Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"pahit" poems
mana mungkin rindu aku terasa jika diungkap dengan bait bahasa sayang dakaplah aku rasakan rindu aku kerna mana bisa ayat dan kata curah rasa ini andai kau rasa perit dan pahit ini, lepaskan lah. biar aku bebas terokai dunia tanpa rasa sekat dalam raga aku penat -menunggu sesuatu yang tidak pasti dalam hal ini, adalah kamu jalan yang dahulu kita lewati tengah malam kini kian sunyi dulu, ada sahaja tawa kita kedengaran entah bukan aku tidak cuba untuk berhenti ada fikiran tentang kamu tapi bagai aku tersekat sayang andai kau rindu andai kau rasa perit dan pahit ini lepaskan lah aku agar aku bebas teroka dunia
0
May 10, 2016
May 10, 2016 at 10:12 AM UTC
ada apa pada rindu pt2
Gadis itu pulang dengan kepingan jiwanya Berusaha untuk menahan segala rasa sakit Semua ia simpan rapat-rapat walau tersirat dari matanya Ia menghempaskan badan diatas tempat tidur Sambil sesekali memijat keningnya, berharap rasa sakit tak akan hinggap kesana. Lalu ia berusaha tak mengingat-ingat semuanya Berharap entah bagaimana caranya agar ia mematikan perasaannya Dalam hati ia bertanya "kapan terakhir kali kau bahagia?" Tak ada satupun yang bisa menjawab pertanyaan itu Ia hanya menatap langit-langit kamar  sambil tersenyum pahit. "Yah, begitulah realita hidupmu. Tersiksa karena jatuh berkali-kali untuk orang yang salah" Otaknya berbicara pada hati yang masih kukuh membela perasaan yang ia punya Ia tak bisa lagi menampik bahwa kepala dan hatinya setelah ini tak akan pernah ada di kubu yang sama Karena kelalaian hatinya lah ia berada disini sehingga logika menghukum hati itu, menutup pintunya rapat-rapat dan menenggelamkan kuncinya kedalam samudera pemikirannya. Suara hujan mengiringi gadis itu Tak terasa satu demi satu tetes air mata mengalir Ia hanya bisa memejamkan mata dan berkata "Aku sudah tak punya hati lagi"
0
Dec 14, 2015
Dec 14, 2015 at 7:09 AM UTC
Hujan Desember
*when the dawn flirty flicker on the horizon of the hill .. feels cool breeze wash the bitter wounds ... when the blazing sun dancing on the head burn jealous .. so graceful way you speak .. when the sun pull over and hide the east stretch of ocean .. so light up the dim dark brushed off behavior .. when the evening wading longing raft .. so beautiful the way you steal sank deep trough ..* ┈┈┈┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶  ƦУ  »̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈┈┈┈┈┈┈┈ cara karammu saat sang fajar mengerlip genit diufuk bukit.. terasa sejuk  hembusan angin membasuh luka yang pahit... saat sang mentari menari terik diatas kepala membakar cemburu.. begitu anggun bertutur caramu.. saat sang surya menepi dan bersembunyi ditimur hamparan samudra.. begitu terang perilakumu menepis gelapnya temaram asa.. saat rakit kerinduan mengarungi malam.. begitu indah cara karammu menyuri palung yang dalam..
