Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"manusiawi" poems
Yang mengutarakan salam pagi ini Hanya sesayat keheningan Dari reruntuhan nafas yang tiap isapnya Riuh dirundung rindu Perhatikan, Ini salah satu pertanda Soal dekadensi kidung Yang biasanya, tanpa kita sadari Teralun lemas tiap pagi Lembut tanpa gemericik Kidung itu bisa jadi sudah keterlaluan Bisa jadi ia terlalu sadis pada sepi tiap subuh. Senandung itu, memang benar, Sebatas bisikan-bisikan lantang Yang gemar memuja sepi dengan memporak-porandakannya, Yang gemar menghantui sunyi agar  terlelap sebelum terbit. Mungkin, kidung itu terlalu masokis Bernyanyi sendiri tanpa ada yang Peduli pada dendangnya yang kelewat mengusik Dan kelewat menggoda, sehingga semua lebih memilih Terlelap saja. Bukan berdansa. Ini salah satu pertanda Soal dekadensi kidung perih Yang biasanya teralun malas tiap pagi Menggerakkan setan-setan kecil Untuk membutakan mata dan membuat tuli dalam sekejap. Jangan berdansa. Tak ada yang peduli, semua masih tertidur. Dan itu bisa jadi salahmu sendiri. Tapi tak apa, iblis masih menyayangimu Dengan sangat manusiawi. Lagipula, seperti pagi ini, Kesunyian kembali bersila pada permadaninya Ditemani kicauan mencibir burung rohani. Selamat pagi, Senyap. Anda yakin tidak ingin bangun Dan menanggapi kidung yang terus memanggil Untuk berdansa setengah jiwa? Subuh hanya datang seterbit sekali. Tuhan hanya merindu lima kali sehari.
0
Feb 16, 2016
Feb 16, 2016 at 11:02 AM UTC
Dekadensi Kidung Tiap Pagi
“I am just not afraid of being alone,” Dia datang dari bumi sebelah sana, jauh ke sini untuk mencari lupa pada dunia. Pada suatu sore menjelang senja, dia menyari bahwa bentuk ganda muncul karena rasa takut pada tunggal semata. Menjadi sendiri bisa membawa resah, terlebih ketika semua berkata ini sudah waktunya. Harga diri bisa membantah, namun di dalam hati takut memang menjadi jawab untuk sebuah tanya; ketika kondisi belum menyajikan jalan untuk berpasangan, apa yang sebenarnya di khawatirkan? Bila sendiri berupa satu kalut yang perlu dihindari, adakah untuk meraih tenang memang lewat menjadi dua? Bila bahagia adalah satu titik yang telah dilimitasi, apakah untuk mencapainya harus melalui sebuah jika? Para pendaki bisa menemukan damai pada puncak walau tanpa kawan, petapa sengaja menyepi demi bertemu tenang, biksu bisa merasa teduh walau tanpa sandingan, mereka yang khusyuk menemukan tentram dalam sujudnya yang panjang. Sendiri, walau secara manusiawi. "Now, I’m just enough with myself," Melihat keberpasangan sebagai sebuah hasrat memang tak akan pernah bertemu lengkap, karena bersua dengan damai hanya lewat kata cukup. Setelah kata cukup dipungut, menjadi sepasang bukanlah lagi sekedar penawar kalut. "So, isn’t this enough?"
0
Mar 6, 2015
Mar 6, 2015 at 4:14 AM UTC
self
Kata itu, sebuah aksara yang dapat tertuliskan hanya dengan tatapan. Dari hati sebuah mahluk yang manusiawi. Tanpanya hati ini mungkin tak berisi. Tak memiliki arti, juga kegembiraan yang selalu ku-nanti - Aulia Rifqi Ramadhan
0
Sep 19, 2016
Sep 19, 2016 at 6:58 AM UTC
Dia
kapan kamu mau menyadari bahwa bentuk ganda muncul karena rasa takut pada tunggal semata? menjadi sendiri memang bisa membawa resah, terlebih ketika semua berkata ini sudah waktunya harga diri bisa membantah, namun di dalam hati takut memang menjadi jawab untuk sebuah tanya bila sendiri berupa satu kalut yang perlu dihindari, adakah untuk meraih tenang hanya lewat menjadi dua? tapi kamu lupa; petapa sengaja menyepi demi bertemu tenang, biksu bisa merasa teduh walau tanpa sandingan, mereka yang khusyuk menemukan tentram dalam sujudnya yang panjang sendiri, walau secara manusiawi karena bersua dengan damai hanya lewat kata cukup setelah kata cukup dipungut, menjadi sepasang bukanlah lagi sekedar penawar kalut
0
Nov 27, 2020
Nov 27, 2020 at 5:55 AM UTC
Ini, Kan, Yang Kamu Takutkan?