"kerangka" poems
Yang jalang meloncat telah tiba & kita merangkak menjauh sutera & kau melihat pada selangkang merebak dedaunan riba.
Kini menjalin kepada alang-alang, merayu kepada segala buangan.
Yang terbuang kemudian terjerembab ke-Esa-an/ pertolongan/ makian/ gelak ketidak sudian.
Semua bajing meloncat-loncat kala malam tiba & aku tidak menemui dirimu menjalin asmara, pada bantal dan kerangka bunga & batok-batok kelapa bersumpah pernah bersimfoni di gedung tua bangka.
Katakan semua yang terlihat menemukan artinya, berbalik dan melenggok tiada suka. Aku merusak gelanggang samudera, dan menemukan orang-orang bercumbu di dalamnya.
O Gayung merambah kepada sujud-sujud La beruja. Melirik kepada hampa & tau kah, dirimu mencintai duka.
Semua manusia kemudian melambat
Gedung-gedung berselimut jas pekat
/kini duka melihat rembulan siang
Merajut benang & diam-diam melempar bebatuan.
3/7/19
Jul 6, 2019
Jul 6, 2019 at 10:59 AM UTC
Lilin telah nyala
Musik telah berirama
Inikah saatnya?
Tanpa diminta ia datang
Aku yang tak menutup pintu, pasrah
Ia berjalan di alur kerangka kepalaku
di setiap sudut batinku
Abu abu, tapi bahagia
Lilin padam
Musik berhenti
Tapi mengapa dia tak pergi?
Tolong, waktu mu sudah habis
Kau bisa pergi, jejak abu
Jangan takut
Aku tidak lupa dengan keabu abuannya
Aku hanya tak bisa berpikir
Mengapa dia memilih menjadi jejak abu?
Oct 21, 2018
Oct 21, 2018 at 2:20 PM UTC