Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"muda" poems
Palembang, 3 November Masih ingat ku di usia muda Saat ku dikelilingi ruang hampa Jari tetap menggoreskan tinta Hati tetap menerawang asa Di hati terdalam terselip doa indah Permohonan gadis kecil yang kesepian Aku berdoa tapi terus bekerja Sendirian.. Tak ada seorangpun di sekitar Merasa orang biasa tak kan mengerti Susah pun tuk diungkap Tak mampi lagi berucap Malu pun yang ada di setiap kata Berjanji kepada Tuhan Akan berbuat baik jika diberi teman Tipe yang langsung mengerti akan keadaan Dan tak harus ku ucap lagi tuk Dia dengarkan Bisa ku dengar semua sunyi Ada kejutan dibalik kesunyian-Nya Akan selalu ku nanti Soulmate Aridea Hingga Tuhan percaya aku akan membutuhkannya Created by. Aridea Purple a.k.a Erika Maya W Handoko
0
Nov 3, 2011
Nov 3, 2011 at 9:32 AM UTC
Soulmate Aridea
Hidup dengan segala problematikanya sejenak senang sejenak tenang sejenak buram sejenak suram Matahari bawaku cahaya Tapi aku kepanasan Hijab bawaku perlindungan Tapi aku tertutup Pohon bawaku udara Tapi aku tumbangkan untuk wi-fi Ini baik tapi ini buruk. Lalu hadir kerutan ditengah keningku Melengkapi lipatan hitam mata ini Hasil semua akar-akar pikiran Bola matapun sekarang berfilter Kuingat mawar pemberiannya Gambar persembahan mereka Seluruh tumpahan merah muda itu Tapi tetap saja kabut dari belakang datang Ia bersembunyi hanya tuk muncul kembali - - - Mengapa begini? Terlalu banyak tapi Mengindahkan kebingungan Terbawa kelelahan
0
Nov 10, 2014
Nov 10, 2014 at 6:58 AM UTC
Kontradiksi
tidak disadari, langit yang biru berubah menjadi warna oranye dan ungu muda. perpaduannya pun sangat indah, ditemani pula oleh kicauan burung yang sunyi. selang waktu berjalan, hati semakin berat, pena dan kertas, aku bertemu lagi denganmu. langit yang indah tiba tiba berteriak, seperti singa yang mengaung ditengah ladang. apakah mungkin, bahwa kita melihat langit yang sama? perbedaan waktu yang tidak masuk akal, ingin membuatku menguras air di lautan yang biru, yang menghalangi pertemuan kita. gila, bukan? aku berbicara kepada kertas putih, layaknya kertas ini adalah sahabatku, atau kuping yang selalu mendengar. tangisan hati pun terlalu keras, malam ini. langit yang indah, sekarang bersaturasi, menjadi warna abu abu yang gelap, jadi ini, toh. ini, yang dinamakan berbicara kepada kertas, saat air mata milik senja, turun dari langit.
0
Feb 20, 2019
Feb 20, 2019 at 8:15 AM UTC
air mata milik senja
Jakarta, 1986 Wanita berambut cokelat muda sebahu itu terlihat sedang asyik mengamati asap rokok yang ia keluarkan sebelum membuang puntung rokok ke tanah dan menginjaknya. Jalanan di Jakarta memang selalu ramai tapi tak satupun mobil-mobil yang sedang berlalu-lalang itu akan berhenti dan menghentikan apa yang akan ia lakukan setelah jam menunjukkan pukul lima pagi. Masih terngiang di kepala apa yang orang-orang katakan tentangnya selama ini.. sampah, pelacur memang tidak pantas hidup enak, ingat ya, kau itu cuma pelacur ia memejamkan mata sambil perlahan menghitung berapa kali ia telah mendengarkan cacian setiap pulang. Jam yang berada di tangan kirinya masih menunjukkan pukul lima kurang lima belas menit, ya lima belas menit yang ia gunakan untuk akhirnya mengingat perkataan Abimanyu. Laki-laki terakhir yang memberikan segalanya, harta, kasih sayang, dan waktu tapi ia tak dapat menikmati itu semua walau sudah mencoba beribu kali aku tidak akan pernah berubah menjadi laki-laki yang sudah menyia-nyiakanmu ,kau tahu bahwa seberapapun mahalnya berlian apabila yang memakainya tidak pantas maka akan terlihat murah?, kau terlihat cantik dengan apapun, aku melakukan semua ini karena aku tak sanggup melihatmu sedih, aku akan terus mencintaimu walau kau tak akan pernah bisa membalas perasaanku yang hanya akan