Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"memiliki" poems
*is there nights still exist.. and helpless cries.. i always remember the part of missing stories... i slept with dry eyes.. as the sun sets in the sky.. my hopes go along with it.. everything’s seem leaden in solemn.. until i’m alone again without you come into my night.. i guess i should be thankful... at least we have one thing in common.. all i think of is you.. and i know that you do the same too.. when moon's climb in the leaden night slowly... i can see your face figure in the stars.. don't you know that  i’m always  thinking of you.. i wish you’d think of me too.. if i wonder how this will work.. when you think of nothing but, yourself,  your poems,  your life and i can’t help but love the way you telling it into the poems.. but maybe this what the fate is.. a twisted series of two soul and mind's fused.. and maybe i’m destined.. to be the victim of my feelings .. but how can i blame the fate..? for something that i have control over... i know you don’t thinking the same as mine.. and i know i’ve fallen too deep into my imagination of your figure.. you have them lined up.. just another notch on your belt.. am i the fool...? am i the one who fell...? but i definitely don't  mind at all.. you twist my yearning around your sincerity... and your lies around my words.. you’re the definition of beauty.. horror, pain, desire  and love... should i run...? should i give up..? sometimes i wish i could just sleep... or  never get  wake up when i was dream of you..* ┈┈┈┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶  ƦУ  »̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈┈┈┈┈┈┈┈ apakah masih ada bentuk malam itu.. . dan ketidak berdayaan sebuah tangisan... masih teringat aku akan sepenggal kisah yang hilang itu.. saat kuterpulasi dengan mata yang kering.. bak mentari yang tebenam dilangit.. begitupun keinginanku yang melaju turut.. segalanya tampak kelam dan hening.. hiingga aku sendiri tanpa engkau singgahi malamku.. harus kusyukuri.. setidaknya kita memiliki satu kesamaan .. aku mengenangmu  .. dan kutahu bahwa engkau melakukan hal yang sama .. saat rembulan mendaki malam kelam perlahan ... aku dapat melihat gambar wajahmu diantara bintang .. tahukah kamu bahwa aku selalu mengenangmu .. ...... dang... why i should made two ver for my poems anyway.. lol.. just writing...
0
Jan 11, 2014
Jan 11, 2014 at 10:22 PM UTC
grateful for the blessing
*is there nights still exist.. and helpless cries.. i always remember the part of missing stories... i slept with dry eyes.. as the sun sets in the sky.. my hopes go along with it.. everything’s seem leaden in solemn.. until i’m alone again without you come into my night.. i guess i should be thankful... at least we have one thing in common.. all i think of is you.. and i know that you do the same too.. when moon's climb in the leaden night slowly... i can see your face figure in the stars.. don't you know that  i’m always  thinking of you.. i wish you’d think of me too.. if i wonder how this will work.. when you think of nothing but, yourself,  your poems,  your life and i can’t help but love the way you telling it into the poems.. but maybe this what the fate is.. a twisted series of two soul and mind's fused.. and maybe i’m destined.. to be the victim of my feelings .. but how can i blame the fate..? for something that i have control over... i know you don’t thinking the same as mine.. and i know i’ve fallen too deep into my imagination of your figure.. you have them lined up.. just another notch on your belt.. am i the fool...? am i the one who fell...? but i definitely don't  mind at all.. you twist my yearning around your sincerity... and your lies around my words.. you’re the definition of beauty.. horror, pain, desire  and love... should i run...? should i give up..? sometimes i wish i could just sleep... or  never get  wake up when i was dream of you..* ┈┈┈┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶  ƦУ  »̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈┈┈┈┈┈┈┈ apakah masih ada bentuk malam itu.. . dan ketidak berdayaan sebuah tangisan... masih teringat aku akan sepenggal kisah yang hilang itu.. saat kuterpulasi dengan mata yang kering.. bak mentari yang tebenam dilangit.. begitupun keinginanku yang melaju turut.. segalanya tampak kelam dan hening.. hiingga aku sendiri tanpa engkau singgahi malamku.. harus kusyukuri.. setidaknya kita memiliki satu kesamaan .. aku mengenangmu  .. dan kutahu bahwa engkau melakukan hal yang sama .. saat rembulan mendaki malam kelam perlahan ... aku dapat melihat gambar wajahmu diantara bintang .. tahukah kamu bahwa aku selalu mengenangmu .. ...... dang... why i should made two ver for my poems anyway.. lol.. just writing...
Continue reading...
