Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"gaduh" poems
*Aku lari ke hutan, kemudian menyanyiku Aku lari ke pantai, kemudian teriakku Sepi… Sepi dan sendiri aku benci. Aku ingin bingar. Aku mau di pasar. Bosan aku dengan penat, dan enyah saja kau, pekat! Seperti berjelaga jika aku sendiri Pecahkan saja gelasnya biar ramai Biar mengaduh sampai gaduh Ahh.. ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih Kenapa tak goyangkan saja loncengnya? Biar terderah, atau… aku harus lari ke hutan belok ke pantai?*
0
Jun 9, 2013
Jun 9, 2013 at 4:43 AM UTC
Puisi Rangga
menangis dan berontak jiwa muda melawan prejudis dan komunis minda anak kecil pula dijajah katanya ini untuk masa depan namun mereka lupa dan sentiasa lupa dunia ini sifatnya selamanya sementara diktator terus tersenyum korupsi negeri negeri menjadi bukti mereka kuasa besar kapal empayar tidak lagi membawa selamat malah --membawa mangsa untuk segala seterusnya rakyat pula umpama anak kecil terumbang ambing dan terus merengek gaduh rebutkan yang tak pasti cuma ada beberapa yang berani, kan kedengaran suaranya lalu mereka itu dibunuh agar senyap agar tiada masalah ditelinga kelihatan belia itu duduk menongkat dagu keluh resah dan bimbangnya kedengaran berat nafasnya --lalu berapa lama lagi? tanda soal yang tidak berjawab di minda nya umpama terdampar di laut dengan pelampung menanti untuk diselamat tapi masih tak pasti. seru untuk semua yang ada; yang masih berkudrat yang masih waras akalnya --lalu berapa lama lagi? -f 1029pm oct 2nd
0
Oct 2, 2017
Oct 2, 2017 at 10:20 AM UTC
dunia
terbalas pertemuan singkat tadi siang dengan sedikit berdebah dengan ego malu menukik dan gemetar beramai gaduh sulit juga, berjuang dengan lara yang kian runyam kian dalam kian menepis dalam malam aku yakin dia bertanya "kenapa dia?" haha.. apa aku harus jawab aku rindu aku rindu seperti dulu bukan apa-apa tidak ada lugas kata atau tindakannya hanya saja aku sudah terlajur menyukainya menyukai derap langkahnya lemah gemulai tubuhnya beradu dengan udara sekitar aku juga suka saat matanya bertemu dengan mataku sisi lainnya muncul lebih hangat dari yang kubayangkan bolehkah juga aku berseru ? aku menyukaimu ! sangat.. lungai sudah jika itu terucap pasrah.. tapi tenang, aku masi pandai menyimpan masih pandai menukik ego tapi tetap aku rindu,.,.,.,. -rindu,mengenang-
0
May 22, 2018
May 22, 2018 at 12:18 PM UTC
Rindu
Papa sekarang sudah di puncak Turun kebawah bukan tugasnya. Mama hanya bisa terseret Laksanakan tugas seorang pasangan. Apadayaku yang berada di sini.. dalam, dalam, di bawah tanah. berteriak jua tak sampai bisingku tak kuasa menyentuh Semata-mata mengandalkan kacang; puluhan bungkus tuk bahagia Semata-mata mengandalkan air; puluhan gelas tuk air mata Mama mengingatkan tuk bersua Nyatanya bersua itu lemah, dan anak 16 tahun tidak kuat. Gaduh, gaduh, gaduh saja bisanya. Semak pun belukar menjadi-jadi sebuah bentuk proteksi yang nyata. Biarkan durinya berfungsi; bak pedang tuk mereka.
0
Feb 13, 2015
Feb 13, 2015 at 8:53 AM UTC
Untitled
kemudian menyala kembali keributan ombak laut yang dirasa gaduh sangaAAAAAAT di wajahmu ketika melihat sesuatu yang mengecewakan.
0
Jun 23, 2020
Jun 23, 2020 at 8:21 AM UTC
Cemb u r u
mengingatmu; sepi di luar mata gaduh di dalam kepala
0
May 14, 2018
May 14, 2018 at 5:07 AM UTC
aku, mengingat, dan kamu.
Bandung begitu kelabu, dadaku kosong rentang fokus kabur entah kemana ada kacau yang meruang di tubuhku tersisip kicau yang kian gaduh kepalaku terus menerus menimbang mempertanyakan perkara ranah juang bolak balik singgah pada keraguan lalu sebentar mampir pada keyakinan ia, aku, terpicu keras sekali kilas balik membeludak dalam benak beririsan dengan manisnya kenyataan yang juga selalu menjagaku erat aku benci terpicu seperti ini, guru geografi pernah ajarkan ketika panas bertemu dingin, terjadilah puting beliung ada puting beliung yang meruang di tubuhku lalu hembusan nafas mengembalikan sadarku cepat-cepat harus kukerdilkan imajinasi ya Bapa di Sorga, bebaskan aku dari kekang gelisah aku hanya ingin melepaskan apa yang perlu dilepaskan aku lelah mengunci diri dalam kegelapan
0
Mar 2, 2020
Mar 2, 2020 at 1:44 PM UTC
Residu Rasa
Pada langit-langit Tuhan yang menampung gaduh pemaksaan kita. Dari riuh ramai yang dipanjatkan di pertiga malam-malam yang kantuk. Pada kumpulan awan yang menerima laga dari setiap doa. Kita semua akan bertambah, Ntah kali ini, ntah melalui yang lainnya. Medan 27 Januari 2020
0
Jan 27, 2020
Jan 27, 2020 at 5:42 AM UTC
-
Rasakan aku di setiap deruh nafasmu Dekap aku dalam malam sunyimu Bercengkramalah denganku gaduh di dalam ruang petakan Sejenak tenang tenggelam dan terhanyutkan kedalam tatapan hangatku Peluh dalam gelap Hanya deruh nafas yang kudengar Sempurna sudah aku menjadi pecandu Pecandu aurora Auroraku
0
Mar 19, 2018
Mar 19, 2018 at 5:07 AM UTC
Oh Auroraku