Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"jasad" poems
Aku harus mendaki tebing bernama proses; menaklukannya. Legenda berkata bahwa diujungnya tinggallah sesuatu yang baik. Namun memang semua pendaki tau bahwa tebing yang satu ini tidaklah mulus. Bebatuan, dataran curam, udara dingin, debu menyesakkan, silahkan kau sebut semua hal itu. Mereka ada di tebing ini, selalu. Semesta kejam dan kamu sendirian. Setidaknya itulah yang harus aku ingat. Aku tidak mau berujung hanya sebagai seonggok jasad dengan nama tertulis. Maka dari itu datanglah keharusan untuk mengejar sesuatu yang baik ini. Aku takut. Aku takut. Sebenarnya aku takut. Karena semacam tebing bukanlah rumahku. Tebing kurang akan rasa nyaman dan rasa cukup tau. Sungguh tak pula aku paham benar dengan apa yang dimaksud dengan 'sesuatu yang baik'. Namun semua orang tetap harus mendaki, entah kenapa.
0
Nov 7, 2015
Nov 7, 2015 at 5:52 AM UTC
Sajak #1
Cinta aku walau mati Masih hidup Dalam tulisan ku Dalam setiap bibit kata cinta Melalui dakwat air mata Dan setiap barisan lara Cinta aku walau sudah lama pergi Masih bernafas Dalam bait bait permata Sulaman nafas cinta pertama Di atas sehelai selendang Yang dulu mengikat erat akal dan nyawa Cinta aku tetap hidup dan bernafas Di atas empat penjuru putih batasan terakhir nyawa cinta ini Yang jasad sudah lama hilang Ditelan masa manusia
0
Jun 9, 2018
Jun 9, 2018 at 12:54 PM UTC
Masih (Still)
Mata itu membiru duka lama yang menderu Badai dan lindu mengantar jasad tubuhku Terbilang sudah berapa kali kau dan aku berjanji Diantara pagi haru dan sedikit isak tangis merdu Aku suka kala kau menangisi canda tawa terbawa pula hawa panas diantara kata berlalu Rapat-rapat tak ada dalam bisik-bisik mayat Sedepak dari liang lahat berpijak, jemari kaki peti-peti mati digusur pergi Lelah lelaki itu bertelingkah Membuang gelas yang telah dituang Meracau melampau dari batas kewarasan Disana dia merumput maut, meraut ribut Pergi pulang membaur diantar lalu lalang kabut
0
Nov 16, 2016
Nov 16, 2016 at 12:39 PM UTC
Diantar Pulang Kabut
Pahlawan Terima kasih sudah menyelamatkan aku dari kesedihan ini Pahlawan Terima kasih sudah membangkitkan aku dari keterpurukan tiada henti Pahlawan Kau sungguh hebat Hanya dengan suara dan karya mu Berjuta orang sorak bergembira Pahlawan Kau sudah mati Karena kau bukan malaikat Sama seperti diriku Manusia hina Pahlawan Kau sudah mati Akan ku kubur jasad mu dalam jiwa ku Akan ku peluk erat arwah mu Jika orang bertanya tentang dirimu Akan ku bisikan Pahlawan ku sudah mati Iblis memanggil nya Bukan Tuhan
0
Jul 31, 2019
Jul 31, 2019 at 3:54 AM UTC
Pahlawan ku sudah mati
Pahlawan Terima kasih sudah menyelamatkan aku dari kesedihan ini Pahlawan Terima kasih sudah membangkitkan aku dari keterpurukan tiada henti Pahlawan Kau sungguh hebat Hanya dengan suara dan karya mu Berjuta orang sorak bergembira Pahlawan Kau sudah mati Karena kau bukan malaikat Sama seperti diriku Manusia hina Pahlawan Kau sudah mati Akan ku kubur jasad mu dalam jiwa ku Akan ku peluk erat arwah mu Jika orang bertanya tentang dirimu Akan ku bisikan Pahlawan ku sudah mati Iblis memanggil nya Bukan Tuhan
0
May 5, 2021
May 5, 2021 at 6:24 AM UTC
Pahlawan ku sudah mati
tuanku telah meninggal sudah tak dapat lagi ia ucap sajak-sajak getir perlawanan atas tuhan apalagi senandung bintang atas kita tuanku telah meninggal sentuhannya dingin tubuhnya kaku sajaknya menjadi pisau dan gurauannya antarkan duka ia tetap tertawa dalam kematiannya karena jasadnya dapat terus hidup sebagai manusia lain yang bagiku, entah siapa yang bahkan tak kukenali danurnya jika bisa aku ingin mengembalikan tubuh itu padanya akan kugali kuburan dalam hatinya kutarik keluar jenazahnya dan kubangkitkan, dalam sebuah peluk dan angan akan kubiarkan ia merasuk pada tubuh tak berhati, tak berjiwa itu pada tubuh hidup gentayangan itu
0
Dec 6, 2020
Dec 6, 2020 at 6:24 AM UTC
Jasad Mana Tempat Ragamu Kini Bersemayam?