Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"kian" poems
Palembang, 17 Desember 2011 Aku hidup dengan nafas mu Bapak, Ibu Aku ada karena Dia Yang Maha Satu Namun raga ini aku yang bawa Jiwa ini aku yang menjaga Hidup ini aku yang memilih Cerita ini aku yang jalani Aku tumbuh bersama nafas mereka Aku termotivasi karena mereka juga Nafas kita menyatu Mereka menghela nafas kebahagianku Aku menghela nafas kebahagian-Mu Nafas kami juga nafas mu, Bapak.. Ibu.. Kau pelita kehidupan Obor benderang di gelap ku Bekal mengenyangkan di lapar ku Oasis indah nan segar di dahaga ku Tak akan ada aku tanpa-Nya Tak akan hidup aku hingga sekarang tanpa Bapak dan Ibu Tak akan aku bertahan tanpa diriku sendiri Dan aku hidup tuk bersama mereka Aku yang menentukan Dia tinggal menyetujuinya Bapak Ibu hanya bmendoakan Dan sebentar lagi mereka ku gapai (it’s because I Love Shane, Mark, Kian and Nicky)
0
Dec 19, 2011
Dec 19, 2011 at 1:41 AM UTC
Nafas Kita
mana mungkin rindu aku terasa jika diungkap dengan bait bahasa sayang dakaplah aku rasakan rindu aku kerna mana bisa ayat dan kata curah rasa ini andai kau rasa perit dan pahit ini, lepaskan lah. biar aku bebas terokai dunia tanpa rasa sekat dalam raga aku penat -menunggu sesuatu yang tidak pasti dalam hal ini, adalah kamu jalan yang dahulu kita lewati tengah malam kini kian sunyi dulu, ada sahaja tawa kita kedengaran entah bukan aku tidak cuba untuk berhenti ada fikiran tentang kamu tapi bagai aku tersekat sayang andai kau rindu andai kau rasa perit dan pahit ini lepaskan lah aku agar aku bebas teroka dunia
0
May 10, 2016
May 10, 2016 at 10:12 AM UTC
ada apa pada rindu pt2
Terbangun aku di kamar mimpi, dulunya kau ada di sisi, kini sepi, mata dan minda tempat ku jelajah, menerokai diri mu tanpa lelah, kembara kita tiada henti, kerna, tiap kali kita bersua, kucupan dan senyuman manis menghiasi pipi, ku susun aksara ini, untuk mereka tahu, bertapa indahnya kau di mata ku cereka tiada noktah atau koma, kerna di sini, kau kekal selamanya. Bila kau tiada, Jumantara ku gelita Malam ku sunyi tanpa suara, renjana pada roh ku kian lemah. ku berharap kita bersua lagi, dengan renjana sama dengan ku, kau bagaikan sahmura, menghiasi kamar mimpi, dengan ukiran kirana di bibir, kerna Gian aku kepada sanubari mu, tiada henti
0
Jun 16, 2022
Jun 16, 2022 at 3:27 AM UTC
Kamar Mimpi
Wondaland, a.k.a. The Magic Metropolis June 13th, 2021 Esteemed Readers and Writers, Gangstapoets and Hangarounds, Gangstapoetry proudly declares that CREATION 96 is now the second unit of our Global Movement. We are welcoming our new members. You are now a part of us. Much Love. Tizzop GANGSTAPOETS **** 13.8  *  MIKEY DA STREETWISE  *  EAZY LEGS *  ADORABLE GREGGIE  *  MONICA MATADORA  *  SLY BOOTYGIRL  *  COLLAPSIN CHAOT  *  THE LADY REVENANT  *  BEEN  *  WOOZY WIZARD  *  TELLY  *  CRATERSKATER  *  CHEYENNE IS STARVIN  *  CASPER THE PSYCHOTIC GHOST  GANGSTAPOETS DESERT