Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"menghilang" poems
Senin, 28 April 2008 Aku sendiri di sini Teman ku menjauh Lagu kakak ku tak tergetar Lirik indahnya menghilang Lidah ku sakit Tak bisa berkata Angin pun menjauh Peluh dingin terasa Duduk sendiri ku di sini Menulis kata bahwa ku sepi Ingin ku ucap di hadapan dunia Tapi tak sampai ku ke sana Kenang lagu kakak ku tersayang Hatiku sejuk tangis datang Melihat semua menjauh Tpi lagu kakak selalu menghibur
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:34 AM UTC
Lagu Kakak
Ku pandangi langit yang dihiasi puluhan burung yang terbang Aku merasa iri pada mereka karena mereka tak sendiri seperti aku Di malam hari aku termenung tiada teman yang menemaniku Di siang hari aku memandang burung yang terbang tanpa teman Adakah orang yang mau menemaniku? Entahlah, aku merasa terbelenggu Temanku menghilang meninggalkan aku Tak sabar aku menunggu teman yang baru Akan ku ajak teman baruku Ke tempat terindah di langit biru
0
Feb 18, 2012
Feb 18, 2012 at 10:43 PM UTC
Menunggu Teman
Palembang. 24 Desember 2011 Ku panggil namamu Kamu ucapkan Selamat Tinggal! Aku raih tanganmu Kamu terus berjalan melepaskan genggamanku Aku menghampirimu di bangku taman Kamu beranjak pergi tanpa sepatah kata Ku bawakan buku favorit mu di perpustakaan Kamu malah membeli buku yang sama Kamu bagaikan kenyataan di masa depan Sungguh tak sanggup aku tuk menebakmu Tak mampu aku memenuhi semua kebutuhanmu Kamu pun tak pernah angkat bicara Apa mau mu? Aku terjatuh, kamu diam saja Apa yang ada di pikiranmu? Aku bicara, kamu memalingkan wajah Aku sakit, kamu tak tahu Aku menjauh, kamu mengejarku Aku menghilang, kamu mencariku Oh sayang, aku tak tahu apa mau mu
0
Dec 30, 2011
Dec 30, 2011 at 7:47 AM UTC
Apa Mau Mu
Pasir memeluk kakiku, tak mau melepaskanku. Licinnya pasir berkali-kali membuatku terhisap. Sama seperti pelukanmu kala itu, yang terus mengunciku, berontak tiada artinya sampai akhirnya jiwaku tunduk pula padamu. Kita pernah bahagia, Bagai burung-burung yang terbang rendah, bermain-main diantara air, Mengintip manisnya pantulan diri air biru. Yang lama terasa singkat. Seperti langit merah muda yang lama lama termakan kabut pindah ke kegelapan malam yang menenangkan hanya dalam hitungan detik. Bagai kapal yang mengapung terombang ambing kencangnya ombak, Ia tetap teguh karena telah menjatuhkan jangkarnya. Begitulah aku ketika pada akhirnya hanya kau dijiwaku. Namun arus laut begitu kuat, begitu sulit untuk berenang pada arah tujuan. Semesta punya ceritanya, berkali-kali kupaksakan tubuhku tak terbawa arus, namun kakiku lemah, terus menerus terobek tajamnya batu karang yang tak kelihatan. Mungkin itu cara semesta beritahu bahwa disana bukan tempat yang aman bagiku. Aku menyerah. Seperti butiran pasir yang kugenggam erat dibawah air laut, satu per satu rontok, aku tergoda untuk membuka tanganku di bawah air dan menyaksikan kemegahan pasir-pasir kecil yang jatuh menghilang terseret air. Itulah kau. Laut punya caranya. Semuanya akan terjadi alami. Semesta poros pengaturnya. Biarlah laut hapuskan kau. Tenang saja, aku akan kembali baik-baik saja. Seperti debur ombak yang menyapu kasarnya pasir, ia mampu mendatarkan lintasannya yang sebelumnya hancur teracak-acak angin. Bagai tapak kaki di basahnya pasir, berjejak namun akan segera hilang begitu terhanyut ombak ataupun angin yg berhembus.
