Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"gelap" poems
tidak disadari, langit yang biru berubah menjadi warna oranye dan ungu muda. perpaduannya pun sangat indah, ditemani pula oleh kicauan burung yang sunyi. selang waktu berjalan, hati semakin berat, pena dan kertas, aku bertemu lagi denganmu. langit yang indah tiba tiba berteriak, seperti singa yang mengaung ditengah ladang. apakah mungkin, bahwa kita melihat langit yang sama? perbedaan waktu yang tidak masuk akal, ingin membuatku menguras air di lautan yang biru, yang menghalangi pertemuan kita. gila, bukan? aku berbicara kepada kertas putih, layaknya kertas ini adalah sahabatku, atau kuping yang selalu mendengar. tangisan hati pun terlalu keras, malam ini. langit yang indah, sekarang bersaturasi, menjadi warna abu abu yang gelap, jadi ini, toh. ini, yang dinamakan berbicara kepada kertas, saat air mata milik senja, turun dari langit.
0
Feb 20, 2019
Feb 20, 2019 at 8:15 AM UTC
air mata milik senja
Palembang, 17 Desember 2011 Aku hidup dengan nafas mu Bapak, Ibu Aku ada karena Dia Yang Maha Satu Namun raga ini aku yang bawa Jiwa ini aku yang menjaga Hidup ini aku yang memilih Cerita ini aku yang jalani Aku tumbuh bersama nafas mereka Aku termotivasi karena mereka juga Nafas kita menyatu Mereka menghela nafas kebahagianku Aku menghela nafas kebahagian-Mu Nafas kami juga nafas mu, Bapak.. Ibu.. Kau pelita kehidupan Obor benderang di gelap ku Bekal mengenyangkan di lapar ku Oasis indah nan segar di dahaga ku Tak akan ada aku tanpa-Nya Tak akan hidup aku hingga sekarang tanpa Bapak dan Ibu Tak akan aku bertahan tanpa diriku sendiri Dan aku hidup tuk bersama mereka Aku yang menentukan Dia tinggal menyetujuinya Bapak Ibu hanya bmendoakan Dan sebentar lagi mereka ku gapai (it’s because I Love Shane, Mark, Kian and Nicky)
0
Dec 19, 2011
Dec 19, 2011 at 1:41 AM UTC
Nafas Kita
4:00 pagi kita bangun solat subuh, kemudian kita bersiap2 utk ke tempat kerja, sampai kantor pukul 7:00 pagi, hari masih gelap. Mungkin kita anggap hari ini akan hujan, jadi abaikan. Masuk kantor, bekerja dan kita lihat pukul 12:00 siang, sudah waktunya makan siang, tapi keadaan masih tetap gelap. Keluar pintu kantor, suasana masih gelap, hitam pekat seperti malam..mungkin masih bisa dianggap hari ini akan hujan lagi. Jadi abaikan saja. Tapi kalo jam 14:00 pm pun hari masih gelap.. pertanda apa itu?..keesokkan pun sama, nonton tv semua orang kalang kabut menceritakan bahawa dunia ini sudah tidak ada lagi siangnya..dan begitu juga dengan lusa..masih tidak ada lagi matahari.. Tetapi pada hari keempat kita bangun pagi, kita dapat melihat matahari, tetapi jangan terkejut karena matahari telah terbit dari sebelah barat.. Kehebatan ahli dunia akan mengatakan itu fenomena alam, tapi sadarkah, itulah pertanda besar yang paling awal sebelum tibanya hari kiamat!! Maka telah tertutuplah pintu taubat.. Saat itu, kita akan lihat satu fenomena luar biasa di mana golongan kaya akan keluarkan semua harta utk diinfakkan, golongan yang tidak pernah baca quran, 24 jam baca quran, golongan yang tak pernah solat jemaah akan berlari2 menunaikan solat secara berjemaah..tapi sayangnya semuanya sudah tidak berguna lagi.. Bismillahirrahmanirrahim.
