"muda" poems
Palembang, 3 November
Masih ingat ku di usia muda
Saat ku dikelilingi ruang hampa
Jari tetap menggoreskan tinta
Hati tetap menerawang asa
Di hati terdalam terselip doa indah
Permohonan gadis kecil yang kesepian
Aku berdoa tapi terus bekerja
Sendirian.. Tak ada seorangpun di sekitar
Merasa orang biasa tak kan mengerti
Susah pun tuk diungkap
Tak mampi lagi berucap
Malu pun yang ada di setiap kata
Berjanji kepada Tuhan
Akan berbuat baik jika diberi teman
Tipe yang langsung mengerti akan keadaan
Dan tak harus ku ucap lagi tuk Dia dengarkan
Bisa ku dengar semua sunyi
Ada kejutan dibalik kesunyian-Nya
Akan selalu ku nanti Soulmate Aridea
Hingga Tuhan percaya aku akan membutuhkannya
Created by. Aridea Purple a.k.a Erika Maya W Handoko
Nov 3, 2011
Nov 3, 2011 at 9:32 AM UTC
Hidup dengan segala problematikanya
sejenak senang sejenak tenang
sejenak buram sejenak suram
Matahari bawaku cahaya
Tapi aku kepanasan
Hijab bawaku perlindungan
Tapi aku tertutup
Pohon bawaku udara
Tapi aku tumbangkan untuk wi-fi
Ini baik tapi ini buruk.
Lalu hadir kerutan ditengah keningku
Melengkapi lipatan hitam mata ini
Hasil semua akar-akar pikiran
Bola matapun sekarang berfilter
Kuingat mawar pemberiannya
Gambar persembahan mereka
Seluruh tumpahan merah muda itu
Tapi tetap saja kabut dari belakang datang
Ia bersembunyi hanya tuk muncul kembali
-
-
-
Mengapa begini?
Terlalu banyak tapi
Mengindahkan kebingungan
Terbawa kelelahan
Nov 10, 2014
Nov 10, 2014 at 6:58 AM UTC
tidak disadari, langit yang biru berubah
menjadi warna oranye dan ungu muda.
perpaduannya pun sangat indah,
ditemani pula oleh kicauan burung yang sunyi.
selang waktu berjalan, hati semakin berat,
pena dan kertas, aku bertemu lagi denganmu.
langit yang indah tiba tiba berteriak,
seperti singa yang mengaung ditengah ladang.
apakah mungkin, bahwa kita melihat langit yang sama?
perbedaan waktu yang tidak masuk akal, ingin membuatku
menguras air di lautan yang biru,
yang menghalangi pertemuan kita.
gila, bukan?
aku berbicara kepada kertas putih,
layaknya kertas ini adalah sahabatku,
atau kuping yang selalu mendengar.
tangisan hati pun terlalu keras, malam ini.
langit yang indah, sekarang bersaturasi,
menjadi warna abu abu yang gelap,
jadi ini, toh.
ini, yang dinamakan
berbicara kepada kertas,
saat air mata milik senja,
turun dari langit.
Feb 20, 2019
Feb 20, 2019 at 8:15 AM UTC
Jakarta, 1986
Wanita berambut cokelat muda sebahu itu terlihat sedang asyik mengamati asap rokok yang ia keluarkan sebelum membuang puntung rokok ke tanah dan menginjaknya. Jalanan di Jakarta memang selalu ramai tapi tak satupun mobil-mobil yang sedang berlalu-lalang itu akan berhenti dan menghentikan apa yang akan ia lakukan setelah jam menunjukkan pukul lima pagi. Masih terngiang di kepala apa yang orang-orang katakan tentangnya selama ini.. sampah, pelacur memang tidak pantas hidup enak, ingat ya, kau itu cuma pelacur ia memejamkan mata sambil perlahan menghitung berapa kali ia telah mendengarkan cacian setiap pulang.
