Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"kematian" poems
Aku berdosa, Telingaku bunuh diri. Sudah baru-baru ini Aku sepenuhnya tuli Aku tak tahu lagi   Apa kata dedaunan Pada tanah yang terantuk lemas dibawah Atau ceracau yang diteriakkan Bunga keparat Untuk mayat dingin si kumbang. Bahkan di restoran tua Yang setiap sela kayunya berdarah dingin, Tempat rintihan musik bisumu selalu dialunayunkan Semuanya hanya tertawa hening lalu mati begitu saja. Dan meskipun duduk menghadapmu Aku masih tak dapat mendengar Suara mengaji jam setengah mati Yang kerap menceritakan Dongeng gelap kita Dari lampau sampai me— La lala la la       lala la lala La la la la la lala            La la la lalala la la La —Lampaui Pemakaman hati yang mati dipancung Di pekarangan rumah tiap senja gulana Yah, baru-baru ini aku tuli Bisu lagi, Mampunya cuma mengumpat dalam tulis. Dan dihadapkan denganmu, Sesekali dalam terkadang Aku anehnya dapat mendengar Serintikan isak tangis yang Sama sekali tidak kita cucurkan Lalu ini semua salah siapa, Kalau aku baru tuli Lalu kamu sudah bisu? Apa memang ini dosaku? Di palangnya tertulis; Nama: Siapapun yang menangis Di sela-sela pengakuan dosa Kematian telinga gila Dan kelumpuhan bibir hambar Kita tiba-tiba melongo, Tuhan tertawa Sabar lagi bahagia, Mengisyaratkan untuk Sudah, ya, Simpul mati saja senyum satu sama lain.
0
Aug 30, 2015
Aug 30, 2015 at 8:46 AM UTC
Pengakuan Dosa Penyair Tuli Pada Sebuah Film Bisu
Inilah Proses Kematian dan Hancurnya Tubuh Kita! Sesaat sebelum mati, Anda akan merasakan jantung berhenti berdetak, nafas tertahan dan badan bergetar. Anda merasa dingin ditelinga. Darah berubah menjadi asam dan tenggorokan berkontraksi. 0 Menit Kematian secara medis terjadi ketika otak kehabisan supply oksigen. 1 Menit Darah berubah warna dan otot kehilangan kontraksi, isi kantung kemih keluar tanpa izin. 3 Menit Sel-sel otak tewas secara masal. Saat ini otak benar-benar berhenti berpikir. 4 – 5 Menit Pupil mata membesar dan berselaput. Bola mata mengkerut karena kehilangan tekanan darah. 7 – 9 Menit Penghubung ke otak mulai mati. 1 – 4 Jam Rigor Mortis (fase dimana keseluruhan otot di tubuh menjadi kaku) membuat otot kaku dan rambut berdiri, kesannya rambut tetap tumbuh setelah mati. 4 – 6 Jam Rigor Mortis Terus beraksi. Darah yang berkumpul lalu mati dan warna kulit menghitam. 6 Jam Otot masih berkontraksi. Proses penghancuran, seperti efek alkohol masih berjalan. 8 Jam Suhu tubuh langsung menurun drastis. 24 – 72 Jam Isi perut membusuk oleh mikroba dan pankreas mulai mencerna dirinya sendiri. 36 – 48 Jam Rigor Mortis berhenti, tubuh anda selentur penari balerina. 3 – 5 Hari Pembusukan mengakibatkan luka skala besar, darah menetes keluar dari mulut dan hidung. 8 – 10 Hari Warna tubuh berubah dari hijau ke merah sejalan dengan membusuknya darah. Beberapa Minggu Rambut, kuku dan gigi dengan mudahnya terlepas. Satu Bulan Kulit Anda mulai mencair. Satu Tahun Tidak ada lagi yang tersisa dari tubuh Anda. Anda yang sewaktu hidupnya cantik, gagah, ganteng, kaya dan berkuasa, sekarang hanyalah tumpukan tulang-belulang yang menyedihkan. Jadi, apa lagi yg mau disombongkan org sebenarnya???? BAGUS UNTUK DIRENUNGKAN..... Kita tak membawa apapun juga saat kita meninggalkan dunia yg fana ini..
