Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"dalamnya" poems
setiap kota takkan kekal abadi dan yang ada di dalamnya hanyalah penghuni yang kekal selamanya ditemani isi-isi yang tak berisi tiada puisi, tiada seni tanpa arah tanpa erti yang ada hanyalah imbalan dan keuntungan yang berpuing di udara kota yang berlegar di pengairan kota segalanya terasa muram apa bezanya hidup di dalam lohong hitam?
0
Sep 9, 2018
Sep 9, 2018 at 10:49 PM UTC
Balada Indah Terpencil
Di malam bulan terpotong jadi tawa, angin membelahku jadi tiga bujursangkar. Satu untuk diriku sendiri, satu untuk bibir kemaraumu, dan yang lain, mungkin, untuk dua anjing lapar yang Tuhan pelihara dalam diriku dan dirimu. Di situ, di rimbunan gelap yang padat dan waktu yang mengering, ingatan mempertemukan kita walau sebentar. Kau berlari membawa kotak yang di dalamnya mungkin adalah namaku, dan aku berlari di belakangmu menjauhi danau. Sayap-sayap yang tidur, kepala yang dinaungi tali-temali, dan jejak-jejak bernafas rapat. Bagimu, dunia mungkin masih adalah tabir yang kaku. Oh. Burung-burung dalam kepala! Itu kekakuan yang liris membunuhku. Malang, 3 April 2013
0
Jun 28, 2013
Jun 28, 2013 at 2:48 AM UTC
Aku, Kau, dan Dua Anjing yang Tuhan Pelihara Dalam Diriku dan Dirimu
"Cahaya redup itu umpama semesta alam." birunya naungan langit fajar ketika tetes embun hadir di atas permukaan daun pada hari itu kau berujar "Pernahkah kamu tahu bahwa gelapnya mengisahkan beribu kisah?" yang ada suaraku bungkam oleh pertanyaanmu gaungnya terngiang mengisi sudut hampa telingaku sebuah kubus berisi ruang kosong tak beraksara ada sorot matamu yang terjebak di dalamnya "Pernahkah kamu sentuh sisi gelap yang bersembunyi itu?" pernah taman kecil berisi bunga warna-warni dalam suaramu yang sepi kusam, kota lama yang redup di tengah peradaban kuperhatikan rambut ikal panjangmu menjilati tengkukmu sambil disiuli angin yang bernyanyi pelan, begitu tenang "Atau yang tidak sengaja kamu sembunyikan?" "Ralat, yang sengaja kamu sembunyikan." matamu mengerling menerawang memandang langit Juni apa lagi yang kamu dambakan dari gelap pada pagi secerah ini? "Cahaya redup umpama semesta alam, gelapnya mengibarkan beribu ilham." jemarimu cepat berdansa dengan senar begitu cermat ingat pertama kali dua pasang mata sendu ini berkenalan dalam gelap dalam redup lahir melodrama di tengah rintik tangisan langit bulan kedua "Gelapnya mengibarkan seribu ilham. Gelapnya mendatangkan pelangi di tengah tulisan dalam buku kelabuku." diremasnya jemariku, lalu tenggelam dalam beribu rasa bunga-bunga merekah membentangkan senyum sang surya apa lagi yang kudambakan dari gelap pada pagi secerah ini? satu pertanyaan kubisikkan untuk langit biru pada bulan Juni apakah hadirku sudah cukup bagi hari-hari gelapmu? lalu, jemarimu meremas jemariku lebih keras seolah tak pernah ingin lepas.
0
Oct 2, 2017
Oct 2, 2017 at 8:53 AM UTC
ada gelap, redup, lalu apa?
