Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"makna" poems
Pada hari yang baik di bulan yang baik ini; Hujan turun lagi membasahi segenap pertanahan; Di balik bulirnya seorang pujangga termenung; Menuliskan kembali lirik-lirik tersedih dalam puisinya: Wahai imaji hujan di masa lalu; Pernah kulupa namun mengapa belum kurela? Wahai melodi hujan di masa lalu; Kembali kau ketuk palung paling dalam; Kehalusan suara wanita yang pernah ada; Mengapa tak lenyap bersama kejatuhanmu? Apakah lagi-lagi aku berdiri pada persimpangan yang sama? Penuh kabut, memudar namun seyogianya belum sirna; Tahun demi tahun telah berlalu bersama kejatuhan hujan; Namun mengapa kesepian tak pernah berlalu? Walau kesedihan menolak segala kefanaan; Yang belum berubah menjadi sebuah kejadian; Yang menolak segala bentuk pengulangan; Apakah kekosongan merupakan bentuk realita tertunggal Yang selamanya akan terus berbahasa dalam kebisuannya? Mengapa masih aku mengaku yang tertabah; Jika musibah tak mampu melenyapkan; Segala terpaan angin rindu yang pernah berhembus? Jika segala ketakuan masih menjadi ada dalam tiada; Mengapa pernah juga kau lepas ikatan kita? Perlahan kata-kata itu meresap kepada perakaran; Sebolehjadinya ujung pena tak mampu memahami; Segala makna yang tersirat dalam rampaian puisinya; Bila kepergianmu adalah kesenduan dari berkat kehidupan; Ajarkanlah aku berdamai dengan segala bentuk prasangka; Yang datang bersama bayanganmu di kala hujan.
0
Jun 19, 2017
Jun 19, 2017 at 6:45 AM UTC
Sabda Hujan di Musim Semi
Sejak lama ku memulainya Mengotori kertas dengan sebercak tinta Menciptakan puisi yang amat indah Penuh makna akan liriknya Dengan goyangan tangan Jari-jari ku memegang tinta Melukiskan suara hati ku Yang menangis ditinggalkannya Hati ku merintih kesakitan Tergores luka dan tertusuk panah Mengaku hati ku masih mencintanya Meninggalkan puisi cinta hingga menutup mata Created by Aridea Purple
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:50 AM UTC
Puisi Cinta
Aku menulis Menulis lagi hal yang semu Makna yang tak pasti Aku berpikir keras, kata demi kata ku ketik Klik, Klik, Klik Berharap kelak tulisanku terpajang indah di tembok lorong Aku tidak melihat ke depan, ataupun ke belakang Aku hanya fokus pada layar yang ada di depanku Memandang, membaca, memahami Mengimajinasikan visual hidupku ke dalam kata Terus Klik, Klik, klik Aku berusaha tak terputus, terus mengetik Tiada orang lain yang ada dipikiranku Tidak diiidiii, ibuku, bahkan kawanku Hanya berpikir, huruf apalagi yang harus ku tulis setelah huruf ini? Klik, klik, klik, Aku mulai melambat Namun ku tak pernah menyerah Tak ingin kutinggal Kini pikiranku buntu Di saat aku mulai meninggalkan layarku Sejenak imajinasiku berbicara "You can not be changed... But you can make a change." . . . Tak ada lagi Klik, Klik, Klik Aku hanya memikirkannya Dan semua selesai Hanya dengan satu KLIK
0
May 28, 2013
May 28, 2013 at 7:55 AM UTC
KLIK
Perjalanan di kereta selalu menarik. Masing-masing punya cerita, semua ada makna, Pernah ku bertemu orang asing secara tak sengaja di kereta, sekarang menjadi teman cerita. Pernah ku menangis, berontak, pusing, mual, homesick di kereta. Pernah ku melewati perjalanan ini dengan orang-orang berarti yang tak terganti. Pernah pula aku naik kereta, berbohong pada mama, hanya demi bisa bertemu. Kamu. Tapi yang pasti, aku sering menganalogikan perjalanan di kereta dengan keharusan memikirkan masalah. Cinta, terutama. Klise. Tapi nyata. Dan pada perjalanan ku yang kali ini, kamu orangnya. Yang dipikirkan masih sama, apakah harus bertahan atau berusaha lupa. Biarkan aku memikirkan mu sampai mabuk di kereta, malam ini. Karena selepasnya, aku akan mengubah statusmu menjadi bukan siapa-siapa.