0
Jan 10, 2014
Jan 10, 2014 at 9:43 AM UTC
the way you drown
*Di antara tumpukan bangau-bangau ini, terdapat satu harapan yang tidak akan pernah tercapai. Di antara tumpukan bangau-bangau ini, tertoreh satu kesedihan yang tidak diketahui siapapun. Di antara tumpukan bangau-bangau ini, aku mengubur semua mimpi indah bersama dengan setumpuk cerita pahit. Dan di antara tumpukan bangau-bangau ini, terbesit satu keinginan yang mustahil untuk dijadikan nyata. Biarkan mimpi tetap menjadi mimpi, biarkan aku tetap diam. Biarkan seribu bangau menyampaikan kata-kata yang tersangkut di lidahku kepadamu*
0
Aug 11, 2014
Aug 11, 2014 at 7:12 PM UTC
di antara
31 Oktober 2016 Dini hari, Jakarta-Surabaya, Pukul 00.45 30 menit yang lalu, kau bertanya kepadaku, "apa yang membuatmu bahagia?" secangkir kopi, malam dan hujan jawabku lalu kau mengernyitkan kedua alismu dan bertanya, "kenapa? kopi itu pahit, malam itu sendu dan hujan hanya membawa pilu" "Karena aku menyukai kejujuran pada kopi, Ia jujur akan dirinya. ia yang pahit rasanya. ia yang hitam parasnya. tanpa bersandiwara. tapi itulah hal yang mencandu darinya. Karena aku menyukai kesederhanaan malam, Ia tak perlu harus bersinar, ia cukup indah dengan bintang di dalamnya tanpa dengki ingin menjadi siang. Karena aku menyukai keikhlasan hujan, Ia tetap ikhlas menjatuhkan dirinya meski banyak yang memaki dirinya dan berharap ia tak pernah datang." kau termenung kembali, dahimu berkerut memikirkan sesuatu "apakah hanya itu?" tuturmu lagi dan aku hanya tersenyum, "aku hanya ingin menjadikan diriku seperti mereka, tidak berlebih pun tidak mengapa, hanya ingin menjadi dan merasakan kejujuran seperti kopi, kesederhanaan seperti malam dan keihklasan seperti hujan." kau tersenyum mengejek "Kau terlalu naif" tandasmu dan aku hanya tergelak, seperti itulah aku, jawabku pada akhirnya, kau turut tergelak jua bersamaku menutup pembicaraan dini hari kita kala itu.
0
Oct 30, 2016
Oct 30, 2016 at 2:05 PM UTC
Jakarta - Surabaya
Palembang 27 Maret 2017 Untuk diriku sang penikmat kopi Aku telah bangun saat fajar masih terlelap Kemudian aku membuka jendela agar embun menatapku Ku biarkan tamu pagi nan sejuk menyapu rambutku yang pirang Seketika itu aku teringat tuk menyeruput kopi di gelas favoritku Segelas Capuccinno hangat di tanganku sekarang Mulai ku teguk sambil ku pejamkan mata Ku rasakan manisnya krimer di lidahku Mengingatkanku pada kamu Pemanis di dalam hidupku Aku hendak bekerja seperti biasanya Kini mentari menantangku untuk menakhlukkannya Ku pasang perisaiku dengan lengkap Kemudian ku berpikir tuk mendapatkan segelas Caramel Frappe tuk menyejukkan hari ini Tak terasa mentari kini telah lelah tuk bersinar Sehingga membuat dunia kian gelap Aku seduh Black Coffee tanpa gula Tak ku hiraukan rasa pahitnya ketika menyentuh lidahku Lebih pahit mana dengan kenyataan aku hidup tanpa cintamu?
0
Mar 27, 2017
Mar 27, 2017 at 12:49 AM UTC
Dear Me, Sang Penikmat Kopi
dan ada apa pula dengan rindu rasa yang sesak di dalam yang tak mungkin bisa kau ungkap guna bait-bait bahasa biar bunga mahupun terus apa itu rindu? sakit. perit. pahit..