0
Mar 25, 2015
Mar 25, 2015 at 11:14 PM UTC
MUHASABBAH
Palembang, 14 Desember 2013 siapakah aku? yang bercahaya dikala senja tiba berlari mengepakkan kedua tangan, mencoba menggenggam udara mengijinkan peluh muncul membasahi seluruh tubuhku hingga mentari tepat di atas kepala aku berdoa, tuk menjadi cahaya bintang saat malam tiba siapakah aku? yang terus berlari kencang menapaki kerikil tajam tak peduli walau menembus hujan melawan badai ketika mentari sudah malu menampakkan cahayanya aku berdoa meminta, jikalau cahaya bintangku redup, mentari senantiasa menggantikan di pagi berikutnya siapakah aku? yang kehilangan cahaya senja berjalan menunduk, kecewa meski mentari bersinar seperti yang ku harapkan aku masih kan meminta cahayaku dikembalikan tak ingin membuka mata jika pagi berwajah gelap siapakah aku? yang tak lagi bersinar di langit malam tak lagi menjadi bintang kehilangan sinar senja tak lagi bebas berlari di bawah mentari tak lagi bernyawa siapakah aku?
0
Dec 14, 2013
Dec 14, 2013 at 8:01 PM UTC
Siapakah Aku?
Aku berdosa, Telingaku bunuh diri. Sudah baru-baru ini Aku sepenuhnya tuli Aku tak tahu lagi   Apa kata dedaunan Pada tanah yang terantuk lemas dibawah Atau ceracau yang diteriakkan Bunga keparat Untuk mayat dingin si kumbang. Bahkan di restoran tua Yang setiap sela kayunya berdarah dingin, Tempat rintihan musik bisumu selalu dialunayunkan Semuanya hanya tertawa hening lalu mati begitu saja. Dan meskipun duduk menghadapmu Aku masih tak dapat mendengar Suara mengaji jam setengah mati Yang kerap menceritakan Dongeng gelap kita Dari lampau sampai me— La lala la la       lala la lala La la la la la lala            La la la lalala la la La —Lampaui Pemakaman hati yang mati dipancung Di pekarangan rumah tiap senja gulana Yah, baru-baru ini aku tuli Bisu lagi, Mampunya cuma mengumpat dalam tulis. Dan dihadapkan denganmu, Sesekali dalam terkadang Aku anehnya dapat mendengar Serintikan isak tangis yang Sama sekali tidak kita cucurkan Lalu ini semua salah siapa, Kalau aku baru tuli Lalu kamu sudah bisu? Apa memang ini dosaku? Di palangnya tertulis; Nama: Siapapun yang menangis Di sela-sela pengakuan dosa Kematian telinga gila Dan kelumpuhan bibir hambar Kita tiba-tiba melongo, Tuhan tertawa Sabar lagi bahagia, Mengisyaratkan untuk Sudah, ya, Simpul mati saja senyum satu sama lain.