0
Mar 27, 2015
Mar 27, 2015 at 5:20 AM UTC
Inallillahi
Inilah Proses Kematian dan Hancurnya Tubuh Kita! Sesaat sebelum mati, Anda akan merasakan jantung berhenti berdetak, nafas tertahan dan badan bergetar. Anda merasa dingin ditelinga. Darah berubah menjadi asam dan tenggorokan berkontraksi. 0 Menit Kematian secara medis terjadi ketika otak kehabisan supply oksigen. 1 Menit Darah berubah warna dan otot kehilangan kontraksi, isi kantung kemih keluar tanpa izin. 3 Menit Sel-sel otak tewas secara masal. Saat ini otak benar-benar berhenti berpikir. 4 – 5 Menit Pupil mata membesar dan berselaput. Bola mata mengkerut karena kehilangan tekanan darah. 7 – 9 Menit Penghubung ke otak mulai mati. 1 – 4 Jam Rigor Mortis (fase dimana keseluruhan otot di tubuh menjadi kaku) membuat otot kaku dan rambut berdiri, kesannya rambut tetap tumbuh setelah mati. 4 – 6 Jam Rigor Mortis Terus beraksi. Darah yang berkumpul lalu mati dan warna kulit menghitam. 6 Jam Otot masih berkontraksi. Proses penghancuran, seperti efek alkohol masih berjalan. 8 Jam Suhu tubuh langsung menurun drastis. 24 – 72 Jam Isi perut membusuk oleh mikroba dan pankreas mulai mencerna dirinya sendiri. 36 – 48 Jam Rigor Mortis berhenti, tubuh anda selentur penari balerina. 3 – 5 Hari Pembusukan mengakibatkan luka skala besar, darah menetes keluar dari mulut dan hidung. 8 – 10 Hari Warna tubuh berubah dari hijau ke merah sejalan dengan membusuknya darah. Beberapa Minggu Rambut, kuku dan gigi dengan mudahnya terlepas. Satu Bulan Kulit Anda mulai mencair. Satu Tahun Tidak ada lagi yang tersisa dari tubuh Anda. Anda yang sewaktu hidupnya cantik, gagah, ganteng, kaya dan berkuasa, sekarang hanyalah tumpukan tulang-belulang yang menyedihkan. Jadi, apa lagi yg mau disombongkan org sebenarnya???? BAGUS UNTUK DIRENUNGKAN..... Kita tak membawa apapun juga saat kita meninggalkan dunia yg fana ini..
Continue reading...
36
Seteguk apapun, semua tak akan berakhir Aku adalah seorang pemabuk yang selalu menguarkan harum arak kemanapun aku pergi. Anggur, dan berbotol-botol ***** telah kutenggak pagi ini. Dan hanya hari ini pula aku ingin bicara, tentang segenggam racun yang kalian semua suntik ke dalam nadi dan pembuluhku. Topeng yang dengan bangga kalian pakai tak ubahnya ketelanjangan hanya mengumbar malu dan aib Tawa yang sesenggukan kalian jeritkan hanyalah tangis jiwa kalian yang memudar memutihkan kejujuran dan kebajikan Oh, beginikah cara kerja dunia berduri dan berbatu, sama saja disetiap lajurnya kemanapun aku pergi, dijejali mulutku dengan dusta dan hanya dusta belaka Menghitamnya jiwaku, seandainya bagai langit malam tak ada chandra di ufuknya Sudah selayaknya aku berkabung atas jiwaku, dimana dia merintih penuh sesal dan tanya. Apakah lalu lalang motor dan diesel itu memusingkan kepala atau hanya sebuah kesibukan belaka. Dan dengan itu pula jiwaku berakhir, terdiam, dalam kematian. Kukubur dia dengan layak, diantara nisan-nisan lain disekitarku, yang diberi nomor, sesuai urutannya. Jiwaku tersungkur di nomor tujuh. Beruntung sekali! Kukubur dia, pelan sekali dengan tertidur. Tak berharap bangun lagi di keesokan pagi. Kutaburi bunga-bunga dan prosa yang harum, dan kusiram dengan sebotol Martini dan bir. Harum. Seharum embun yang kau injak ditepian jalan. Wangi. Sewangi sukmamu yang kuingat telah pergi. Aku adalah pemabuk. Yang selalu menenteng sebotol arak, bermabuk di tepian jalan kehidupan. Mengambil jeda diantara kalimat-kalimat mencela dan busuk, yang tergelincir masuk ke dalam telingaku. Botol-botol inilah sang penawar, berminum pula para nabi terdahulu menyesali umatnya, sedangkan aku? Menyesali kalian.
0
Sep 7, 2016
Sep 7, 2016 at 12:30 PM UTC
Sebotol Penawar
Seteguk apapun, semua tak akan berakhir Aku adalah seorang pemabuk yang selalu menguarkan harum arak kemanapun aku pergi. Anggur, dan berbotol-botol ***** telah kutenggak pagi ini. Dan hanya hari ini pula aku ingin bicara, tentang segenggam racun yang kalian semua suntik ke dalam nadi dan pembuluhku. Topeng yang dengan bangga kalian pakai tak ubahnya ketelanjangan hanya mengumbar malu dan aib Tawa yang sesenggukan kalian jeritkan hanyalah tangis jiwa kalian yang memudar memutihkan kejujuran dan kebajikan Oh, beginikah cara kerja dunia berduri dan berbatu, sama saja disetiap lajurnya kemanapun aku pergi, dijejali mulutku dengan dusta dan hanya dusta belaka Menghitamnya jiwaku, seandainya bagai langit malam tak ada chandra di ufuknya Sudah selayaknya aku berkabung atas jiwaku, dimana dia merintih penuh sesal dan tanya. Apakah lalu lalang motor dan diesel itu memusingkan kepala atau hanya sebuah kesibukan belaka. Dan dengan itu pula jiwaku berakhir, terdiam, dalam kematian. Kukubur dia dengan layak, diantara nisan-nisan lain disekitarku, yang diberi nomor, sesuai urutannya. Jiwaku tersungkur di nomor tujuh. Beruntung sekali! Kukubur dia, pelan sekali dengan tertidur. Tak berharap bangun lagi di keesokan pagi. Kutaburi bunga-bunga dan prosa yang harum, dan kusiram dengan sebotol Martini dan bir. Harum. Seharum embun yang kau injak ditepian jalan. Wangi. Sewangi sukmamu yang kuingat telah pergi. Aku adalah pemabuk. Yang selalu menenteng sebotol arak, bermabuk di tepian jalan kehidupan. Mengambil jeda diantara kalimat-kalimat mencela dan busuk, yang tergelincir masuk ke dalam telingaku. Botol-botol inilah sang penawar, berminum pula para nabi terdahulu menyesali umatnya, sedangkan aku? Menyesali kalian.
