Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"keadaan" poems
Palembang, 3 November Masih ingat ku di usia muda Saat ku dikelilingi ruang hampa Jari tetap menggoreskan tinta Hati tetap menerawang asa Di hati terdalam terselip doa indah Permohonan gadis kecil yang kesepian Aku berdoa tapi terus bekerja Sendirian.. Tak ada seorangpun di sekitar Merasa orang biasa tak kan mengerti Susah pun tuk diungkap Tak mampi lagi berucap Malu pun yang ada di setiap kata Berjanji kepada Tuhan Akan berbuat baik jika diberi teman Tipe yang langsung mengerti akan keadaan Dan tak harus ku ucap lagi tuk Dia dengarkan Bisa ku dengar semua sunyi Ada kejutan dibalik kesunyian-Nya Akan selalu ku nanti Soulmate Aridea Hingga Tuhan percaya aku akan membutuhkannya Created by. Aridea Purple a.k.a Erika Maya W Handoko
0
Nov 3, 2011
Nov 3, 2011 at 9:32 AM UTC
Soulmate Aridea
Perasaan ini terus bergelung Bersembunyi di dalam relung. Seakan mencoba tuk keluar, namun keadaan tak mendukung. Ia pun lelah akan waktu yang terus berjalan namun berbanding terbalik dengannya Yang hanya duduk beralaskan rasa percaya Menatap langit kelabu menunggu turunnya rintikkan hujan pertama. Walau kerinduannya semakin lama semakin bertambah, Ia tak pernah bosan untuk membendungnya Dan menunggu, Menunggu datangnya hujan. Karena ia percaya bahwa seberapa besar kerinduannya, seberapa dalam rasa sakitnya, dan seberapa lama ia menanggung deritanya, hujan yang turun akan menyapu bersih luka di relungnya. Bagaikan obat penawar yang selalu ia temukan saat penyakitnya kembali datang. Ia tak pernah bosan bercerita kepada langit, yang dengan setia mendengar celotehannya. Sambil menunggu turunnya hujan, ia bercerita akan lika liku yang ia alami. Mendongak menatap langit, dan bercerita. Sejenak ia dapat mengalihkan perhatiaannya dari hingar bingar sekitar dan menemukan ketenangannya sendiri. Yaitu bersama langit, saat menunggu hujan. Rintikan pertama menerpa wajahnya. berhasil mengangkat sudut-sudut bibirnya. Ia tersenyum. Yang ditunggu memang tak pernah datang terlambat. Diikuti dengan rintikan lainnya dan kemudian hujan turun dengan deras. Inilah kebahagiaannya. Namun juga kesedihannya. Saat rintikan hujan yang turun berhasil membuatnya tersenyum sekaligus menangis. Karena dapat membawa ketenangan dan penghapus luka, namun juga dapat membawa kerinduan yang turun disetiap rintikannya. “Jika hujan tidak dapat membuatku seutuhnya bahagia, lantas kemana lagi aku harus mengadu?”
0
Mar 9, 2016
Mar 9, 2016 at 3:15 AM UTC
Hujan Pembawa Rindu
Perasaan ini terus bergelung Bersembunyi di dalam relung. Seakan mencoba tuk keluar, namun keadaan tak mendukung. Ia pun lelah akan waktu yang terus berjalan namun berbanding terbalik dengannya Yang hanya duduk beralaskan rasa percaya Menatap langit kelabu menunggu turunnya rintikkan hujan pertama. Walau kerinduannya semakin lama semakin bertambah, Ia tak pernah bosan untuk membendungnya Dan menunggu, Menunggu datangnya hujan. Karena ia percaya bahwa seberapa besar kerinduannya, seberapa dalam rasa sakitnya, dan seberapa lama ia menanggung deritanya, hujan yang turun akan menyapu bersih luka di relungnya. Bagaikan obat penawar yang selalu ia temukan saat penyakitnya kembali datang. Ia tak pernah bosan bercerita kepada langit, yang dengan setia mendengar celotehannya. Sambil menunggu turunnya hujan, ia bercerita akan lika liku yang ia alami. Mendongak menatap langit, dan bercerita. Sejenak ia dapat mengalihkan perhatiaannya dari hingar bingar sekitar dan menemukan ketenangannya sendiri. Yaitu bersama langit, saat menunggu hujan. Rintikan pertama menerpa wajahnya. berhasil mengangkat sudut-sudut bibirnya. Ia tersenyum. Yang ditunggu memang tak pernah datang terlambat. Diikuti dengan rintikan lainnya dan kemudian hujan turun dengan deras. Inilah kebahagiaannya. Namun juga kesedihannya. Saat rintikan hujan yang turun berhasil membuatnya tersenyum sekaligus menangis. Karena dapat membawa ketenangan dan penghapus luka, namun juga dapat membawa kerinduan yang turun disetiap rintikannya. “Jika hujan tidak dapat membuatku seutuhnya bahagia, lantas kemana lagi aku harus mengadu?”