Jam yang berada di tangan kirinya masih menunjukkan pukul lima kurang lima belas menit, ya lima belas menit yang ia gunakan untuk akhirnya mengingat perkataan Abimanyu. Laki-laki terakhir yang memberikan segalanya, harta, kasih sayang, dan waktu tapi ia tak dapat menikmati itu semua walau sudah mencoba beribu kali aku tidak akan pernah berubah menjadi laki-laki yang sudah menyia-nyiakanmu ,kau tahu bahwa seberapapun mahalnya berlian apabila yang memakainya tidak pantas maka akan terlihat murah?, kau terlihat cantik dengan apapun, aku melakukan semua ini karena aku tak sanggup melihatmu sedih, aku akan terus mencintaimu walau kau tak akan pernah bisa membalas perasaanku yang hanya akan selalu ia balas dengan aku sudah tak percaya cinta atau aku sudah tak punya hati hatinya telah membeku dicabik-cabik sejak dulu, sebelum bertemu Abimanyu. Air mata perlahan mengalir dari mata yang tertutup itu, lima menit lagi batinnya sebelum mengusap air mata yang sudah membasah pipi dan meluruskan gaun putih rancangan desainer terkenal yang diberikan sebagai hadiah untuknya tak dipungkiri gaun itu bernilai lebih dari penghasilannya selama satu bulan namun apalah arti uang disini?
Ia kembali melirik jam yang sekarang menunjukkan dua menit sebelum pukul lima, diatas jembatan layang itu masih ramai oleh hiruk-pikuk kendaraan. Tenanglah tak akan ada yang mampu menyelamatkanmu.
Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, tanpa berpikir panjang ia melepas pegangannya dari pagar yang menopang tubuh dan terjun bebas tanpa ada perlawanan terhadap gravitasi.
Tak semua bidadari hidup bahagia di surga
Mar 5, 2016
Mar 5, 2016 at 7:57 AM UTC
Palembang, Sabtu 2 Oktober 2010
Hari ini terjadi lagi
Kakak ku yang indah bertambah usia
Kini ia berbeda dari 29 tahun kemarin
Yang mana masih muda dan polosnya
Tak bisa ku berikan apa-apa
Kecuali doa yang tak henti ku panjatkan
Supaya kakak ku panjang umur
Sehat selalu dan cepat menikah
Pesanku untuknya, adalah
Teruslah ciptakan lirik indah
Karena ku suka saat kau berkata
Dalam bentuk nada yang indah
Pesanku kan ku sampaikan
Melalui sinyal-sinyal batin kita
Semoga Allah SWT melindunginya
Dan biarkan ia hidup bahagia
Created By. Aridea Purple
To Arlonsy M.
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 12:43 PM UTC
dahil wara katapusan an duon san mga mata
mabubuhay akong minamatay
san dating kaaway ko sa lawas na ini
sa lawas na ini naghambog an talawon
pinapagubtik an kaaluhan na nagpapamuda
muda na nagpupukaw saakon gurugab-i
kendi na nagpapahibi
mesias na naghahala-hala
magiging madalas an pagsid-ip niya sa bintana
para laen ko makita an liwanag
malaog siya sa kahon ko
laen para magkawat
kundi dagdagan an pagub-at
makasakat an pagbagsak
siya na ako
masurat tula.
~Written by Melton Balicano
(a bikol dialect)
since these eyes have been weighed down on unending
i shall live while being slain by an old foe in this body
this body where the craven had once boasted
surging chagrins that blaspheme
blasphemy that rouses this corpse in the dark
treats that shed tears
a messiah that taunts.
he shall constantly peep through the window
so that I see no light
he will break in my casket
not to thieve
but to burden further
the downfall shall rise
then he becomes me
penning a poem.
