Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"berjuang" poems
Aku terlalu kecil Sekecil titik di atas kertas kusut Aku hanyalah satu dari ribuan bahkan tak terlihat Terlindung dalam cangkang sempit dan tipis Bersembunyi di balik daun yang mulai berubah warna Rumah pertamaku akhirnya aku terlahir sebagai sesuatu yang aneh Aku si buruk rupa Tubuhku dipenuhi bulu Merangkak lemah menyusuri ranting Menggerogoti daun disekitar membuatnya berlubang melarikan diri dari burung Bergulat dengan semut rangrang Membuat saya jatuh ke tanah Hingga buluku rontok berserakan Hanya cacing yang menyapa Mereka membenci saya sangat Aku bisa terbunuh, tidak semuanya menerimaku sampai aku terjebak dalam dimensi lain Aku si  ulatbulu kesepian yang bersembunyi Bertapa di dalam kantung usang yang kecil Mencoba untuk membunuh waktu Berjuang dalam kegelapan untuk mencapai keindahan Sudah cukup persinggahanku Mengarungi kerasnya penantian panjang yang membelenggu Aku terlahir kembali menjadi berbeda dan mereka menyukaiku kebahagiaan berlimpah tiba terbang tanpa batas dengan kedua sayap yang cantik pergi ketempat yang indah yang kumau
0
Sep 16, 2016
Sep 16, 2016 at 10:23 PM UTC
Metamorfosa
pukul empat sore tadi seorang pria tua penuh keriput diwajahnya pergi melangkahkan kaki rentanya keluar dari pondok jati tempat semalam ia terlelap lengkap dengan pakaian rapih kebesarannya, sepatu boot dan tak lupa topi baret miliknya diambilnya sepeda jengki bercat kusam dengan sedikit bercak karat pada besi besinya yang disandarkan oleh empunya pada pagar kayu depan pondok digiringlah sang sepeda jengki menuju jalan sambil melangkah menuju tempat tujuannya selang beberapa saat, ia tunggangi sepeda jengki itu ia kayuh sambil berpeluh pada dahi sampai ke tubuh berbulir menetes tak ada ragu lirih ia dendangkan lagu yang telah ia hafal selama hidupnya saat ia masih muda yang dapat memacu semangatnya dulu saat akan hendak pergi berperang bersama kawan-kawannya dulu sesampainya ia di Jalan Kusumanegara di depan taman berpagar tembok putih di-remnya sepeda jengki kusam itu tepat di tepi seorang wanita yang sudah terduduk rapi menggelar dagangannya "Saya beli kembangmu, cukup lima ribu saja." itu katanya sang wanita penjual lekas membungkuskan permintaannya dengan senyum dibibir sembari memberikan bungkusan kembang kepada pria bersepeda jengki itu, ia lalu bertanya "Kalau boleh saya tahu, untuk siapa kembang ini Bapak beli?" ujarnya santun hormat sang pria bersepeda jengki terdiam, ia lalu tertawa kecil tawa khas seorang di usia senjanya "Saya mau jenguk kawan seperjuangan saya, hari ini 20 Desember, tepatnya 68 tahun yang lalu, ia berpamitan ingin menuju dunia Qadim milikNya saat kami sedang berjuang untuk Negara" jawabnya Pria bersepeda jengki itu lalu undur diri, dititipkannya sepeda tua miliknya pada sang wanita penjual kembang, ia lalu berjalan kaki memasuki gerbang tembok bercat putih bertuliskan Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Daerah Istimewa Yogyakarta dengan langkah mantap dan juga senyum mengembang di wajah keriputnya " Assalamu'alaikum, Aku njaluk sepuro yo Di Mas, Kepriye kabarmu? Ayo gek tak ceritani kabar Indonesia saiki! "
0
Sep 23, 2016
Sep 23, 2016 at 12:19 PM UTC
Sepenggal Cerita 68 tahun
pukul empat sore tadi seorang pria tua penuh keriput diwajahnya pergi melangkahkan kaki rentanya keluar dari pondok jati tempat semalam ia terlelap lengkap dengan pakaian rapih kebesarannya, sepatu boot dan tak lupa topi baret miliknya diambilnya sepeda jengki bercat kusam dengan sedikit bercak karat pada besi besinya yang disandarkan oleh empunya pada pagar kayu depan pondok digiringlah sang sepeda jengki menuju jalan sambil melangkah menuju tempat tujuannya selang beberapa saat, ia tunggangi sepeda jengki itu ia kayuh sambil berpeluh pada dahi sampai ke tubuh berbulir menetes tak ada ragu lirih ia dendangkan lagu yang telah ia hafal selama hidupnya saat