58
Palembang, Sabtu 8 Januari 2011 Please ... Dont! Jangan buat hidupku rumit lagi, Cinta Cukup! Sudah cukup aku mengenal mu Sekarang aku mau sendiri dulu Yang aku mau hanya memiliki 1000 Sahabat Soal jodoh, tunggulah hingga umur ku 23 Please ... Aku mohon ... Ku lelah memikirkannya terus Aku lelah tuk berlagak sok sempurna Kau kan tahu bahwa aku manusia terbodoh sedunia Tolonglah, cinta Jangan bikin rumit lagi hati ku Sudah cukup yang kemarin Di mana karena ikatan Aku berubah menjadi orang lain Cinta, bila kali ini kau bersungguh Sampaikan pada Tuhan Bahwa aku ingin kembali menjalin cinta Jika Dia memudahkan jalannya
0
Nov 4, 2011
Nov 4, 2011 at 2:30 AM UTC
Berkata Pada Cinta
Palembang, 18 Desember 2011 Pernahkah kamu berada di Padang Pasir dan tak tahu arah pulang? Pernahkah kamu kehabisan bekal sebelum sampai ke tujuan? Aku pernah Pernahkah kamu tidur di atas rumput duri dan punggungmu tak terluka? Pernahkah kamu merasa sakit setelahnya tetapi hati yang terluka? Aku pernah Tapi pernahkah kamu selalu memiliki tabungan ketika uang mu habis? Pernahkah kamu membeli makanan ketika kamu lapar? Pernahkah kamu menelpon Ibu mu ketika kamu sedih? Pernahkah kamu ditemani orang yang kamu cintai saat kamu butuh? Aku tidak pernah Pernahkah kamu kehilangan jarum padahal hampir berhasil memasukkan benang? Pernahkah kamu terjatuh dari tebing dan tidak pakai tali pengaman? Aku pernah Dan pernahkah kamu berfikir tuk bertemu dengan Sang Pencipta? Pernahkah kamu berfikir tuk selalu berbuat hal baik seumur hidupmu? Pernahkah kamu merasa kamu pantas mendapatkan kesempatan kedua? Dan pernahkah kamu mencintai seseorang melebihi dirimu sendiri? Aku, kamu, pasti pernah
0
Dec 19, 2011
Dec 19, 2011 at 1:17 AM UTC
Aku Pernah
Ayahku adalah Cahaya Yang menerangiku dalam perjalanan di dunia Menuntunku tuk memilih arah yang tepat Menyayangiku sepanjang doanya Memelukku dari jauh dalam sholatnya Menciumku melalui ayat-ayat suci yang dibacanya Ibuku adalah Udara Yang memberikanku kehidupan ini Yang menyentuhku dengan hati Menyayangiku sepanjang kuku yang akan selalu tumbuh Merangkulku dengan hati dan pikirannya Merawatku sepenuh hati dan segenap raganya Adik-adikku adalah Air Yang menyejukkan dengan senyuman mereka Motivasiku tuk meraih impian mereka Alasanku bekerja keras tuk membangun bahtera Dengan mereka aku sangat bahagia Dengan suara mereka aku kuat . . . Namun aku hanyalah Aku Yang tak mampu memiliki mereka seutuhnya Yang tak miliki cukup banyak waktu tuk mengenal mereka Yang jarang bersua dan menanam rindu pada mereka Aku hanyalah pejuang di Samudera Seberang Aku hanyalah Aku Yang memiliki perasaan dan pikiran Tuk memilih jalan hidupku sendiri Yang membutuhkan seorang teman Teman sejati yang sejak dulu kun anti Teman yang benar-benar tean Yang ada di sampingku saat susah senang Selamanya …
0
Jan 20, 2014
Jan 20, 2014 at 9:53 AM UTC
Aku Hanyalah Aku
Kepada Kamu. Kita terlalu sama. Suka menangis diam diam. Kelihatan tegar di luar, padahal hancur di dalam. Ketika kini kulihat tawamu yang terlalu keras, aku tahu bahwa kau sedang tidak baik baik saja. Kau memang ahli bermain peran, tapi tidak di hadapanku. Cobalah hidup jujur terhadap apapun yang kau rasa. Tuhan tidak menciptakan apapun untuk sia-sia. Hidup tidak melulu soal bahagia, tapi juga sebaliknya. Itu kemutlakan yang tak bisa kau tolak. Seperti sekarang, jangan selingkuhi perasaanmu sendiri, menangislah. Sungguh, tidak ada yang salah dengan jatuhnya airmata. Airmata bukan penanda lemah, sebaliknya itu pertanda agar kau tidak lengah. Setiap kita memiliki lukanya sendiri sendiri. Juga, memiliki cara sendiri sendiri untuk memulihkannya. Airmata adalah cara lain kau berbahasa dan mengungkap rasa, ketika kau tak sanggup mengolah kata. Biarkan luka terbawa oleh setiap tetes airmata yang menitik sukarela. Terkutuklah mereka yang percaya ‘anak hebat tidak menangis’ lalu menurunkan kebijakan yang tidak bijak itu pada anaknya. Mereka pasti mati rasa. Izinkan aku menemanimu, tanpa banyak bicara, memberi petuah yang menjemukan, atau bertingkah konyol agar kau tertawa. Aku hanya akan duduk di sampingmu, menemani selama kau mau. Dan sesekali memberi genggaman, untuk menguatkan. Note: bahkan airmata adalah buah tawa, saat aku bahagia bisa menemanimu dan mendengar cerita kegiatanmu seharian.
