Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"beserta" poems
Mendengarmu berceloteh, Daun telingaku kian mengecil, Menciut sesak dalam lubangnya, Hingga tiada bunyi menggugah pikiran. Memandangmu beserta materimu, Kelopak mataku tak kuasa terbuka, Ku paksa terbelalak, menatap tajam, Sampai pandanganku kosong hampa. Menghadiri kelas mata kuliahmu, Detik jarum jam seakan tertidur tuk berdetak, Ruangan seakan penuh dengan jeritan jiwa, Tinggallah hasrat untuk kembali pulang. Wahai bapak dosenku, Adakah engkau menawarkan air di panasnya hati, Akankah kau menabur harum bunga di otak yang usang, Atau apakah rasa jemu takkan terganti?.
0
Mar 14, 2015
Mar 14, 2015 at 3:10 AM UTC
To : Mr. Dozzen
Baru saja tubuh beserta ruh ini menggelar ritual yang dianggap kekal Ritual dimana aku bisa merasakan tubuhku merukuk, merunduk, menekuk-nekuk seikhlasnya tanpa meminta apapun kecuali untuk tubuh ini dibimbing Nya Tak peduli jika doaku belum juga dijabah Sesungguhnya Tuhan hanya ingin jiwa ini pasrah Sebiadab-biadabnya laku ku sebagai manusia, terkadang haus juga akan ibadah Disaat kedua tangan ini hendak selesai menggulung kain sajadah, Muncul pesan berisi alamat. “Sampai ketemu.” Seakan lupa terhadap perihal ritual kekal dunia akherat Ujung kepala sampai ujung kaki ini sepakat untuk berangkat Mengapa akal sulit digunakan jikala merindu? Aku bersumpah, tak ada yang tahu. — Dalam sesingkatnya waktu aku menjadi saksi akan kehadiran tubuhku di ruang serba asing Satu-satunya yang tak asing adalah rupanya. Ditengah kegaduhan batin yang luar biasa, Hati ini hanya bisa berkata; “Akhirnya aku kembali melihat matanya.” Setengah sayup setengah berbinar, Sepasang bola mata itu menatap milikku, Suara familiar yang sekarang terdengar serak parau dibabat dunia itu bercerita; “Aku lelah.” “Aku tahu.” Tak sampai tiga puluh menit diriku kembali menjadi saksi akan ingkarnya sumpahku, Karena aku bisa melihat tubuh ini kembali merukuk, merunduk, menekuk berliuk-liuk Di momen itu, segala pengetahuan lucut bersama pakaian. Saat pakaianku dilempar ke lantai, Harga diri yang kupeluk erat ikut jatuh bersamanya. Adegan pengingkaran sumpah itu berlangsung entah berapa lama Buah sinar Matahari mulai mengintip untuk meberitahu bahwa hari baru sudah nampak Aku bergegas mengambil seribu jejak, Di jalan pulang aku menerima pesan; “Terima kasih.” “Kembali.” Butuh seribu tahun untuk hancur ini diperbaiki. Semua ini, sedangkan aku hanya ingin melihat matanya.
0
May 27, 2019
May 27, 2019 at 12:42 AM UTC
Sumpah Dibayar Mata
Baru saja tubuh beserta ruh ini menggelar ritual yang dianggap kekal Ritual dimana aku bisa merasakan tubuhku merukuk, merunduk, menekuk-nekuk seikhlasnya tanpa meminta apapun kecuali untuk tubuh ini dibimbing Nya Tak peduli jika doaku belum juga dijabah Sesungguhnya Tuhan hanya ingin jiwa ini pasrah Sebiadab-biadabnya laku ku sebagai manusia, terkadang haus juga akan ibadah Disaat kedua tangan ini hendak selesai menggulung kain sajadah, Muncul pesan berisi alamat. “Sampai ketemu.” Seakan lupa terhadap perihal ritual kekal dunia akherat Ujung kepala sampai ujung kaki ini sepakat untuk berangkat Mengapa akal sulit digunakan jikala merindu? Aku bersumpah, tak ada yang tahu. — Dalam sesingkatnya waktu aku menjadi saksi akan kehadiran tubuhku di ruang serba asing Satu-satunya yang tak asing adalah rupanya. Ditengah kegaduhan batin yang luar biasa, Hati ini hanya bisa berkata; “Akhirnya aku kembali melihat matanya.” Setengah sayup setengah berbinar, Sepasang bola mata itu menatap milikku, Suara familiar yang sekarang terdengar serak parau dibabat dunia itu bercerita; “Aku lelah.” “Aku tahu.” Tak sampai tiga puluh menit diriku kembali menjadi saksi akan ingkarnya sumpahku, Karena aku bisa melihat tubuh ini kembali merukuk, merunduk, menekuk berliuk-liuk Di momen itu, segala pengetahuan lucut bersama pakaian. Saat pakaianku dilempar ke lantai, Harga diri yang kupeluk erat ikut jatuh bersamanya. Adegan pengingkaran sumpah itu berlangsung entah berapa lama Buah sinar Matahari mulai mengintip untuk meberitahu bahwa hari baru sudah nampak Aku bergegas mengambil seribu jejak, Di jalan pulang aku menerima pesan; “Terima kasih.” “Kembali.” Butuh seribu tahun untuk hancur ini diperbaiki. Semua ini, sedangkan aku hanya ingin melihat matanya.
Continue reading...
35
kau bisa melupakan dia beserta rindumu yang menyebalkan. lalu, bersikaplah menyebalkan agar aku selalu rindu. bahagiaku seabsurd itu.
0
Jun 11, 2019
Jun 11, 2019 at 5:20 AM UTC
bisa kok
REKTOR SEKALIGUS SIASAT BODOHNYA. USAHA KERAS YANG PERCUMA IA KAN RAWAT SEHIDUP SEMATINYA. DI BAWAH tuhan IA MIRIP DI ATAS TUHAN. REKTOR MEMBUNGKAM SI PENAKUT KURUS YANG BERPURA-PURA NYARING SEPERTI DUA CERMIN YANG NYATANYA MEMANTUL LEMAH. BUDAK-BUDAK LAHIR DARI REKTOR YANG NYATANYA KERUH ISI PERUTNYA. DARMA NAN BAIK TERNYATA 3750. ASAP KOSONG DENGAN INJAKAN KERAS BAGI KAUM INTELEKTUAL PALSU. SEKALI LAGI, BIAR KUPASTIKAN LAGI, REKTOR BESERTA SIASAT BODOHNYA.
0
Oct 7, 2020
Oct 7, 2020 at 4:36 PM UTC
OKLASASADU
Trotoar yang basah karena es yang mencair, Ungkapan penyesalan beserta cacian terlontarkan. Seseorang memilih hidup di masa lalu, Seseorang yang ingin merubah semuanya, Seseorang yang ingin mencari tujuan, Kita semua punya dosa masing-masing bukan "Kami tertawa kami sepakat ini semua baru permulaan." Beberapa pria sulit menceritakan hal buruk yang terjadi pada dirinya, Beberapa dari kita terjebak dalam rutinitas yang tidak pernah kita sukai, Pola yang berulang setiap pekan. 21 yang menyebalkan, namun penuh pelajaran Kami melempar dadu yang sama berkali-kali dan menebak angka yang salah, Kami anggap ini skakmat kehidupan Menunggu dimakan atau membalas menyerang. 2025 reydmh
0
May 19, 2025
May 19, 2025 at 3:23 PM UTC
Pagar besi & botol hijau