Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"bersama" poems
Palembang, 18 Desember 2011 Ku tak ingat pertama kali aku membuka mata tuk melihat dunia Yang ku ingat aku hidup bersama keluarga kecil yang bahagia Semasa hidup dunia tak pernah berubah 7 samudera, 7 benua Tetap Bukti kecintaan Sang Pencipta kepada manusia Cinta itu penipu Bisa berperan menjadi apa saja dan siapapun Ombak di laut lepas, itulah cinta Sinar mentari pagi, itulah cinta Tetes embun pagi, itulah cinta Dingin angin malam, itulah cinta Cinta itu tirta Sama seperti air, tak dapat disentuh, hanya bisa dirasakan Cinta itu air sungai yang mengalir Cinta itu jalanan berkelok di pegunungan Cinta itu pepohonan di kaki gunung Cinta itu butiran pasir di Sahara Cinta mampu hidup di mana saja Bak parasit yang mengikuti kemana manusia Cinta itu suci di Mekkah Cinta itu tinggi di Everest Cinta itu luas di Pasifik Cinta itu dingin di Antartika Namun terkadang cinta bisa menjadi liar Tak mau disentuh, pantang diucap Cinta bagaikan Viranha di Amazon Bagaikan Voldemort, The Dark Lord Bagaikan Troll di pedalaman Bagaikan kota hilang di Peru Cinta bagaikan mumi di Mesir Bagaikan terowongan di Jalur Gaza Bagaikan Titanic yang tenggelam Bagaikan laut mati di Yugoslavia Aku merenung,, diam Memandang jam,, terus berdetak Ku akan tinggal di Laguna indah Jauh dari semua,, jauh dari cinta
0
Dec 19, 2011
Dec 19, 2011 at 1:26 AM UTC
CINTA dan Dunia
Senja djakarta enam belas januari dua ribu lima belas . di hadapan leptop , aku merangkai kata demi kata untuk menghasilkan sebuah karya yang indah . ku tatapi sekelilingku ... benda mati , sepi, lengang ... andai printer yang disampingku itu berbicara... gunting itu berkata, dan pulpen ini berteriak , akan aku ceritakan sebuah kisah klasik ini di hadapan benda-benda itu . entah apa yang aku rasakan saat ini . abstark sepertinya . aku pernah berangan-angan menikmati teh rosela bersama bapakku didalam dekapan senja hangat mengantarkan mentari itu pulang , dalam dekapan . bapak yang aku rindukan kasih sayangnya melebihi apapun di dunia ini . Maafkan aku mama, aku tidak pernah serindu ini kepada bapakku . tapi percayalah , kedudukanmu dihatiku selalu ku prioritaskan bak malaikat yang selalu menjagaku setiap hari . Mama... bisakah engkau wakilkan rasa ini kepada bapakku , bahwa aku ingin mencium tangannya . kemudian ia tersenyum merasakan hangat cinta anakknya . rasa apa yg lebih berarti daripada menahan rindu ini , menahan rindu akan sosok bapakku yang genap 8 tahun sudah tidak pernah menyapaku lagi . aku tidak ingin mengingatnya dengan kenangan buruk , tetapi aku akan mencoba menguburnya ,dan ini lah saatnya aku menjadi pribadi yang berubah . bapak, tahukah engkau pak , aku sudah beranjak dewasa, dr dewasa itu aku menemukan siapa diriku sebenarnya . sadar bahwa aku bukanllah apa-apa tanpamu pak . sadara bahwa aku di dunia ini karena mu dan ibu . maafkan aku yang tidak pernah mendegarkanmu . Senja ... saksikanlah bahwa aku ingin sekali bapak duduk di pelaminan bersama ibu , dan aku berada tepat di bawah kakiknya . sembah sungkem merestui pernikahanku bersama pria yang dikirimkan ALLAH untukku .
0
Jan 16, 2015
Jan 16, 2015 at 6:09 AM UTC
Senja
Senja djakarta enam belas januari dua ribu lima belas . di hadapan leptop , aku merangkai kata demi kata untuk menghasilkan sebuah karya yang indah . ku tatapi sekelilingku ... benda mati , sepi, lengang ... andai printer yang disampingku itu berbicara... gunting itu berkata, dan pulpen ini berteriak , akan aku ceritakan sebuah kisah klasik ini di hadapan benda-benda itu . entah apa yang aku rasakan saat ini . abstark sepertinya . aku pernah berangan-angan menikmati teh rosela bersama bapakku didalam dekapan senja hangat mengantarkan mentari itu pulang , dalam dekapan . bapak yang aku rindukan kasih sayangnya melebihi apapun di dunia ini . Maafkan aku mama, aku tidak pernah serindu ini kepada bapakku . tapi percayalah , kedudukanmu dihatiku selalu ku prioritaskan bak malaikat yang selalu menjagaku setiap hari . Mama... bisakah engkau wakilkan rasa ini kepada bapakku , bahwa aku ingin mencium tangannya . kemudian ia tersenyum merasakan hangat cinta anakknya . rasa apa yg lebih berarti daripada menahan rindu ini , menahan rindu akan sosok bapakku yang genap 8 tahun sudah tidak pernah menyapaku lagi . aku tidak ingin mengingatnya dengan kenangan buruk , tetapi aku akan mencoba menguburnya ,dan ini lah saatnya aku menjadi pribadi yang berubah . bapak, tahukah engkau pak , aku sudah beranjak dewasa, dr dewasa itu aku menemukan siapa diriku sebenarnya . sadar bahwa aku bukanllah apa-apa tanpamu pak . sadara bahwa aku di dunia ini karena mu dan ibu . maafkan aku yang tidak pernah mendegarkanmu . Senja ... saksikanlah bahwa aku ingin sekali bapak duduk di pelaminan bersama ibu , dan aku berada tepat di bawah kakiknya . sembah sungkem merestui pernikahanku bersama pria yang dikirimkan ALLAH untukku .
