Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"gundah" poems
*Kata demi kata Kuleburkan menjadi beberapa helai untaian kalimat Demi melepas seikat rindu Untuk seseorang berpandangan sayu Yang telah lama diombang-ambing oleh gelombang kelabu Seberat langit mendung yang sendu Berpayung ia lama mencari lentera menuju ujung jalan Sembari menanti hentinya rintik hujan Tanah becek berlumpur tempat kakinya lama singgah Di mana guntur tak ada lelahnya menumpah ruahkan gundah Kata demi kata Kuleburkan menjadi beberapa helai untaian kalimat Demi melekatkan seikat harapan Untuk seseorang yang tengah dihuyung geramnya badai topan Yang tak hentinya berharap agar matanya dibutakan mentari pagi Jiwanya lama berkelana mencari, entah ke mana cahaya itu pergi Jauh dalam sudut yang gelap ia dibiarkan sendiri* ------------------------------------------------------------------------------------------- Telah kuleburkan kata demi kata menjadi beberapa helai untaian kalimat Untuk kompas dalam hidupmu yang telah kehilangan arah Dibutakan oleh gulungan-gulungan masalah Juga dalam doa-doa malamku dan setiap sujudku di atas sajadah, Kubisikkan sebuah pinta agar dirimu selalu dalam pentunjuk-Nya, Agar kelak dapat kau baca helaian untaian kalimat penyamangatku, Yang kusampirkan dalam saku jaketmu hari itu, Dapat merontokkan seluruh perasaan kelabu dalam kalbumu, Mendepakmu dari sudut gelap di ruang tergelap pikiranmu sendiri.
0
Jan 28, 2017
Jan 28, 2017 at 7:28 AM UTC
ruang tergelap
Kesendirian menyelimuti tubuh Menarikku kembali menuju angan yang tak pernah usai Sampai kapan harus ku tahan? Gemuruh rasa rindu yang tak tertahan Lelah aku Sampai kapan ini akan berlangsung? Bayang-bayang wajah di masa lalu Tak pernah usai mengganggu Menampakkan kembali sebuah kisah yang telah lalu Kala ku titipkan rindu ini pada senja Melepas segala gundah yang akan membuncah Lisan tiada mampu berucap Hanya kata merangkai hati
0
Mar 9, 2016
Mar 9, 2016 at 3:08 AM UTC
Buah Rindu
*Ini aku, gambaran hatiku Kusertakan padamu, kusisipkan untukmu* Sejenak aku rebah, luka tanpa daya Aku didera puluhan cabikan Aku kalah dalam perang Perang melawan hatiku Gersang namun hujan Tandus namun ranum Itulah hatiku Malam demi malam kulalui Dengan mata terjaga Hari demi hari kulewati Ditemani gundah gulana *Aku yang hanya menunggu, bagaikan menantang murka laut* Tiang layarku patah dihantam ombak Kain layarku robek diterjang badai Aku terombang-ambing antara suka dan duka Ombak bergulung-gulung menanti di depanku Aku menoleh ke belakang, Menimang untuk merubah haluan Kutak rela
0
Aug 29, 2017
Aug 29, 2017 at 1:47 PM UTC
Gambaran Hatiku
Tahukah kamu, di tepi jendela itulah Cinta dan kasih kusimpan Lalu kau terbang semilir dan mencuri Setiap tak ku tutup jendelanya Tahukah kamu, berembun juga kaca Jika di tepi jendela kau tiup rasa Menjadi buram, dan tak sejernih air pula Pandangan matanya? Jika nanti ku kunci engselnya Engkau tak bisa meluncur seenaknya Meniup gundah keluar kamar Hingga sinar senja membayang pudar Jika nanti kau masuk Sebagai kupu-kupu lembayung Yang terhuyung hinggap di tepi jendela Temani aku, sebentar saja Ditepi jendela aku kehilangan Cinta kasihku, ketika Kau bersemilir masuk Dan mencuri keduanya