"Cahaya redup itu umpama semesta alam." birunya naungan langit fajar ketika tetes embun hadir di atas permukaan daun pada hari itu kau berujar "Pernahkah kamu tahu bahwa gelapnya mengisahkan beribu kisah?" yang ada suaraku bungkam oleh pertanyaanmu gaungnya terngiang mengisi sudut hampa telingaku sebuah kubus berisi ruang kosong tak beraksara ada sorot matamu yang terjebak di dalamnya "Pernahkah kamu sentuh sisi gelap yang bersembunyi itu?" pernah taman kecil berisi bunga warna-warni dalam suaramu yang sepi kusam, kota lama yang redup di tengah peradaban kuperhatikan rambut ikal panjangmu menjilati tengkukmu sambil disiuli angin yang bernyanyi pelan, begitu tenang "Atau yang tidak sengaja kamu sembunyikan?" "Ralat, yang sengaja kamu sembunyikan." matamu mengerling menerawang memandang langit Juni apa lagi yang kamu dambakan dari gelap pada pagi secerah ini? "Cahaya redup umpama semesta alam, gelapnya mengibarkan beribu ilham." jemarimu cepat berdansa dengan senar begitu cermat ingat pertama kali dua pasang mata sendu ini berkenalan dalam gelap dalam redup lahir melodrama di tengah rintik tangisan langit bulan kedua "Gelapnya mengibarkan seribu ilham. Gelapnya mendatangkan pelangi di tengah tulisan dalam buku kelabuku." diremasnya jemariku, lalu tenggelam dalam beribu rasa bunga-bunga merekah membentangkan senyum sang surya apa lagi yang kudambakan dari gelap pada pagi secerah ini? satu pertanyaan kubisikkan untuk langit biru pada bulan Juni apakah hadirku sudah cukup bagi hari-hari gelapmu? lalu, jemarimu meremas jemariku lebih keras seolah tak pernah ingin lepas.
Continue reading...
31
31 Oktober 2016 Dini hari, Jakarta-Surabaya, Pukul 00.45 30 menit yang lalu, kau bertanya kepadaku, "apa yang membuatmu bahagia?" secangkir kopi, malam dan hujan jawabku lalu kau mengernyitkan kedua alismu dan bertanya, "kenapa? kopi itu pahit, malam itu sendu dan hujan hanya membawa pilu" "Karena aku menyukai kejujuran pada kopi, Ia jujur akan dirinya. ia yang pahit rasanya. ia yang hitam parasnya. tanpa bersandiwara. tapi itulah hal yang mencandu darinya. Karena aku menyukai kesederhanaan malam, Ia tak perlu harus bersinar, ia cukup indah dengan bintang di dalamnya tanpa dengki ingin menjadi siang. Karena aku menyukai keikhlasan hujan, Ia tetap ikhlas menjatuhkan dirinya meski banyak yang memaki dirinya dan berharap ia tak pernah datang." kau termenung kembali, dahimu berkerut memikirkan sesuatu "apakah hanya itu?" tuturmu lagi dan aku hanya tersenyum, "aku hanya ingin menjadikan diriku seperti mereka, tidak berlebih pun tidak mengapa, hanya ingin menjadi dan merasakan kejujuran seperti kopi, kesederhanaan seperti malam dan keihklasan seperti hujan." kau tersenyum mengejek "Kau terlalu naif" tandasmu dan aku hanya tergelak, seperti itulah aku, jawabku pada akhirnya, kau turut tergelak jua bersamaku menutup pembicaraan dini hari kita kala itu.
0
Oct 30, 2016
Oct 30, 2016 at 2:05 PM UTC
Jakarta - Surabaya
Upaya faal semesta Beginilah adanya Insan di dalamnya Begitulah hadirnya Katamu semesta tiada pernah salah Dan aku percaya padamu, pada semesta Bahkan ketika waktu terus pergi Dunia lantas berevolusi Kalakian musim bersilih Keyakinanku padamu tak lantas lenyap Lain halnya dengan waktu, dunia, musim, dan cinta Katakan Kau dan aku, apa kita pernah mengkhianati buana? Sehingga menjadi kami adalah kesulitan berarti Arkian, cinta ubah wujudnya jadi bersyarat Insan, iman, susila, keharusan Sedang cinta terlampau luas layak angkasa Semesta tak salah, aku percaya Begitu juga cinta
0
Nov 10, 2018
Nov 10, 2018 at 8:26 AM UTC
Saya Asing Bagimu.