Continue reading...
27
Kutarik secarik kertas putih Kutumpahkan tinta hitam Kutulis namamu Kuceritakan segalanya Cintaku kepadamu yang terawali layaknya sebuah kepompong Hingga menjadi sebuah kupu-kupu Terbang melintas dunia Berakhir dengan kematian Tetes demi tetes tinta Menyusun kata per kata Membentuk sebuah kalimat yang ramai Mewakilkan mulutku yang membisu Untuk siapa kubuat tulisan ini? Tulisan yang tak lebih melibatkan amarah dan kebencian Namun ditulis dengan sedikit rasa cinta yang masih melekat Putih suci ditimpah hitam penuh dosa Bisik Sang Hati " Lipat dan buang. Sudah cukup sudah. " Jemari bergerak melipat surat itu Berbentuk perahu Perahu kertas. Raga berjalan ke tepi laut Seakan jiwa yang menggerakkan Mulut yang berbisu mengucapkan sebuah doa Tangan melepaskan surat itu Perahu kertas, Bawalah mimpi buruk ini berlayar denganmu Berlabuhlah di neraka Agar dosa dan penyesalan ikut terbakar disana.
0
Nov 18, 2017
Nov 18, 2017 at 4:32 AM UTC
Perahu Kertas.
Yang bermula dengan suara, Berakhir juga dengan suara. Disaat kita harus sepakat bahwa semuanya mesti disudahkan Sedunia tak henti-hentinya mencekokkanku dengan bayangnya Karena belum genap 24 jam sejak kesepakatan bahwa semuanya sudah, Ku dengar suaranya dimana-mana, Kali ini, lagi-lagi, tanpa rupa Disaat dunia mendengarnya bercerita tentang gadis manis berduduk seorang diri, Atau tentang bagaimana akal serta tubuhnya dikupas habis oleh hidup sehingga dia tak punya pilihan selain menerima bahwa ia dan mutlaknya semua manusia adalah tunggal; adalah sendiri; adalah harus menelan, memahami, lalu (jika beruntung) mencintai kesendirian itu sendiri Atau sekiranya tentang bagaimana ia mengibaratkan air mata bagai tanda suatu yang kuat, yang tak malu, yang berteriak, yang patut diwadahkan jika bisa; Lalu disimpan, bukan dilihat untuk sekedar menyenangkan diri bahwa kita ditangisi Namun sebagai tanda bahwa pada dasarnya semua manusia akan berserah diri Tak ada habisnya menganalisa karya—ataupun jiwa—yang memang dari lahir sudah pamungkas Karena disaat bongkahan karyasuara itu berisi wejangannya untuk mereka yang mencari Suara itu bercerita kepadaku tentang hal-hal yang agaknya butuh dua kali hidup dan dua kali mati untuk menemukan inti; Seperti perempuan Seperti keyakinan Seperti kesendirian dalam kehidupan dan kematian Seperti jarak dan waktu yang superfisial disaat kita sadar akan Tuhan Dimalam itu, Dimalam saat aku menyadari bahwa ada hal-hal yang jawabannya tak bisa kucari dalam prosa Sang Nabi atau puisi Jalalludin Rumi, Ia berkata, “Tak akan—sampai mati—ku mencampuri urusan akal perasaan dengan keyakinan yang sebetulnya sudah ada sebelum apapun.” Disaat itu juga aku memutuskan untuk mundur sepuluh langkah, Karena disaat kalimat itu kelar terlontar, Adalah bukan suaranya yang kudengar, Namun Ibunya. Ibu, sama halnya dengan keyakinan, sudah ada sebelum apapun. Malam ini aku pamit.
