Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"dinding" poems
waktu itu kita jalan keluar malam-malam awalnya sedikit hangat didalam ruangan yang temaram lalu kita melangkah keluar, dan dinginnya malam buat semuanya menjadi suram sepertinya angin kencang menjalar dengan kejam malam menjadi bisu, sambil berjalan pun kita berdua diam lalu kamu menunjuk-nunjuk bangunan dengan lampu-lampu dan dinding kayu sepertinya hangat disitu, kalau tidak salah kamu bilang begitu saya setuju dengan kamu saya selalu setuju dijalanan kecil kita melangkah kesitu buru-buru didalam sana udara dingin sudah tidak terasa lagi dengan hati yang riang saya pilih coklat panas dari menu yang kamu beri kata orang coklat bisa menghasilkan hormon endorfin bisa membuat hari yang sedang bermuram durja menjadi tersenyum kembali lalu saat itu coklat panas sudah ada didepan saya saya sentuh pinggiran gelasnya hangat saya minum perlahan-lahan sedikit demi sedikit, tanpa tergesa-gesa sengaja karena tidak terlalu besar ukurannya kalau cepat habis bagaimana? lama kelamaan habis, semuanya juga akan habis saya ingin gelas kosong bekas coklat panas ini tidak digubris tapi akhirnya pelayan itu datang dan mengambilnya sambil tersenyum manis kehangatan kembali terkikis dan menipis kita kembali berdiri dan keluar menelusuri malam yang dingin kembali bergelut dengan angin ingin saya bawa satu gelas coklat panas itu lagi tapi dia akan membeku seiring berjalannya waktu, mungkin tanpa suara, saya tahu kamu mendengar tanpa cahaya, saya tahu kamu melihat tanpa kata, saya tahu kamu mengerti maka, terimakasih untuk ‘coklat panas’ nya. mungkin bisa kita seduh kembali suatu saat nanti Jakarta, 27 Desember 2012 (puisi ini bukan tentang apa-apa. puisi ini tidak berarti apa-apa. puisi ini tidak ada yang mengerti selain saya dan satu orang lagi. puisi ini tentang sebuah Rahasia)
0
Feb 13, 2013
Feb 13, 2013 at 12:59 AM UTC
coklat panas
waktu itu kita jalan keluar malam-malam awalnya sedikit hangat didalam ruangan yang temaram lalu kita melangkah keluar, dan dinginnya malam buat semuanya menjadi suram sepertinya angin kencang menjalar dengan kejam malam menjadi bisu, sambil berjalan pun kita berdua diam lalu kamu menunjuk-nunjuk bangunan dengan lampu-lampu dan dinding kayu sepertinya hangat disitu, kalau tidak salah kamu bilang begitu saya setuju dengan kamu saya selalu setuju dijalanan kecil kita melangkah kesitu buru-buru didalam sana udara dingin sudah tidak terasa lagi dengan hati yang riang saya pilih coklat panas dari menu yang kamu beri kata orang coklat bisa menghasilkan hormon endorfin bisa membuat hari yang sedang bermuram durja menjadi tersenyum kembali lalu saat itu coklat panas sudah ada didepan saya saya sentuh pinggiran gelasnya hangat saya minum perlahan-lahan sedikit demi sedikit, tanpa tergesa-gesa sengaja karena tidak terlalu besar ukurannya kalau cepat habis bagaimana? lama kelamaan habis, semuanya juga akan habis saya ingin gelas kosong bekas coklat panas ini tidak digubris tapi akhirnya pelayan itu datang dan mengambilnya sambil tersenyum manis kehangatan kembali terkikis dan menipis kita kembali berdiri dan keluar menelusuri malam yang dingin kembali bergelut dengan angin ingin saya bawa satu gelas coklat panas itu lagi tapi dia akan membeku seiring berjalannya waktu, mungkin tanpa suara, saya tahu kamu mendengar tanpa cahaya, saya tahu kamu melihat tanpa kata, saya tahu kamu mengerti maka, terimakasih untuk ‘coklat panas’ nya. mungkin bisa kita seduh kembali suatu saat nanti Jakarta, 27 Desember 2012 (puisi ini bukan tentang apa-apa. puisi ini tidak berarti apa-apa. puisi ini tidak ada yang mengerti selain saya dan satu orang lagi. puisi ini tentang sebuah Rahasia)
Continue reading...
