"bunyi" poems
pengecut itu
hidup di sela huruf-huruf
yang diukir oleh jari mahirnya
sambil bersahut bunyi dengan si gadis
di medio sunyinya malam.
pengecut itu
dalam senyap ia merayap ke pucuk harapan
seorang gadis dengan
senyuman kecut.
sibuk sembari mabuk
si gadis membingkai peti mati
berbaring harapan si gadis
dorman tak tersemai
karena buaian sang pengecut perlahan menjadi
kata tanpa arti, janji tanpa bukti.
teruntuk:
sang pengecut yang pucat pelasi kala bertemu
namun terlampau berani di balik ruang semu
Nov 1, 2018
Nov 1, 2018 at 10:07 PM UTC
Mendengarmu berceloteh,
Daun telingaku kian mengecil,
Menciut sesak dalam lubangnya,
Hingga tiada bunyi menggugah pikiran.
Memandangmu beserta materimu,
Kelopak mataku tak kuasa terbuka,
Ku paksa terbelalak, menatap tajam,
Sampai pandanganku kosong hampa.
Menghadiri kelas mata kuliahmu,
Detik jarum jam seakan tertidur tuk berdetak,
Ruangan seakan penuh dengan jeritan jiwa,
Tinggallah hasrat untuk kembali pulang.
Wahai bapak dosenku,
Adakah engkau menawarkan air di panasnya hati,
Akankah kau menabur harum bunga di otak yang usang,
Atau apakah rasa jemu takkan terganti?.
Mar 14, 2015
Mar 14, 2015 at 3:10 AM UTC
Tik tik berakhir tok
Kau bersua laksana si empu sendok
Meniti waktu dengan langkah jongkok
Asal bukan dengan otak yang pekok.
Satu menit kau pergi
Tiga menit kau balik lagi
Menit ke-lima kau berlari
Menit ke-tuju kau cuma berdiri.
Kejar kejaran jarum kau paling peduli
Bunyi desah jarum kau paling kagumi
Salah sedikit kau hitungi
Sedang waktu kau coba bagi.
Jan 24, 2017
Jan 24, 2017 at 2:14 AM UTC
Jam tujuh pagi tadi Ibu mengetuk pintu
Bunyi ketukan itu sampai empat kali terulang
Di ketukan empat setengah,
Pintu terbuka setengah juga
“Ya?”
“Mandi, Mbak.”
“Pingin tidur lagi.”
“Tapi hari ini hari kemenangan.”
Raut wajahnya yang telah menjadi warisanku tak sedikitpun menunjukkan bahwa dia telah memenangkan apapun.
Tidak seperti kebanyakan orang,
Untuknya hari ini bukanlah tentang seberapa kental kolam santan yang menyimbahi santapan-santapan
Bukan juga tentang berpeluk-rindu dengan orang-orang sambil sesekali bertukar kabar
Lelah mengutuk dirinya karena seumur hidup merasa kalah,
Aku tahu bahwa sehari saja ia ingin merasa menang.
Ia sendiri tahu betul saat hari ini berakhir dan tamu berpamit untuk pulang setelah semua habis terkunyah; ia akan kembali merasa kalah.
Menang atas dan untuk apa?
Seribu kata maaf pun ia telan begitu saja tanpa mencerna kata tersebut keluar dari mulut siapa
Tanpa adanya hari kemenangan yang dibanjiri oleh teks bersampul maaf,
Hidupnya memang sudah tentang meminta maaf dan memaafkan
Tak ada pilihan lain.
Hanya saja hari ini sinar sendu wajahnya menunjukkan bahwa akhirnya,
Setidaknya untuk dia,
Harapan pahitnya terhadap ‘maaf dan memaafkan’ akan diselebrasikan;
Dan seperti dirinya, lebih dari sejuta orang akan melakukannya walaupun untuk sehari saja.
Kepada siapa lagi ia harus meminta maaf dan meminta dimaafkan?
Jun 5, 2019
Jun 5, 2019 at 8:40 AM UTC
Hening, pikirku
Aku sendiri di kerinduan malam
Bunyi kota malang melintang di pikiranku
Suara penyanyi jalanan memecah sunyi
Hening, pikirku
Aku sendiri di gelapnya ibu kota
Bunyi senyap pedagang memekik di telingaku
Suara hentakan kaki berirama melawan arus
Hening, kataku
Aku sendiri tanpa arah
Bunyi dentuman keras degup jantungku
dan
Suara muramnya hatiku memenuhi pikiran
Hening, ku terdiam
Bisingnya ibu kota malam ini
Itu semua untuk mengitung harapan
Seberapa besar kesempatanku untuk bersamamu
Sampai aku mengabaikan gemilangnya malam ini
Sampai aku melupakan kesempatan lainya
Bising, aku tersadar
Aug 7, 2017
Aug 7, 2017 at 9:35 AM UTC
PETIR, HANYA KAMU YANG TAHU......
........ MMMMM..............
BEGINI,.. MMMMMM...... DULU AKU SEPERTI ABU.
BUNYI ITU,
Oct 20, 2020
Oct 20, 2020 at 3:02 AM UTC
bakar saja paru-parumu.
hantam saja semua,
biar jatuh berhamburan sampai koyak.
tendang sekeliling deretan batu bata yang tersusun rapi sampai kakimu ngilu.
aku telah kebal pada tatapan tajammu.
telingaku tuli dari raungamu yang menderu.
ketukan bunyi lidah tak bermakna kian lesap mengganggu.
biar bergelut dengan bingungmu.
aku benci
caramu menyatakan perang.
Jul 11, 2019
Jul 11, 2019 at 11:56 AM UTC
'fah masa bla bla bla bla.. bangsct.'
'cowo emang bangsct lu..
santuy, kita juga harus bangsct.'
begitulah
percakapan dua gadis
belum bisa bercakap dengan manis
di sela sela kuliah siang
sembunyi bunyi dari pengawasan sang dosen
terhalang dua ruang kelas
pertanyaannya :
satu, apakah semua laki laki seperti itu ?
dua, apakah kami berdua harus ikut seperti itu ?
ya betul sekali, dua pertanyaan tadi sangatlah retoris.
pastilah jawabannya...
tentu.
gakdeng, saya berusaha melawak saja.
dan untuk kamu, semoga tidak seperti itu ya sayang.
Sep 3, 2019
Sep 3, 2019 at 6:53 AM UTC
pengecut itu
hidup di sela huruf-huruf
yang diukir oleh jari mahirnya
sambil bersahut bunyi dengan si gadis
di media sunyinya malam
pengecut itu
dalam s e n y a p
merayap ke pucuk harapan seorang gadis
dengan senyuman kecut
sibuk sembari mabuk
si gadis membingkai peti mati
berbaring harapan si gadis
yang dorman tak tersemai
karena buaian sang pengecut
perlahan menjadi
kata tanpa arti, janji tanpa bukti
teruntuk:
sang pengecut yang pucat pelasi kala bertemu
namun terlampau berani di balik ruang semu
Sep 2, 2019
Sep 2, 2019 at 9:48 AM UTC
MALAM yang indah, bulan sabit tiba-tiba hilang dari pandangan.
KLISE; bunyi burung malam dibarengi meong kucing-kucing kecil, bunyinya seperti +-@$"'=,/::!
aku diam, aku tak sanggup gugup atas dua jiwa yang sudah ditelan bersama potongan tuna setengah segar. kutukan penantang tuhan. nging
Sep 21, 2020
Sep 21, 2020 at 8:54 AM UTC