0
May 10, 2019
May 10, 2019 at 9:17 AM UTC
Suara Tanpa Rupa
Yang bermula dengan suara, Berakhir juga dengan suara. Disaat kita harus sepakat bahwa semuanya mesti disudahkan Sedunia tak henti-hentinya mencekokkanku dengan bayangnya Karena belum genap 24 jam sejak kesepakatan bahwa semuanya sudah, Ku dengar suaranya dimana-mana, Kali ini, lagi-lagi, tanpa rupa Disaat dunia mendengarnya bercerita tentang gadis manis berduduk seorang diri, Atau tentang bagaimana akal serta tubuhnya dikupas habis oleh hidup sehingga dia tak punya pilihan selain menerima bahwa ia dan mutlaknya semua manusia adalah tunggal; adalah sendiri; adalah harus menelan, memahami, lalu (jika beruntung) mencintai kesendirian itu sendiri Atau sekiranya tentang bagaimana ia mengibaratkan air mata bagai tanda suatu yang kuat, yang tak malu, yang berteriak, yang patut diwadahkan jika bisa; Lalu disimpan, bukan dilihat untuk sekedar menyenangkan diri bahwa kita ditangisi Namun sebagai tanda bahwa pada dasarnya semua manusia akan berserah diri Tak ada habisnya menganalisa karya—ataupun jiwa—yang memang dari lahir sudah pamungkas Karena disaat bongkahan karyasuara itu berisi wejangannya untuk mereka yang mencari Suara itu bercerita kepadaku tentang hal-hal yang agaknya butuh dua kali hidup dan dua kali mati untuk menemukan inti; Seperti perempuan Seperti keyakinan Seperti kesendirian dalam kehidupan dan kematian Seperti jarak dan waktu yang superfisial disaat kita sadar akan Tuhan Dimalam itu, Dimalam saat aku menyadari bahwa ada hal-hal yang jawabannya tak bisa kucari dalam prosa Sang Nabi atau puisi Jalalludin Rumi, Ia berkata, “Tak akan—sampai mati—ku mencampuri urusan akal perasaan dengan keyakinan yang sebetulnya sudah ada sebelum apapun.” Disaat itu juga aku memutuskan untuk mundur sepuluh langkah, Karena disaat kalimat itu kelar terlontar, Adalah bukan suaranya yang kudengar, Namun Ibunya. Ibu, sama halnya dengan keyakinan, sudah ada sebelum apapun. Malam ini aku pamit.
Continue reading...
29
Cinta, kini kau datang juga Cinta, sungguh indah citramu Dunia terasa hampa Bila kau tiada Arti cinta yang melingkar disekitarmu Demi kasih yang kudambakan selalu Kusembahkan hatiku yang murni Untuk disinggah oleh dirimu Cinta, kesucian yang sakral Cinta, sumber luka yang menyakitkan Mampu membawa raga dan jiwa Keabadian atau Kematian.
0
Oct 28, 2017
Oct 28, 2017 at 11:02 AM UTC
Kasih.
"Dalam segala manis dan tragisnya perkawinan, Kami sebagai perempuan, mati berkali-kali Dan lahir pula kembali— Tentu juga berkali-kali Disaat kau menyaksikan puluhan katup bibir yang mengatakan “Sah.” Disaat itu pula, Kau seakan disadarkan Bahwa kau tak lebih dari pisau yang harus terus diasah Bukan supaya tajam untuk dapat menikam, Namun supaya siap mencacah manis-pahitnya peristiwa kehidupan menjadi dadu-dadu kecil Lalu menanyakan untuk menyerapnya kembali Untuk diri sendiri Kau, Mati dan lahir lagi, Bukan sebagai isteri, Namun seutuhnya sebagai wanita yang mengayomi Sampai akhirnya kematian itu berdiri di depan pintu Untuk menjemputmu lagi Disaat kau duduk dan melihat pandangan puluhan manusia Yang seakan-akan mengatakan, “Berpandailah dengan urusan dapur.” Mereka dengan bodohnya menutup mata kepada fakta Bahwa sekarang, kau adalah busur Yang dengan senantiasa akan mengarahkan kemana anak-anak panahmu melaju Kau, bertulang rusuk dan adalah tulang rusuk Bukan tulang rusuk dari lanangmu, Namun dari rumah segala rumah Disaat insan keci itu menangis lahir, Disitulah Tuhan dengan segala kuasa-Nya menyemukakanmu Dengan kelahiran yang absolut. Mutlak. Nyata. Tanpa majas atau embel-embel. Kau, bukan hanya wanita bersusu yang menyusui; Walau serapanmu terhadap puji-kejinya kehidupan Akan juga diserap oleh ‘anak panah’ mu Melalui air susu dan tutur katamu Disaat kau melahirkan anak manusia, Tentunya tanpa tanda tanya, Kau betul-betul Lahir kembali."