Continue reading...
4
Untukmu Cinta Sejuta kata tercipta untukmu Segenap jiwa ku serahkan padamu Hingga akhir waktu ku sembahkan hanya untuk mu Meski tak kau terima Cinta dalam hati ku Terhempas begitu saja Bagai dari langit ku jatuh Ingin ku berenang di lautan Arungi samudera bersama ombak Desir pasir melagukan alunan daun Lambaian tangan untuk berselancar Indah cinta mengikat raga Satu aliran nadi di salam darah Mulut mengucap selalu kata cinta Hati pun akan selalu bahagia
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:53 AM UTC
Untukmu Cinta
Palembang, 17 Desember 2011 Aku hidup dengan nafas mu Bapak, Ibu Aku ada karena Dia Yang Maha Satu Namun raga ini aku yang bawa Jiwa ini aku yang menjaga Hidup ini aku yang memilih Cerita ini aku yang jalani Aku tumbuh bersama nafas mereka Aku termotivasi karena mereka juga Nafas kita menyatu Mereka menghela nafas kebahagianku Aku menghela nafas kebahagian-Mu Nafas kami juga nafas mu, Bapak.. Ibu.. Kau pelita kehidupan Obor benderang di gelap ku Bekal mengenyangkan di lapar ku Oasis indah nan segar di dahaga ku Tak akan ada aku tanpa-Nya Tak akan hidup aku hingga sekarang tanpa Bapak dan Ibu Tak akan aku bertahan tanpa diriku sendiri Dan aku hidup tuk bersama mereka Aku yang menentukan Dia tinggal menyetujuinya Bapak Ibu hanya bmendoakan Dan sebentar lagi mereka ku gapai (it’s because I Love Shane, Mark, Kian and Nicky)
0
Dec 19, 2011
Dec 19, 2011 at 1:41 AM UTC
Nafas Kita
Tangan ku kaku ketika menulis Kaki ku lumpuh ketika melangkah Mata ku buta ketika memandang Raga ku pun mati karena merindukan Langit amat luas Hidup bahagia bersama awan Tapi, langit tak berikan aku Aku pun menangis Air laut menampung kesedihan ku Meluap menjadi awan Dan menenggelamkan jagat raya Termasuk hati ku yang sudah rentan Rentan, karena terik mentari yang menyengat Raga ku roboh terhempas angin menjadi puing Jiwa ku lari saat takut desiran pasir Darah ku habis saat berlari mengejar semua Sumpah mati takkan tergapai Cinta sejati dalam hati yang tulus Dengan ocehan yang melukai Dan kata cinta yang omong kosong Created by Aridea Purple
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:48 AM UTC
Cinta Tak Tergapai
Kau ini siapa? Aku berbicara seakan sangat mengenalmu Menyebut namamu penuh kerinduan, seakan dua sahabat yang sudah lama tak bertemu Aku serius bertanya, Kau ini siapa? Menceritakanmu ke teman-teman ku di sekolah, seakan kau ini seseorang yang ku kenal di dekat rumah Aku sekali lagi bertanya, Kau ini siapa? Tahukah kamu aku mencintaimu tidak sengaja, mengenalmu memandangmu hanya dari kata-kata Kau ini terbuat dari apa? Mencintaimu sungguh menyakitkan Ingin rasanya aku mati saja Terkubur bersama rasa ini Rasa sakit yang entah mengapa, sakit karena mencintaimu terlalu dalam
0
Jun 11, 2012
Jun 11, 2012 at 3:01 AM UTC
Kau Ini Siapa?