ia masih muda yang dapat memacu semangatnya dulu saat akan hendak pergi berperang bersama kawan-kawannya dulu sesampainya ia di Jalan Kusumanegara di depan taman berpagar tembok putih di-remnya sepeda jengki kusam itu tepat di tepi seorang wanita yang sudah terduduk rapi menggelar dagangannya "Saya beli kembangmu, cukup lima ribu saja." itu katanya sang wanita penjual lekas membungkuskan permintaannya dengan senyum dibibir sembari memberikan bungkusan kembang kepada pria bersepeda jengki itu, ia lalu bertanya "Kalau boleh saya tahu, untuk siapa kembang ini Bapak beli?" ujarnya santun hormat sang pria bersepeda jengki terdiam, ia lalu tertawa kecil tawa khas seorang di usia senjanya "Saya mau jenguk kawan seperjuangan saya, hari ini 20 Desember, tepatnya 68 tahun yang lalu, ia berpamitan ingin menuju dunia Qadim milikNya saat kami sedang berjuang untuk Negara" jawabnya Pria bersepeda jengki itu lalu undur diri, dititipkannya sepeda tua miliknya pada sang wanita penjual kembang, ia lalu berjalan kaki memasuki gerbang tembok bercat putih bertuliskan Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Daerah Istimewa Yogyakarta dengan langkah mantap dan juga senyum mengembang di wajah keriputnya " Assalamu'alaikum, Aku njaluk sepuro yo Di Mas, Kepriye kabarmu? Ayo gek tak ceritani kabar Indonesia saiki! "
Continue reading...
35
AKHI, JIKA BENAR ENGKAU MENCINTAI ISTRIMU... Ijinkan dia berdakwah... Berkumpul dengan akhwat seperjuangan.... Relakan kepergiannya ke berbagai majelis ilmu... Sekalipun itu mengurangi waktunya, untukmu... Banyak suami salah prioritas... Istrinya boleh bekerja di luar rumah... Bebas beraktivitas jika hasilnya menunjang ekonomi keluarga... Bahkan didukung untuk kuliah pascasarjana... Tapi, minta ijin 2 jam saja dalam seminggu untuk ngaji, TIDAK BOLEH? Jangan egois, wahai saudaraku.. Suami memang punya "hak veto" dalam rumah tangga... Keputusannya adalah kewajiban istri mentaatinya... Larangannya adalah keharusan istri meninggalkannya... Maka, gunakanlah kewenangan itu dalam PRIORITAS YANG BENAR... Dakwah itu wajib, bagi pria juga wanita... Doronglah istri ikut berjuang di jalan dakwah... Sesekali ambil alih kerjaannya di rumah agar dia bisa leluasa bergerak... Sudah pasti ini mengurangi kebersamaanmu dengannya... Tapi, percayalah ini hanya sementara... Kelak ada masa bebas bercengkerama dengan yang tercinta... Di dalam surga, dan kalian berdua akan terus bergembira... ﺍﺩْﺧُﻠُﻮﺍ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﺃَﻧﺘُﻢْ ﻭَﺃَﺯْﻭَﺍﺟُﻜُﻢْ ﺗُﺤْﺒَﺮُﻭﻥَ "Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan". (QS. Az-Zukhruf, 43: 70) ‪#‎women‬ and sharia
0
Mar 26, 2015
Mar 26, 2015 at 4:48 AM UTC
Ya Akhi
berawal dari waktu memaksaku menyeret kakiku melangkah gontai sambil pergi aku merengek, terisak ! dan mengadu pada-Nya tunggu ini secepat aku berkedip barusaja ya, dulu memang aku kecil nyaliku memang masih payah masih terjerat pada keduanya bahkan sekarangpun.. keduanya ingin aku yang terbaik aku tak tahu yang dirasa mereka tapi aku sendiri berontak menyalahkan waktu yang jelas tak akan berhenti aku kutuk waktu mengapa begitu kilat ragaku masih ingin tetap dirumah tunggu, sejenak aku merasa keliru bukankah ini baik aku juga ingin membuat keduanya senang mimpi harus coba kupanjat tangga itu sudah dihadapanku aku termasuk yang beruntung bersyukurlah! batinku melerai aku meyakinkan diriku sekuat tenaga "ini bukan rumahku" gertakku saat aku tiba ditempat asing itu akupun terpaksa tinggal demi pengetahuan yang ingin kuraup iya, jika belum paham akan kujelaskan aku seorang mahasiswa sekarang predikat yang melekat padaku kini berat.. pandangan semuanya akan berbeda terhadapku sungguh aku menemui teman baik berjuang sama sama, namun tetap harus sendiri aku menarik nafas.. waktuku kini juga telah memaksaku rasanya pagi sudah menjadi sore agaknya aku harus selesaikan hariku mengerjakan tugas akhirku disana...
