Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"dimana" poems
*ada kalanya dimana aku akan duduk tersungkur di pojok ruangan memandangi selembar foto dirimu tersenyum bahagia disebelahnya kau sangat cocok bersamanya bahkan, tangan yang dulu rasanya pas disela-sela tanganku itu terlihat lebih cocok bersamanya dibandingkan denganku sudah beberapa kali aku mencoba untuk merelakanmu tanpa pernah memilikimu ikatan batinku terlalu kuat tidak bisa begitu saja aku melepasnya 4 tahun bukanlah waktu yang sebentar, bukan? aku sudah tidak menunggumu pulang lagi karena aku tahu kau tidak akan pernah pulang lagi kepadaku dan aku harus belajar melepasmu*
0
Aug 14, 2014
Aug 14, 2014 at 8:53 PM UTC
tanpa judul
Inilah Proses Kematian dan Hancurnya Tubuh Kita! Sesaat sebelum mati, Anda akan merasakan jantung berhenti berdetak, nafas tertahan dan badan bergetar. Anda merasa dingin ditelinga. Darah berubah menjadi asam dan tenggorokan berkontraksi. 0 Menit Kematian secara medis terjadi ketika otak kehabisan supply oksigen. 1 Menit Darah berubah warna dan otot kehilangan kontraksi, isi kantung kemih keluar tanpa izin. 3 Menit Sel-sel otak tewas secara masal. Saat ini otak benar-benar berhenti berpikir. 4 – 5 Menit Pupil mata membesar dan berselaput. Bola mata mengkerut karena kehilangan tekanan darah. 7 – 9 Menit Penghubung ke otak mulai mati. 1 – 4 Jam Rigor Mortis (fase dimana keseluruhan otot di tubuh menjadi kaku) membuat otot kaku dan rambut berdiri, kesannya rambut tetap tumbuh setelah mati. 4 – 6 Jam Rigor Mortis Terus beraksi. Darah yang berkumpul lalu mati dan warna kulit menghitam. 6 Jam Otot masih berkontraksi. Proses penghancuran, seperti efek alkohol masih berjalan. 8 Jam Suhu tubuh langsung menurun drastis. 24 – 72 Jam Isi perut membusuk oleh mikroba dan pankreas mulai mencerna dirinya sendiri. 36 – 48 Jam Rigor Mortis berhenti, tubuh anda selentur penari balerina. 3 – 5 Hari Pembusukan mengakibatkan luka skala besar, darah menetes keluar dari mulut dan hidung. 8 – 10 Hari Warna tubuh berubah dari hijau ke merah sejalan dengan membusuknya darah. Beberapa Minggu Rambut, kuku dan gigi dengan mudahnya terlepas. Satu Bulan Kulit Anda mulai mencair. Satu Tahun Tidak ada lagi yang tersisa dari tubuh Anda. Anda yang sewaktu hidupnya cantik, gagah, ganteng, kaya dan berkuasa, sekarang hanyalah tumpukan tulang-belulang yang menyedihkan. Jadi, apa lagi yg mau disombongkan org sebenarnya???? BAGUS UNTUK DIRENUNGKAN..... Kita tak membawa apapun juga saat kita meninggalkan dunia yg fana ini..