*when the moon  writhe and crawling the silent night.. it was time to layover yearning  who clotted for sweetheart.. when the sun excited to greet the morning .. it was time to embed cheerfulness on the idol of conscience.. sprinkle knitted heart turmoil and dew drops each cavity of jasmine petals .. i greet to you,  my dearest sister.. each twist will crease beautiful crowded heart longing .. so that  relieved you feel full carefree breathing.. with the presence of me, i will fulfill your every drought in the lake of your worries .. i will treat every your petulant  in lap with more  excellent attention ... return back to you  as always,  my dearest sister.. to pulling  the curtain  the recesses of the heart that always hiding .. to wrapping blush smolder desire in your heart arms .. because your bliss,  my dearest sister.. it's  most beautiful thing that can i enjoy ever ..* -the poetry is dedicated to a sincere friend of mine, Ha- ┈┈┈┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶ ƦУ »̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈┈┈┈┈┈┈┈ adinda kala sang rembulan menggeliat merayapi malam sunyi.. tibalah waktu untuk menyinggahi gigilnya kerinduan sang kekasih sanubari.. kala sang mentari bersemangat menyambut pagi .. tibalah waktu untuk menyematkan kecerian pada sang pujaan nurani.. menyemaikan untaian gejolak kalbu dan meneteskan embun disetiap rongga kelopak melati.. kusambut darimu, adinda... setiap simpul lipatan hati yang sesak akan indahnya kerinduan.. agar terasa lega engkau bernafas penuh riang.. bersama hadirku, kan kupenuhi setiap kekeringan ditelaga keresahanmu.. kan kumanjakan setiap rajukanmu dipangkuan perhatian nan syahdu... berpulang selalu kepadamu, adinda.. untuk menyibakan tirai pada relung hati yang selalu bersembunyi.. untuk membalut rona kerinduanmu yang membara dalam dekapan hati .. kerena bahagiamu, adinda... adalah merupakan hal terindah yang dapat kunikmati..
0
Jan 13, 2014
Jan 13, 2014 at 1:32 AM UTC
dearest sister
*when the moon  writhe and crawling the silent night.. it was time to layover yearning  who clotted for sweetheart.. when the sun excited to greet the morning .. it was time to embed cheerfulness on the idol of conscience.. sprinkle knitted heart turmoil and dew drops each cavity of jasmine petals .. i greet to you,  my dearest sister.. each twist will crease beautiful crowded heart longing .. so that  relieved you feel full carefree breathing.. with the presence of me, i will fulfill your every drought in the lake of your worries .. i will treat every your petulant  in lap with more  excellent attention ... return back to you  as always,  my dearest sister.. to pulling  the curtain  the recesses of the heart that always hiding .. to wrapping blush smolder desire in your heart arms .. because your bliss,  my dearest sister.. it's  most beautiful thing that can i enjoy ever ..* -the poetry is dedicated to a sincere friend of mine, Ha- ┈┈┈┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶ ƦУ »̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈┈┈┈┈┈┈┈ adinda kala sang rembulan menggeliat merayapi malam sunyi.. tibalah waktu untuk menyinggahi gigilnya kerinduan sang kekasih sanubari.. kala sang mentari bersemangat menyambut pagi .. tibalah waktu untuk menyematkan kecerian pada sang pujaan nurani.. menyemaikan untaian gejolak kalbu dan meneteskan embun disetiap rongga kelopak melati.. kusambut darimu, adinda... setiap simpul lipatan hati yang sesak akan indahnya kerinduan.. agar terasa lega engkau bernafas penuh riang.. bersama hadirku, kan kupenuhi setiap kekeringan ditelaga keresahanmu.. kan kumanjakan setiap rajukanmu dipangkuan perhatian nan syahdu... berpulang selalu kepadamu, adinda.. untuk menyibakan tirai pada relung hati yang selalu bersembunyi.. untuk membalut rona kerinduanmu yang membara dalam dekapan hati .. kerena bahagiamu, adinda... adalah merupakan hal terindah yang dapat kunikmati..
Continue reading...
35
Kau... membenciku kah? tidak menyukaiku? atau mungkin kau iri padaku? Kau begitu munafik! dulu aku selalu bercerita tentangnya padamu, meskipun aku dan dia sudah tak lagi bersama kau pun tahu aku masih sangat sangat menyukainya. Kau tahu aku mengaguminya berbulan bulan, kau juga tahu untuk mendapatkan hatinya seperti berlari mendapatkan satu bintang kecil. Walau pada akhir nya aku hanya jadi pelampiasan perasaannya, tapi aku masih sangat menyukainya pada waktu itu meski kenyataannya harus seperti itu. Aku teman mu, dan aku juga tahu kau juga temannya lebih dekat dari sekedar pertemananku denganmu. tapi apa kau tak bisa mengahargai perasaanku sebagai temanmu? kau tahu semua isi hatiku tentangnya, tapi mengapa kau sekarang? memadu kasih dengan dirinya yang sampai detik ini kau tahu aku masih sangat mengaguminya! kau jahat! kau benar-benar penghianat bertopeng pertemanan! kau bukan lagi temanku sekarang. Itu terlalu sakit, sangat sakit untuk ku percaya. kau bahkan hanya mengatakan maaf hanya untuk sekali seumur hidupmu?! itukah dirimu yang sebenarnya? menikamku tanpa ampun. kalian berdua sama saja, tak ada gunanya aku mempertahankan seorang teman penghianat, dan sorang pengagum yang gila perempuan. 'seorang pencuri kekasih sesungguhnya mencuri seorang penghianat!'
