingungan di antara kerumunan orang dewasa yang asyik menikmati pesta dansa yang diadakan penguasanya Matanya biru terang, namun jauh di lubuk hatinya, ia begitu kelam Seorang yatim yang ditinggalkan ibundanya tuk melayani pria yang bukan pasangannya Gadis itu terpaku, hanya sendiri di tengah-tengah manusia lain berdansa berpasangan Namun dia hanya sendirian Musik telah terlalu lama menyeberangi gendang telinganya Otot-otot di kepalanya mulai berontak tuk membuat gadis itu pergi meninggalkan tempat ia berada Namun ia hanya diam, matanya memancar sorot sangat kebingungan Pikirannya terbang jauh menelusuri kenangan saat ia masih balita dibawa Ayahnya pergi ke taman paling indah di negaranya Dentuman keras kaki-kaki manusia yang masih berdansa tanpa lelah dan tanpa jeda Menyadarkan sekali lagi bahwa gadis itu masih sendirian Kaki gadis itu serasa tak mampu lagi tuk melangkah Maka ia mulai membuat gerakan tak berarti pada kedua tangannya. ke kanan dan ke kiri, mengitari tubuhnya Semakin lama gerakan tangannya semakin cepat dan kini gadis itu menari pada akhirnya Sekali lagi, ia menari sendiri, berputar-putar bagai roda yang diputar pedal sepeda Kini semakin cepat gadis itu berputar-putar Semakin cepat Semakin cepat Semakin makin cepat Gadis itu menutup matanya, ia bahkan dapat merasakan detakan jantungnya Ia memutar makin cepat dan sangat cepat Sampai akhirnya di antara putaran yang cepat itu, ia berteriak AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH Ia kemudian terjatuh di pelukan Ayahnya Sang Ayah yang telah lama pergi meninggalkannya Sang Ayah kini kembali, namun tiada satupun manusia di sana menyadari kehadirannya Pesta dansa terhenti dan semua pasang mata tertuju pada pemandangan tak biasa di tengah-tengah mereka Sang Gadis sedang berdansa dengan Ayahnya Suasana menjadi hening, hentak kaki manusia yang sedang berdansa kini benar-benar sunyi Oh kelamnya hidup ini
Continue reading...
31
Palembang, 3 November 2011 Aku bersabar . . . Tetap berusaha dengan penuh harap Supaya bisa melihat wajah mereka Mendengar suara mereka Menyaksikan kekompakan mereka yang sangat aku cinta Aku tidak menangis . . Hampir, tetapi ku hapus air mata dan ku pasang senyum bahagia ku tersenyum sesekali, tertawa bersama mereka Aku tidak mengerti bahasa mereka Tapi aku mengetahui yang mereka bicarakan Aku tidak pernah bertemu mereka Tapi aku bisa merasakan mereka sangat dekat Aku tidak mengenal mereka Tapi aku sangat mencintai mereka Dari dulu hingga sekarang rasa ini tak akan berubah Meskipun aku belum beruntung Doa membantuku memberitahu-Nya Bahwa aku sangat merindukan mereka Sekarang,,, Aku sedang memandang mereka Merekam setiap kata, gerak, dan ekspresi mereka Hal terindah yang pernah aku rasakan Terima Kasih Tuhan, , , Hadiah ku datang Created by. Aridea P
0
Nov 3, 2011
Nov 3, 2011 at 11:57 AM UTC
Hadiah Ku Datang :)
