Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"membenci" poems
Aku terlalu kecil Sekecil titik di atas kertas kusut Aku hanyalah satu dari ribuan bahkan tak terlihat Terlindung dalam cangkang sempit dan tipis Bersembunyi di balik daun yang mulai berubah warna Rumah pertamaku akhirnya aku terlahir sebagai sesuatu yang aneh Aku si buruk rupa Tubuhku dipenuhi bulu Merangkak lemah menyusuri ranting Menggerogoti daun disekitar membuatnya berlubang melarikan diri dari burung Bergulat dengan semut rangrang Membuat saya jatuh ke tanah Hingga buluku rontok berserakan Hanya cacing yang menyapa Mereka membenci saya sangat Aku bisa terbunuh, tidak semuanya menerimaku sampai aku terjebak dalam dimensi lain Aku si  ulatbulu kesepian yang bersembunyi Bertapa di dalam kantung usang yang kecil Mencoba untuk membunuh waktu Berjuang dalam kegelapan untuk mencapai keindahan Sudah cukup persinggahanku Mengarungi kerasnya penantian panjang yang membelenggu Aku terlahir kembali menjadi berbeda dan mereka menyukaiku kebahagiaan berlimpah tiba terbang tanpa batas dengan kedua sayap yang cantik pergi ketempat yang indah yang kumau
0
Sep 16, 2016
Sep 16, 2016 at 10:23 PM UTC
Metamorfosa
Mereka hanya terduduk di lantai berlumut Halaman belakang rumah tuanya yang berupa puing belaka Bekas-bekas kekalahan Tidak berucap akan siapa yang mati Dan siapa yang berhak hidup Mereka terlambat, tak ada satupun orang hidup di sini Mereka jadi ingin ikut-ikutan mati Yang disayangi sudah tiada Mereka jadi menyesal Pergi jauh tak kunjung balik Mendadak ditatapnya sebuah sumur Tempatnya menimba air dahulu Katanya sudah mengering berpuluh tahun lalu Dan bibirnya bergerak perlahan, teringat; "Riak air yang tinggal di dasar sumur Tidak pernah membenci roh yang berkeliar singup Di atasnya. Hantu-hantu wanita sejak dahulu Kekal bersolek di atas sumur Meskipun telah mengering airnya Dan pantulan mereka fana adanya. Mereka hanya terduduk di lantai berlumut Halaman belakang rumah tuanya yang berupa puing belaka Bekas-bekas kekalahan Tidak berucap akan siapa yang mati Dan siapa yang berhak hidup Mereka terlambat, tak ada satupun orang hidup di sini Mereka jadi ingin ikut-ikutan mati Yang disayangi sudah tiada Mereka jadi menyesal Pergi jauh tak kunjung balik Mendadak ditatapnya sebuah sumur Tempatnya menimba air dahulu Katanya sudah mengering berpuluh tahun lalu Dan bibirnya bergerak perlahan, teringat; "Riak air yang tinggal di dasar sumur Tidak pernah membenci roh yang berkeliar singup Di atasnya. Hantu-hantu wanita sejak dahulu Kekal bercermin di atas sumur Meskipun telah mengering airnya. Konon karena mereka menyukai Kehangatan yang dirasakan Dari dalam rumah senyap kala ada kehidupan Sesederhana bagaimana mereka tak lagi Dapat hidup Lantas mengapa lepas mereka pergi Tak dijaga kekekalannya dari serentetan ledakan pilu dan kepulan asa? Hantu-hantu cuma pembohong Pelindung tak berdaya Mereka menghargai bising dan jerit tangis Itulah alasan mereka Terus tinggal dan bersolek Menunggu sakit dalam sakit Karena air matalah yang sebenarnya menjaga agar dasar sumur tetap terisi Agar mereka dapat bercermin Agar kekal bayang mereka Air mata, menggenang bersama darah Bukan mata air yang merasuk dari qalbunya." Jadi dipanggillah Segenap jiwa gugup gelisah itu Dalam kesunyian dan sesal mereka Hantu-hantu wanita Kembali besolek di atas sumur Mereka melompat, Untuk lebur Dalam ketiadaan. Menyusulmu Mencarimu.
