Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"menjauhi" poems
Di malam bulan terpotong jadi tawa, angin membelahku jadi tiga bujursangkar. Satu untuk diriku sendiri, satu untuk bibir kemaraumu, dan yang lain, mungkin, untuk dua anjing lapar yang Tuhan pelihara dalam diriku dan dirimu. Di situ, di rimbunan gelap yang padat dan waktu yang mengering, ingatan mempertemukan kita walau sebentar. Kau berlari membawa kotak yang di dalamnya mungkin adalah namaku, dan aku berlari di belakangmu menjauhi danau. Sayap-sayap yang tidur, kepala yang dinaungi tali-temali, dan jejak-jejak bernafas rapat. Bagimu, dunia mungkin masih adalah tabir yang kaku. Oh. Burung-burung dalam kepala! Itu kekakuan yang liris membunuhku. Malang, 3 April 2013
0
Jun 28, 2013
Jun 28, 2013 at 2:48 AM UTC
Aku, Kau, dan Dua Anjing yang Tuhan Pelihara Dalam Diriku dan Dirimu
Hari ini aku ingin bercerita Bagaimana sebuah rasa berubah menjadi sebuah asa Saat itu.. Aku melihatmu Berjalan, tapi tetap pada bayangan yang sama Bagaimana bisa? Kau sudah melewati beberapa cahaya Yang bahkan berbeda beda Aku penasaran Rasa untuk membawamu dari bayangan itu muncul Aku berharap usahaku berhasil Sebuah rasa yang berubah menjadi asa Lagi. Aku bermimpi Agar kau tak berhubungan lagi dengan bayangan lalu mu Aku bertindak. Membantumu Lagi, asa itu berasal dari rasa yang sama. Rasa untuk membantumu bangkit dari bayangan itu. Namun, lambat laun rasa itu berubah Berubah menjadi asa untuk kita memiliki bayangan yang sama Ketika waktunya tiba, ku kira aku berhasil Ternyata... sangat jauh dari kata itu Kau lebih memilih menghentikan usahaku, tindakanku Dengan alasan “aku butuh jeda” Baik. Ku turuti maumu aku bahkan masih berpikur positif. Tapi semakin larut, kau tak juga kembali Oh. Dan kusadari, Kau pergi, bersama bayangan itu lagi Kau menjauhi ku dan mendekati bayangan itu, lagi Sungguh aku tak sanggup mencernanya Rasa itu. Asa itu. Bahkan kau tak pernah menganggapnya, kan? Sungguh, apakah kau mengerti maksud dari segala cerita tentang rasaku? Tentang asaku? Kau pergi tanpa mengucapkab selamat tinggal. Bukan. Setidaknya kau bisa memujiku Memuji atas rasa dan asa ku. Sekali lagi, karena rasa ini, asa ku muncul kembali Ya, sebuah asa. Asa untuk melenyapkan segala rasaku padamu Baik itu rasa penasaran, ingin menolong, atau rasa ingin memiliki bayangan bersama mu
0
May 19, 2019
May 19, 2019 at 1:23 PM UTC
Rasa dengan reaksi asa
Hari ini aku ingin bercerita Bagaimana sebuah rasa berubah menjadi sebuah asa Saat itu.. Aku melihatmu Berjalan, tapi tetap pada bayangan yang sama Bagaimana bisa? Kau sudah melewati beberapa cahaya Yang bahkan berbeda beda Aku penasaran Rasa untuk membawamu dari bayangan itu muncul Aku berharap usahaku berhasil Sebuah rasa yang berubah menjadi asa Lagi. Aku bermimpi Agar kau tak berhubungan lagi dengan bayangan lalu mu Aku bertindak. Membantumu Lagi, asa itu berasal dari rasa yang sama. Rasa untuk membantumu bangkit dari bayangan itu. Namun, lambat laun rasa itu berubah Berubah menjadi asa untuk kita memiliki bayangan yang sama Ketika waktunya tiba, ku kira aku berhasil Ternyata... sangat jauh dari kata itu Kau lebih memilih menghentikan usahaku, tindakanku Dengan alasan “aku butuh jeda” Baik. Ku turuti maumu aku bahkan masih berpikur positif. Tapi semakin larut, kau tak juga kembali Oh. Dan kusadari, Kau pergi, bersama bayangan itu lagi Kau menjauhi ku dan mendekati bayangan itu, lagi Sungguh aku tak sanggup mencernanya Rasa itu. Asa itu. Bahkan kau tak pernah menganggapnya, kan? Sungguh, apakah kau mengerti maksud dari segala cerita tentang rasaku? Tentang asaku? Kau pergi tanpa mengucapkab selamat tinggal. Bukan. Setidaknya kau bisa memujiku Memuji atas rasa dan asa ku. Sekali lagi, karena rasa ini, asa ku muncul kembali Ya, sebuah asa. Asa untuk melenyapkan segala rasaku padamu Baik itu rasa penasaran, ingin menolong, atau rasa ingin memiliki bayangan bersama mu
Continue reading...
40
ingin punya teman, tapi kadang menyebalkan ingin ditemani, tapi sering menjauhi. ingin jadi diri sendiri, tapi mayoritas memandangnya jijik. lantas ia menjadi banyak elemen mencoba cocok pada semua hal memaksakan diri untuk pantas tapi tetap saja, lihat saja ikan dan sapi sama sama milik sang empuNya sama sama Rabb yang menciptakan sama sama Ia yang memberi ruh ikan diletakan di daratan rumput sapi diletakan di laut lepas bagaimana ? mau seruwet apa kamu mengatur jika memang tidak pantas yasudah cari yang disuruhNya pantas untukmu toh, kualitas lebih diminati daripada kuantitas. itu kalo aku gak tau kalo kamu.
0
Dec 7, 2018
Dec 7, 2018 at 9:22 AM UTC
siapa ?