0
Oct 10, 2013
Oct 10, 2013 at 11:30 PM UTC
Dikamusku ada 'MANTAN TEMAN' sekarang!
Perasaan ini terus bergelung Bersembunyi di dalam relung. Seakan mencoba tuk keluar, namun keadaan tak mendukung. Ia pun lelah akan waktu yang terus berjalan namun berbanding terbalik dengannya Yang hanya duduk beralaskan rasa percaya Menatap langit kelabu menunggu turunnya rintikkan hujan pertama. Walau kerinduannya semakin lama semakin bertambah, Ia tak pernah bosan untuk membendungnya Dan menunggu, Menunggu datangnya hujan. Karena ia percaya bahwa seberapa besar kerinduannya, seberapa dalam rasa sakitnya, dan seberapa lama ia menanggung deritanya, hujan yang turun akan menyapu bersih luka di relungnya. Bagaikan obat penawar yang selalu ia temukan saat penyakitnya kembali datang. Ia tak pernah bosan bercerita kepada langit, yang dengan setia mendengar celotehannya. Sambil menunggu turunnya hujan, ia bercerita akan lika liku yang ia alami. Mendongak menatap langit, dan bercerita. Sejenak ia dapat mengalihkan perhatiaannya dari hingar bingar sekitar dan menemukan ketenangannya sendiri. Yaitu bersama langit, saat menunggu hujan. Rintikan pertama menerpa wajahnya. berhasil mengangkat sudut-sudut bibirnya. Ia tersenyum. Yang ditunggu memang tak pernah datang terlambat. Diikuti dengan rintikan lainnya dan kemudian hujan turun dengan deras. Inilah kebahagiaannya. Namun juga kesedihannya. Saat rintikan hujan yang turun berhasil membuatnya tersenyum sekaligus menangis. Karena dapat membawa ketenangan dan penghapus luka, namun juga dapat membawa kerinduan yang turun disetiap rintikannya. “Jika hujan tidak dapat membuatku seutuhnya bahagia, lantas kemana lagi aku harus mengadu?”
0
Mar 9, 2016
Mar 9, 2016 at 3:15 AM UTC
Hujan Pembawa Rindu
Perasaan ini terus bergelung Bersembunyi di dalam relung. Seakan mencoba tuk keluar, namun keadaan tak mendukung. Ia pun lelah akan waktu yang terus berjalan namun berbanding terbalik dengannya Yang hanya duduk beralaskan rasa percaya Menatap langit kelabu menunggu turunnya rintikkan hujan pertama. Walau kerinduannya semakin lama semakin bertambah, Ia tak pernah bosan untuk membendungnya Dan menunggu, Menunggu datangnya hujan. Karena ia percaya bahwa seberapa besar kerinduannya, seberapa dalam rasa sakitnya, dan seberapa lama ia menanggung deritanya, hujan yang turun akan menyapu bersih luka di relungnya. Bagaikan obat penawar yang selalu ia temukan saat penyakitnya kembali datang. Ia tak pernah bosan bercerita kepada langit, yang dengan setia mendengar celotehannya. Sambil menunggu turunnya hujan, ia bercerita akan lika liku yang ia alami. Mendongak menatap langit, dan bercerita. Sejenak ia dapat mengalihkan perhatiaannya dari hingar bingar sekitar dan menemukan ketenangannya sendiri. Yaitu bersama langit, saat menunggu hujan. Rintikan pertama menerpa wajahnya. berhasil mengangkat sudut-sudut bibirnya. Ia tersenyum. Yang ditunggu memang tak pernah datang terlambat. Diikuti dengan rintikan lainnya dan kemudian hujan turun dengan deras. Inilah kebahagiaannya. Namun juga kesedihannya. Saat rintikan hujan yang turun berhasil membuatnya tersenyum sekaligus menangis. Karena dapat membawa ketenangan dan penghapus luka, namun juga dapat membawa kerinduan yang turun disetiap rintikannya. “Jika hujan tidak dapat membuatku seutuhnya bahagia, lantas kemana lagi aku harus mengadu?”
Continue reading...