0
Aug 30, 2015
Aug 30, 2015 at 8:46 AM UTC
Pengakuan Dosa Penyair Tuli Pada Sebuah Film Bisu
Diawali dengan udara pukul setengah empat sore yang hangat dan suasana hati yang sedang bagus, aku melihat perempuan itu berada di tamannya yang berantakan. Ya, berantakan kataku. Tamannya, bukan dirinya. Ia duduk di sana, dengan anggun dan cantiknya membibiti bunga bakung dan menyirami bunga krisan. Di sekelilingnya terdapat semak bunga mawar liar dan pohon pinus tua. Pohon itu berbatang tebal dan tampak kukuh, kini ia duduk menyila di bawahnya, berbincang dengan semak lavender di sebelahnya. Ia tidak gila, tapi tampak penyayang dan sangat lembut. Rambutnya yang berwarna gelap itu diterpa angin senja, di atasnya secerah sinar matahari menyeruak dari balik dedaunan membuat wajahnya tampak berkilau. Lihat bagaimana cara matanya mengerling dan lihat bagaimana caranya tersenyum; manis sekali. Itu dia, Qinaani. (Mahesa)
0
Nov 28, 2014
Nov 28, 2014 at 1:53 AM UTC
Bagian I: Bunga Kertas
Palembang, 9 Juni 2012 Kau bagaikan embun di pagi hari Menyegarkan tubuhku dengan sejukmu Merasakan kamu di setiap ku hirup udaramu Kau bagaikan sinar mentari di siang hari Menyelimutiku dengan terikmu Berada di atasku setiap waktu Kau bagaikan udara di sore hari Menyentuhku tak disengaja Membelai rambutku dan aku bahagia Kau bagaikan gelap di malam hari Tak pernah melihat wajahmu Tak pernah bermimpi kamu Kau adalah nafasku untuk hidup Yang selalu ku ingat setiap waktu untuk ku hirup
0
Jun 9, 2012
Jun 9, 2012 at 12:41 PM UTC
Kau Bagaikan
*Kata demi kata Kuleburkan menjadi beberapa helai untaian kalimat Demi melepas seikat rindu Untuk seseorang berpandangan sayu Yang telah lama diombang-ambing oleh gelombang kelabu Seberat langit mendung yang sendu Berpayung ia lama mencari lentera menuju ujung jalan Sembari menanti hentinya rintik hujan Tanah becek berlumpur tempat kakinya lama singgah Di mana guntur tak ada lelahnya menumpah ruahkan gundah Kata demi kata Kuleburkan menjadi beberapa helai untaian kalimat Demi melekatkan seikat harapan Untuk seseorang yang tengah dihuyung geramnya badai topan Yang tak hentinya berharap agar matanya dibutakan mentari pagi Jiwanya lama berkelana mencari, entah ke mana cahaya itu pergi Jauh dalam sudut yang gelap ia dibiarkan sendiri* ------------------------------------------------------------------------------------------- Telah kuleburkan kata demi kata menjadi beberapa helai untaian kalimat Untuk kompas dalam hidupmu yang telah kehilangan arah Dibutakan oleh gulungan-gulungan masalah Juga dalam doa-doa malamku dan setiap sujudku di atas sajadah, Kubisikkan sebuah pinta agar dirimu selalu dalam pentunjuk-Nya, Agar kelak dapat kau baca helaian untaian kalimat penyamangatku, Yang kusampirkan dalam saku jaketmu hari itu, Dapat merontokkan seluruh perasaan kelabu dalam kalbumu, Mendepakmu dari sudut gelap di ruang tergelap pikiranmu sendiri.
0
Jan 28, 2017
Jan 28, 2017 at 7:28 AM UTC
ruang tergelap
