Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"bungkam" poems
*absolutely scandalous the way you are.. you treat me mercilessly for feeling cheerful .. so cruel attitude you are .. thou silent throughout my sense of my disappointment to smile .. truly evil your touch .. you whip my heartbeat pounding and carefree .. indeed bear your concern .. you fill up my weak with politely invincible .. really sneaky way you are .. you stole my heart a dozen years ago to freeze and harden .. indeed savage your sincerity .. you satisfy and pamper me until i could not walk on the mainland .. because you are the villain of heart of mine..!* ┈┈┈┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶  ƦУ  »̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈┈┈┈┈┈┈ sang penjahat hati..! sungguh keji caramu.. engkau perlakukan perasaanku tanpa ampun untuk ceria.. sungguh kejam sikapmu.. engkau bungkam seluruh rasaku kecewaku hingga tersenyum.. sungguh jahat sentuhanmu.. engkau cambuk detak jantungku berdegup kencang dan riang.. sungguh tega perhatianmu.. engkau jejali lemahku dengan santunmu hingga tak terkalahkan.. sungguh licik caramu.. engkau curi hatiku belasan tahun lalu hingga membeku dan membatu.. sungguh biadab ketulusanmu.. engkau puasi dan manjakan asaku hingga tak sanggup kupijak daratan.. karena enkau adalah sang penjahat hatiku..!
0
Jan 11, 2014
Jan 11, 2014 at 12:30 AM UTC
the villain heart
"Cahaya redup itu umpama semesta alam." birunya naungan langit fajar ketika tetes embun hadir di atas permukaan daun pada hari itu kau berujar "Pernahkah kamu tahu bahwa gelapnya mengisahkan beribu kisah?" yang ada suaraku bungkam oleh pertanyaanmu gaungnya terngiang mengisi sudut hampa telingaku sebuah kubus berisi ruang kosong tak beraksara ada sorot matamu yang terjebak di dalamnya "Pernahkah kamu sentuh sisi gelap yang bersembunyi itu?" pernah taman kecil berisi bunga warna-warni dalam suaramu yang sepi kusam, kota lama yang redup di tengah peradaban kuperhatikan rambut ikal panjangmu menjilati tengkukmu sambil disiuli angin yang bernyanyi pelan, begitu tenang "Atau yang tidak sengaja kamu sembunyikan?" "Ralat, yang sengaja kamu sembunyikan." matamu mengerling menerawang memandang langit Juni apa lagi yang kamu dambakan dari gelap pada pagi secerah ini? "Cahaya redup umpama semesta alam, gelapnya mengibarkan beribu ilham." jemarimu cepat berdansa dengan senar begitu cermat ingat pertama kali dua pasang mata sendu ini berkenalan dalam gelap dalam redup lahir melodrama di tengah rintik tangisan langit bulan kedua "Gelapnya mengibarkan seribu ilham. Gelapnya mendatangkan pelangi di tengah tulisan dalam buku kelabuku." diremasnya jemariku, lalu tenggelam dalam beribu rasa bunga-bunga merekah membentangkan senyum sang surya apa lagi yang kudambakan dari gelap pada pagi secerah ini? satu pertanyaan kubisikkan untuk langit biru pada bulan Juni apakah hadirku sudah cukup bagi hari-hari gelapmu? lalu, jemarimu meremas jemariku lebih keras seolah tak pernah ingin lepas.
0
Oct 2, 2017
Oct 2, 2017 at 8:53 AM UTC
ada gelap, redup, lalu apa?
"Cahaya redup itu umpama semesta alam." birunya naungan langit fajar ketika tetes embun hadir di atas permukaan daun pada hari itu kau berujar "Pernahkah kamu tahu bahwa gelapnya mengisahkan beribu kisah?" yang ada suaraku bungkam oleh pertanyaanmu gaungnya terngiang mengisi sudut hampa telingaku sebuah kubus berisi ruang kosong tak beraksara ada sorot matamu yang terjebak di dalamnya "Pernahkah kamu sentuh sisi gelap yang bersembunyi itu?" pernah taman kecil berisi bunga warna-warni dalam suaramu yang sepi kusam, kota lama yang redup di tengah peradaban kuperhatikan rambut ikal panjangmu menjilati tengkukmu sambil disiuli angin yang bernyanyi pelan, begitu tenang "Atau yang tidak sengaja kamu sembunyikan?" "Ralat, yang sengaja kamu sembunyikan." matamu mengerling menerawang memandang langit Juni apa lagi yang kamu dambakan dari gelap pada pagi secerah ini? "Cahaya redup umpama semesta alam, gelapnya mengibarkan beribu ilham." jemarimu cepat berdansa dengan senar begitu cermat ingat pertama kali dua pasang mata sendu ini berkenalan dalam gelap dalam redup lahir melodrama di tengah rintik tangisan langit bulan kedua "Gelapnya mengibarkan seribu ilham. Gelapnya mendatangkan pelangi di tengah tulisan dalam buku kelabuku." diremasnya jemariku, lalu tenggelam dalam beribu rasa bunga-bunga merekah membentangkan senyum sang surya apa lagi yang kudambakan dari gelap pada pagi secerah ini? satu pertanyaan kubisikkan untuk langit biru pada bulan Juni apakah hadirku sudah cukup bagi hari-hari gelapmu? lalu, jemarimu meremas jemariku lebih keras seolah tak pernah ingin lepas.