0
Mar 4, 2015
Mar 4, 2015 at 2:40 AM UTC
Tear
Aku memiliki seribu mimpi tapi ibu bilang aku tak tahu diri Tak mengerti keadaan dan kondisi, akupun berhenti membicarakan itu dengannya. Kopi panas yang ku seduh dengan kekecewaan kemarin pagi diseruput lega olehnya. "Jadikan perkataan mereka cambuk bagimu" Salah seorang teman pernah berkata begitu padaku. Tapi kepalaku ini berisi setan-setan bengal! Mereka hanya mengerti kesedihan dan kemarahan. Aku tidur dengan tangan penuh tinta merah setiap malam, berusaha memindahkan kotak-kotak terlarang dari sudut mimpi ke ruang kegagalan. Mereka berhenti mencoba membunuhku tapi kali ini mereka menaruh racun disetiap gelas yang akan ku teguk Bukan! Bukan racun mematikan tapi cukup membuat jiwaku lumpuh untuk waktu yang tak menentu Aku berhenti membicarakan mimpi-mimpiku kepada siapapun Aku tak ingin mimpi yang tersisa hancur diinjak-injak oleh kaki yang bahkan tak peduli berapa lama aku membangunnya 'kembali' Tahun-tahun tak bernyawa Meludah kata-kata serapah seakan hatiku dinding beton dingin Kecukupan seperti apa yang membuat mereka bahagia! Atau biarkan aku tergeletak di kasur lembut itu Jangan! Jangan coba bangunkan aku Mungkin ketenangan di dalam sana mampu meredam kekacauan di kepala malamku
0
Jan 23, 2016
Jan 23, 2016 at 12:53 AM UTC
Kotak Mimpi
Selasa, 15 Juni 2010 Ku ingin s'lamanya Mendengar indahnya suaramu Melihat rupawan wajahmu Ku ingin sekali saja Menyentuh hangat tubuhmu Menggenggam erat tanganmu Memeluk erat tubuhmu Mencium pipimu Kakak... Ku ingin s'lamanya Mengagumi dirimu Mencintai ragamu Memiliki jiwamu Created by. Aridea .P
0
Oct 19, 2011
Oct 19, 2011 at 11:46 AM UTC
Ku Ingin S'lamanya
sore itu dingin. kupandangi tetes-tetes air yang perlahan hinggap di atas permukaan kaca jendela secangkir teh dalam genggaman, berbalut tabahnya menahan rindu. kutunggu kabar namun tak juga kunjung datang duduk di atas kursi teras, menanti suaramu hadir di ujung pesawat. teleponku lagi-lagi kau abaikan, seperti tak pernah sekalipun terlintas minat untuk kau angkat. terlalu sibuk atau apa? biar kunanti lagi bersama rintik hujan. semenit lima menit sepuluh menit dua puluh menit lima puluh menit kutunggu telepon balasanmu namun belum juga kau izinkan aku mendengar suaramu aku diam bersama alunan musik yang dimainkan hujan, air mataku turun biarkan! aku letih berpura-pura merasa tidak sakit hati bersama lantunan rintik hujan, serta guntur yang belum pula lelah bersahutan, pada dunia mereka seolah mengatakan; alam pun bisa menyuarakan air matanya, dan memiliki jeda jujur yang panjang, berhenti berusaha ceria. kemudian aku sadar; seperti alam yang sedang menangis, aku benar-benar letih berpura-pura.
0
May 22, 2016
May 22, 2016 at 7:20 AM UTC
untuk segala hal yang letih berpura-pura
Ini aku Gadis remaja yang sedang jatuh cinta Yang jatuh cinta kepada mu Yang bermimpi bisa memiliki mu Aku yang mengenal mu tak sengaja Yang mengagumi mu dengan seribu alasan Yang mengklaim mu sebagai makhluk istimewa Ciptaan Tuhan yang ku harap adalah jawaban Aku yang merasa bodoh di hadapan mu Yang salah tingkah ketika berbicara dengan mu Yang tak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan mu Yang selalu gugup bertemu dengan mu Aku di sini.. yang berharap bisa lebih mengenal mu Yang berharap bisa membuat mu jatuh cinta kepada ku
0
Nov 21, 2011
Nov 21, 2011 at 9:49 PM UTC
Semua Tentang Aku
aku bernama sepi... tanpa ayah, ibu, sahabat, apalagi seorang kekasih hidupku tak bahagia... tapi aku tak pernah frustasi aku tak pernah berpaling dari realita... karna ini memang nasibku... aku bernama sepi... tanpa ayah, ibu, sahabat, apalagi seorang kekasih! berbahagialah kau yang memiliki semuanya! sepi lalu meninggalkanku bahagiakah aku?
