"pahit" poems
mana mungkin rindu aku terasa
jika diungkap dengan bait bahasa
sayang
dakaplah aku
rasakan rindu aku
kerna mana bisa ayat dan kata curah rasa ini
andai kau rasa perit dan pahit ini,
lepaskan lah.
biar aku bebas terokai dunia
tanpa rasa sekat dalam raga
aku penat
-menunggu sesuatu yang tidak pasti
dalam hal ini, adalah kamu
jalan yang dahulu kita lewati tengah malam kini kian sunyi
dulu, ada sahaja tawa kita kedengaran
entah
bukan aku tidak cuba untuk berhenti ada fikiran tentang kamu
tapi
bagai aku tersekat
sayang
andai kau rindu
andai kau rasa perit dan pahit ini
lepaskan lah aku
agar aku bebas teroka dunia
May 10, 2016
May 10, 2016 at 10:12 AM UTC
Gadis itu pulang dengan kepingan jiwanya
Berusaha untuk menahan segala rasa sakit
Semua ia simpan rapat-rapat walau tersirat dari matanya
Ia menghempaskan badan diatas tempat tidur
Sambil sesekali memijat keningnya, berharap rasa sakit tak akan hinggap kesana.
Lalu ia berusaha tak mengingat-ingat semuanya
Berharap entah bagaimana caranya agar ia mematikan perasaannya
Dalam hati ia bertanya "kapan terakhir kali kau bahagia?"
Tak ada satupun yang bisa menjawab pertanyaan itu
Ia hanya menatap langit-langit kamar sambil tersenyum pahit.
"Yah, begitulah realita hidupmu. Tersiksa karena jatuh berkali-kali untuk orang yang salah"
Otaknya berbicara pada hati yang masih kukuh membela perasaan yang ia punya
Ia tak bisa lagi menampik bahwa kepala dan hatinya setelah ini tak akan pernah ada di kubu yang sama
Karena kelalaian hatinya lah ia berada disini sehingga logika menghukum hati itu, menutup pintunya rapat-rapat dan menenggelamkan kuncinya kedalam samudera pemikirannya.
Suara hujan mengiringi gadis itu
Tak terasa satu demi satu tetes air mata mengalir
Ia hanya bisa memejamkan mata dan berkata
"Aku sudah tak punya hati lagi"
Dec 14, 2015
Dec 14, 2015 at 7:09 AM UTC
*when the dawn flirty flicker on the horizon of the hill ..
feels cool breeze wash the bitter wounds ...
when the blazing sun dancing on the head burn jealous ..
so graceful way you speak ..
when the sun pull over and hide the east stretch of ocean ..
so light up the dim dark brushed off behavior ..
when the evening wading longing raft ..
so beautiful the way you steal sank deep trough ..*
┈┈┈┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶ ƦУ »̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈┈┈┈┈┈┈┈
cara karammu
saat sang fajar mengerlip genit diufuk bukit..
terasa sejuk hembusan angin membasuh luka yang pahit...
saat sang mentari menari terik diatas kepala membakar cemburu..
begitu anggun bertutur caramu..
saat sang surya menepi dan bersembunyi ditimur hamparan samudra..
begitu terang perilakumu menepis gelapnya temaram asa..
saat rakit kerinduan mengarungi malam..
begitu indah cara karammu menyuri palung yang dalam..
Jan 10, 2014
Jan 10, 2014 at 9:43 AM UTC
*Di antara tumpukan bangau-bangau ini, terdapat satu harapan yang tidak akan pernah tercapai.
Di antara tumpukan bangau-bangau ini, tertoreh satu kesedihan yang tidak diketahui siapapun.
Di antara tumpukan bangau-bangau ini, aku mengubur semua mimpi indah bersama dengan setumpuk cerita pahit.
Dan di antara tumpukan bangau-bangau ini, terbesit satu keinginan yang mustahil untuk dijadikan nyata.
Biarkan mimpi tetap menjadi mimpi, biarkan aku tetap diam.
