Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"menantang" poems
Fadil sungguh memilikinya Akan bahagia terasa selamanya Dihiasi lirik lagu yang indah Itulah momen special sepanjang masa, dengan Luapan cinta kasih di sekelilingnya Angkasa, bagai terbang melayang Nuansa hati hadir tercipta Ejaan kata terhias di awan-awan Sungguh indah langit terhias Pegang tangan erat-erat Untuk menantang tornado yang datang Tak terlepas, bahkan jangan sampai Riang selalu walau terhempas Agar cinta kan sampai bersama di surga
0
Oct 16, 2011
Oct 16, 2011 at 10:13 AM UTC
F.A.D.I.L A.N.E.S P.U.T.R.A
*Ini aku, gambaran hatiku Kusertakan padamu, kusisipkan untukmu* Sejenak aku rebah, luka tanpa daya Aku didera puluhan cabikan Aku kalah dalam perang Perang melawan hatiku Gersang namun hujan Tandus namun ranum Itulah hatiku Malam demi malam kulalui Dengan mata terjaga Hari demi hari kulewati Ditemani gundah gulana *Aku yang hanya menunggu, bagaikan menantang murka laut* Tiang layarku patah dihantam ombak Kain layarku robek diterjang badai Aku terombang-ambing antara suka dan duka Ombak bergulung-gulung menanti di depanku Aku menoleh ke belakang, Menimang untuk merubah haluan Kutak rela
0
Aug 29, 2017
Aug 29, 2017 at 1:47 PM UTC
Gambaran Hatiku
Bapak, aku ingin pulang Aku rindu dengan rumah atau ide akan rumah Tapi kau telah mempunyainya. Aku rindu disambut harum masakan buah tangan sang Ibu Tapi kau tak pernah menyicipinya, Ibu tak bisa masak. Aku rindu berduduk diatas kursi kayu yang terletak di ruang makan Tapi kau bahkan tak pernah melakukannya. Kau, tak pernah makan. Aku rindu akan ruang sesak penuh sayang Akan kentalnya keakraban yang melekat di dinding-dinding bisu; yang dalam diam mendengar isak tangis setiap manusia yang menjajalkan diri dalam rumah ini Akan hangatnya cinta kasih yang tergurat diantara bisingnya suara televisi yang kau nyalakan setiap Minggu jam tujuh pagi dan gaduhnya percakapan seorang diri yang terproyeksi dalam tiap benak manusia, lagi-lagi, dirumah ini. Kau tak akan menemukannya disana Aku dan Ibumu ini hanyalah tamu Kau adalah rumahmu Tapi kau adalah bukan tempat singgah Badanmu bak ruang luas tak terbatas Tamu-tamu tak bisa lalu-lalang melalui satu pintu saja Banyak pintu-pintu lain didalamnya namun tak terbuka Ribuan pintu tersebut tertutup adanya Terkunci dengan rapat Namun kuncinya telah kau telan   Dibalik pintu itu, Lagi-lagi ribuan misteri Teka-teki tentang dirimu yang tersimpan dalam boks berbagai macam ukuran Tersimpan terlalu aman Jiwamu adalah fondasi Kebaikanmu harum masakan yang mengundang setiap orang Keingintahuanmu benda mahal; memikat tamu untuk ingin bertualang ke setiap ruang Kenekatanmu—sisi Sang Pembangkang yang kusayang—menantang mereka untuk tinggal lebih lama Empatimu alunan musik yang menyodorkan kenyamanan Namun parasmu, anakku sayang, Matras termahal yang membuat mereka ingin menginap Hati-hati dalam memberi izin Jaga rumahmu Bersihkan Bagiku Istana terbesar di Dunia tak ada nilainya jika disandingkan dengan Rumah yang kau punya.