0
Apr 18, 2019
Apr 18, 2019 at 10:25 PM UTC
Lahir Matinya Perempuan
"Dalam segala manis dan tragisnya perkawinan, Kami sebagai perempuan, mati berkali-kali Dan lahir pula kembali— Tentu juga berkali-kali Disaat kau menyaksikan puluhan katup bibir yang mengatakan “Sah.” Disaat itu pula, Kau seakan disadarkan Bahwa kau tak lebih dari pisau yang harus terus diasah Bukan supaya tajam untuk dapat menikam, Namun supaya siap mencacah manis-pahitnya peristiwa kehidupan menjadi dadu-dadu kecil Lalu menanyakan untuk menyerapnya kembali Untuk diri sendiri Kau, Mati dan lahir lagi, Bukan sebagai isteri, Namun seutuhnya sebagai wanita yang mengayomi Sampai akhirnya kematian itu berdiri di depan pintu Untuk menjemputmu lagi Disaat kau duduk dan melihat pandangan puluhan manusia Yang seakan-akan mengatakan, “Berpandailah dengan urusan dapur.” Mereka dengan bodohnya menutup mata kepada fakta Bahwa sekarang, kau adalah busur Yang dengan senantiasa akan mengarahkan kemana anak-anak panahmu melaju Kau, bertulang rusuk dan adalah tulang rusuk Bukan tulang rusuk dari lanangmu, Namun dari rumah segala rumah Disaat insan keci itu menangis lahir, Disitulah Tuhan dengan segala kuasa-Nya menyemukakanmu Dengan kelahiran yang absolut. Mutlak. Nyata. Tanpa majas atau embel-embel. Kau, bukan hanya wanita bersusu yang menyusui; Walau serapanmu terhadap puji-kejinya kehidupan Akan juga diserap oleh ‘anak panah’ mu Melalui air susu dan tutur katamu Disaat kau melahirkan anak manusia, Tentunya tanpa tanda tanya, Kau betul-betul Lahir kembali."
Continue reading...
39
Sahabatku selalu bilang, hidup adalah sebuah gedung yang ditempa oleh mimpi. Mimpi adalah pilar terkuat untuk hidup. Struktur gedung sahabatku sangat apik bagai dirancang oleh arsitek terkemuka, setiap sudutnya dikalkulasi dengan baik, interior gedung tertata dalam estetika yang berkelas. Setiap lantai gedung itu, memiliki cerita mimpi yang berbeda. Namun, gedung milik sahabatku tak pernah lepas dari sebuah warna cat yang ia sebut sebagai motivasi. Nama gedung sahabatku adalah Kebahagiaan. Sehari-hari gedung itu dipenuhi tawa dan senyum tiap orang yang berlalu-lalang di dalamnya. Tak jarang gedung itu mendapati kunjungan oleh Mimpi Yang Terkabul yang membikin gedung itu makin meriah dibuatnya. Sahabatku selalu memberiku petuah bagaimana cara merawat gedungku, hidupku, dengan memiliki mimpi yang harus kuraih, meskipun jauhnya di ujung lautan sana, dan tetap harus ku kejar walaupun kemampuanku hanya sebatas merangkak. Ketika ia bicara tentang pilar, ia tak tahu aku tak ingin punya gedung. Kematian berbicara bagai gedung yang direnggut dari eksistensi. Dirubuhkan fisiknya. Dihancurkan. Namun, aku tak ingin punya gedung. Aku tak ingin ada di dalam lanskap kehidupan yang rumit ini. Skenario merawat, menjaga, dan mengasihi sebuah gedung membuatku bingung dan pusing. Gedungku bahkan tak bisa dibilang gedung, hanya empat tembok kumuh yang lebih cocok disebut kandang. Aku tak punya pilar, hanya ada empat onggok tiang bambu yang perlahan dimakan rayap. Lantainya bukan dari marmer, tapi tanah becek yang bau ketika dicium hujan, tidak ada orang tertawa atau tersenyum di dalam gedungku, hanya ada aku dan rasa lapar yang berteriak sampai telingaku lelah. Lantas, ketika aku terbangun dari tidurku yang tak pernah nyenyak dan disambut kegelapan, tanpa gedungku, tanpa ocehan sahabatku yang berkata sembari menutup mata dari kenyataan yang ku alami, aku bernapas lega. Dalam incognito yang ku peroleh, aku merasa tenang. Terombang-ambing di tengah ada dan tiada. Menyatu dengan hitam, bersaru dengan putih. Aku tersenyum dan perlahan berterima kasih kepada Tuhan yang akhirnya memahami bahwa aku tak punya mimpi, selain menjadi tidak ada. Namun, hatiku mencelos ketika Tuhan berbisik dengan lirih, bahwa aku hanya punya batas waktu hingga empat puluh delapan jam sebelum kembali pada kehidupan yang rumit. “Tuhan,” kataku, “untuk apa aku ada, ketika orang-orang sibuk dengan gedung, sementara yang ku punya hanya seonggok bilik?”