Biarkan seribu bangau menyampaikan kata-kata yang tersangkut di lidahku kepadamu*
Aug 11, 2014
Aug 11, 2014 at 7:12 PM UTC
31 Oktober 2016
Dini hari, Jakarta-Surabaya, Pukul 00.45
30 menit yang lalu, kau bertanya kepadaku,
"apa yang membuatmu bahagia?"
secangkir kopi, malam dan hujan jawabku
lalu kau mengernyitkan kedua alismu dan bertanya,
"kenapa? kopi itu pahit, malam itu sendu dan hujan hanya membawa pilu"
"Karena aku menyukai kejujuran pada kopi,
Ia jujur akan dirinya. ia yang pahit rasanya. ia yang hitam parasnya. tanpa bersandiwara. tapi itulah hal yang mencandu darinya.
Karena aku menyukai kesederhanaan malam,
Ia tak perlu harus bersinar, ia cukup indah dengan bintang di dalamnya tanpa dengki ingin menjadi siang.
Karena aku menyukai keikhlasan hujan,
Ia tetap ikhlas menjatuhkan dirinya meski banyak yang memaki dirinya dan berharap ia tak pernah datang."
kau termenung kembali,
dahimu berkerut memikirkan sesuatu
"apakah hanya itu?" tuturmu lagi
dan aku hanya tersenyum,
"aku hanya ingin menjadikan diriku seperti mereka, tidak berlebih pun tidak mengapa, hanya ingin menjadi dan merasakan kejujuran seperti kopi, kesederhanaan seperti malam dan keihklasan seperti hujan."
kau tersenyum mengejek
"Kau terlalu naif" tandasmu dan aku hanya tergelak,
seperti itulah aku, jawabku
pada akhirnya, kau turut tergelak jua bersamaku
menutup pembicaraan dini hari kita kala itu.
Oct 30, 2016
Oct 30, 2016 at 2:05 PM UTC
Palembang 27 Maret 2017
Untuk diriku sang penikmat kopi
Aku telah bangun saat fajar masih terlelap
Kemudian aku membuka jendela agar embun menatapku
Ku biarkan tamu pagi nan sejuk menyapu rambutku yang pirang
Seketika itu aku teringat tuk menyeruput kopi di gelas favoritku
Segelas Capuccinno hangat di tanganku sekarang
Mulai ku teguk sambil ku pejamkan mata
Ku rasakan manisnya krimer di lidahku
Mengingatkanku pada kamu
Pemanis di dalam hidupku
Aku hendak bekerja seperti biasanya
Kini mentari menantangku untuk menakhlukkannya
Ku pasang perisaiku dengan lengkap
Kemudian ku berpikir tuk mendapatkan segelas Caramel Frappe tuk menyejukkan hari ini
Tak terasa mentari kini telah lelah tuk bersinar
Sehingga membuat dunia kian gelap
Aku seduh Black Coffee tanpa gula
Tak ku hiraukan rasa pahitnya ketika menyentuh lidahku
Lebih pahit mana dengan kenyataan aku hidup tanpa cintamu?
Mar 27, 2017
Mar 27, 2017 at 12:49 AM UTC
dan ada apa pula dengan rindu
rasa yang sesak di dalam
yang tak mungkin bisa kau ungkap guna bait-bait bahasa
biar bunga mahupun terus
apa itu rindu?
sakit. perit. pahit..
May 6, 2016
May 6, 2016 at 2:10 AM UTC
Senyum itu, dari mana datangnya
Tolong beritahu aku rahasianya
Agar nanti bisa kulakukan lagi
Biar mereka tahu, manisnya kau kala itu
Senyum itu, bisakah lebih lama?
Maafkan aku ini ingatannya lemah
Jadi tolong tersenyumlah lebih lama
Biar aku ingat, manisnya kau kala itu
Senyum itu, di hari yang sunyi tanpa kabar
Apakah senyum itu ada di kala hujan?