selalu ia balas dengan aku sudah tak percaya cinta atau aku sudah tak punya hati hatinya telah membeku dicabik-cabik sejak dulu, sebelum bertemu Abimanyu. Air mata perlahan mengalir dari mata yang tertutup itu, lima menit lagi batinnya sebelum mengusap air mata yang sudah membasah pipi dan meluruskan gaun putih rancangan desainer terkenal yang diberikan sebagai hadiah untuknya tak dipungkiri gaun itu bernilai lebih dari penghasilannya selama satu bulan namun apalah arti uang disini? Ia kembali melirik jam yang sekarang menunjukkan dua menit sebelum pukul lima, diatas jembatan layang itu masih ramai oleh hiruk-pikuk kendaraan.  Tenanglah tak akan ada yang mampu menyelamatkanmu. Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, tanpa berpikir panjang ia melepas pegangannya dari pagar yang menopang tubuh dan terjun bebas tanpa ada perlawanan terhadap gravitasi. Tak semua bidadari hidup bahagia di surga
0
Mar 5, 2016
Mar 5, 2016 at 7:57 AM UTC
Bidadari Fajar
Jakarta, 1986 Wanita berambut cokelat muda sebahu itu terlihat sedang asyik mengamati asap rokok yang ia keluarkan sebelum membuang puntung rokok ke tanah dan menginjaknya. Jalanan di Jakarta memang selalu ramai tapi tak satupun mobil-mobil yang sedang berlalu-lalang itu akan berhenti dan menghentikan apa yang akan ia lakukan setelah jam menunjukkan pukul lima pagi. Masih terngiang di kepala apa yang orang-orang katakan tentangnya selama ini.. sampah, pelacur memang tidak pantas hidup enak, ingat ya, kau itu cuma pelacur ia memejamkan mata sambil perlahan menghitung berapa kali ia telah mendengarkan cacian setiap pulang. Jam yang berada di tangan kirinya masih menunjukkan pukul lima kurang lima belas menit, ya lima belas menit yang ia gunakan untuk akhirnya mengingat perkataan Abimanyu. Laki-laki terakhir yang memberikan segalanya, harta, kasih sayang, dan waktu tapi ia tak dapat menikmati itu semua walau sudah mencoba beribu kali aku tidak akan pernah berubah menjadi laki-laki yang sudah menyia-nyiakanmu ,kau tahu bahwa seberapapun mahalnya berlian apabila yang memakainya tidak pantas maka akan terlihat murah?, kau terlihat cantik dengan apapun, aku melakukan semua ini karena aku tak sanggup melihatmu sedih, aku akan terus mencintaimu walau kau tak akan pernah bisa membalas perasaanku yang hanya akan selalu ia balas dengan aku sudah tak percaya cinta atau aku sudah tak punya hati hatinya telah membeku dicabik-cabik sejak dulu, sebelum bertemu Abimanyu. Air mata perlahan mengalir dari mata yang tertutup itu, lima menit lagi batinnya sebelum mengusap air mata yang sudah membasah pipi dan meluruskan gaun putih rancangan desainer terkenal yang diberikan sebagai hadiah untuknya tak dipungkiri gaun itu bernilai lebih dari penghasilannya selama satu bulan namun apalah arti uang disini? Ia kembali melirik jam yang sekarang menunjukkan dua menit sebelum pukul lima, diatas jembatan layang itu masih ramai oleh hiruk-pikuk kendaraan.  Tenanglah tak akan ada yang mampu menyelamatkanmu. Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, tanpa berpikir panjang ia melepas pegangannya dari pagar yang menopang tubuh dan terjun bebas tanpa ada perlawanan terhadap gravitasi. Tak semua bidadari hidup bahagia di surga
Continue reading...
6
Palembang, Sabtu 2 Oktober 2010 Hari ini terjadi lagi Kakak ku yang indah bertambah usia Kini ia berbeda dari 29 tahun kemarin Yang mana masih muda dan polosnya Tak bisa ku berikan apa-apa Kecuali doa yang tak henti ku panjatkan Supaya kakak ku panjang umur Sehat selalu dan cepat menikah Pesanku untuknya, adalah Teruslah ciptakan lirik indah Karena ku suka saat kau berkata Dalam bentuk nada yang indah Pesanku kan ku sampaikan Melalui sinyal-sinyal batin kita Semoga Allah SWT melindunginya Dan biarkan ia hidup bahagia Created By. Aridea Purple To Arlonsy M.