Kebanyakan orang tinggal bersamanya, saya tidak. Seperti bisa memasak, tapi tidak terlalu pandai seperti Ibu. Selalu lebih, kadang lebih asin, kadang lebih hambar. Pernah saya membencinya, sebelum saya tau isi hatinya. Memaafkan adalah hal yang sangat luar biasa, entah ada mantra apa di dalamnya, namun setelah itu saya merasa sangat tenang. Dia bilang bahwa saya mirip dengan seseorang. Katanya, dia persis seperti saya saat kecil, rambut tipis agak ikal, hidung, bibir dan matanya, katanya persis seperti saya. Saya menangis, entah sedih, sakit, senang, atau haru. Saya tidak pernah diajarkan untuk membenci seseorang, sekalipun yang sudah menghancurkan saya. Sudah saya bilang, bahwa ada mantra ajaib dibalik kata maaf. Bisa saja saya membencinya, namun saya tidak memilih hal itu. Bukan hanya saya yang terluka, dia juga lebur.
0
Jun 1, 2019
Jun 1, 2019 at 5:28 PM UTC
Hal yang baik
Dia ingin bermain kata-kata ternyata. Sampah! Mari kita permainkan dia bersama kata-kata! Akankah takut siapa yang tahu jika tidak pernah kita coba! Kita perlu membencinya! Membenci kebohongan busuk akal manusia. Mari kita bermain kata-kata! Siapa yang takut jika ia sering di cerca oleh pertanyaan mengapa! Baiklah, bunyinya seperti ini. Kau busuk akal rupa juga canda tawa tidak pernah ada artinya. Kalimat yang kau lontarkan tidak pernah bermakna lantas apa arti jika harus hidup tak bisa bebas dan merdeka! Bebas dan merdeka hanya kata-kata, tindakan ada setelahnya, apa yang kau perbuat setelah bermain lantas kau bereskan semua permainan yang ada! Kau dalang permainan yang sejak awal kau ingin menang di dalamnya! Masih ingin bermain? Masih ingin bermain atau kau tak punya lawan main? Seperti apa kata-kata kita cipta seperti apa kau punya wewenang kuasa! Lupa cara, buta aturan semua kau yang pegang! Itu ujaran kebencian katanya!
0
Feb 11, 2021
Feb 11, 2021 at 4:33 AM UTC
Ini ujaran kebencian katanya!
Dia yang memberikan irama obrolan begitu hangat di penghujung fajar, Aku terlarut di dalamnya Aku meminta lagi irama itu di fajar selanjutnya Aku adalah oasis yang membantu melepaskan dahaganya, kala ia berkelana di gurun nan tandus Namun setelah segar kembali ia menyumbat mata air dengan pasir Lalu ia berkelana kembali Tuk mencari oasis selanjutnya, tuk menyumbat yang lain-lainnya Dia lalu kembali ke jalan berkerikil menuju rumahnya Dikala ia harus memilih di antara menyimpan kucing yang ia temukan di dalam sebuah peti emas di pinggir jalan Atau dia akan pergi dengan peti emas dan meninggalkan kucing itu tak bertuan
0
May 6, 2017
May 6, 2017 at 11:12 AM UTC
All I Ask
pasal IV: tentang hujan yang tak kunjung reda, dan tangis yang tak kunjung berakhir. - terkadang, ada beberapa hal yang datang, selain membawa berkah dan kebahagiaan, juga turut di dalamnya kesedihan yang berlarutlarut. seperti halnya hujan, yang datang membawa unsur kehidupan, tapi kemudian, dinginnya mengundang pilu, berusah mencari kehangatan. begitu pula dirimu, datang sekiranya membuatku bahagia walau di awal, namun akhirnya memilih pergi setelah membunuh setiap harapan baru yang tumbuh dengan tega. - ada beberapa hal yang terjadi, namun datangnya tak