Aku ingin tahu, jadi bisikkan padaku
Di mana senyum itu saat malam menuju Minggu
Senyum itu, semanis kala itu
Tapi, siapa yang dituju senyum itu
Mungkinkah senyum semanis itu
Menyisakan pahit yang teramat pahit?
Tetaplah semanis itu, kalaupun pahit
cukup aku yang tahu
Tetaplah semanis itu, aku masih ingin
membagi malamku padamu
Sep 1, 2017
Sep 1, 2017 at 1:06 PM UTC
aku tenggelam
di dalam lautan
kenangan indah
masa lalu yang
sangat sangat
pahit untuk diingat
kirim aku sebuah sampan
agar kubisa mendayung
ke seberang sana
dan berlabuh bersamamu
Aug 2, 2014
Aug 2, 2014 at 9:45 AM UTC
Aku akan mengatakannya sekali lagi
Pada matahari tengah malam di belahan bumi lain
Ada tapi tak pernah kau lihat
Siapa di dalam benakmu ketika terdengar kalimat pahit itu
Aku akan mengatakannya sekali lagi
Hujan di tengah langit cerah biru sekilas awan bergerak pelan
Nyata tapi kebencianmu padanya
Lagi aku mengatakannya padamu
Aku cinta kamu
Terakhir kali sebelum melepas yang harusnya bebas
Selamat tinggal, cintaku yang konyol.
Jun 20, 2018
Jun 20, 2018 at 9:15 AM UTC
Aku termenung pasrah
Menunggu lelah
Mendapat kabar tak indah
Membuat hati gundah
Waktu pasti akan mengobati hati
Hidup akan terus di jalani
Semakin pahit kehidupan
Semakin banyak perjuangan
Semakin panjang waktu kehidupan
Semakin dalam pengorbanan
Aku hanya akan menatap ke depan
Tanpa memperdulikan masalah kehidupan
Aku hanya akan terus melangkah maju
Tanpa menoleh lagi padamu, wahai masa lalu
Aku tidak melupakanmu
Aku hanya sedikit menapak satu langkah di depanmu
Aku hanya sedikit sibuk dengan dunia baruku
Bukan berarti melupakanmu, wahai masa lalu
Kau guru terbaikku
Mengajarkanku untuk lebih baik di masa depan
Memberiku pengalaman yang tak mungkin terlupakan
Membekaliku dengan keikhlasan dan kesabaran
Kata semoga dariku takkan pernah lekang untukmu
Walau mungkin kau takkan pernah tahu itu, wahai masa lalu
May 5, 2018
May 5, 2018 at 7:59 AM UTC
Pergi lagi ia keluar rumah, mencari spasi di kerumunan manusia.
Dipesannya air penghambat kantuk,
Dituangkan pada gelas putih bercorak ayam kuno.
Ia ceritakan kesenangannya menemukan tempat itu, diajaknya orang lain mengingat masalalu yang pahit untuk mengangkat bahak yang panjang.
Penat benar hatinya...
Dipaksanya mereka guyon tapi pikirannya kebingungan.
Sesekali lamunan anak mudanya dibaca orang lain.
Pura-pura ia ikut tertawa lagi; dan ia menyendiri
B_A
30 Januari 2019
May 14, 2019
May 14, 2019 at 6:07 PM UTC
di ruang 3x3 meter
kusesap lagi secangir kopi yang sudah tak lagi hangat
masam terkecap, pahit tersisa
buih-buih krema berjejer rapi di ujung mulut cangkir
menggetarkan diri
menciptakan nada detak jantung yang semakin tinggi
dan mengundang semut-semut emosi pada ujung jemariku
didekap
dibekap
kebencian bersarang pada ekor jiwaku yang semerawut
semakin hari, semakin menjadi-jadi
amarah yang tak terbendung
perkara hati bukanlah sebatas ruang
bukan juga sekedar sudut yang bisa disinggahi, diacak-acak, lalu ditinggal begitu saja tanpa dibereskan
ibumu saja marah kalau kamarmu berantakan
debaran demi debaran
candu pada cairan pekat ini terkadang mengundang rasa kantuk
bagai lorong tanpa ujung
pikiranku melayang masuk ke masa lampau
amarah dan kebencian mengombangambingku
belum reda kesalku
kutuk bertaburan dari bibirku
ada rangkaian rencana cela yang menari-nari di kepalaku
apa warasku pergi?