0
Sep 9, 2015
Sep 9, 2015 at 3:48 PM UTC
Train
Di perjalanan yang kau dan aku tempuh Mencari makna tentang kata kita Di tengah semarak laskar kuning menggemuruh Romantika ganjil antara dua pasang mata Masih banyak petualangan yang menanti Ekspedisi kupu-kupu atau jelajah taman satwa Di atas bis ini kau dan aku temukan teman sejati Layaknya anak kecil, bersama tertawa Bait-bait ini mungkin tak mengandung arti Bagi mereka yang tak pernah mengalami Baik-baik kau simpan rahasia ini dalam hati Begitupun aku, jauh di selubuk memori
0
Jul 22, 2014
Jul 22, 2014 at 11:45 AM UTC
B.I.S
Tik tok tik tok Suara jarum jam menggema dalam ruangan kosong tanpa makna Menggerogoti memori memori lampau Menghadirkan sebuah kenangan Tik tok tik tok Sunyi, sepi tanpa kehadiranmu Senyumanmu Kerinduanku Menjalar disetiap nadiku Tik tok tik tok Engkau pria ku Tegakah kau membuatku menunggu Menunggu hal yang tak pasti Bagai matahari dan bulan yang berdampingan Tik tok tik tok Bahkan eksistensimu melebihi suara jarum jam Yang selalu menggema direlung hati ku Yang bahkan kosong melompong Tik tik tik tik Kini tak terdengar lagi Jarum jam sudah lelah Waktu sia sia Terkelupas bersamaan dengan hujan yang membasahi hati
0
Jan 26, 2017
Jan 26, 2017 at 5:31 AM UTC
Tik Tok
tidak semua yang tak bersajak tidak layak dipanggil sempurna karena disetiap penggalan kata nya ada makna yang selalu disiratkannya tidak semua yang tak berima tidak layak dipanggil karya karena disetiap spasi yang digunakannya ada hati yang berusaha bicara
0
Dec 4, 2016
Dec 4, 2016 at 5:34 AM UTC
tentang sajak.
Hey buddy Engkau yang tak pernah mungkin kembali Kau yang membuatku terjebak dalam sebuah ironi Kita dihadapkan dengan sebuah hukum pasti Semua yang terlahir pasti akan mati Pada masanya 10 tahun penuh makna Bersamamu ku dapat melihat indahnya dunia Ya, indahnya dunia Walaupun sekarang engkau sudah di alam baka Dan sosokmu hanya tergambar dalam sebuah berkas kamera Kehadiranmu kala itu bak seberkas cahaya Yang membuatku tetap ingin bertahan di tengah ketidakadilan dan penindasan yg bermakna Di saat aku tidak bisa lagi melihat sisi baik 'manusia' Ketika aku pulang dari kandang ilmu dengan penuh tangisan Seakan engkau menanyakan 'apa yg sedang terjadi?' Ketika aku hanya ingin berhenti Berhenti dari segalanya Bahkan untuk sekedar bersinggungan dengan udara Engkau seakan tak rela Aku tak pernah ingin mengulang waktu Walaupun itu bersamamu Waktu yang begitu berat bagi hidupku Waktu yang membuat semua yg kucita-citakan seakan tabu Waktu yang telah membentukku sebagai sosok pemalu Malu dalam segala hal Bahkan terlalu malu hanya untuk sekedar mengatakan 'aku' Aku hanya ingin menambah waktuku bersamamu Agar aku bisa membagi kisahku denganmu Aku yang sudah bisa pergi jauh Yang sudah banyak mengenal Medan baru Yang sedikit banyak telah mendapat penerimaan waktu Dulu, saat aku jatuh Engkau selalu ada didekatku Dengan untaian kata motivasi dan semangat alamu Tapi, di usia rentamu Aku terlalu peduli dengan sibukku Hingga ku lupa hanya sekedar menyapa keadaanmu Entah apa yg ada dipikirku Sungguh egois memang Tapi, apa mau dikata Semua telah tertulis rapi dicatatan-Nya Aku hanya bisa menjalankan Dengan tetap menjagamu dalam lamunan
0
Jan 4, 2019
Jan 4, 2019 at 10:20 PM UTC
Memori