Palembang, 21 Oktober 2012 Aku berjalan, menyusuri lorong gelap dan dingin Menatap lurus pada satu tujuan Pintu berukiran abstrak Tanpa kunci aku bisa masuk dengan mudahnya Tanpa kode aku lolos dari tes keamanan Aku terus berjalan, menapaki lantai yang lembap Menuju suatu benda tinggi besar yang datar Aku berhenti. Berdiam diri cukup lama Terpaku tanpa mampu berkata Aku berdiri di depan cermin Aku melihat diriku Lihat Dia! Dialah aku yang haus akan cinta Dialah aku yang menadah kasih sayang Aku berlutut dan meminta Bawa dia ke sini Tuhan Ke hatiku Aku masih terdiam terpaku Menyaksikan apa yang ada di hadapanku Berpikir, betapa bodohnya aku Aku berbalik tanpa berkata sepatah pun Dan pergi meninggalkan aku yang masih terperangkap di cermin itu Masih bisa kuubah, ucapku pada diriku Takkan ku biarkan penderitaan menyentuh hidupku, sedikitpun Aku akan berbalik dan melupakan semua Melanjutkan perjalanan hingga tugasku usai
0
Oct 21, 2012
Oct 21, 2012 at 12:49 PM UTC
Cermin Tarsah
Tergetar nadi ku saat teriakanmu Tersenyum aku saat melihatmu Bagai mentari pelawan gelap Bagai jiwa ku yang amat tenang Saat terjunan air membasuh raga Alangkah indahnya pelangi melingkar Bercahaya terang amat indah warnanya Begitu segar sambil menatapnya Tatapan itu tak sama Dengan saat aku menatapmu Di hati ku hanya kau yang terindah Tak tertandingi dari apapun Cinta... Segelas darah ku buang Selaut air mata ku tumpahkan Saat ku lihat kini kau berada di Surga Created by Aridea Purple
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:45 AM UTC
Kenang Cinta
Ku duduk di sini Kaki ku membeku karena dingin Mata ku kantuk karena larut Malam ku gelap tanpa sinar bulan Telinga ku sepi, tiada yang terdengar Bibir ku rapat, tak ada yang terucap Badan ku lelah serasa ingin roboh Ingin ku pejamkan mata tuk sementara Namun terlelap dalam mimpi Takkan tersesat walau sendiri Harap ku akan bermimpi lagi Mimpi yang paling indah dari kemrin Agar temani di malam sunyi ini Hingga aku membuka mata esok hari by. Aridea Purple
0
Oct 19, 2011
Oct 19, 2011 at 12:35 PM UTC
Mimpi
Di malam bulan terpotong jadi tawa, angin membelahku jadi tiga bujursangkar. Satu untuk diriku sendiri, satu untuk bibir kemaraumu, dan yang lain, mungkin, untuk dua anjing lapar yang Tuhan pelihara dalam diriku dan dirimu. Di situ, di rimbunan gelap yang padat dan waktu yang mengering, ingatan mempertemukan kita walau sebentar. Kau berlari membawa kotak yang di dalamnya mungkin adalah namaku, dan aku berlari di belakangmu menjauhi danau. Sayap-sayap yang tidur, kepala yang dinaungi tali-temali, dan jejak-jejak bernafas rapat. Bagimu, dunia mungkin masih adalah tabir yang kaku. Oh. Burung-burung dalam kepala! Itu kekakuan yang liris membunuhku. Malang, 3 April 2013
0
Jun 28, 2013
Jun 28, 2013 at 2:48 AM UTC
Aku, Kau, dan Dua Anjing yang Tuhan Pelihara Dalam Diriku dan Dirimu
Allah.. Allah adalah Tuhanku Oh Allah.. Dzat Yang Maha Agung Tiada Tuhan selain Allah Kaulah Yang Maha Menciptakan Kau ciptakan surga bagi orang yang beriman Kau berikan rahmat kepada hamba-MU yang bersungguh-sungguh Ya Allah! Ya Tuhanku! Hambamu bukanlah teroris Hambamu hanya menyembah kepada-MU Ya Allah! Tuntunlah aku ke jalan yang benar Ya Allah! Dalam gelap kau bangkitkan aku yang putus asa -Kediri, 22 Maret 2018-
0
Mar 26, 2018
Mar 26, 2018 at 12:00 AM UTC
Allah Tuhanku
dibalik jendela pesawat terbang, ada bulan purnama bulat dan terangnya sempurna malam ini saya mengarungi awan yang bentuknya jelas karena pantulan cahaya bulan bergumpal, halus, keemasan indah terpantul pada retina mata, menakjubkan lalu saya tertidur dalam mimpi saya berkereta menuju cahaya bulan saya akan sampai disana, dibulan turbolensi membangunkan saya tepat pukul 11.42 malam diluar bayangan samudra masih gelap, tidak terlihat 1 jam lagi saya akan sampai di negeri cina, kata seseorang dengan pengeras suara tidak jadi kebulan? tak apa, berbeloklah dahulu baru ke bulan Diatas awan, 26 Februari 2013