0
Mar 27, 2015
Mar 27, 2015 at 5:20 AM UTC
Inallillahi
Inilah Proses Kematian dan Hancurnya Tubuh Kita! Sesaat sebelum mati, Anda akan merasakan jantung berhenti berdetak, nafas tertahan dan badan bergetar. Anda merasa dingin ditelinga. Darah berubah menjadi asam dan tenggorokan berkontraksi. 0 Menit Kematian secara medis terjadi ketika otak kehabisan supply oksigen. 1 Menit Darah berubah warna dan otot kehilangan kontraksi, isi kantung kemih keluar tanpa izin. 3 Menit Sel-sel otak tewas secara masal. Saat ini otak benar-benar berhenti berpikir. 4 – 5 Menit Pupil mata membesar dan berselaput. Bola mata mengkerut karena kehilangan tekanan darah. 7 – 9 Menit Penghubung ke otak mulai mati. 1 – 4 Jam Rigor Mortis (fase dimana keseluruhan otot di tubuh menjadi kaku) membuat otot kaku dan rambut berdiri, kesannya rambut tetap tumbuh setelah mati. 4 – 6 Jam Rigor Mortis Terus beraksi. Darah yang berkumpul lalu mati dan warna kulit menghitam. 6 Jam Otot masih berkontraksi. Proses penghancuran, seperti efek alkohol masih berjalan. 8 Jam Suhu tubuh langsung menurun drastis. 24 – 72 Jam Isi perut membusuk oleh mikroba dan pankreas mulai mencerna dirinya sendiri. 36 – 48 Jam Rigor Mortis berhenti, tubuh anda selentur penari balerina. 3 – 5 Hari Pembusukan mengakibatkan luka skala besar, darah menetes keluar dari mulut dan hidung. 8 – 10 Hari Warna tubuh berubah dari hijau ke merah sejalan dengan membusuknya darah. Beberapa Minggu Rambut, kuku dan gigi dengan mudahnya terlepas. Satu Bulan Kulit Anda mulai mencair. Satu Tahun Tidak ada lagi yang tersisa dari tubuh Anda. Anda yang sewaktu hidupnya cantik, gagah, ganteng, kaya dan berkuasa, sekarang hanyalah tumpukan tulang-belulang yang menyedihkan. Jadi, apa lagi yg mau disombongkan org sebenarnya???? BAGUS UNTUK DIRENUNGKAN..... Kita tak membawa apapun juga saat kita meninggalkan dunia yg fana ini..
Continue reading...
36
(Palembang, 9 Februari 2015) Hatiku ini rapuh, kamu tau? Aku sendiri pun tak mampu menyentuhnya dengan perkataan Aku selalu membungkusnya dengan kebahagiaan Hatiku ini istimewa, kamu mengerti? Aku menjaganya agar selalu bersih dan suci Aku menyimpannya untukku bagi dengan orang-orang yang sedih Dimana hatimu? Kamu berlagak semua baik saja dan meninggalkan hatiku terluka Kau menorehkan pecahan beling di hatiku dan menganggapnya tak terluka Dimana akalmu saat ini? Kamu membuat hatiku sedih, hatiku tak mampu berikan kebahagiaan bagi orang lain Kamu tak punya hati hanya memikirkan dirimu sendiri Hatiku ini bukan barang yang bisa kamu banting saat kamu marah Hatiku ini bukan pisau tumpul yang kamu tusukan ke dalam tanah Hatiku ini hanyalah air yang masih dibutuhkan orang lain Hatiku ini hanyalah udara yang tak terlihat namun memberikan kehidupan Hatiku ini bukanlah gabus yang bisa kau cabik-cabik, hanya untuk membuat hatimu senang Hatiku hanyalah hati yang bisa mati
0
Feb 9, 2015
Feb 9, 2015 at 10:35 AM UTC
Hatiku
ketika kaki sudah tidak mampu menapak rembulan sudah tidak dapat menyapa sang surya tidak ada yang bisa bertahan selamanya seperti ini semuanya berubah, tidak seperti sedia kala dimana hanya ada aku dan kamu--dan juga kenangan ini secarik puisi untukmu sebuah kisah yang sebentar lagi akan menemukan jati dirinya seutas tali yang sekarang tidak lagi menyambung dan ini adalah perpisahan selamat tinggal, kamu selamat tinggal, aku selamat tinggal, kita.
0
Oct 7, 2014
Oct 7, 2014 at 5:41 AM UTC
selamat tinggal
Seteguk apapun, semua tak akan berakhir Aku adalah seorang pemabuk yang selalu menguarkan harum arak kemanapun aku pergi. Anggur, dan berbotol-botol ***** telah kutenggak pagi ini. Dan hanya hari ini pula aku ingin bicara, tentang segenggam racun yang kalian semua suntik ke dalam nadi dan pembuluhku. Topeng yang dengan bangga kalian pakai tak ubahnya ketelanjangan hanya mengumbar malu dan aib Tawa yang sesenggukan kalian jeritkan hanyalah tangis jiwa kalian yang memudar memutihkan kejujuran dan kebajikan Oh, beginikah cara kerja dunia berduri dan berbatu, sama saja disetiap lajurnya kemanapun aku pergi, dijejali mulutku dengan dusta dan hanya dusta belaka Menghitamnya jiwaku, seandainya bagai langit malam tak ada chandra di ufuknya Sudah selayaknya aku berkabung atas jiwaku, dimana dia merintih penuh sesal dan tanya. Apakah lalu lalang motor dan diesel itu memusingkan kepala atau hanya sebuah kesibukan belaka. Dan dengan itu pula jiwaku berakhir, terdiam, dalam kematian. Kukubur dia dengan layak, diantara nisan-nisan lain disekitarku, yang diberi nomor, sesuai urutannya. Jiwaku tersungkur di nomor tujuh. Beruntung sekali! Kukubur dia, pelan sekali dengan tertidur. Tak berharap bangun lagi di keesokan pagi. Kutaburi bunga-bunga dan prosa yang harum, dan kusiram dengan sebotol Martini dan bir. Harum. Seharum embun yang kau injak ditepian jalan. Wangi. Sewangi sukmamu yang kuingat telah pergi. Aku adalah pemabuk. Yang selalu menenteng sebotol arak, bermabuk di tepian jalan kehidupan. Mengambil jeda diantara kalimat-kalimat mencela dan busuk, yang tergelincir masuk ke dalam telingaku. Botol-botol inilah sang penawar, berminum pula para nabi terdahulu menyesali umatnya, sedangkan aku? Menyesali kalian.