0
Sep 12, 2016
Sep 12, 2016 at 1:21 PM UTC
Di Tepi Jendela
kulantunkan - lembut kunyanyikan - kesenian kukumandangkan - religi kuikrarkan - formal kulafazkan - detail kuucapkan selamat malam duhai..... hahay.. :D mana nih yang pas ya.. *kukumandangkan maklumat yang merindu.. oleh sanubari yang tersenyum kelu.. dari iman penghapus birahi dalam kalbu.. membangkitkan cinta yang menggebu..        hingga ranting direlung hati tak sempat betanya..        akan kemana gundah dalam jiwa terbawa..        mungkinkah hanya sebuah nestapa...?        yang tersingkap oleh nafsu dunia fana.. nurani yang kian membangkang.. bertanya pada tubuh yang terkekang.. merebahkan raga dihamparan angan yang tak lekang... adakah keikhlasan yang terjengkang..            tutur bijakmu sering tak terhiraukan..           seluas samudra perhatian kau berikan..       dalam kasihmu tersandar persahabatan..*
0
Jan 21, 2014
Jan 21, 2014 at 10:30 AM UTC
draft 1
Merindu itu tidak indah Yang indah adalah bertemu Setelah lama tak bertukar gundah Didalam rangkulan saling mengadu Merindu itu tidak indah Yang indah adalah bertemu Setelah lama tak bersentuh Dibawah selembar kain saling menjamu Merindu itu tidak indah Yang indah adalah bertemu Setelah terdengar lafalan khitbah Sah tak lagi jadi sekedar tamu
0
Aug 15, 2022
Aug 15, 2022 at 5:25 AM UTC
rindu tidak indah
Dengarlah gemuruh hujan pada malam hari ini; Dengan irama tetesannya kebisuan dicurahkan; Dalam kegelapan jua para pencari melangkah; Menyusuri persimpangan jalanan yang basah; Mungkinkah sudah keraguan mereka terhapuskan? Ataukah praduganya telah menjadi satu bentuk prasangka, Yang sekiranya kembali menolak untuk lagi-lagi berbicara? Dengan satu sapuan halusnya kembalilah dikau sunyi menjadi hening, Hening menjadi tiada, seperti tiada memunculkan hampa; Lalu hampa pergi meninggalkan luka yang menganga pada dikau; Hanya kesembuhan dari hujan yang dinanti mereka yang terluka; Seperti juga berkat yang dinantikan dikau yang tak lelah menanti; Memegang erat setiap butiran yang mungkin tak mampu dimiliki; Mendengar irama yang selamanya tak mampu dimengerti; Bersabdalah hujan pada semesta di malam hari ini; Hanya kesunyian yang terus ia ajak bicara dalam isyarat; Hanya kegelapan yang selamanya tak mampu ia lihat; Pengheningan resah telah menjadi gundah sang hujan; Seperti gundah itu sendiri menjadi gulana dikau; Seperti dikau yang hadir dan hilang dalam rimbanya hujan, Kembali dicari namun tak mampu dihilangkan.
0
Jun 24, 2017
Jun 24, 2017 at 5:56 AM UTC
Perbincangan Dengan Sang Hujan
Saat hatimu dilanda kegelapan Yakinlah penerangmu tiada lain Selain Allah SWT Penerang dari segala kegelapan “Dan kami turunkan dari Al-Qur’an Suatu yang menjadi penyembuh Dan rahmat bagi orang-orang yang beriman Dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim Selain kerugian. “ Lantunan ayat tersebut Bismillah... Bawa aku pergi dari kelam Selamat diriku Ya Allah SWT.
0
Dec 17, 2017
Dec 17, 2017 at 6:33 AM UTC
Penghilang Gundah.