0
Aug 20, 2017
Aug 20, 2017 at 11:28 PM UTC
GARIS WAKTU
terbalas pertemuan singkat tadi siang dengan sedikit berdebah dengan ego malu menukik dan gemetar beramai gaduh sulit juga, berjuang dengan lara yang kian runyam kian dalam kian menepis dalam malam aku yakin dia bertanya "kenapa dia?" haha.. apa aku harus jawab aku rindu aku rindu seperti dulu bukan apa-apa tidak ada lugas kata atau tindakannya hanya saja aku sudah terlajur menyukainya menyukai derap langkahnya lemah gemulai tubuhnya beradu dengan udara sekitar aku juga suka saat matanya bertemu dengan mataku sisi lainnya muncul lebih hangat dari yang kubayangkan bolehkah juga aku berseru ? aku menyukaimu ! sangat.. lungai sudah jika itu terucap pasrah.. tapi tenang, aku masi pandai menyimpan masih pandai menukik ego tapi tetap aku rindu,.,.,.,. -rindu,mengenang-
0
May 22, 2018
May 22, 2018 at 12:18 PM UTC
Rindu
Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa Langit akan selalu biru, Bunga akan selalu mekar, dan Mentari akan selalu bersinar. Tapi, ketahuilah bahwa Tuhan selalu memberikan Pelangi di setiap badai, Senyum di setiap air mata, dan Jawaban di setiap doa. Karena Tuhan tidak memberikan apa yang kita mau. Tapi Ia memberikan apa yang kita butuhkan. Maka, jangan pernah menyerah. Teruslah berjuang. Life is beautiful. Yoga Triantoro, 2013.
0
Jul 1, 2014
Jul 1, 2014 at 9:45 AM UTC
:)
namamu akan terus mengalir dalam nadiku bayang tentang dirimu berjalan mengiringiku aku terus berharap kamu disini pancaran matahari mengalahkan denyut nadiku yang semakin lama kian memudar mungkin aku melemah tapi sosokmu yang berjuang di teluk sana membangkitkan semangatku kamulah permulaan dari pagi aku yang di barat selalu menantikan mentarimu ketika senja merona di langit aku terhanyut dalam suasana bersamamu terikat hangat di pelukanmu
0
Apr 11, 2018
Apr 11, 2018 at 12:24 PM UTC
Teruntuk seseorang di teluk timur
hembus aku nafas kelelahan membaca bait cinta yg ditulis para muda masing-masing melempar rasa namun siapalah aku mengatakan tidak pada rasa indah itu? resah kamu mungkin tenang untuk aku tatkala dunia goncang berebut harta aku disini masih keliru tentang rasa kemudiannya, aku melihat lirik mata anak muda yang sedang bebas teroka dunia indah dan segar matanya bersinar umpama harapan cerah sentiasa menanti mereka sempat aku pesan anak muda, teruslah berjuang demi rasamu sematkan cinta kepada setiapnya agar mudah kita kemudian hari kelak kerana aku pasti cinta yang tumbuh itu akan bersemi dan terus ramai... hingga satu hari, kan seluruh dunia tersenyum. maka, teruslah. teruslah...menulis.. 944pm oct 2nd 17
0
Oct 2, 2017
Oct 2, 2017 at 9:49 AM UTC
Kepada setiap hati
dunia indah kerana impian, impian ada kerana mimpi dan angan, bukan paksaan dan bukan kekangan, hanya kerana diri yang mahukan, teruskan berjuang, tempuh dunia dengan tenang, yang diatas sudah merancang, yang dibawah harus syukur dan terus berjalan,
0
Mar 12, 2013
Mar 12, 2013 at 1:15 PM UTC
realiti dunia
Bunda... Lahirkan aku di dunia Itu berkat Tuhan Yang Maha Esa Bunda... Mengandung ku selama 9 bulan Bertaruh nyawa demi nyawa Bunda... Besarkan aku bersama Ayah Membimbing ku hingga sekolah Bundaku... Dahulu tidak sekolah Namun ia pintar Bundaku... Berjuang untukku Le Gra, Aridea Purple
0
Oct 19, 2011
Oct 19, 2011 at 11:51 AM UTC
Bunda
Malam hari kau berteriak 'tolong' dari matamu aku tahu kau butuh sesuatu untuk kau jadikan alasan untuk terus berjuang Malam hari itu, kau bungkam kau memaksakan diri untuk tersenyum tertawa alunan suara tak pernah berbohong, sayang matamu yang sayu itu menangis, sayang... Ada apa? Malam hari itu aku berpikir Ada apa? Ada apa? Kamu tahu? Kesedihan seseorang yang disayang itu menular bak penyakit yang arogan mengerogoti badan? Kamu tahu? Aku tertular? Dan aku bahagia, setidaknya aku masih punya hati untuk merasakan duka bersama.