0
Sep 7, 2016
Sep 7, 2016 at 12:30 PM UTC
Sebotol Penawar
Seteguk apapun, semua tak akan berakhir Aku adalah seorang pemabuk yang selalu menguarkan harum arak kemanapun aku pergi. Anggur, dan berbotol-botol ***** telah kutenggak pagi ini. Dan hanya hari ini pula aku ingin bicara, tentang segenggam racun yang kalian semua suntik ke dalam nadi dan pembuluhku. Topeng yang dengan bangga kalian pakai tak ubahnya ketelanjangan hanya mengumbar malu dan aib Tawa yang sesenggukan kalian jeritkan hanyalah tangis jiwa kalian yang memudar memutihkan kejujuran dan kebajikan Oh, beginikah cara kerja dunia berduri dan berbatu, sama saja disetiap lajurnya kemanapun aku pergi, dijejali mulutku dengan dusta dan hanya dusta belaka Menghitamnya jiwaku, seandainya bagai langit malam tak ada chandra di ufuknya Sudah selayaknya aku berkabung atas jiwaku, dimana dia merintih penuh sesal dan tanya. Apakah lalu lalang motor dan diesel itu memusingkan kepala atau hanya sebuah kesibukan belaka. Dan dengan itu pula jiwaku berakhir, terdiam, dalam kematian. Kukubur dia dengan layak, diantara nisan-nisan lain disekitarku, yang diberi nomor, sesuai urutannya. Jiwaku tersungkur di nomor tujuh. Beruntung sekali! Kukubur dia, pelan sekali dengan tertidur. Tak berharap bangun lagi di keesokan pagi. Kutaburi bunga-bunga dan prosa yang harum, dan kusiram dengan sebotol Martini dan bir. Harum. Seharum embun yang kau injak ditepian jalan. Wangi. Sewangi sukmamu yang kuingat telah pergi. Aku adalah pemabuk. Yang selalu menenteng sebotol arak, bermabuk di tepian jalan kehidupan. Mengambil jeda diantara kalimat-kalimat mencela dan busuk, yang tergelincir masuk ke dalam telingaku. Botol-botol inilah sang penawar, berminum pula para nabi terdahulu menyesali umatnya, sedangkan aku? Menyesali kalian.
Continue reading...