0
Jun 23, 2016
Jun 23, 2016 at 8:21 AM UTC
Aku Melihat Anak-Anakmu Kembali dari Perang
Mereka hanya terduduk di lantai berlumut Halaman belakang rumah tuanya yang berupa puing belaka Bekas-bekas kekalahan Tidak berucap akan siapa yang mati Dan siapa yang berhak hidup Mereka terlambat, tak ada satupun orang hidup di sini Mereka jadi ingin ikut-ikutan mati Yang disayangi sudah tiada Mereka jadi menyesal Pergi jauh tak kunjung balik Mendadak ditatapnya sebuah sumur Tempatnya menimba air dahulu Katanya sudah mengering berpuluh tahun lalu Dan bibirnya bergerak perlahan, teringat; "Riak air yang tinggal di dasar sumur Tidak pernah membenci roh yang berkeliar singup Di atasnya. Hantu-hantu wanita sejak dahulu Kekal bersolek di atas sumur Meskipun telah mengering airnya Dan pantulan mereka fana adanya. Mereka hanya terduduk di lantai berlumut Halaman belakang rumah tuanya yang berupa puing belaka Bekas-bekas kekalahan Tidak berucap akan siapa yang mati Dan siapa yang berhak hidup Mereka terlambat, tak ada satupun orang hidup di sini Mereka jadi ingin ikut-ikutan mati Yang disayangi sudah tiada Mereka jadi menyesal Pergi jauh tak kunjung balik Mendadak ditatapnya sebuah sumur Tempatnya menimba air dahulu Katanya sudah mengering berpuluh tahun lalu Dan bibirnya bergerak perlahan, teringat; "Riak air yang tinggal di dasar sumur Tidak pernah membenci roh yang berkeliar singup Di atasnya. Hantu-hantu wanita sejak dahulu Kekal bercermin di atas sumur Meskipun telah mengering airnya. Konon karena mereka menyukai Kehangatan yang dirasakan Dari dalam rumah senyap kala ada kehidupan Sesederhana bagaimana mereka tak lagi Dapat hidup Lantas mengapa lepas mereka pergi Tak dijaga kekekalannya dari serentetan ledakan pilu dan kepulan asa? Hantu-hantu cuma pembohong Pelindung tak berdaya Mereka menghargai bising dan jerit tangis Itulah alasan mereka Terus tinggal dan bersolek Menunggu sakit dalam sakit Karena air matalah yang sebenarnya menjaga agar dasar sumur tetap terisi Agar mereka dapat bercermin Agar kekal bayang mereka Air mata, menggenang bersama darah Bukan mata air yang merasuk dari qalbunya." Jadi dipanggillah Segenap jiwa gugup gelisah itu Dalam kesunyian dan sesal mereka Hantu-hantu wanita Kembali besolek di atas sumur Mereka melompat, Untuk lebur Dalam ketiadaan. Menyusulmu Mencarimu.
Continue reading...
67
Kebanyakan orang tinggal bersamanya, saya tidak. Seperti bisa memasak, tapi tidak terlalu pandai seperti Ibu. Selalu lebih, kadang lebih asin, kadang lebih hambar. Pernah saya membencinya, sebelum saya tau isi hatinya. Memaafkan adalah hal yang sangat luar biasa, entah ada mantra apa di dalamnya, namun setelah itu saya merasa sangat tenang. Dia bilang bahwa saya mirip dengan seseorang. Katanya, dia persis seperti saya saat kecil, rambut tipis agak ikal, hidung, bibir dan matanya, katanya persis seperti saya. Saya menangis, entah sedih, sakit, senang, atau haru. Saya tidak pernah diajarkan untuk membenci seseorang, sekalipun yang sudah menghancurkan saya. Sudah saya bilang, bahwa ada mantra ajaib dibalik kata maaf. Bisa saja saya membencinya, namun saya tidak memilih hal itu. Bukan hanya saya yang terluka, dia juga lebur.
0
Jun 1, 2019
Jun 1, 2019 at 5:28 PM UTC
Hal yang baik
Dia ingin bermain kata-kata ternyata. Sampah! Mari kita permainkan dia bersama kata-kata! Akankah takut siapa yang tahu jika tidak pernah kita coba! Kita perlu membencinya! Membenci kebohongan busuk akal manusia. Mari kita bermain kata-kata! Siapa yang takut jika ia sering di cerca oleh pertanyaan mengapa! Baiklah, bunyinya seperti ini. Kau busuk akal rupa juga canda tawa tidak pernah ada artinya. Kalimat yang kau lontarkan tidak pernah bermakna lantas apa arti jika harus hidup tak bisa bebas dan merdeka! Bebas dan merdeka hanya kata-kata, tindakan ada setelahnya, apa yang kau perbuat setelah bermain lantas kau bereskan semua permainan yang ada! Kau dalang permainan yang sejak awal kau ingin menang di dalamnya! Masih ingin bermain? Masih ingin bermain atau kau tak punya lawan main? Seperti apa kata-kata kita cipta seperti apa kau punya wewenang kuasa! Lupa cara, buta aturan semua kau yang pegang! Itu ujaran kebencian katanya!