dapat dihentikan, dan kepergiannya tak dapat dipaksakan, layaknya hujan ketika mentari tengah bersinar, membuat sebagian orang mendengus kesal, banyak hal rencana yang gagal. seperti halnya dirimu, ketika dirimu datang ketika ku tengah sedemikian rupa menata hati. kau datang mengambil setitik kecil potonganmu yang tertinggal, kemudian justru potongan kecil itu yang menghancurkan hati yang telah tertata rapi. hancur. kembali. lalu kau beranjak pergi, layaknya hujan badai yang reda, seolah tak terjadi apaapa. - setelahnya, setelah sisasisa hujan pada dedaunan mengering, dan musim hujan telah berlalu, masih sesekali duakali ia datang, mebawa harapan sekilas, kemudian pergi seolah tak ingin kembali. sejenak menentramkan, meluruhkan kotoran di udara, namun tetesannyamengandung racun yang tak baik. seperti ketikamu datang tibatiba, seolaholah baikbaik saja, ternyata memang tidak ada apaapa, bukan benarbenar tidak ada, hanya saja, bukan untukku, tapi untuk dia yang lain. - selalu ada akhir dari jutaan tetesan air yang jatuh ke bumi, dan semoga, hal itu juga berlaku pada diriku. entah kapan tangis akan reda, namun kau tetap saja berlalu, semoga kau tak lagi datang membawa harapan. maafkan keegoisanku memilih menangisi kepergianmu. prdks.
0
Sep 25, 2017
Sep 25, 2017 at 8:52 AM UTC
sajaksajakrasa
pasal IV: tentang hujan yang tak kunjung reda, dan tangis yang tak kunjung berakhir. - terkadang, ada beberapa hal yang datang, selain membawa berkah dan kebahagiaan, juga turut di dalamnya kesedihan yang berlarutlarut. seperti halnya hujan, yang datang membawa unsur kehidupan, tapi kemudian, dinginnya mengundang pilu, berusah mencari kehangatan. begitu pula dirimu, datang sekiranya membuatku bahagia walau di awal, namun akhirnya memilih pergi setelah membunuh setiap harapan baru yang tumbuh dengan tega. - ada beberapa hal yang terjadi, namun datangnya tak dapat dihentikan, dan kepergiannya tak dapat dipaksakan, layaknya hujan ketika mentari tengah bersinar, membuat sebagian orang mendengus kesal, banyak hal rencana yang gagal. seperti halnya dirimu, ketika dirimu datang ketika ku tengah sedemikian rupa menata hati. kau datang mengambil setitik kecil potonganmu yang tertinggal, kemudian justru potongan kecil itu yang menghancurkan hati yang telah tertata rapi. hancur. kembali. lalu kau beranjak pergi, layaknya hujan badai yang reda, seolah tak terjadi apaapa. - setelahnya, setelah sisasisa hujan pada dedaunan mengering, dan musim hujan telah berlalu, masih sesekali duakali ia datang, mebawa harapan sekilas, kemudian pergi seolah tak ingin kembali. sejenak menentramkan, meluruhkan kotoran di udara, namun tetesannyamengandung racun yang tak baik. seperti ketikamu datang tibatiba, seolaholah baikbaik saja, ternyata memang tidak ada apaapa, bukan benarbenar tidak ada, hanya saja, bukan untukku, tapi untuk dia yang lain. - selalu ada akhir dari jutaan tetesan air yang jatuh ke bumi, dan semoga, hal itu juga berlaku pada diriku. entah kapan tangis akan reda, namun kau tetap saja berlalu, semoga kau tak lagi datang membawa harapan. maafkan keegoisanku memilih menangisi kepergianmu. prdks.
Continue reading...