27
kiranya semua cintaku yang tak terbantahkan ini tak luber, keluar dari hatiku ke lidahku yang busuk ini kiranya telingamu tak mendengar dan hatimu tak merasakan cinta ini kiranya aku bisa menyimpan ini sendirian, dalam tangisan nelangsa sebelum tidur yang mengoyak kepalaku kiranya lautan menelanku jika ada saat dimana kau mengerti semua yang kupendam dalam ini
0
Jul 13, 2016
Jul 13, 2016 at 1:53 PM UTC
kiranya
berdiri aku di tengah sibuk pasar kelihatan ragam manusia -bermacam ada yang berpaut berpegangan tangan aku tahu rasanya indah dan sentiasa selamat di kedai kecil sana ada anak menangis meminta untuk dibelikan --umpama masalah dunia, paling besar tersenyum aku hai anak, andai kau tahu apa itu resah remaja dan getir si tua pandangan aku terkunci pada yang keliru ditangan nya penuh dengan pilihan dan aku kenal rasa itu dimana cuma mahu yang sempurna sekali lagi aku tersenyum --mana mungkin ada yang cukup keluh aku pada dunia pentas paling besar dan ramainya pemain pentas ini ada yang yakin dengan watak nya yang biasa sahaja juga ada aku? aku cuma memerhati dan syukur kerana masih punya nikmat untuk rasa riuh pasar -f 611am 3rd oct
0
Oct 2, 2017
Oct 2, 2017 at 8:21 PM UTC
bising dan riuh
Tersenyumlah selagi kau mampu Tertawalah kalau kau ingin Karena ada kalanya dimana senyumanmu akan membuat orang menangis Dan tawamu akan berubah menjadi air mata yang kau luapkan Hidup di dunia hanya sementara Jangan kau sia-siakan hanya demi kesenangan semata Seperti semua yang ada, hidup diciptakan berpasangan Ada susah ada senang Dan kalau kau hanya terpaut pada kesenangan Kau akan menyadari suatu saat Bagaimana waktu tak dapat diputar kembali Dan hanya penyesalan yang menemanimu pada akhirnya
0
Jan 22, 2016
Jan 22, 2016 at 9:27 AM UTC
Hilang
Dengarkan ketika kau merasa takut, akan semua ketulian, Gosip dan kata-kata tak bermakna, Semua berita peperangan Maupun musik tanpa nada. Telingamu seharusnya takut. Lihatlah ketika kau merasa takut, akan semua kebutaan, Kebajikan yang munafik, Imajinasi yang berlebihan Terlebih jika kau tampik Matamu selayaknya takut. Ucapkan ketika kau merasa takut, akan semua puisi dan syair, Mantra yang mereka panjatkan, pada setan dimana mereka lahir Semua bisu yang kau nyanyikan Bibirmu seharusnya takut. Cintai ketika kau merasa takut akan semua iba dan nestapa, Mabuk dengan segelas kasih, Mereka yang bertelanjang jiwa Sehingga matipun tertatih Hatimu selayaknya takut Pikirlah ketika kau merasa takut akan semua yang dungu, dimana nuklir-nuklir itu mereka sesap, dan kebijaksanaan para ***** dituju Ketika para pendeta tergagap. Otakmu seharusnya takut Rasalah ketika kau merasa takut akan semuanya yang berbentuk, menyerupakan tawa dengan doa, Yang menyayat hiruk pikuk Derap dan tangis yang fana Dirimu selayaknya takut Maka biarkan aku berani Karena kau hidup, dan aku tak punya diri.
0
May 7, 2016
May 7, 2016 at 2:26 PM UTC
Takut
Kerak dinding merapuh Menyapuh bata, menyangainya Alamat hujan atas gersang Laksana injil bagi pemeluknya ---------------------------------------------- Ngengat dan sesak beraduk Alasan bagi kuda putih yang tak lagi berlari Hari ini ia merangkak Kesakitan atas luka entah dimana Sakit tampak dari air matanya Tetesan berawai dan putus asa
0
May 28, 2016
May 28, 2016 at 12:28 PM UTC
Saksi kepahitan
Terkadang bukan fisik yang terpenting. Walaupun tanpa fisik, rasa tak kunjung muncul. Mungkin aku menyayangkan cinta yang tak kian bersatu. Keraguanmu menahanku bagai angin yang menderu. Di penghujung jalan pun 'ku tersadar, keraguanmu bukan untukku. Karena cinta untukku sudah tiada sejak dulu. Aku bukan pejuang cinta, aku hanyalah pecinta yang setia. Ketika cinta pergi, itulah saat dimana pecinta undur diri. Karena untukku, cinta kita harus diperjuangkan dan cintaku seorang haruslah dilenyapkan. Bukan oleh waktu, tapi oleh angin dan debu bercampur air mata.