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 12:43 PM UTC
Doa Untuk Kakak
dahil wara katapusan an duon san mga mata mabubuhay akong minamatay san dating kaaway ko sa lawas na ini sa lawas na ini naghambog an talawon pinapagubtik an kaaluhan na nagpapamuda muda na nagpupukaw saakon gurugab-i kendi na nagpapahibi mesias na naghahala-hala magiging madalas an pagsid-ip niya sa bintana para laen ko makita an liwanag malaog siya sa kahon ko laen para magkawat kundi dagdagan an pagub-at makasakat an pagbagsak siya na ako masurat tula. ~Written by Melton Balicano (a bikol dialect) since these eyes have been weighed down on unending i shall live while being slain by an old foe in this body this body where the craven had once boasted surging chagrins that blaspheme blasphemy that rouses this corpse in the dark treats that shed tears a messiah that taunts. he shall constantly peep through the window so that I see no light he will break in my casket not to thieve but to burden further the downfall shall rise then he becomes me penning a poem. ~a translation of Balicano's masterpiece Glenn Sentes
0
Mar 6, 2013
Mar 6, 2013 at 7:59 PM UTC
Sepsis
pukul empat sore tadi seorang pria tua penuh keriput diwajahnya pergi melangkahkan kaki rentanya keluar dari pondok jati tempat semalam ia terlelap lengkap dengan pakaian rapih kebesarannya, sepatu boot dan tak lupa topi baret miliknya diambilnya sepeda jengki bercat kusam dengan sedikit bercak karat pada besi besinya yang disandarkan oleh empunya pada pagar kayu depan pondok digiringlah sang sepeda jengki menuju jalan sambil melangkah menuju tempat tujuannya selang beberapa saat, ia tunggangi sepeda jengki itu ia kayuh sambil berpeluh pada dahi sampai ke tubuh berbulir menetes tak ada ragu lirih ia dendangkan lagu yang telah ia hafal selama hidupnya saat ia masih muda yang dapat memacu semangatnya dulu saat akan hendak pergi berperang bersama kawan-kawannya dulu sesampainya ia di Jalan Kusumanegara di depan taman berpagar tembok putih di-remnya sepeda jengki kusam itu tepat di tepi seorang wanita yang sudah terduduk rapi menggelar dagangannya "Saya beli kembangmu, cukup lima ribu saja." itu katanya sang wanita penjual lekas membungkuskan permintaannya dengan senyum dibibir sembari memberikan bungkusan kembang kepada pria bersepeda jengki itu, ia lalu bertanya "Kalau boleh saya tahu, untuk siapa kembang ini Bapak beli?" ujarnya santun hormat sang pria bersepeda jengki terdiam, ia lalu tertawa kecil tawa khas seorang di usia senjanya "Saya mau jenguk kawan seperjuangan saya, hari ini 20 Desember, tepatnya 68 tahun yang lalu, ia berpamitan ingin menuju dunia Qadim milikNya saat kami sedang berjuang untuk Negara" jawabnya Pria bersepeda jengki itu lalu undur diri, dititipkannya sepeda tua miliknya pada sang wanita penjual kembang, ia lalu berjalan kaki memasuki gerbang tembok bercat putih bertuliskan Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Daerah Istimewa Yogyakarta dengan langkah mantap dan juga senyum mengembang di wajah keriputnya " Assalamu'alaikum, Aku njaluk sepuro yo Di Mas, Kepriye kabarmu? Ayo gek tak ceritani kabar Indonesia saiki! "
0
Sep 23, 2016
Sep 23, 2016 at 12:19 PM UTC
Sepenggal Cerita 68 tahun
pukul empat sore tadi seorang pria tua penuh keriput diwajahnya pergi melangkahkan kaki rentanya keluar dari pondok jati tempat semalam ia terlelap lengkap dengan pakaian rapih kebesarannya, sepatu boot dan tak lupa topi baret miliknya diambilnya sepeda jengki bercat kusam dengan sedikit bercak karat pada besi besinya yang disandarkan oleh empunya pada pagar kayu depan pondok digiringlah sang sepeda jengki menuju jalan sambil melangkah menuju tempat tujuannya selang beberapa saat, ia tunggangi sepeda jengki itu ia kayuh sambil berpeluh pada dahi sampai ke tubuh berbulir menetes tak ada ragu lirih ia dendangkan lagu yang telah ia hafal selama hidupnya saat ia masih muda yang dapat memacu semangatnya dulu saat akan hendak pergi berperang bersama kawan-kawannya dulu sesampainya ia di Jalan Kusumanegara di depan taman berpagar tembok putih di-remnya sepeda jengki kusam itu tepat di tepi seorang wanita yang sudah terduduk rapi menggelar dagangannya "Saya beli kembangmu, cukup lima ribu saja." itu katanya sang wanita penjual lekas membungkuskan permintaannya dengan senyum dibibir sembari memberikan bungkusan kembang kepada pria bersepeda jengki itu, ia lalu bertanya "Kalau boleh saya tahu, untuk siapa kembang ini Bapak beli?" ujarnya santun hormat sang pria bersepeda jengki terdiam, ia lalu tertawa kecil tawa khas seorang di usia senjanya "Saya mau jenguk kawan seperjuangan saya, hari ini 20 Desember, tepatnya 68 tahun yang lalu, ia berpamitan ingin menuju dunia Qadim milikNya saat kami sedang berjuang untuk Negara" jawabnya Pria bersepeda jengki itu lalu undur diri, dititipkannya sepeda tua miliknya pada sang wanita penjual kembang, ia lalu berjalan kaki memasuki gerbang tembok bercat putih bertuliskan Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Daerah Istimewa Yogyakarta dengan langkah mantap dan juga senyum mengembang di wajah keriputnya " Assalamu'alaikum, Aku njaluk sepuro yo Di Mas, Kepriye kabarmu? Ayo gek tak ceritani kabar Indonesia saiki! "
Continue reading...