6
Sahabatku selalu bilang, hidup adalah sebuah gedung yang ditempa oleh mimpi. Mimpi adalah pilar terkuat untuk hidup. Struktur gedung sahabatku sangat apik bagai dirancang oleh arsitek terkemuka, setiap sudutnya dikalkulasi dengan baik, interior gedung tertata dalam estetika yang berkelas. Setiap lantai gedung itu, memiliki cerita mimpi yang berbeda. Namun, gedung milik sahabatku tak pernah lepas dari sebuah warna cat yang ia sebut sebagai motivasi. Nama gedung sahabatku adalah Kebahagiaan. Sehari-hari gedung itu dipenuhi tawa dan senyum tiap orang yang berlalu-lalang di dalamnya. Tak jarang gedung itu mendapati kunjungan oleh Mimpi Yang Terkabul yang membikin gedung itu makin meriah dibuatnya. Sahabatku selalu memberiku petuah bagaimana cara merawat gedungku, hidupku, dengan memiliki mimpi yang harus kuraih, meskipun jauhnya di ujung lautan sana, dan tetap harus ku kejar walaupun kemampuanku hanya sebatas merangkak. Ketika ia bicara tentang pilar, ia tak tahu aku tak ingin punya gedung. Kematian berbicara bagai gedung yang direnggut dari eksistensi. Dirubuhkan fisiknya. Dihancurkan. Namun, aku tak ingin punya gedung. Aku tak ingin ada di dalam lanskap kehidupan yang rumit ini. Skenario merawat, menjaga, dan mengasihi sebuah gedung membuatku bingung dan pusing. Gedungku bahkan tak bisa dibilang gedung, hanya empat tembok kumuh yang lebih cocok disebut kandang. Aku tak punya pilar, hanya ada empat onggok tiang bambu yang perlahan dimakan rayap. Lantainya bukan dari marmer, tapi tanah becek yang bau ketika dicium hujan, tidak ada orang tertawa atau tersenyum di dalam gedungku, hanya ada aku dan rasa lapar yang berteriak sampai telingaku lelah. Lantas, ketika aku terbangun dari tidurku yang tak pernah nyenyak dan disambut kegelapan, tanpa gedungku, tanpa ocehan sahabatku yang berkata sembari menutup mata dari kenyataan yang ku alami, aku bernapas lega. Dalam incognito yang ku peroleh, aku merasa tenang. Terombang-ambing di tengah ada dan tiada. Menyatu dengan hitam, bersaru dengan putih. Aku tersenyum dan perlahan berterima kasih kepada Tuhan yang akhirnya memahami bahwa aku tak punya mimpi, selain menjadi tidak ada. Namun, hatiku mencelos ketika Tuhan berbisik dengan lirih, bahwa aku hanya punya batas waktu hingga empat puluh delapan jam sebelum kembali pada kehidupan yang rumit. “Tuhan,” kataku, “untuk apa aku ada, ketika orang-orang sibuk dengan gedung, sementara yang ku punya hanya seonggok bilik?”
0
Jun 23, 2020
Jun 23, 2020 at 10:03 AM UTC
Gedung
Sahabatku selalu bilang, hidup adalah sebuah gedung yang ditempa oleh mimpi. Mimpi adalah pilar terkuat untuk hidup. Struktur gedung sahabatku sangat apik bagai dirancang oleh arsitek terkemuka, setiap sudutnya dikalkulasi dengan baik, interior gedung tertata dalam estetika yang berkelas. Setiap lantai gedung itu, memiliki cerita mimpi yang berbeda. Namun, gedung milik sahabatku tak pernah lepas dari sebuah warna cat yang ia sebut sebagai motivasi. Nama gedung sahabatku adalah Kebahagiaan. Sehari-hari gedung itu dipenuhi tawa dan senyum tiap orang yang berlalu-lalang di dalamnya. Tak jarang gedung itu mendapati kunjungan oleh Mimpi Yang Terkabul yang membikin gedung itu makin meriah dibuatnya. Sahabatku selalu memberiku petuah bagaimana cara merawat gedungku, hidupku, dengan memiliki mimpi yang harus kuraih, meskipun jauhnya di ujung lautan sana, dan tetap harus ku kejar walaupun kemampuanku hanya sebatas merangkak. Ketika ia bicara tentang pilar, ia tak tahu aku tak ingin punya gedung. Kematian berbicara bagai gedung yang direnggut dari eksistensi. Dirubuhkan fisiknya. Dihancurkan. Namun, aku tak ingin punya gedung. Aku tak ingin ada di dalam lanskap kehidupan yang rumit ini. Skenario merawat, menjaga, dan mengasihi sebuah gedung membuatku bingung dan pusing. Gedungku