0
Apr 6, 2019
Apr 6, 2019 at 1:49 AM UTC
Laut punya caranya
Pasir memeluk kakiku, tak mau melepaskanku. Licinnya pasir berkali-kali membuatku terhisap. Sama seperti pelukanmu kala itu, yang terus mengunciku, berontak tiada artinya sampai akhirnya jiwaku tunduk pula padamu. Kita pernah bahagia, Bagai burung-burung yang terbang rendah, bermain-main diantara air, Mengintip manisnya pantulan diri air biru. Yang lama terasa singkat. Seperti langit merah muda yang lama lama termakan kabut pindah ke kegelapan malam yang menenangkan hanya dalam hitungan detik. Bagai kapal yang mengapung terombang ambing kencangnya ombak, Ia tetap teguh karena telah menjatuhkan jangkarnya. Begitulah aku ketika pada akhirnya hanya kau dijiwaku. Namun arus laut begitu kuat, begitu sulit untuk berenang pada arah tujuan. Semesta punya ceritanya, berkali-kali kupaksakan tubuhku tak terbawa arus, namun kakiku lemah, terus menerus terobek tajamnya batu karang yang tak kelihatan. Mungkin itu cara semesta beritahu bahwa disana bukan tempat yang aman bagiku. Aku menyerah. Seperti butiran pasir yang kugenggam erat dibawah air laut, satu per satu rontok, aku tergoda untuk membuka tanganku di bawah air dan menyaksikan kemegahan pasir-pasir kecil yang jatuh menghilang terseret air. Itulah kau. Laut punya caranya. Semuanya akan terjadi alami. Semesta poros pengaturnya. Biarlah laut hapuskan kau. Tenang saja, aku akan kembali baik-baik saja. Seperti debur ombak yang menyapu kasarnya pasir, ia mampu mendatarkan lintasannya yang sebelumnya hancur teracak-acak angin. Bagai tapak kaki di basahnya pasir, berjejak namun akan segera hilang begitu terhanyut ombak ataupun angin yg berhembus.
Continue reading...
36
aku tidak tahu apakah ini seharusnya menyenangkan bagimu, bagiku atau bagi kita. Sudah terlalu lelah berusaha mejamah. Kau tak ada ubahnya dengan buih pinggir pantai. Menggoda untuk dikejar, menghilang ketika ditangkap. Bukannya kau tak mungkin. Aku hanya lelah. dan setelah dipikir ulang, mungkin kau tak begitu layak diperjuangkan.
0
Jul 23, 2015
Jul 23, 2015 at 2:51 PM UTC
Buih Laut
aku ini bagai puisi usang bukan? yang kian terlupakan seiring berjalan nya waktu. hingga akhirnya, dianggap telah lenyap dari bumi. tapi sebenarnya, aku tidak benar-benar lenyap, aku hanya sedang menghilang, dan tidak ingin di temukan. bagaimana rasanya kini? setelah aku mencoba tuk sembunyi. adakah kau berbalik mencari? hei, bahkan untuk sekedar melirik pun kau enggan bukan? aku ini seperti tengah berharap kepada batu. karna kamu akan tetap diam, dan tidak akan pernah berubah. apa kau tahu?, puisi yang dulu kau campakkan, kini telah berubah menjadi syair lembut yang mematikan.
0
Nov 23, 2018
Nov 23, 2018 at 3:21 AM UTC
Puisi usang
Panas terpapar auramu Menggeliat menyapu menyeluruh Hingga gugur kalbu Terbakar oleh angan para penyelatu Hilang perlahan menggugur Berasap menghilang semu Layaknya debu-debu tertiup sang bayu Memudar seperti bayang nafsu Dari pemilik warna warna itu Menjajakan aksara palsu Mendulang manis ucap rindu Membiaskan maki dalam untaian lagu Menerkam mangsa yang diam terpaku Sampai penuh hasrat itu ”Oh, Jadi seperti ini rupa asli kawan kawanku? sugguh lucu”
0
Oct 1, 2016
Oct 1, 2016 at 10:13 AM UTC
API
Palembang, 6 Februari 2013 Aku bagai jeruk yang diperas hingga kering sarinya Tak berguna Terbuang Aku bagai pensil yang diserut kayunya Hanya berguna di saat tajam Menghilang Aku bagai es yang mencair di atas tanah Terserap Tak Tampak Aku adalah orang yang terabaikan Tak dianggap Tak pernah ada
0
Feb 6, 2013
Feb 6, 2013 at 8:57 AM UTC
Terabaikan
Aku terbakar dalam diam Dengan detak jantung kencang Dan kekuatan menghilang Kesunyian di dalam diriku ini Tak mempunyai ketenangan Ia memberontak, membising, Menjatuhkan serpihan kaca Dengan tangan lantang Aku mencoba berteriak Tapi tenggorokanku menolak, Seolah dicekik oleh tangan hitam Yang mengingat mimpi buruk malam.
