Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"membiarkan" poems
sedikit demi sedikit, aku sudah tidak merasakan kamu di cangkir kopiku setiap pagi. entah rasanya mengapa sangat sangat habar. seakan kamu sudah benar-benar pergi dari sini. tidak ada yang membuat jantung ini seakan sudah tidak berada di tempatnya lagi ketika mataku menangkap sosokmu. aku tahu, nantinya memang kamu akan pergi. mencintai pilihanmu yang lebih sempurna dariku. aku hanya manusia, mi querido. aku bukan dia yang lebih dari manusia normal. dia spesial untukmu. sedangkan aku tidak. oh, tidak. aku tidak pernah kemana-kemana. aku tidak pergi. aku tetap disini dan menunggu. hanya sepertinya kamu saja yang tidak pernah sadar jika aku disini. sudah menerka-nerka. semua ini akan berakhir tidak berbalas. semua ini berakhir sia-sia. tapi apakah kamu tahu? semenjak kamu bersama dia, aku sangat menikmati hobiku merangkai aksara tentangmu. walau kadang maknamu sudah terasa hambar. kamu tahu mengapa? karena tangan ini tidak akan pernah mampu meringkuh wajahmu dan mulut ini akan kaku ketika bertatapan denganmu. aku membiarkan tangan ini menari-nari diatas papan kata dan merangkai karangan tentangmu.
0
Aug 11, 2014
Aug 11, 2014 at 7:09 PM UTC
tidak terucap
Aku jahat bukan? Merampas hatimu ketika kau sesungguhnya masih sangat mencintainya? Aku egois kah? Membiarkan hati kecilmu itu menghianati cinta yang sebenarnya. Cinta yg lain yang lebih besar dari yang kupunya. Bukankah aku jahat? Merasa diriku yang sangat sakit, padahal hatimulah yang lebih sakit dari ini. Kau tersiksa dalam kebimbanganmu sendiri. Aku tahu, aku hanya menjadi bayang-bayang gelap diantara kalian. Aku juga tahu kau hanya rehat sejenak darinya. Maaf, telah menjadi orang ketiga diantara kau dan dirinya~
0
Oct 23, 2013
Oct 23, 2013 at 8:00 PM UTC
Yes
dua insan yang risau akibat memaksakan lupa akan adanya sebab akibat di butakan oleh rasa menghikayatkan sebuah perpisahan membiarkan sang waktu bekerja di tengah hingar bingar kehidupan
0
Mar 4, 2019
Mar 4, 2019 at 11:51 AM UTC
•Batas•
Penyair itu melangkahi pengemis pincang yang lelap itu. Kasurnya adalah trotoar dan mimpinya ntah apa. Jangan bahas mimpi jadi jutawan dengan kemeja dasi rambut klimis. Mimpi basah saja harus sembunyi sembunyi. Kan takut toh masturbasi di pinggir kali ? Soalnya guys, coli itu pun harus pake tangan kanan selain soal tekanannya yang konstan .. KALAU TANGAN KIRI KIRI KIRI, Disangka PKI ! Ini perihal dosa Illahi saudara saudari! — Lalu pengemis itu Menatap angannya setinggi bintang di lantai 53 menara menara ibu kota. Mengelus ngelus perut kurusnya. Alhamdullilah, hari ini bisa santap sisa paha ayam dari restoran kebarat baratan itu. Mungkin baginya, Tuhan menjelma dalam bentuk tempat sampah. Menyediakan pangan sisa sisa umat kesayangan-Nya. Dan dia, umat yang lupa ia punya. Pagi datang. Ia terus berjalan tanpa alas kaki. Sekelibat melihat lamborgini, berkawal polisi. Presiden mungkin ah? Nomor satu, atau duah? Dia tidak pernah berharap pada Tuhan. Atau presiden. Mungkin ia harus tetap berjalan saja. Atau mungkin ia harus berharap pada ratu adil. Entah kapan ia munculnya. Apa ketika jari-jari kakinya lepas. Hingga tidak bisa melangkah lagi. Atau lelah menguasai tubuh. Hingga enggan melangkah lagi. Atau seluruh kakinya patah Pun ia tidak peduli lagi? Apa ratu adil sedang sibuk memasang konde besarnya Takut takut tidak terlihat cantik saat hadir sebagai pahlawan kesiangan. Atau ratu adil sedang sibuk Memutuskan hukuman adil untuk penyair ini yang mempertanyakan kuasa Ilahi dia punya? Atau mungkin ratu adil berhati dingin. Seharusnya iya karena mana mungkin beliau yang welas asih membiarkan hambanya pontang panting, malah sibuk mengurus penyair mengkritik program kerja-Nya tahun ini. Yah .. Memperhatikan pengemis itu terpincang-pincang lebih asyik daripada mengurus Tuhan. Presiden. Atau ratu adil. Apakah Mas Aristoteles meramalkan distopia pada nusantara?