0
Mar 24, 2019
Mar 24, 2019 at 1:23 AM UTC
RUMAH
Bapak, aku ingin pulang Aku rindu dengan rumah atau ide akan rumah Tapi kau telah mempunyainya. Aku rindu disambut harum masakan buah tangan sang Ibu Tapi kau tak pernah menyicipinya, Ibu tak bisa masak. Aku rindu berduduk diatas kursi kayu yang terletak di ruang makan Tapi kau bahkan tak pernah melakukannya. Kau, tak pernah makan. Aku rindu akan ruang sesak penuh sayang Akan kentalnya keakraban yang melekat di dinding-dinding bisu; yang dalam diam mendengar isak tangis setiap manusia yang menjajalkan diri dalam rumah ini Akan hangatnya cinta kasih yang tergurat diantara bisingnya suara televisi yang kau nyalakan setiap Minggu jam tujuh pagi dan gaduhnya percakapan seorang diri yang terproyeksi dalam tiap benak manusia, lagi-lagi, dirumah ini. Kau tak akan menemukannya disana Aku dan Ibumu ini hanyalah tamu Kau adalah rumahmu Tapi kau adalah bukan tempat singgah Badanmu bak ruang luas tak terbatas Tamu-tamu tak bisa lalu-lalang melalui satu pintu saja Banyak pintu-pintu lain didalamnya namun tak terbuka Ribuan pintu tersebut tertutup adanya Terkunci dengan rapat Namun kuncinya telah kau telan   Dibalik pintu itu, Lagi-lagi ribuan misteri Teka-teki tentang dirimu yang tersimpan dalam boks berbagai macam ukuran Tersimpan terlalu aman Jiwamu adalah fondasi Kebaikanmu harum masakan yang mengundang setiap orang Keingintahuanmu benda mahal; memikat tamu untuk ingin bertualang ke setiap ruang Kenekatanmu—sisi Sang Pembangkang yang kusayang—menantang mereka untuk tinggal lebih lama Empatimu alunan musik yang menyodorkan kenyamanan Namun parasmu, anakku sayang, Matras termahal yang membuat mereka ingin menginap Hati-hati dalam memberi izin Jaga rumahmu Bersihkan Bagiku Istana terbesar di Dunia tak ada nilainya jika disandingkan dengan Rumah yang kau punya.
Continue reading...
36
Pukul 02.30 Aku terdiam tanpa berbahasa Memikirkan sejuta hal yang seharusnya kulakukan Aku terbiasa bermimpi Namun kini aku tak mampu Pukul 02.30 Andai waktu adalah lomba Maka aku selalu kalah Lagi-lagi aku tidak dapat terpejam Pukul 02.30 Aku dan semua lamunanku Terhenti sejenak oleh suara dengkuran disebelahku atau mungkin suara angin sejuk dari mesin diatasku Pukul 02.30 Aku ingin berlari ke dalam lautan Menantang ombak berderu kencang Lalu terhempas oleh bayang-bayang Pukul 02.30 Aku berurai air mata Berusaha mengartikan rasa Pencarian yang tak berujung Pukul 02.30 Katanya Tuhan itu Mahakuasa Maka aku percaya jawaban itu ada Dan kupejamkan mataku Harap semua ini sirna -wonderwall-
0
Aug 12, 2019
Aug 12, 2019 at 3:53 PM UTC
Pukul 02.30
Cinta itu sungguh hal yang terkuat dan terindah yang pernah dialami semua manusia Tuhan menciptakan manusia berpasangan yang didasari oleh itu. Hal yang misterius tentang cinta adalah siapa pasanganku kelak Hal yang menantang tentang cinta adalah bagaimana aku bisa mempertahankannya Hal yang paling indah tentang cinta adalah Aku dan Kamu. Menulis kisah kasih di sebuah lembaran kertas Menggunakan tinta hitam Yang akan selamanya menetap di lembaran itu Tinta yang mewakilkan cerita kita Semua kutuliskan dengan dirimu didalamnya. Mencintaimu adalah sebuah distorsi yang tidak bisa kukendalikan Mencintaimu adalah sebuah anugerah yang paling ku syukuri Mencintaimu adalah sebuah amanah yang Tuhan telah berikan Kepadaku. Menjagamu.. Mencintaimu.. Membahagiakanmu.. Mendoakanmu.. Tutuplah matamu, rasakan cintaku. Satu..Dua..Tiga.. Bukalah matamu Selamat datang di Dunia kita.