0
Sep 20, 2009
Sep 20, 2009 at 11:50 PM UTC
sepi bercerita padaku tentang hidupnya
Palembang, 31 Agustus 2014 Aku ingin segera menjadi dewasa Supaya aku bisa menikmati hidup lebih leluasa Minum kopi sambil mengobrol tentang politik dan penguasa Duduk di café menulis novel dan mengambar sketsa Aku ingin segera wisuda Memiliki pekerjaan sendiri yang aku damba Memiliki apartemen sendiri dengan konsep yang aku suka Membeli semua buku yang ku anggap menarik dan membuat sendiri ruang baca Aku ingin segera mengakhiri masa kesendirianku Ku harap aku bisa memilih sendiri pasanganku Seseorang yang selalu setia di saat apapun Seseorang yang bisa ku ajak “gila-gilaan” sepajang waktu Aku ingin segera mengandung Memiliki anak-anak yang manis yang akan ku panggil “sayang” Memanjakan mereka seperti aku dimanjakan bunda Membahagiakan orangtuaku dengan kehadiran mereka Aku ingin Aku ingin mati dikelilingi orang-orang yang ku cinta
0
Aug 31, 2014
Aug 31, 2014 at 10:04 AM UTC
Aku Ingin
Hai... Kau mungkin tak akan tahu siapa aku Dan sejujurnya aku tak akan mengenalmu Namun kau dan aku memiliki suatu kesamaan Ia yang kau perjuangkan, yang kau sayangi hingga hatimu sakit Dulu pernah menjalani hari demi hari bersamaku Ia juga pernah ku perjuangkan hingga raga ini tak mampu lagi Ia yang selalu ku sayangi hingga hati ini tak merasa sakitnya Aku hanya ingin menitipkan sebuah pesan untukmu Sebuah pesan kecil yang bisa saja kau abaikan jika kau mau Jangan pernah merasa lelah untuk memperjuangkannya Jangan berhenti menyayanginya walau mungkin ia menyakitimu secara tak sadar Karena jika aku masih mampu dan ia masih membuka hatinya Aku pun tak akan berhenti melakukan kedua hal tersebut Apa yang bisa ku lakukan sekarang adalah menyisipkan namanya disela doa-doaku agar ia bahagia dengan hidupnya Dan agar kau tetap terus menjaganya sebagaimana aku akan menjaganya
0
Jan 3, 2016
Jan 3, 2016 at 8:23 AM UTC
Memo
Justru inilah yang tak pernah bisa ku pahami; kamu mengenal aku seperti belakang tanganmu sendiri kamu itu selalu memiliki pilihan untuk jadi bahagiaku di siang dan malam atau buatku tenggelam dan tersesak dalam dinginnya diam namun pilihan kedua selalu menjadi pilihan favorit mu pun kamu tau bahwa dulu itu menjadi alasanku tinggalkanmu
0
Aug 2, 2015
Aug 2, 2015 at 9:45 PM UTC
Diam
Sekuntum mawar yang kau berikan Mawar merah dengan segenap tumpahan perasaanmu Hanya sekuntum, tetapi cukup untuk melumpuhkan Cukup untuk melambangkan rasamu Tak ku mengerti, sebenarnya untuk apa kau memuji? Tak ku mengerti, sejujurnya untuk apa kau bermanis-manis? Sungguh, tak ku mengerti untuk apa? Sekuntum mawar yang kau berikan Mewakili perasaan yang membutakan Meskipun rasa dan pikirmu tersampaikan, Hei, tak semua hal memiliki jawaban, bukan?
0
May 10, 2014
May 10, 2014 at 10:55 AM UTC
Jawaban Untukmu
Lalu lintas jalan padat merayap pengap namun tetap senyap Karena dia menulikan setiap kata-kata di perempatan jalan Pula desah resah mata-mata yang memandang Kunang-kunang kuning itu tiba-tiba melintas tenang Mengambang lembut bagai daun dihanyutkan arus Membius lampu-lampu sein agar berhenti mengedip Malam itu, di perempatan jalan itu cahaya meredup Orang-orang tak tahu menahu, beberapa berandai Indah juga jika dipelihara di pekarangan rumah Satu bangkit lalu berjingkat mendekat Kunang-kunang kuning itu melesat Tiba-tiba semua orang mengejar berlari Ingin agar Kunang-kunang itu dipelihara di rumah Tukang becak, penjaja koran, bos besar perusahaan, mahasiswa, semuanya tak mau mengalah Berlari, menyerobot, menggapai, meraih, mendorong, menginjak, menjambak, mendepak, merusak, menolak. Lelah. Kunang-kunang Kuning menang Tak ada yang berhasil merebutnya Orang-orang pun lesu, menyumpah, dan kembali ke apa yang mereka kerjakan sesaat lalu sambil bergumam "Tak ada Kunang-kunang Kuning di pekarangan rumah" Kemudian semua berubah normal Seperti lalu lintas biasanya Hanya ada aku, yang masih memandang, kemana Kunang-kunang Kuning itu terbang. Aku tahu, bahwa di kota ini, tidak ada rumah yang memiliki pekarangan
0
Nov 18, 2016
Nov 18, 2016 at 1:29 PM UTC
Kunang-kunang Kuning di Remang-remang Jalan