29
Senja masih terasa sama , ia hadir menyapa seakan menghadirkan sejuta tanya ? kemudian tak lama 'anganku mulai bermain , berhalusinasi akan sebuah daun yang jatuh kemudian terbang bersama angin . hidup tanpa senja seakan berjalan tiada tulang , tak berdaya , rentan dan rapuh . appapun yang ingin aku sampaikan melalui goresan ini , adalah bukti bahwa aku tidak pernah mengingkari janji Allah , bahwa senja akan terus menemuiku setiap ia akan pulang . meskipun terkadang ia hadir bersama rintikan hujan yg terus menerus membasahi tanah jakarta Dan aku tak tau lagi , kapan aku bisa menyaksikan senja tenggelam di pinggir pantai lengkap dengan deburan ombak . Senja engkau berhasil membuat rekaman itu selalu berputar memplay memori ku bersama bapak . memori dan kenangan di masa kecil itu . aku tidak pernah memikirkan apakah yg harus ku cari esok hari
0
Feb 11, 2015
Feb 11, 2015 at 5:04 AM UTC
Antara 10 Februari , Senja , dan awan Mendung
sedikit demi sedikit, aku sudah tidak merasakan kamu di cangkir kopiku setiap pagi. entah rasanya mengapa sangat sangat habar. seakan kamu sudah benar-benar pergi dari sini. tidak ada yang membuat jantung ini seakan sudah tidak berada di tempatnya lagi ketika mataku menangkap sosokmu. aku tahu, nantinya memang kamu akan pergi. mencintai pilihanmu yang lebih sempurna dariku. aku hanya manusia, mi querido. aku bukan dia yang lebih dari manusia normal. dia spesial untukmu. sedangkan aku tidak. oh, tidak. aku tidak pernah kemana-kemana. aku tidak pergi. aku tetap disini dan menunggu. hanya sepertinya kamu saja yang tidak pernah sadar jika aku disini. sudah menerka-nerka. semua ini akan berakhir tidak berbalas. semua ini berakhir sia-sia. tapi apakah kamu tahu? semenjak kamu bersama dia, aku sangat menikmati hobiku merangkai aksara tentangmu. walau kadang maknamu sudah terasa hambar. kamu tahu mengapa? karena tangan ini tidak akan pernah mampu meringkuh wajahmu dan mulut ini akan kaku ketika bertatapan denganmu. aku membiarkan tangan ini menari-nari diatas papan kata dan merangkai karangan tentangmu.
0
Aug 11, 2014
Aug 11, 2014 at 7:09 PM UTC
tidak terucap
Fadil sungguh memilikinya Akan bahagia terasa selamanya Dihiasi lirik lagu yang indah Itulah momen special sepanjang masa, dengan Luapan cinta kasih di sekelilingnya Angkasa, bagai terbang melayang Nuansa hati hadir tercipta Ejaan kata terhias di awan-awan Sungguh indah langit terhias Pegang tangan erat-erat Untuk menantang tornado yang datang Tak terlepas, bahkan jangan sampai Riang selalu walau terhempas Agar cinta kan sampai bersama di surga
0
Oct 16, 2011
Oct 16, 2011 at 10:13 AM UTC
F.A.D.I.L A.N.E.S P.U.T.R.A
Palembang, 3 November 2011 Aku bersabar . . . Tetap berusaha dengan penuh harap Supaya bisa melihat wajah mereka Mendengar suara mereka Menyaksikan kekompakan mereka yang sangat aku cinta Aku tidak menangis . . Hampir, tetapi ku hapus air mata dan ku pasang senyum bahagia ku tersenyum sesekali, tertawa bersama mereka Aku tidak mengerti bahasa mereka Tapi aku mengetahui yang mereka bicarakan Aku tidak pernah bertemu mereka Tapi aku bisa merasakan mereka sangat dekat Aku tidak mengenal mereka Tapi aku sangat mencintai mereka Dari dulu hingga sekarang rasa ini tak akan berubah Meskipun aku belum beruntung Doa membantuku memberitahu-Nya Bahwa aku sangat merindukan mereka Sekarang,,, Aku sedang memandang mereka Merekam setiap kata, gerak, dan ekspresi mereka Hal terindah yang pernah aku rasakan Terima Kasih Tuhan, , , Hadiah ku datang Created by. Aridea P
0
Nov 3, 2011
Nov 3, 2011 at 11:57 AM UTC
Hadiah Ku Datang :)
Pada hari yang baik di bulan yang baik ini; Hujan turun lagi membasahi segenap pertanahan; Di balik bulirnya seorang pujangga termenung; Menuliskan kembali lirik-lirik tersedih dalam puisinya: Wahai imaji hujan di masa lalu; Pernah kulupa namun mengapa belum kurela? Wahai melodi hujan di masa lalu; Kembali kau ketuk palung paling dalam; Kehalusan suara wanita yang pernah ada; Mengapa tak lenyap bersama kejatuhanmu? Apakah lagi-lagi aku berdiri pada persimpangan yang sama? Penuh kabut, memudar namun seyogianya belum sirna; Tahun demi tahun telah berlalu bersama kejatuhan hujan; Namun mengapa kesepian tak pernah berlalu? Walau kesedihan menolak segala kefanaan; Yang belum berubah menjadi sebuah kejadian; Yang menolak segala bentuk pengulangan; Apakah kekosongan merupakan bentuk realita tertunggal Yang selamanya akan terus berbahasa dalam kebisuannya? Mengapa masih aku mengaku yang tertabah; Jika musibah tak mampu melenyapkan; Segala terpaan angin rindu yang pernah berhembus? Jika segala ketakuan masih menjadi ada dalam tiada; Mengapa pernah juga kau lepas ikatan kita? Perlahan kata-kata itu meresap kepada perakaran; Sebolehjadinya ujung pena tak mampu memahami; Segala makna yang tersirat dalam rampaian puisinya; Bila kepergianmu adalah kesenduan dari berkat kehidupan; Ajarkanlah aku berdamai dengan segala bentuk prasangka; Yang datang bersama bayanganmu di kala hujan.