37
"Dunia ini terlalu indah untuk dilukis, Sayang," Begitu katanya "Dunia ini juga terlalu luas untuk dipahami, Sayang," Begitu pula katanya Aku tetap tak mengerti Mengapa masih ada orang yang merasa dunia ini Terlalu sempit untuk diketahui Terlalu sulit untuk dijelajahi Apakah jendela cakrawala mereka saja yang sempit? Atau nyali mereka saja yang tak bisa berdiri sendiri? Hanya berani menguntit ditemani mata menyipit? Barangkali pikiran mereka juga hanya bisa mengintip? "Dunia ini dipenuhi orang aneh, Sayangku," Ujarnya kemudian Secangkir teh diteguknya perlahan "Dunia ini juga dipenuhi orang berotak kosong, kamu tahu itu," Kukatakan dalam hati bahwa aku tahu Tentu saja kami berdua tahu Bumi ini dihuni benak-benak yang melayang liar di balik masing-masing bahu Yang tak bisa diam walau hanya menunggu waktu Menunggu pikiran gila lainnya merayap masuk ke dalam kepalanya Membuat secarik kertas dan sebuah pulpen meleleh di tangannya Melantunkan kalimat-kalimat indah menjadi sebuah sajak Menyulapnya menjadi sebuah mahakarya yang terus menanjak Kukatakan sekali lagi dalam hati bahwa aku tahu Tentu saja kami berdua tahu Bumi ini juga dihuni benak-benak licik yang tak punya dinding malu Yang meraup beribu untung tak kenal waktu Diam-diam aku bertanya juga Di manakah jiwa-jiwa kotor itu bisa membeli dinding malu? Mengapa mentalnya tak beda jauh dengan mental para benalu? Orang-orang aneh itu masih terus menunggu waktu Orang-orang berotak kosong itu malah berlari meninggalkan waktu Orang-orang aneh itu terus menciptakan karya Orang-orang berotak kosong itu malah dibicarakan di berita pagi dan dunia maya Orang-orang aneh itu terus menumbuhkan bunga di atas nama bangsa Orang-orang berotak kosong itu malah menumbuhkan duri di bawah nama bangsa Seperti yang saat ini banyak terjadi, Seniman dan Koruptor.