Masih kubayangkan seperti apa jadinya aku apabila suatu saat aku benar-benar bisa memiliki dia. Mencintai dia begitu dekat. Sedekat tarikan napas dari setiap udara segar yang aku hirup di pagi hari. Masuk ke dalam paru-paru. Kemudian bercumbu di sana. Benar apabila aku memang sangat ingin bisa memiliki, segala hal yang mungkin tidak pernah bisa aku miliki. Begitu naif apabila kita sedang belajar mencintai seseorang. O wajahnya. O matanya. O hidungnya. O pipinya. O bibirnya. O rambutnya yang panjang tergerai jatuh di bahunya. Begitu jelas, hingga mimpi seperti realita. Dia begitu jelas terlihat. Dia begitu nyata, bahkan kurasakan sesuatu berdetak begitu cepat dan kencang, seperti angin yang menyibak rambutnya. Senyumnya membuat segala yang hancur menyatu kembali, tetapi tidak, tidak untuk setiap kali. Aku masih mencintainya, begitulah cinta yang semestinya aku akan katakan apabila memang dia benar ada di sini. Tetapi dia tidak di sini. Dan aku tidak bisa mengatakan bahwa aku mencintainya. Dia begitu dekat, tetapi juga begitu jauh. Dia jauh dari mataku. Dan dia begitu jauh untuk bisa merasakan perasaanku padanya.
0
Mar 23, 2021
Mar 23, 2021 at 5:57 AM UTC
Nyanyian Kesedihan dan Patah Hati
Hari ini aku ingin bercerita Bagaimana sebuah rasa berubah menjadi sebuah asa Saat itu.. Aku melihatmu Berjalan, tapi tetap pada bayangan yang sama Bagaimana bisa? Kau sudah melewati beberapa cahaya Yang bahkan berbeda beda Aku penasaran Rasa untuk membawamu dari bayangan itu muncul Aku berharap usahaku berhasil Sebuah rasa yang berubah menjadi asa Lagi. Aku bermimpi Agar kau tak berhubungan lagi dengan bayangan lalu mu Aku bertindak. Membantumu Lagi, asa itu berasal dari rasa yang sama. Rasa untuk membantumu bangkit dari bayangan itu. Namun, lambat laun rasa itu berubah Berubah menjadi asa untuk kita memiliki bayangan yang sama Ketika waktunya tiba, ku kira aku berhasil Ternyata... sangat jauh dari kata itu Kau lebih memilih menghentikan usahaku, tindakanku Dengan alasan “aku butuh jeda” Baik. Ku turuti maumu aku bahkan masih berpikur positif. Tapi semakin larut, kau tak juga kembali Oh. Dan kusadari, Kau pergi, bersama bayangan itu lagi Kau menjauhi ku dan mendekati bayangan itu, lagi Sungguh aku tak sanggup mencernanya Rasa itu. Asa itu. Bahkan kau tak pernah menganggapnya, kan? Sungguh, apakah kau mengerti maksud dari segala cerita tentang rasaku? Tentang asaku? Kau pergi tanpa mengucapkab selamat tinggal. Bukan. Setidaknya kau bisa memujiku Memuji atas rasa dan asa ku. Sekali lagi, karena rasa ini, asa ku muncul kembali Ya, sebuah asa. Asa untuk melenyapkan segala rasaku padamu Baik itu rasa penasaran, ingin menolong, atau rasa ingin memiliki bayangan bersama mu
0
May 19, 2019
May 19, 2019 at 1:23 PM UTC
Rasa dengan reaksi asa
Hari ini aku ingin bercerita Bagaimana sebuah rasa berubah menjadi sebuah asa Saat itu.. Aku melihatmu Berjalan, tapi tetap pada bayangan yang sama Bagaimana bisa? Kau sudah melewati beberapa cahaya Yang bahkan berbeda beda Aku penasaran Rasa untuk membawamu dari bayangan itu muncul Aku berharap usahaku berhasil Sebuah rasa yang berubah menjadi asa Lagi. Aku bermimpi Agar kau tak berhubungan lagi dengan bayangan lalu mu Aku bertindak. Membantumu Lagi, asa itu berasal dari rasa yang sama. Rasa untuk membantumu bangkit dari bayangan itu. Namun, lambat laun rasa itu berubah Berubah menjadi asa untuk kita memiliki bayangan yang sama Ketika waktunya tiba, ku kira aku berhasil Ternyata... sangat jauh dari kata itu Kau lebih memilih menghentikan usahaku, tindakanku Dengan alasan “aku butuh jeda” Baik. Ku turuti maumu aku bahkan masih berpikur positif. Tapi semakin larut, kau tak juga kembali Oh. Dan kusadari, Kau pergi, bersama bayangan itu lagi Kau menjauhi ku dan mendekati bayangan itu, lagi Sungguh aku tak sanggup mencernanya Rasa itu. Asa itu. Bahkan kau tak pernah menganggapnya, kan? Sungguh, apakah kau mengerti maksud dari segala cerita tentang rasaku? Tentang asaku? Kau pergi tanpa mengucapkab selamat tinggal. Bukan. Setidaknya kau bisa memujiku Memuji atas rasa dan asa ku. Sekali lagi, karena rasa ini, asa ku muncul kembali Ya, sebuah asa. Asa untuk melenyapkan segala rasaku padamu Baik itu rasa penasaran, ingin menolong, atau rasa ingin memiliki bayangan bersama mu
Continue reading...