0
Jun 19, 2017
Jun 19, 2017 at 6:45 AM UTC
Sabda Hujan di Musim Semi
sore itu dingin. kupandangi tetes-tetes air yang perlahan hinggap di atas permukaan kaca jendela secangkir teh dalam genggaman, berbalut tabahnya menahan rindu. kutunggu kabar namun tak juga kunjung datang duduk di atas kursi teras, menanti suaramu hadir di ujung pesawat. teleponku lagi-lagi kau abaikan, seperti tak pernah sekalipun terlintas minat untuk kau angkat. terlalu sibuk atau apa? biar kunanti lagi bersama rintik hujan. semenit lima menit sepuluh menit dua puluh menit lima puluh menit kutunggu telepon balasanmu namun belum juga kau izinkan aku mendengar suaramu aku diam bersama alunan musik yang dimainkan hujan, air mataku turun biarkan! aku letih berpura-pura merasa tidak sakit hati bersama lantunan rintik hujan, serta guntur yang belum pula lelah bersahutan, pada dunia mereka seolah mengatakan; alam pun bisa menyuarakan air matanya, dan memiliki jeda jujur yang panjang, berhenti berusaha ceria. kemudian aku sadar; seperti alam yang sedang menangis, aku benar-benar letih berpura-pura.
0
May 22, 2016
May 22, 2016 at 7:20 AM UTC
untuk segala hal yang letih berpura-pura
pukul empat sore tadi seorang pria tua penuh keriput diwajahnya pergi melangkahkan kaki rentanya keluar dari pondok jati tempat semalam ia terlelap lengkap dengan pakaian rapih kebesarannya, sepatu boot dan tak lupa topi baret miliknya diambilnya sepeda jengki bercat kusam dengan sedikit bercak karat pada besi besinya yang disandarkan oleh empunya pada pagar kayu depan pondok digiringlah sang sepeda jengki menuju jalan sambil melangkah menuju tempat tujuannya selang beberapa saat, ia tunggangi sepeda jengki itu ia kayuh sambil berpeluh pada dahi sampai ke tubuh berbulir menetes tak ada ragu lirih ia dendangkan lagu yang telah ia hafal selama hidupnya saat ia masih muda yang dapat memacu semangatnya dulu saat akan hendak pergi berperang bersama kawan-kawannya dulu sesampainya ia di Jalan Kusumanegara di depan taman berpagar tembok putih di-remnya sepeda jengki kusam itu tepat di tepi seorang wanita yang sudah terduduk rapi menggelar dagangannya "Saya beli kembangmu, cukup lima ribu saja." itu katanya sang wanita penjual lekas membungkuskan permintaannya dengan senyum dibibir sembari memberikan bungkusan kembang kepada pria bersepeda jengki itu, ia lalu bertanya "Kalau boleh saya tahu, untuk siapa kembang ini Bapak beli?" ujarnya santun hormat sang pria bersepeda jengki terdiam, ia lalu tertawa kecil tawa khas seorang di usia senjanya "Saya mau jenguk kawan seperjuangan saya, hari ini 20 Desember, tepatnya 68 tahun yang lalu, ia berpamitan ingin menuju dunia Qadim milikNya saat kami sedang berjuang untuk Negara" jawabnya Pria bersepeda jengki itu lalu undur diri, dititipkannya sepeda tua miliknya pada sang wanita penjual kembang, ia lalu berjalan kaki memasuki gerbang tembok bercat putih bertuliskan Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Daerah Istimewa Yogyakarta dengan langkah mantap dan juga senyum mengembang di wajah keriputnya " Assalamu'alaikum, Aku njaluk sepuro yo Di Mas, Kepriye kabarmu? Ayo gek tak ceritani kabar Indonesia saiki! "
0
Sep 23, 2016
Sep 23, 2016 at 12:19 PM UTC
Sepenggal Cerita 68 tahun
pukul empat sore tadi seorang pria tua penuh keriput diwajahnya pergi melangkahkan kaki rentanya keluar dari pondok jati tempat semalam ia terlelap lengkap dengan pakaian rapih kebesarannya, sepatu boot dan tak lupa topi baret miliknya diambilnya sepeda jengki bercat kusam dengan sedikit bercak karat pada besi besinya yang disandarkan oleh empunya pada pagar kayu depan pondok digiringlah sang sepeda jengki menuju jalan sambil melangkah menuju tempat tujuannya selang beberapa saat, ia tunggangi sepeda jengki itu ia kayuh sambil berpeluh pada dahi sampai ke tubuh berbulir menetes tak ada ragu lirih ia dendangkan lagu yang telah ia hafal selama hidupnya saat ia masih muda yang dapat memacu semangatnya dulu saat akan hendak pergi berperang bersama kawan-kawannya dulu sesampainya ia di Jalan Kusumanegara di depan taman berpagar tembok putih di-remnya sepeda jengki kusam itu tepat di tepi seorang wanita yang sudah terduduk rapi menggelar dagangannya "Saya beli kembangmu, cukup lima ribu saja." itu katanya sang wanita penjual lekas membungkuskan permintaannya dengan senyum dibibir sembari memberikan bungkusan kembang kepada pria bersepeda jengki itu, ia lalu bertanya "Kalau boleh saya tahu, untuk siapa kembang ini Bapak beli?" ujarnya santun hormat sang pria bersepeda jengki terdiam, ia lalu tertawa kecil tawa khas seorang di usia senjanya "Saya mau jenguk kawan seperjuangan saya, hari ini 20 Desember, tepatnya 68 tahun yang lalu, ia berpamitan ingin menuju dunia Qadim milikNya saat kami sedang berjuang untuk Negara" jawabnya Pria bersepeda jengki itu lalu undur diri, dititipkannya sepeda tua miliknya pada sang wanita penjual kembang, ia lalu berjalan kaki memasuki gerbang tembok bercat putih bertuliskan Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Daerah Istimewa Yogyakarta dengan langkah mantap dan juga senyum mengembang di wajah keriputnya " Assalamu'alaikum, Aku njaluk sepuro yo Di Mas, Kepriye kabarmu? Ayo gek tak ceritani kabar Indonesia saiki! "
Continue reading...