0
Oct 25, 2018
Oct 25, 2018 at 9:12 PM UTC
Terbakar dalam Diam
Menelusuri ujung dunia Tidak berujung Temani diriku Terangi diriku Tuntun diriku Kau pun menghilang Diriku, terabaikan.
0
Nov 25, 2017
Nov 25, 2017 at 12:50 PM UTC
Terabaikan.
pukul 02.04 aku terdiam tanpa berbahasa memikirkan sejuta hal yang seharusnya kulakukan aku terbiasa bermimpi namun kini aku tak mampu pukul 02.11 andai waktu adalah lomba maka aku selalu kalah lagi-lagi aku tidak dapat terpejam pukul 02.19 aku dan semua lamunanku terhenti sejenak oleh suara dengkuran disebelahku atau mungkin suara angin sejuk dari mesin diatasku pukul 02.22 aku ingin berlari ke dalam lautan menantang ombak berderu kencang lalu terhempas dan menghilang pukul 02.30 aku menahan air mata berusaha mengartikan rasa pencarian yang tak berujung katanya tuhan itu mahakuasa maka aku percaya jawaban itu ada dan kupejamkan mataku harap semua ini sirna
0
Dec 12, 2020
Dec 12, 2020 at 3:07 PM UTC
22/10/20
Setahun lebih.... Setahun lebih aku masih tak percaya. Jaman modern terjadi pembantaian besar besaran. Terus dipotret dan direkam oleh orang orang Gaza. Mengguncangkan normalitas seluruh dunia. Setahun lebih aku lupa rasanya hidup normal. Yang kulakukan tiap hari hanya membuka sosial media. Terus melihat pertunjukan horor harian di Gaza. Pembantaian demi pembantaian yang tak ada habisnya. Setahun lebih aku terus berpura pura normal. Dari luar terlihat baik baik saja tapi dari dalam terus menderita. Penderitaan orang orang Gaza yang berkepanjangan. Juga menjadi penderitaanku. Setahun lebih.... Setahun lebih aku kehilangan kenikmatan. Soto , rawon , bakso dan makanan apapun tak lagi terasa nikmat. Aku teringat terus dengan orang orang dan anak anak Gaza. Mereka sering kelaparan hingga kurus kering kekurangan gizi. Setahun lebih aku kehilangan kesenangan. Film , musik , game dan hiburan apapun tak lagi menyenangkan. Aku teringat terus dengan orang orang dan anak anak Gaza. Mereka selalu ketakutan terancam kematian yang menyakitkan. Setahun lebih aku kehilangan ketenangan. Tidurku tidak pernah terasa nyenyak. Aku teringat terus dengan orang orang dan anak anak Gaza. Mereka selalu kedinginan saat malam tanpa punya apapun untuk kehangatan. Setahun lebih.... Setahun lebih aku tak lagi punya semangat. Segala macam urusanku jadi berantakan. Rasanya aku kesulitan berkonsentrasi penuh. Setiap hari pikiran dan jiwaku terus tertuju pada Gaza. Setahun lebih aku terus mengkhawatirkan mereka. Orang orang Gaza yang telah kukenal hingga kuanggap saudara. Jika mereka terlalu lama menghilang tanpa kabar. Rasanya aku benar benar sangat khawatir. Setahun lebih aku merasa seperti orang mati. Terlalu sering melihat kematian demi kematian yang menyakitkan. Darah terus bertumpahan , serpihan dan potongan tubuh terus berceceran. Angka statistik para martir terus bertambah setiap hari. Setahun lebih.... Setahun lebih aku masih merasa heran. Melihat orang orang tetap menjalani kehidupan normal. Bersenang senang atau sibuk urusan sendiri. Tanpa peduli apapun tentang Palestina. Setahun lebih aku masih tetap heran. Melihat orang orang muslim yang tampak religius. Hanya sibuk beribadah siang malam. Tanpa peduli apapun tentang Palestina. Setahun lebih aku masih tetap terheran heran. Melihat gerai dan restoran Amerika masih tetap ramai. Produk produk Barat masih tetap dibeli. Tanpa