~a translation of Balicano's masterpiece
Glenn Sentes
Mar 6, 2013
Mar 6, 2013 at 7:59 PM UTC
pukul empat sore tadi
seorang pria tua penuh keriput diwajahnya
pergi melangkahkan kaki rentanya
keluar dari pondok jati tempat semalam ia terlelap
lengkap dengan pakaian rapih kebesarannya, sepatu boot dan tak lupa topi baret miliknya
diambilnya sepeda jengki bercat kusam
dengan sedikit bercak karat pada besi besinya
yang disandarkan oleh empunya pada pagar kayu depan pondok
digiringlah sang sepeda jengki menuju jalan sambil melangkah
menuju tempat tujuannya
selang beberapa saat, ia tunggangi sepeda jengki itu
ia kayuh sambil berpeluh pada dahi sampai ke tubuh
berbulir menetes tak ada ragu
lirih ia dendangkan lagu
yang telah ia hafal selama hidupnya
saat ia masih muda
yang dapat memacu semangatnya dulu
saat akan hendak pergi berperang bersama kawan-kawannya dulu
sesampainya ia di Jalan Kusumanegara
di depan taman berpagar tembok putih
di-remnya sepeda jengki kusam itu
tepat di tepi seorang wanita yang sudah terduduk rapi menggelar dagangannya
"Saya beli kembangmu, cukup lima ribu saja." itu katanya
sang wanita penjual lekas membungkuskan permintaannya dengan senyum dibibir
sembari memberikan bungkusan kembang kepada pria bersepeda jengki itu, ia lalu bertanya "Kalau boleh saya tahu, untuk siapa kembang ini Bapak beli?" ujarnya santun hormat
sang pria bersepeda jengki terdiam, ia lalu tertawa kecil
tawa khas seorang di usia senjanya
"Saya mau jenguk kawan seperjuangan saya, hari ini 20 Desember, tepatnya 68 tahun yang lalu, ia berpamitan ingin menuju dunia Qadim milikNya saat kami sedang berjuang untuk Negara" jawabnya
Pria bersepeda jengki itu lalu undur diri, dititipkannya sepeda tua miliknya
pada sang wanita penjual kembang, ia lalu berjalan kaki
memasuki gerbang tembok bercat putih
bertuliskan Taman Makam Pahlawan Kusumanegara
Daerah Istimewa Yogyakarta
dengan langkah mantap dan juga senyum mengembang di wajah keriputnya
" Assalamu'alaikum, Aku njaluk sepuro yo Di Mas, Kepriye kabarmu? Ayo gek tak ceritani kabar Indonesia saiki! "
Sep 23, 2016
Sep 23, 2016 at 12:19 PM UTC
Maaf
Maaf
Maaf
Kau bukan secarik kertas
yang dibuang begitu saja setelah kupakai
Kusut, coreng-moreng
Bukan, kau adalah kartu pos
yang disimpan rapi di lemari jati
Meski usiamu tiada muda
Kau bukan terik matahari
yang dicaci orang ketika ada,
diabaikan ketika tiada
Bukan, kau adalah suara rintik hujan
yang dipuji, dikagumi, didengar
Meski kau membasahi baju mereka
Kau bukan jam rusak
yang digantung terlalu tinggi untuk diganti
Berdebu, usang
Bukan, kau adalah api
yang dicari orang sampai kalang-kabut
Meski kau membakar rumah mereka
Tapi maaf jika aku membuatmu merasa seperti
secarik kertas, terik matahari, dan jam rusak
Bukan niat ingin menyakiti
Tapi aku memang tak bisa dicintai
Maaf.
Oct 21, 2013
Oct 21, 2013 at 6:17 AM UTC
Una victoria. Es tarde, no sabías.
Llegó como azucena a mi albedrío
el blanco talle que traspasa
la eternidad inmóvil de la tierra,
empujando una débil forma clara
hasta horadar la arcilla
con rayo blanco o espolón de leche.
