"medan" poems
Hidup ku ini bukanlah permainan!
Yang bisa dimulai dan dihentikan kapan pun
Perasaan ku juga bukanlah medan perang!
Yang terus saja tertindas
Kau buat lemah!
Kau buat aku tak berdaya
Hati ku ini adalah emas
Yang apabila hilang, aku akan jatuh miskin
Miskin iman karena kehilangan arah
Miskin materi karena pikiran ku tak jalan
Aku ini bukanlah babu!
Yang selalu menuruti apa mau mu
Aku ini hanyalah pekerja lepas
Yang tak mau terkekang manghadapi mu
Aku ini hanyalah pasien rawat jalan
Meski sakit parah tapi tetap berjuan untuk hidup
Kau kira aku ini apa?
Kau membuat ku menjadi korban terparah
Aku pecundang di antara manusia
Mengapa kau tidak pergi saja dari hidup ku?
Hey, aku ini bukan papan catur 'tuk dipandangi
Aku juga bukan sarung tinju tuk menuruti mu
Lepaskan aku!
Ku mohon lepaskan aku
Aku tak ingin lagi menangisi hidup ku
Ku ingin berhenti mengasihani hidup ku
Tolong, damaikanlah hidup ku
Dec 30, 2011
Dec 30, 2011 at 11:52 AM UTC
Hey buddy
Engkau yang tak pernah mungkin kembali
Kau yang membuatku terjebak dalam sebuah ironi
Kita dihadapkan dengan sebuah hukum pasti
Semua yang terlahir pasti akan mati
Pada masanya
10 tahun penuh makna
Bersamamu ku dapat melihat indahnya dunia
Ya, indahnya dunia
Walaupun sekarang engkau sudah di alam baka
Dan sosokmu hanya tergambar dalam sebuah berkas kamera
Kehadiranmu kala itu bak seberkas cahaya
Yang membuatku tetap ingin bertahan di tengah ketidakadilan dan penindasan yg bermakna
Di saat aku tidak bisa lagi melihat sisi baik 'manusia'
Ketika aku pulang dari kandang ilmu dengan penuh tangisan
Seakan engkau menanyakan 'apa yg sedang terjadi?'
Ketika aku hanya ingin berhenti
Berhenti dari segalanya
Bahkan untuk sekedar bersinggungan dengan udara
Engkau seakan tak rela
Aku tak pernah ingin mengulang waktu
Walaupun itu bersamamu
Waktu yang begitu berat bagi hidupku
Waktu yang membuat semua yg kucita-citakan seakan tabu
Waktu yang telah membentukku sebagai sosok pemalu
Malu dalam segala hal
Bahkan terlalu malu hanya untuk sekedar mengatakan 'aku'
Aku hanya ingin menambah waktuku bersamamu
Agar aku bisa membagi kisahku denganmu
Aku yang sudah bisa pergi jauh
Yang sudah banyak mengenal Medan baru
Yang sedikit banyak telah mendapat penerimaan waktu
Dulu, saat aku jatuh
Engkau selalu ada didekatku
Dengan untaian kata motivasi dan semangat alamu
Tapi, di usia rentamu
Aku terlalu peduli dengan sibukku
Hingga ku lupa hanya sekedar menyapa keadaanmu
Entah apa yg ada dipikirku
Sungguh egois memang
Tapi, apa mau dikata
Semua telah tertulis rapi dicatatan-Nya
Aku hanya bisa menjalankan
Dengan tetap menjagamu dalam lamunan
Jan 4, 2019
Jan 4, 2019 at 10:20 PM UTC
so here I sit alone in our apartment
while he is in his childhood town, cleaning out his dads
cleaning out the drunken chaos and the remains of a life
and tries to air out the smell of death
he is forced to clean out the remains of
a periodic alcoholic's liqour soaked period which ended in the definite end of it all
i'm stuck at work while he is forced to run to the funeral agency, the bank
and an apartment whose walls could tell a story
that would make the ancient greeks' tragedies fade in comparison
he is forced to clean up after his absent dads' death,
a dad who was never there, whose resumé not only includes
the leaving of a son, but also the leaving of life,
all this while i'm looking for washing machines online
//
så här sitter jag ensam i vår lägenhet,
medan han är i barndomsstaden och rensar ur sin pappas
städar bort fyllekaoset och resterna av ett liv
och försöker vädra ut lukten av död
han tvingas städa bort resterna av
en periodares alkohol-indränkta period som slutade i det slutliga slutet på allt
jag är fast på jobbet när han tvingas springa till begravningsbyrån, banken
och en lägenhet vars väggar skulle kunna berätta en historia
som skulle få de gamla grekernas tragedier att blekna i jämförelse
han tvingas städa upp efter sin frånvarande pappas död,
en pappa som aldrig var där, vars cv inte bara innefattar
ett lämnande av en son, utan också lämnandet av ett liv
medans jag letar tvättmaskiner på nätet
Aug 5, 2013
Aug 5, 2013 at 12:32 PM UTC
I remember Malibu
in indigo
The sky sheltering me
was blushing
all over the atmosphere
tryna hide the rose-oiled clouds
but to no avail
I remember Kiwi Land
in its coarse sand
The ocean dissolving itself
trying to meet the land
and I almost swam away
when You were giving me
the upper-hand
I remember KLIA
in the scent of marmalade
Citrus-fresh and borderlines citing
in every pre-departure
I'm an intricate mess,
I was flying
to the points of no return
I remember Manila
in the taste of gelato vanilla
My heart tasted just as soft,
but now I indulge in its bitterness
but even long before seven,
You are the One
that brings joy to my happiness
I remember Jeju
in the form of spicy bulgogi
Savoured upon me,
the heaven in hell I could not resist
for I lost myself in translation
over a trend
I can't keep up with
and I remember Medan
in its harmonious melody
playing the tune
of my awakening,
where the path led me
to the missing notes in my every song,
to the missing lines in my every poetry;
Turns out
the becauses
to my whys
has been You all along,
and that is my
epiphany.
Apr 13, 2021
Apr 13, 2021 at 1:55 AM UTC
Pada langit-langit Tuhan yang menampung gaduh pemaksaan kita.
Dari riuh ramai yang dipanjatkan di pertiga malam-malam yang kantuk.
Pada kumpulan awan yang menerima laga dari setiap doa.
Kita semua akan bertambah,
Ntah kali ini, ntah melalui yang lainnya.
Medan
27 Januari 2020
Jan 27, 2020
Jan 27, 2020 at 5:42 AM UTC