peduli apapun tentang boikot. Setahun lebih.... Setahun lebih rasanya benar benar memuakkan. Melihat para pemimpin Barat terus beretorika. Bicara perdamaian dan kemanusiaan. Tapi terus mendukung pembantaian. Setahun lebih rasanya semakin memuakkan. Melihat para pemimpin Arab terus membual. Pura pura peduli dengan Palestina. Tapi diam diam mendukung Israel di belakang. Setahun lebih rasa muakku semakin tak tertahankan. Melihat media media Barat dan buzzer buzzer zionis. Terus menerus menyangkal dan membenarkan pembantaian. Tak peduli seluruh dunia sudah tahu kenyataan yang sebenarnya. Setahun lebih.... Setahun lebih aku telah putus asa. Kehilangan harapan yang tampak terlalu sulit diwujudkan. Seluruh dunia terus melakukan aksi protes menentang Israel. Tapi tak terjadi perubahan apa apa. Setahun lebih aku telah kecewa. Tak percaya lagi dengan tatanan dunia. Yang tak lebih sekedar ilusi kemunafikan. Bentukan Barat yang merasa berkuasa atas dunia. Setahun lebih aku telah lelah. Menunggu keajaiban yang tak kunjung terjadi. Seluruh dunia terus bertanya tanya. Kapan dan bagaimana semua ini akan berakhir ?!.. Setahun lebih.... November 2024 By Alvian Eleven
0
Dec 9, 2024
Dec 9, 2024 at 1:19 PM UTC
SETAHUN LEBIH
Setahun lebih.... Setahun lebih aku masih tak percaya. Jaman modern terjadi pembantaian besar besaran. Terus dipotret dan direkam oleh orang orang Gaza. Mengguncangkan normalitas seluruh dunia. Setahun lebih aku lupa rasanya hidup normal. Yang kulakukan tiap hari hanya membuka sosial media. Terus melihat pertunjukan horor harian di Gaza. Pembantaian demi pembantaian yang tak ada habisnya. Setahun lebih aku terus berpura pura normal. Dari luar terlihat baik baik saja tapi dari dalam terus menderita. Penderitaan orang orang Gaza yang berkepanjangan. Juga menjadi penderitaanku. Setahun lebih.... Setahun lebih aku kehilangan kenikmatan. Soto , rawon , bakso dan makanan apapun tak lagi terasa nikmat. Aku teringat terus dengan orang orang dan anak anak Gaza. Mereka sering kelaparan hingga kurus kering kekurangan gizi. Setahun lebih aku kehilangan kesenangan. Film , musik , game dan hiburan apapun tak lagi menyenangkan. Aku teringat terus dengan orang orang dan anak anak Gaza. Mereka selalu ketakutan terancam kematian yang menyakitkan. Setahun lebih aku kehilangan ketenangan. Tidurku tidak pernah terasa nyenyak. Aku teringat terus dengan orang orang dan anak anak Gaza. Mereka selalu kedinginan saat malam tanpa punya apapun untuk kehangatan. Setahun lebih.... Setahun lebih aku tak lagi punya semangat. Segala macam urusanku jadi berantakan. Rasanya aku kesulitan berkonsentrasi penuh. Setiap hari pikiran dan jiwaku terus tertuju pada Gaza. Setahun lebih aku terus mengkhawatirkan mereka. Orang orang Gaza yang telah kukenal hingga kuanggap saudara. Jika mereka terlalu lama menghilang tanpa kabar. Rasanya aku benar benar sangat khawatir. Setahun lebih aku merasa seperti orang mati. Terlalu sering melihat kematian demi kematian yang menyakitkan. Darah terus bertumpahan , serpihan dan potongan tubuh terus berceceran. Angka statistik para martir terus bertambah setiap hari. Setahun lebih.... Setahun lebih aku masih merasa heran. Melihat orang orang tetap menjalani kehidupan normal. Bersenang senang atau sibuk urusan sendiri. Tanpa peduli apapun tentang Palestina. Setahun lebih aku masih tetap