"lampu" poems
Palembang, 22 Juni 2011
Api itu hampir merajai waktu
Merenggut harta benda tanpa ampun
Mangarang tubuh yang sesepuh
Duduk pun terdiam di kursi besi butut
Kekuatan api bagai Sang Supernova
Membumbung tinggi tak ada yang terjaga
Meletup-letup bagai haus dan lapar
Tinggallah hamparan abu di senja tiba
Sebelum fajar menyingsing indah
Berisik di tengah jalan sirine mengulang
Langkah kaki mondar-mandir yang tentu arah
Bergotong royong pun dengan peluh dan baju basah
Ku duduk terdiam terpaku
Setengah melamun di sebelum senja muncul
Ku tersadar pun di tengah padam lampu
Dan ku lihat Monalisa tersenyum pada ku
Ku duduk bersimpuh di kaki
Menunduk dan berharap ini hanya mimpi
Dan aku bangkit tuk lihat situasi
Ku dengar mayat rapuh bagai tiada arti lagi
Tak mampu tumpah air mata
Hanya tubuh kaku mati rasa
Pikiran yang ingin selalu waspada
Mental ini rapuh butuh udara
Abu terasa di mana-mana
Terinjak, menyatu dengan tanah
Menutup mata kini selaalu terjaga
Menjaga hari tanpa Supernova
9 Juni penuh cerita
Di bawah tangisan dan panikan
Wanita memasak dan menjaga anak
Pria bahu membahu membangun rumah
Oct 28, 2011
Oct 28, 2011 at 1:26 AM UTC
waktu itu kita jalan keluar malam-malam
awalnya sedikit hangat didalam ruangan yang temaram
lalu kita melangkah keluar, dan dinginnya malam buat semuanya menjadi suram
sepertinya angin kencang menjalar dengan kejam
malam menjadi bisu, sambil berjalan pun kita berdua diam
lalu kamu menunjuk-nunjuk bangunan dengan lampu-lampu dan dinding kayu
sepertinya hangat disitu, kalau tidak salah kamu bilang begitu
saya setuju
dengan kamu saya selalu setuju
dijalanan kecil kita melangkah kesitu buru-buru
didalam sana udara dingin sudah tidak terasa lagi
dengan hati yang riang saya pilih coklat panas dari menu yang kamu beri
kata orang coklat bisa menghasilkan hormon endorfin
bisa membuat hari yang sedang bermuram durja menjadi tersenyum kembali
lalu saat itu coklat panas sudah ada didepan saya
saya sentuh pinggiran gelasnya
hangat
saya minum perlahan-lahan
sedikit demi sedikit, tanpa tergesa-gesa
sengaja
karena tidak terlalu besar ukurannya
kalau cepat habis bagaimana?
lama kelamaan habis, semuanya juga akan habis
saya ingin gelas kosong bekas coklat panas ini tidak digubris
tapi akhirnya pelayan itu datang dan mengambilnya sambil tersenyum manis
kehangatan kembali terkikis dan menipis
kita kembali berdiri dan keluar menelusuri malam yang dingin
kembali bergelut dengan angin
ingin saya bawa satu gelas coklat panas itu lagi
tapi dia akan membeku seiring berjalannya waktu, mungkin
tanpa suara, saya tahu kamu mendengar
tanpa cahaya, saya tahu kamu melihat
tanpa kata, saya tahu kamu mengerti
maka, terimakasih untuk ‘coklat panas’ nya.
mungkin bisa kita seduh kembali suatu saat nanti
Jakarta, 27 Desember 2012
(puisi ini bukan tentang apa-apa. puisi ini tidak berarti apa-apa. puisi ini tidak ada yang mengerti selain saya dan satu orang lagi. puisi ini tentang sebuah Rahasia)
Feb 13, 2013
Feb 13, 2013 at 12:59 AM UTC
Payudaramu
Masih menatapku dengan murung
Entah sudah berapa lama kupegang
Mungkin ratusan ribu kali.
