"menetap" poems
Aku mengingatmu
di sela waktuku bertualang
di setiap spasi dalam kalimat 'kita'
aku mengingatmu.
Kau buatku menetap tanpa alasan.
Lantas pergilah aku bertualang;
pergi terbang
ingin kau tau kau tidak mengekang
ingin kau tau aku bisa, kapan saja,
terbang.
Tapi di setiap kepakan sayap,
aku merindu.
Di labuhanku yang berganti-ganti,
aku menemukanmu.
Duduklah kau rapih,
sambut ku yang selalu pulang.
Jun 24, 2015
Jun 24, 2015 at 4:13 AM UTC
Cinta itu sungguh hal yang terkuat dan terindah yang pernah dialami semua manusia
Tuhan menciptakan manusia berpasangan yang didasari oleh itu.
Hal yang misterius tentang cinta adalah siapa pasanganku kelak
Hal yang menantang tentang cinta adalah bagaimana aku bisa mempertahankannya
Hal yang paling indah tentang cinta adalah Aku dan Kamu.
Menulis kisah kasih di sebuah lembaran kertas
Menggunakan tinta hitam
Yang akan selamanya menetap di lembaran itu
Tinta yang mewakilkan cerita kita
Semua kutuliskan dengan dirimu didalamnya.
Mencintaimu adalah sebuah distorsi yang tidak bisa kukendalikan
Mencintaimu adalah sebuah anugerah yang paling ku syukuri
Mencintaimu adalah sebuah amanah yang Tuhan telah berikan
Kepadaku.
Menjagamu..
Mencintaimu..
Membahagiakanmu..
Mendoakanmu..
Tutuplah matamu, rasakan cintaku.
Satu..Dua..Tiga..
Bukalah matamu
Selamat datang di Dunia kita.
Sep 25, 2017
Sep 25, 2017 at 1:24 AM UTC
andai sedari dulu
tak mungkin ia sekarang
mungkin menjadi orang
mungkin berlayar di cakrawala
mungkin melatah di depan dunia
atau mungkin menghiasnya dengan warna
andai sedari dulu
mungkin sudah berjasa
seribu hal yang tercipta di tangannya
beribu hati dan jantung yang berbangga
nama yang dimana-mana tertera
atau muncul dalam wajah-wajah media
tapi kalaupun sedari dulu
mungkinkah sudah lain
atau mungkinkah tetap sama?
tak ubahnya berjiwa seekor kuluk
tak ubahnya bertubuh pohon membusuk
dengan dunia ia kalah beradu
meraung mati di kamar itu
menetap sama, tanpa apa
tanpa siapa dan bagaimana kabarnya
mungkin jika dahulu, bisa jadi
sekarang tetap saja menderita
tetapi beda, ia jadi seorang manusia
yang mencoba dan gagal
tetapi diam dia tak bakal
sayang, lihatlah
terlambat ia sudah
Sep 16, 2025
Sep 16, 2025 at 9:57 PM UTC
Maafkan aku air mata
Seringkali kau jatuh sia-sia
Maafkan aku air mata
Yang selalu aku buang dengan sengaja
Jangan salahkan aku
Salahkan luka-luka itu
Luka-luka yang tidak pernah kering
Menganggap ia selalu penting
Hingga selalu menetap di sini
Membekas tanpa peduli
Sesakit apa rasanya
Hingga harus menjatuhkan air mata
Dec 9, 2016
Dec 9, 2016 at 8:19 AM UTC
jiwa ini kembali meragu; terbeban pertanyaan memburu.
rasa tidak tentu,
entah apa yang ditunggu.
berawal dari sebuah tatap,
rasa ingin sekali menetap.
entah apakah diriku ini sedang kalap,
atau hati ini memang sedang berharap.
jiwa ini kembali meragu; sepertinya aku jatuh cinta padamu.
