"merasuk" poems
Mereka hanya terduduk di lantai berlumut
Halaman belakang rumah tuanya yang berupa puing belaka
Bekas-bekas kekalahan
Tidak berucap akan siapa yang mati
Dan siapa yang berhak hidup
Mereka terlambat, tak ada satupun orang hidup di sini
Mereka jadi ingin ikut-ikutan mati
Yang disayangi sudah tiada
Mereka jadi menyesal
Pergi jauh tak kunjung balik
Mendadak ditatapnya sebuah sumur
Tempatnya menimba air dahulu
Katanya sudah mengering berpuluh tahun lalu
Dan bibirnya bergerak perlahan, teringat; "Riak air yang tinggal di dasar sumur
Tidak pernah membenci roh yang berkeliar singup
Di atasnya.
Hantu-hantu wanita sejak dahulu
Kekal bersolek di atas sumur
Meskipun telah mengering airnya
Dan pantulan mereka fana adanya.
Mereka hanya terduduk di lantai berlumut
Halaman belakang rumah tuanya yang berupa puing belaka
Bekas-bekas kekalahan
Tidak berucap akan siapa yang mati
Dan siapa yang berhak hidup
Mereka terlambat, tak ada satupun orang hidup di sini
Mereka jadi ingin ikut-ikutan mati
Yang disayangi sudah tiada
Mereka jadi menyesal
Pergi jauh tak kunjung balik
Mendadak ditatapnya sebuah sumur
Tempatnya menimba air dahulu
Katanya sudah mengering berpuluh tahun lalu
Dan bibirnya bergerak perlahan, teringat; "Riak air yang tinggal di dasar sumur
Tidak pernah membenci roh yang berkeliar singup
Di atasnya.
Hantu-hantu wanita sejak dahulu
Kekal bercermin di atas sumur
Meskipun telah mengering airnya.
Konon karena mereka menyukai
Kehangatan yang dirasakan
Dari dalam rumah senyap kala ada kehidupan
Sesederhana bagaimana mereka tak lagi
Dapat hidup
Lantas mengapa lepas mereka pergi
Tak dijaga kekekalannya dari serentetan ledakan pilu dan kepulan asa?
Hantu-hantu cuma pembohong
Pelindung tak berdaya
Mereka menghargai bising dan jerit tangis
Itulah alasan mereka
Terus tinggal dan bersolek
Menunggu sakit dalam sakit
Karena air matalah yang sebenarnya menjaga agar dasar sumur tetap terisi
Agar mereka dapat bercermin
Agar kekal bayang mereka
Air mata, menggenang bersama darah
Bukan mata air yang merasuk dari qalbunya."
Jadi dipanggillah
Segenap jiwa gugup gelisah itu
Dalam kesunyian dan sesal mereka
Hantu-hantu wanita
Kembali besolek di atas sumur
Mereka melompat,
Untuk lebur
Dalam ketiadaan.
Menyusulmu
Mencarimu.
Jun 23, 2016
Jun 23, 2016 at 8:21 AM UTC
Kala malam tampakkan luka
Terlapis kasih, beringsut malu
Ia terbakar gugur lebur
Dan tidak termaafkan
Sesap tangismu sendiri,
Relung jiwa telah berkeluh
Sembahyang doakan maut
Akan pilu cinta dursilamu
Dengarlah tembang petaka
Perlahan menggoda luhur
Gapai lika-liku serapahnya
Dan kenakan sebagai selambu senja kini
Jika malaikat merasuk pada
Sekuntum bunga di pelupuk mata
Rimba ruak ini tak akan lebih
Besar dibanding seuntai rindu durjana
Maka dengan itu,
Akan kuajak berpesta pora
Sedu-sedan iblismu
Di taman mahakama bersimbah dosa
Lepaskan genggaman tangan itu
Dari lentera di sunyi gulita
Karena sinarnya yang rupawan
Telah meleleh dalam lumrah darah getir
Ikutlah denganku,
Kita kan menari semalam suntuk
Sampai yang tercium dalam hati
Hanya bau anyir perpisahan
Nov 24, 2015
Nov 24, 2015 at 9:07 AM UTC
Kekasihku telah meninggal
Tak ada lagi yang tersisa dari
Rambut panjangnya
Bahkan sekarang
Senyumnya berbau masam
Kekasihku telah meninggal
Sudah tak dapat lagi ia ucap
Sajak-sajak getir