35
Maaf Maaf Maaf Kau bukan secarik kertas yang dibuang begitu saja setelah kupakai Kusut, coreng-moreng Bukan, kau adalah kartu pos yang disimpan rapi di lemari jati Meski usiamu tiada muda Kau bukan terik matahari yang dicaci orang ketika ada, diabaikan ketika tiada Bukan, kau adalah suara rintik hujan yang dipuji, dikagumi, didengar Meski kau membasahi baju mereka Kau bukan jam rusak yang digantung terlalu tinggi untuk diganti Berdebu, usang Bukan, kau adalah api yang dicari orang sampai kalang-kabut Meski kau membakar rumah mereka Tapi maaf jika aku membuatmu merasa seperti secarik kertas, terik matahari, dan jam rusak Bukan niat ingin menyakiti Tapi aku memang tak bisa dicintai Maaf.
0
Oct 21, 2013
Oct 21, 2013 at 6:17 AM UTC
Maaf
Una victoria. Es tarde, no sabías. Llegó como azucena a mi albedrío el blanco talle que traspasa la eternidad inmóvil de la tierra, empujando una débil forma clara hasta horadar la arcilla con rayo blanco o espolón de leche. Muda, compacta oscuridad del suelo en cuyo precipicio avanza la flor clara hasta que el pabellón de su blancura derrota el fondo indigno de la noche y de la claridad en movimiento se derraman atónitas semillas.
0
2.7k
Enigma con una flor
menangis dan berontak jiwa muda melawan prejudis dan komunis minda anak kecil pula dijajah katanya ini untuk masa depan namun mereka lupa dan sentiasa lupa dunia ini sifatnya selamanya sementara diktator terus tersenyum korupsi negeri negeri menjadi bukti mereka kuasa besar kapal empayar tidak lagi membawa selamat malah --membawa mangsa untuk segala seterusnya rakyat pula umpama anak kecil terumbang ambing dan terus merengek gaduh rebutkan yang tak pasti cuma ada beberapa yang berani, kan kedengaran suaranya lalu mereka itu dibunuh agar senyap agar tiada masalah ditelinga kelihatan belia itu duduk menongkat dagu keluh resah dan bimbangnya kedengaran berat nafasnya --lalu berapa lama lagi? tanda soal yang tidak berjawab di minda nya umpama terdampar di laut dengan pelampung menanti untuk diselamat tapi masih tak pasti. seru untuk semua yang ada; yang masih berkudrat yang masih waras akalnya --lalu berapa lama lagi? -f 1029pm oct 2nd
0
Oct 2, 2017
Oct 2, 2017 at 10:20 AM UTC
dunia
Palembang, 31 Mei 2012 Maaf Aku hanya bisa bilang maaf Hanya itu yang tersisa Maaf Tlah ku ungkapkan cinta Tak sanggup lagi ku jaga Maaf Aku kekanak-kanakan Aku memang masih sangat muda Maaf Aku tak bisa menurutimu Kau bilang ini bukan cinta Maaf Hidupku aku yang jalani Kau lah yang aku cintai Maaf lagi Aku harus pergi Tak ingin terjerumus lebih dalam lagi
0
May 31, 2012
May 31, 2012 at 12:24 AM UTC
Maaf Lagi
katakanlah, aku celaka tersandung ke dalam lumbung asmara.                                     celaka kah aku mengendap-endap di bawah rumah mu? katakanlah, aku terkutuk seorang yang tak diundang tak semestinya duduk di ruang tamu.                                  terkutuk kah aku membubung asa di atas hampa?                  sadarkah aku         sedang menanti sekarat            dan karamnya harap? dan ku akui, aku ini binatang keparat --berharap dua cincin akan enyah jua dimakan karat. sampai jumpa cinta masa muda, aku akan menanti di ujung tua menyesal, sembari menatap harap dan nyata mustahil bersua. maafkan aku menunggu hingga renta, tak lain karena dirimu di relungku, sintas.