0
Jun 23, 2020
Jun 23, 2020 at 10:03 AM UTC
Gedung
Sahabatku selalu bilang, hidup adalah sebuah gedung yang ditempa oleh mimpi. Mimpi adalah pilar terkuat untuk hidup. Struktur gedung sahabatku sangat apik bagai dirancang oleh arsitek terkemuka, setiap sudutnya dikalkulasi dengan baik, interior gedung tertata dalam estetika yang berkelas. Setiap lantai gedung itu, memiliki cerita mimpi yang berbeda. Namun, gedung milik sahabatku tak pernah lepas dari sebuah warna cat yang ia sebut sebagai motivasi. Nama gedung sahabatku adalah Kebahagiaan. Sehari-hari gedung itu dipenuhi tawa dan senyum tiap orang yang berlalu-lalang di dalamnya. Tak jarang gedung itu mendapati kunjungan oleh Mimpi Yang Terkabul yang membikin gedung itu makin meriah dibuatnya. Sahabatku selalu memberiku petuah bagaimana cara merawat gedungku, hidupku, dengan memiliki mimpi yang harus kuraih, meskipun jauhnya di ujung lautan sana, dan tetap harus ku kejar walaupun kemampuanku hanya sebatas merangkak. Ketika ia bicara tentang pilar, ia tak tahu aku tak ingin punya gedung. Kematian berbicara bagai gedung yang direnggut dari eksistensi. Dirubuhkan fisiknya. Dihancurkan. Namun, aku tak ingin punya gedung. Aku tak ingin ada di dalam lanskap kehidupan yang rumit ini. Skenario merawat, menjaga, dan mengasihi sebuah gedung membuatku bingung dan pusing. Gedungku bahkan tak bisa dibilang gedung, hanya empat tembok kumuh yang lebih cocok disebut kandang. Aku tak punya pilar, hanya ada empat onggok tiang bambu yang perlahan dimakan rayap. Lantainya bukan dari marmer, tapi tanah becek yang bau ketika dicium hujan, tidak ada orang tertawa atau tersenyum di dalam gedungku, hanya ada aku dan rasa lapar yang berteriak sampai telingaku lelah. Lantas, ketika aku terbangun dari tidurku yang tak pernah nyenyak dan disambut kegelapan, tanpa gedungku, tanpa ocehan sahabatku yang berkata sembari menutup mata dari kenyataan yang ku alami, aku bernapas lega. Dalam incognito yang ku peroleh, aku merasa tenang. Terombang-ambing di tengah ada dan tiada. Menyatu dengan hitam, bersaru dengan putih. Aku tersenyum dan perlahan berterima kasih kepada Tuhan yang akhirnya memahami bahwa aku tak punya mimpi, selain menjadi tidak ada. Namun, hatiku mencelos ketika Tuhan berbisik dengan lirih, bahwa aku hanya punya batas waktu hingga empat puluh delapan jam sebelum kembali pada kehidupan yang rumit. “Tuhan,” kataku, “untuk apa aku ada, ketika orang-orang sibuk dengan gedung, sementara yang ku punya hanya seonggok bilik?”
Continue reading...
11
Bacakan untukku tragedi penghancur semesta Dalam bayang yang merana Ditengah malam para pendosa Bacakan untukku kematian yang harum Melesat masuk kedalam ringkuhnya tulang-tulangmu Hingga remuk berbutir pasir Panggil para penguasa dalam mayanya utopia Biar mereka merangkak disana
0
Aug 11, 2020
Aug 11, 2020 at 12:18 PM UTC
Bacakan
Sepuluh berkumpul, Yang tujuh berganti. Dunia ini masih sangat gila. Kehidupan tak boleh berbaik hati Sedang kematian mati dimutilasi Oleh segregasi manusia waras tak tahu diri Dunia ini berakhir gila. Saking gilanya, Yang berhimpun terkapar mati. Tergeletak dipenggal, meninggal Akal dan luhur budi berganti Jadi, Sekumpulan gila mengibarkan selebaran selamat tinggal Yang lain menggasak grafiti dan vandal Begundal disisakan termarjinal Kewarasan mewabah ganas tak terbantahkan Lalu muncul manusia Bergerombol berebut botol-botol alkohol Berharap ikut gila sedikit saja, jadi mereka tak ikut menderita Sepuluh gila beraliansi Yang tiga bertumbuh Tujuh lainnya berempati
0
Oct 27, 2017
Oct 27, 2017 at 4:22 PM UTC
Liga Manusia Gila
Kehidupan tak menjanjikan harapan; Kematian tak menjanjikan penyelesaian.