0
Mar 10, 2013
Mar 10, 2013 at 1:34 AM UTC
berbelok dahulu
"Cahaya redup itu umpama semesta alam." birunya naungan langit fajar ketika tetes embun hadir di atas permukaan daun pada hari itu kau berujar "Pernahkah kamu tahu bahwa gelapnya mengisahkan beribu kisah?" yang ada suaraku bungkam oleh pertanyaanmu gaungnya terngiang mengisi sudut hampa telingaku sebuah kubus berisi ruang kosong tak beraksara ada sorot matamu yang terjebak di dalamnya "Pernahkah kamu sentuh sisi gelap yang bersembunyi itu?" pernah taman kecil berisi bunga warna-warni dalam suaramu yang sepi kusam, kota lama yang redup di tengah peradaban kuperhatikan rambut ikal panjangmu menjilati tengkukmu sambil disiuli angin yang bernyanyi pelan, begitu tenang "Atau yang tidak sengaja kamu sembunyikan?" "Ralat, yang sengaja kamu sembunyikan." matamu mengerling menerawang memandang langit Juni apa lagi yang kamu dambakan dari gelap pada pagi secerah ini? "Cahaya redup umpama semesta alam, gelapnya mengibarkan beribu ilham." jemarimu cepat berdansa dengan senar begitu cermat ingat pertama kali dua pasang mata sendu ini berkenalan dalam gelap dalam redup lahir melodrama di tengah rintik tangisan langit bulan kedua "Gelapnya mengibarkan seribu ilham. Gelapnya mendatangkan pelangi di tengah tulisan dalam buku kelabuku." diremasnya jemariku, lalu tenggelam dalam beribu rasa bunga-bunga merekah membentangkan senyum sang surya apa lagi yang kudambakan dari gelap pada pagi secerah ini? satu pertanyaan kubisikkan untuk langit biru pada bulan Juni apakah hadirku sudah cukup bagi hari-hari gelapmu? lalu, jemarimu meremas jemariku lebih keras seolah tak pernah ingin lepas.
0
Oct 2, 2017
Oct 2, 2017 at 8:53 AM UTC
ada gelap, redup, lalu apa?
"Cahaya redup itu umpama semesta alam." birunya naungan langit fajar ketika tetes embun hadir di atas permukaan daun pada hari itu kau berujar "Pernahkah kamu tahu bahwa gelapnya mengisahkan beribu kisah?" yang ada suaraku bungkam oleh pertanyaanmu gaungnya terngiang mengisi sudut hampa telingaku sebuah kubus berisi ruang kosong tak beraksara ada sorot matamu yang terjebak di dalamnya "Pernahkah kamu sentuh sisi gelap yang bersembunyi itu?" pernah taman kecil berisi bunga warna-warni dalam suaramu yang sepi kusam, kota lama yang redup di tengah peradaban kuperhatikan rambut ikal panjangmu menjilati tengkukmu sambil disiuli angin yang bernyanyi pelan, begitu tenang "Atau yang tidak sengaja kamu sembunyikan?" "Ralat, yang sengaja kamu sembunyikan." matamu mengerling menerawang memandang langit Juni apa lagi yang kamu dambakan dari gelap pada pagi secerah ini? "Cahaya redup umpama semesta alam, gelapnya mengibarkan beribu ilham." jemarimu cepat berdansa dengan senar begitu cermat ingat pertama kali dua pasang mata sendu ini berkenalan dalam gelap dalam redup lahir melodrama di tengah rintik tangisan langit bulan kedua "Gelapnya mengibarkan seribu ilham. Gelapnya mendatangkan pelangi di tengah tulisan dalam buku kelabuku." diremasnya jemariku, lalu tenggelam dalam beribu rasa bunga-bunga merekah membentangkan senyum sang surya apa lagi yang kudambakan dari gelap pada pagi secerah ini? satu pertanyaan kubisikkan untuk langit biru pada bulan Juni apakah hadirku sudah cukup bagi hari-hari gelapmu? lalu, jemarimu meremas jemariku lebih keras seolah tak pernah ingin lepas.