0
May 14, 2019
May 14, 2019 at 1:28 PM UTC
Penyair Setelah Tahun '65
Penyair itu melangkahi pengemis pincang yang lelap itu. Kasurnya adalah trotoar dan mimpinya ntah apa. Jangan bahas mimpi jadi jutawan dengan kemeja dasi rambut klimis. Mimpi basah saja harus sembunyi sembunyi. Kan takut toh masturbasi di pinggir kali ? Soalnya guys, coli itu pun harus pake tangan kanan selain soal tekanannya yang konstan .. KALAU TANGAN KIRI KIRI KIRI, Disangka PKI ! Ini perihal dosa Illahi saudara saudari! — Lalu pengemis itu Menatap angannya setinggi bintang di lantai 53 menara menara ibu kota. Mengelus ngelus perut kurusnya. Alhamdullilah, hari ini bisa santap sisa paha ayam dari restoran kebarat baratan itu. Mungkin baginya, Tuhan menjelma dalam bentuk tempat sampah. Menyediakan pangan sisa sisa umat kesayangan-Nya. Dan dia, umat yang lupa ia punya. Pagi datang. Ia terus berjalan tanpa alas kaki. Sekelibat melihat lamborgini, berkawal polisi. Presiden mungkin ah? Nomor satu, atau duah? Dia tidak pernah berharap pada Tuhan. Atau presiden. Mungkin ia harus tetap berjalan saja. Atau mungkin ia harus berharap pada ratu adil. Entah kapan ia munculnya. Apa ketika jari-jari kakinya lepas. Hingga tidak bisa melangkah lagi. Atau lelah menguasai tubuh. Hingga enggan melangkah lagi. Atau seluruh kakinya patah Pun ia tidak peduli lagi? Apa ratu adil sedang sibuk memasang konde besarnya Takut takut tidak terlihat cantik saat hadir sebagai pahlawan kesiangan. Atau ratu adil sedang sibuk Memutuskan hukuman adil untuk penyair ini yang mempertanyakan kuasa Ilahi dia punya? Atau mungkin ratu adil berhati dingin. Seharusnya iya karena mana mungkin beliau yang welas asih membiarkan hambanya pontang panting, malah sibuk mengurus penyair mengkritik program kerja-Nya tahun ini. Yah .. Memperhatikan pengemis itu terpincang-pincang lebih asyik daripada mengurus Tuhan. Presiden. Atau ratu adil. Apakah Mas Aristoteles meramalkan distopia pada nusantara?
Continue reading...