0
Oct 12, 2018
Oct 12, 2018 at 11:16 AM UTC
Cincin karat
Palembang, 7 September 2012 Apa kau bilang? Seenaknya memerintah! Tuk apa Tuhan menciptakan raga yang sehat, kaki yang kuat. Bila kau tak mau menggerakkannya. Kau hanya membuat mereka terdiam. Mereka akan mati! Mati mengurangi ***** di tubuhmu. Apa kau bilang tadi? Bukannya ku ini babu mu! Seenaknya memerintah! Menganggap yang muda mudah diperdaya. Kau ini pintar! Tapi tak cukup pintar. Untuk apa kau sekolah tinggi? Jika mulutmu tak dijaga. Masih bilang apa kau tadi? Kau memang lebih tua, sudah banyak menghasilkan uang. Tapi aku tidak bodoh! Aku muda tapi bisa menghasilkan uang. Aku terpelajar! Ku akan miliki pekerjaan yang buat kau berkata WOW! Aku balas apa yang kau katakan. Terus, kau mau apa?
0
Sep 7, 2012
Sep 7, 2012 at 12:42 PM UTC
marah
Pasir memeluk kakiku, tak mau melepaskanku. Licinnya pasir berkali-kali membuatku terhisap. Sama seperti pelukanmu kala itu, yang terus mengunciku, berontak tiada artinya sampai akhirnya jiwaku tunduk pula padamu. Kita pernah bahagia, Bagai burung-burung yang terbang rendah, bermain-main diantara air, Mengintip manisnya pantulan diri air biru. Yang lama terasa singkat. Seperti langit merah muda yang lama lama termakan kabut pindah ke kegelapan malam yang menenangkan hanya dalam hitungan detik. Bagai kapal yang mengapung terombang ambing kencangnya ombak, Ia tetap teguh karena telah menjatuhkan jangkarnya. Begitulah aku ketika pada akhirnya hanya kau dijiwaku. Namun arus laut begitu kuat, begitu sulit untuk berenang pada arah tujuan. Semesta punya ceritanya, berkali-kali kupaksakan tubuhku tak terbawa arus, namun kakiku lemah, terus menerus terobek tajamnya batu karang yang tak kelihatan. Mungkin itu cara semesta beritahu bahwa disana bukan tempat yang aman bagiku. Aku menyerah. Seperti butiran pasir yang kugenggam erat dibawah air laut, satu per satu rontok, aku tergoda untuk membuka tanganku di bawah air dan menyaksikan kemegahan pasir-pasir kecil yang jatuh menghilang terseret air. Itulah kau. Laut punya caranya. Semuanya akan terjadi alami. Semesta poros pengaturnya. Biarlah laut hapuskan kau. Tenang saja, aku akan kembali baik-baik saja. Seperti debur ombak yang menyapu kasarnya pasir, ia mampu mendatarkan lintasannya yang sebelumnya hancur teracak-acak angin. Bagai tapak kaki di basahnya pasir, berjejak namun akan segera hilang begitu terhanyut ombak ataupun angin yg berhembus.
0
Apr 6, 2019
Apr 6, 2019 at 1:49 AM UTC
Laut punya caranya
Pasir memeluk kakiku, tak mau melepaskanku. Licinnya pasir berkali-kali membuatku terhisap. Sama seperti pelukanmu kala itu, yang terus mengunciku, berontak tiada artinya sampai akhirnya jiwaku tunduk pula padamu. Kita pernah bahagia, Bagai burung-burung yang terbang rendah, bermain-main diantara air, Mengintip manisnya pantulan diri air biru. Yang lama terasa singkat. Seperti langit merah muda yang lama lama termakan kabut pindah ke kegelapan malam yang menenangkan hanya dalam hitungan detik. Bagai kapal yang mengapung terombang ambing kencangnya ombak, Ia tetap teguh karena telah menjatuhkan jangkarnya. Begitulah aku ketika pada akhirnya hanya kau dijiwaku. Namun arus laut begitu kuat, begitu sulit untuk berenang pada arah tujuan. Semesta punya ceritanya, berkali-kali kupaksakan tubuhku tak terbawa arus, namun kakiku lemah, terus menerus terobek tajamnya batu karang yang tak kelihatan. Mungkin itu cara semesta beritahu bahwa disana bukan tempat yang aman bagiku. Aku menyerah. Seperti butiran pasir yang kugenggam erat dibawah air laut, satu per satu rontok, aku tergoda untuk membuka tanganku di bawah air dan menyaksikan kemegahan pasir-pasir kecil yang jatuh menghilang terseret air. Itulah kau. Laut punya caranya. Semuanya akan terjadi alami. Semesta poros pengaturnya. Biarlah laut hapuskan kau. Tenang saja, aku akan kembali baik-baik saja. Seperti debur ombak yang menyapu kasarnya pasir, ia mampu mendatarkan lintasannya yang sebelumnya hancur teracak-acak angin. Bagai tapak kaki di basahnya pasir, berjejak namun akan segera hilang begitu terhanyut ombak ataupun angin yg berhembus.