Temaram yang dibentang
Oleh lampu kecil di sudut kamar;
Ranjang yang bermain melodi sendu
Poster kusam mimpi hari depan
Dan radio tua yang tak henti-henti
Menabuh genderang yang telah hilang
Semangat.
Ah, siluetmu
Yang bergoyang-goyang di tiup
Angin asmara.
Aku mencintaimu malam ini
Lebih dari apapun,
Bilang pada bulan
Jangan berhenti bersinar
Dan taburilah wajahnya
Banyak-banyak cahaya bintang.
Aku mencintaimu malam ini
Lebih dari apapun, sampai pintu bilik di ketuk.
(Batam, 17 Mei 09)
Apr 8, 2011
Apr 8, 2011 at 7:42 AM UTC
Ku terlelap seperti lalu lintas jakarta, berjalan dan berhenti, dari padat menjadi kosong. Yang tak tahu pergi kemana. Gambar-gambar yang lewat begitu saja seperti cepatnya kereta. Lampu-lampu jalan yang menerangi aspal hitam. penjual-penjual yang menjual minuman di lampu merah. Pengamen yang bermimpi membuat kemacetan menjadi hal musikal. Keringat-keringat dibalik helm dan jaket kulit. Tawa-canda dibaluti pendingin didalam mobil. Bis-bis kota dengan kepenuhan penumpang. Orang-orang yang mengumpat jika kau dengar dengan seksama, umpatan mereka begitu indah, tak ada seorangpun di bagian dunia lain mampu menirunya. para pedestrian yang semakin tergeser eksistensinya karena tak ada lagi ruang bagi mereka. Stasiun-stasiun yang nampak menakjubkan ketika sepi. Spanduk-spanduk keagamaan yang dipasang sembarangan sama layaknya dengan iklan-iklan yang berteriak ke telingamu tiap radius 10 meter. aku terlelap bagaikan lalu lintas jakarta. Aku tak tahu kemana.
Nov 17, 2013
Nov 17, 2013 at 1:55 AM UTC
Sebetulnya tidak ada yang terlalu berbeda pada Jogja malam itu, namun memang spesial.
Ada kamu di hadapanku, diterangi remangnya lampu kedai kecil tempat kita berdua berteduh dari gerimis dan dinginnya kota Jogja malam itu.
Kamu tidak banyak bicara, sibuk dengan sepiring gudeg dan segelas wedang jahe favoritmu.
Aku tidak bisa berhenti memandangi parasmu. Meski hanya diterangi lampu remang-remang, dan peluh yang basah akan air hujan, bagiku kamu tetap nomor satu.
Sang pemilik kedai pun memutar piringan hitam miliknya, terlantunlah ‘Berdua Saja’.
Aku masih ingat betul tatapanmu malam itu seiring dengan alunan lagu. Sederhana, teduh, dan penuh dengan kehangatan.
Malam itu, aku sadar bahwa rumah tempatku pulang bukanlah bangunan bata beratap dengan satu pintu dan dua jendela.
Malam itu aku sadar, Sepasang mata bola yang teduh dan hangat itulah tempatku pulang.
Kamulah tempatku pulang.