45
pada akhirnya, aku tak lagi peduli, begitu juga dengannya pada akhirnya, aku lelah, dan begitu juga dengannya pada akhirnya, tak ada lagi yang akan saling mengingat diantara kita, kau tak ingat aku, aku pun juga begitu pada akhirnya, tak ada lagi yang akan saling mempertahankan, kau akan membiarkanku pergi, dan aku pun juga akan begitu tapi aku akan membiarkan waktu berjalan, karena aku percaya, seiring waktu berjalan, semuanya akan menjadi baik-baik saja /f.r/
0
Feb 6, 2017
Feb 6, 2017 at 5:16 AM UTC
Pada Akhirnya
Aku selalu suka caramu menceritakan dunia, dengan barisan kata yang asing, membuatku harus memutar otakku yang rendah kapasitasnya ini. Aku selalu suka caramu bahagia, bahkan kamu tidak tersenyum ketika bahagia. Hebatnya kamu, bahagiamu bisa sampai ku rasa tanpa senyumanmu yang hadir. Aku selalu suka caramu bersedih, kamu selalu kehabisan kata. Melampiaskannya dengan hal yang bisa mematikanmu, namun pada akhirnya kamu juga butuh pelukanku. Aku selalu suka caramu marah, kamu selalu terdiam. Sampai pada akhirnya kata maaf terucap, karena kamu takut aku akan terganggu dengan marahmu. Aku selalu suka caramu optimis, membanggakan dirimu sendiri sampai lupa kalau di dunia ini ada orang sehebat Pak Habibie. Aku selalu suka caramu pesimis, tidak henti menyalahkan diri sendiri, tapi tidak memakan waktu lama. Setelah itu kamu bangkit lagi. Tapi satu yang tidak aku suka, caramu yang selalu mematikan rasa. Kamu tidak pernah membiarkan rasa-rasa dalam dirimu menyala. Kamu benci rasa. Sama seperti aku membenci diriku sendiri. Tapi tidak apa, Nanti kita sama-sama belajar untuk merasa lagi, ya? Namun, akan lebih baik jika pada akhirnya kita yang bisa saling menumbuhkan rasa.
0
Feb 26, 2020
Feb 26, 2020 at 2:16 PM UTC
02.16
Tiada salah membiarkan raga terluka semakin dalam jarum jam menusuk Memang, tiada obat untuk semua derita Tak salah menerima pilu dalam khusyuk
0
May 30, 2020
May 30, 2020 at 10:43 AM UTC
Jatah sakit
pasal V: tentang rasa sesal; dan sebuah penyesalan. -sebenarnya bukan salahku semua ini terjadi, hanya saja, memang benar aku juga ikut andil membiarkan semua ini terjadi. dan dikarenakan semuanya telah terjadi begitu saja, maka kini yang tersisa dan muncul ada lah rasa sesal. penyesalan. - faktanya, kau juga turut andil dalam permasalahan ini, apapun itu, yang jelas, semua yang terjadi diantara kita, kau juga bertanggung jawab. sebab ketika dahulu hal itu pernah terjadi, kau dan aku dulu, adalah kita. -dan tentu seperti tadi yang telah kukatakan, tidak hanya dirimu yang salah, nyatanya diriku juga turut ikut dalam masalah ini. walau tentu saja, tak bisa sepenuhnya kukatakan bahwa hanya satu orang yang bertanggung jawab di antara kita. sebab sekali lagi, kau dan aku, pernah terikat satu sama lain. - sebab penyesalan selalu diakhir, maka kau harus tau salahku, yang mana salahku adalah membiarkan semua itu terjadi begitu saja, sementara entah merasa sungkan ataupun malu, hanya kutatap semua itu terjadi, kau mundur perlahanlahan, sementaraku masih ingin menggenggammu. -dan kau juga hars tau kesalahanmu, walau dari sudut pandangku. adalah ketika aku masih ingin menggenggammu, kau justru merenggangkan genggamanku, melepasnya dengan lembut, kemudian pergi dengan perlahan. kau seolaholah melihatku sebagai bukan lagi prioritasmu, namun tetap saja, masih tak kuikhlaskan kepergianmu setelah semua ini. dan rasa sesal ku yang teramat sangat adalah, ketikaku pernah memilih berbahagia; denganmu. prdks.