apa warasku pergi?
apa warasku pergi?
benci ini tak perlu lagi disiram
terjebak realita semu, mantra-mantra sukar dipahami tetapi nyata efeknya
betapa sulitnya meracik ramuan ketenangan jiwa
kalau kamu jahat, lalu aku balas jahat
apa bedanya kamu dan aku?
aku tidak mau sepertimu
bukan pilhan pasif, dengan sadarku
warasku ada
aku pemenang petak umpetnya!
Jul 3, 2019
Jul 3, 2019 at 12:56 PM UTC
Pertama, siapkan air mendidih
Tuang sebungkus hidup dalam gelas
Lalu, menurut anjuran para ahli
Tambahkan satu sendok makan gula
Berharaplah manis, jika dirasa kurang
Luapkan hidupnya dalam gelas tinggi
Cobalah amati lubernya, lihat saja
Hidup mengalir keluar
Cicipi luberan hidup yang tumpah,
Hayati rasanya yang tajam, aromanya yang pekat, serta partikel-partikel yang asing
Hingga kau tahu, bahwa rasa hidup yang tumpah sama dengan rasa meja
Jika sudah, teguk hidup dalam gelas
Murni, tanpa ada partikel asing di dalamnya
Coba bedakan antara hidup yang murni dengan hidup rasa meja
Aneh bukan?
Memang, jika kau patuh
Hidup akan lebih pahit jika diseduh.
Apr 8, 2018
Apr 8, 2018 at 3:24 PM UTC
Terdengar suara darimu yang tidak ingin aku bahas lagi di cerita ini
Media komunikasi yang kubenci
Kenapa harus kamu yang aku hubungi
Kenapa harus kamu yang menjadi pelabuhanku
Kenapa kamu yang harus aku jadikan perhentian
Walaupun sementara, bukankah ini terlalu jelas
Aku memberi yang lain alasan untuk kembali padamu
Walau tidak akan menunggumu lagi
Kabar hatimu tidak akan kupertanyakan lagi kali ini
Dan kamu memberikan kata sandi
Entah untuk masuk ke perasaanmu
Atau sekedar tahu keberadaan hatimu
Aku juga sudah tidak mau tahu
Kamu meminta seseorang untuk sungguh
Bukan sekedar singgah
Tapi tanpa kamu sadari
Yang kamu lakukan selama inikan hanya singgah
Aku bukan seseorang itu
Aku tahu dengan jelas
Karena kamu pun tidak pernah jadi sebuah jawaban
Mar 24, 2019
Mar 24, 2019 at 11:38 AM UTC
Dalam tidurku
Masih kucumbu bayang-bayangmu
Yang takk sopan datang bertamu tanpa beritahu dahulu
Pesona hitammu menghantui pikiranku
Rasa ingin menggenggam, mencium dan merasakan(mu)
Walau hanya bayang semu
Kali ini aku tidak ingin memikirkan apapun
Tidak juga tentang(mu)
Untuk apa memikirkan hal mustahil dimiliki
Kini setapak dua tapak terjajahi
Selalu menjadi penenang hanya kopi
Pahit,
Tapi aku lebih suka yang demikian,
Tanpa pemanis,
Sebab 50% kemanisan hidupku
Dibawa pergi bersama bayangan(mu) yang semu.
Oct 2, 2020
Oct 2, 2020 at 10:11 AM UTC
yang dulu hangat, sekarang dingin
yang dulu manis, sekarang pahit
yang dulu mementingkan, sekarang membuang
yang dulu peduli, sekarang menyalahi
yang dulu lembut, sekarang kasar
yang dulu baik, sekarang keji
yang dulu cinta, sekarang benci
Sep 28, 2023
Sep 28, 2023 at 3:23 PM UTC