0
Jul 13, 2016
Jul 13, 2016 at 11:09 PM UTC
Ketika Cinta Pergi
Lahir dan besar di desa yang bisa dibilang sangat sejuk Tumbuh dengan aman, nyaman dan bahagia Bermain ke ladang, kebun, sungai, bahkan hampir seperti hutan Selalu aman dan tetap jauh dari bahaya Teman-teman berdatangan ke rumah untuk bermain dan berbagi cerita Berkumpul seperti keluarga besar Lalu aku pergi dari desa dimana aku dilahirkan dan mulai tinggal di tempat yang baru di desa yang baru dengan situasi yang berbeda Aku tumbuh disana dan mengenal berbagai pembaharuan Hari demi hari hingga bertahun-tahun aku menyaksikan berbagai perubahan Dimana banyak perubahan yang sulit dipercaya Hampir segala sesuatu yang aku lihat dan alami sulit dipercaya Hingga timbul perasaan tidak nyaman, gerah, takut, sesak, terancam, tertindas di tempat yang ku sebut rumah Rumah, bukan bangunan yang aku tinggali Tapi disini, di tanah aku berpijak Semua sudah tak lagi sama Hingga muncul dalam otakku Haruskah aku tinggal atau aku tinggalkan? Rumah, Aku merindukanmu
0
Feb 10, 2017
Feb 10, 2017 at 1:46 AM UTC
Rumah
Tak perlu pergi ke tengah hutan belantara tak bertuan Atau tempat semak belukar tumbuh dengan liarnya Alam bawah laut dimana air udaranya Untuk merasa kesepian Coba bercokol di tempatmu berpijak Satu bulan dan ribuan bintang bertabur layaknya salju di musim dingin Satu surya dan semburat awan yang bergerak pelan serta tenang Angin tak lagi mampu menemani Satu persatu hilang Orang, cinta, mimpi, juga impian Betapa inginnya terbangun dari alam bawah sadar yang panjang Namun takdir tidak dapat diubah Layaknya kesepianmu yang tidak berubah.
0
Jun 2, 2018
Jun 2, 2018 at 3:13 AM UTC
Ranah Hampa
Palembang, 29 Agustus 2012 Kamu dimana? Di sini? Tidak! Tapi mengapa kamu sedekat ini?
0
Sep 3, 2012
Sep 3, 2012 at 4:30 AM UTC
tidak!
Yang bermula dengan suara, Berakhir juga dengan suara. Disaat kita harus sepakat bahwa semuanya mesti disudahkan Sedunia tak henti-hentinya mencekokkanku dengan bayangnya Karena belum genap 24 jam sejak kesepakatan bahwa semuanya sudah, Ku dengar suaranya dimana-mana, Kali ini, lagi-lagi, tanpa rupa Disaat dunia mendengarnya bercerita tentang gadis manis berduduk seorang diri, Atau tentang bagaimana akal serta tubuhnya dikupas habis oleh hidup sehingga dia tak punya pilihan selain menerima bahwa ia dan mutlaknya semua manusia adalah tunggal; adalah sendiri; adalah harus menelan, memahami, lalu (jika beruntung) mencintai kesendirian itu sendiri Atau sekiranya tentang bagaimana ia mengibaratkan air mata bagai tanda suatu yang kuat, yang tak malu, yang berteriak, yang patut diwadahkan jika bisa; Lalu disimpan, bukan dilihat untuk sekedar menyenangkan diri bahwa kita ditangisi Namun sebagai tanda bahwa pada dasarnya semua manusia akan berserah diri Tak ada habisnya menganalisa karya—ataupun jiwa—yang memang dari lahir sudah pamungkas Karena disaat bongkahan karyasuara itu berisi wejangannya untuk mereka yang mencari Suara itu bercerita kepadaku tentang hal-hal yang agaknya butuh dua kali hidup dan dua kali mati untuk menemukan inti; Seperti perempuan Seperti keyakinan Seperti kesendirian dalam kehidupan dan kematian Seperti jarak dan waktu yang superfisial disaat kita sadar akan Tuhan Dimalam itu, Dimalam saat aku menyadari bahwa ada hal-hal yang jawabannya tak bisa kucari dalam prosa Sang Nabi atau puisi Jalalludin Rumi, Ia berkata, “Tak akan—sampai mati—ku mencampuri urusan akal perasaan dengan keyakinan yang sebetulnya sudah ada sebelum apapun.” Disaat itu juga aku memutuskan untuk mundur sepuluh langkah, Karena disaat kalimat itu kelar terlontar, Adalah bukan suaranya yang kudengar, Namun Ibunya. Ibu, sama halnya dengan keyakinan, sudah ada sebelum apapun. Malam ini aku pamit.