0
Sep 26, 2017
Sep 26, 2017 at 11:58 AM UTC
sajaksajakrasa
pasal V: tentang rasa sesal; dan sebuah penyesalan. -sebenarnya bukan salahku semua ini terjadi, hanya saja, memang benar aku juga ikut andil membiarkan semua ini terjadi. dan dikarenakan semuanya telah terjadi begitu saja, maka kini yang tersisa dan muncul ada lah rasa sesal. penyesalan. - faktanya, kau juga turut andil dalam permasalahan ini, apapun itu, yang jelas, semua yang terjadi diantara kita, kau juga bertanggung jawab. sebab ketika dahulu hal itu pernah terjadi, kau dan aku dulu, adalah kita. -dan tentu seperti tadi yang telah kukatakan, tidak hanya dirimu yang salah, nyatanya diriku juga turut ikut dalam masalah ini. walau tentu saja, tak bisa sepenuhnya kukatakan bahwa hanya satu orang yang bertanggung jawab di antara kita. sebab sekali lagi, kau dan aku, pernah terikat satu sama lain. - sebab penyesalan selalu diakhir, maka kau harus tau salahku, yang mana salahku adalah membiarkan semua itu terjadi begitu saja, sementara entah merasa sungkan ataupun malu, hanya kutatap semua itu terjadi, kau mundur perlahanlahan, sementaraku masih ingin menggenggammu. -dan kau juga hars tau kesalahanmu, walau dari sudut pandangku. adalah ketika aku masih ingin menggenggammu, kau justru merenggangkan genggamanku, melepasnya dengan lembut, kemudian pergi dengan perlahan. kau seolaholah melihatku sebagai bukan lagi prioritasmu, namun tetap saja, masih tak kuikhlaskan kepergianmu setelah semua ini. dan rasa sesal ku yang teramat sangat adalah, ketikaku pernah memilih berbahagia; denganmu. prdks.
Continue reading...
7
Mendegar mereka diantara dua ucapan Tersebar panjang sebuah harapan Seperti getaran tanpa celah Membiarkan hilang dalam naungan Pada halaman konstelasi Mereka mengisyaratkan Gerak gerik sebuah keinginan Dipenuhi kecemasan Dan cerita belum terbaca Mereka membisik Terdengar samar Menunjukan cara untuk hidup Menunjukan aku ada tanpa tujuan Kepada si pendengar Si pendengar kisah dua dunia
0
Jul 20, 2019
Jul 20, 2019 at 4:04 AM UTC
Pendengar Dua Dunia
Bulan kembali memutari bumi untuk ke-enam kalinya di tahun ini. Bersyukur, hanya itu yang dapat kulakukan untuk segala nikmat yang masih kurasakan. Kalau kata Pak Sapardi, dalam sajaknya « Hujan Bulan Juni ». Ia itu tabah, bijak, dan arif. Namun, akankah ia turun kali ini? untuk merahasiakan, menghapus, dan membiarkan–– ––segala sesuatu perbuatan manusia, pun baik dan buruk.
0
Jun 1, 2020
Jun 1, 2020 at 2:25 PM UTC
JUNI
Tepat di hari kedua sebelum akhir Agustus, entah repetisi yang keberapa kali--aku bertanya pada aku. Sedang aku meninggalkan apa yang aku tunggu, sebagian lain dari aku membiarkan apa yang datang menuju. Tepat di peralihan pagi dan khotbah Jumat, ia datang lagi. Yang harusnya kubiarkan pergi sendiri dengan maunya Ntah akan kusambut kembali atau nanti menjadi babak tercanggung. Ntah, kali ini jawaban entah telah ditolak sepersekian lebih awal sebelum ditanyakan. Aku menolak mengikhlaskan apa yang aku sendiri tidak tau apa inginnya. Melalui percakapan rutin beberapa kali sehari, seminggu dan sudah masuk separuh tahun. Tepat menuju penghujung hari, aku membiasakan apapun ia boleh lakukan. Aku biarkan semaunya menghirup-hirup apa yang sudah dilewati. Agar jika pada bagian akhir yang awal nanti ia tak salah langkah, kembali kesini atau mengantar kabar lain yang lebih ia senangi. 30 Agustus 2019 B_A
0
Aug 30, 2019
Aug 30, 2019 at 1:17 AM UTC
-