0
Jan 18, 2014
Jan 18, 2014 at 2:37 AM UTC
Dunia, Seni, Koruptor
"Dunia ini terlalu indah untuk dilukis, Sayang," Begitu katanya "Dunia ini juga terlalu luas untuk dipahami, Sayang," Begitu pula katanya Aku tetap tak mengerti Mengapa masih ada orang yang merasa dunia ini Terlalu sempit untuk diketahui Terlalu sulit untuk dijelajahi Apakah jendela cakrawala mereka saja yang sempit? Atau nyali mereka saja yang tak bisa berdiri sendiri? Hanya berani menguntit ditemani mata menyipit? Barangkali pikiran mereka juga hanya bisa mengintip? "Dunia ini dipenuhi orang aneh, Sayangku," Ujarnya kemudian Secangkir teh diteguknya perlahan "Dunia ini juga dipenuhi orang berotak kosong, kamu tahu itu," Kukatakan dalam hati bahwa aku tahu Tentu saja kami berdua tahu Bumi ini dihuni benak-benak yang melayang liar di balik masing-masing bahu Yang tak bisa diam walau hanya menunggu waktu Menunggu pikiran gila lainnya merayap masuk ke dalam kepalanya Membuat secarik kertas dan sebuah pulpen meleleh di tangannya Melantunkan kalimat-kalimat indah menjadi sebuah sajak Menyulapnya menjadi sebuah mahakarya yang terus menanjak Kukatakan sekali lagi dalam hati bahwa aku tahu Tentu saja kami berdua tahu Bumi ini juga dihuni benak-benak licik yang tak punya dinding malu Yang meraup beribu untung tak kenal waktu Diam-diam aku bertanya juga Di manakah jiwa-jiwa kotor itu bisa membeli dinding malu? Mengapa mentalnya tak beda jauh dengan mental para benalu? Orang-orang aneh itu masih terus menunggu waktu Orang-orang berotak kosong itu malah berlari meninggalkan waktu Orang-orang aneh itu terus menciptakan karya Orang-orang berotak kosong itu malah dibicarakan di berita pagi dan dunia maya Orang-orang aneh itu terus menumbuhkan bunga di atas nama bangsa Orang-orang berotak kosong itu malah menumbuhkan duri di bawah nama bangsa Seperti yang saat ini banyak terjadi, Seniman dan Koruptor.
Continue reading...
39
Aku memiliki seribu mimpi tapi ibu bilang aku tak tahu diri Tak mengerti keadaan dan kondisi, akupun berhenti membicarakan itu dengannya. Kopi panas yang ku seduh dengan kekecewaan kemarin pagi diseruput lega olehnya. "Jadikan perkataan mereka cambuk bagimu" Salah seorang teman pernah berkata begitu padaku. Tapi kepalaku ini berisi setan-setan bengal! Mereka hanya mengerti kesedihan dan kemarahan. Aku tidur dengan tangan penuh tinta merah setiap malam, berusaha memindahkan kotak-kotak terlarang dari sudut mimpi ke ruang kegagalan. Mereka berhenti mencoba membunuhku tapi kali ini mereka menaruh racun disetiap gelas yang akan ku teguk Bukan! Bukan racun mematikan tapi cukup membuat jiwaku lumpuh untuk waktu yang tak menentu Aku berhenti membicarakan mimpi-mimpiku kepada siapapun Aku tak ingin mimpi yang tersisa hancur diinjak-injak oleh kaki yang bahkan tak peduli berapa lama aku membangunnya 'kembali' Tahun-tahun tak bernyawa Meludah kata-kata serapah seakan hatiku dinding beton dingin Kecukupan seperti apa yang membuat mereka bahagia! Atau biarkan aku tergeletak di kasur lembut itu Jangan! Jangan coba bangunkan aku Mungkin ketenangan di dalam sana mampu meredam kekacauan di kepala malamku
0
Jan 23, 2016
Jan 23, 2016 at 12:53 AM UTC
Kotak Mimpi