Continue reading...
36
hembus aku nafas kelelahan membaca bait cinta yg ditulis para muda masing-masing melempar rasa namun siapalah aku mengatakan tidak pada rasa indah itu? resah kamu mungkin tenang untuk aku tatkala dunia goncang berebut harta aku disini masih keliru tentang rasa kemudiannya, aku melihat lirik mata anak muda yang sedang bebas teroka dunia indah dan segar matanya bersinar umpama harapan cerah sentiasa menanti mereka sempat aku pesan anak muda, teruslah berjuang demi rasamu sematkan cinta kepada setiapnya agar mudah kita kemudian hari kelak kerana aku pasti cinta yang tumbuh itu akan bersemi dan terus ramai... hingga satu hari, kan seluruh dunia tersenyum. maka, teruslah. teruslah...menulis.. 944pm oct 2nd 17
0
Oct 2, 2017
Oct 2, 2017 at 9:49 AM UTC
Kepada setiap hati
Este domingo triste pienso en ti dulcemente y mi vieja mentira de olvido, ya no miente. La soledad, a veces, es peor castigo... Pero, ¡qué alegre todo, si estuvieras conmigo! Entonces no querría mirar las nubes grises, formando extraños mapas de imposibles países; y el monótono ruido del agua no sería el motivo secreto de mi melancolía. Este domingo triste nace de algo que es mío, que quizás es tu ausencia y quizás es mi hastío, mientras corren las aguas por la calle en declive y el corazón se muere de un ensueño que vive. La tarde pide un poco de sol, como un mendigo, y acaso hubiera sol si estuvieras conmigo; y tendría la tarde, fragantemente muda, el ingenuo impudor de una niña desnuda. Si estuvieras conmigo, amor que no volviste, ¡qué alegre me sería este domingo triste!
0
1.8k
Poema del domingo triste
Bapak ... pada senja kali ini , entah mengapa aku ingin saja mengenangmu kemarin ,aku melihat kau begitu parau ,gelegar suara tawa yg tdk lagi seriang dulu Wajah keriput sudah tdk semulus dulu sewaktu muda . Bahkan aku tidak pernah ingat kapan terakhir kali aku mencium keningmu .. mencium tanganmu Ya rabb , maafkan
0
Mar 16, 2015
Mar 16, 2015 at 5:16 AM UTC
Untitled
Esta es la noche, la fraterna noche, noche fogosa, noche lustral, noche aladínea: oh Noche en Éxtasis!     De un viaje absurdo mi sér llega transido: destrizado mi espíritu señero; fatigado mi cuerpo que tronchó la borrasca, me magulló el naufragio contra arrecies y rompientes, me amorató el cansancio fustigante, que ensordeció la grita inarmoniosa: por el aduar sombrío topé encendidas las lumbres temblorosas de tu tienda: Ya otra ocasión, oh Noche, canté tu amor sin esperanza...! Canto otra vez al linde de tu tienda, Noche, Noche Morena...!     Tú me darás, oh Noche, el tibio asilo de tu regazo, que perfuman exquisitos aromas: Yo busco tu refugio, oh Noche, oh dulce Noche, Noche ligeia -toda sutil encanto-; oh Noche toda amor, toda supraterrena delicia...!     has de acoger mi espíritu y mi cuerpo férvidos, Noche Elegida:     si a ti me doy, Noche Pura; si en tus brazos y muslos diamantinos me refugio, Noche Amorosa;     si bajo tus constelaciones inextinguibles -oh nébulas de Andrómeda y Orión- mi pobre luz humillo, oh Noche Omnisapiente...!     has de acoger mi espíritu y mi cuerpo, mi corazón, mi sangre, todo mi sér, oh Noche, Noche, Noche Elegida!     Yo te amaré con amor infinito, Noche Eterna;     yo te amaré con amor transitorio, Noche en Fuga;     yo te amaré con seráfico amor, Noche Virgen;     yo te amaré con amor turbulento, Noche en Ascuas;     yo te amaré con amor cerebral, inmaterial, fosforescente, irradiante Noche Metafísica;     bajo la rósea luz de Venus encendida, yo te amaré, Noche Insaciable;     yo te amaré bajo la advocación de la romántica Selene, Noche Diana;     pérfido te amaré, Noche Proclive;     yo tempestuoso te amaré, Noche Vortiginosa;     yo te amaré glacial, Noche Fría;     yo te amaré furtivo, Noche Cauta;     yo te amaré cantando a gritos mi pasión, Noche Desafiante;     tácito te amaré, Noche Muda.     Has de acoger mi espíritu y mi cuerpo, mi sangre, mi corazón, todo mi  sér -únicos-, Noche Unica, Noche, Noche Elegida...!     Yo busco tu refugio, oh Noche, oh pulcra Noche, Noche ligeia -toda sutil encanto-, oh Noche toda amor, toda supraterrena delicia...: Esta es la Noche, la Fraterna Noche, Noche Amante,  Noche Lustral...: mi Noche en Éxtasis...!!