0
Sep 25, 2017
Sep 25, 2017 at 1:24 AM UTC
Dirimu.
membingkai itu ada tujuannya dilapisi kaca biar tidak terkotori aku mengamplas ingatan yang sempat luntur terbawa pada lamunan utuh & seruan sendu silam, bertumpu berapi-api enggan berkeputusan asal sampai kini, aku masih patuh pada prinsipku kamu memintaku, namun hatiku berprasangka itu rancangan induk bukan asli pemintaanmu kupilih menepikan diri diam-diam berharap kamu bercerita lebih dalam tapi nihil, malah indukmu maju aku mau, tapi apa keputusan ini benar pepetan restu, tekanan waktu dihimpit ketakutan indukmu atas cemooh orang, siapa? tetangga? saudara? keengganan bersepaham kuuji kamu dari belakang menantang setara, seimbang, sejajar lontaran kata pengundang debat berlindung atas wejangan duda muda yang baik "dua jenis prinsip tujuan pernikahan" satu, untuk memulai keluarga baru dua, untuk menyatukan keluarga dengan kesadaran kupilih yang bertolak denganmu karena saat itu aku belumuran ragu sejauh mana kedewasaanmu? kamu gagal pada tesmu, tapi aku tetap bertahan kala itu, setelah semua berjarak, mungkin kamu sadar ikatan pernikahan bukanlah hal main-main kubedah diriku, ada setitik kekecewaan seumpama semesta menghajarku dengan keras tapi Ia tidak melepaskanku pada maut disadarkanNya pula, inilah jawaban doa "jauhkanlah aku dari yang jahat & dekatkanlah dengan yang baik" jari manisku takkan tersemat cincin duri sebab ranting emas berbunga daisy telah memekarkan diri
0
Jul 23, 2019
Jul 23, 2019 at 7:37 AM UTC
Wejangan Duda
Bukannya ingin melupakan Tapi langitmu biru Milikku selalu hijau abu-abu Diwarnakan kecewa yang tak kusesali Lama sudah roda waktu kuputar Namun kudapati kau hanya sebentar Kau dan waktu adalah ilusiku Namun kertas dan tintaku takkan menipu Matamu sepekat langit malam Berkilat menantang walau tanpa bintang Menggali semua amarah dan kecewa Saat kau bertukar tatap denganku Ambil semua bintang-bintangku Rebahkan diriku ke jalan yang gersang Retak merana, kering oleh sang waktu Mata itu tak lagi sama di hadapanku Bintang tidak jatuh setiap hari Namun kali ini ia jatuh di antara kita Maaf telah kusembunyikan darimu Cepat atau lambat kau akan mulai berlari Tanpa bisa kukejar kembali Luapkan semua amarah dan kecewamu Padaku, pada dunia, pada yang tak kau pahami Karena kau yang paling tahu Batas waktuku untuk bersama dirimu
0
Apr 4, 2018
Apr 4, 2018 at 12:44 PM UTC
Kutahu Saatnya Tiba