Continue reading...
29
4:00 pagi kita bangun solat subuh, kemudian kita bersiap2 utk ke tempat kerja, sampai kantor pukul 7:00 pagi, hari masih gelap. Mungkin kita anggap hari ini akan hujan, jadi abaikan. Masuk kantor, bekerja dan kita lihat pukul 12:00 siang, sudah waktunya makan siang, tapi keadaan masih tetap gelap. Keluar pintu kantor, suasana masih gelap, hitam pekat seperti malam..mungkin masih bisa dianggap hari ini akan hujan lagi. Jadi abaikan saja. Tapi kalo jam 14:00 pm pun hari masih gelap.. pertanda apa itu?..keesokkan pun sama, nonton tv semua orang kalang kabut menceritakan bahawa dunia ini sudah tidak ada lagi siangnya..dan begitu juga dengan lusa..masih tidak ada lagi matahari.. Tetapi pada hari keempat kita bangun pagi, kita dapat melihat matahari, tetapi jangan terkejut karena matahari telah terbit dari sebelah barat.. Kehebatan ahli dunia akan mengatakan itu fenomena alam, tapi sadarkah, itulah pertanda besar yang paling awal sebelum tibanya hari kiamat!! Maka telah tertutuplah pintu taubat.. Saat itu, kita akan lihat satu fenomena luar biasa di mana golongan kaya akan keluarkan semua harta utk diinfakkan, golongan yang tidak pernah baca quran, 24 jam baca quran, golongan yang tak pernah solat jemaah akan berlari2 menunaikan solat secara berjemaah..tapi sayangnya semuanya sudah tidak berguna lagi.. Bismillahirrahmanirrahim.
0
Mar 25, 2015
Mar 25, 2015 at 11:14 PM UTC
MUHASABBAH
Aku memiliki seribu mimpi tapi ibu bilang aku tak tahu diri Tak mengerti keadaan dan kondisi, akupun berhenti membicarakan itu dengannya. Kopi panas yang ku seduh dengan kekecewaan kemarin pagi diseruput lega olehnya. "Jadikan perkataan mereka cambuk bagimu" Salah seorang teman pernah berkata begitu padaku. Tapi kepalaku ini berisi setan-setan bengal! Mereka hanya mengerti kesedihan dan kemarahan. Aku tidur dengan tangan penuh tinta merah setiap malam, berusaha memindahkan kotak-kotak terlarang dari sudut mimpi ke ruang kegagalan. Mereka berhenti mencoba membunuhku tapi kali ini mereka menaruh racun disetiap gelas yang akan ku teguk Bukan! Bukan racun mematikan tapi cukup membuat jiwaku lumpuh untuk waktu yang tak menentu Aku berhenti membicarakan mimpi-mimpiku kepada siapapun Aku tak ingin mimpi yang tersisa hancur diinjak-injak oleh kaki yang bahkan tak peduli berapa lama aku membangunnya 'kembali' Tahun-tahun tak bernyawa Meludah kata-kata serapah seakan hatiku dinding beton dingin Kecukupan seperti apa yang membuat mereka bahagia! Atau biarkan aku tergeletak di kasur lembut itu Jangan! Jangan coba bangunkan aku Mungkin ketenangan di dalam sana mampu meredam kekacauan di kepala malamku
0
Jan 23, 2016
Jan 23, 2016 at 12:53 AM UTC
Kotak Mimpi
dia berusaha meyakinkan aku salah dia mencintai apapun yang kulakukan mau itu benar atau salah―dia menganggapnya itu indah dia mencintai setiap inci sayatan di lenganku mau itu masih berbekas atau tidak―dia menganggapnya itu indah dia mencintai seluruh buah ide di benakku mau itu akan berhasil atau tidak―dia menganggapnya itu indah dia mencintai seluruh jiwa ragaku mau itu penuh dengan luka atau tidak―dia menganggapnya itu indah dia mencintai keadaan fisik dan mentalku mau itu sempurna atau tidak―dia menganggapnya itu indah dan dari sekian lama aku hidup tidak pernah merasa seyakin ini sebelumnya
0
Aug 2, 2014
Aug 2, 2014 at 10:08 AM UTC
itu indah
Jantung semesta. Ku sebut ia jantung semesta. Pengatur detak jantung antara hidup dan mati. Manusia penguasa rasa. Yang datangnya ditunggu dan hilangnya dibenci. Masih dalam keadaan koma di ruang ICU
0
Apr 30, 2020
Apr 30, 2020 at 7:05 PM UTC
JANTUNG SEMESTA
Ibarat bintang, mungkin kau adalah polaris bagiku. Sang petunjuk arah, kala aku sedang tersesat. Sebagai pelipur lara akan harapan dan impian yang telah tergerus keadaan. Bagiku, polaris juga sebuah tuntutan untuk mencapai impian dan harapan yang masih tersisa. Namun, polaris tidak selamanya akan jadi bintang utara. Akan ada masanya, kau digantikan oleh bintang bintang yang lain. Aku terlalu terhanyut dalam pesona mu. Hingga aku lupa, tidak akan ada yang abadi. Bahkan polaris sekalipun.