0
Aug 7, 2017
Aug 7, 2017 at 1:18 PM UTC
Aku dan Pemuda itu Bungkam
Kala itu diriku terasa letih Coba tuk berlari walau tertatih Rasa ragu menyelimuti diri Apa mampu tegak berdiri? Kini aku sedang berjuang Melewati jalan yang berlubang Meski sulit mengejar peluang Ku yakin akan benderang
0
Mar 16, 2023
Mar 16, 2023 at 4:35 PM UTC
Petualang
Mungkin benar adanya, menantang ketidaktahuan telah dengan pasti menggiring kesadaran pada sebuah langkah menuju keberanian bersikap. Yang karenanya juga, telah turut menjadikan hati begitu lapang di ruang yang begitu sempit, menempatkan intuisi dalam usaha menyeimbangkan ego dan benci, menuntun arah pikiran menuju muara kebijaksanaan. Sebuah pertanyaan akan kegelisahan, berhak untuk ditelusuri muasal kebenarannya. Semua berhak akan hal itu. Untuk sebuah dinding yang membatasi penglihatan indrawi, merobohkannya adalah kepatutan. Untuk sebuah ketidaktahuan yang memenjarakan, manusia yang berjuang atas akal pikirannya sendiri—berhak untuk terbebas dari kungkungannya. Meminjam dari Aristoteles, terbang menuju keselarasan ide serta realitas yang tidak terbatas! Jangan biarkan gelap menguasai malam. Usaha demi setitik cahaya harus selalu terpatri dalam diri. Melekatkan sikap keraguan-raguan pada pikiran adalah sebuah keharusan. Hanya itu bahan bakar yang paling mungkin, untuk menyalakan setitik cahaya yang dimimpikan. Biarlah menjadi berbeda, biarlah diasingkan. Karena bagi mereka yang merindukan merdeka, beranjak dari ketidaktahuan adalah sebuah keniscayaan!
0
Feb 22, 2021
Feb 22, 2021 at 10:24 AM UTC
MENANTANG KETIDAKTAHUAN
Untaian yang kusut Saat sedang belajar mengenalimu Kembali terurai dengan sendirinya Bersama perasaan yang pernah berharap Kini berganti seiring waktu Karena aku tau Aku bukan sosok yang kamu mau Aku juga tidak ingin jadi sosok itu Dan aku sudah tidak mau berjuang sendirian lagi Bukannya tidak mau kenal denganmu Menghindar darimu Karena takut timbul rasa lagi Hanya itu yang hinggap di pikiranku Dan aku tidak mengharapkan kamu kembali, sayang Jadi tolong untuk kali ini saja, mengertilah
0
May 31, 2019
May 31, 2019 at 2:10 PM UTC
BENANG MERAH
Mungkin saja dunia ini benar-benar membenciku Andailah aku boleh memilih untuk tidak bertahan Tetapi tiada jalan selain berjuang
0
Dec 5, 2023
Dec 5, 2023 at 7:29 AM UTC
Andai
Mau tau apa yang paling aku takut kan? kalah dengan rindu. aku mampu berjuang sendirian, aku juga mampu menunggu lama, tapi sayang seribu sayang.. aku selalu kalah dengan rindu. entah rindu ini yang curang, atau aku yang pecundang.
0
Nov 16, 2018
Nov 16, 2018 at 12:12 AM UTC
kau curang