40
Pagi memamah bangkai di halaman. Bangkai yang kami mangsa bersama semalam sembari duduk melingkar dan mengumpat atas ketidakmujuran yang menghantui kami. Ah, tapi ketidakmujuran dan kesendirian itu toh akhirnya diobati oleh makan malam bersama yang getir dan sangit. Kami sendirian bersama. Kami tidak mujur dan sendirian bersama agar dapat menyantap makan malam ini. Makan malam dengan menu bangkai bersaus pedas ditambah rempah, baunya yang pedih menusuk sengaja kami umbar sebagai pertanda bahwa kami telah hadir di kaki gunung yang belum menampakkan kehangatannya. Kaki gunung yang masih menjegal kaki kami. Kaki gunung yang tajam. Tapi malam mewujud dari lingsir menjadi lengser dan mentari dengan cepatnya kembali mencemooh melalui pagi. Lebih cepat dari kami yang sedang memangsa bangkai. Lebih cepat dari kunyahan kami pada tiap otot dan lemak. Sisa-sisa bangkai yang kami mangsa bersama semalam pun tercecer di halaman bersama bulir beras serta bebijian yang terjatuh dari kelopak mata kami, gantikan air mata. Kami harus membuang bangkai itu segera dan tak boleh sampai terlihat memangsa bangkai. Memangsa bangkai bukanlah hal yang patut dibanggakan terlebih lagi di kaki gunung yang beradab. Halaman kami berbau bangkai. Tak masalah jika aroma itu menujam hidung kala malam, karena manusia yang lalai akan menganggapnya sebagai mimpi belaka. Namun jika sampai bau itu tercium kala pagi maka kami lah yang akan kena kutuk. Kami akan menjadi anak-anak terkasih setan kaki gunung. Meski kami memangsa bangkai, kami tak menginginkannya. Kami hanya ingin bahagia dan dapat saling mencintai. Bangkai-bangkai itu tercecer dan kami tak memiliki tanah untuk mengubur bongkahan yang kini dimamah oleh pagi yang acuh. Pagi yang dingin. Pagi yang memanas. Pagi yang bising. Pagi yang dangdut. Pagi yang berdebu. Pagi yang memamah bangkai di halaman. Kami tak memiliki tanah untuk mengubur bangkai yang kami mangsa. Segala tanah telah beralih pada bak lapuk di kamar mandi agar kami dapat mensucikan diri siang nanti. Dan yang tersisa di halaman hanyalah bangkai, bulir beras, serta darah yang mengalir deras dari sungai di belakang kami. Pagi baru di ujung kepala. Belum banyak mata yang dapat menyaksikan nestapa kami. Bangkai-bangkai yang belum selesai kami kunyah, kami harus segera menyingkirkannya. Pagi memamah bangkai di halaman. Kami memamah bangkai di halaman. Serreh, 2017
0
Aug 17, 2017
Aug 17, 2017 at 10:21 AM UTC
Memamah Bangkai di Halaman
Pagi memamah bangkai di halaman. Bangkai yang kami mangsa bersama semalam sembari duduk melingkar dan mengumpat atas ketidakmujuran yang menghantui kami. Ah, tapi ketidakmujuran dan kesendirian itu toh akhirnya diobati oleh makan malam bersama yang getir dan sangit. Kami sendirian bersama. Kami tidak mujur dan sendirian bersama agar dapat menyantap makan malam ini. Makan malam dengan menu bangkai bersaus pedas ditambah rempah, baunya yang pedih menusuk sengaja kami umbar sebagai pertanda bahwa kami telah hadir di kaki gunung yang belum menampakkan kehangatannya. Kaki gunung yang masih menjegal kaki kami. Kaki gunung yang tajam. Tapi malam mewujud dari lingsir menjadi lengser dan mentari dengan cepatnya kembali mencemooh melalui pagi. Lebih cepat dari kami yang sedang memangsa bangkai. Lebih cepat dari kunyahan kami pada tiap otot dan lemak. Sisa-sisa