Oct 3, 2020
Oct 3, 2020 at 2:55 PM UTC
Imitasi cinta yang disenandungkan dari mulutmu
Ilusi yang kau tanamkan layaknya biopori
Intimidasi yang kau lakukan atas kebebasanku.
Kamu..
Sebuah Monster yang menjadi mimpi terburukku
Mengingatmu..
Memberiku penderitaan dari memori - memori gelap
Kamu..
Adalah mahluk Tuhan yang mampu menghancurkan jiwa para umatNya.
Engkau datang dengan senyum manis
Memelukku
Lalu meremuk diriku
Datang disambut cerah
Menetap disambut gelap.
Kamu
Adalah sebuah
Kutukan bagiku
Sep 27, 2017
Sep 27, 2017 at 1:31 AM UTC
Dunia berputar cepat
Saat kanan kiriku sudah berlari kencang
Aku hanya menetap
Tenang, semua ada waktunya
Aku hanya menarik nafas
Dan berjalan cepat
Oct 30, 2018
Oct 30, 2018 at 1:05 AM UTC
Tubuhku berisi daging dan darah yang mengalir; tapi yang kurasakan hanya kehampaan yang mendalam.
Aku tidak bisa merasakan sedih, walau kulit tergores dan darah mengucur cepat. Hanya kekosongan yang menggali dan membolongkan dadaku.
Aku tidak bisa merasakan manis, walau mulutku dipenuhi makanan penutup lezat. Hanya kepahitan yang menetap di lidahku seperti mengunyah obat tablet mentah.
Aku takut. Aku takut menjadi hantu.
Aku ingin menjadi manusia lagi. Aku ingin merasakan sesuatu.
Oct 30, 2018
Oct 30, 2018 at 1:02 AM UTC
pasal VI: tentang aku dan kau; sebuah rasa dalam diam.
- yang aku percaya, skenario tuhan selalu indah walau tak kelihatan di awal, sebab tentu saja, pemandangan akan lebih nampak anggunnya dari ketinggian. dan ini perkara melihat sesuatu dari direksi yang berbeda, atau bahkan berlawanan. rasa dalam diam.
- perihal rasa yang terus saja terpendam, anggap saja aku hanyalah secuil makhluk yang kagum kepadamu, terlepas dari senyummu yang menawan, atau paasmu yang santun, dan hal "wah" yang mereka utarakan lainnya. rasaku apa adanya, tanpa menuntut apapun darimu.
- mengingat kau dan aku tak pernah bersua dengan sengaja, kurasa, rasarasa yang kumiliki hanya akan bertepuk sebelah rasa, sekedar sapa, dan berujung tanpa kata. toh nyatanya entah aku yang sanggup bertahan ataukah memang aku yang terlalu bodoh karena masih saja bertahan, hitungan tahun tanpa jawaban terus saja membuatku beradaptasi dengan keadaan.
- dan jika dilihat, mungkin hanya usahakulah yang terus membuatku bertahan, melihat segalanya hanya jarak dan jarak yang membuat kita dekat, walau kau masih saja entah purapura tak peduli, atau mungkin memang tak peduli. tapi kuharap kau tak bosan menjadi tempat rasaku bermuara.
- menuntut kejelasan? oh, tentu bukan caraku bermain dengan memaksa kehendak. karena dimataku, rasa bukan hanya sekedar hasrat, melainkan suatu hal yang sensitif, terlepas dari rasionalnya akal. takutku kemudian hari, salah rasaku menetap, kemudian menjadikanku lupa arah pulang sebenarnya.
- sampai nanti di akhir cerita, kau menjawab segala tanya yang tak kuharap terjawab. rasa mu sedikitbanyak memiliki kesamaan denganku, sama2 dalam diam, memilih berdiam diri dalam kediamannya. hanya saja kau lebih mahir, sedangkan aku memilih nyaman dalam zona amatir.