"Cahaya redup itu umpama semesta alam." birunya naungan langit fajar ketika tetes embun hadir di atas permukaan daun pada hari itu kau berujar "Pernahkah kamu tahu bahwa gelapnya mengisahkan beribu kisah?" yang ada suaraku bungkam oleh pertanyaanmu gaungnya terngiang mengisi sudut hampa telingaku sebuah kubus berisi ruang kosong tak beraksara ada sorot matamu yang terjebak di dalamnya "Pernahkah kamu sentuh sisi gelap yang bersembunyi itu?" pernah taman kecil berisi bunga warna-warni dalam suaramu yang sepi kusam, kota lama yang redup di tengah peradaban kuperhatikan rambut ikal panjangmu menjilati tengkukmu sambil disiuli angin yang bernyanyi pelan, begitu tenang "Atau yang tidak sengaja kamu sembunyikan?" "Ralat, yang sengaja kamu sembunyikan." matamu mengerling menerawang memandang langit Juni apa lagi yang kamu dambakan dari gelap pada pagi secerah ini? "Cahaya redup umpama semesta alam, gelapnya mengibarkan beribu ilham." jemarimu cepat berdansa dengan senar begitu cermat ingat pertama kali dua pasang mata sendu ini berkenalan dalam gelap dalam redup lahir melodrama di tengah rintik tangisan langit bulan kedua "Gelapnya mengibarkan seribu ilham. Gelapnya mendatangkan pelangi di tengah tulisan dalam buku kelabuku." diremasnya jemariku, lalu tenggelam dalam beribu rasa bunga-bunga merekah membentangkan senyum sang surya apa lagi yang kudambakan dari gelap pada pagi secerah ini? satu pertanyaan kubisikkan untuk langit biru pada bulan Juni apakah hadirku sudah cukup bagi hari-hari gelapmu? lalu, jemarimu meremas jemariku lebih keras seolah tak pernah ingin lepas.
0
Oct 2, 2017
Oct 2, 2017 at 8:53 AM UTC
ada gelap, redup, lalu apa?
"Cahaya redup itu umpama semesta alam." birunya naungan langit fajar ketika tetes embun hadir di atas permukaan daun pada hari itu kau berujar "Pernahkah kamu tahu bahwa gelapnya mengisahkan beribu kisah?" yang ada suaraku bungkam oleh pertanyaanmu gaungnya terngiang mengisi sudut hampa telingaku sebuah kubus berisi ruang kosong tak beraksara ada sorot matamu yang terjebak di dalamnya "Pernahkah kamu sentuh sisi gelap yang bersembunyi itu?" pernah taman kecil berisi bunga warna-warni dalam suaramu yang sepi kusam, kota lama yang redup di tengah peradaban kuperhatikan rambut ikal panjangmu menjilati tengkukmu sambil disiuli angin yang bernyanyi pelan, begitu tenang "Atau yang tidak sengaja kamu sembunyikan?" "Ralat, yang sengaja kamu sembunyikan." matamu mengerling menerawang memandang langit Juni apa lagi yang kamu dambakan dari gelap pada pagi secerah ini? "Cahaya redup umpama semesta alam, gelapnya mengibarkan beribu ilham." jemarimu cepat berdansa dengan senar begitu cermat ingat pertama kali dua pasang mata sendu ini berkenalan dalam gelap dalam redup lahir melodrama di tengah rintik tangisan langit bulan kedua "Gelapnya mengibarkan seribu ilham. Gelapnya mendatangkan pelangi di tengah tulisan dalam buku kelabuku." diremasnya jemariku, lalu tenggelam dalam beribu rasa bunga-bunga merekah membentangkan senyum sang surya apa lagi yang kudambakan dari gelap pada pagi secerah ini? satu pertanyaan kubisikkan untuk langit biru pada bulan Juni apakah hadirku sudah cukup bagi hari-hari gelapmu? lalu, jemarimu meremas jemariku lebih keras seolah tak pernah ingin lepas.
Continue reading...