Hey buddy Engkau yang tak pernah mungkin kembali Kau yang membuatku terjebak dalam sebuah ironi Kita dihadapkan dengan sebuah hukum pasti Semua yang terlahir pasti akan mati Pada masanya 10 tahun penuh makna Bersamamu ku dapat melihat indahnya dunia Ya, indahnya dunia Walaupun sekarang engkau sudah di alam baka Dan sosokmu hanya tergambar dalam sebuah berkas kamera Kehadiranmu kala itu bak seberkas cahaya Yang membuatku tetap ingin bertahan di tengah ketidakadilan dan penindasan yg bermakna Di saat aku tidak bisa lagi melihat sisi baik 'manusia' Ketika aku pulang dari kandang ilmu dengan penuh tangisan Seakan engkau menanyakan 'apa yg sedang terjadi?' Ketika aku hanya ingin berhenti Berhenti dari segalanya Bahkan untuk sekedar bersinggungan dengan udara Engkau seakan tak rela Aku tak pernah ingin mengulang waktu Walaupun itu bersamamu Waktu yang begitu berat bagi hidupku Waktu yang membuat semua yg kucita-citakan seakan tabu Waktu yang telah membentukku sebagai sosok pemalu Malu dalam segala hal Bahkan terlalu malu hanya untuk sekedar mengatakan 'aku' Aku hanya ingin menambah waktuku bersamamu Agar aku bisa membagi kisahku denganmu Aku yang sudah bisa pergi jauh Yang sudah banyak mengenal Medan baru Yang sedikit banyak telah mendapat penerimaan waktu Dulu, saat aku jatuh Engkau selalu ada didekatku Dengan untaian kata motivasi dan semangat alamu Tapi, di usia rentamu Aku terlalu peduli dengan sibukku Hingga ku lupa hanya sekedar menyapa keadaanmu Entah apa yg ada dipikirku Sungguh egois memang Tapi, apa mau dikata Semua telah tertulis rapi dicatatan-Nya Aku hanya bisa menjalankan Dengan tetap menjagamu dalam lamunan
Continue reading...
44
kau putar lagi satu lagu bernada manis dan mudah didengar itu, sederhana. berbeda dengan musik-musik yang biasa kusimpan di playlist-ku, yang nadanya keras dan isinya tak mudah dicerna. kumpulan seni berisi teka-teki. sejenis indie, mereka bilang. aku dan kamu tak lain hanyalah dua kutub magnet yang berbeda; kamu yang begitu lembut dan aku yang mereka beri label seorang laki-laki berwajah datar, tak berperasaan. salah. kukatakan sekali lagi, salah. aku dan kamu tak lain hanyalah dua kutub magnet yang berbeda, yang juga saling tarik-menarik tak pernah mau lepas pada waktu yang sama. dengan segala perbedaan yang mereka pikir terlalu sulit untuk dipersatukan, logika dan imajinasi, bagai minyak dan air, aku dan kamu memilih untuk saling membenahi satu sama lain. isi pikiranmu adalah buku berjalan bagiku dan ruang kosong dalam sudut otakku yang biasa kau sebut sebagai ‘ruang khayal’-ku, kau jadikan ia sebagai salah satu guru dalam hidupmu. dari sana kau pelajari bagaimana caranya mengenali berbagai nada musik dan segala makna dari balik kiasannya yang beresonansi, kisah-kisah yang hanya dapat hidup dalam dimensi imajinasi, serta inspirasi-inspirasi yang dapat kau cari dari peristiwa sehari-hari. aku dan kamu tak pernah sama, kamu satu perempuan berambut lembut dengan suara yang lembut, isi pikiran yang berjalan mulus. orang-orang bilang kamu perempuan berpendidikkan, jenis perempuan berwawasan luas, berjiwa luas. sementara aku laki-laki penggila musik yang menganggap seni adalah satu hal yang perlu ditekuni seuntuhnya. menjadi musisi adalah satu impian besar yang membuatku tak pernah berhenti berlari untuk mencapainya dan kamu pendukungnya, nomor satu. kamu ingin jadi jurnalis dan aku ingin jadi pemusik. aku dan kamu berasal dari ranah yang jauh berbeda, namun disatukan karena cinta.
