Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"kepalamu" poems
Temukan aku, cari aku Hancurkan aku, remukkan aku Caci diriku hinakan jiwaku Buat aku berlutut menangis di hadapanmu Hempaskan tubuhku rebahkan kepalaku Lakukanlah, hancurkan diriku. Tapi ketika saatnya tiba Ulurkan tanganmu, raihlah kepalaku Berjongkoklah, sentuh pipiku Elus rambutku hapus air mataku Tundukkan kepalamu, dekatkan ke telingaku Bisikkan padaku sebuah kata dari dalam hatimu Hembuskan padaku sebuah harapan Lantunkan lagu itu, lagu kehidupan Tatap mataku, ajak aku berdiri Pandang wajahku, yakinkan aku Genggamlah tanganku sementara kau mulai melangkah Peluk erat jariku dengan jemari lentikmu Berikan hangat tubuhmu, genggam erat tanganku Ayunkan kakimu, berlarilah Bawa aku bersamamu, beri aku jalan Menolehlah sesekali ke belakang Aku akan tetap berada di sana Memandangi jemarimu memeluk jemariku
0
Aug 27, 2017
Aug 27, 2017 at 2:11 AM UTC
Kau, Rasa Sakit Sekaligus Obatku
katamu, aku hanya butuh percaya. katamu, aku tak perlu menyita waktuku dengan adanya kamu di tiap detikku. katamu, aku pun sudah fasih memahami isi kepalamu. dan, ya, aku memilih untuk percaya. nyatanya, tidak semudah bak sang matahari yang rela menyembunyikan teriknya sepanjang malam untuk memikat sang bulan. kamu hanya tidak tahu seberapa dalam lukaku, kemarin. kamu hanya tidak tahu seberapa besar rasa sakitku, hingga saat ini. entah bagaimana, entah karena apa, terbesit oleh pikirmu untuk melakukan itu. apa ini karenaku? atau memang suratan takdir untukku? bagaimana dengan semua katamu? bagaimana dengan semua percayaku? semukah?
0
Mar 20, 2017
Mar 20, 2017 at 2:12 PM UTC
koma
mungkin nanti kau akan mengerti, mengapa ada sebuah kembali yang terabaikan, ada hati yang tertutup rapat bahkan ketika sudah tau rindumu cukup hebat. sekarang kau hanya perlu mundur meskipun kepalamu penuh lusinan pertanyaan. kau tinggal berbalik pergi membawa rindu yang tidak bisa kau sudahi, melenyapkan harapan yang tak dapat kau penuhi.
0
Jun 11, 2019
Jun 11, 2019 at 5:34 AM UTC
tidak apa apa ya :-)
Setelah kurasa lelahku butuh hiburan Aku ingin meredakan linu-linu Lancong ke kepalamu mungkin bisa jadi pilihan Membawa kangen yang tertumpuk penuh akhir akhir ini Merebahkan tubuhku disana dan bicara tentang senja yang memar di punggungmu
0
May 14, 2018
May 14, 2018 at 4:56 AM UTC
Lancong
Sambil mengendarai mobil, aku melirik calar yang menghiasi tangan kananku. Merah seakan salah satu kucingku baru saja mengamuk. Tapi hanya aku dan sebilah pisau di kamar yang tahu itu bukan hasil karya seekor kucing melainkan binatang yang jauh lebih biadab, depresi. Lampu dijalanan berubah merah, sambil melihat sekeliling aku tersenyum mengamati hiruk pikuk yang sedang terjadi. Aku jadi rindu perasaan utuh yang lambat laun terkikis waktu dan kalimat-kalimat bernoda. "Kurang kuat iman sih" Tak ada kaitannya dengan imanku, sayang. "Mungkin cuma ada di kepalamu saja." Dan kepalaku adalah satu-satunya tempat dimana aku tak bisa lari. "Memang penyebab depresimu apa?" Karena 1095 hariku tercemar darah, puntung rokok, pecahan gelas, dan caci makian tiada henti. Tak semudah itu untuk keluar hidup-hidup dari kandang singa, harus ada luka yang aku tanggung seumur hidup. "Apakah kau gila?" Aku bukan gila, aku baik-baik saja. Hanya ada bagian di dalam sana yang mati dan tak bisa diperbaiki lagi. Lampu hijau dan klakson dari mobil membangunkanku dari suara-suara itu. Tapi ketika sudah melaju dengan kecepatan yang nyaman ada satu suara yang muncul lagi, menoreh hatiku. "Aku tak habis pikir bagaimana seseorang bisa nekat melukai dirinya sendiri sedangkan masih banyak yang bisa dilakukan" Kalau kau tak paham, tak mengapa. Tapi aku melakukan itu bukan untuk mati, aku lelah tak merasa apapun karena ada bagian di dalamku yang memang sudah mati. "Kau mirip banteng ketaton" Ya, aku marah kalau kau seenaknya menyebut aku gila. Aku terluka kalau kau seenaknya main hakim sendiri. Calar itu adalah sebuah pengingat bahwa aku masih hidup.