0
May 10, 2019
May 10, 2019 at 9:17 AM UTC
Suara Tanpa Rupa
Yang bermula dengan suara, Berakhir juga dengan suara. Disaat kita harus sepakat bahwa semuanya mesti disudahkan Sedunia tak henti-hentinya mencekokkanku dengan bayangnya Karena belum genap 24 jam sejak kesepakatan bahwa semuanya sudah, Ku dengar suaranya dimana-mana, Kali ini, lagi-lagi, tanpa rupa Disaat dunia mendengarnya bercerita tentang gadis manis berduduk seorang diri, Atau tentang bagaimana akal serta tubuhnya dikupas habis oleh hidup sehingga dia tak punya pilihan selain menerima bahwa ia dan mutlaknya semua manusia adalah tunggal; adalah sendiri; adalah harus menelan, memahami, lalu (jika beruntung) mencintai kesendirian itu sendiri Atau sekiranya tentang bagaimana ia mengibaratkan air mata bagai tanda suatu yang kuat, yang tak malu, yang berteriak, yang patut diwadahkan jika bisa; Lalu disimpan, bukan dilihat untuk sekedar menyenangkan diri bahwa kita ditangisi Namun sebagai tanda bahwa pada dasarnya semua manusia akan berserah diri Tak ada habisnya menganalisa karya—ataupun jiwa—yang memang dari lahir sudah pamungkas Karena disaat bongkahan karyasuara itu berisi wejangannya untuk mereka yang mencari Suara itu bercerita kepadaku tentang hal-hal yang agaknya butuh dua kali hidup dan dua kali mati untuk menemukan inti; Seperti perempuan Seperti keyakinan Seperti kesendirian dalam kehidupan dan kematian Seperti jarak dan waktu yang superfisial disaat kita sadar akan Tuhan Dimalam itu, Dimalam saat aku menyadari bahwa ada hal-hal yang jawabannya tak bisa kucari dalam prosa Sang Nabi atau puisi Jalalludin Rumi, Ia berkata, “Tak akan—sampai mati—ku mencampuri urusan akal perasaan dengan keyakinan yang sebetulnya sudah ada sebelum apapun.” Disaat itu juga aku memutuskan untuk mundur sepuluh langkah, Karena disaat kalimat itu kelar terlontar, Adalah bukan suaranya yang kudengar, Namun Ibunya. Ibu, sama halnya dengan keyakinan, sudah ada sebelum apapun. Malam ini aku pamit.
Continue reading...
29
Terimakasih Jakarta saya bersyukur. Sore itu ada kesempatan dimana, segelas susu cokelat dan secangkir kopi susu, bertemu di hiruk-pikuk Jakarta kali ini saya berterimakasih karena macet Jakarta. Seakan-akan waktu berhenti untuk mempertemukan kita.
0
Mar 4, 2019
Mar 4, 2019 at 11:59 AM UTC
Pertemuan
Baru saja tubuh beserta ruh ini menggelar ritual yang dianggap kekal Ritual dimana aku bisa merasakan tubuhku merukuk, merunduk, menekuk-nekuk seikhlasnya tanpa meminta apapun kecuali untuk tubuh ini dibimbing Nya Tak peduli jika doaku belum juga dijabah Sesungguhnya Tuhan hanya ingin jiwa ini pasrah Sebiadab-biadabnya laku ku sebagai manusia, terkadang haus juga akan ibadah Disaat kedua tangan ini hendak selesai menggulung kain sajadah, Muncul pesan berisi alamat. “Sampai ketemu.” Seakan lupa terhadap perihal ritual kekal dunia akherat Ujung kepala sampai ujung kaki ini sepakat untuk berangkat Mengapa akal sulit digunakan jikala merindu? Aku bersumpah, tak ada yang tahu. — Dalam sesingkatnya waktu aku menjadi saksi akan kehadiran tubuhku di ruang serba asing Satu-satunya yang tak asing adalah rupanya. Ditengah kegaduhan batin yang luar biasa, Hati ini hanya bisa berkata; “Akhirnya aku kembali melihat matanya.” Setengah sayup setengah berbinar, Sepasang bola mata itu menatap milikku, Suara familiar yang sekarang terdengar serak parau dibabat dunia itu bercerita; “Aku lelah.” “Aku tahu.” Tak sampai tiga puluh menit diriku kembali menjadi saksi akan ingkarnya sumpahku, Karena aku bisa melihat tubuh ini kembali merukuk, merunduk, menekuk berliuk-liuk Di momen itu, segala pengetahuan lucut bersama pakaian. Saat pakaianku dilempar ke lantai, Harga diri yang kupeluk erat ikut jatuh bersamanya. Adegan pengingkaran sumpah itu berlangsung entah berapa lama Buah sinar Matahari mulai mengintip untuk meberitahu bahwa hari baru sudah nampak Aku bergegas mengambil seribu jejak, Di jalan pulang aku menerima pesan; “Terima kasih.” “Kembali.” Butuh seribu tahun untuk hancur ini diperbaiki. Semua ini, sedangkan aku hanya ingin melihat matanya.