SAMURAI  *  PRESTON  *  ALBOW  *  SNOWBLADE  MUTANT  *  SAMBA  *  UNKLE OF DOOM  *  PLAY  *  ANTWONE  *  BOBBY BUTCHAH  *  TINA  *  JOEY  *  DREAM SEEKER  *  TRANCE DISCIPLE  * *  MOTH  *  DR. ****  *  KOBA COBRATONGUE  GANGSTAPOETS SVETLANA  *  GUNJAHTOOL  *  LOUIS ORTGIES  *  MISHU BRAVE BEAR  *  GÖKHAN TATCHOUOP  *  DESOCIALIZED KID  *  WIND DIGGER  *  SABIÇ  * JUAN  * DEAL  *  LUCY TARANTULA  *  TEXAS HOLD ME  *  SOUTHSIDE DRILL ASSASIN  *  SHAWN  *  JAMMED JAY  GANGSTAPOETS THCO  *  TIMMY ROTTEN  *  PLATIN ZIPPO  *  WORLDWIDE WAGGING  *  ZOMBIE NEIGHBOR *  BUTCH  *  KWAME'S LOST SON  *  TRANCE24/7  * JIMMY  *  JOSE, FELIPE & CATHERINE  * LAST OPTION PHIL  *  KIAN  *  MAX NEWMAN  *  MAGIC GOON
0
Jul 28, 2021
Jul 28, 2021 at 8:12 AM UTC
Creation 96
Mendengarmu berceloteh, Daun telingaku kian mengecil, Menciut sesak dalam lubangnya, Hingga tiada bunyi menggugah pikiran. Memandangmu beserta materimu, Kelopak mataku tak kuasa terbuka, Ku paksa terbelalak, menatap tajam, Sampai pandanganku kosong hampa. Menghadiri kelas mata kuliahmu, Detik jarum jam seakan tertidur tuk berdetak, Ruangan seakan penuh dengan jeritan jiwa, Tinggallah hasrat untuk kembali pulang. Wahai bapak dosenku, Adakah engkau menawarkan air di panasnya hati, Akankah kau menabur harum bunga di otak yang usang, Atau apakah rasa jemu takkan terganti?.
0
Mar 14, 2015
Mar 14, 2015 at 3:10 AM UTC
To : Mr. Dozzen
Palembang 27 Maret 2017 Untuk diriku sang penikmat kopi Aku telah bangun saat fajar masih terlelap Kemudian aku membuka jendela agar embun menatapku Ku biarkan tamu pagi nan sejuk menyapu rambutku yang pirang Seketika itu aku teringat tuk menyeruput kopi di gelas favoritku Segelas Capuccinno hangat di tanganku sekarang Mulai ku teguk sambil ku pejamkan mata Ku rasakan manisnya krimer di lidahku Mengingatkanku pada kamu Pemanis di dalam hidupku Aku hendak bekerja seperti biasanya Kini mentari menantangku untuk menakhlukkannya Ku pasang perisaiku dengan lengkap Kemudian ku berpikir tuk mendapatkan segelas Caramel Frappe tuk menyejukkan hari ini Tak terasa mentari kini telah lelah tuk bersinar Sehingga membuat dunia kian gelap Aku seduh Black Coffee tanpa gula Tak ku hiraukan rasa pahitnya ketika menyentuh lidahku Lebih pahit mana dengan kenyataan aku hidup tanpa cintamu?
0
Mar 27, 2017
Mar 27, 2017 at 12:49 AM UTC
Dear Me, Sang Penikmat Kopi
Terkadang bukan fisik yang terpenting. Walaupun tanpa fisik, rasa tak kunjung muncul. Mungkin aku menyayangkan cinta yang tak kian bersatu. Keraguanmu menahanku bagai angin yang menderu. Di penghujung jalan pun 'ku tersadar, keraguanmu bukan untukku. Karena cinta untukku sudah tiada sejak dulu. Aku bukan pejuang cinta, aku hanyalah pecinta yang setia. Ketika cinta pergi, itulah saat dimana pecinta undur diri. Karena untukku, cinta kita harus diperjuangkan dan cintaku seorang haruslah dilenyapkan. Bukan oleh waktu, tapi oleh angin dan debu bercampur air mata.