0
Nov 20, 2018
Nov 20, 2018 at 3:36 AM UTC
Polaris
pasal VI: tentang aku dan kau; sebuah rasa dalam diam. - yang aku percaya, skenario tuhan selalu indah walau tak kelihatan di awal, sebab tentu saja, pemandangan akan lebih nampak anggunnya dari ketinggian. dan ini perkara melihat sesuatu dari direksi yang berbeda, atau bahkan berlawanan. rasa dalam diam. - perihal rasa yang terus saja terpendam, anggap saja aku hanyalah secuil makhluk yang kagum kepadamu, terlepas dari senyummu yang menawan, atau paasmu yang santun, dan hal "wah" yang mereka utarakan lainnya. rasaku apa adanya, tanpa menuntut apapun darimu. - mengingat kau dan aku tak pernah bersua dengan sengaja, kurasa, rasarasa yang kumiliki hanya akan bertepuk sebelah rasa, sekedar sapa, dan berujung tanpa kata. toh nyatanya entah aku yang sanggup bertahan ataukah memang aku yang terlalu bodoh karena masih saja bertahan, hitungan tahun tanpa jawaban terus saja membuatku beradaptasi dengan keadaan. - dan jika dilihat, mungkin hanya usahakulah yang terus membuatku bertahan, melihat segalanya hanya jarak dan jarak yang membuat kita dekat, walau kau masih saja entah purapura tak peduli, atau mungkin memang tak peduli. tapi kuharap kau tak bosan menjadi tempat rasaku bermuara. - menuntut kejelasan? oh, tentu bukan caraku bermain dengan memaksa kehendak. karena dimataku, rasa bukan hanya sekedar hasrat, melainkan suatu hal yang sensitif, terlepas dari rasionalnya akal. takutku kemudian hari, salah rasaku menetap, kemudian menjadikanku lupa arah pulang sebenarnya. - sampai nanti di akhir cerita, kau menjawab segala tanya yang tak kuharap terjawab. rasa mu sedikitbanyak memiliki kesamaan denganku, sama2 dalam diam, memilih berdiam diri dalam kediamannya. hanya saja kau lebih mahir, sedangkan aku memilih nyaman dalam zona amatir. - bahagia? kupikir begitu, mengingat rasa kita sudah samasama berirama, terlepas dari tujuanku yang enggan menjalin hubungan (entah apa alasannya). kukira jawab yang membuatku senang, namun haluan berubah arah. justru jenuh yang kurasa, lelah, dan memilih berpaling di kemudian hari. prdks.