31
jangan amuk datang di sela hening, hujan resah masih melaut di tengah jalan jangan angin bisikkan hina, hujan pijak hawa kenyang makan terpaan burung tak bisa terbang jadi makanan hewan atap masjid berhamburan masih kumandang azan jangan rintik sendiri di atas pasang cari sampai gersang tak dapat sayang deras tepi jalan teduh sendiri linang sampai malam ditinggal mati
0
Jan 10, 2016
Jan 10, 2016 at 9:53 AM UTC
senandung hujan
Di perjalanan yang kau dan aku tempuh Mencari makna tentang kata kita Di tengah semarak laskar kuning menggemuruh Romantika ganjil antara dua pasang mata Masih banyak petualangan yang menanti Ekspedisi kupu-kupu atau jelajah taman satwa Di atas bis ini kau dan aku temukan teman sejati Layaknya anak kecil, bersama tertawa Bait-bait ini mungkin tak mengandung arti Bagi mereka yang tak pernah mengalami Baik-baik kau simpan rahasia ini dalam hati Begitupun aku, jauh di selubuk memori
0
Jul 22, 2014
Jul 22, 2014 at 11:45 AM UTC
B.I.S
Palembang 27 Maret 2017 Untuk diriku sang penikmat kopi Aku telah bangun saat fajar masih terlelap Kemudian aku membuka jendela agar embun menatapku Ku biarkan tamu pagi nan sejuk menyapu rambutku yang pirang Seketika itu aku teringat tuk menyeruput kopi di gelas favoritku Segelas Capuccinno hangat di tanganku sekarang Mulai ku teguk sambil ku pejamkan mata Ku rasakan manisnya krimer di lidahku Mengingatkanku pada kamu Pemanis di dalam hidupku Aku hendak bekerja seperti biasanya Kini mentari menantangku untuk menakhlukkannya Ku pasang perisaiku dengan lengkap Kemudian ku berpikir tuk mendapatkan segelas Caramel Frappe tuk menyejukkan hari ini Tak terasa mentari kini telah lelah tuk bersinar Sehingga membuat dunia kian gelap Aku seduh Black Coffee tanpa gula Tak ku hiraukan rasa pahitnya ketika menyentuh lidahku Lebih pahit mana dengan kenyataan aku hidup tanpa cintamu?
0
Mar 27, 2017
Mar 27, 2017 at 12:49 AM UTC
Dear Me, Sang Penikmat Kopi
Bahkan hembusan angin berbahana Dua tiga pasang jiwa bercakap Tertawa pun berteriak Bila mata terpejam tenangnya Alam tak lagi bisu Kau dan aku Mengunci tatapan dan suara Kita adalah bisu Diam dalam kesunyian yang kekal Debaran jantung berdetak sepi Jangankan seulas senyum Mata saja enggan berbicara Lantas satu di antara kita akan sadar Diam juga bagian dari percakapan yang tidak berujung.
0
Jun 1, 2018
Jun 1, 2018 at 12:43 AM UTC
Deru Hati yang Telah Usai
Matalinhaga ang kahapon, ang nagdaang panahon: kapeng mainit na pinalalamig, hinihipan pero di malag-ok, nakakapaso sa lalamunan Tila alon sa dalampasigan itinataboy ng pampang ngunit bumabalik ang mga ala-alang pilit itinatapon, kinakalimutan. Mga tagpong akala’y isang dipa lamang tila ang pagitan ng lupa at kalangitan ngunit nang tatawirin na’y bangin pala ang kailaliman walang tulay na magdugsong sa sanlibong katanungan sa mga gumuhong moog at nadurog na diyos-diyosan. Sa sulok ng balintataw isang paslit ang natanaw tumatakbo’t humahabol, sumisigaw tinatawag niyang “Tatay!” iyong nakalagak, isang bangkay sa kabaong na ipapasok, ihihimlay sa nitsong pintado ng puting lantay - labi ng aking amang hinagilap na suhay Sa lamay ng patay, ang kapeng barako ay buhay bumubukal, walang humpay maalab ang pakikiramay, sawsawan ng tinapay           Sa lamay ng patay           nagsisikip man ang dibdib           magkunwari’y kailangan           nagdurugo man ang puso           lakas-loob ang kaanyuan Habang umaagos ang litanya sa labì ng punong magdarasal pumapatak ang ulan ng luha walang puknat ang “Bakit?”, nag-uusisa Hindi napapahid ng panyong pinipiga ang hapdi ng sugat sa naulilang diwa lalo’t ang bayaning inakala ay pasang-krus pala ng inang dinakila Matalinhaga sadya ang kahapong nagdaan, pelikulang kulay sepya, kumupas na sa kalumaan: Lumamig na ang inuming sa burol ay itinungga Tahimik na silang nagtungayaw ng sumbat at sumpa Sa malayo’y kumakaway ang palaspas ng payapa Nagpahinga na rin ang ilaw na sa aki’y nagkalinga Sumisilip sa alapaap ang impit na sinag Naglalaho na ang mga bituin sa liwanag ng unti-unting pagsabog ng araw na papasikat At sa pagbangon, bagong umaga’y may pahayag Gigisingin akong lubos, tila tunog ng gong ng bagong-luto **** pagsalubong Isang lag-ok muli, aasa, susulong kung saan man hahantong . . .