0
Jul 13, 2016
Jul 13, 2016 at 11:09 PM UTC
Ketika Cinta Pergi
kulantunkan - lembut kunyanyikan - kesenian kukumandangkan - religi kuikrarkan - formal kulafazkan - detail kuucapkan selamat malam duhai..... hahay.. :D mana nih yang pas ya.. *kukumandangkan maklumat yang merindu.. oleh sanubari yang tersenyum kelu.. dari iman penghapus birahi dalam kalbu.. membangkitkan cinta yang menggebu..        hingga ranting direlung hati tak sempat betanya..        akan kemana gundah dalam jiwa terbawa..        mungkinkah hanya sebuah nestapa...?        yang tersingkap oleh nafsu dunia fana.. nurani yang kian membangkang.. bertanya pada tubuh yang terkekang.. merebahkan raga dihamparan angan yang tak lekang... adakah keikhlasan yang terjengkang..            tutur bijakmu sering tak terhiraukan..           seluas samudra perhatian kau berikan..       dalam kasihmu tersandar persahabatan..*
0
Jan 21, 2014
Jan 21, 2014 at 10:30 AM UTC
draft 1
terbalas pertemuan singkat tadi siang dengan sedikit berdebah dengan ego malu menukik dan gemetar beramai gaduh sulit juga, berjuang dengan lara yang kian runyam kian dalam kian menepis dalam malam aku yakin dia bertanya "kenapa dia?" haha.. apa aku harus jawab aku rindu aku rindu seperti dulu bukan apa-apa tidak ada lugas kata atau tindakannya hanya saja aku sudah terlajur menyukainya menyukai derap langkahnya lemah gemulai tubuhnya beradu dengan udara sekitar aku juga suka saat matanya bertemu dengan mataku sisi lainnya muncul lebih hangat dari yang kubayangkan bolehkah juga aku berseru ? aku menyukaimu ! sangat.. lungai sudah jika itu terucap pasrah.. tapi tenang, aku masi pandai menyimpan masih pandai menukik ego tapi tetap aku rindu,.,.,.,. -rindu,mengenang-
0
May 22, 2018
May 22, 2018 at 12:18 PM UTC
Rindu
aku ini bagai puisi usang bukan? yang kian terlupakan seiring berjalan nya waktu. hingga akhirnya, dianggap telah lenyap dari bumi. tapi sebenarnya, aku tidak benar-benar lenyap, aku hanya sedang menghilang, dan tidak ingin di temukan. bagaimana rasanya kini? setelah aku mencoba tuk sembunyi. adakah kau berbalik mencari? hei, bahkan untuk sekedar melirik pun kau enggan bukan? aku ini seperti tengah berharap kepada batu. karna kamu akan tetap diam, dan tidak akan pernah berubah. apa kau tahu?, puisi yang dulu kau campakkan, kini telah berubah menjadi syair lembut yang mematikan.
0
Nov 23, 2018
Nov 23, 2018 at 3:21 AM UTC
Puisi usang
*Mata biru tersinggung Ia berputar berkali-kali Bibir berucap tidak nyaring namun pasti Bergetar, konstan Gerak geriknya menandakan ada sesuatu "Hari ini selesai," katanya Aku lega beranjak dari kursi Menatap lukisan mata biru sendu aku merintih Ia menyalang berpihak Katanya ingin mengemongku Nian tak enak hari ini Tidak cukup panas untuk berjemur Juga tak cukup dingin tuk tidur Seakan ini waktu yang sempurna untuk bekerja Enaknya membaca buku atau menyanyikan lagu Namun Tetap saja Kemanapun aku pergi Sejauh apa aku melangkah lukisan mata birulah kian kutuju*
0
Oct 8, 2016
Oct 8, 2016 at 11:43 AM UTC
Lukisan mata biru
namamu akan terus mengalir dalam nadiku bayang tentang dirimu berjalan mengiringiku aku terus berharap kamu disini pancaran matahari mengalahkan denyut nadiku yang semakin lama kian memudar mungkin aku melemah tapi sosokmu yang berjuang di teluk sana membangkitkan semangatku kamulah permulaan dari pagi aku yang di barat selalu menantikan mentarimu ketika senja merona di langit aku terhanyut dalam suasana bersamamu terikat hangat di pelukanmu
0
Apr 11, 2018
Apr 11, 2018 at 12:24 PM UTC
Teruntuk seseorang di teluk timur
Kemana kau tuan,hilang tanpa pesan Meninggalkan hamba dengan sejuta kerinduan Boleh hamba mengatakan? Bahwasanya kehilangan tuan,tidak pernah hamba inginkan Bahkan,sejak kepergian tuan Hamba masih berdiri disini,mempertahankan,berharap tuan akan merubah arah pijakan Dan kembali ke sisi di pangkuan Semenjak tuan pergi, Desau angin mulai menyepi, Kicau burung tak terdengar lagi Berganti dengan sesak nafas hamba,dan suara tangis yang kian menusuk telinga Hamba masih belum bisa menerima kenyataan, Bahkan,merelakan tuan pergi saja masih terasa menyakitkan
0
Jun 21, 2019
Jun 21, 2019 at 1:11 PM UTC
Cipta tuan
ang siglong magulo wala namang multo pero bakit maraming nawawala nalang bigla na parang mga multo kinuha ba sila ng mga kulto? nakalilito liko sa kaliwa sa kanan sa kanina kina kian ina ka! wala na sila alis baka mapatay ka yata? KABAhan ka na
0
Aug 19, 2019
Aug 19, 2019 at 6:39 AM UTC
Mga Multo Ata
Disana, Diantara bisingnya kerumunan kota, Aku berdiri sejenak, Mendengar alunan musik mengendus sajak. Beberapa pasangan mata menoleh, Menutur, menyinyir, Mengikuti bayangan dosa lama Yang telah tenggelam, Dilahap oleh manisnya senyum Dan tawa para badut malam. Lepuh, rasanya. Lilin-lilin yang menginduk di kulitku kian meletih Teriak pedih tak kunjung hari Terhambur sudah harapan palsu ini.