0
Feb 11, 2021
Feb 11, 2021 at 4:33 AM UTC
Ini ujaran kebencian katanya!
teruntuk bulan Juli, walaupun aku selalu membenci hujan dan bagaimana air turun dari langit, bagaimana hujan menghancurkan segala hari-hariku dan lembab tanah yang mengganggu, dan yang pada akhirnya bulan Juli, mataharimu bersinar cerah, dan saking teriknya, panasmu menusuk jiwa bagaikan aku tidak siap untuk segalanya, aku jatuh sendirian dan sejujurnya, naif. aku rindu, langit gelap dan aroma basah tanah saat air hujan turun, aku rindu, kamu memegang tangan eratku pada tengah hujan di kota itu teruntuk bulan Juli, maukah kamu untuk terakhir kali menjatuhkan hujan dari langitmu itu? bukan, bukan untuk mengenang hal indah, tidak, tidak, untuk apalagi? hujan di bulan Juli, aku mohon, hanya untuk membasuh semua luka sakit.
0
Jul 11, 2019
Jul 11, 2019 at 12:40 PM UTC
hujan di bulan Juli
Aku selalu suka caramu menceritakan dunia, dengan barisan kata yang asing, membuatku harus memutar otakku yang rendah kapasitasnya ini. Aku selalu suka caramu bahagia, bahkan kamu tidak tersenyum ketika bahagia. Hebatnya kamu, bahagiamu bisa sampai ku rasa tanpa senyumanmu yang hadir. Aku selalu suka caramu bersedih, kamu selalu kehabisan kata. Melampiaskannya dengan hal yang bisa mematikanmu, namun pada akhirnya kamu juga butuh pelukanku. Aku selalu suka caramu marah, kamu selalu terdiam. Sampai pada akhirnya kata maaf terucap, karena kamu takut aku akan terganggu dengan marahmu. Aku selalu suka caramu optimis, membanggakan dirimu sendiri sampai lupa kalau di dunia ini ada orang sehebat Pak Habibie. Aku selalu suka caramu pesimis, tidak henti menyalahkan diri sendiri, tapi tidak memakan waktu lama. Setelah itu kamu bangkit lagi. Tapi satu yang tidak aku suka, caramu yang selalu mematikan rasa. Kamu tidak pernah membiarkan rasa-rasa dalam dirimu menyala. Kamu benci rasa. Sama seperti aku membenci diriku sendiri. Tapi tidak apa, Nanti kita sama-sama belajar untuk merasa lagi, ya? Namun, akan lebih baik jika pada akhirnya kita yang bisa saling menumbuhkan rasa.
0
Feb 26, 2020
Feb 26, 2020 at 2:16 PM UTC
02.16
kadang-kadang tensi kerana aku ada tiga puluh tiga sebab menyayangi engkau. susah nak lupa. tapi nasib baik akhirnya aku jumpa tiga puluh empat sebab untuk berhenti. tapi bukan membenci.
0
Oct 11, 2013
Oct 11, 2013 at 8:26 AM UTC
matematik
Salah apa cermin padamu hingga kau membenci itu Salah apa cermin padamu padahal hati yang sedang biru Salah apa cermin padamu padahal ia hanya membisu ?
0
Jul 7, 2020
Jul 7, 2020 at 9:36 AM UTC
Salah Apa Cermin Padamu?
Aku tak bisa mencintaimu dengan lemah. Yang jorok membenci jarak. Yang kubisa hanya percaya dan menuliskan puisi sebagai tanda; Bahwa kata kata adalah tentara yang bergerilya, merambat ke semak-semak. Membekuk musuh-musuh yang belum berhasil menuju pelukanmu. Aku tak bisa mencintaimu dengan payah. Yang aku bisa hanya menuliskanmu di jantung puisi Membuat namamu berdenyut serindu sekali.
0
May 14, 2018
May 14, 2018 at 4:50 AM UTC
Jantung Rindu
Deru dan hening turun ke hilir Ingatan kita hanyut menuju muara Angin meniupkan wangimu Rindu menyala di perapian Melahirkan kehidupan tanpa suara Sedang awan berdusta tentang hujan Yang tak seindah dari balik jendela Namun aku lebih membenci jarak Yang membangun antara sebelum kita
0
Nov 22, 2017
Nov 22, 2017 at 12:44 AM UTC
Untitled
jika nanti kemudian, ada orang yang membencimu karena tingkah dan atau karena kelakuanmu,knapa tidak sekali saja kau meliat dari sisi dia. Ia membenci apa yang kurang atau apa yang tidak ia sukai dirimu, maka kemudian jadikan dia sebagai pembelajaran. bukan kemudian dengan bertingkah apatis, berkata lebih mending daripada munafik dll. nobody's perfect mmang nyata, namun bukan berrti membuat kita serta merta acuh pada kesalahan. sempurna belum tentu terbaik, dan orang baik memang ada dan nyata adanya. if u can't get one, just be the one. prdks.
0
Jun 27, 2017
Jun 27, 2017 at 11:25 AM UTC
[Go]od