bangkai yang kami mangsa bersama semalam pun tercecer di halaman bersama bulir beras serta bebijian yang terjatuh dari kelopak mata kami, gantikan air mata. Kami harus membuang bangkai itu segera dan tak boleh sampai terlihat memangsa bangkai. Memangsa bangkai bukanlah hal yang patut dibanggakan terlebih lagi di kaki gunung yang beradab. Halaman kami berbau bangkai. Tak masalah jika aroma itu menujam hidung kala malam, karena manusia yang lalai akan menganggapnya sebagai mimpi belaka. Namun jika sampai bau itu tercium kala pagi maka kami lah yang akan kena kutuk. Kami akan menjadi anak-anak terkasih setan kaki gunung. Meski kami memangsa bangkai, kami tak menginginkannya. Kami hanya ingin bahagia dan dapat saling mencintai. Bangkai-bangkai itu tercecer dan kami tak memiliki tanah untuk mengubur bongkahan yang kini dimamah oleh pagi yang acuh. Pagi yang dingin. Pagi yang memanas. Pagi yang bising. Pagi yang dangdut. Pagi yang berdebu. Pagi yang memamah bangkai di halaman. Kami tak memiliki tanah untuk mengubur bangkai yang kami mangsa. Segala tanah telah beralih pada bak lapuk di kamar mandi agar kami dapat mensucikan diri siang nanti. Dan yang tersisa di halaman hanyalah bangkai, bulir beras, serta darah yang mengalir deras dari sungai di belakang kami. Pagi baru di ujung kepala. Belum banyak mata yang dapat menyaksikan nestapa kami. Bangkai-bangkai yang belum selesai kami kunyah, kami harus segera menyingkirkannya. Pagi memamah bangkai di halaman. Kami memamah bangkai di halaman. Serreh, 2017
Continue reading...
3
Salam hangat untuk pembaca yang terhormat, Apa kamu tahu apa yang lebih cerdas dari berada di tengah-tengah dan jadi pengamat sebelum benar-benar memihak? Atau, apa menurutmu tindakan itu bukanlah tindakan yang akan dilakukan oleh orang-orang intelektual yang sesungguhnya? Apakah menurutmu itu adalah tindakan orang-orang bodoh yang tidak peduli atau orang-orang pemikir yang berhati-hati? Kakekku menyisipkan kata ‘median’ pada nama awalku dan ia jadikan kata itu sebagai nama kecilku, juga nama panggilanku. Di antara nama lengkapku yang berbunyi, Mediana Prawirahardja, kata yang diartikan sebagai nilai tengah itu ia tetapkan sebagai nama panggilan untukku. Harapannya adalah agar aku akan memiliki sifat yang sama dengan kata itu. Berada di tengah. Netral. Damai. Berada di tengah  dan menilai, atau berada di tengah dan memiliki nilai. Nama adalah doa dan lama-kelamaan, aku mulai lelah menjadi pengamat yang hanya bisa menyaksikan dan mencari-cari kebenaran yang belum terungkap di antara hiruk-pikuk masyarakat yang hilir-mudik penuh hingar-bingar ini, di balik dunia yang berantakan ini.
0
Sep 5, 2017
Sep 5, 2017 at 2:52 AM UTC
Dari Median
Kadang jarak membuat cinta merekah Kadang pula membuat lupa Tentang kepada siapa cinta itu bersandar Dan apa perasaan itu sendiri Segalanya itu memiliki batas Kau membutuhkan jarak untuk saling menghargai Pun untuk saling rindu
0
May 31, 2018
May 31, 2018 at 11:18 AM UTC
Ruang Senggang
Sore senja Sunyi Rindu akan rumah Ruang hampa Kedua mata menatap jendela Terlihat sepasang burung bersemayam Saling bersenderan Memiliki sesama Cemburu akan kehidupan sepasang burung Naif kah jiwa ini mengelak dari itu? Rindu akan hal yang mustahil Mustahil untuk dirindukan.
0
Nov 10, 2017
Nov 10, 2017 at 7:48 AM UTC
Rindu.