0
Dec 9, 2017
Dec 9, 2017 at 9:34 AM UTC
satu lagi kisah singkat yang sempat terbuang
kau putar lagi satu lagu bernada manis dan mudah didengar itu, sederhana. berbeda dengan musik-musik yang biasa kusimpan di playlist-ku, yang nadanya keras dan isinya tak mudah dicerna. kumpulan seni berisi teka-teki. sejenis indie, mereka bilang. aku dan kamu tak lain hanyalah dua kutub magnet yang berbeda; kamu yang begitu lembut dan aku yang mereka beri label seorang laki-laki berwajah datar, tak berperasaan. salah. kukatakan sekali lagi, salah. aku dan kamu tak lain hanyalah dua kutub magnet yang berbeda, yang juga saling tarik-menarik tak pernah mau lepas pada waktu yang sama. dengan segala perbedaan yang mereka pikir terlalu sulit untuk dipersatukan, logika dan imajinasi, bagai minyak dan air, aku dan kamu memilih untuk saling membenahi satu sama lain. isi pikiranmu adalah buku berjalan bagiku dan ruang kosong dalam sudut otakku yang biasa kau sebut sebagai ‘ruang khayal’-ku, kau jadikan ia sebagai salah satu guru dalam hidupmu. dari sana kau pelajari bagaimana caranya mengenali berbagai nada musik dan segala makna dari balik kiasannya yang beresonansi, kisah-kisah yang hanya dapat hidup dalam dimensi imajinasi, serta inspirasi-inspirasi yang dapat kau cari dari peristiwa sehari-hari. aku dan kamu tak pernah sama, kamu satu perempuan berambut lembut dengan suara yang lembut, isi pikiran yang berjalan mulus. orang-orang bilang kamu perempuan berpendidikkan, jenis perempuan berwawasan luas, berjiwa luas. sementara aku laki-laki penggila musik yang menganggap seni adalah satu hal yang perlu ditekuni seuntuhnya. menjadi musisi adalah satu impian besar yang membuatku tak pernah berhenti berlari untuk mencapainya dan kamu pendukungnya, nomor satu. kamu ingin jadi jurnalis dan aku ingin jadi pemusik. aku dan kamu berasal dari ranah yang jauh berbeda, namun disatukan karena cinta.
Continue reading...
1
aku mencoba memahami setiap isyarat yang terbentuk menerjemahkan tanda- tanda pada tiap tiap elemen yang ada menafsirkan tak semudah itu teoripun wajib diacu belum, aku harus menyelam lebih dalam ini belum cukup untukku aku masih haus akan pengertian bagaimana ini bisa? bagaimana itu bisa? akupun masih terus menggali untuk ku tuai jawaban semua punya maksud dibelakangnya warna, gerak, ujaran, tulisan bahkan titik dan garis aku mencari arti dalam arti mengupas tanda didalam tanda ini tentang makhluk berbahasa aku, bahkan tiap insan punya identitas ada makna yang harus kusampaikan ada arti yang harus dipahami aku memang bukan ahli tapi ku mau pelajari
0
Aug 21, 2017
Aug 21, 2017 at 11:05 AM UTC
BAHASA
Setiap kata mempunyai makna Begitupun dengan rasa Rasa memaknai sebuah kata Yang kusebut cinta
0
Dec 22, 2017
Dec 22, 2017 at 6:49 AM UTC
Makna
Aku suka kata-kata ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ begitu pun kamu tapi bukankah Seno pernah mengutuk kata-kata karena mereka sudah terlalu banyak di dunia?* .kata-kata tak punya makna apalagi jiwa kata-kata mudah menguap sampai kita harus (mengurungnya) sebelum terevaporasi entah-berentah tak lagi dipahami! Apa arti 'kita' jika kata-kata tak punya makna? Aku cukup payah mencari kata 'kita' di antara tumpukan buku yang tak selesai kubaca. Kamu pernah bilang aku membiusㅡmembisukan tapi bukankah kata hanya sampai bila diutarakan? tidak ke selatan, 'kan? Kata-kata memang tak punya makna apalagi yang tak tersampaikan kata-kata mudah dilupakan meski kamu pandai meramu kata menjadi sajak-sajak cinta, dan menyuapiku: semua terasa getir, aku tak punya selera. Aku hanya bisa menelan perasaan penasaran yang tak kunjung habis. Hingga aku kepayahan merapal kata-kata 'kita,' entah-berentah Aku belum paham.