35
Ku duduk di sini Bersama hati di dalam Kami tersenyum riang Tawa kami memancar cahaya Yang indah menghiasi awan Dengan alunan angin sejuk Menyegarkan saat hari bahagia Dunia ku kini indah Hati ku tak lagi terikat Hanya senyum manis yang indah Ku harap abadi tuk selamanya Berpegang erat tangan Kata manis mulai terucap Perkara ku buang jauh Semoga hilang tak kembali Agar kami bahagia Kalahkan rintangan Dan hidup bahagia bersama
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 10:07 AM UTC
BEBAS
*Di antara tumpukan bangau-bangau ini, terdapat satu harapan yang tidak akan pernah tercapai. Di antara tumpukan bangau-bangau ini, tertoreh satu kesedihan yang tidak diketahui siapapun. Di antara tumpukan bangau-bangau ini, aku mengubur semua mimpi indah bersama dengan setumpuk cerita pahit. Dan di antara tumpukan bangau-bangau ini, terbesit satu keinginan yang mustahil untuk dijadikan nyata. Biarkan mimpi tetap menjadi mimpi, biarkan aku tetap diam. Biarkan seribu bangau menyampaikan kata-kata yang tersangkut di lidahku kepadamu*
0
Aug 11, 2014
Aug 11, 2014 at 7:12 PM UTC
di antara
Pertengahan tahun aku kenal dia Tepat saat kenaikan kelas 9 Ku berteman dengan nya Hingga kami menjadi sahabat Ku beri dia segalanya Termasuk contekan Saat ada masalah sama guru Aku membelanya Hingga awal bulan tahun kedua Kami terus bersama Seiring waktu berjalan Ku masih baik dengannya Ku selalu menjaga perasaannya Tapi… di pertengahan bulan tahun kedua Aku konflik dengannya Ternyata sahabatku selama ini Seorang munafik yang berkata lebay Ku sedih, ku kecewa, ku marah! Dan ku bersumpah tak ingin mengenalnya lagi SELAMANYA
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 10:10 AM UTC
CURHAT
Mereka hanya terduduk di lantai berlumut Halaman belakang rumah tuanya yang berupa puing belaka Bekas-bekas kekalahan Tidak berucap akan siapa yang mati Dan siapa yang berhak hidup Mereka terlambat, tak ada satupun orang hidup di sini Mereka jadi ingin ikut-ikutan mati Yang disayangi sudah tiada Mereka jadi menyesal Pergi jauh tak kunjung balik Mendadak ditatapnya sebuah sumur Tempatnya menimba air dahulu Katanya sudah mengering berpuluh tahun lalu Dan bibirnya bergerak perlahan, teringat; "Riak air yang tinggal di dasar sumur Tidak pernah membenci roh yang berkeliar singup Di atasnya. Hantu-hantu wanita sejak dahulu Kekal bersolek di atas sumur Meskipun telah mengering airnya Dan pantulan mereka fana adanya. Mereka hanya terduduk di lantai berlumut Halaman belakang rumah tuanya yang berupa puing belaka Bekas-bekas kekalahan Tidak berucap akan siapa yang mati Dan siapa yang berhak hidup Mereka terlambat, tak ada satupun orang hidup di sini Mereka jadi ingin ikut-ikutan mati Yang disayangi sudah tiada Mereka jadi menyesal Pergi jauh tak kunjung balik Mendadak ditatapnya sebuah sumur Tempatnya menimba air dahulu Katanya sudah mengering berpuluh tahun lalu Dan bibirnya bergerak perlahan, teringat; "Riak air yang tinggal di dasar sumur Tidak pernah membenci roh yang berkeliar singup Di atasnya. Hantu-hantu wanita sejak dahulu Kekal bercermin di atas sumur Meskipun telah mengering airnya. Konon karena mereka menyukai Kehangatan yang dirasakan Dari dalam rumah senyap kala ada kehidupan Sesederhana bagaimana mereka tak lagi Dapat hidup Lantas mengapa lepas mereka pergi Tak dijaga kekekalannya dari serentetan ledakan pilu dan kepulan asa? Hantu-hantu cuma pembohong Pelindung tak berdaya Mereka menghargai bising dan jerit tangis Itulah alasan mereka Terus tinggal dan bersolek Menunggu sakit dalam sakit Karena air matalah yang sebenarnya menjaga agar dasar sumur tetap terisi Agar mereka dapat bercermin Agar kekal bayang mereka Air mata, menggenang bersama darah Bukan mata air yang merasuk dari qalbunya." Jadi dipanggillah Segenap jiwa gugup gelisah itu Dalam kesunyian dan sesal mereka Hantu-hantu wanita Kembali besolek di atas sumur Mereka melompat, Untuk lebur Dalam ketiadaan. Menyusulmu Mencarimu.