Untuk yang merindukan Rumah, lebih dari apapun. Rumah bukan lah tentang bangunan, ruang, pintu-pintu yang kokoh, atau jendela-jendela yang ditata. Bukan tentang jenis kayu apa yang digunakan untuk pintu-pintu, jendela-jendela, entah itu jati, sigi atau mahoni. Ini tentang apa yang hidup di dalam sana. Aku pernah memiliki rumah, dan selalu ingin kembali pulang kesana, tapi seseorang yang memiliki peranan sangat penting di rumah, pergi meninggalkan, anggaplah ia sebagai jantungnya, dan ketika jantung tersebut sudah berhenti berdetak, mati lah yang akan kau temukan. Barangkali ia sudah menemukan rumah barunya, dan benar saja. Baginya aku dan ibu hanyalah tamu, dan kau tidak pernah benar-benar menerima tamu, mereka lalu lalang disana, ia menemukan rumah barunya, bukan aku bukan juga ibu. Saat aku berusaha sekuat tenaga untuk kembali pulang dan mengingat-ingat jalan menuju rumah, aku menemukannya, namun rumah itu sudah terkunci sangat rapat, aku megetuknya, tak juga si pemilik membukakan pintunya, beberapa waktu aku masi mencobanya, mungkin tidur di teras rumah ini dan berharap suatu waktu pintunya akan dibuka oleh sang pemilik, namun waktu yang ku tunggu itu tak pernah datang. Aku mencoba mengintip lewat jendela-jendela yang kokoh, aku melihat seorang anak kecil laki-laki berlarian di ruang tengah dekat perapian. Aku tersingkir. Hujan turun dengan derasnya, bukan dari langit, melainkan dari pelupuk mataku, sepertinya awan hitam menyelimuti seluruh ruang hatiku, aku tersadar bahwa ia sudah benar-benar pergi meninggalkan rumah lamanya, dan sudah benar-benar juga menemukan rumah barunya. Saat ini aku sedang mencoba untuk membangun rumah yang lebih kuat, kokoh, dan indah. Aku tidak akan kembali pulang atau kembali mengingat-ingat jalan menuju rumah lamaku. Aku akan membuatnya sendiri, dan semoga rumah baruku tidak pergi lagi.
0
Apr 25, 2019
Apr 25, 2019 at 5:39 AM UTC
Rumah
Untuk yang merindukan Rumah, lebih dari apapun. Rumah bukan lah tentang bangunan, ruang, pintu-pintu yang kokoh, atau jendela-jendela yang ditata. Bukan tentang jenis kayu apa yang digunakan untuk pintu-pintu, jendela-jendela, entah itu jati, sigi atau mahoni. Ini tentang apa yang hidup di dalam sana. Aku pernah memiliki rumah, dan selalu ingin kembali pulang kesana, tapi seseorang yang memiliki peranan sangat penting di rumah, pergi meninggalkan, anggaplah ia sebagai jantungnya, dan ketika jantung tersebut sudah berhenti berdetak, mati lah yang akan kau temukan. Barangkali ia sudah menemukan rumah barunya, dan benar saja. Baginya aku dan ibu hanyalah tamu, dan kau tidak pernah benar-benar menerima tamu, mereka lalu lalang disana, ia menemukan rumah barunya, bukan aku bukan juga ibu. Saat aku berusaha sekuat tenaga untuk kembali pulang dan mengingat-ingat jalan menuju rumah, aku menemukannya, namun rumah itu sudah terkunci sangat rapat, aku megetuknya, tak juga si pemilik membukakan pintunya, beberapa waktu aku masi mencobanya, mungkin tidur di teras rumah ini dan berharap suatu waktu pintunya akan dibuka oleh sang pemilik, namun waktu yang ku tunggu itu tak pernah datang. Aku mencoba mengintip lewat jendela-jendela yang kokoh, aku melihat seorang anak kecil laki-laki berlarian di ruang tengah dekat perapian. Aku tersingkir. Hujan turun dengan derasnya, bukan dari langit, melainkan dari pelupuk mataku, sepertinya awan hitam menyelimuti seluruh ruang hatiku, aku tersadar bahwa ia sudah benar-benar pergi meninggalkan rumah lamanya, dan sudah benar-benar juga menemukan rumah barunya. Saat ini aku sedang mencoba untuk membangun rumah yang lebih kuat, kokoh, dan indah. Aku tidak akan kembali pulang atau kembali mengingat-ingat jalan menuju rumah lamaku. Aku akan membuatnya sendiri, dan semoga rumah baruku tidak pergi lagi.
Continue reading...
10
Mereka bilang kita bukan kasih Mereka bilang kita bukan sayang Mereka bilang kita bukan cinta Kita hanyalah perasaan yang dilebihkan Kita tidak akan pernah menjadi kita Cinta kita adalah bukan cinta Tahu apa mereka tentang cinta kita Mereka Kita Hanya memiliki definisi cinta yang berbeda
0
Jul 29, 2019
Jul 29, 2019 at 5:13 AM UTC
Tahu apa mereka tentang cinta kita?
memang aku tak pantas aku bukan yang bisa dimiliki memiliki pasangan jiwa yang bisa yang mampu.. selalu kuingat kamu malam ini yang penuh dengan hati gegana.. aku sekarang percaya kamu adalah bisa.. berbohong bukanlah pilihanku hati ini berteriak seolah berkata ..bahwa memang tidak ada yang layak setelah setahun berlalu sudah kulihat yang ada.. tidak ada dan tidak ada aku tak mengerti mengapa hati ini terus berteriak.. seolah tidak ingin tidak ada kamu disini hati memang membutuhkanmu hati memang tidak bisa menolak ..karena hanya kamu yang mampu berjalan hingga kiamat nanti dan hanya dirimu yang mampu menyakiti jiwa dan ragaku takkan ada yang bisa takkan pernah.
0
Oct 7, 2016
Oct 7, 2016 at 2:27 PM UTC
takkan pernah (wouldn't ever) // [bahasa]