bahkan tak bisa dibilang gedung, hanya empat tembok kumuh yang lebih cocok disebut kandang. Aku tak punya pilar, hanya ada empat onggok tiang bambu yang perlahan dimakan rayap. Lantainya bukan dari marmer, tapi tanah becek yang bau ketika dicium hujan, tidak ada orang tertawa atau tersenyum di dalam gedungku, hanya ada aku dan rasa lapar yang berteriak sampai telingaku lelah. Lantas, ketika aku terbangun dari tidurku yang tak pernah nyenyak dan disambut kegelapan, tanpa gedungku, tanpa ocehan sahabatku yang berkata sembari menutup mata dari kenyataan yang ku alami, aku bernapas lega. Dalam incognito yang ku peroleh, aku merasa tenang. Terombang-ambing di tengah ada dan tiada. Menyatu dengan hitam, bersaru dengan putih. Aku tersenyum dan perlahan berterima kasih kepada Tuhan yang akhirnya memahami bahwa aku tak punya mimpi, selain menjadi tidak ada. Namun, hatiku mencelos ketika Tuhan berbisik dengan lirih, bahwa aku hanya punya batas waktu hingga empat puluh delapan jam sebelum kembali pada kehidupan yang rumit. “Tuhan,” kataku, “untuk apa aku ada, ketika orang-orang sibuk dengan gedung, sementara yang ku punya hanya seonggok bilik?”
Continue reading...
11
hari ini— kuputuskan untuk menghapus namamu dari lembar-lembar buku harian itu berhenti membuat puisi tanpa arti tidak ada lagi intuisi di sini dulu— aku pernah memberimu ruang paling indah dalam hatiku sebuah tempat yang tak pernah kuberi pada lelaki manapun sampai kau datang membawa badai membuatnya luluh lantak hingga tak ada lagi tersisa tempat untukmu aku bisa saja membuat ruang lain untukmu tapi aku tau kau tak akan lagi singgah di dalamnya lagi pula, aku sudah terlanjur berdarah dan aku tak mungkin menyembuhkannya hanya dengan berhenti memikirkanmu jadi, kuputuskan untuk berhenti mencintaimu bukan karena kenangan yang perlahan memudar aku hanya berusaha terlepas dari rasa sakit aku bukannya manyerah aku hanya mencoba bangkit dari ketidakmampuan memilikimu fri, 08/12/17; 04.39am//wib
0
Dec 7, 2017
Dec 7, 2017 at 4:40 PM UTC
Puisi Terakhir
cintaku yang dalam melebihi dalamnya lautan,, selalu merindumu sampai jantungku tak mampu berdetak lagi:)
0
May 15, 2013
May 15, 2013 at 4:47 AM UTC
cintaku yang dalam
Yang jalang meloncat telah tiba & kita merangkak menjauh sutera & kau melihat pada selangkang merebak dedaunan riba. Kini menjalin kepada alang-alang, merayu kepada segala buangan. Yang terbuang kemudian terjerembab ke-Esa-an/ pertolongan/ makian/ gelak ketidak sudian. Semua bajing meloncat-loncat kala malam tiba & aku tidak menemui dirimu menjalin asmara, pada bantal dan kerangka bunga & batok-batok kelapa bersumpah pernah bersimfoni di gedung tua bangka. Katakan semua yang terlihat menemukan artinya, berbalik dan melenggok tiada suka. Aku merusak gelanggang samudera, dan menemukan orang-orang bercumbu di dalamnya. O Gayung merambah kepada sujud-sujud La beruja. Melirik kepada hampa & tau kah, dirimu mencintai duka. Semua manusia kemudian melambat Gedung-gedung berselimut jas pekat /kini duka melihat rembulan siang Merajut benang & diam-diam melempar bebatuan. 3/7/19
0
Jul 6, 2019
Jul 6, 2019 at 10:59 AM UTC
Kontempo
Pertama, siapkan air mendidih Tuang sebungkus hidup dalam gelas Lalu, menurut anjuran para ahli Tambahkan satu sendok makan gula Berharaplah manis, jika dirasa kurang Luapkan hidupnya dalam gelas tinggi Cobalah amati lubernya, lihat saja Hidup mengalir keluar Cicipi luberan hidup yang tumpah, Hayati rasanya yang tajam, aromanya yang pekat, serta partikel-partikel yang asing Hingga kau tahu, bahwa rasa hidup yang tumpah sama dengan rasa meja Jika sudah, teguk hidup dalam gelas Murni, tanpa ada partikel asing di dalamnya Coba bedakan antara hidup yang murni dengan hidup rasa meja Aneh bukan? Memang, jika kau patuh Hidup akan lebih pahit jika diseduh.