Bapak, aku ingin pulang Aku rindu dengan rumah atau ide akan rumah Tapi kau telah mempunyainya. Aku rindu disambut harum masakan buah tangan sang Ibu Tapi kau tak pernah menyicipinya, Ibu tak bisa masak. Aku rindu berduduk diatas kursi kayu yang terletak di ruang makan Tapi kau bahkan tak pernah melakukannya. Kau, tak pernah makan. Aku rindu akan ruang sesak penuh sayang Akan kentalnya keakraban yang melekat di dinding-dinding bisu; yang dalam diam mendengar isak tangis setiap manusia yang menjajalkan diri dalam rumah ini Akan hangatnya cinta kasih yang tergurat diantara bisingnya suara televisi yang kau nyalakan setiap Minggu jam tujuh pagi dan gaduhnya percakapan seorang diri yang terproyeksi dalam tiap benak manusia, lagi-lagi, dirumah ini. Kau tak akan menemukannya disana Aku dan Ibumu ini hanyalah tamu Kau adalah rumahmu Tapi kau adalah bukan tempat singgah Badanmu bak ruang luas tak terbatas Tamu-tamu tak bisa lalu-lalang melalui satu pintu saja Banyak pintu-pintu lain didalamnya namun tak terbuka Ribuan pintu tersebut tertutup adanya Terkunci dengan rapat Namun kuncinya telah kau telan   Dibalik pintu itu, Lagi-lagi ribuan misteri Teka-teki tentang dirimu yang tersimpan dalam boks berbagai macam ukuran Tersimpan terlalu aman Jiwamu adalah fondasi Kebaikanmu harum masakan yang mengundang setiap orang Keingintahuanmu benda mahal; memikat tamu untuk ingin bertualang ke setiap ruang Kenekatanmu—sisi Sang Pembangkang yang kusayang—menantang mereka untuk tinggal lebih lama Empatimu alunan musik yang menyodorkan kenyamanan Namun parasmu, anakku sayang, Matras termahal yang membuat mereka ingin menginap Hati-hati dalam memberi izin Jaga rumahmu Bersihkan Bagiku Istana terbesar di Dunia tak ada nilainya jika disandingkan dengan Rumah yang kau punya.
0
Mar 24, 2019
Mar 24, 2019 at 1:23 AM UTC
RUMAH
Bapak, aku ingin pulang Aku rindu dengan rumah atau ide akan rumah Tapi kau telah mempunyainya. Aku rindu disambut harum masakan buah tangan sang Ibu Tapi kau tak pernah menyicipinya, Ibu tak bisa masak. Aku rindu berduduk diatas kursi kayu yang terletak di ruang makan Tapi kau bahkan tak pernah melakukannya. Kau, tak pernah makan. Aku rindu akan ruang sesak penuh sayang Akan kentalnya keakraban yang melekat di dinding-dinding bisu; yang dalam diam mendengar isak tangis setiap manusia yang menjajalkan diri dalam rumah ini Akan hangatnya cinta kasih yang tergurat diantara bisingnya suara televisi yang kau nyalakan setiap Minggu jam tujuh pagi dan gaduhnya percakapan seorang diri yang terproyeksi dalam tiap benak manusia, lagi-lagi, dirumah ini. Kau tak akan menemukannya disana Aku dan Ibumu ini hanyalah tamu Kau adalah rumahmu Tapi kau adalah bukan tempat singgah Badanmu bak ruang luas tak terbatas Tamu-tamu tak bisa lalu-lalang melalui satu pintu saja Banyak pintu-pintu lain didalamnya namun tak terbuka Ribuan pintu tersebut tertutup adanya Terkunci dengan rapat Namun kuncinya telah kau telan   Dibalik pintu itu, Lagi-lagi ribuan misteri Teka-teki tentang dirimu yang tersimpan dalam boks berbagai macam ukuran Tersimpan terlalu aman Jiwamu adalah fondasi Kebaikanmu harum masakan yang mengundang setiap orang Keingintahuanmu benda mahal; memikat tamu untuk ingin bertualang ke setiap ruang Kenekatanmu—sisi Sang Pembangkang yang kusayang—menantang mereka untuk tinggal lebih lama Empatimu alunan musik yang menyodorkan kenyamanan Namun parasmu, anakku sayang, Matras termahal yang membuat mereka ingin menginap Hati-hati dalam memberi izin Jaga rumahmu Bersihkan Bagiku Istana terbesar di Dunia tak ada nilainya jika disandingkan dengan Rumah yang kau punya.
Continue reading...