Continue reading...
31
Palembang, 31 Agustus 2012 Bulan Bulat Kuning Terang Di dunia yang gelap, segelap hidupku Bulan Sendirian Berlari Mengejar mentari Membutuhkan sinar, sama seperti aku Aku masih bisa mendengar lagu di udara Hingga mentari tiba Bulan pun hilang, seperti akal ku Aku ditinggal sendiri Dan lagu pun berhenti
0
Sep 1, 2012
Sep 1, 2012 at 8:45 AM UTC
Bulan
Inderalaya, 27 Agustus 2014 Aku putus asa di tengah-tengah hiruk-pikuk kehidupan Di saat aku sedang sibuk menyemangati orang lain untuk bertahan Tepat di saat aku berceramah agar mereka terselamatkan Aku membela orang lain padahal aku sendiri seorang tahanan Aku sendiri tak mampu untuk mengembalikan kehidupan, hanya berangan Melewati waktu tanpa batas yang membuat aku tersesat di jalan Dengan berani ku telusuri labirin tak berujung di hari tak berawan Aku mampu menjadi lentera orang lain, di jalan gelap di ujung perapian Namun aku tetaplah lilin yang tak berapi, angin meniup api dan angan Aku masih tetap menjadi tahanan yang ingin terbakar di ujung perapian
0
Aug 26, 2014
Aug 26, 2014 at 10:29 PM UTC
Di Ujung Perapian
Jauh aku datang, Singgahan sementara, Ribut pasir di padang gersang, Menari di sanubari hati, Cahaya matahari menemani sunyi, Bulan menghiasi langit yang gelap, Harapan seperti menanti hujan, Keras hatiku timbul rekahan, Badan aku membara keseorangan, Jarum detik sudah behenti, Tetapi aku masih berjalan lagi, Peluh bersilang ganti, Nafas ku semakin pendek, Persoalan berhimpun di minda, Sampai bila, sampai bila. Namun, getaran tenaga menjadi kudrat terakhir. Hingga badan aku rebah dan tenaga aku gersang..
0
Jun 7, 2022
Jun 7, 2022 at 12:10 AM UTC
Padang Pasir
Mendung gelap kala itu Angin yang berlari-lari Kilat petir mengambil alih langit Kegelapan menyelimuti Burung yang terbang diantaranya Satu diantara membuat perbedaan Burung yang duduk diatas pagar Seakan kelelahan melawan Meratapi kegelapan menerpa Hujan deras menyelimutinya Duduk terdiam Lelah akan melawan.
0
Oct 25, 2017
Oct 25, 2017 at 10:00 AM UTC
Lelah.