- bahagia? kupikir begitu, mengingat rasa kita sudah samasama berirama, terlepas dari tujuanku yang enggan menjalin hubungan (entah apa alasannya). kukira jawab yang membuatku senang, namun haluan berubah arah. justru jenuh yang kurasa, lelah, dan memilih berpaling di kemudian hari.
prdks.
Apr 2, 2018
Apr 2, 2018 at 9:10 PM UTC
Datang tanpa diduga
Kamu datang memberiku kata
Entah ini senang atau sekedar bingung
Menanyakan kabar pada hati yang juga ikut dibuat bingung
Karena aku juga tak tahu
Aku ini pelabuhan; tempatmu singgah sejenak
Atau rumah; tempatmu diam menetap
Entah perasaan ini harus dibawa kemana
Yang jelas kutitipkan pada semesta
Malam ini, di bawah kendali perahumu
Apr 15, 2019
Apr 15, 2019 at 11:47 AM UTC
Ada yang dipanggil rumah,
tapi tak pernah benar-benar menunggu.
Ada yang terlihat hangat,
tapi selalu terasa sendu.
Langkahku pernah menuju ke sana,
dengan hati yang penuh harap.
Tapi pintunya tak pernah benar-benar terbuka,
hanya sekadar celah, cukup untuk masuk, tapi tak untuk tinggal.
Aku pernah menunggu di ambangnya,
bertanya dalam diam,
menunggu kepastian yang tak pernah bernyawa.
Kini aku paham,
tak semua yang nyaman bisa menjadi pulang.
Tak semua yang dekat bisa menjadi tempat menetap.
Dan tak semua yang dicintai, bisa mencintai dengan cara yang sama.
Mar 15, 2025
Mar 15, 2025 at 5:35 AM UTC
/I/
Tik, tik, tik, angka-angka berdetak di tengah malam yang riuh dalam sunyi.
Aku melukis senyum pada langit pirau yang terjebak dalam ruang-ruang gelap.
Jendela mempersilahkan gagak masuk menyampaikan rekam tawa dari orang-orang yang melukis kesedihan di birai bibir.
Seolah parade, bergembiralah seisi ruangan yang hanya ada aku saja di dalamnya.
/II/
Kota mulai curiga kepada siapa saja yang mencoba menetap.
Berlari dan tergesa adalah cara bunuh diri dalam kota yang melaju cepat dan semakin cepat.
Aku memilih menjebak diriku dalam ruang tak berpintu, yang lantainya kususun dari debur gelombang bulan purnama.
Ranjangnya mencekik kerongkonganku di pagi hari yang tak pernah tiba.
/III/
Apakah terlambat untuk menjadi diriku sendiri?
Ataukah terlalu cepat untuk menemukan diriku dalam tubuh yang nirmakna?
Jika kesunyian berbunga makna, seharusnya aku menemui makna atas diriku pada suatu pagi di ujung simpul tali.
Aku melayang, engkau menerka udara.
Aku hidup, engkau perdebatkan prosesi pemakaman dalam daftar-daftar tak kasat mata.
/IV/
Seekor nyamuk menganggu kewarasaannya dalam menghitung berapa bintang yang tak pernah melempar cahaya.
Keningnya menjelma komidi putar, menjauh, mendekat, pergi dan kembali.
Suara-suara berbaris, mempersempit lorong waktu dan jembatan kota yang mulai menua.
Telapak tangannya bergetar seiring detak jantung yang terus mempercepat kembang-kempisnya.
/V/
Senang pernah bersua, tapi aku tak ingat.
Di antara aku dan lainnya, siapa yang memperkenalkan diri di awal pertemuan?
Begitu juga esok hari, wajah siapa yang tergores dalam cermin?
Siapa yang mengucap selamat tinggal dalam jumpa yang seharusnya tak pernah menjadi sebuah perpisahan?
Aug 1, 2020
Aug 1, 2020 at 12:28 AM UTC