0
1.7k
Fantasía cuasi una sonata
Esta es la noche, la fraterna noche, noche fogosa, noche lustral, noche aladínea: oh Noche en Éxtasis!     De un viaje absurdo mi sér llega transido: destrizado mi espíritu señero; fatigado mi cuerpo que tronchó la borrasca, me magulló el naufragio contra arrecies y rompientes, me amorató el cansancio fustigante, que ensordeció la grita inarmoniosa: por el aduar sombrío topé encendidas las lumbres temblorosas de tu tienda: Ya otra ocasión, oh Noche, canté tu amor sin esperanza...! Canto otra vez al linde de tu tienda, Noche, Noche Morena...!     Tú me darás, oh Noche, el tibio asilo de tu regazo, que perfuman exquisitos aromas: Yo busco tu refugio, oh Noche, oh dulce Noche, Noche ligeia -toda sutil encanto-; oh Noche toda amor, toda supraterrena delicia...!     has de acoger mi espíritu y mi cuerpo férvidos, Noche Elegida:     si a ti me doy, Noche Pura; si en tus brazos y muslos diamantinos me refugio, Noche Amorosa;     si bajo tus constelaciones inextinguibles -oh nébulas de Andrómeda y Orión- mi pobre luz humillo, oh Noche Omnisapiente...!     has de acoger mi espíritu y mi cuerpo, mi corazón, mi sangre, todo mi sér, oh Noche, Noche, Noche Elegida!     Yo te amaré con amor infinito, Noche Eterna;     yo te amaré con amor transitorio, Noche en Fuga;     yo te amaré con seráfico amor, Noche Virgen;     yo te amaré con amor turbulento, Noche en Ascuas;     yo te amaré con amor cerebral, inmaterial, fosforescente, irradiante Noche Metafísica;     bajo la rósea luz de Venus encendida, yo te amaré, Noche Insaciable;     yo te amaré bajo la advocación de la romántica Selene, Noche Diana;     pérfido te amaré, Noche Proclive;     yo tempestuoso te amaré, Noche Vortiginosa;     yo te amaré glacial, Noche Fría;     yo te amaré furtivo, Noche Cauta;     yo te amaré cantando a gritos mi pasión, Noche Desafiante;     tácito te amaré, Noche Muda.     Has de acoger mi espíritu y mi cuerpo, mi sangre, mi corazón, todo mi  sér -únicos-, Noche Unica, Noche, Noche Elegida...!     Yo busco tu refugio, oh Noche, oh pulcra Noche, Noche ligeia -toda sutil encanto-, oh Noche toda amor, toda supraterrena delicia...: Esta es la Noche, la Fraterna Noche, Noche Amante,  Noche Lustral...: mi Noche en Éxtasis...!!
Continue reading...
63
Otra canción he de cantar, ingenua. Otra canción (desnuda de artificios como mi pena: que no llora, ni se crispa, ni se queja). Otra canción desnuda de artificios como mi pena, (como mi pena: muda, así la relate mórbidamente; y quieta: no importa que sea motor de mi cansancio, hélice de mi pereza, remo de mi estatismo, ala de mi indiferencia; como mi pena: -por más que avizore y otee los horizontes- ciega). Otra canción he de cantar ingenua. Otra canción, de un ritmo opacado, de brumas y de leyenda, de brumas y de quimera: sin timbres gárrulos de Oriente -asordinada-; sin tamboriles gayos ni danzarinas bayaderas; sin bélicos clarines y sin fanfarrias épicas. Una canción hiperbórea, gris: que la cantasen noruegos marinos en sus barcazas pesqueras; que la cantasen campesinos de Helsingor y aldeanas de Abylund y de la Karelia. Otra canción he de cantar ingenua. Sin este sol vibrante ni los estridores que me circundan: como si no habitase las tropicales beocias antitéticas -burgos sordos, cálidas selvas-: como si no retumbase en mis oídos la fragorosa cantinela del río que rompe su fastidio en las filudas peñas! Canción que nada diga y apenas sí sugiera. Que nada diga mas deje en los oídos vaga impresión insegura de leyenda y de quimera: (el hondo rumor que de los caracoles en la rósea espiral se aposenta). Canción de gente tosca, de ruda gente marinera, canción que se cantase en la hora de los coloquios -del norteño puerto nativo en el muelle o en la taberna-. Otra canción he de cantar, ingenua. Desnuda de artificios como mi pena, Sobria de afeites frívolos, burda como la lona de las velas de los esquifes pescadores; burda: ¡y encinta de odiseas, de temporales y de naufragios como las velas!