Muda, compacta oscuridad del suelo
en cuyo precipicio
avanza la flor clara
hasta que el pabellón de su blancura
derrota el fondo indigno de la noche
y de la claridad en movimiento
se derraman atónitas semillas.
2.7k
menangis dan berontak jiwa muda
melawan prejudis dan komunis
minda anak kecil pula dijajah
katanya ini untuk masa depan
namun mereka lupa dan sentiasa lupa
dunia ini sifatnya selamanya sementara
diktator terus tersenyum
korupsi negeri negeri menjadi bukti mereka kuasa besar
kapal empayar tidak lagi membawa selamat
malah
--membawa mangsa untuk segala seterusnya
rakyat pula umpama anak kecil
terumbang ambing dan terus merengek
gaduh rebutkan yang tak pasti
cuma ada beberapa yang berani, kan kedengaran suaranya
lalu mereka itu dibunuh
agar senyap
agar tiada masalah ditelinga
kelihatan belia itu duduk
menongkat dagu
keluh resah dan bimbangnya kedengaran
berat nafasnya
--lalu berapa lama lagi?
tanda soal yang tidak berjawab di minda nya
umpama terdampar di laut dengan pelampung
menanti untuk diselamat
tapi masih tak pasti.
seru untuk semua yang ada;
yang masih berkudrat
yang masih waras akalnya
--lalu berapa lama lagi?
-f 1029pm oct 2nd
Oct 2, 2017
Oct 2, 2017 at 10:20 AM UTC
Palembang, 31 Mei 2012
Maaf
Aku hanya bisa bilang maaf
Hanya itu yang tersisa
Maaf
Tlah ku ungkapkan cinta
Tak sanggup lagi ku jaga
Maaf
Aku kekanak-kanakan
Aku memang masih sangat muda
Maaf
Aku tak bisa menurutimu
Kau bilang ini bukan cinta
Maaf
Hidupku aku yang jalani
Kau lah yang aku cintai
Maaf lagi
Aku harus pergi
Tak ingin terjerumus lebih dalam lagi
May 31, 2012
May 31, 2012 at 12:24 AM UTC
katakanlah, aku celaka
tersandung ke dalam lumbung asmara.
celaka kah aku
mengendap-endap di bawah rumah mu?
katakanlah, aku terkutuk
seorang yang tak diundang
tak semestinya duduk di ruang tamu.
terkutuk kah aku
membubung asa di atas hampa?
sadarkah aku
sedang menanti sekarat
dan karamnya harap?
dan ku akui,
aku ini binatang keparat
--berharap dua cincin akan enyah jua dimakan karat.
sampai jumpa cinta masa muda,
aku akan menanti di ujung tua
menyesal, sembari menatap
harap dan nyata
mustahil bersua.
maafkan aku menunggu hingga renta,
tak lain karena dirimu di relungku, sintas.
Oct 12, 2018
Oct 12, 2018 at 11:16 AM UTC
Palembang, 7 September 2012
Apa kau bilang?
Seenaknya memerintah!
Tuk apa Tuhan menciptakan raga yang sehat,
kaki yang kuat.
Bila kau tak mau menggerakkannya.
Kau hanya membuat mereka terdiam.
Mereka akan mati!
Mati mengurangi ***** di tubuhmu.
Apa kau bilang tadi?
Bukannya ku ini babu mu!
Seenaknya memerintah!
Menganggap yang muda mudah diperdaya.
Kau ini pintar!
Tapi tak cukup pintar.
Untuk apa kau sekolah tinggi?
Jika mulutmu tak dijaga.
Masih bilang apa kau tadi?
Kau memang lebih tua,
sudah banyak menghasilkan uang.
Tapi aku tidak bodoh!
Aku muda tapi bisa menghasilkan uang.
Aku terpelajar!
Ku akan miliki pekerjaan yang buat kau berkata WOW!
Aku balas apa yang kau katakan.
Terus, kau mau apa?