Laut di ufuk
Apalagi senandung bintang atas kita
Kekasihku telah meninggal
Sentuhannya dingin
Tubuhnya kaku
Kelembutannya menjadi pisau
Dan gurauannya antarkan duka
Ia tetap tertawa dalam kematiannya
Karena jasadnya dapat terus hidup
Sebagai manusia lain
Yang bagiku, entah siapa
Yang bahkan tak kukenali danurnya
Jika bisa
Aku ingin mengembalikan tubuh itu padanya
Akan kugali kuburan dalam hatinya
Kutarik keluar jenazahnya dan kubangkitkan,
Dalam sebuah peluk dan angan
Akan kubiarkan ia merasuk
Pada tubuh tak berhati
Tak berjiwa itu
Tubuh budak
Peradaban lama
Akan kubiarkan ia merasuk
Panjang rambutnya yang fana
Senyumnya yang binar
Hatinya yang murni
Harus ku kembalikan
Pada
Tubuh
Hidup
Gentayangan
Itu
Apr 19, 2016
Apr 19, 2016 at 4:14 AM UTC
Hai! senang sekali kau kemari
Uhh kedua kalinya kau merasuk tanpa permisi
Jangan hanya lewat, kuingin lagi
Alunan rintikmu yang sudah kutunggu sedari tadi
Namun sayang, kau begitu cepat untuk pergi
Jul 12, 2019
Jul 12, 2019 at 3:40 AM UTC
Dalam ke-tiga ratus empat puluh empat meter per detik kecepatan suara, ternyata tak ada bibirmu didalamnya. Sebab kabar tak lebih cepat dari suara, dan tak lebih lambat dari jatuh cinta.
Apakah mungkin, suara dapat merasuk lebih cepat jika dia merangkak di dalam air mata?
Mungkin juga sebaiknya kita perhatikan bagaimana suara merambat melalui dua puluh satu derajat selsius suhu udara, menjadi sebuah rangkaian gelombang kata-kata yang melambat dan merangkai dengan sendirinya.
Apakah mungkin getaran suara dapat lebih cepat, jika kulitku tidak menjadi sehangat ini?
Jika kamu bukan getaran suara, lantas mengapa sepersekian detik nama mu bergaung dalam kenangan?
Jun 15, 2017
Jun 15, 2017 at 2:31 PM UTC
Bosan dan jenuh
Ada saat dimana aku merasa tidak ada seorang pun yang mengerti keadaanku.
Ada saat dimana aku ingin hilang.
Ada saat dimana aku tidak mengerti aku bernafas untuk apa.
Ada saat dimana ketika aku mencapai titik dimana aku tidak memiliki hidup.
Aku muak...
Kadang aku muak terhadap sekelilingku, muak terhadap orang-orang terdekatku, dan bahkan aku muak terhadap diriku sendiri. Saat aku ataupun mereka tidak sesuai ekspektasiku.
Ketika itu sudah mulai merasuk ke pikiran.
Kembali,
Aku tegaskan kepada pikiran, bahwa aku hidup untuk-NYA.
Sering...
Pikiran dan rasa muak memakan tujuanku, hingga aku tetap kembali terlunta-lunta dengan kebosanan dan kejenuhan berebut menarik kekanan-kiriku.
Memakan rasa syukur dan kasih sayang yang mereka berikan kepadaku.
Membuat butiran debu di setiap pikiran untuk tetap hidup.
Aku harus bersyukur... HARUS.
Mar 21, 2020
Mar 21, 2020 at 11:29 PM UTC
tuanku telah meninggal
sudah tak dapat lagi ia ucap
sajak-sajak getir perlawanan atas tuhan
apalagi senandung bintang atas kita
tuanku telah meninggal
sentuhannya dingin
tubuhnya kaku
sajaknya menjadi pisau
dan gurauannya antarkan duka
ia tetap tertawa dalam kematiannya
karena jasadnya dapat terus hidup
sebagai manusia lain
yang bagiku, entah siapa
yang bahkan tak kukenali danurnya
jika bisa
aku ingin mengembalikan tubuh itu padanya
akan kugali kuburan dalam hatinya
kutarik keluar jenazahnya dan kubangkitkan,
dalam sebuah peluk dan angan
akan kubiarkan ia merasuk
pada tubuh tak berhati, tak berjiwa itu
pada tubuh hidup gentayangan itu
Dec 6, 2020
Dec 6, 2020 at 6:24 AM UTC