0
Dec 13, 2019
Dec 13, 2019 at 9:44 AM UTC
padam rasa
Marahlah Luapkan amarahmu Pada malam yang menipu Caci maki Pada rangkaian kata Puisi yang menipu Jangan berhenti Karena malam ini kutitipkan hatiku Cabik semaumu Tangisi sepuasmu Jangan berhenti Besok pagi kuambil kembali Biar kupahami Setiap makna kecewamu Biar kumengerti Arti setiap saat wajahmu sembab Sampai nanti kau mengerti Akulah yang pergi dan selalu kembali Karena malam ini kutitipkan hatiku Hanya padamu
0
Dec 1, 2017
Dec 1, 2017 at 2:11 PM UTC
Malam Ini Kutitipkan Hatiku
••• Tak apa.. Dalam hidup pasti akan ada cela Tak apa.. Biarkanlah mereka semua tertawa Hidup memang tidak akan pernah sempurna Namun, hidup akan selalu menyimpan cerita Dan selalu ada makna indah tersirat di dalamnya Yang akan menuntunmu untuk belajar dewasa Dirimu hanyalah milikmu Ragamu akan selamanya menjadi milikmu Begitu pula dengan sukmamu, Yang akan selalu terikat dan melekat pada jiwamu Mereka yang mencela Hanya melihat yang ada di depan mata Namun, dirimu lah yang tahu semua di balik realita Biarkan mereka puas mencela tanpa rasa iba Namun, kau harus percaya Tiap nyawa memiliki kebaikannya Tiap jiwa memiliki indah benderangnya Dan tiap insan, pasti memiliki jalan terbaiknya Kamu hebat meski tidak sempurna Kamu indah meski tanpa dasar fakta Teruslah berteman dengan semesta, Niscaya kau kan temukan "bahagia" •••
0
Jun 7, 2020
Jun 7, 2020 at 9:49 AM UTC
Bahagia di Balik Semua Cela
“puisi itu hanya enak untuk ditulis, bukan dibaca” “hah, egois sekali, terus siapa yang mau baca semua puisi yang sudah kamu tulis?” “bukan begitu, maksudku puisi itu kan ungkapan hati penulisnya, dan ketika kita membaca puisi, kita harus selalu menebak nebak apa arti dan makna sebenar benarnya dari puisi yang kita baca. melelahkan” “lalu apa bedanya dengan hidup? inti dari hidup juga mencari makna sebenar benarnya kan?” “memang tidak ada bedanya, sama sama melelahkan”
0
Nov 27, 2020
Nov 27, 2020 at 5:10 AM UTC
Berikan Aku Kesempatan Mengusir Lelahmu
/I/ Tik, tik, tik, angka-angka berdetak di tengah malam yang riuh dalam sunyi. Aku melukis senyum pada langit pirau yang terjebak dalam ruang-ruang gelap. Jendela mempersilahkan gagak masuk menyampaikan rekam tawa dari orang-orang yang melukis kesedihan di birai bibir. Seolah parade, bergembiralah seisi ruangan yang hanya ada aku saja di dalamnya. /II/ Kota mulai curiga kepada siapa saja yang mencoba menetap. Berlari dan tergesa adalah cara bunuh diri dalam kota yang melaju cepat dan semakin cepat. Aku memilih menjebak diriku dalam ruang tak berpintu, yang lantainya kususun dari debur gelombang bulan purnama. Ranjangnya mencekik kerongkonganku di pagi hari yang tak pernah tiba. /III/ Apakah terlambat untuk menjadi diriku sendiri? Ataukah terlalu cepat untuk menemukan diriku dalam tubuh yang nirmakna? Jika kesunyian berbunga makna, seharusnya aku menemui makna atas diriku pada suatu pagi di ujung simpul tali. Aku melayang, engkau