36
Kerak dinding merapuh Menyapuh bata, menyangainya Alamat hujan atas gersang Laksana injil bagi pemeluknya ---------------------------------------------- Ngengat dan sesak beraduk Alasan bagi kuda putih yang tak lagi berlari Hari ini ia merangkak Kesakitan atas luka entah dimana Sakit tampak dari air matanya Tetesan berawai dan putus asa
0
May 28, 2016
May 28, 2016 at 12:28 PM UTC
Saksi kepahitan
Sesekali Malam bersaksi Ialah yang kau pandang Lewat satu-satunya Jendela hatimu Jam dinding Pada tiap detiknya Merana Setelah menghitung Detak jantungmu Tembok kerap Meniup nestapa Saat kau di pembaringan Meliuk pada Hamburan mimpimu Selamat tidur, Degup duka. Aku sebuah gelas Di ujung kamarmu Yang terlalu penuh Minumlah sebelum Terlelap Agar aku dapat juga Bersaksi perihal Kecup dan detak jantungmu
0
Mar 19, 2016
Mar 19, 2016 at 3:41 AM UTC
Angan
Jawa Barat, Malam ke-22. Diantara sela sela dini hari; Diantara lantai kayu, atap lapuk, dan dinding rotan, Aku merindukanmu.
0
Sep 13, 2018
Sep 13, 2018 at 7:22 AM UTC
Diantara
Noong nakita ka nung Agosto ako'y nahumaling Sana pala ay hindi nalang ako nagising Manatili nalang sana akong lasing O ikulong ang sarili sa gitna ng apat na dinding Ang puso ko ay nadudurog Habang ang buong mundo ay natutulog Sa gabing ito ay gusto kong masunog Bakit ba pagmamahal ko sayo'y hindi maalog Kaya kong maghintay ngunit huli na pala Ikaw lang ang nasa isip ko ng isang dekada Nalilito, nababaliw, nilalabas lahat sa tula Hindi na ba titigil itong mga luha Ikaw mula noon, ikaw hanggang ngayon Marahil ako ay napag-iwanan ng panahon Kung magiging akin ka ako'y higit pa sa kampeon Ngayon lahat ng damdamin ko'y ikakahon Ano pa ba ang magagawa ko at masyado na'kong huli Imposible naman ako'y iyong mapili Mahal parin kita hanggang sa huli Hanggang sa magkita tayong muli Noong nakita ka nung Agosto ako'y nahumaling Sana pala ay hindi nalang ako nagising Manatili nalang sana akong lasing O ikulong ang sarili sa gitna ng apat na dinding
0
Sep 6, 2018
Sep 6, 2018 at 4:29 PM UTC
Para sa aking bituin at liwanag
tuan menjejak nona mendongak 'apa?' Nona bertanya nafas tuan dihela 'tidak apa-apa' 'nona, sudah berapa lama kau disini?' nona berdiri mengintip dari balik dinding 'cukup lama. yang jelas, aku sendiri' tuan tersenyum nona berubah ranum dinding perantara, runtuh 'sampai nanti, nona' 'sampai mati, tuan' sekatmu, dekatku jarakmu, ragaku tawamu, tangisku gelakmu, senduku 'hendak kemana tuan?' menoleh pun enggan nona tertahan nona kembali bertatapan dengan puing-puing dinding yang berserakan
0
Aug 4, 2018
Aug 4, 2018 at 10:51 AM UTC
amatir (bahasa)
seluas alam fikiran yang berkelana, aku terbang melintasi dinding-dinding putih, meratapi langit-langit hingga tak berdaya, biar saja sepi, toh aku sudah tidak peduli, toh aku sudah menikmati perlahan keheningan yang mencengkam ini, walaupun tidak bahagia, setidaknya semua tenang untuk sementara.