0
May 6, 2016
May 6, 2016 at 2:10 AM UTC
Rindu
Senyum itu, dari mana datangnya Tolong beritahu aku rahasianya Agar nanti bisa kulakukan lagi Biar mereka tahu, manisnya kau kala itu Senyum itu, bisakah lebih lama? Maafkan aku ini ingatannya lemah Jadi tolong tersenyumlah lebih lama Biar aku ingat, manisnya kau kala itu Senyum itu, di hari yang sunyi tanpa kabar Apakah senyum itu ada di kala hujan? Aku ingin tahu, jadi bisikkan padaku Di mana senyum itu saat malam menuju Minggu Senyum itu, semanis kala itu Tapi, siapa yang dituju senyum itu Mungkinkah senyum semanis itu Menyisakan pahit yang teramat pahit? Tetaplah semanis itu, kalaupun pahit cukup aku yang tahu Tetaplah semanis itu, aku masih ingin membagi malamku padamu
0
Sep 1, 2017
Sep 1, 2017 at 1:06 PM UTC
Kau Manis Kala Itu
aku tenggelam di dalam lautan kenangan indah masa lalu yang sangat sangat pahit untuk diingat kirim aku sebuah sampan agar kubisa mendayung ke seberang sana dan berlabuh bersamamu
0
Aug 2, 2014
Aug 2, 2014 at 9:45 AM UTC
kapal selam
Aku akan mengatakannya sekali lagi Pada matahari tengah malam di belahan bumi lain Ada tapi tak pernah kau lihat Siapa di dalam benakmu ketika terdengar kalimat pahit itu Aku akan mengatakannya sekali lagi Hujan di tengah langit cerah biru sekilas awan bergerak pelan Nyata tapi kebencianmu padanya Lagi aku mengatakannya padamu Aku cinta kamu Terakhir kali sebelum melepas yang harusnya bebas Selamat tinggal, cintaku yang konyol.
0
Jun 20, 2018
Jun 20, 2018 at 9:15 AM UTC
Salam Terakhir Untukmu
Aku termenung pasrah Menunggu lelah Mendapat kabar tak indah Membuat hati gundah Waktu pasti akan mengobati hati Hidup akan terus di jalani Semakin pahit kehidupan Semakin banyak perjuangan Semakin panjang waktu kehidupan Semakin dalam pengorbanan Aku hanya akan menatap ke depan Tanpa memperdulikan masalah kehidupan Aku hanya akan terus melangkah maju Tanpa menoleh lagi padamu, wahai masa lalu Aku tidak melupakanmu Aku hanya sedikit menapak satu langkah di depanmu Aku hanya sedikit sibuk dengan dunia baruku Bukan berarti melupakanmu, wahai masa lalu Kau guru terbaikku Mengajarkanku untuk lebih baik di masa depan Memberiku pengalaman yang tak mungkin terlupakan Membekaliku dengan keikhlasan dan kesabaran Kata semoga dariku takkan pernah lekang untukmu Walau mungkin kau takkan pernah tahu itu, wahai masa lalu
0
May 5, 2018
May 5, 2018 at 7:59 AM UTC
Wahai Masa Lalu
Pergi lagi ia keluar rumah, mencari spasi di kerumunan manusia. Dipesannya air penghambat kantuk, Dituangkan pada gelas putih bercorak ayam kuno. Ia ceritakan kesenangannya menemukan tempat itu, diajaknya orang lain mengingat masalalu yang pahit untuk mengangkat bahak yang panjang. Penat benar hatinya... Dipaksanya mereka guyon tapi pikirannya kebingungan. Sesekali lamunan anak mudanya dibaca orang lain. Pura-pura ia ikut tertawa lagi; dan ia menyendiri B_A 30 Januari 2019
0
May 14, 2019
May 14, 2019 at 6:07 PM UTC
+20
di ruang 3x3 meter kusesap lagi secangir kopi yang sudah tak lagi hangat masam terkecap, pahit tersisa buih-buih krema berjejer rapi di ujung mulut cangkir menggetarkan diri menciptakan nada detak jantung yang semakin tinggi dan mengundang semut-semut emosi pada ujung jemariku didekap dibekap kebencian bersarang pada ekor jiwaku yang semerawut semakin hari, semakin menjadi-jadi amarah yang tak terbendung perkara hati bukanlah sebatas ruang bukan juga sekedar sudut yang bisa disinggahi, diacak-acak, lalu ditinggal begitu saja tanpa dibereskan ibumu saja marah kalau kamarmu berantakan debaran  demi debaran candu pada cairan pekat ini terkadang mengundang rasa kantuk bagai lorong tanpa ujung pikiranku melayang masuk ke masa lampau amarah dan kebencian mengombangambingku belum reda kesalku kutuk bertaburan dari bibirku ada rangkaian rencana cela yang menari-nari di kepalaku apa warasku pergi? apa warasku pergi? apa warasku pergi? benci ini tak perlu lagi disiram terjebak realita semu, mantra-mantra sukar dipahami tetapi nyata efeknya betapa sulitnya meracik ramuan ketenangan jiwa kalau kamu jahat, lalu aku balas jahat apa bedanya kamu dan aku? aku tidak mau sepertimu bukan pilhan pasif, dengan sadarku warasku ada aku pemenang petak umpetnya!