0
May 27, 2019
May 27, 2019 at 12:42 AM UTC
Sumpah Dibayar Mata
Baru saja tubuh beserta ruh ini menggelar ritual yang dianggap kekal Ritual dimana aku bisa merasakan tubuhku merukuk, merunduk, menekuk-nekuk seikhlasnya tanpa meminta apapun kecuali untuk tubuh ini dibimbing Nya Tak peduli jika doaku belum juga dijabah Sesungguhnya Tuhan hanya ingin jiwa ini pasrah Sebiadab-biadabnya laku ku sebagai manusia, terkadang haus juga akan ibadah Disaat kedua tangan ini hendak selesai menggulung kain sajadah, Muncul pesan berisi alamat. “Sampai ketemu.” Seakan lupa terhadap perihal ritual kekal dunia akherat Ujung kepala sampai ujung kaki ini sepakat untuk berangkat Mengapa akal sulit digunakan jikala merindu? Aku bersumpah, tak ada yang tahu. — Dalam sesingkatnya waktu aku menjadi saksi akan kehadiran tubuhku di ruang serba asing Satu-satunya yang tak asing adalah rupanya. Ditengah kegaduhan batin yang luar biasa, Hati ini hanya bisa berkata; “Akhirnya aku kembali melihat matanya.” Setengah sayup setengah berbinar, Sepasang bola mata itu menatap milikku, Suara familiar yang sekarang terdengar serak parau dibabat dunia itu bercerita; “Aku lelah.” “Aku tahu.” Tak sampai tiga puluh menit diriku kembali menjadi saksi akan ingkarnya sumpahku, Karena aku bisa melihat tubuh ini kembali merukuk, merunduk, menekuk berliuk-liuk Di momen itu, segala pengetahuan lucut bersama pakaian. Saat pakaianku dilempar ke lantai, Harga diri yang kupeluk erat ikut jatuh bersamanya. Adegan pengingkaran sumpah itu berlangsung entah berapa lama Buah sinar Matahari mulai mengintip untuk meberitahu bahwa hari baru sudah nampak Aku bergegas mengambil seribu jejak, Di jalan pulang aku menerima pesan; “Terima kasih.” “Kembali.” Butuh seribu tahun untuk hancur ini diperbaiki. Semua ini, sedangkan aku hanya ingin melihat matanya.
Continue reading...
35
Sejak kecil mereka aku kasihi dengan sangat Tak boleh ada  masalah dan persoalan yang didapat Aku memberi yang dibutuhkan Walau kadang agak dipaksakan Melalui hari-hari sekolah kalian ku bimbing Melalui waktu-waktu susah kau ku bina Mengarungi saat-saat penting kau kutemani Tak ada saat dimana kau kutinggalkan Masuk masa perkuliahan kau dapatkan dimana kau ingin melanjutkan pendidikanmu Walau seakan mustahil tapi Tuhan memberi itulah yang aku ingatkan Masa perkuliahan kau jalani juga gadisku Pergaulan yang susah kau lewati Kau dapati teman-teman sendiri Yang memenuhi hari-hari yang dilewati Kau dapati juga seorang jaka Yang kau suka karena berbeda Pandai dan dapat dipercaya Kau kenalkan dia sebagai pacar
0
May 2, 2017
May 2, 2017 at 12:08 AM UTC
Semua ada waktunya (3)
Aku tidak peduli dimana Yang penting bersama Dibalik kabut itu, Aku tau kegelapan menunggu Mohon ku, Untukmu yang melaju Jangan terlalu cepat atau lambat Mari nikmati kabut dan gelap Untuk saling berusaha memberi cahaya
0
Oct 19, 2018
Oct 19, 2018 at 1:28 PM UTC
Kala Kita Menjauh
andai sedari dulu tak mungkin ia sekarang mungkin menjadi orang mungkin berlayar di cakrawala mungkin melatah di depan dunia atau mungkin menghiasnya dengan warna andai sedari dulu mungkin sudah berjasa seribu hal yang tercipta di tangannya beribu hati dan jantung yang berbangga nama yang dimana-mana tertera atau muncul dalam wajah-wajah media tapi kalaupun sedari dulu mungkinkah sudah lain atau mungkinkah tetap sama? tak ubahnya berjiwa seekor kuluk tak ubahnya bertubuh pohon membusuk dengan dunia ia kalah beradu meraung mati di kamar itu menetap sama, tanpa apa tanpa siapa dan bagaimana kabarnya mungkin jika dahulu, bisa jadi sekarang tetap saja menderita tetapi beda, ia jadi seorang manusia yang mencoba dan gagal tetapi diam dia tak bakal sayang, lihatlah terlambat ia sudah
0
Sep 16, 2025
Sep 16, 2025 at 9:57 PM UTC
Andai.