0
Jan 19, 2018
Jan 19, 2018 at 10:53 AM UTC
Kecemasan Tak Kunjung Kala
Aku adalah sang waktu Pejalan klise dari masa lalu Aku adalah sang waktu Tak pernah terbayang apalagi tersentuh Aku adalah sang waktu Hujan dan badai tak pernah hentikan laju Aku adalah sang waktu Sering dilupakan namun tak kenal pilu Aku adalah sang waktu Langkah tak berdaya siap membunuhmu Aku adalah sang waktu Menggerus detik yang kian rapuh Aku adalah sang waktu Tak diharapkan namun seketika membelenggu
0
Jan 18, 2019
Jan 18, 2019 at 9:39 AM UTC
Sang Waktu
Pasal I; tentang mengikhlaskan dan melepaskan. - kau harus tau, bahwa dirimu yang telah kulepaskan dengan ikhlas, adalah dirimu yang sekarang. bukan dirimu dahulu, ketika ku pertama mengenalmu. -kau harus tau, bahwa melepasmu bukan tentang rasa yang kian hari berubah, namun, melepasmu adalah jalan terbaik setelah mengikhlaskan dirimu berbahagia dengannya. -sekali lagi, kau juga harus tau, bahwa melepas dirimu bukan berarti berlepas diri dari segala luka, namun aku paham, bahwa segala sesuatu yang terpaksa dan dipaksakan, justru semakin memperdalam luka. semoga mengikhlaskanmu tak sesulit melepasmu. -perlu diingat, sebagai penegasan bahwa melepasmu bukan karna egoku semata, bisa kau temukan, semua proses melepaskan dan mengikhlaskanmu adalah demi kebahagiaanmu semata, karena dengan bersamanya (semoga) kau bisa benarbenar berbahagia, dan kuharap, diriku ikut andil sebagai pembawa bahagia bagimu. prdks.
0
Aug 4, 2017
Aug 4, 2017 at 3:09 PM UTC
sajaksajakrasa
Laki-laki itu menangis Tidak ada seorang pun tahu Atau mau tahu Sebab sekian juta jiwa berucap Sejatinya lelaki tidak menangis. Dan di sana seorang gadis Terpaksa menutup mata dan mulut Buta akan pemandangan getir di hadapannya Bisu akan kalimat pereda lara Sebab sekian ribu jiwa berucap Sejatinya lelaki tidak lemah. Yang sama dari keduanya Hati dan perasaan tak kian menutup Akal tak kelabu layaknya Ribuan orang yang mengutuk mereka. Lalu akan sangat tidak adil bagi adam Jika tangis dilarang dalam kamus hidup Yang kuat juga menangis Yang menangis bukan arti lemah
0
Aug 5, 2018
Aug 5, 2018 at 8:34 AM UTC
Stigma
selak-selak kisah semalam bukan untuk menoreh lagi luka yang kian menyembuh cuma mahu mengingatkan— supaya takkan lupa— luka-luka itu yang mengajar kau erti sebenar hidup.
0
Nov 27, 2014
Nov 27, 2014 at 1:17 PM UTC
Kisah semalam
seventeen should be the age of learning and falling in love but here we have a boy whose life was taken whose call for help was loud with all the might that the wild heart of a 17 year old could ever have *tama na po! may test pa po ako bukas!* and these calls ended in gunshots in fabrication in ignorance as if there had never been anybody like him who dreamt of a tomorrow. and it is hard to silence anybody who's seventeen and just about to thrive but here they pinned his wings shot him dead and cold never stopping to think that they were not the authors of his story that they had not one right to end what could have been a beautiful story right there and then, only a decade and seven. seventeen should be the age of learning and falling in love but not anymore; it is the year he called out for his life only to have it taken by the hands of the merciless of those who do not know better— all his wild dreams ending in silence.