0
Jul 3, 2019
Jul 3, 2019 at 12:56 PM UTC
W A R A S
Pertama, siapkan air mendidih Tuang sebungkus hidup dalam gelas Lalu, menurut anjuran para ahli Tambahkan satu sendok makan gula Berharaplah manis, jika dirasa kurang Luapkan hidupnya dalam gelas tinggi Cobalah amati lubernya, lihat saja Hidup mengalir keluar Cicipi luberan hidup yang tumpah, Hayati rasanya yang tajam, aromanya yang pekat, serta partikel-partikel yang asing Hingga kau tahu, bahwa rasa hidup yang tumpah sama dengan rasa meja Jika sudah, teguk hidup dalam gelas Murni, tanpa ada partikel asing di dalamnya Coba bedakan antara hidup yang murni dengan hidup rasa meja Aneh bukan? Memang, jika kau patuh Hidup akan lebih pahit jika diseduh.
0
Apr 8, 2018
Apr 8, 2018 at 3:24 PM UTC
Segelas
Terdengar suara darimu yang tidak ingin aku bahas lagi di cerita ini Media komunikasi yang kubenci Kenapa harus kamu yang aku hubungi Kenapa harus kamu yang menjadi pelabuhanku Kenapa kamu yang harus aku jadikan perhentian Walaupun sementara, bukankah ini terlalu jelas Aku memberi yang lain alasan untuk kembali padamu Walau tidak akan menunggumu lagi Kabar hatimu tidak akan kupertanyakan lagi kali ini Dan kamu memberikan kata sandi Entah untuk masuk ke perasaanmu Atau sekedar tahu keberadaan hatimu Aku juga sudah tidak mau tahu Kamu meminta seseorang untuk sungguh Bukan sekedar singgah Tapi tanpa kamu sadari Yang kamu lakukan selama inikan hanya singgah Aku bukan seseorang itu Aku tahu dengan jelas Karena kamu pun tidak pernah jadi sebuah jawaban
0
Mar 24, 2019
Mar 24, 2019 at 11:38 AM UTC
Kenangan pahit
Dalam tidurku Masih kucumbu bayang-bayangmu Yang takk sopan datang bertamu tanpa beritahu dahulu Pesona hitammu menghantui pikiranku  Rasa ingin menggenggam, mencium dan merasakan(mu) Walau hanya bayang semu Kali ini aku tidak ingin memikirkan apapun Tidak juga tentang(mu) Untuk apa memikirkan hal mustahil dimiliki Kini setapak dua tapak terjajahi  Selalu menjadi penenang hanya kopi  Pahit,  Tapi aku lebih suka yang demikian, Tanpa pemanis,  Sebab 50% kemanisan hidupku  Dibawa pergi bersama bayangan(mu) yang semu.
0
Oct 2, 2020
Oct 2, 2020 at 10:11 AM UTC
Fatamorgana Candu Kopi
yang dulu hangat, sekarang dingin yang dulu manis, sekarang pahit yang dulu mementingkan, sekarang membuang yang dulu peduli, sekarang menyalahi yang dulu lembut, sekarang kasar yang dulu baik, sekarang keji yang dulu cinta, sekarang benci
0
Sep 28, 2023
Sep 28, 2023 at 3:23 PM UTC
lingkaran