Oct 22, 2016
Oct 22, 2016 at 12:20 AM UTC
Palembang, 11 Juni 2012
Debu ini sudah lengket, tak bisa hilang
Meski ku usap dengan kain dari ulat sutra
Angin sudah terlanjur tertiup
Aku tak sempat lagi tuk pakai penutup
Petir sedari tadi mengamuk
Aku hanya bisa bersembunyi di bawah selimut
Banjir belum juga surut
Hujan tak pernah berhenti sedetikpun
Lampu belum juga padam
Padahal lilin dan api telah aku siapkan
Aku sudah siap menekan tombol Stop
Padahal lagu masih panjang untuk dinyanyikan
Aku belum juga tertidur
Padahal aku sudah menentukan mimpiku
Aku masih terjaga menunggu pagi
Meskipun malam belum akan berakhir
Jun 11, 2012
Jun 11, 2012 at 10:45 AM UTC
Terkadang raga ini lelah melangkah
Berjalan tanpa tahu pasti kemana
Apakah akan singgah sebentar di sudut itu
Atau mungkin akan berhenti di pelabuhan timur
Malam itu aku tertatih
Menahan perih dan luka
Tanpa ada satupun yang sadar
Dalam hati mengumpat watak manusia yang acuh
Namun aku juga manusia
Aku.. manusia yang tak akan pernah berhenti belajar
Walau harus merajut asa dalam sakit
Ditemani oleh temaram lampu kota aku menari
Hingga raga ini tak sanggup
Dan jiwa ini hilang dibawa angin malam
Apr 4, 2016
Apr 4, 2016 at 10:20 AM UTC
Ketika malam berganti pagi
Bintang-bintang berkelip sayu
Menanti angan yang tak tiba
Dua anak manusia
Dibawah temaram sinar lampu
Berbicara dari hati ke hati
Merah ingin mencapai Mars
Hitam ingin mencari yang hilang
Satu berdiam
Satu menangis
Sebuah memori dan luka
Datang mengambilnya
Dalam hati terus ia berucap
"Kembalilah... Kembalilah pada dirimu"
Hanya isakan yang ia dapat
Dan sebuah cerita
Yang dilalui dengan tercabik-cabik
Sep 24, 2015
Sep 24, 2015 at 3:41 PM UTC
Lalu lintas jalan padat merayap pengap namun tetap senyap
Karena dia menulikan setiap kata-kata di perempatan jalan
Pula desah resah mata-mata yang memandang
Kunang-kunang kuning itu tiba-tiba melintas tenang
Mengambang lembut bagai daun dihanyutkan arus
Membius lampu-lampu sein agar berhenti mengedip
Malam itu, di perempatan jalan itu cahaya meredup
Orang-orang tak tahu menahu, beberapa berandai
Indah juga jika dipelihara di pekarangan rumah
Satu bangkit lalu berjingkat mendekat
Kunang-kunang kuning itu melesat
Tiba-tiba semua orang mengejar berlari
Ingin agar Kunang-kunang itu dipelihara di rumah
Tukang becak, penjaja koran, bos besar perusahaan, mahasiswa,
semuanya tak mau mengalah
Berlari, menyerobot, menggapai, meraih, mendorong,
menginjak, menjambak, mendepak,
merusak, menolak.
Lelah. Kunang-kunang Kuning menang
Tak ada yang berhasil merebutnya
Orang-orang pun lesu, menyumpah,
dan kembali ke apa yang mereka kerjakan sesaat lalu
sambil bergumam
"Tak ada Kunang-kunang Kuning di pekarangan rumah"
Kemudian semua berubah normal
Seperti lalu lintas biasanya
Hanya ada aku, yang masih memandang,
kemana Kunang-kunang Kuning itu terbang.
Aku tahu, bahwa di kota ini,
tidak ada rumah yang memiliki pekarangan
Nov 18, 2016
Nov 18, 2016 at 1:29 PM UTC
Gelapku membisiki
Ada iblis
Dalam dirimu
Dan ia tidak bisa mati
Kau diikuti
Dari pekatnya malam
Di sela-sela lampu jalan
Kau lalu dirasuki
Kenapa iblis, bukan setan,
Tanyamu
Gelapku membisiki,
Karena ia kini kaujadikan raja
Kau tak yakin pada gelapku
Pada yang akan kau lakukan:
Akan mati, atau terus hidup
Kau tak merasa disusupi
Ada iblis dalam dirimu
Dan ia kekal rupanya
Sekarang yang mencintaiku
Kau atau iblismu?
Siapa nama Sang Iblis?
Tanyamu pada sayup gelap
Gelapku membisiki:
Namanya Harap, ia mengindahkan borok
Apr 19, 2016
Apr 19, 2016 at 3:40 AM UTC
Malam itu lampu indah kelap-kelip
Jemari kita saling bertautan
Kau yang paling indah malam itu
Menebar semburat warna-warni di mataku
Genggamanmu hangat padaku
Daya pikatmu menciptakan ilusi
Kau, semerbak tubuhmu, warna-warni lampu
Perpaduan yang sempurna! Aku terlena
Kau menuntunku ke karnaval ini
Tempat yang indah dengan sejuta rasa
Di mana seorang pencuri hatinya telah dicuri
Seorang yatim piatu mendapatkan saudaranya
Apakah ini nyata?