Continue reading...
31
Sukarkah sekeping  hati seorang wanita itu di fahami? Is it too difficult To understand a woman's heart? Just her piece of heart Hati wanita A woman's heart Kadangkala keras membatu Sometimes too hard Bak kerikil di jalanan Just as hard as the stones in the streets Sekeuat  ketulan ais di Antartika as tough as an iceberg in Antartica.. Hati wanita A woman's heart Kadangkala dingin membeku Sometimes as cold as ice Kadangkala luka  merah berdarah Sometimes as red as it bleeds Kadangkala duka bungkam dan lara Sometimes too sad, almost grieving Kadangkala tenang putih suci bak salju Sometimes too calm, too pure as white as the snow Kadangkalanya selembut bulu pelepah Sometimes as soft the feathers Hati wanita A woman's heart Damai yang dicari Always Searching for a peaceful soul Langit tinggi ingin di gapai Searching in the sky so high Terbang jauh mencecah awan.. Flying up in the blue blue sky Bahagia yang didamba... Every woman seeks happiness Hanya tersemat di dalam hati Yet locking the desires  at heart Tersimpan seribu rahsia wanita misteri....... A woman's heart like an untold tales the safest place where secrets and mysteries are sealed.. Selamanya di hati seorang bernama wanita tightly sealed in a woman's heart forever.....
0
May 7, 2014
May 7, 2014 at 1:35 PM UTC
Hati Wanita/ A Woman's heart
Malam hari kau berteriak 'tolong' dari matamu aku tahu kau butuh sesuatu untuk kau jadikan alasan untuk terus berjuang Malam hari itu, kau bungkam kau memaksakan diri untuk tersenyum tertawa alunan suara tak pernah berbohong, sayang matamu yang sayu itu menangis, sayang... Ada apa? Malam hari itu aku berpikir Ada apa? Ada apa? Kamu tahu? Kesedihan seseorang yang disayang itu menular bak penyakit yang arogan mengerogoti badan? Kamu tahu? Aku tertular? Dan aku bahagia, setidaknya aku masih punya hati untuk merasakan duka bersama.
0
Aug 7, 2017
Aug 7, 2017 at 1:18 PM UTC
Aku dan Pemuda itu Bungkam
Matanya yang kalap di kotak menghampas debur debu dari atap ke puncak dahan. Menutup temaram lampion. Berusaha menampik getar di dada yang telanjang. Itu-kini sampai kesekian lintas kelokan. Terlewati. Enam uang logam terbuai lendir lintah saat kududuki kursi tak ubahnya senjakala & engkau sadar. Berdiam & terus bungkam menunggu henti nyanyian puan nun sumbang berkaca daku yang terpasung, itu di abu letupan yang mencandu hujam asam & melulu jadi bisu-kita. Di renda setengah tertutup/ semua orang sudah tahu. Perihal hening yang memang tak pernah membuah harap. Hilangnya alkisah kemuning pala kambing yang enggan memerah. Walau bertumpu akan cita dalam almanak musnah-karam / tiada henti di jaga oleh wajah-wajah muram; di garis vertikal di persegi dua dimensi/ hitam pun segitiga/ jajar genjang & semut kita mengerubung oval. Seraya penonton menyilang dua lengan di dada di lingkar rafia sementara ini semakin terasa di Kursi. Meja. Cangkir. Jendela. Cat. Kuas & Tv. Lentera. Buku. Radio. Senter /beringin di jiwa.
0
Jul 6, 2019
Jul 6, 2019 at 3:46 PM UTC
menggiling mesin-mesin
Kalau saja kau sempat. Pandang, bagaimana mulut ini bisa saja menegur, tersenyum? Tapi otak membeku bungkam bagai impuls macat karena motor neuron salah menghantar ke jalur yang tak seharusnya Aku coba pulang, balik bak kala kau amati sosokku yang periang dan sayang Bukannya aneh waktu dulu semua lihat ku dan kamu serupa kawan tanpa ada salah tingkah didalamnya Ceritakan sekali lagi bagaimana diriku yang dulu Agar aku kembali, jadi kita, aku yang mudah, kau yang tak ada apa-apa. Tiap pertama bertemu, doaku kutak lagi buat kesalahan yang sama. Semata-mata memang karena, kau teman yang begitu berharga.
0
Mar 12, 2018
Mar 12, 2018 at 11:36 PM UTC
Lewat kita
Kepada bumi yang semakin liar. Dipenuhi sesak yang membakar. Kepada para manusia yang disebut pemimpin. Lihatlah tempat-tempat di mana kami bermukim. Panas, seakan membakar diri. Peluh berjatuhan semakin jadi. Tanpa hirauan dari kalian para petinggi. Melepas kata seolah akan kami pahami. Sudahilah kepura-puraan kalian. Kami muak akan kepalsuan. Kau bungkam kami dengan janji manis. Kemudian kau tertawa dengan bengis. Hancur sudah perlahan mimpi. Tak satupun orang-orang yang peduli. Terbujur kaku dingin diam membisu. Kepada siapa lagi kami kan mengadu. Banyak kata terbuang percuma. Mengkoarkan segala duka penuh kecewa. Kepada mereka para petinggi yang berkuasa. Takpunya hati dan rasa bela sungkawa. -M-
0
Sep 29, 2019
Sep 29, 2019 at 7:00 AM UTC
Para Petinggi