Akhir memaksa hadir di sela-sela kisah yang sementara kita bangun dengan asa—tanpa aba-aba. Bersamanya getir, menetapkan takdir dari apa yang tak pernah kau dan aku amini sebelumnya. Mengaburkan fungsi intuisi, hilang arah semua kata demi kata dalam kepala. Membekukan imaji, runtuh semua rasa dan karsa. Ditengah terombang-ambingnya alur cerita yang kita garap, kau tetiba menyerah dan berhenti berharap. Menanggalkan semua mimpi dan asa, biar berserakan di atas meja tanpa perduli akan masa depan cerita. Meninggalkan aku, yang pernah menjadi ruang bagimu menuangkan ide perihal apa saja yang kau cinta. Adalah karenamu, duniaku kembali berputar. Adalah karenamu, aku belajar menulis tentang rasa. Adalah karenamu pula, aku mencoba mengartikan perihal cara mengikhlaskan. Dan mungkin itu sebabnya—tanpa sadar, kau juga mengajarkan soal kedatangan dan kepergian. Hadirmu menghentakkan semestaku untuk bergerak dan mesti beradaptasi. Tanpamu semestaku berusaha untuk terus berjalan tanpa harus kembali berhenti. Aku mencoba bertanggungjawab atas apa yang telah kita mulai. Mencoba menantang badai meski hanya berteman bayangan diri sendiri. Peran menulis naskah cerita kini sepenuhnya milikku, yang dulunya adalah tugas kita bersama. Terus melanjutkan dan memikirkan penyelesaiannya—meski tak ada lagi peleburan ide kita didalamnya. Semua yang rumpang akan rampung, sedih akan berbalas bahagia pada akhirnya. Waktu adalah saksi, upaya dan sabar akan menjawabnya. Belajar bangkit dari keterpurukan, hadapi dan rangkul baik segala kenyataan.
0
Feb 22, 2021
Feb 22, 2021 at 10:02 AM UTC
RAMPUNG
Akhir memaksa hadir di sela-sela kisah yang sementara kita bangun dengan asa—tanpa aba-aba. Bersamanya getir, menetapkan takdir dari apa yang tak pernah kau dan aku amini sebelumnya. Mengaburkan fungsi intuisi, hilang arah semua kata demi kata dalam kepala. Membekukan imaji, runtuh semua rasa dan karsa. Ditengah terombang-ambingnya alur cerita yang kita garap, kau tetiba menyerah dan berhenti berharap. Menanggalkan semua mimpi dan asa, biar berserakan di atas meja tanpa perduli akan masa depan cerita. Meninggalkan aku, yang pernah menjadi ruang bagimu menuangkan ide perihal apa saja yang kau cinta. Adalah karenamu, duniaku kembali berputar. Adalah karenamu, aku belajar menulis tentang rasa. Adalah karenamu pula, aku mencoba mengartikan perihal cara mengikhlaskan. Dan mungkin itu sebabnya—tanpa sadar, kau juga mengajarkan soal kedatangan dan kepergian. Hadirmu menghentakkan semestaku untuk bergerak dan mesti beradaptasi. Tanpamu semestaku berusaha untuk terus berjalan tanpa harus kembali berhenti. Aku mencoba bertanggungjawab atas apa yang telah kita mulai. Mencoba menantang badai meski hanya berteman bayangan diri sendiri. Peran menulis naskah cerita kini sepenuhnya milikku, yang dulunya adalah tugas kita bersama. Terus melanjutkan dan memikirkan penyelesaiannya—meski tak ada lagi peleburan ide kita didalamnya. Semua yang rumpang akan rampung, sedih akan berbalas bahagia pada akhirnya. Waktu adalah saksi, upaya dan sabar akan menjawabnya. Belajar bangkit dari keterpurukan, hadapi dan rangkul baik segala kenyataan.
Continue reading...