heran. Melihat orang orang muslim yang tampak religius. Hanya sibuk beribadah siang malam. Tanpa peduli apapun tentang Palestina. Setahun lebih aku masih tetap terheran heran. Melihat gerai dan restoran Amerika masih tetap ramai. Produk produk Barat masih tetap dibeli. Tanpa peduli apapun tentang boikot. Setahun lebih.... Setahun lebih rasanya benar benar memuakkan. Melihat para pemimpin Barat terus beretorika. Bicara perdamaian dan kemanusiaan. Tapi terus mendukung pembantaian. Setahun lebih rasanya semakin memuakkan. Melihat para pemimpin Arab terus membual. Pura pura peduli dengan Palestina. Tapi diam diam mendukung Israel di belakang. Setahun lebih rasa muakku semakin tak tertahankan. Melihat media media Barat dan buzzer buzzer zionis. Terus menerus menyangkal dan membenarkan pembantaian. Tak peduli seluruh dunia sudah tahu kenyataan yang sebenarnya. Setahun lebih.... Setahun lebih aku telah putus asa. Kehilangan harapan yang tampak terlalu sulit diwujudkan. Seluruh dunia terus melakukan aksi protes menentang Israel. Tapi tak terjadi perubahan apa apa. Setahun lebih aku telah kecewa. Tak percaya lagi dengan tatanan dunia. Yang tak lebih sekedar ilusi kemunafikan. Bentukan Barat yang merasa berkuasa atas dunia. Setahun lebih aku telah lelah. Menunggu keajaiban yang tak kunjung terjadi. Seluruh dunia terus bertanya tanya. Kapan dan bagaimana semua ini akan berakhir ?!.. Setahun lebih.... November 2024 By Alvian Eleven
Continue reading...
81
Akankah kita bertemu lagi? Apakah kamu masih mengingatku? Apakah aku masih ada di benak mu? Ah sepertinya aku hanya berkhayal.. Berharap kamu masih merindukanku Sebagaimana aku yang terkadang masih merindukanmu Mungkin kamu sudah melupakan semuanya, mungkin. Namun, semuanya masih tersimpan dengan baik di pikiranku. Yang aku tahu, rasa ini akan selalu ada. Hingga mungkin suatu saat nanti rasa itu lenyap dengan sendirinya, menghilang, lapuk, termakan oleh waktu.
0
Dec 21, 2020
Dec 21, 2020 at 12:15 PM UTC
rindu?
Pada gersangnya bibir, kerongkongan merengek tersedu-sedu seperti laki-laki kecil sepulang sekolah. Seiring dengan semakin mencekamnya kantung mata yang menghitam, dan kemarau yang tak kunjung usai bersemayam pada kelopak yang lelah, gadis kecil menyandarkan jiwanya pada ayunan yang rapuh di halaman belakang rumah tua. Di seberang persimpangan jalan, laki-laki kecil menggerutu tentang udara yang mencekik seluruh tubuhnya. Ia menyusuri jalanan tempat orang-orang kehilangan rasa. Terus berjalan di belakang waktu. Waktu yang menggerogoti jiwa orang-orang di sekitarnya. Di atas rumah pohon, di awal musim penghujan, gadis kecil bersedih. Ia menangisi bekas luka yang tak jua sembuh. Luka yang menghidupkan kembali ketakutannya. Dan ketakutan yang pada akhirnya akan memenggal kakinya di akhir musim. Musim berlalu-lalang, orang-orang datang dan pergi dengan pasti. Tapi apakah pergi selamanya tentang menghilang? Musim baru selalu tiba, sesekali tepat waktu, seringkali sulit terprediksi. Seperti kedatangan dan kepergian, kapanpun ia akan mengetuk pintu kewarasan.
0
Aug 1, 2020
Aug 1, 2020 at 12:07 AM UTC
Musim-Musim Yang Selalu Kita Tangisi.
apa rasanya dalam diam menghilang datang kembali rupanya ada puisi buat kamu. semoga ada ayat yang bisa jelaskan rasanya kerna aku tak kenal. tak tahu. salam rindu
0
Sep 14, 2021
Sep 14, 2021 at 9:57 AM UTC
Untitled