0
Nov 16, 2017
Nov 16, 2017 at 9:43 AM UTC
Kapeng Barako IV
Matalinhaga ang kahapon, ang nagdaang panahon: kapeng mainit na pinalalamig, hinihipan pero di malag-ok, nakakapaso sa lalamunan Tila alon sa dalampasigan itinataboy ng pampang ngunit bumabalik ang mga ala-alang pilit itinatapon, kinakalimutan. Mga tagpong akala’y isang dipa lamang tila ang pagitan ng lupa at kalangitan ngunit nang tatawirin na’y bangin pala ang kailaliman walang tulay na magdugsong sa sanlibong katanungan sa mga gumuhong moog at nadurog na diyos-diyosan. Sa sulok ng balintataw isang paslit ang natanaw tumatakbo’t humahabol, sumisigaw tinatawag niyang “Tatay!” iyong nakalagak, isang bangkay sa kabaong na ipapasok, ihihimlay sa nitsong pintado ng puting lantay - labi ng aking amang hinagilap na suhay Sa lamay ng patay, ang kapeng barako ay buhay bumubukal, walang humpay maalab ang pakikiramay, sawsawan ng tinapay           Sa lamay ng patay           nagsisikip man ang dibdib           magkunwari’y kailangan           nagdurugo man ang puso           lakas-loob ang kaanyuan Habang umaagos ang litanya sa labì ng punong magdarasal pumapatak ang ulan ng luha walang puknat ang “Bakit?”, nag-uusisa Hindi napapahid ng panyong pinipiga ang hapdi ng sugat sa naulilang diwa lalo’t ang bayaning inakala ay pasang-krus pala ng inang dinakila Matalinhaga sadya ang kahapong nagdaan, pelikulang kulay sepya, kumupas na sa kalumaan: Lumamig na ang inuming sa burol ay itinungga Tahimik na silang nagtungayaw ng sumbat at sumpa Sa malayo’y kumakaway ang palaspas ng payapa Nagpahinga na rin ang ilaw na sa aki’y nagkalinga Sumisilip sa alapaap ang impit na sinag Naglalaho na ang mga bituin sa liwanag ng unti-unting pagsabog ng araw na papasikat At sa pagbangon, bagong umaga’y may pahayag Gigisingin akong lubos, tila tunog ng gong ng bagong-luto **** pagsalubong Isang lag-ok muli, aasa, susulong kung saan man hahantong . . .
Continue reading...
57
Pilu dibalik rindu kembali menggebu, Hujan di bumi sama derasnya. Kukira aku melupakanmu, Ternyata hati ini kembali keliru. Hati mana yang tidak berdetak, Melihat dua pasang mata seindah samudra? Ucapan membisukan dari bibirmu, Sayang, rindumu mengusikku. Kacau, Hati ini. Sudah berapa kali disakiti? Malam dan Siang berganti, Lekaslah kau pergi. Pilu dibalik rindu kembali menggebu, Rintik hujan di bumi sama derasnya. 365 hari berlalu, Sudahkah kau merindu?
0
Dec 18, 2019
Dec 18, 2019 at 9:57 AM UTC
Sudahkah kau merindu?
Disela musik yang teburai, Terdapat rasa yang menyatu Sambil bernyanyi terdapat dua pasang mata yang bercahaya Saling tarik menarik Menjaga agar tetap satu frekuensi Sangat lucu melihat ini semua Bagaimana musik dan nyanyian dapat menutupinya Padahal, pipi keduanya telah bersemu Bibir keduanya tak henti melengkung ke atas Ditambah, sudah saling mengenal Sungguh kurang apalagi?
0
Aug 15, 2019
Aug 15, 2019 at 11:47 AM UTC
Sempurna, kan?