10
Semalam aku terjun dari ketinggian 13.000 kaki dari permukaan laut Menembus awan dan menantang angin Lalu aku terjatuh ke dalam samudera, jatuh sangat keras Aku menangis, tapi mati rasa Pagi ini aku menyelami segitiga bermuda Tak tahu arah Tersesat Aku menangis, tapi tak bersuara
0
Apr 24, 2018
Apr 24, 2018 at 2:26 AM UTC
Mati Rasa
Mungkin benar adanya, menantang ketidaktahuan telah dengan pasti menggiring kesadaran pada sebuah langkah menuju keberanian bersikap. Yang karenanya juga, telah turut menjadikan hati begitu lapang di ruang yang begitu sempit, menempatkan intuisi dalam usaha menyeimbangkan ego dan benci, menuntun arah pikiran menuju muara kebijaksanaan. Sebuah pertanyaan akan kegelisahan, berhak untuk ditelusuri muasal kebenarannya. Semua berhak akan hal itu. Untuk sebuah dinding yang membatasi penglihatan indrawi, merobohkannya adalah kepatutan. Untuk sebuah ketidaktahuan yang memenjarakan, manusia yang berjuang atas akal pikirannya sendiri—berhak untuk terbebas dari kungkungannya. Meminjam dari Aristoteles, terbang menuju keselarasan ide serta realitas yang tidak terbatas! Jangan biarkan gelap menguasai malam. Usaha demi setitik cahaya harus selalu terpatri dalam diri. Melekatkan sikap keraguan-raguan pada pikiran adalah sebuah keharusan. Hanya itu bahan bakar yang paling mungkin, untuk menyalakan setitik cahaya yang dimimpikan. Biarlah menjadi berbeda, biarlah diasingkan. Karena bagi mereka yang merindukan merdeka, beranjak dari ketidaktahuan adalah sebuah keniscayaan!
0
Feb 22, 2021
Feb 22, 2021 at 10:24 AM UTC
MENANTANG KETIDAKTAHUAN
Kini kamu bukan hanya berdiri di atas kaki sendiri Melampauinya- kamu berani berdiri di atas permukaan laut yang hitam dan muram Menyelaminya dalam-dalam tersedak-sedak air asin mendesak-desak ruang dengan gelagat cemas sambil menderit-derit seperti mesin berdesing Dan aku bangga melihat mu mampu bahkan mulai menantang batas-batas ruang dalam waktu yang berkelebatan Maka terbanglah, kawan ku! Terbanglah-- karena luas laut tak mampu membendung derai hasratmu Terbanglah jauh karena dunia taksabar menantimu Terbanglah dan lupakan lautan itu Lautan yang selalu kau kutuk: Sialan bila malam datang dan pagi enggan kau jumpai Maka lupakan ia lalu Terbanglah sekarang juga!
0
Sep 18, 2019
Sep 18, 2019 at 8:57 PM UTC
Terbang
pukul 02.04 aku terdiam tanpa berbahasa memikirkan sejuta hal yang seharusnya kulakukan aku terbiasa bermimpi namun kini aku tak mampu pukul 02.11 andai waktu adalah lomba maka aku selalu kalah lagi-lagi aku tidak dapat terpejam pukul 02.19 aku dan semua lamunanku terhenti sejenak oleh suara dengkuran disebelahku atau mungkin suara angin sejuk dari mesin diatasku pukul 02.22 aku ingin berlari ke dalam lautan menantang ombak berderu kencang lalu terhempas dan menghilang pukul 02.30 aku menahan air mata berusaha mengartikan rasa pencarian yang tak berujung katanya tuhan itu mahakuasa maka aku percaya jawaban itu ada dan kupejamkan mataku harap semua ini sirna
0
Dec 12, 2020
Dec 12, 2020 at 3:07 PM UTC
22/10/20
