Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"keserakahan" poems
Palembang, 17 Desember 2011 Aku kehilangan emosi ku Ketika semua terlepas hilang Bukan aku Bukan Bukan Bukan aku Merenung . . . Hanya ada aku Di ruang hampa Di negeri antah berantah Menunggu cahaya Tuk menarikku keluar Ke terik sinar mentari terpanas Tuk memerah peluh sendiri Karena terlalu lama beku akan kesunyian Pernah ku bermimpi nirwana Indah, tak terharga Dibuat dari batu ketaatan Dilapisi emas keimanan Dipagari kayu keikhlasan Sederhana, tak menarik Sulit pun tuk di huni Aku sudah di sini Di tempat aku berada Di gedung mewah penuh kesenangan Dibuat dari berlian kemusyrikan Dilapisi perak kemunafikan Dipagari besi keserakahan Aku sudah terlanjur di sini Mati rasa
0
Dec 19, 2011
Dec 19, 2011 at 1:39 AM UTC
Mati Rasa
Bagaimana bisa, Berjalan diselimuti keresahan, Dibalut dengan beludru kekhawatiran yang cukup tebal, Bagaimana bisa, Berjalan dengan kaki beralaskan keserakahan, Dan kaus kaki kemunafikan sebagai pelindungnya, Bagaimana bisa, Melanjutkan hidup Dengan perjalanan penuh asap kebohongan? Tentu kau bisa terus berjalan, Tentu kau bisa terus hidup, Walau harus memikul Ketidaknyamanan dalam perjalanan, Namun, Siapa peduli? Peduli dengan ketidaknyamananmu, Kau bilang? Mereka bahkan tidak sadar, Mata mereka, Buta akan kesengsaraanmu Kecuali, Dengan kekalahanmu
0
Jan 1, 2021
Jan 1, 2021 at 4:22 PM UTC
Nahas
TANDUS Ketika kamu sudah mulai terbiasa, apa yang bisa memaksa? Segala bentuk, bahkan segala hal yang buruk rupa Yang kau benci pada mulanya Sekarang kau menikmatinya, bukan? Apa yang tumbuh di dalam sana? Di tanah yang mati kelihatannya. Yang tak pernah berharap ada biji yang tumbuh disana Tak ada buah yang diinginkan Hanya tanah tandus tanpa harapan Betapa hebatnya waktu, bermain diatas hati manusia. Mencoret, daan sekenanya menghapus tanpa mengizinkanku untuk memilih. Kenapa tanah itu tak terus tandus saja? Entah dari mana datangnya biji emas itu. Yang hanya menimbulkan keserakahan dan kedengkian hati manusia. Cuma aku sekarang disini. Diatas tanah subur yang dulunya tandus Ditengah bunga bunga yang sedang merekah. Jadi gagak hitam yang mematuki biji emas. Antara berusaha mengukir emas dengan paruh tuanya Atau berpikir emaslah sisa hidupnya. Dua-duanya mustahil. Tanah yang tandus itu sendiri, tak juga bergeming dari bubungan harapan. Menanyakan ketulusan, dimanakah letaknya?
0
Mar 24, 2018
Mar 24, 2018 at 10:26 AM UTC
Tandus
Kesalahpahaman dalam kesendirian Perkara yang tak pernah berujung Seperti ada sekat yang menghalang Naluri yang rusak akan keserakahan Rasa ingin memiliki Sudah menjadi keinginan tersendiri Tak ada yang harus dilakukan Berkali berkali terombang ambing Oleh lautan sengsara Kesalahan terbesar dalam kehidupan
0
May 9, 2019
May 9, 2019 at 10:31 AM UTC
KESALAHAN