0
1.5k
Cantigas
Otra canción he de cantar, ingenua. Otra canción (desnuda de artificios como mi pena: que no llora, ni se crispa, ni se queja). Otra canción desnuda de artificios como mi pena, (como mi pena: muda, así la relate mórbidamente; y quieta: no importa que sea motor de mi cansancio, hélice de mi pereza, remo de mi estatismo, ala de mi indiferencia; como mi pena: -por más que avizore y otee los horizontes- ciega). Otra canción he de cantar ingenua. Otra canción, de un ritmo opacado, de brumas y de leyenda, de brumas y de quimera: sin timbres gárrulos de Oriente -asordinada-; sin tamboriles gayos ni danzarinas bayaderas; sin bélicos clarines y sin fanfarrias épicas. Una canción hiperbórea, gris: que la cantasen noruegos marinos en sus barcazas pesqueras; que la cantasen campesinos de Helsingor y aldeanas de Abylund y de la Karelia. Otra canción he de cantar ingenua. Sin este sol vibrante ni los estridores que me circundan: como si no habitase las tropicales beocias antitéticas -burgos sordos, cálidas selvas-: como si no retumbase en mis oídos la fragorosa cantinela del río que rompe su fastidio en las filudas peñas! Canción que nada diga y apenas sí sugiera. Que nada diga mas deje en los oídos vaga impresión insegura de leyenda y de quimera: (el hondo rumor que de los caracoles en la rósea espiral se aposenta). Canción de gente tosca, de ruda gente marinera, canción que se cantase en la hora de los coloquios -del norteño puerto nativo en el muelle o en la taberna-. Otra canción he de cantar, ingenua. Desnuda de artificios como mi pena, Sobria de afeites frívolos, burda como la lona de las velas de los esquifes pescadores; burda: ¡y encinta de odiseas, de temporales y de naufragios como las velas!
Continue reading...
66
Como uma gota de água se juntando formando um oceano, É a cor da esperança azulada desse mar perto dos teus seios, Nada diferente da saudade das noites loucas perto da água, Em que vivi momentos eternos para o meu coração, Não poderia nunca esquecer que aqueci meus anseios junto de ti, Acreditei na realização dos melhores sonhos perante o teu sorriso, O teu silêncio confortou-me sempre que precisava de paz e harmonia. A cor dos teus olhos igual à do meu coração nunca eu vou esquecer, Como não me esqueço das tuas mãos quentes agarrando o meu corpo, O teu suspiro suave mantendo-me quente e aconchegado nos teus braços. Se eu voltar a viver esses momentos para sempre recordar, Será ironia de um destino permanente e cada vez mais distante, Mas é essa a verdade que ficou, é difícil ocuparem o teu lugar, Também porque continua ocupado com as tuas coisas, O teu cheiro mantem-se impregnado em mim como se fosse hoje, O som das tuas palavras doces ficou nos meus ouvidos, E ainda hoje te ouço por vezes nos meus sonhos! Tudo acabou mal mas não muda a pessoa que tu és! És exactamente aquilo que te dizia tantas vezes ao ouvido! Coisas que só eu e tu sabemos e vamos recordando! Um desejo que estejas bem e guardes de mim boa lembrança! Se assim for nada que pudesse existir me deixaria mais feliz. Autor: António Benigno
0
Aug 31, 2013
Aug 31, 2013 at 5:01 AM UTC
Desejo chegar ao teu ouvido
Semarang; Disini aku merindukanmu. Katanya tidak ada penyesalan Nyatanya memang tidak ada harapan Malam semakin menyeramak, Pasangan muda-mudi makin memadat. Bersemara di Semarang katanya. Biarkalah dia pulang, Lalu kembalilah setahun kemudian, Sambil membawa sepercik senyuman sejuta luka.
0
Dec 28, 2018
Dec 28, 2018 at 10:05 AM UTC
Se◾ma◾rang
istirahatlah untuk sejenak pendar hangatmu masih istimewa “selamat malam” mu masih ku simpan untuk malam malam yang tidak bisa ku jinak-kan jangan khawatir ibu istirahatlah untuk sejenak temui aku saat kau muda kembali dan kerut senyum mu pudar abadi
0
Apr 19, 2019
Apr 19, 2019 at 11:17 PM UTC
ibu