0
Apr 8, 2018
Apr 8, 2018 at 3:24 PM UTC
Segelas
••• Tak apa.. Dalam hidup pasti akan ada cela Tak apa.. Biarkanlah mereka semua tertawa Hidup memang tidak akan pernah sempurna Namun, hidup akan selalu menyimpan cerita Dan selalu ada makna indah tersirat di dalamnya Yang akan menuntunmu untuk belajar dewasa Dirimu hanyalah milikmu Ragamu akan selamanya menjadi milikmu Begitu pula dengan sukmamu, Yang akan selalu terikat dan melekat pada jiwamu Mereka yang mencela Hanya melihat yang ada di depan mata Namun, dirimu lah yang tahu semua di balik realita Biarkan mereka puas mencela tanpa rasa iba Namun, kau harus percaya Tiap nyawa memiliki kebaikannya Tiap jiwa memiliki indah benderangnya Dan tiap insan, pasti memiliki jalan terbaiknya Kamu hebat meski tidak sempurna Kamu indah meski tanpa dasar fakta Teruslah berteman dengan semesta, Niscaya kau kan temukan "bahagia" •••
0
Jun 7, 2020
Jun 7, 2020 at 9:49 AM UTC
Bahagia di Balik Semua Cela
Tidurlah di sampingku Dan izinkan aku memasuki mimpi indahmu Karena ingin kutenggelam di dalamnya Menghiasi ruang khayalmu selamanya
0
Apr 17, 2020
Apr 17, 2020 at 12:15 PM UTC
Mimpi
Dik, Pada bagian mana Oktober tidak menyenangkan? Bukankah ia yang mengantar kita sampai ke ujung toko buku? Ntah sudah berapa buku fiksi yang kini bergelayut dipuncak pikiran Padahal ntah apa yang ingin aku ketahui di dalamnya Mungkin bait? Barangkali juga sesunggukan senyum kecil-kecil yang dibiarkan lepas Maka pada bagian mana Oktober tidak menyenangkan, Dik? _BA (30 JULI 2018)
0
Dec 14, 2018
Dec 14, 2018 at 3:11 AM UTC
Siklus Oktober
/I/ Tik, tik, tik, angka-angka berdetak di tengah malam yang riuh dalam sunyi. Aku melukis senyum pada langit pirau yang terjebak dalam ruang-ruang gelap. Jendela mempersilahkan gagak masuk menyampaikan rekam tawa dari orang-orang yang melukis kesedihan di birai bibir. Seolah parade, bergembiralah seisi ruangan yang hanya ada aku saja di dalamnya. /II/ Kota mulai curiga kepada siapa saja yang mencoba menetap. Berlari dan tergesa adalah cara bunuh diri dalam kota yang melaju cepat dan semakin cepat. Aku memilih menjebak diriku dalam ruang tak berpintu, yang lantainya kususun dari debur gelombang bulan purnama. Ranjangnya mencekik kerongkonganku di pagi hari yang tak pernah tiba. /III/ Apakah terlambat untuk menjadi diriku sendiri? Ataukah terlalu cepat untuk menemukan diriku dalam tubuh yang nirmakna? Jika kesunyian berbunga makna, seharusnya aku menemui makna atas diriku pada suatu pagi di ujung simpul tali. Aku melayang, engkau menerka udara. Aku hidup, engkau perdebatkan prosesi pemakaman dalam daftar-daftar tak kasat mata. /IV/ Seekor nyamuk menganggu kewarasaannya dalam menghitung berapa bintang yang tak pernah melempar cahaya. Keningnya menjelma komidi putar, menjauh, mendekat, pergi dan kembali. Suara-suara berbaris, mempersempit lorong waktu dan jembatan kota yang mulai menua. Telapak tangannya bergetar seiring detak jantung yang terus mempercepat kembang-kempisnya. /V/ Senang pernah bersua, tapi aku tak ingat. Di antara aku dan lainnya, siapa yang memperkenalkan diri di awal pertemuan? Begitu juga esok hari, wajah siapa yang tergores dalam cermin? Siapa yang mengucap selamat tinggal dalam jumpa yang seharusnya tak pernah menjadi sebuah perpisahan?