0
Jan 17, 2019
Jan 17, 2019 at 1:21 AM UTC
Indahnya Sepi
Umur berpihak dengan raga menahan gejolak membara jiwa umur menggengam hati dan berdoa "tuhan, jangan kau membuatnya buta mengejar idealisme, terkekang fatamorgana. kembalikanlah ia, ke mana hidup menuruti realita." umur makin takut melihatnya mendobrak dinding bata batasnya dengan dunia "Tiada guna, di luar sana kau hanya akan binasa, ku hanya memiliki cinta dan ku tak ingin kau kecewa..." "Bukan cinta bila tangisan membanjiri mata, bukan kasih jika wilayah ditempa membatasi ruang bermuara semua perilaku hina padaku tertimpa ku terima dengan hati leluasa tanpanya ku tak akan bermetamorfosa jangan kau berlara-lara melihat juangku yang remaja kekacauan ini indah membuatku merasakan untuk kali pertama hidup tiada kesempatan kedua."
0
Nov 4, 2019
Nov 4, 2019 at 12:12 PM UTC
Indah, Kacau
Ingin rasanya melayang jauh ke masa lampau Takkan ku biarkan sosoknya hadir Jauh ke masa lampau... Takkan ku biarkan kebahagiaan tersingkir Saat awan lahir ke peraduan Kenangannya memanggil manja Dengan menerobos dinding kenyataan Nyatanya ia telah hilang tak membekas apa-apa Perasaan semakin tinggi menjulang Kamu - Senja - Aku akan selamanya satu Kau benar telah memilih pergi Aku benar telah memutuskan menunggumu kembali.
0
Jun 4, 2018
Jun 4, 2018 at 8:25 AM UTC
Untuk Perasaan.
Cinta yang terangkat cepat Bagai desir angin senada Hilang Serapi kau susun dinding berduri Mencari kebenaran Mencari teman Mencari kebenaran Mencari hati berkeping Amarah Berhenti, biar sekejap saja Duniaku sudah neraka bagiku Cukup Aku ingin hidup.
0
Sep 24, 2017
Sep 24, 2017 at 7:48 AM UTC
Pelukis Dendam.
Kenapa diam? Matamu berisik ingin berbisik—perasaanku ini asing, mengusik—tapi kamu tahu, kan? Kamu masih diam. Kenapa menjauh? Aku bukan rumah tak bertuan—aku ini sudah dirumah—tapi kamu salah rumah, kan? Kamu diam lagi. Kenapa mengelak? Setiap kenangan ada di angan, kamu langsung meninggalkan ruangan—jangan, jangan kamu, tidak boleh kamu—dirapalkan terus menerus seperti denting jam dinding tua diujung jalan, kamu takut, kan? Kamu diam lagi. Kenapa menyerah? Rautmu tidak terbaca, saat iris kita beradu lewat kaca. Begitu pula dengan langkahmu, yang berhenti setelah ujung sepatu kita bertemu. Inginku kita bertemu lagi besok pagi, nyatanya mulutmu hanya tahu elegi—karena aku maunya dia, makanya aku meninggalkan ruangan, cukup dia—rasa ini mati sebelum sempat mendapatkan hati.
0
Feb 6, 2021
Feb 6, 2021 at 1:48 PM UTC
—bukan aku.