Bangsa pribumi di era modern Memaksa batin untuk jadi keren Sudah lewat aku di zaman batu Ku langkahkan kaki di zaman baru Aku tidak tahu cara naik bus Yang aku tahu adalah kursi bertikus Oh jarak.. Jarak yang membuatku berpisah Aku rindu suasana desa yang indah Oh jarak.. Sampai kapankah aku gelisah Aku gundah tidak tahu arah Oh jarak.. Selamatkanlah aku Selamatkan aku dari rasa putus asa Aku takut.. Aku takut pada gedung besi berasap Aku takut pada mesin yang berjalan Aku takut pada benda panjang beruap Siapakah aku disini? Siapapun tolong bantu aku Siapapun keluarkan aku dari sini Siapapun tuntunlah aku Oh Tuhanku.. Berikanlah Petunjuk-Mu Tidak ada yang lain selain Diri-Mu Aku disini hanya pencari Ridho-Mu -Kediri, 19 Maret 2018-
0
Mar 25, 2018
Mar 25, 2018 at 11:39 PM UTC
Jarak
Aku termenung pasrah Menunggu lelah Mendapat kabar tak indah Membuat hati gundah Waktu pasti akan mengobati hati Hidup akan terus di jalani Semakin pahit kehidupan Semakin banyak perjuangan Semakin panjang waktu kehidupan Semakin dalam pengorbanan Aku hanya akan menatap ke depan Tanpa memperdulikan masalah kehidupan Aku hanya akan terus melangkah maju Tanpa menoleh lagi padamu, wahai masa lalu Aku tidak melupakanmu Aku hanya sedikit menapak satu langkah di depanmu Aku hanya sedikit sibuk dengan dunia baruku Bukan berarti melupakanmu, wahai masa lalu Kau guru terbaikku Mengajarkanku untuk lebih baik di masa depan Memberiku pengalaman yang tak mungkin terlupakan Membekaliku dengan keikhlasan dan kesabaran Kata semoga dariku takkan pernah lekang untukmu Walau mungkin kau takkan pernah tahu itu, wahai masa lalu
0
May 5, 2018
May 5, 2018 at 7:59 AM UTC
Wahai Masa Lalu
Kalau bisa sebenarnya aku ingin mencintaimu dengan sederhana saja Seperti mendapatimu belum sepenuhnya sadar di sampingku, lalu mengecup lembut keningmu. Tak peduli waktu yang terus memburu, jarak yang tak terlipat oleh rindu yang demikian banyaknya. Namun sayangnya.. hidup tak bisa sesederhana itu Kalau bisa sebenarnya aku ingin mencintaimu dengan sederhana saja Bersandar kapanpun yang ku inginkan tak perlu lebih dulu mengundang temaram, Mendekat kapanpun bibirku rindu di kecup, Memeluk kapanpun aku rindu detakmu yang cepat. Namun sayangnya, ingin tak bisa semuanya terpuaskan. Kalau bisa sebenarnya aku ingin mencintaimu dengan sederhana saja Siap sedia di sampingmu membisikkan bahwa kamu tak pernah sendirian, Kamu tak akan ku biarkan gundah tanpa kawan. Namun sayangnya, kita bukan ikatan pasti. Maka sayangku, dengan segala kerumitan dan keadaan yang tidak menguntungkan inginku Aku berusaha tetap mencintaimu Dengan keberadaanmu yang jarang aku jadi menghargai setiap pertemuan, Dengan temaram yang menyenangkan aku mencoba berteman dengan gulita. Dengan ikatan yang tak pernah ada aku berusaha setia Bukankah itu intinya? Aku tak akan pernah mencintaimu dengan terpaksa Kamu tak merantai kaki-kakiku, Kamu tak menutup mataku, Aku bisa pergi kapanpun yang aku inginkan. Namun lihatlah sayang, aku tetap tinggal di sisimu.
0
Sep 7, 2018
Sep 7, 2018 at 7:46 AM UTC
Untitled
Jika dingin rasanya untuk meneriaki hujan, betapa basah dan sedih yang dibawanya pulang Tak usah kau menjeritkan gundah kepada api yang tak sanggup menghanguskan rindu dan pengharapanmu Jangan pula kau tiupkan dustamu pada angin, karena ia melesat pergi bagai anak panah yang kabur dari busur Lihatlah sungai yang mengalir, dia akan menghanyutkan laramu diantara daun-daun sesembahan itu. Alam akan membawamu pergi, seperti air yang meresapi tanah dan membumbung ke angkasa.
0
Jun 15, 2017
Jun 15, 2017 at 2:26 PM UTC
Berhenti Bunuh Diri