0
Jun 20, 2018
Jun 20, 2018 at 9:04 PM UTC
Antara Hidup/Mati
Daun kuning berjatuhan Angin dingin menghantarkan salam dari Tuhan Aku melihat pepohonan yang menari Semua tampak indah menyejukkan hati Aku hanya diam.. Diam tak tahu harus kemana Kabut putih menutup mataku Mendorongku yang berdiri terpaku Imajinasiku kabur Aku akan jatuh Dan... Dimanakah aku? Diruangan serba putih aku terbangun Menatap dengan pandangan memudar Siapakah kamu? Gadis kecil berlari dan tertawa Berlari menjatuhkan bunga-bunga Membuka pintu diujung ruangan Aku berjalan... Berjalan membuka pintu yang sama Wanita cantik berambut pirang Cantik rupawan mengalahkan Godiva Seorang gadis kecil memeluknya erat Dia... Dia yang selama ini kucari Dia yang selama ini kunanti Aku mencoba... Mencoba untuk menyentuhnya Jari-jarinya yang ramping menepisku Aku berpikir dia membenciku Namun tidak tidak... Dia berkata padaku, "Kembalilah, ini belum saatnya" Kematian bernegosiasi dengan kemungkinan Kemungkinan untuk meraih kehidupan Di alam bawah sadar Aku akan kembali menemukannya -Kediri, 18 Maret 2018
0
Mar 25, 2018
Mar 25, 2018 at 11:22 PM UTC
Koma
Setahun lebih.... Setahun lebih aku masih tak percaya. Jaman modern terjadi pembantaian besar besaran. Terus dipotret dan direkam oleh orang orang Gaza. Mengguncangkan normalitas seluruh dunia. Setahun lebih aku lupa rasanya hidup normal. Yang kulakukan tiap hari hanya membuka sosial media. Terus melihat pertunjukan horor harian di Gaza. Pembantaian demi pembantaian yang tak ada habisnya. Setahun lebih aku terus berpura pura normal. Dari luar terlihat baik baik saja tapi dari dalam terus menderita. Penderitaan orang orang Gaza yang berkepanjangan. Juga menjadi penderitaanku. Setahun lebih.... Setahun lebih aku kehilangan kenikmatan. Soto , rawon , bakso dan makanan apapun tak lagi terasa nikmat. Aku teringat terus dengan orang orang dan anak anak Gaza. Mereka sering kelaparan hingga kurus kering kekurangan gizi. Setahun lebih aku kehilangan kesenangan. Film , musik , game dan hiburan apapun tak lagi menyenangkan. Aku teringat terus dengan orang orang dan anak anak Gaza. Mereka selalu ketakutan terancam kematian yang menyakitkan. Setahun lebih aku kehilangan ketenangan. Tidurku tidak pernah terasa nyenyak. Aku teringat terus dengan orang orang dan anak anak Gaza. Mereka selalu kedinginan saat malam tanpa punya apapun untuk kehangatan. Setahun lebih.... Setahun lebih aku tak lagi punya semangat. Segala macam urusanku jadi berantakan. Rasanya aku kesulitan berkonsentrasi penuh. Setiap hari pikiran dan jiwaku terus tertuju pada Gaza. Setahun lebih aku terus mengkhawatirkan mereka. Orang orang Gaza yang telah kukenal hingga kuanggap saudara. Jika mereka terlalu lama menghilang tanpa kabar. Rasanya aku benar benar sangat khawatir. Setahun lebih aku merasa seperti orang mati. Terlalu sering melihat kematian demi kematian yang menyakitkan. Darah terus bertumpahan , serpihan dan potongan tubuh terus berceceran. Angka statistik para martir terus bertambah setiap hari. Setahun lebih.... Setahun lebih aku masih merasa heran. Melihat orang orang tetap menjalani kehidupan normal. Bersenang senang atau sibuk urusan sendiri. Tanpa peduli apapun tentang Palestina. Setahun lebih aku masih tetap heran. Melihat orang orang muslim yang tampak religius. Hanya sibuk beribadah siang malam. Tanpa peduli apapun tentang Palestina. Setahun lebih aku masih tetap terheran heran. Melihat gerai dan restoran Amerika masih tetap ramai. Produk produk Barat masih tetap dibeli. Tanpa peduli apapun tentang boikot. Setahun lebih.... Setahun lebih rasanya benar benar memuakkan. Melihat para pemimpin Barat terus beretorika. Bicara perdamaian dan kemanusiaan. Tapi terus mendukung pembantaian. Setahun lebih rasanya semakin memuakkan. Melihat para pemimpin Arab terus membual. Pura pura peduli dengan Palestina. Tapi diam diam mendukung Israel di belakang. Setahun lebih rasa muakku semakin tak tertahankan. Melihat media media Barat dan buzzer buzzer zionis. Terus menerus menyangkal dan membenarkan pembantaian. Tak peduli seluruh dunia sudah tahu kenyataan yang sebenarnya. Setahun lebih.... Setahun lebih aku telah putus asa. Kehilangan harapan yang tampak terlalu sulit diwujudkan. Seluruh dunia terus melakukan aksi protes menentang Israel. Tapi tak terjadi perubahan apa apa. Setahun lebih aku telah kecewa. Tak percaya lagi dengan tatanan dunia. Yang tak lebih sekedar ilusi kemunafikan. Bentukan Barat yang merasa berkuasa atas dunia. Setahun lebih aku telah lelah. Menunggu keajaiban yang tak kunjung terjadi. Seluruh dunia terus bertanya tanya. Kapan dan bagaimana semua ini akan berakhir ?!.. Setahun lebih.... November 2024 By Alvian Eleven