Sep 7, 2012
Sep 7, 2012 at 12:42 PM UTC
Pasir memeluk kakiku, tak mau melepaskanku.
Licinnya pasir berkali-kali membuatku terhisap.
Sama seperti pelukanmu kala itu,
yang terus mengunciku,
berontak tiada artinya
sampai akhirnya jiwaku tunduk pula padamu.
Kita pernah bahagia,
Bagai burung-burung yang terbang rendah, bermain-main diantara air,
Mengintip manisnya pantulan diri air biru.
Yang lama terasa singkat.
Seperti langit merah muda yang lama lama termakan kabut pindah ke kegelapan malam yang menenangkan hanya dalam hitungan detik.
Bagai kapal yang mengapung terombang ambing kencangnya ombak,
Ia tetap teguh karena telah menjatuhkan jangkarnya.
Begitulah aku ketika pada akhirnya hanya kau dijiwaku.
Namun arus laut begitu kuat,
begitu sulit untuk berenang pada arah tujuan.
Semesta punya ceritanya,
berkali-kali kupaksakan tubuhku tak terbawa arus,
namun kakiku lemah, terus menerus terobek tajamnya batu karang yang tak kelihatan.
Mungkin itu cara semesta beritahu
bahwa disana bukan tempat yang aman bagiku.
Aku menyerah.
Seperti butiran pasir yang kugenggam erat dibawah air laut,
satu per satu rontok,
aku tergoda untuk membuka tanganku di bawah air
dan menyaksikan kemegahan pasir-pasir kecil yang jatuh menghilang terseret air.
Itulah kau.
Laut punya caranya.
Semuanya akan terjadi alami.
Semesta poros pengaturnya.
Biarlah laut hapuskan kau.
Tenang saja,
aku akan kembali baik-baik saja.
Seperti debur ombak yang menyapu kasarnya pasir, ia mampu mendatarkan lintasannya yang sebelumnya hancur teracak-acak angin.
Bagai tapak kaki di basahnya pasir,
berjejak namun akan segera hilang begitu terhanyut ombak ataupun angin yg berhembus.
Apr 6, 2019
Apr 6, 2019 at 1:49 AM UTC
hembus aku nafas kelelahan
membaca bait cinta yg ditulis para muda
masing-masing melempar rasa
namun siapalah aku
mengatakan tidak pada rasa indah itu?
resah kamu mungkin tenang untuk aku
tatkala dunia goncang berebut harta
aku disini masih keliru tentang rasa
kemudiannya, aku melihat lirik mata anak muda yang sedang bebas teroka dunia
indah dan segar matanya
bersinar umpama harapan cerah sentiasa menanti mereka
sempat aku pesan anak muda,
teruslah berjuang demi rasamu
sematkan cinta kepada setiapnya
agar mudah kita kemudian hari kelak
kerana aku pasti
cinta yang tumbuh itu akan bersemi
dan terus ramai...
hingga satu hari, kan seluruh dunia tersenyum.
maka, teruslah.
teruslah...menulis..
944pm
oct 2nd 17
Oct 2, 2017
Oct 2, 2017 at 9:49 AM UTC
Este domingo triste pienso en ti dulcemente
y mi vieja mentira de olvido, ya no miente.
La soledad, a veces, es peor castigo...
Pero, ¡qué alegre todo, si estuvieras conmigo!
Entonces no querría mirar las nubes grises,
formando extraños mapas de imposibles países;
y el monótono ruido del agua no sería
el motivo secreto de mi melancolía.
Este domingo triste nace de algo que es mío,
que quizás es tu ausencia y quizás es mi hastío,
mientras corren las aguas por la calle en declive
y el corazón se muere de un ensueño que vive.
La tarde pide un poco de sol, como un mendigo,
y acaso hubiera sol si estuvieras conmigo;
y tendría la tarde, fragantemente muda,
el ingenuo impudor de una niña desnuda.