aku memang beda tidak seperti laki-laki yang sebelumnya kau temui aku... tidak pernah yang namanya setengah hidupku tidak pernah yang namanya setengah aku puas telah mencoba segala hal dengan tidak setengah setengah aku di ajari untuk menyelam bukan mengapung disaat ini aku membebaskan mu dengan sebebas bebasnya manusia aku membebaskan mu untuk memilih disaat aku sakit hati kau tau? itu sakit yang bukan setengah-setengah aku pernah di posisi yang serupa seperti ini mungkin sekarang aku bisa lebih menerima hal tersebut, pendewasaan mungkin? setidaknya kau tau, bagai mana perasaan laki-laki yang tidak setengah-setengah ini pecah bagai beling, dan ku injak beling tersebut sampai aku merasakan hal seperti ini lagi, bagai bunga lily aku kembali mekar.... disaat kau kembali... setidaknya kamu tahu, aku memaafkanmu tidak setengah dan tidak akan membiarkan mu sakit kembali, akibat berkelana terlalu jauh... kamu rapuh... tuhan masih baik menunjukan sesuatu itu padaku bukan kepadamu... mungkin kalo tuhan melihatkan padamu... hal yang kurasakan, akan kau rasakan juga... aku belajar untuk tidak ikut campur lagi soal hubungan barumu mungkin nanti... kamu akan sadar dan tergampar akan realita yang besar memar... bagai terkena tinju biru... bagai lebam terpukul amarah batin aku disini, berlatih menjadi laki-laki untuk bisa menerima kekuranganmu, mungkin nanti tatapan ku masih seperti pertama kita bertemu, harapan yang dulu kita bual-bualkan akan ku realisasikan, hati-hati dijalan, aku menunggu di rumah... menunggumu pulang dengan sejuta cerita yang telah kau lewati...
0
Mar 23, 2022
Mar 23, 2022 at 1:01 PM UTC
buka mata mu!!!
aku memang beda tidak seperti laki-laki yang sebelumnya kau temui aku... tidak pernah yang namanya setengah hidupku tidak pernah yang namanya setengah aku puas telah mencoba segala hal dengan tidak setengah setengah aku di ajari untuk menyelam bukan mengapung disaat ini aku membebaskan mu dengan sebebas bebasnya manusia aku membebaskan mu untuk memilih disaat aku sakit hati kau tau? itu sakit yang bukan setengah-setengah aku pernah di posisi yang serupa seperti ini mungkin sekarang aku bisa lebih menerima hal tersebut, pendewasaan mungkin? setidaknya kau tau, bagai mana perasaan laki-laki yang tidak setengah-setengah ini pecah bagai beling, dan ku injak beling tersebut sampai aku merasakan hal seperti ini lagi, bagai bunga lily aku kembali mekar.... disaat kau kembali... setidaknya kamu tahu, aku memaafkanmu tidak setengah dan tidak akan membiarkan mu sakit kembali, akibat berkelana terlalu jauh... kamu rapuh... tuhan masih baik menunjukan sesuatu itu padaku bukan kepadamu... mungkin kalo tuhan melihatkan padamu... hal yang kurasakan, akan kau rasakan juga... aku belajar untuk tidak ikut campur lagi soal hubungan barumu mungkin nanti... kamu akan sadar dan tergampar akan realita yang besar memar... bagai terkena tinju biru... bagai lebam terpukul amarah batin aku disini, berlatih menjadi laki-laki untuk bisa menerima kekuranganmu, mungkin nanti tatapan ku masih seperti pertama kita bertemu, harapan yang dulu kita bual-bualkan akan ku realisasikan, hati-hati dijalan, aku menunggu di rumah... menunggumu pulang dengan sejuta cerita yang telah kau lewati...
Continue reading...
34
“Cium bibir itu nafsu. Love language aku tuh cium mata dan cium pipi. Nih mau aku praktekin?” Cup Cup “Berasa gak sayangnya?” Aku bergeming. Semoga kamu paham Love languageku adalah membiarkan otakku berimajinasi sesukanya seperti membiarkan mata dan pipiku menerima segala kecupan darimu, dan berharap ada perasaan yang memang terselip di antaranya.
0
Jul 19, 2020
Jul 19, 2020 at 12:48 PM UTC
Love Language