bara tubuhku satu nafas, tikaman di perut tapi bukan dari luar bukan dari luar cairan menjelma jadi belati satu tegukan ramuan rempah sakti rimpang agung warisan bumi pertiwi jemari kuning si mbok hadir membukti hangat jamu kuning pekat nan wangi meresap, dinding terkikis rasanya jantung diri digenggam keji kini terlepas dari ragaku sebegini ampuhnya hingga ia menyerah luruh sewaktu-waktu berdalih biasa saja itu hanya gumpalan darah biasa tidak ada yamg mengambil jiwa secara paksa maklumkanlah tubuhnya saja belum terbentuk sempurna itu hanya gumpalan darah biasa
0
Sep 24, 2019
Sep 24, 2019 at 12:13 PM UTC
Secangkir Jamu Hangat
Hatimu tumpah, malam pecah Maka sirna sudah gelisah Dan semua kalimat lelah Hatimu tumpah, kemudian malam terbelah Dan aku hanya bisa mencintaimu lewat dinding tanpa celah
0
Apr 29, 2025
Apr 29, 2025 at 11:13 AM UTC
April 2020
Mungkin benar adanya, menantang ketidaktahuan telah dengan pasti menggiring kesadaran pada sebuah langkah menuju keberanian bersikap. Yang karenanya juga, telah turut menjadikan hati begitu lapang di ruang yang begitu sempit, menempatkan intuisi dalam usaha menyeimbangkan ego dan benci, menuntun arah pikiran menuju muara kebijaksanaan. Sebuah pertanyaan akan kegelisahan, berhak untuk ditelusuri muasal kebenarannya. Semua berhak akan hal itu. Untuk sebuah dinding yang membatasi penglihatan indrawi, merobohkannya adalah kepatutan. Untuk sebuah ketidaktahuan yang memenjarakan, manusia yang berjuang atas akal pikirannya sendiri—berhak untuk terbebas dari kungkungannya. Meminjam dari Aristoteles, terbang menuju keselarasan ide serta realitas yang tidak terbatas! Jangan biarkan gelap menguasai malam. Usaha demi setitik cahaya harus selalu terpatri dalam diri. Melekatkan sikap keraguan-raguan pada pikiran adalah sebuah keharusan. Hanya itu bahan bakar yang paling mungkin, untuk menyalakan setitik cahaya yang dimimpikan. Biarlah menjadi berbeda, biarlah diasingkan. Karena bagi mereka yang merindukan merdeka, beranjak dari ketidaktahuan adalah sebuah keniscayaan!
0
Feb 22, 2021
Feb 22, 2021 at 10:24 AM UTC
MENANTANG KETIDAKTAHUAN
beberapa musim hujan di bulan november telah berlalu, daun daun gugur dan menunggu untuk mekar kembali, banyak orang datang dan pergi tidak ada seorang pun disini, aku kembali menuliskan tentang hidupku dan memeriksanya, atas semua kesalahan yang telah kubuat, dan aku takut, aku mencoba membersihkan luka didalam diriku yang begitu dalam, jadi aku berharap untuk melihatmu bahkan jika kamu dapat melihat saya saya tidak dapat melihat kamu, aku menatap dinding hijau dan bertanya tanya bisakah aku melihatmu sekarang? bisakah aku memelukmu sekarang? hanya kamu yang sabar saat aku kebingungan, Lihat, orang berubah setiap saat mereka tidak menyukai anda, hari berikutnya mereka menyukainya dan aku berharap semua orang bisa mencintaiku seperti dirimu mencintaiku 2025 reydmh
0
Apr 19, 2025
Apr 19, 2025 at 4:16 AM UTC
Bolehkah aku melihatmu
tanda tanyaku masih tak kau jawab . tak sempatku tanyakan apa kau tak lelah saat bergadang? apa kau suka menangis dibahuku? apa kau suka saat kita berbaring senyap dilantai melihat dinding kosong? . . dan segala apa yg ada di bumi aku ingin berbahas denganmu tentang warna langit itu refleksi air laut aku ingin berbahas dgn mu tentang korupsi dunia aku ingin kau bernyanyi sambil aku bersyukur . . Tapi semesta tak setuju kita tak cukup waktu.. aku harus ingat kau memang ada tapi kita tak pernah bertemu lagi
0
Oct 23, 2021
Oct 23, 2021 at 11:45 AM UTC
ATYPKM
Aku terdiam Di balik suara yang terus menggema Mengeja tanya Yang tak lahir dari mata mereka. Kupungut satu per satu kebingungan Yang tak pernah diminta Sambil menyelipkan rasa kesal Di antara hela napas. Tak ada telinga Hanya dinding yang berdiri tegak Menampung gema tanpa makna. Dan ternyata Lelah juga Menjadi penjaga sunyi Yang mereka sebut guru.
0
May 14, 2025
May 14, 2025 at 9:17 AM UTC
Penjaga Sunyi