Sejak kecil mereka aku kasihi dengan sangat Tak boleh ada  masalah dan persoalan yang didapat Aku memberi yang dibutuhkan Walau kadang agak dipaksakan Melalui hari-hari sekolah kalian ku bimbing Melalui waktu-waktu susah kau ku bina Mengarungi saat-saat penting kau kutemani Tak ada saat dimana kau kutinggalkan Masuk masa perkuliahan kau dapatkan dimana kau ingin melanjutkan pendidikanmu Walau seakan mustahil tapi Tuhan memberi itulah yang aku ingatkan Masa-masa kuliah kau jalani Walau banyak protes sana sini Karena inginkan sesuatu yang lebih lagi Kau salahkan kami Lulus sudah kuliahmu nak... Kau sandang gelas sarjanamu Pakailah itu sebagai modah untuk hidupmu Memasuki dunia kerja yang baru
0
May 2, 2017
May 2, 2017 at 12:01 AM UTC
Semua ada waktunya
Kita pernah ada di suatu masa ketika rindu merupakan hal yang merapuhkan, sekaligus menguatkan di saat yang bersamaan Kita pernah ada di suatu masa dimana hari-hari terisi oleh caci maki dan argumentasi—yang kini kusadari lebih baik mendengar suara ketusmu ketimbang tidak sama sekali Perihal mimpi-mimpi, janji, serta harapan yang kandas di tengah jalan, aku turut berdukacita karenanya
0
Oct 1, 2016
Oct 1, 2016 at 11:57 PM UTC
Berbelasungkawa
what goes around comes back around aku percaya dengan adanya karma. semakin banyak hitungan niat baik yang kau sia-siakan maka akan semakin banyak pula pengorbanan sia-siamu kelak. sepele? iya mungkin sangat. tetapi berapa banyak malam yang sudah aku lewatkan untuk merenungi kesepelean itu? suatu saat akan ada waktu dimana kamu akan menyesali semua yang kau lakukan, karma itu akan datang dan kau bahkan tidak tau karma siapa yang sudah kamu terima. suatu saat akan ada penyesalan, tetapi kamu tidak akan bisa berbuat apa-apa. iya, seperti yang sedang aku lakukan sekarang ini. —G, 22/07.
0
Oct 7, 2016
Oct 7, 2016 at 9:22 AM UTC
k a r m a,
Langitku penjajah Menghalangi hangatnya mentari tubuhku diinjak, teriakanku dibantah Air mataku mengalir, ketawanya nyaring Dimana langitku dijunjung Disana diriku ditindas
0
Aug 30, 2019
Aug 30, 2019 at 1:42 PM UTC
Cerita bumi
tahu apa aku? tahu apa aku tentang bumi tahu apa aku tentang puisi tahu apa aku tentang diri tahu apa aku tentang hati tahu apa aku tentang diksi tahu apa aku tentang mimpi tahu apa aku tentang dingin tahu apa aku tentang pergi tahu apa aku tentang semua ini, tahu apa aku tentang semua itu? aku butuh berdiam diri menarik garis batas menginjakkan kaki di ambang pikiran yang waras aku akan berhenti menulis sampai waktu tiba dimana aku tahu dan mengerti.
0
Dec 26, 2018
Dec 26, 2018 at 7:58 AM UTC
berhenti menulis