menerka udara. Aku hidup, engkau perdebatkan prosesi pemakaman dalam daftar-daftar tak kasat mata. /IV/ Seekor nyamuk menganggu kewarasaannya dalam menghitung berapa bintang yang tak pernah melempar cahaya. Keningnya menjelma komidi putar, menjauh, mendekat, pergi dan kembali. Suara-suara berbaris, mempersempit lorong waktu dan jembatan kota yang mulai menua. Telapak tangannya bergetar seiring detak jantung yang terus mempercepat kembang-kempisnya. /V/ Senang pernah bersua, tapi aku tak ingat. Di antara aku dan lainnya, siapa yang memperkenalkan diri di awal pertemuan? Begitu juga esok hari, wajah siapa yang tergores dalam cermin? Siapa yang mengucap selamat tinggal dalam jumpa yang seharusnya tak pernah menjadi sebuah perpisahan?
0
Aug 1, 2020
Aug 1, 2020 at 12:28 AM UTC
Berdansa Dalam Gemerlap Rumah Sakit Jiwa.
/I/ Tik, tik, tik, angka-angka berdetak di tengah malam yang riuh dalam sunyi. Aku melukis senyum pada langit pirau yang terjebak dalam ruang-ruang gelap. Jendela mempersilahkan gagak masuk menyampaikan rekam tawa dari orang-orang yang melukis kesedihan di birai bibir. Seolah parade, bergembiralah seisi ruangan yang hanya ada aku saja di dalamnya. /II/ Kota mulai curiga kepada siapa saja yang mencoba menetap. Berlari dan tergesa adalah cara bunuh diri dalam kota yang melaju cepat dan semakin cepat. Aku memilih menjebak diriku dalam ruang tak berpintu, yang lantainya kususun dari debur gelombang bulan purnama. Ranjangnya mencekik kerongkonganku di pagi hari yang tak pernah tiba. /III/ Apakah terlambat untuk menjadi diriku sendiri? Ataukah terlalu cepat untuk menemukan diriku dalam tubuh yang nirmakna? Jika kesunyian berbunga makna, seharusnya aku menemui makna atas diriku pada suatu pagi di ujung simpul tali. Aku melayang, engkau menerka udara. Aku hidup, engkau perdebatkan prosesi pemakaman dalam daftar-daftar tak kasat mata. /IV/ Seekor nyamuk menganggu kewarasaannya dalam menghitung berapa bintang yang tak pernah melempar cahaya. Keningnya menjelma komidi putar, menjauh, mendekat, pergi dan kembali. Suara-suara berbaris, mempersempit lorong waktu dan jembatan kota yang mulai menua. Telapak tangannya bergetar seiring detak jantung yang terus mempercepat kembang-kempisnya. /V/ Senang pernah bersua, tapi aku tak ingat. Di antara aku dan lainnya, siapa yang memperkenalkan diri di awal pertemuan? Begitu juga esok hari, wajah siapa yang tergores dalam cermin? Siapa yang mengucap selamat tinggal dalam jumpa yang seharusnya tak pernah menjadi sebuah perpisahan?
Continue reading...
26
Aku terdiam Di balik suara yang terus menggema Mengeja tanya Yang tak lahir dari mata mereka. Kupungut satu per satu kebingungan Yang tak pernah diminta Sambil menyelipkan rasa kesal Di antara hela napas. Tak ada telinga Hanya dinding yang berdiri tegak Menampung gema tanpa makna. Dan ternyata Lelah juga Menjadi penjaga sunyi Yang mereka sebut guru.
0
May 14, 2025
May 14, 2025 at 9:17 AM UTC
Penjaga Sunyi