0
Apr 2, 2018
Apr 2, 2018 at 9:10 PM UTC
sajaksajakrasa
pasal VI: tentang aku dan kau; sebuah rasa dalam diam. - yang aku percaya, skenario tuhan selalu indah walau tak kelihatan di awal, sebab tentu saja, pemandangan akan lebih nampak anggunnya dari ketinggian. dan ini perkara melihat sesuatu dari direksi yang berbeda, atau bahkan berlawanan. rasa dalam diam. - perihal rasa yang terus saja terpendam, anggap saja aku hanyalah secuil makhluk yang kagum kepadamu, terlepas dari senyummu yang menawan, atau paasmu yang santun, dan hal "wah" yang mereka utarakan lainnya. rasaku apa adanya, tanpa menuntut apapun darimu. - mengingat kau dan aku tak pernah bersua dengan sengaja, kurasa, rasarasa yang kumiliki hanya akan bertepuk sebelah rasa, sekedar sapa, dan berujung tanpa kata. toh nyatanya entah aku yang sanggup bertahan ataukah memang aku yang terlalu bodoh karena masih saja bertahan, hitungan tahun tanpa jawaban terus saja membuatku beradaptasi dengan keadaan. - dan jika dilihat, mungkin hanya usahakulah yang terus membuatku bertahan, melihat segalanya hanya jarak dan jarak yang membuat kita dekat, walau kau masih saja entah purapura tak peduli, atau mungkin memang tak peduli. tapi kuharap kau tak bosan menjadi tempat rasaku bermuara. - menuntut kejelasan? oh, tentu bukan caraku bermain dengan memaksa kehendak. karena dimataku, rasa bukan hanya sekedar hasrat, melainkan suatu hal yang sensitif, terlepas dari rasionalnya akal. takutku kemudian hari, salah rasaku menetap, kemudian menjadikanku lupa arah pulang sebenarnya. - sampai nanti di akhir cerita, kau menjawab segala tanya yang tak kuharap terjawab. rasa mu sedikitbanyak memiliki kesamaan denganku, sama2 dalam diam, memilih berdiam diri dalam kediamannya. hanya saja kau lebih mahir, sedangkan aku memilih nyaman dalam zona amatir. - bahagia? kupikir begitu, mengingat rasa kita sudah samasama berirama, terlepas dari tujuanku yang enggan menjalin hubungan (entah apa alasannya). kukira jawab yang membuatku senang, namun haluan berubah arah. justru jenuh yang kurasa, lelah, dan memilih berpaling di kemudian hari. prdks.
Continue reading...
9
Kalau bisa sebenarnya aku ingin mencintaimu dengan sederhana saja Seperti mendapatimu belum sepenuhnya sadar di sampingku, lalu mengecup lembut keningmu. Tak peduli waktu yang terus memburu, jarak yang tak terlipat oleh rindu yang demikian banyaknya. Namun sayangnya.. hidup tak bisa sesederhana itu Kalau bisa sebenarnya aku ingin mencintaimu dengan sederhana saja Bersandar kapanpun yang ku inginkan tak perlu lebih dulu mengundang temaram, Mendekat kapanpun bibirku rindu di kecup, Memeluk kapanpun aku rindu detakmu yang cepat. Namun sayangnya, ingin tak bisa semuanya terpuaskan. Kalau bisa sebenarnya aku ingin mencintaimu dengan sederhana saja Siap sedia di sampingmu membisikkan bahwa kamu tak pernah sendirian, Kamu tak akan ku biarkan gundah tanpa kawan. Namun sayangnya, kita bukan ikatan pasti. Maka sayangku, dengan segala kerumitan dan keadaan yang tidak menguntungkan inginku Aku berusaha tetap mencintaimu Dengan keberadaanmu yang jarang aku jadi menghargai setiap pertemuan, Dengan temaram yang menyenangkan aku mencoba berteman dengan gulita. Dengan ikatan yang tak pernah ada aku berusaha setia Bukankah itu intinya? Aku tak akan pernah mencintaimu dengan terpaksa Kamu tak merantai kaki-kakiku, Kamu tak menutup mataku, Aku bisa pergi kapanpun yang aku inginkan. Namun lihatlah sayang, aku tetap tinggal di sisimu.
0
Sep 7, 2018
Sep 7, 2018 at 7:46 AM UTC
Untitled
ada suatu keadaan, dimana aku bertingkah aneh yang disusul kerutan bingung alismu. aku malu namun senang dalam sekejap waktu. dan aku rindu keadaan itu. tidak. aku rindu kamu.
0
Sep 17, 2019
Sep 17, 2019 at 7:37 PM UTC
sa ae lu tong
ingin kuhancurkan diriku yang lalu ingin kuhardik lulu yang kemarin ingin kumaki kelakuanku dulu berfoto di kamar kuning memegang kue tar diberi kaus kaki telur dan pisang gelang merah dan tosca masih kaku tapi senang lain dengan sekarang rambutku tidak karuan mataku seperti dihajar satpam bagbigbug karena keadaan malunya, di rumah cindy aku nangis di rumah cindy
0
May 22, 2021
May 22, 2021 at 5:28 AM UTC
12 oktober di kos, 22 mei di rumah cindy