0
Dec 9, 2024
Dec 9, 2024 at 1:19 PM UTC
SETAHUN LEBIH
Setahun lebih.... Setahun lebih aku masih tak percaya. Jaman modern terjadi pembantaian besar besaran. Terus dipotret dan direkam oleh orang orang Gaza. Mengguncangkan normalitas seluruh dunia. Setahun lebih aku lupa rasanya hidup normal. Yang kulakukan tiap hari hanya membuka sosial media. Terus melihat pertunjukan horor harian di Gaza. Pembantaian demi pembantaian yang tak ada habisnya. Setahun lebih aku terus berpura pura normal. Dari luar terlihat baik baik saja tapi dari dalam terus menderita. Penderitaan orang orang Gaza yang berkepanjangan. Juga menjadi penderitaanku. Setahun lebih.... Setahun lebih aku kehilangan kenikmatan. Soto , rawon , bakso dan makanan apapun tak lagi terasa nikmat. Aku teringat terus dengan orang orang dan anak anak Gaza. Mereka sering kelaparan hingga kurus kering kekurangan gizi. Setahun lebih aku kehilangan kesenangan. Film , musik , game dan hiburan apapun tak lagi menyenangkan. Aku teringat terus dengan orang orang dan anak anak Gaza. Mereka selalu ketakutan terancam kematian yang menyakitkan. Setahun lebih aku kehilangan ketenangan. Tidurku tidak pernah terasa nyenyak. Aku teringat terus dengan orang orang dan anak anak Gaza. Mereka selalu kedinginan saat malam tanpa punya apapun untuk kehangatan. Setahun lebih.... Setahun lebih aku tak lagi punya semangat. Segala macam urusanku jadi berantakan. Rasanya aku kesulitan berkonsentrasi penuh. Setiap hari pikiran dan jiwaku terus tertuju pada Gaza. Setahun lebih aku terus mengkhawatirkan mereka. Orang orang Gaza yang telah kukenal hingga kuanggap saudara. Jika mereka terlalu lama menghilang tanpa kabar. Rasanya aku benar benar sangat khawatir. Setahun lebih aku merasa seperti orang mati. Terlalu sering melihat kematian demi kematian yang menyakitkan. Darah terus bertumpahan , serpihan dan potongan tubuh terus berceceran. Angka statistik para martir terus bertambah setiap hari. Setahun lebih.... Setahun lebih aku masih merasa heran. Melihat orang orang tetap menjalani kehidupan normal. Bersenang senang atau sibuk urusan sendiri. Tanpa peduli apapun tentang Palestina. Setahun lebih aku masih tetap heran. Melihat orang orang muslim yang tampak religius. Hanya sibuk beribadah siang malam. Tanpa peduli apapun tentang Palestina. Setahun lebih aku masih tetap terheran heran. Melihat gerai dan restoran Amerika masih tetap ramai. Produk produk Barat masih tetap dibeli. Tanpa peduli apapun tentang boikot. Setahun lebih.... Setahun lebih rasanya benar benar memuakkan. Melihat para pemimpin Barat terus beretorika. Bicara perdamaian dan kemanusiaan. Tapi terus mendukung pembantaian. Setahun lebih rasanya semakin memuakkan. Melihat para pemimpin Arab terus membual. Pura pura peduli dengan Palestina. Tapi diam diam mendukung Israel di belakang. Setahun lebih rasa muakku semakin tak tertahankan. Melihat media media Barat dan buzzer buzzer zionis. Terus menerus menyangkal dan membenarkan pembantaian. Tak peduli seluruh dunia sudah tahu kenyataan yang sebenarnya. Setahun lebih.... Setahun lebih aku telah putus asa. Kehilangan harapan yang tampak terlalu sulit diwujudkan. Seluruh dunia terus melakukan aksi protes menentang Israel. Tapi tak terjadi perubahan apa apa. Setahun lebih aku telah kecewa. Tak percaya lagi dengan tatanan dunia. Yang tak lebih sekedar ilusi kemunafikan. Bentukan Barat yang merasa berkuasa atas dunia. Setahun lebih aku telah lelah. Menunggu keajaiban yang tak kunjung terjadi. Seluruh dunia terus bertanya tanya. Kapan dan bagaimana semua ini akan berakhir ?!.. Setahun lebih.... November 2024 By Alvian Eleven
Continue reading...
81
Sejenak kita tunda laju lalu-lalang kendaraan yang kebingungan di kota kecil yang mulai penuh sesak. Menghentikan bising suara mesin di kepala. Memejamkan mata dari keriuhan yang rumit dalam saku. Menggantung gaun-gaun yang telah lama tak kita baringkan. Barangkali kita terlalu sibuk melupakan. Terlalu berusaha menjauh dari diri sendiri. Mungkin kita ini tak pernah tersesat pada dunia yang menyesatkan siapa saja. Tersedak tawa oleh lelucon yang mencekik mimpi-mimpi. Kita terus berlari tanpa tahu arah, kebingungan dan gelisah. Seperti kereta kuda di taman bermain yang sepi pengunjung. Kita terus saja berbicara tanpa pernah merasa. Seperti suara klakson yang meraung-raung di kota yang semakin sibuk. Kita terlalu berapi-api memperdebatkan apa saja. Terus berteriak dan terbakar. Terlalu sering menertawai, tanpa tahu lelucon sesungguhnya. Tanpa tahu upacara kematian telah dipersiapkan di akhir tawa.
0
Aug 1, 2020
Aug 1, 2020 at 12:21 AM UTC
Undangan Pesta Untuk Orang-Orang Kesepian.