Darah Biasanya keluar rumah Saat tengah malam Sambil menangis Hanya Untuk bermandikan Seseguk amis Setelah itu, Ia lanjut merajut Duka Atas air maut Yang tak kunjung jatuh Darinya Sama, Suaramu Terdengar kala malam Terisak-isak perih Dan masih berbau darah Tapi setelah kuratapi Sekarang makin legam Lagi-lagi Suaramu dibebani Pagi yang merekah-rekah Dan pada saat selalu saja, Ia akan tergesa membisu basi Menunggu sambutan gulita Keduanya tidak sadar Bahwa Mereka saling Beradu pekat Suaramu tapi Masih percuma Alunannya mengais pedih Langkahnya meringkuk mati Seolah tak tahu Terus tanya Siapakah tuannya Mungkin Ternyata Memang bukan kamu Dan di saat seperti ini Gelap biasanya Keluar terbahak Terbatuk Tertatih meracau rindu Kalau ia lumpuh Dan tak dapat lagi menghentak Suara liar yang kerap Bersenandung pedih Mungkin ini sekedar hantumu Menyanyi Main-main dengan duka malamku
0
Sep 20, 2015
Sep 20, 2015 at 7:19 AM UTC
Sesikat Sakit Gentayangan
Palembang 27 Maret 2017 Untuk diriku sang penikmat kopi Aku telah bangun saat fajar masih terlelap Kemudian aku membuka jendela agar embun menatapku Ku biarkan tamu pagi nan sejuk menyapu rambutku yang pirang Seketika itu aku teringat tuk menyeruput kopi di gelas favoritku Segelas Capuccinno hangat di tanganku sekarang Mulai ku teguk sambil ku pejamkan mata Ku rasakan manisnya krimer di lidahku Mengingatkanku pada kamu Pemanis di dalam hidupku Aku hendak bekerja seperti biasanya Kini mentari menantangku untuk menakhlukkannya Ku pasang perisaiku dengan lengkap Kemudian ku berpikir tuk mendapatkan segelas Caramel Frappe tuk menyejukkan hari ini Tak terasa mentari kini telah lelah tuk bersinar Sehingga membuat dunia kian gelap Aku seduh Black Coffee tanpa gula Tak ku hiraukan rasa pahitnya ketika menyentuh lidahku Lebih pahit mana dengan kenyataan aku hidup tanpa cintamu?
0
Mar 27, 2017
Mar 27, 2017 at 12:49 AM UTC
Dear Me, Sang Penikmat Kopi
Jakarta, 22 Mei 2008 Ku tuliskan apa yang ku rasakan Jantungku berdebar kencang Nadiku bergetar kuat Darah ku mengalir deras Ku gambarkan apa yang kurasakan Aku teriak keras Aku mengacak semua Aku menangis kencang Ragaku tegang Mataku kantuk Suasana seram Begitu malam gelap Larut sudah ku tonton Cerita hantu bertaruh nyawa Ya, meski hanya sebuah cerita Namun ini karya mereka Yang harus dihargai Ada pun senang melihatnya
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:40 AM UTC
Rasa 1
Aku jahat bukan? Merampas hatimu ketika kau sesungguhnya masih sangat mencintainya? Aku egois kah? Membiarkan hati kecilmu itu menghianati cinta yang sebenarnya. Cinta yg lain yang lebih besar dari yang kupunya. Bukankah aku jahat? Merasa diriku yang sangat sakit, padahal hatimulah yang lebih sakit dari ini. Kau tersiksa dalam kebimbanganmu sendiri. Aku tahu, aku hanya menjadi bayang-bayang gelap diantara kalian. Aku juga tahu kau hanya rehat sejenak darinya. Maaf, telah menjadi orang ketiga diantara kau dan dirinya~
0
Oct 23, 2013
Oct 23, 2013 at 8:00 PM UTC
Yes
/1/ Merindu berarti meranggas Bak guguran detik demi detik Pada tangan pedih di petang hari Merindu berarti meradang Saat senandung semu Dari semua kisahmu Menorehkan luka Pada jejak lisanku Yang tak kunjung bermuara Karena kita yang bertualang Hanyalah jiwa dalam deru Jerit /2/ Siapa yang tinggal dalam gelap Jika bukan sekumpul hantu Dan kepulan sisa ragamu Yang denyut nadinya Sangat susah untuk kuraba Untuk apa membunuh diri Bila ternyata Tak pernah hidup Di cinta hingar bingar Di pilu tak berpijar Sumbu tubuhmu Akankah menyala lagi Apabila ku dekap dalam ratap? /3/ Terbitnya kabut Setelah fajar Takkan bisa Gantikan Kenanganmu dalam redup
0
Mar 19, 2016
Mar 19, 2016 at 3:43 AM UTC
Petuah Kuntum Kemarau