Si estuvieras conmigo, amor que no volviste,
¡qué alegre me sería este domingo triste!
1.8k
Bapak ... pada senja kali ini , entah mengapa aku ingin saja mengenangmu
kemarin ,aku melihat kau begitu parau ,gelegar suara tawa yg tdk lagi seriang dulu
Wajah keriput sudah tdk semulus dulu sewaktu muda .
Bahkan aku tidak pernah ingat kapan terakhir kali aku mencium keningmu ..
mencium tanganmu
Ya rabb , maafkan
Mar 16, 2015
Mar 16, 2015 at 5:16 AM UTC
Esta es la noche, la fraterna noche,
noche fogosa, noche lustral, noche aladínea: oh Noche en Éxtasis!
De un viaje absurdo mi sér llega transido:
destrizado mi espíritu señero;
fatigado mi cuerpo que tronchó la borrasca,
me magulló el naufragio contra arrecies y rompientes,
me amorató el cansancio fustigante,
que ensordeció la grita inarmoniosa:
por el aduar sombrío topé encendidas las lumbres temblorosas de tu tienda:
Ya otra ocasión, oh Noche, canté tu amor sin esperanza...!
Canto otra vez al linde de tu tienda,
Noche, Noche Morena...!
Tú me darás, oh Noche, el tibio asilo
de tu regazo, que perfuman exquisitos aromas:
Yo busco tu refugio, oh Noche, oh dulce Noche,
Noche ligeia -toda sutil encanto-;
oh Noche toda amor, toda supraterrena delicia...!
has de acoger mi espíritu y mi cuerpo
férvidos, Noche Elegida:
si a ti me doy, Noche Pura;
si en tus brazos y muslos diamantinos me refugio,
Noche Amorosa;
si bajo tus constelaciones inextinguibles
-oh nébulas de Andrómeda y Orión-
mi pobre luz humillo, oh Noche Omnisapiente...!
has de acoger mi espíritu y mi cuerpo,
mi corazón, mi sangre, todo mi sér, oh Noche,
Noche, Noche Elegida!
Yo te amaré con amor infinito,
Noche Eterna;
yo te amaré con amor transitorio,
Noche en Fuga;
yo te amaré con seráfico amor,
Noche Virgen;
yo te amaré con amor turbulento,
Noche en Ascuas;
yo te amaré con amor cerebral, inmaterial, fosforescente, irradiante
Noche Metafísica;
bajo la rósea luz de Venus encendida,
yo te amaré, Noche Insaciable;
yo te amaré bajo la advocación de la romántica Selene,
Noche Diana;
pérfido te amaré,
Noche Proclive;
yo tempestuoso te amaré,
Noche Vortiginosa;
yo te amaré glacial,
Noche Fría;
yo te amaré furtivo,
Noche Cauta;
yo te amaré cantando a gritos mi pasión,
Noche Desafiante;
tácito te amaré,
Noche Muda.
Has de acoger mi espíritu y mi cuerpo,
mi sangre, mi corazón, todo mi sér
-únicos-, Noche Unica,
Noche, Noche Elegida...!
Yo busco tu refugio, oh Noche, oh pulcra Noche,
Noche ligeia -toda sutil encanto-,
oh Noche toda amor, toda supraterrena delicia...:
Esta es la Noche, la Fraterna Noche,
Noche Amante, Noche Lustral...: mi Noche en Éxtasis...!!
1.7k
Otra canción
he de cantar,
ingenua.
Otra canción (desnuda de artificios
como mi pena:
que no llora, ni se crispa,
ni se queja).
Otra canción desnuda de artificios
como mi pena,
(como mi pena: muda,
así la relate mórbidamente; y quieta:
no importa que sea motor de mi cansancio,
hélice de mi pereza,
remo de mi estatismo,
ala de mi indiferencia;
como mi pena: -por más que avizore y otee
los horizontes- ciega).
Otra canción he de cantar
ingenua.