0
Aug 1, 2020
Aug 1, 2020 at 12:28 AM UTC
Berdansa Dalam Gemerlap Rumah Sakit Jiwa.
/I/ Tik, tik, tik, angka-angka berdetak di tengah malam yang riuh dalam sunyi. Aku melukis senyum pada langit pirau yang terjebak dalam ruang-ruang gelap. Jendela mempersilahkan gagak masuk menyampaikan rekam tawa dari orang-orang yang melukis kesedihan di birai bibir. Seolah parade, bergembiralah seisi ruangan yang hanya ada aku saja di dalamnya. /II/ Kota mulai curiga kepada siapa saja yang mencoba menetap. Berlari dan tergesa adalah cara bunuh diri dalam kota yang melaju cepat dan semakin cepat. Aku memilih menjebak diriku dalam ruang tak berpintu, yang lantainya kususun dari debur gelombang bulan purnama. Ranjangnya mencekik kerongkonganku di pagi hari yang tak pernah tiba. /III/ Apakah terlambat untuk menjadi diriku sendiri? Ataukah terlalu cepat untuk menemukan diriku dalam tubuh yang nirmakna? Jika kesunyian berbunga makna, seharusnya aku menemui makna atas diriku pada suatu pagi di ujung simpul tali. Aku melayang, engkau menerka udara. Aku hidup, engkau perdebatkan prosesi pemakaman dalam daftar-daftar tak kasat mata. /IV/ Seekor nyamuk menganggu kewarasaannya dalam menghitung berapa bintang yang tak pernah melempar cahaya. Keningnya menjelma komidi putar, menjauh, mendekat, pergi dan kembali. Suara-suara berbaris, mempersempit lorong waktu dan jembatan kota yang mulai menua. Telapak tangannya bergetar seiring detak jantung yang terus mempercepat kembang-kempisnya. /V/ Senang pernah bersua, tapi aku tak ingat. Di antara aku dan lainnya, siapa yang memperkenalkan diri di awal pertemuan? Begitu juga esok hari, wajah siapa yang tergores dalam cermin? Siapa yang mengucap selamat tinggal dalam jumpa yang seharusnya tak pernah menjadi sebuah perpisahan?
Continue reading...
26
Mati sudah hati dan segenap perasaanku kau bunuh Mati semua pengharapanku kau regas Mati rupa dan baikmu dalam ingatanku kau rampas habis Lalu dengan mudah kau bilang maaf Sertamerta lantang kau bersumpah serapah mampu menghidupkan yg mati Tidak. Kau bukan Tuhan, kau bajingan Biar aku yg bersaksi bahwa kau pantas dikubur sedalam-dalamnya sebisa semauku Mati, mati Kau buat kamu menjadi mati.
0
Jul 27, 2020
Jul 27, 2020 at 10:25 AM UTC
Mati