Karena kau menciptakan
bumi berbentuk apel
Yang hanya menumbuhkan apel
Untuk kita berdua
Sungguh luar biasa, inikah rasanya karnaval?
Mari kita nikmati, kau berbisik
Menyuruhku memejamkan mata
Kuikut saja, penasaran di mana aku terbangun nanti
Sep 5, 2017
Sep 5, 2017 at 8:59 AM UTC
mungkin akan menjadi cerita ter-lusuh yang pernah aku tulis
-----
ingat ketika aku dan kamu di padang rumput yang menguning?
lalu kita sama-sama terpukau dengan pemandangan di depan mata
waktu itu kita sama-sama tidak berusaha memotretnya
karena masing-masing kita hanya fokus mencari ide untuk memulai percakapan
mungkin saat itu aku sudah terpikir sesuatu untuk aku mulai
tapi lucunya, malah kamu yang memulai percakapan
waktu itu kamu bertanya tentang kehidupanku semester ini
baik atau tidak baik
seperti biasa aku mengumpat, sungguh, tidak baik hidupku satu semester ini
kamu tertawa, entah menertawakan nasibku atau reaksiku
kamu tertawa seakan aku baru saja memberi lelucon terlucu abad ini
mungkin kalau kamu bukan kamu, aku sudah marah
tapi aku justru suka
dan jujur, aku bisa saja bersyukur mempunyai nasib seburuk itu hanya untuk mendengarkanmu tertawa
setelah itu giliranmu bercerita
aku sudah bisa menebak, ceritamu pasti seputar hal yang tidak penting
dan memang benar.....
tapi aku tetap mendengarkan, karena pupil matamu melebar
tanda kamu suka dengan hal yang kamu ceritakan
dan aku suka ketika kamu semangat dalam meceritakannya
aku mendengarkan
-//-
waktu berjalan, obrolan kami mulai masuk dalam topik yang rumit
tentang penciptaan, tentang dunia, tentang alasan kami hidup
biasanya otakku mulai memanas ketika membicarakan hal ini
dengan lawan bicara yang lain
tapi denganmu, aku mengidamkan lebih
seperti perpustakaan yang disinari lampu kuning hangat
dan kutu buku yang tersenyum membaca tumpukan buku harum
setelahnya...
Jan 5, 2020
Jan 5, 2020 at 11:23 AM UTC
Kamu; Perempuan cantik yang terdiam diantara langit dan segala keindahanya, tersenyum sendiri saat melihat luasnya lautan selat jawa diatas kapal yang membawamu ke Jakarta.
Aku; Laki-laki biasa yang terdiam diantara bukit-bukit kecil di gelapnya malam ini, tersenyum sendiri saat melihat gemerlap lampu-lampu kecil tersebar dibawahnya.
Kita; Terpisah beribu-ribu kilometer diantara laut dan bukit di negara ini, tersenyum sendiri saat merasakan hal yang sama.
Bercinta tanpa harus mengeluarkan kata.
Jun 11, 2019
Jun 11, 2019 at 9:05 AM UTC
Jawa Timur, Malam ke 22.
Diantara sela-sela lampu kota Madiun; Diantara suara bising motor, diantara kelap-kelip kelab malam, dan diantara gelapnya malam.
Sungguh, dimanakah kita jika masih bersama?
Sungguh, pengecut mana yang berani mengungkapkan kesalahanya?
Sungguh, dimanakah cinta saat kita berdua membutuhkanya?
Dec 22, 2018
Dec 22, 2018 at 12:06 PM UTC
Di dalam tulang belulangku ini
Ada diriku yang terpendam;
Ia sudah bergejolak
Saat lampu padam,
Seakan memanggilku
Dengan suara lantang.
Dan saat aku melihat sebatang rokok
Yang menyala di genggamanku,
Aku menjadi ingat,
Kalau diriku yang gelap ini,
Tidak muncul saat senja datang.