Otra canción, de un ritmo opacado, de brumas
y de leyenda,
de brumas
y de quimera:
sin timbres gárrulos de Oriente
-asordinada-; sin tamboriles gayos ni danzarinas bayaderas;
sin bélicos clarines y sin fanfarrias épicas.
Una canción hiperbórea,
gris: que la cantasen noruegos marinos
en sus barcazas pesqueras;
que la cantasen campesinos de Helsingor y aldeanas
de Abylund y de la Karelia.
Otra canción
he de cantar
ingenua.
Sin este sol vibrante ni los estridores
que me circundan:
como si no habitase las tropicales
beocias antitéticas
-burgos sordos,
cálidas selvas-:
como si no retumbase en mis oídos
la fragorosa cantinela
del río que rompe su fastidio
en las filudas peñas!
Canción que nada diga
y apenas sí sugiera.
Que nada diga
mas deje en los oídos
vaga impresión insegura de leyenda
y de quimera:
(el hondo rumor que de los caracoles
en la rósea espiral se aposenta).
Canción de gente tosca,
de ruda gente marinera,
canción que se cantase en la hora de los coloquios
-del norteño puerto nativo en el muelle
o en la taberna-.
Otra canción he de cantar, ingenua.
Desnuda de artificios
como mi pena,
Sobria de afeites frívolos,
burda como la lona de las velas
de los esquifes pescadores;
burda: ¡y encinta de odiseas,
de temporales y de naufragios
como las velas!
1.5k
Como uma gota de água se juntando formando um oceano,
É a cor da esperança azulada desse mar perto dos teus seios,
Nada diferente da saudade das noites loucas perto da água,
Em que vivi momentos eternos para o meu coração,
Não poderia nunca esquecer que aqueci meus anseios junto de ti,
Acreditei na realização dos melhores sonhos perante o teu sorriso,
O teu silêncio confortou-me sempre que precisava de paz e harmonia.
A cor dos teus olhos igual à do meu coração nunca eu vou esquecer,
Como não me esqueço das tuas mãos quentes agarrando o meu corpo,
O teu suspiro suave mantendo-me quente e aconchegado nos teus braços.
Se eu voltar a viver esses momentos para sempre recordar,
Será ironia de um destino permanente e cada vez mais distante,
Mas é essa a verdade que ficou, é difícil ocuparem o teu lugar,
Também porque continua ocupado com as tuas coisas,
O teu cheiro mantem-se impregnado em mim como se fosse hoje,
O som das tuas palavras doces ficou nos meus ouvidos,
E ainda hoje te ouço por vezes nos meus sonhos!
Tudo acabou mal mas não muda a pessoa que tu és!
És exactamente aquilo que te dizia tantas vezes ao ouvido!
Coisas que só eu e tu sabemos e vamos recordando!
Um desejo que estejas bem e guardes de mim boa lembrança!
Se assim for nada que pudesse existir me deixaria mais feliz.
Autor: António Benigno
Aug 31, 2013
Aug 31, 2013 at 5:01 AM UTC
Semarang; Disini aku merindukanmu.
Katanya tidak ada penyesalan
Nyatanya memang tidak ada harapan
Malam semakin menyeramak,
Pasangan muda-mudi makin memadat.
Bersemara di Semarang katanya.
Biarkalah dia pulang,
Lalu kembalilah setahun kemudian,
Sambil membawa sepercik senyuman sejuta luka.
Dec 28, 2018
Dec 28, 2018 at 10:05 AM UTC
istirahatlah untuk sejenak
pendar hangatmu masih istimewa
“selamat malam” mu masih ku simpan untuk malam malam yang tidak bisa ku jinak-kan
jangan khawatir ibu
istirahatlah untuk sejenak
temui aku saat kau muda kembali
dan kerut senyum mu pudar abadi
Apr 19, 2019
Apr 19, 2019 at 11:17 PM UTC