0
Aug 20, 2017
Aug 20, 2017 at 3:55 AM UTC
kian
Kala malam sudah semakin gelap Sinar bintang mulai berbinar Kepala terangkat membelalak langit yang kian lungai berkedip kedip Ada malam yang aku rasa masih terang karena lampu taman Gelap masih sembunyi berselisih paham dengan cahaya listrik Ada senja juga yang kadang sulit kutemukan Jujur saja, sangat langka akhir akhir ini Sungguh jarang aku melihat jingganya yang begitu matang bergelora bersama langit Begitu indah Ada juga pagi yang aku bayangkan udara bersih dan putih Namun, kau tahu bukan. Sudah ada asap yang bermunculan berselih juga dengan kabut Aku juga berfikir itu kabut Nyatanya asap sampah pinggir jalan Sunggu pilu.. Jadi, apa yang bisa kamu bayangkan dari pengandaian itu? Tidak semua hal yang katanya begitu akan jadi begitu Tidak semua tanya akan dijawab benar Tidak semua hal yang kau bayangkan sesuai ekspetasi dan bayanganmu Setinggi galaksi bima saktipun kau bermimpi jika memangtuhan tidak mengiyakan Ya.. sudah Apa boleh buat Cari Cari pertanyaan yang lain yang mampu dijawab Yang tak akan membuatmu kecewa Yang bisa kau perlihatkan Yang bisa kau puja (Santunan malam selasa)
0
Aug 20, 2018
Aug 20, 2018 at 12:07 PM UTC
Bagaimana kalau..
Badan ranjang tidurku rapih sedikit berdebu Ujung selimut terlipat dan banyak abu Jendela kamar terbuka seperapat untuk semburan angin masuk Pintu dibiarkan ternganga sekiranya ada yang mau bertamu Tamu terakhir hadir seminggu lalu Berbeda dengan si angin yang rajin keluar masuk Tamu terakhir pamit untuk tak lagi membesuk Memang bukan kepergian namanya kalau tak menusuk; Seruangan bergemuruh menyaksikan kaki jenjangnya melangkah kian jauh Bukan hanya ruang secara dimensi, Tapi ruang tubuh ini yang lima menit lalu baru ia isi Tak sampai esok hari jantung dari ruang tubuh ini seakan memohon untuk berhenti Telingaku seakan mendengar hati meretih; Cukup jangan terjadi lagi Namun si akal bajingan menimpali; Ya memang ada kalanya manusia harus sendiri Hari hampir pagi Biarkan kubakar rokok satu batang lagi.
0
May 13, 2019
May 13, 2019 at 11:04 AM UTC
Kala Ruang
bakar saja paru-parumu. hantam saja semua, biar jatuh berhamburan sampai koyak. tendang sekeliling deretan batu bata yang tersusun rapi sampai kakimu ngilu. aku telah kebal pada tatapan tajammu. telingaku tuli dari raungamu yang menderu. ketukan bunyi lidah tak bermakna kian lesap mengganggu. biar bergelut dengan bingungmu. aku benci caramu menyatakan perang.
0
Jul 11, 2019
Jul 11, 2019 at 11:56 AM UTC
marah.
Bandung begitu kelabu, dadaku kosong rentang fokus kabur entah kemana ada kacau yang meruang di tubuhku tersisip kicau yang kian gaduh kepalaku terus menerus menimbang mempertanyakan perkara ranah juang bolak balik singgah pada keraguan lalu sebentar mampir pada keyakinan ia, aku, terpicu keras sekali kilas balik membeludak dalam benak beririsan dengan manisnya kenyataan yang juga selalu menjagaku erat aku benci terpicu seperti ini, guru geografi pernah ajarkan ketika panas bertemu dingin, terjadilah puting beliung ada puting beliung yang meruang di tubuhku lalu hembusan nafas mengembalikan sadarku cepat-cepat harus kukerdilkan imajinasi ya Bapa di Sorga, bebaskan aku dari kekang gelisah aku hanya ingin melepaskan apa yang perlu dilepaskan aku lelah mengunci diri dalam kegelapan
0
Mar 2, 2020
Mar 2, 2020 at 1:44 PM UTC
Residu Rasa