Nov 1, 2018
Nov 1, 2018 at 6:35 AM UTC
Kala malam sudah semakin gelap
Sinar bintang mulai berbinar
Kepala terangkat membelalak langit yang kian lungai berkedip kedip
Ada malam yang aku rasa masih terang karena lampu taman
Gelap masih sembunyi berselisih paham dengan cahaya listrik
Ada senja juga yang kadang sulit kutemukan
Jujur saja, sangat langka akhir akhir ini
Sungguh jarang aku melihat jingganya yang begitu matang bergelora bersama langit
Begitu indah
Ada juga pagi yang aku bayangkan udara bersih dan putih
Namun, kau tahu bukan.
Sudah ada asap yang bermunculan berselih juga dengan kabut
Aku juga berfikir itu kabut
Nyatanya asap sampah pinggir jalan
Sunggu pilu..
Jadi, apa yang bisa kamu bayangkan dari pengandaian itu?
Tidak semua hal yang katanya begitu akan jadi begitu
Tidak semua tanya akan dijawab benar
Tidak semua hal yang kau bayangkan sesuai ekspetasi dan bayanganmu
Setinggi galaksi bima saktipun kau bermimpi jika memangtuhan tidak mengiyakan
Ya.. sudah
Apa boleh buat
Cari
Cari pertanyaan yang lain yang mampu dijawab
Yang tak akan membuatmu kecewa
Yang bisa kau perlihatkan
Yang bisa kau puja
(Santunan malam selasa)
Aug 20, 2018
Aug 20, 2018 at 12:07 PM UTC
Di bawah lampu bulan,
Aku sadar kau menatapku
Aku yang tengah tersipu,
Berusaha tetap fokus akan topik pembicaraan
Ditengah emosional, kau menarikku ke pinggir
Berteduh di matamu yang sejuk
Ya. Kau berusaha menurunkan suhunya
Agar tidak sepanas sebelumnya
Masih ada beberapa hal kecil yang ku ingat tentang dulu
Dan ku rindu
Walaupun kau tak ingin mengingatnya
Hanya untuk malam ini
Biarkan ku kirim rindu ku
Aku pernah membaca,
“Kau hiduplah bahagia, untuk rindu ini biar aku yang mengurusnya, karena aku pemiliknya”.
Sekian dan salam rindu.
Feb 25, 2019
Feb 25, 2019 at 12:23 PM UTC
kau adalah puisi
berputar dalam imajinasi
mengendalikan tanganku untuk menulis
entahlah, aku memang tak mampu
menyulam kata kata manis
terkadang bingung memilah kosa kata
yang kurasa memang terbatas
tapi kau adalah puisi
ku menulismu dibawah lampu temaram
duduk termangu menjelajah inspirasi
aku ingin sekali menulismu
aku akan menulismu
tunggu sampai kau menjadi puisiku
Aug 20, 2017
Aug 20, 2017 at 11:11 PM UTC
Kamu berhenti berbicara dengan jendela
Padahal dia mengatup dan terbuka dengan sendirinya
Jika kamu pergi, bukankah pintu mengatakan untuk tidak kembali?
Lalu kamu turuni anak tangga seperti menuruni tingkat kesadaran
Berguling bergelimang bintang diantara remang lampu jalan
Hanya saja kamu hilang tepekur diantara gang-gang gelap hutan
Pertanyaanku, apakah selama ini kamu mengerti bahwa rambu jalan melarangmu untuk berhenti?
Jun 15, 2017
Jun 15, 2017 at 2:44 PM UTC
Sambil mengendarai mobil, aku melirik calar yang menghiasi tangan kananku. Merah seakan salah satu kucingku baru saja mengamuk. Tapi hanya aku dan sebilah pisau di kamar yang tahu itu bukan hasil karya seekor kucing melainkan binatang yang jauh lebih biadab, depresi.
Lampu dijalanan berubah merah, sambil melihat sekeliling aku tersenyum mengamati hiruk pikuk yang sedang terjadi.
Aku jadi rindu perasaan utuh yang lambat laun terkikis waktu dan kalimat-kalimat bernoda.