0
May 30, 2018
May 30, 2018 at 8:15 AM UTC
Ketaton
Sambil mengendarai mobil, aku melirik calar yang menghiasi tangan kananku. Merah seakan salah satu kucingku baru saja mengamuk. Tapi hanya aku dan sebilah pisau di kamar yang tahu itu bukan hasil karya seekor kucing melainkan binatang yang jauh lebih biadab, depresi. Lampu dijalanan berubah merah, sambil melihat sekeliling aku tersenyum mengamati hiruk pikuk yang sedang terjadi. Aku jadi rindu perasaan utuh yang lambat laun terkikis waktu dan kalimat-kalimat bernoda. "Kurang kuat iman sih" Tak ada kaitannya dengan imanku, sayang. "Mungkin cuma ada di kepalamu saja." Dan kepalaku adalah satu-satunya tempat dimana aku tak bisa lari. "Memang penyebab depresimu apa?" Karena 1095 hariku tercemar darah, puntung rokok, pecahan gelas, dan caci makian tiada henti. Tak semudah itu untuk keluar hidup-hidup dari kandang singa, harus ada luka yang aku tanggung seumur hidup. "Apakah kau gila?" Aku bukan gila, aku baik-baik saja. Hanya ada bagian di dalam sana yang mati dan tak bisa diperbaiki lagi. Lampu hijau dan klakson dari mobil membangunkanku dari suara-suara itu. Tapi ketika sudah melaju dengan kecepatan yang nyaman ada satu suara yang muncul lagi, menoreh hatiku. "Aku tak habis pikir bagaimana seseorang bisa nekat melukai dirinya sendiri sedangkan masih banyak yang bisa dilakukan" Kalau kau tak paham, tak mengapa. Tapi aku melakukan itu bukan untuk mati, aku lelah tak merasa apapun karena ada bagian di dalamku yang memang sudah mati. "Kau mirip banteng ketaton" Ya, aku marah kalau kau seenaknya menyebut aku gila. Aku terluka kalau kau seenaknya main hakim sendiri. Calar itu adalah sebuah pengingat bahwa aku masih hidup.
Continue reading...
20
Hai kamu...ya kamu... Kucingku melihatku maju mengendus Hmmm....kamu mau disayang kah Kataku sambil mengelus-elus kepalanya Errrrr....tertanda gembira Baiklah sayang aku terus membelai Errrrr....kepalanya menengadah Baiklah ku cium kepalamu Hitam warnamu tapi tak sehitam hatimu Sungguh kau laksana anak yang baru Mengerti sedikit, bergerak sedikit Tidak marah atau membuat kesal Kucingku....bicara dari hati ke hati Mengerti mengapa aku menyayanginya Merasakah setiap usapan dan kata2 sayangku kepadanya....
0
Oct 31, 2017
Oct 31, 2017 at 11:23 PM UTC
Kucing hitamku
Mana pernah kau paham tentang perasaanku walau berulang kali sudah kusampaikan. Sekedar mendengar saja tidak. Sudah tau begitu, masih pula aku menaruh pengharapan yang besarnya melebih-lebihi besar nafsu makanku. Kasihan ya melihat naifku ini. Memaksakan sesuatu yang sudah mati. Aku ini kadang ingin terbahak karena lucunya kisah kamu dan aku, tapi anehnya masih selalu membuatku terpana, seperti terhipnots. Kepalaku yang sekeras batu dan hatiku yang serapuh kulit telur disanding dengan kepalamu yang pula berisikan batu, juga hatimu yang sedingin kutub utara sebelum global warming. Aku dan diriku, dan kamu dengan dirimu. Memang benar mungkin, kita hanya ditemukan untuk saling belajar, bukan untuk berakhir bersatu. Sebenar-benarnya, kamu adalah yang aku mau. Tapi rasanya permintaanku ini terlalu bertele-tele jika yang ku minta adalah kamu dan tidak ada luka. Karena memilih bersamamu akan selalu satu paket dengan luka dan perih. Aku saja yang sombongnya setengah mati, menutup mata dari ratusan pertanda yang Tuhan berikan.
0
Dec 4, 2019
Dec 4, 2019 at 11:12 PM UTC
Sudah
diamlah kali ini. kau tak perlu menjaga lisanmu agar tak melukaiku kau tak perlu susah payah menahan isi kepalamu agar tidak bocor atau berusaha berpikir, karena aku tau itu bukan hal yang kau lakukan. diam saja, itu saja karena malam ini aku tak akan mencacimu. aku hanya akan duduk. memandangimu membakar semua kecemasanmu diam saja, pejamkan mata. karena malam ini kau cuma butuh rasa yang kubutuhkan juga rasa saat jemari-Nya membelai kepalamu dan mengelus tengkukmu lebih dari rasa hangat. rasa dekat, dan rasa hadir rasa yang membuatmu tak ingin lagi mengangkat kepala.
0
Mar 24, 2018
Mar 24, 2018 at 10:54 AM UTC
Dekat