"kutanya" poems
aku adalah bulan purnama yang ada di atas jalanmu.
Menerangi dengan redup sehingga kau tak peduli.
Namun ada dan menjaga. walau sedikit signifikansi bagi anda.
Keelokan ku tak terlihat bagi siapa saja. sembarangan. Aku barang mahal. kau perlu congkak dan mendongak untuk melihat.
Tenang saja, aku bukan seperti saudaraku yang satu itu. Terlalu membutakan sampai kau tak sanggup memandang.
Agar bisa kau sawang aku redup.
Sekarang kutanya
Kurang sayang apa aku padamu?
Jul 23, 2015
Jul 23, 2015 at 3:01 PM UTC
Setanmu itu,
Ia masih menghampiriku
Duduk di ujung kuku kakiku
Untuk mengaji
Agar aku tidak pernah lupa
Pada satu pertanyaannya:
Mengapa
Aku sampai membakar diri
Untuk menjual jiwa
Pada nyala sepercik
Padahal lamanya
Tak lebih dari sedetik
Kenapa, tanyanya,
Aku terbaring siang dan malam
Dengan jarum-jarum
Di sekujur tubuh
Yang dengan sendiri kutusuk
Kenapa,
Balik kutanya,
Kenapa
Aku masih di sini?
Sep 8, 2016
Sep 8, 2016 at 10:03 AM UTC
Kau membuatku bingung Raja.
Sebentar bersikap sehangat matahari pagi, sebentar sedingin tiga perempat malam.
Kau membuatku bimbang Raja.
Aku tak tahu harus bersikap bagaimana.
Aku sudah bertanya pada jalan yang setia menyaksikan kau mengantarku pulang.
Mereka diam.
Aku semakin gelisah.
Karena bahkan jika jalan yang setia diam jika kutanya, bagaimana mungkin kau punya jawaban Raja?
Hatimu tak lebih teguh dari daun yang tertiup jatuh.
Lantas aku harus bagaimana?
May 12, 2016
May 12, 2016 at 4:33 PM UTC
Pagi sekali rombongan sayur sudah ada di dapur,
“Aih! Ada konser kah hari ini?”, Babeh kutanya.
“Iya, tajuknya Bunda dan Nyanyian Wajan hahahaa”, katanya.
Dari banyak nada yang diperdengarkan,
seruan makan bersama adalah yang paling kusuka.
Aug 21, 2021
Aug 21, 2021 at 12:39 PM UTC
setanmu itu,
ia masih menghampiriku
duduk di ujung kuku kakiku
bersabda sepanjang malam
agar aku tidak pernah lupa
pada satu pertanyaannya:
mengapa
aku sampai membakar diri
untuk menjual jiwa
pada nyala sepercik
padahal lamanya
tak akan lebih dari sedetik
kenapa, tanyanya,
aku bersikap tak acuh
padahal hati ingin bertaruh
tetapi malah memilih menjauh
dengan terseok-seok pula lumpuh
kenapa,
balik kutanya,
kenapa
kamu masih di sini?
Dec 28, 2020
Dec 28, 2020 at 3:45 AM UTC
Aku kenal wajah itu
Pipinya merah merona
Saat kutanya mengapa
Biarlah dunia penuh warna
Aku suka senyum itu
Dari jauh penuh rahasia
Kudekati manis menggoda
Biarlah dunia tersenyum untuknya
Aku setia pada malam dan bintang-bintangnya
Izinkan aku berlama-lama menatap matanya
Kelap-kelip langit malam di kala siang
Biarlah kau dan malam
Menjadi milikku
Mar 17, 2018
Mar 17, 2018 at 1:58 PM UTC