Sedari kecil, aku mendambakan sepasang sayap di belakang punggung. Ingin aku arungi langit yang melintang dengan bebas. Ingin aku jelajahi awan yang seperti gumpalan kapas. Ingin aku miliki sepasang sayap agar anganku lepas. Burung-burung yang mengambang melantunkan tawa bahagia. Ketika aku menengadah, pandangan mereka jatuh menimpa iris jelaga. "Kenapa kamu tidak terbang?" kicauan mereka membentuk kalimat tanya. "Aku ingin, tapi takdir menyuruh aku menapaki tanah," timpalku sedikit berteriak. Burung-burung tertawa, melingkari kepalaku dengan serangkai gelak. Aku termenung, menatap sayap-sayap yang terbang menjauh. Andai aku bisa terbang, akan aku susul mereka yang mengambang. Akan aku lintasi awan sampai berlubang. Akan aku imbangi laju mereka tanpa secuil bimbang. Sayangnya, aku tidak bisa terbang. Aku cuma bisa menengadah, menatap biru dan biru dan biru yang membentang. Aku pandangi tirai biru sampai warnanya bergeser jadi abu. Siang yang biru diganti malam yang kelabu. Mirip seperti mimpi-mimpi yang dengan cepat menjadi semu. Pikirku, sedari dulu mimpiku selalu gagal bertaruh. Mungkin aku terlalu belagu? Terlalu banyak menaruh harap pada hidup? Aku berusaha maklum, berdamai dengan gagal yang mengikuti aku seperti hantu. Namun, terbang seperti burung adalah satu-satunya mimpi yang tidak mau aku buat luruh. Aku ingin terbang, menyapa semilir angin yang menerpa wajah. Aku ingin terbang, merangkai kapas di atas awan untuk menutup luka. Aku ingin terbang. Aku ingin terbang. Aku ingin damai datang ketika tubuhku melayang di udara. Maka, kepada Tuhan yang tinggalnya jauh di atas semesta, aku mohon dengan amat sangat agar aku bisa terbang. Aku menaiki undakan, menatap gemerlap kota yang mengimitasi kawanan kunang-kunang. Kedua tangan aku rentangkan, berharap Tuhan menjahit sayap yang kilau gemilang. Aku melompat, menantang kelam yang memenuhi langit malam. Aku terbang.
0
Apr 3, 2025
Apr 3, 2025 at 10:24 AM UTC
Aku Ingin Terbang
Sedari kecil, aku mendambakan sepasang sayap di belakang punggung. Ingin aku arungi langit yang melintang dengan bebas. Ingin aku jelajahi awan yang seperti gumpalan kapas. Ingin aku miliki sepasang sayap agar anganku lepas. Burung-burung yang mengambang melantunkan tawa bahagia. Ketika aku menengadah, pandangan mereka jatuh menimpa iris jelaga. "Kenapa kamu tidak terbang?" kicauan mereka membentuk kalimat tanya. "Aku ingin, tapi takdir menyuruh aku menapaki tanah," timpalku sedikit berteriak. Burung-burung tertawa, melingkari kepalaku dengan serangkai gelak. Aku termenung, menatap sayap-sayap yang terbang menjauh. Andai aku bisa terbang, akan aku susul mereka yang mengambang. Akan aku lintasi awan sampai berlubang. Akan aku imbangi laju mereka tanpa secuil bimbang. Sayangnya, aku tidak bisa terbang. Aku cuma bisa menengadah, menatap biru dan biru dan biru yang membentang. Aku pandangi tirai biru sampai warnanya bergeser jadi abu. Siang yang biru diganti malam yang kelabu. Mirip seperti mimpi-mimpi yang dengan cepat menjadi semu. Pikirku, sedari dulu mimpiku selalu gagal bertaruh. Mungkin aku terlalu belagu? Terlalu banyak menaruh harap pada hidup? Aku berusaha maklum, berdamai dengan gagal yang mengikuti aku seperti hantu. Namun, terbang seperti burung adalah satu-satunya mimpi yang tidak mau aku buat luruh. Aku ingin terbang, menyapa semilir angin yang menerpa wajah. Aku ingin terbang, merangkai kapas di atas awan untuk menutup luka. Aku ingin terbang. Aku ingin terbang. Aku ingin damai datang ketika tubuhku melayang di udara. Maka, kepada Tuhan yang tinggalnya jauh di atas semesta, aku mohon dengan amat sangat agar aku bisa terbang. Aku menaiki undakan, menatap gemerlap kota yang mengimitasi kawanan kunang-kunang. Kedua tangan aku rentangkan, berharap Tuhan menjahit sayap yang kilau gemilang. Aku melompat, menantang kelam yang memenuhi langit malam. Aku terbang.
Continue reading...
16