0
Jun 23, 2016
Jun 23, 2016 at 8:21 AM UTC
Aku Melihat Anak-Anakmu Kembali dari Perang
Mereka hanya terduduk di lantai berlumut Halaman belakang rumah tuanya yang berupa puing belaka Bekas-bekas kekalahan Tidak berucap akan siapa yang mati Dan siapa yang berhak hidup Mereka terlambat, tak ada satupun orang hidup di sini Mereka jadi ingin ikut-ikutan mati Yang disayangi sudah tiada Mereka jadi menyesal Pergi jauh tak kunjung balik Mendadak ditatapnya sebuah sumur Tempatnya menimba air dahulu Katanya sudah mengering berpuluh tahun lalu Dan bibirnya bergerak perlahan, teringat; "Riak air yang tinggal di dasar sumur Tidak pernah membenci roh yang berkeliar singup Di atasnya. Hantu-hantu wanita sejak dahulu Kekal bersolek di atas sumur Meskipun telah mengering airnya Dan pantulan mereka fana adanya. Mereka hanya terduduk di lantai berlumut Halaman belakang rumah tuanya yang berupa puing belaka Bekas-bekas kekalahan Tidak berucap akan siapa yang mati Dan siapa yang berhak hidup Mereka terlambat, tak ada satupun orang hidup di sini Mereka jadi ingin ikut-ikutan mati Yang disayangi sudah tiada Mereka jadi menyesal Pergi jauh tak kunjung balik Mendadak ditatapnya sebuah sumur Tempatnya menimba air dahulu Katanya sudah mengering berpuluh tahun lalu Dan bibirnya bergerak perlahan, teringat; "Riak air yang tinggal di dasar sumur Tidak pernah membenci roh yang berkeliar singup Di atasnya. Hantu-hantu wanita sejak dahulu Kekal bercermin di atas sumur Meskipun telah mengering airnya. Konon karena mereka menyukai Kehangatan yang dirasakan Dari dalam rumah senyap kala ada kehidupan Sesederhana bagaimana mereka tak lagi Dapat hidup Lantas mengapa lepas mereka pergi Tak dijaga kekekalannya dari serentetan ledakan pilu dan kepulan asa? Hantu-hantu cuma pembohong Pelindung tak berdaya Mereka menghargai bising dan jerit tangis Itulah alasan mereka Terus tinggal dan bersolek Menunggu sakit dalam sakit Karena air matalah yang sebenarnya menjaga agar dasar sumur tetap terisi Agar mereka dapat bercermin Agar kekal bayang mereka Air mata, menggenang bersama darah Bukan mata air yang merasuk dari qalbunya." Jadi dipanggillah Segenap jiwa gugup gelisah itu Dalam kesunyian dan sesal mereka Hantu-hantu wanita Kembali besolek di atas sumur Mereka melompat, Untuk lebur Dalam ketiadaan. Menyusulmu Mencarimu.
Continue reading...
67
Matahari mungkin bosan Bintang mungkin terlalu ramai Bulan mungkin kurang hingar-bingar Aku mungkin tidak tahu Mereka bukan Tuhan, dan aku Adalah hantu dalam tanah; Tak tahu apa-apa akan yang lampau Dan yang akan datang kemudian Seandainya lebih dahulu aku memahami Kalau kita saling mencintai senja, Alangkah baiknya bila di awal Kita mengurungkan niat suci yang menggelora Untuk dapat menjadi bulan (Yang ternyata terus mengejar dalam senyap, Namun, Tak sekalipun dapat ia gapai kasih dari petang.) Alangkah baiknya bila dahulu Kita terbenam bersama-sama Dalam genangan nila dan lembayung Itu jauh lebih indah. (Terbenam, bukan gugur.) Tapi, sudahlah, Matahari mungkin bosan Bintang mungkin terlalu ramai Bulan mungkin berserah pada gemerlap Dan aku tak tahu apapun Tentang kuasa Tuhan.
0
Feb 8, 2016
Feb 8, 2016 at 10:15 AM UTC
Mungkin Terlambat Terbenam