"Kurang kuat iman sih"
Tak ada kaitannya dengan imanku, sayang.
"Mungkin cuma ada di kepalamu saja."
Dan kepalaku adalah satu-satunya tempat dimana aku tak bisa lari.
"Memang penyebab depresimu apa?"
Karena 1095 hariku tercemar darah, puntung rokok, pecahan gelas, dan caci makian tiada henti. Tak semudah itu untuk keluar hidup-hidup dari kandang singa, harus ada luka yang aku tanggung seumur hidup.
"Apakah kau gila?"
Aku bukan gila, aku baik-baik saja. Hanya ada bagian di dalam sana yang mati dan tak bisa diperbaiki lagi.
Lampu hijau dan klakson dari mobil membangunkanku dari suara-suara itu.
Tapi ketika sudah melaju dengan kecepatan yang nyaman ada satu suara yang muncul lagi, menoreh hatiku.
"Aku tak habis pikir bagaimana seseorang bisa nekat melukai dirinya sendiri sedangkan masih banyak yang bisa dilakukan"
Kalau kau tak paham, tak mengapa.
Tapi aku melakukan itu bukan untuk mati, aku lelah tak merasa apapun karena ada bagian di dalamku yang memang sudah mati.
"Kau mirip banteng ketaton"
Ya, aku marah kalau kau seenaknya menyebut aku gila.
Aku terluka kalau kau seenaknya main hakim sendiri.
Calar itu adalah sebuah pengingat bahwa aku masih hidup.
May 30, 2018
May 30, 2018 at 8:15 AM UTC
lampu lampau telah mati.
dicekik bahasa-bahasa cinta
yang menguar dari mulutmu.
ruang penuh raung itu maka
padam. aku diselimuti hangat
tenang dan bara senang.
lihat, setelah punggung
yang kauberi kemarin,
kembang-kembang api
kini tak mau meledak di langit.
pucuknya selalu pecah
sebagai kesunyian
di kepalaku.
kanya, 2017
Aug 5, 2017
Aug 5, 2017 at 12:49 PM UTC
Selamat pagi bu....
Selamat pagi jawabku
Perjalananku segera dimulai
menembus fajar yang masih galau
Lewat mana bu....
Biasa saja pak jawabku
Jalan raya yang masih sepi
Tetapi aku sudah duduk sendiri
Macet bu....
Biasa pak jawabku
Tiada ada jalan yang lancar
Tiada hari yang tak sukar
Lampu merah bu....
Iya pak panjang pula jawabku
Berhentilah walau hanya sebentar
Melemaskan kaki dan mata yang nanar
Sudah sampai bu....
Terimakasih pak jawabku
Ku mulai pekerjaan hari ini
Dengan harapan dan asa yang baru
Oct 31, 2017
Oct 31, 2017 at 11:18 PM UTC
Burung malam yang mengaku pagi.
Lampu dimatikan.
Aku melihat Venus begitu terang, Mars di bawahnya redup.
}}} Tiga anak Iblis terlelap.
Tanaman-tanaman dibinasakan.‰
Tidak ada satu, se, ataupun tuhan.
Hawa begitu kejam. Dingin*
Jun 27, 2020
Jun 27, 2020 at 5:46 PM UTC
Seperti biasanya gelisah malam ku kambuh
Datang mengendap-endap lalu tertawa dalam pikiranku, langkah jauh apa lagi yang ku pikirkan, seakan takut akan masa depan, menyendiri menutupi emosi-emosi, bagai bendungan bak meluap, ah jalan konyol apa lagi yang akan ku ambil???, terbenam lah bulan, aku ingin tidur!!!, lampu-lampu dari atas sini ikut menertawakanku!!!, sial.
Ada apa ya disana? negara yang ku impikan, dingin yang akan menusuk tulang-tulangku, bekerja paruh waktu sambil menyelesaikan pendidikanku, ah ternyata perjalananku masih panjang, gelisahku setiap malam.
aku hanya ingin kembali & berdoa dengan tenang.
Jan 15, 2023
Jan 15, 2023 at 3:46 PM UTC